• Tidak ada hasil yang ditemukan

HAK CIPTA ATAS LAGU DAN MUSIK YANG DIMUAT DALAM LAYANAN MUSIK DIGITAL

A. Hak Cipta

Hak cipta merupakan salah satu dari Hak Kekayaan Intelektual (HKI) atau Intellectual Property Rights yaitu hak yang timbul sebagai hasil olah pikir yang menghasilkan suatu produk atau proses yang berguna untuk manusia.66 Istilah hak cipta saat ini sudah dikenal oleh masyarakat, namun untuk memahami tentang ruang lingkup pengertiannya tidak akan sama antara orang yang satu dengan yang lain. Hal ini menyebabkan terjadinya kesalahpahaman dalam masyarakat. Pengertian hak cipta adalah meliputi hasil ciptaan manusia dalam bidang ilmu pengetahuan, kesenian, dan kesusasteraan.

Hak cipta adalah hak seseorang terhadap hasil penemuannya dalam bidang tertentu yang dilindungi oleh undang-undang seperti hak cipta dalam mengarang, mengubah musik dan penemuan-penemuan lain yang sejenis.67 Hak cipta adalah hak khusus bagi pencipta maupun penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya maupun untuk memberi izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hak

66 Bernard Nainggolan, Pemberdayaan Hukum Hak Cipta dan Lembaga Manajemen Kolektif, Loc.cit, hal. 12

67 Sudarsono, Kamus Hukum, Rineka Cipta, Jakarta, 2007, hal.154

khusus dari pencipta dimaksudkan tidak ada orang lain yang boleh melakukan hak itu atau orang lain kecuali dengan izin penciptanya.68

Pengertian hak cipta dapat juga dilihat dalam pasal V Universal Copy Rights Convention, menyatakan bahwa:

"Hak cipta meliputi hak tunggal pencipta untuk membuat, menerbitkan dan memberi kuasa dalam membuat dan menerbitkan. terjemahan dari karya yang dilindungi oleh perjanjian ini.69

Pencipta adalah seseorang atau beberapa orang yang secara bersama-sama yang dari inspirasi lahir suatu ciptaan berdasarkan kemampuan berpikir, imajinasi, kecekatan dan keterampilan atau keahlian yang diuntungkan dalam bentuk yang khas dan bersifat pribadi dialah orang yang memiliki hak cipta tersebut kecuali tersebut kecuali ditentukan lain.70 . Sedangkan Pencipta menurut Undang-Undang No. 28 Tahun 2014 adalah seseorang atau beberapa orang yang secara sendirisendiri atau bersama-sama menghasilkan suatu ciptaan yang bersifat khas dan pribadi.

Seseorang dianggap sebagai pencipta menurut Pasal 31 Undang-Undang No.

28 Tahun 2014 adalah apabila nama pencipta tersebut namanya:

1) Disebut dalam ciptaan;

2) Dinyatakan sebagai pencipta pada suatu ciptaan;

3) Disebutkan dalam surat pencatatan ciptaan; dan/atau 4) Tercantum dalam daftar umum ciptaan sebagai pencipta.

68 Munawar Kholil, Sekilas Tentang Hukum Hak Cipta, disampaikan pada Pelatihan dan Pemanfaatan HKI bagi mahasiswa yang mempunyai Karya Inovasi, UNS, Surakarta, Juli 1999 dalam Syarifuddin,Perjanjian Lisensi dan Pendaftaran Hak Cipta, PT Alumni, Bandung, 2013, hal.44

69 J.C.T Simorangkir,Hak Cipta , Cet II, Djambatan Jakarta, 2013, hal. 21

70 Hasbir Paserangi, Hak Kekayaan Intelektual Perlindungan Hukum Hak Cipta Perangkat Lunak Program Komputer Dalam Hubungannya dengan Prinsip-Prinsip TRIP’s di Indonesia, Rabbani Press, Jakarta, 2011, hal 34

Selanjutnya yang dimaksud sebagai pemegang hak cipta berdasarkan pasal 1 butir 4 UUHC menyebutkan bahwa :

“Pemegang Hak Cipta adalah Pencipta sebagai pemilik Hak Cipta, pihak yang menerima hak tersebut secara sah dari Pencipta, atau pihak lain yang menerima lebih lanjut hak dari pihak yang menerima hak tersebut secara sah.”

Ciptaan adalah setiap hasil karya cipta di bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra yang dihasilkan atas aspirasi, kemampuan, pikiran, imajinasi, kecekatan, keterampilan, atau keahlian yang diekspresikan dalam bentuk nyata. Ciptaan diatur di dalam pasal 1 angka 3 Undang-Undang No. 28 Tahun 2014. Biasanya pencipta suatu ciptaan merupakan pemegang hak cipta atas ciptaannya.71

Ciptaan yang mendapatkan hak cipta setidaknya harus memperhatikan beberapa prinsip dasar hak cipta, yakni:72

1. Yang dilindungi hak cipta adalah ide yang telah berwujud dan asli (orisinil).

2. Hak cipta timbul dengan sendirinya (otomatis),

3. Suatu ciptaan tidak perlu diumumkan untuk memperoleh hak cipta

4. Hak cipta merupakan hak yang diakui hukum (legal rights) yang harus dibedakan dari penguasaan fisik suatu ciptaan,

5. Hak cipta bukan hak mutlak (absolut),

71Simon Butt,dkk, Kekayaan Intelektual Suatu Pengantar, P.T,Alumni,Bandung, 2013, Hal 110

72Budi Agus Riswandi & M.syamsudin, Hak Kekayaan Intelektual dan Budaya Hukum, PT.RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2004, hal.8-10.

Pasal 40 Undang-Undang No. 28 Tahun 2014 menyatakan bahwa ciptaan yang dilindungi dalam bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra terdiri atas:

a. Buku, pamplet, perwajahan karya tulis yang diterbitkan, dan semua hasil karya tulis lainnya.

b. Ceramah, kuliah, pidato, dan ciptaan sejenis lainnya.

c. Alat peraga yang dibuat untuk kepentingan pendidikan dan ilmu pengetahuan.

d. Lagu dan/atau musik dengan atau tanpa teks.

e. Drama, drama musikal, tari, koreografi, pewayangan, dan pantomim.

f. Karya seni rupa dalam segala bentuk seperti lukisan, gambar, ukiran, kaligrafi, seni pahat, patung, atau kolase.

g. Karya seni terapan.

h. Karya arsitektur.

i. Peta.

j. Karya seni batik atau seni motif lain.

k. Karya fotografi.

l. Potret.

m. Karya sinematografi.

n. Terjemahan, tafsiran, saduran, bunga rampai, basis data, adaptasi, aransemen, modifikasi, dan karya lain dari hasil transformasi.

o. Terjemahan, adaptasi, aransemen, transformsi, atau modifikasi ekspresi budaya tradisional.

p. Kompilasi ciptaan atau data, baik dalam format yang dapat dibaca dengan program computer maupun media lainnya.

q. Kompilasi ekspresi budaya tradisional selama kompilasi tersebut merupakan karya yang asli.

r. Permainan video, dan s. Program computer

Ada 2 (dua) sistem dalam pendaftaran hak cipta yaitu sistem konstitutif dan sistem deklaratif. Sistem konstitutif berarti bahwa hak atas ciptaan baru terbit karena pendaftaran yang telah mempunyai kekuatan. Sistem deklaratif ialah bahwa pendaftaran itu bukanlah menerbitkan hak, melainkan hanya memberikan dugaan atau sangkaan saja menurut undang-undang bahwa orang yang hak ciptanya terdaftar itu adalah yang berhak sebagai pencipta dari hak yang didaftarkannya.

Pada sistem konstitutif letak titik berat ada tidaknya hak cipta tergantung pada pendaftarannya. Jika didaftarkan (dengan sistem konstitutif) Hak Cipta itu diakui keberadaannya secara de jure dan de facto sedangkan pada sistem deklaratif titik beratnya diletakkan pada anggapan sebagai pencipta terhadap hak yang didaftarkan itu, sampai orang lain dapat membuktikan sebaliknya. Dengan rumusan lain, pada sistem deklaratif sekalipun Hak Cipta itu didaftarkan undang-undang hanya mengakui seolah- olah yang bersangkutan sebagai pemiliknya, secara de jure harus dibuktikan lagi, jika ada orang lain yang menyangkal hak tersebut.73

Saat ini, hampir semua negara-negara menganut sistem pendaftaran dan perlindungan penuh suatu Hak Cipta dijamin oleh pendaftaran. Artinya pendaftaran menimbulkan hak, maka pendaftaran wajib dilakukan jika ingin mendapat perlindungan atas suatu Hak Cipta. Sistem perlindungan berdasarkan prinsip pendaftaran, dikenal sebagai sistem konstitutif (first to file). “Dalam Undang-Undang HAKI menganut sistem konstitutif, yaitu adanya perlindungan hukum bagi karya-karya intelektual ketika sudah didaftarkan di Dirjen HAKI74

Undang-Undang No. 28 Tahun 2014 memuat sistem deklaratif (first to use system) yaitu perlindungan hukum hanya diberikan kepada pemegang atau pemakai pertama atas Hak Cipta. Apabila ada pihak lain yang mengaku sebagai pihak yang berhak atas Hak Cipta, maka pemegang atau pemakai pertama harus membuktikan

hal. 89.

73OK. Saidin, Aspek Hukum Hak Kekayaan Intelektual (Intellectual Property Rights), Loc.cit,

74 Erma Wahyuni, T. Saiful Bahri, dan Hessel Nogi S. Tangkilisan, Kebijakan dan Manajemen Hukum Merek, Cet. I, Yayasan Pembaruan Administrasi Publik Indonesia, Yogyakarta, 2006, hal. 145.

bahwa dia sebagai pemegang pemakai pertama yang berhak atas hasil ciptaan tersebut.

Sistem deklaratif ini tidak mengharuskan pendaftaran hak cipta dalam bentuk pencatatan ciptaan di Kementrian Hukum dan HAM Republik Indonesia.

Untuk melakukan pencatatan ciptaan, pemohon dapat melakukan pengajuan permohonan melalui tiga alternatif, yaitu :

a. Melalui Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (Ditjen HKI).

b. Melalui Kantor Wilayah Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia.

c. Melalui Kuasa Hukum Konsultan HKI yang terdaftar

Pendaftaran ciptaan pada pihak yang berwenang merupakan bentuk perlindungan yang dapat memberikan kepastian hukum atas suatu hak cipta.