• Tidak ada hasil yang ditemukan

3.1 Analisis Tokoh

3.1.2 Madame Aubain

3.1.2.1 CINTA KEPADA KELUARGA

Sebagai seorang ibu, Mme Aubain memiliki keterikatan emosi yang

kuat kepada kedua anaknya. Hal itu sangat terlihat pada beberapa peristiwa

yang mengharuskan dirinya berpisah dengan anak-anaknya. Seperti ketika

Virginie akan pergi ke les Ursulines d‟Honfleur.

Ia baru pertama kalinya ditinggalkan Virginie dalam waktu yang lama.

Perpisahan tersebut menyisakan kesedihan yang mendalam. Terlihat pada

kutipan di bawah ini, perasaan Madame Aubain yang digambarkan dengan kata „très-douloureuse‟ sangat menyakitkan. Begitu pula ketika membaca

surat-surat dari Virginie, ada perasaan hampa yang menyelimuti hari-harinya yang ditunjukkan dengan kalimat „cette façon comblait le vide des heures‟

kesehariannya untuk menghabiskan waktu luang.

La privation de sa fille lui fut d'abord très−douloureuse. Mais trois fois la semaine elle en recevait une lettre, les autres jours lui écrivait, se promenait dans son jardin, lisait un peu, et de cette façon comblait le vide des heures (hlm. 51)

Perpisahan dengan putrinya awalnya sangat menyakitkan. Namun, tiga kali dalam seminggu ia menerima sebuah surat, yang ia tulis di hari lainnya, ia berjalan di kebun, membaca sedikit, dan dengan demikian ia mengisi waktu kosongnya

Perasaan tersebut juga ditunjukkan Madame Aubain ketika Virginie

mulai sakit-sakitan, hingga akhirnya ketika Virginie meninggal dunia.

Madame Aubain mencurahkan perhatian dan waktunya hanya untuk

mendampingi anaknya hingga nafas terakhir. Seperti pada kutipan di bawah

ini, Madame Aubain masih sulit menerima kepergian Virginie, ia terus

memeluk erat tubuh anaknya.

Dès le seuil de la chambre, elle aperçut Virginie étalée sur le dos, les mains jointes, la bouche ouverte, et la tête en arrière sous une croix noire s'inclinant vers elle, entre les rideaux immobiles, moins pâles que sa figure. Mme Aubain, au pied de la couche qu'elle tenait dans ses bras, poussait des hoquets d'agonie. (hlm. 63)

Dari ambang pintu kamarnya, ia melihat Virginie dibaringkan menghadap ke muka, tangannya bersilangan, mulutnya terbuka, kepalanya di bawah sebuah salib hitam yang condong ke arahnya, di antara tirai-tirai yang tak bergeming yang lebih pucat dari wajahnya. Madame Aubain menangis tersedu di ujung tempat tidur yang dipeluknya erat-erat.

Dari kutipan di atas, Madame Aubain diceritakan terus-menerus

terisak sambil memeluk Virginie. Suaranya tidak lagi terdengar jelas, dan

hanya seperti isakan atas kesedihan yang mendalam. Hal tersebut dapat dilihat

dari kalimat „poussait des hoquets d‟agonie‟ tersedu-sedu.

Hingga beberapa hari setelah kematian Virginie, rasa sedih masih

menyelimuti perasaan Madame Aubain. Ia lebih memilih untuk menyendiri di

kamarnya, atau sesekali berjalan ke taman. Bagaimanapun juga, kehilangan

seorang anak adalah sesuatu yang sangat berat baginya.

Pernah suatu ketika, ia berhalusinasi melihat suaminya dan Virginie

yang sedang bersama-sama di kebun. Mereka seperti menatap ke arah

Madame Aubain masih belum menerima kepergian orang-orang yang

disayanginya.

Une fois, elle rentra du jardin, bouleversée. Tout à l‟heure (elle montrait l‟endroit) le père et la fille lui étaient apparus l‟un auprès de l‟autre, et ils ne faisaient rien ; ils la regardaient. (hlm. 65)

Suatu hari, sepulangnya dari taman, ia merasa kalut. Barusan (ia menunjuk ke kanan) sang ayah dan sang anak terlihat bersandingan, tidak melakukan apapun kecuali melihat ke arahnya. (hal. 65)

Selain kepada Virginie, Madame Aubain juga menunjukkan rasa

sayang yang besar terhadap Paul, anak laki-lakinya. Hal tersebut terlihat

ketika Paul mengirim surat dan memberitakan bahwa ia sedang terlilit hutang

dengan jumlah besar tanpa bisa membayarnya.

Félicité accourait pour la prévenir.Mais une chose était seule capable de l'émouvoir, les lettres de son fils.

Il ne pouvait suivre aucune carrière, étant absorbé dans les estaminets. Elle lui payait ses dettes; il en refaisait d'autres; et les soupirs que poussait Mme Aubain, en tricotant près de la fenêtre, arrivaient à Félicité, qui tournait son rouet dans la cuisine.

Félicité datang berlari untuk memberi tahunya. Tetapi hanya satu hal yang mampu menyentuhnya: surat-surat dari anak lelakinya.

Ia tidak berhasil dalam karier manapun, hanya bekerja di kedai-kedai kecil1. Nyonya Aubain lah yang membayar utang-utang anaknya meskipun ia tetap mengulangi kebiasaan berutangnya. Helaan napasnya terdengar oleh Félicité yang sedang memintal di dapur.

Hal tersebut ditampilkan dalam kutipan di atas, bahwa ini bukan kali

pertama Madame Aubain membayarkan hutang Paul, terlihat dari kalimat „il en refaisait d‟autres‟ dia berhutang lagi dan lagi. Bagaimanapun, Madame Aubain tetap mau membantu melunasinya tanpa mengeluh.

3.1.2.2 KIKIR

Meskipun ia adalah seorang keturunan bangsawan yang memiliki

beberapa lahan pertanian, Madame Aubain adalah termasuk orang yang kikir.

Tercermin dari bagaimana dia memperlakukan Félicité sebagai pelayannya.

Untuk semua pekerjaan rumah tangga yang harus dikerjakan Félicité hingga

mengurus kedua anaknya, Félicité hanya diberi bayaran 100 francs per

tahunnya. Jumlah gaji sebesar itu tergolong sangat rendah pada masa itu,

terutama jika dibandingkan dengan semua pekerjaan yang harus dikerjakan

Félicité.

Pour cent francs par an, elle faisait la cuisine et le ménage, cousait, lavait, repassait, savait brider un cheval, engraisser les volailles, battre le beurre, et resta fidèle à sa maîtresse,—qui cependant n'était pas une personne agréable. (hlm. 13)

Penghasilannya seratus franc per tahun: ia memasak dan berbenah, menjahit, mencuci pakaian, menyetrika, mengekang kuda, membiakkan unggas, mengocok mentega, dan bersikap setia pada majikan perempuannya meskipun ia bukan seorang yang menyenangkan