• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aku Cinta Membaca

Dalam dokumen Subtema 3 Tokoh Penjelajah Angkasa Luar (Halaman 66-90)

Cintailah Membaca, karena ....

semakin banyak membaca,

semakin banyak tempat yang kamu kunjungi, semakin sering membaca,

semakin sering kamu pergi bertualang, semakin beragam bacaanmu, semakin beragam pula pengalamanmu. Apa yang kamu baca akan membuatmu kaya, karena bacaanmu akan menambah ilmu untukmu,

mengisi jiwamu dengan pengetahuan, dan membuka wawasanmu seluas-luasnya!

Ayo Membacaa

Juara Sejati Oleh Elisa D.S.

“Semangat, Bang Hanafi!” teriak Nurma dengan lantang. “Semangat, Bang Rifki!” teriak Sarah tidak mau kalah.

Dua gadis kecil itu sedang mendukung tim futsal kakak mereka masing- masing. Kejuaraan futsal antar SD se-Kecamatan Pontianak Timur, Kota Pontianak, memang berlangsung seru. Sejak babak penyisihan, dua tim dari SD tempat Hanafi dan Rifki sekolah itu sama-sama hebat. Tak heran kedua tim bertemu di babak final memperebutkan gelar juara.

“Tim abangku pasti menang. Mereka semua lincah dan pandai bermain futsal!” puji Nurma.

“Jangan banyak bergaya dulu. Kita lihat saja nanti,” sahut Sarah. Wajah Nurma berubah masam mendengar kata-kata teman sekaligus tetangganya itu. Nurma dan Sarah tinggal bertetangga, tetapi mereka sekolah di SD yang berbeda. Demikian juga dengan abang-abang mereka yang sudah duduk di kelas enam.

Pertandingan dimulai. Tim Hanafi langsung menyerang tim lawan. Mereka tidak mau menyia-nyiakan waktu. Baru beberapa saat setelah pertandingan dimulai, gol telah mereka sarangkan ke gawang tim Rifki. Penonton bersorak- sorai.

“Betul kan? Mereka pasti juara!” kata Nurma bangga. Sarah hanya diam tidak menyahut. Beberapa menit kemudian giliran Nurma yang hanya bisa terdiam. Tim Rifki membalas dengan menyarangkan gol demi gol. Hingga babak pertama selesai, skor masih imbang 4 – 4.

Pertandingan makin seru di babak kedua. Masing-masing tim berlomba membuat gol. Jika berhasil juara, mereka akan menerima hadiah piala dan tentu dapat mengharumkan nama sekolah. Pantas saja kedua tim sama-sama berjuang keras. Hebatnya, meski sama-sama mengejar kemenangan, namun semua pemain bermain sportif. Tak ada yang curang dengan melakukan pelanggaran.

Tak terasa pertandingan usai. Penonton mengelu-elukan tim Rifki. Nurma tertunduk lesu. Tim Rifki telah mengalahkan tim abangnya dengan skor 10 – 8. Gelar juara pun diberikan kepada tim Rifki.

Sarah sangat gembira. Tapi melihat Nurma murung, ia tak banyak bersorak. Dirangkulnya Nurma. Sekilas tampak di lapangan, pemain kedua tim bersalaman. Bahkan Rifki dan Hanafi pun berpelukan. Mereka memang bersahabat dari kecil. Hasil pertandingan tidak mengganggu persahabatan mereka.

Pembawa acara mengumumkan, meski kalah di final, tim SD Hanafi menerima penghargaan sebagai tim yang paling sportif. Nurma yang sempat sedih, begitu mendengar pengumuman itu langsung kembali ceria.

“Hebat, Bang Hanafi dan kawan-kawannya juga dapat penghargaan!” puji Sarah.

“Terima kasih. Selamat juga atas kemenangan tim Bang Rifki. Mereka pantas menjadi juara!” balas Nurma. Mereka berdua berjabat tangan dan berpelukan. Ya, juara sejati bukan hanya yang memenangkan pertandingan. Namun, mereka yang berjiwa sportif dan mau menerima kekalahan dengan berjiwa besar, serta menjauhi sikap curang, juga pantas disebut juara.

Ayo Menulis

Setelah membaca cerita di atas, lakukanlah kegiatan berikut.

Gambarlah tokoh utama, tempat yang melatarbelakangi cerita, masalah yang muncul, dan penyelesaiannya. Jelaskanlah setiap gambar dengan menggunakan kalimat yang sesuai.

Tokoh Utama:

Masalah:

Tempat:

Penyelesaian Masalah:

Bagaimanakah jalan cerita di atas? Jelaskanlah dalam satu paragraf.

... ... ...

Nilai apa sajakah yang dapat kamu simpulkan dari cerita di atas?

... ... ...

Keteraturan seperti apa yang terlihat di dalam cerita tersebut?

... ... ...

Ayo Membacaa

Riri Tidak Iri Lagi Oleh Elisa D.S.

Riri merasa sebal sekali! Menurutnya, Ibu pilih kasih, karena semua perhatian dan kasih sayang Ibu hanya tercurah kepada Salsa, adiknya yang baru berusia enam bulan. Riri yang duduk di bangku kelas enam di salah satu SDN favorit di Gresik, Jawa Timur itu merasa jengkel hingga ia menyendok nasinya tanpa selera. Ia menatap kesal ke arah boneka Salsa yang masih terbungkus plastik. Padahal dua minggu sebelumnya Salsa telah mendapatkan hadiah dari Ibu. Hadiah itu berupa piano mainan berbentuk kue tar dengan berbagai pilihan lagu ceria khas balita. Lagu-lagu itu akan tedengar bila Salsa menyentuh salah satu tuts piano mainan itu.

“Ri, kok makan sambil melamun?” tegur Ibu.

Riri hanya diam dan cepat-cepat menghabiskan makanannya. Setelah itu, ia bergegas masuk ke kamar dan melempar badannya di atas tempat tidurnya.

Melihat itu Ibu mendekati Riri. “Kenapa, Ri? Akhir-akhir ini Riri sering terlihat kesal,” tanya Ibu.

“Ibu pilih kasih! Adik dibelikan mainan terus, tapi Riri tidak!” jawab Riri sambil menangis.

“Oh, itu masalahnya.” Ibu tersenyum. “Riri kan sudah dibelikan buku cerita dan tas sekolah baru.”

“Iya, tapi Riri kan juga ingin mainan yang bagus! Ibu tidak adil!” “Menurut Riri, adil itu seperti apa, sih?” tanya Ibu lembut.

“Adil itu ya harus sama semua, Bu. Jika Ibu membelikan Adik mainan baru, Ibu harus belikan mainan baru juga, dong!”

“Oh, begitu ya?” Ibu tersenyum lalu mencium kening Riri sebelum beranjak. Malam tiba, dan saatnya Riri untuk makan malam. Seperti biasa ia mendekati meja dan membuka tudung saji. Riri terheran-heran saat ia melihat hanya ada bubur tim dengan campuran wortel dan ikan laut. Tidak ada sayur dan lauk pauk seperti biasanya.

“Ibu, Riri lapar nih! Makanan untuk Riri mana?”

Ibu keluar kamar sambil menggendong Salsa. “Ya itu makan malamnya, Ri!”

“Ini kan bubur untuk Salsa, Bu.”

“Adik sudah makan. Tinggal kita yang belum. Makan sekarang, yuk!”

“Loh, Riri tidak mau makan bubur, Bu. Riri sudah besar!” Ibu tersenyum. “Kan Riri sendiri yang bilang kalau Ibu harus adil dan tidak boleh pilih kasih. Semua harus sama. Jadi mulai sekarang, makanan kita juga harus sama.”

“Ih, Ibu..”

Ibu tertawa. “Adil bukan berarti harus sama kan Ri. Adil itu menempatkan sesuatu sesuai dengan hak dan kebutuhannya. Ibu belikan adik mainan karena anak seusianya perlu aktivitas yang merangsang otak dan gerak anggota tubuh. Sedangkan buku bacaan bagus buat menambah wawasan Riri sebagai siswa kelas enam.”

Riri tertegun. Ia kini paham. “Iya, Bu.”

“Bagaimana? Masih ingin disamakan dengan adik? Makan bubur, yuk.” goda Ibu.

“Tidak, Bu.“ Riri menggeleng kuat-kuat. Ibu yang sedang mengeluarkan sayur sop dan dan ayam goreng dari lemari makan tertawa mendengarnya.

Mulai sekarang, Riri bertekad membuang jauh-jauh rasa iri dari hatinya. Seusai makan malam, Riri segera mencium kening adiknya yang telah pulas, sebagai permintaan maaf. “Maafkan Kakak, ya adikku,” gumam Riri.

Disadur dari Nusantara Bertutur Kompas Minggu, 23 Juli 2017

Ayo Menulis

Setelah membaca cerita di atas, lakukanlah kegiatan berikut.

Jelaskanlah tokoh utama dan wataknya menurut cerita di atas dalam sebuah paragraf dengan menggambarkannya pada awal cerita dan pada akhir cerita menggunakan kotak berikut. Jelaskanlah perubahan yang terjadi pada tokoh utama pada cerita di atas.

Tokoh utama pada awal cerita:

...

...

...

...

Tokoh utama pada akhir cerita: ...

...

...

...

Pernahkah kamu menjumpai seseorang yang memiliki watak yang mirip dengan watak tokoh utama tersebut? Jika ada, ceritakanlah. ...

...

...

Di manakah latar belakang cerita tersebut? ...

Pernahkah kamu punya pengalaman langsung atau menonton film dengan latar belakang cerita yang sama dengan cerita di atas? Jika iya, ceritakanlah seperti apa latar belakang tempat itu.

... ... ...

Bagaimanakah jalan cerita di atas? Jelaskanlah dalam satu paragraf. ... ... ...

Nilai apa sajakah yang dapat kamu simpulkan dari cerita di atas?

... ... ...

Ayo Membacaa

Jejak Pemuda Pembangun Desa Oleh Herdita Dwi Rahmadhiany

Fatih sedang menyapu halaman rumahnya yang ada di Desa Hargotirto, Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta. Saat itulah ia melihat seorang pemuda muncul membawa tas ransel besar dari ujung jalan.

“Wah, Mas Iwan sudah pulang!” sorak Fatih. Ia berlari menghampiri pemuda itu. Mas Iwan adalah tetangga Fatih. Ia sejak lama dikenal warga sebagai pemuda yang baik dan pintar. Mas Iwan tidak pelit berbagi ilmu. Sebelum kuliah di kota, ia sering mengajari Fatih dan kawan-kawan pelajaran sekolah.

“Halo, Fatih!” sapa Mas Iwan ramah.

“Mas Iwan apa kabar? Kuliahnya bagaimana, Mas?” balas Fatih bertanya. “Kabar saya baik. Sekarang saya sudah lulus. Jadi, saya kembali ke sini,” jawab Mas Iwan.

Mas Iwan tersenyum. “Saya mau menetap dan bekerja di sini,” jelas Mas Iwan sambil melihat jam tangan. “Maaf, ya Fatih! Saya sedang buru-buru. Saya hendak pulang dulu bertemu Ayah dan Ibu,” pamit Mas Iwan, Fatih mengangguk.

Saat ayahnya pulang, Fatih berkata kepada ayahnya, “Tadi Fatih melihat Mas Iwan sudah pulang, Ayah. Katanya ia mau menetap di desa ini, Masak jauh-jauh sekolah di kota, mas Iwan kembali lagi ke desa kecil ini? Padahal konon di kota banyak pekerjaan yang berpenghasilan tinggi, kan Ayah?”

Ayah tersenyum lalu duduk di samping Fatih. “Kamu tahu peternakan kambing etawa yang ada di desa ini?”

“Tahu Ayah. Memangnya kenapa dengan peternakan itu?” Tanya Fatih penasaran.

“Peternakan itu dirintis oleh Mas Iwan dan beberapa warga desa ini. Dulu, kambingnya masih kecil, tetapi sekarang sudah bisa menghasilkan susu kambing murni yang banyak dicari orang,” jelas Ayah. “Selain itu, Mas Iwan juga mengelola kebun sayur organik. Sayur organik adalah sayur yang ditumbuhkan dan dipupuk tanpa menggunakan zat kimia, jadi lebih sehat!”

“Wah, Mas Iwan masih muda sudah punya peternakan dan kebun sendiri, ya Yah!” ucap Fatih kagum.

Ayah melanjutkan, “Tidak hanya itu. Dengan ilmu yang didapat saat kuliah, Mas Iwan juga membuat budidaya jamur tiram di desa ini. Ia mengajak warga sekitar untuk mengelolanya, sehingga pendapatan mereka sehari-hari meningkat. Akibatnya warga jadi terbantu untuk menyekolahkan anak-anak mereka dan memenuhi kebutuhan lainnya. Hebat, kan?”

Fatih tidak menyangka, ternyata di desanya masih banyak hal yang bisa dikembangkan untuk meningkatkan pendapatan warganya.

“Nanti, Mas Iwan juga mau membuka perpustakaan kecil agar kamu dan teman-temanmu dapat memanfaatkannya,” kata Ayah lagi.

Fatih bertambah kagum. Ternyata Mas Iwan benar-benar memanfaatkan ilmu yang dimilikinya untuk membangun desa mereka.

“Fatih ingin seperti Mas Iwan yang membangun desa kita, Ayah,” kata Fatih. “Pasti bisa, Fatih. Kamu hanya perlu terus belajar. Mau kerja di kota atau di desa, yang penting jadilah berguna bagi bangsa dan negara ini,” nasihat Ayah sambil tersenyum.

Ayo Menulis

Sebuah cerita dapat menggambarkan perbedaan latar atau tempat pada awal cerita dengan akhir cerita. Gambarkanlah situasi latar atau tempat cerita pada awal cerita dan pada akhir cerita berdasarkan cerita yang kamu baca. Jelaskanlah perbedaan tersebut.

Tempat di awal cerita:

...

...

...

...

Tempat di akhir cerita: ...

...

...

...

Jelaskanlah tokoh utama dan wataknya menurut cerita di atas dalam sebuah paragraf. ...

...

...

Bagaimanakah jalan cerita di atas? Jelaskanlah dalam satu paragraf. ...

...

...

Nilai apa sajakah yang dapat kamu simpulkan dari cerita di atas? ...

...

Ayo Membacaa

Senyum Sang Juara Oleh Pupuy Hurriyah

Sudah dua mingggu berlalu, namun ingatan Sekar masih saja pada perlombaan membacakan cerita yang setiap tahun diadakan ke sekolahnya. Sebelum perlombaan, Sekar adalah sang juara bertahan. Karena dua tahun berturut-turut sebelumnya, Sekar selalu menjadi juara satu. Tahun ini pun teman-teman Sekar menjagokannya kembali untuk menjadi juara satu.

Namun ternyata, tahun ini Sekar harus puas menjadi juara kedua. Ajeng, teman sebangkunya, menjadi pemenangnya kali ini. Padahal, Sekar ingin kembali menjadi juara di tahun terakhirnya di sekolah dasar tahun ini. Ia ingin menjadi juara bertahan selama tiga tahun berturut-turut.

Harapan Sekar itu pupus karena Ajeng. Dua tahun sebelumnya Ajeng juga ikut lomba itu. Langkah Ajeng saat itu terhenti di babak semifinal. Tetapi tahun ini Ajeng berhasil mencapai final. Bahkan, ia menjadi juara satu mengalahkan

Sekar ingat saat-saat menghadapi perlombaan itu. Ia dan Ajeng berlatih bersama. “Sekar, kamu baik sekali mau mengajariku menjadi pembaca cerita yang baik,” kata Ajeng saat berlatih.

Sekar tersenyum, “Aku senang jika kamu merasa menjadi lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya untuk menghadapi perlombaan nanti.”

Ah! Tetapi, Sekar tidak pernah membayangkan jika ternyata Ajeng dapat mengalahkannya saat lomba! Ada rasa sesal, kenapa ia mau mengajari Ajeng saat menjelang lomba. Perasaan Ajeng campur aduk antara perasaan marah, kesal, dan kecewa. Sejak itu, Sekar selalu menghindar dari Ajeng. Ia bersikap dingin terhadap Ajeng.

Kini setelah dua minggu Sekar bersikap tidak ramah terhadap Ajeng, Sekar mulai merasakan sendiri kesedihan setelah persahabatannya dengan Ajeng menjadi renggang. Sekar merasakan kehilangan hari-harinya yang indah sebelumnya bersama Ajeng.

“Ajeng,” Sekar tiba-tiba menyapa Ajeng saat jam istirahat di kelas.

Ajeng terkejut. Sekar mau bicara dengannya! Padahal sejak usai lomba itu, Sekar selalu menghindarinya dan tidak mau diajak bicara.

“Maafkan sikapku,” kata Sekar. Sekar lalu menjabat tangan Ajeng erat-erat. “Aku rela tidak mendapatkan juara, asalkan kamu mau tetap jadi sahabatku, Ajeng.” Mata Sekar mulai berkaca-kaca.

Oh! Ajeng terkejut dengan sikap Sekar. Ia pun berkata,”Aku juga, Sekar. Aku pikir, lebih baik aku tidak menjadi juara asalkan masih tetap bersahabat denganmu.”

Sekar menggeleng, “Kamu berhak mendapatkan juara, Ajeng. Kamu sungguh sangat bagus saat lomba. Aku harus bersikap sportif mengakuinya. Semalam ibuku mengatakan kepadaku, bahwa aku tetap menjadi juara. Aku juara karena telah berhasil menjadikan orang lain menjadi juara.”

Kedua sahabat itu pun saling berpelukan. Indahnya persahabatan!

Ayo Menulis

Jelaskanlah tokoh utama dan wataknya menurut cerita di atas dalam sebuah paragraf.

... ... ...

Di manakah latar belakang cerita tersebut?

... ... ...

Bagaimanakah jalan cerita di atas? Jelaskanlah dalam satu paragraf. ... ... ...

Jelaskanlah persamaan dan perbedaan cerita tersebut dengan peristiwa yang pernah kamu alami atau yang pernah kamu tonton dari sebuah film.

Persamaan: ... ... Perbedaan: ... ...

Gambarkanlah persamaan dan perbedaan tersebut dengan menggunakan tempat yang tersedia di bawah ini.

Gambar dari cerita Gambar dari pengalaman atau film

Nilai apa sajakah yang dapat kamu simpulkan dari cerita di atas?

... ... ...

Ayo Membacaa

Sepucuk Surat Menjelang Ujian Oleh Hanni Darwanti

Risma menyantap pelan menu sarapannya sambil melamun. Hari ini adalah hari pertama ujian akhir siswa kelas enam. Risma sudah siap untuk menghadapi soal-soal ujiannya. Ia sudah belajar dengan tekun selama beberapa bulan menjelang ujian akhirnya. Ia ingin mengakhiri jenjang sekolah dasarnya dengan baik.

Risma seorang siswa yang cemerlang. Pekerjaan sekolahnya selalu dapat diselesaikannya dengan sangat baik. Ia seorang siswa yang tekun dan selalu mempersiapkan dirinya dengan baik. Tetapi, pagi ini ia tampak gelisah. Di hari yang menurutnya penting karena ia akan menghadapi ujian akhirnya, ia merasa kecewa karena ayah dan ibunya tidak bersamanya. Kedua orang tuanya sedang bertugas di luar kota, sehingga tidak dapat menemaninya dan memberikan dukungan kepadanya untuk menghadapi ujiannya. Ia mulai membandingkan dirinya dengan beberapa temannya yang akan ditemani orang tuanya selama ujian akhir ini. Sedangkan orang tuanya tidak bersamanya saat

ini. Risma tahu bahwa kedua orang tuanya sangat mendukungnya selama ini, namun tetap saja ia merasa kecewa.

Tiba-tiba lamunan Risma dibuyarkan oleh tepukan di bahu oleh Kak Dini, kakaknya. “Dik, ini ada titipan surat dari Ayah dan Ibu untukmu. Sebelum Ayah dan Ibu berangkat ke luar kota kemarin, mereka berpesan kepada Kakak untuk memberikan ini kepadamu saat sarapan sebelum berangkat ujian. Dibaca sekarang ya, Dik. Kakak harus berangkat lebih pagi hari ini,” kata Kak Dini sambil bergegas berangkat sekolah.

“Surat? Mengapa Ayah dan Ibu menitipkan surat untukku?” tanya Risma dalam hati. Perlahan dibukanya lipatan surat itu. Risma menyimak setiap kata yang ditulis rapi oleh ibunya.

Risma tercinta,

Mudah-mudahan Risma selalu ingat bahwa ujian apa pun yang Risma hadapi tidak pernak menitikberatkan pada hasilnya.

Hakikat ujian adalah mengukur daya juang kita.

Seberapa besar mau bersusah payah mempersiapkan diri?

Seberapa kita rela kita mengorbankan hal-hal menyenangkan demi memprioritaskan persiapannya?

Seberapa besar kita melibatkan Tuhan dalam usaha kita? Para guru dapat menyiapkan materinya,

Ayah dan Ibu dapat menemanimu berlatih,

Tuhan menganugerahimu dengan bakat dan kecerdasan.

Namun, hanya Risma sendiri yang dapat membangun niat untuk berjuang. Hanya Risma yang mengetahui apakah usaha yang diberikan sudah maksimal.

Hasil tidak pernah menjadi urusan dan porsi kita, Nak.

Sesungguhnya Tuhanlah yang memegang “kunci jawaban” dari semua ujian yang ada di semesta ini.

Tuhan hanya ingin tahu, apakah kamu membuat pilihan yang tepat untuk menghadapinya. Cara apa saja yang ditempuh untuk menghadapinya. Seberapa gigih usahamu, seberapa kamu memohon pertolongan-Nya untuk menghadapi ujian ini.

Terima kasih atas kerja keras dan ketekunanmu untuk mempersiapkannya. Ayah dan Ibu bangga karena kamu tidak pernah mengeluh untuk mempersiapkan dan menghadapinya.

Tuhan akan selalu bersamamu, demikian juga dengan Ayah dan Ibu.

Salam sayang, Ayah dan Ibu

Risma mengusap air mata yang mengalir di pipinya. Ia tidak lagi merasa gundah dan gelisah. Ia kini merasa terharu dan bangga terhadap Ayah dan Ibunya. Ia kini mengerti bahwa bukan kehadiran fisik Ayah dan Ibu yang ia butuhkan, tetapi cinta dan doa dari kedua orang tuanya yang ia inginkan. Dan ia mendapatkannya.

Risma segera melipat surat dari orang tuanya itu dan memasukkannya ke dalam tasnya. Setelah menghela nafas panjang, ia segera bergegas menyelesaikan sarapannya dan bersiap berangkat ke sekolah untuk menghadapi ujian sekolah hari ini. Senyum menghiasi wajahnya.

“Terima kasih, Ayah dan Ibu, untuk semua cinta dan doamu,” ujarnya di dalam hati. Dan ia pun melangkah mantap menghadapi ujiannya.

Ayo Menulis

Gunakan diagram berikut ini untuk menjelaskan cerita fiksi di atas.

Judul Cerita

Watak Tokoh Utama

Hubungan antara Tokoh Utama dan Tokoh Tambahan Watak Tokoh Tambahan

Gambar tempat peristiwa

Bagaimanakah jalan cerita di atas? Jelaskanlah dalam satu paragraf. ... ... ...

Jelaskanlah persamaan dan perbedaan cerita tersebut dengan peristiwa yang pernah kamu alami atau yang pernah kamu tonton dari sebuah film.

Persamaan: ... ... Perbedaan: ... ...

Gambarkanlah persamaan dan perbedaan tersebut dengan menggunakan tempat yang tersedia di bawah ini.

Gambar dari cerita Gambar dari pengalaman atau film

Nilai apa sajakah yang dapat kamu simpulkan dari cerita di atas?

... ... ...

Ayo Membacaa

Membangun Kincir Air Bersama Oleh Faris Al Faisal

Ilustrator : Regina Premalita

Pagi ini Ridwan dan ayahnya bersiap mengikuti gotong-royong yang diadakan oleh Kelompok Tani di desa Manggungsari, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Mereka akan membangun kincir air sederhana di Sungai Citanduy.

“Ayah, untuk apa dibangun kincir air?” tanya Ridwan.

“Kincir air akan digunakan untuk membantu mengairi sawah akibat saluran irigasi yang mengering saat musim kemarau,” jawab Ayah.

“Bagaimana caranya, Ayah?” tanggap Ridwan penasaran.

“Nanti air sungai diambil oleh potongan bambu yang menempel di kincir. Potongan bambu akan terus berputar karena dorongan air sungai. Saat bambu berada di atas, air akan ditumpahkan ke talang untuk diteruskan ke sawah,” jelas Ayah dengan sabar.

Ridwan manggut-manggut mendengarnya.

“Keuntungan penggunaan kincir air ini adalah hemat energi, hemat biaya, dan ramah lingkungan, karena tidak menggunakan listrik,” tambah Ayah.

Sesampainya di sungai, Ridwan melihat sudah banyak warga desa yang berkumpul untuk mengerjakan kincir air.

“Wah, ramai sekali yang mau ikut gotong-royong,” seru Ridwan takjub. Tak lama kemudian, bapak-bapak dan para pemuda desa mulai membuat kerangka kincir. Mereka membagi tugas. Ada yang mengukur panjang bambu dan kayu. Ada yang memotong dengan gergaji. Ada juga yang memaku dan mengikat kerangka kincir. Semua dilakukan secara hati-hati agar kincir seimbang dan berputar pada porosnya dengan sempurna.

Menjelang siang, pekerjaan dihentikan sementara untuk beristirahat. Ibu- ibu desa sudah menyiapkan makanan dan minuman. Walau dengan hidangan sederhana, mereka menikmatinya bersama-sama.

“Hebat ya, Ayah. Membangun kincir air itu termasuk pekerjaan berat, tapi

Dalam dokumen Subtema 3 Tokoh Penjelajah Angkasa Luar (Halaman 66-90)

Dokumen terkait