• Tidak ada hasil yang ditemukan

2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Ciri-ciri Kapitalisme

Menurut Marx dalam Darsono (2007), masyarakat kapitalis adalah masyarakat penghisapan (kaum kapitalis) atas kerja kaum buruh, atau masyarakat capital yang menghisap darah manusia, dan masyarakat uang yang menimbun barang dagangan, atau masyarakat barang dagangan yang mengejar keuntungan. Dengan demikian masyarakat kapitalisme itu tujuan pokoknya ialah mencari keuntungan yang sebesar-sebesarnya untuk dijadikan kekayaan.

87 Dalam ekonomi masyarakat kapitalis, kapital mempunyai peranan yang sangat penting, sebab tanpa kapital, ekonomi masyarakat kapitalis tidak akan bisa hidup dan berkembang, Nilai atau bobot dan peranan seseorang atau seorang kapitalis diukur dan ditentukan oleh banyak sedikitnya capital yang dimilikinya. Makin besar kapitalnya, maka makin besar pula nilai, bobot, dan peranannya dalam kehidupan masyarakatnya.

Masyarakat kapitalis, sangat bertolak belakang terhadap sistem ekonomi komunal primitive yakni segala kegiatan ekonomi dimana alat produksi adalah milik semua anggota masyarakat. Hasil kerja dan keuntungan digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama. Karena alat produksi milik bersama seluruh anggota masyarakat, tidak ada kelas-kelas dalam masyarakat seperti halnya masyarakat kapitalis. Perkembangan alat kerjanya menentukan perkembangan tenaga kerja produktifnya dan hubungan produksinya. Booke

dalam Dharmawan (2001) membedakan dengan jelas mengenai ekonomi kapitalis yang padat modal dengan ekonomi pra kapitalis yang sarat dengan bentuk-bentuk kepemilikan bersama dan cenderung egalitarianism. Matriks 2 berikut akan menggambarkan perbedaan dua sistem perekonomian tersebut dengan sangat rinci.

Matriks 2. Sistem Ekonomi pada Masyarakat Pertanian (Suatu Perbandingan oleh Boeke)

Bentuk Sistem Ekonomi Indikator Perbandingan

Pra Kapitalis Kapitalis Kesadaran terhadap

ketidaksamaan secara alamiah

Kesadaran terhadap kesamaan secara alamiah, namun secara ekonomi terjadi

ketidaksamaan Dengan kelompok

masyarakatnya cenderung patuh dan mengutamakan pelayanan terhadap sesama

Kesadaran yang tinggi terhadap kebebasan, demokrasi, dan tanggung jawab. 1. Motivasi spiritual (nilai-

nilai) Kepuasan pada terpenuhinya kebutuhan dasar Kepuasan pada kuntungan individual

88 Tradisional, dan pemeliharaan status quo. Rasional, dan orientasinya terhadap prestasi individu Komunalisme Individualisme Ekonomi disubordinasi oleh agama

Ekonomi dan agama setara

Tenaga kerja : sebagai sesuatu yang tidak layak dilakukan, waktu santai diutamakan.

Tenaga kerja : sebagai basis usaha

Dominasi oleh nilai-nilai pedesaan

Dominasi oleh nilai-nilai perkotaan.

Hubungan patriarchal

kepada majikan

Hubungan kerja bersifat kontraktual dan rasional antara bos dan buruh Dominasi terhadap kebutuhan-kebutuhan social. Dominasi terhadap Kebutuhan ekonomi individual

Organisasi sosial yang tradisional serta turun- temurun. Individualisme, dan organisasi perusahaan Berdasarkan kekerabatan (kinship) Berdasarkan organisasi sukarela

Unit produksi adalah rumahtangga

Unit produksi adalah perusahaan

Berbasis status Berbasis hubungan kontraktual

Solidaritas yang dipelihara secara terus- menerus Solidaritas sukarela yang sementara Gemeinschaft Gesellschaft 2. Organisasi (Struktur Sosial)

Skala lokal Lokal terhadap skala global. Pemenuhan kebutuhan subsistensi Pemenuhan kebutuhan pasar 3. Teknologi

Tidak ada atau sedikit sekali alur pertukaran

Uang sebagai modal, dan merupakan

89

uang ekonomi moneter

Tenaga manual, yakni manusia

Terjadi mekanisasi

Aktivitas tertentu berdasarkan musim

Pekerjaan yang cenderung tetap dan aktivitas yang terus- menerus.

Industri pedesaan dan rumahtangga

Perusahaan

Sumber : Koentjaraningrat (1975) dalam Dharmawan (2001)

Bagi Marx dalam Magnis-Suseno (2005), dari segi proses, kapitalisme adalah sistem ekonomi yang hanya mengakui satu hukum: hukum tawar- menawar di pasar. Jadi kapitalisme adalah ekonomi yang bebas, bebas dari berbagai pembatasan oleh siapapun (orang boleh membeli dan menjual barang di pasar mana pun), bebas dari pembatasan-pembatasan produksi (orang bebas mengerjakan dan memproduksi apapun yang dikehendakinya, bebas dari nilai pembatasan tenaga kerja. Yang menentukan semata-mata hanya untung yang besar.

Dari segi output, bagi Marx dalam Magnis-Suseno (2005),perbedaan kapitalisme dari sistem produksi-produksi lain adalah bahwa nilai yang ingin dihasilkan oleh para peserta pasar adalah nilai tukar dan bukan nilai pakai. Karena dengan memproduksi nilai tukar tersebut menciptakan kelas proletariat yang dipercaya oleh Marx sebagai titik penghabisan kapitalisme.

Marx menekankan bahwa tenaga kerja (labor) sebagai sumber dari pertukaran nilai ekonomi, juga merupakan sumber keuntungan (profit). Menurut Marx, keuntungan yang diperoleh oleh kaun borjuis sebagai pemilik modal berasal eksploitasi dari tenaga kerja. Berbanding terbalik dengan pemikiran Hegel maka, agama merupakan factor yang tergantung dari sistem ekonomi, dan bukan sebagai pendorong dari dinamika ekonomi seperti yang diungkapkan oleh Hegel.

Kelas social merupakan pusat dari pemikiran Engels dan konsepsi Marx mengenai sejarah kelas social dalam konsepsi Marx berbasis pada material. Kelas didefinisikan sebagai jenis-jenis krusial dari pola-pola hubungan social

90 yang mana diikat berdasarkan hubungan materialism, ideology, dan politik dari setiap komunitas. Properti dalam konsepsi Marx diartikan sebagai hak yang dilegalkan, didukung oleh negara, dan kepemilikan dari barang-marang material. Setiap tipe dari setiap sistem social akan berbeda-beda dalam konsepsi Marx menurut bentuk dari property, dan kelas social.

Menurut Marx, di dalam masyarakat kapitalis, pola umum dari kepemilikan property adalah modal industrial. Kelas social dibagi atas kapitalis yang memiliki artikulasi cara produksi (means of production) dan pekerja atau proletariat, yang tidak memiliki property, dan kekuatan satu-satunya adalah tenaga yang dijualnya pada pasar tenaga kerja untuk tujuan bertahan hidup. Kelas ini lah yang menurut Marx sebagai aktor utama didalam perubahan sejarah suatu masyarakat. Ide-ide dan agama ditentukan oleh kelas sosial. Bagi Marx kelas merupakan actor utama didalam tahap perkembangan sejarah, dan sebagai basis dari terbentuknya ide-ide dan kepercayaan.

Di dalam masyarakat kapitalis menurut Marx dan Engels, akan terdapat suatu kelas menengah di dalam sistem social masyarakat kapitalis, yakni yang merupakan kelas pedagang kecil, seniman, dan industry skala kecil. Menurut Marx dan Engels, kelas menengah ini memiliki lingkungan kultur pergaulan tersendiri, malah menjadi actor politik bagi dirinya sendiri. Marx dan Engels menyebutkan orang-orang di kelas menengah ini sebagai “petit bourgeois radicals”. Namun, menurut Marx dan Engels ini tidak berlaku tetap, karena persaingan di dalam sistem kapitalis itu sendiri, maka kelas ini tidak selamanya akan berbentuk radikalisme, karena kapitalisme akan menciptakan consentrasi industry yang semakin lama semakin besar maka Marx dan Engels menduga

petit bourgoise akan kehilangan property skala kecilnya, dan jatuh sebagai kelas proletariat. Teori kelas dari Marx dan Engels menunjukkan analisa mengenai sebab dan akibat. Mereka menunjukkan bagaimana perjuangan-perjuangan kelas dapat dianalisa ke dalam konflik dan persekutuan diantara kelas sosial yang mengejar perbedaan minat ekonomi tertentu (Collins, 1985).

Menurut marx, kelas social erat sekali hubungannya dengan ekonomi dan politik. Sistem ekonomi diorganisasikan melalui kepemilikan property, yang mendefinisikan kelas, dan property dikuatkan oleh kekuatan politik Negara. Properti tidak sendirinya dimiliki begitu saja, melainkan sesuatu dimiliki oleh seseorang hanya karena negara yang membentuk legalitas secara hukum

91 perundang-undangan terhadap property tersebut, dan akan berperan untuk menjalankan klaim-klaim kepemilikan bisa juga dengan cara menggunakan cara- cara militer. Selanjutnya bagi Marx, properti dalam beragam cara tidak akan dapat dicabut haknya oleh individu, tanpa dukungan dari sistem sosialnya itu sendiri. Misalnya, seseorang yang secara legal memiliki sebidang tanah namun tidak memiliki modal untuk membudidayakan tidak akan bermakna apapun. Karena alasan inilah, beberapa kelas ekonomi yang dominan harus sangat peduli terhadap politik. Namun, bukan berarti mereka terus-menerus bercokol di negara. Namun, peduli terhadap kondisi politik untuk memastikan bahwa negara tetap meneruskan perlindungan terhadap minat kepemilikan dari para kaum borjuis, dan sangat dibutuhkan intervensi dari kekuatan pemerintah untuk menciptakan peluang-peluang keberuntungan. Politik merupakan suatu cara perjuangan kaum borjuis untuk mengontrol keberlanjutan dukungan negara, dan kaum borjuis selalu memenangkan perjuangan ini, terkecuali situasi sejarah sebagai basis produksi berubah (Collins, 1985).

Konsepsi ekonomi Marx sesungguhnya mengungkapkan bahwa masyarakat kapitalis muncul karena adanya kontradiksi secara internal sistem social yang membawa pada konsentrasi dari kepemilikan property oleh para actor kapitalis atau borjuis, di satu sisi menciptakan pertumbuhan jumlah besar kaum proletariat yang pengangguran, dan terkadang muncul suatu krisis ekonomi. Sehingga bagi Marx satu-satunya cara untuk keluar dari kondisi ini adalah dengan menghapuskan kepemilikan pribadi dari sistem social (Collins, 1985).

Satu prinsip yang paling krusial bahwa kekuasaan bergantung pada kondisi mobilisasi material. Berdasarkan analisa Engels mengenai alasan mengapa petani di Jerman pada masa lampau dengan mudah dikuasai oleh kaum aristokrasi. Padahal sesungguhnya, kaum petani melakukan upaya-upaya untuk melawan kaum aristocrat di Jerman saat itu. Namun, para kaum bangsawan selalu memenangkan perlawanan kaum tani. Hal ini menurut Engels disebabkan karena kaum ningrat superior dalam hal memobilisasi. Kaum ningrat dengan mudah memecahkan para petani, membayar kelompok petani tertentu, untuk menyerang kelompok petani lainnya. Kaum ningrat mengorganisasikan dirinya dengan para proletariat melalui persekutuan, dan manuver secara militer. Petani kecil selalu kalah karena mereka tidak memiliki kepemilikan untuk

92 mengorganisasi mereka di dalam perlawanan secara politik. Keadaan petani di Jerman saat itu menurut Engels seperti petani-petani di Perancis: ‘Mereka terpecah-pecah” mereka mengatakan “kami seperti kentang-kentang di dalam karung (“like potatoes in a sack”) yang melulu menjadi gumpalan besar nampak dari luar secara bersama-sama, namun tidak menjadi satu. Kondisi material lah yang memisahkan mereka satu sama lain, dan menghambat mereka dalam mencapai kekuasaan (Collins, 1985).

Kelas pemilik secara politik selalu mendominasi karena mereka lebih dominan dalam hal mobilisasi politik. Kapitalis sendiri sebuah sistem ekonomi saling interkoneksi. Para pebisnis misalnya sangat aktif berhubungan satu sama lainnya, mengawasi pesaing, berani mengambil pinjaman, dan malah memberikan pinjaman, dan membentuk kartel. Jejaring finansial, dan pasar itu sendiri dalam arti komunikasi lah yang membawa kelas kapitalis dalam jaringan sosial ekonomi yang lebih dekat. Berdasarkan alasan ini para pebisnis, khususnya pada golongan atas pebisnis, telah sangat terorganisasi. Kelompok pebisnis ini telah memiliki sebuah jaringan yang mereka gunakan untuk memudahkan mereka menggunakan jalur politik ketika mereka ingin melakukan sesuatu. Di sisi lain, kelas pekerja, di satu sisi, tidak memiliki organisasi yang tumbuh secara alami untuk ambil bagian dari kegiatan politik, mereka tidak memiliki kekuatan-kekuatan khusus untuk menciptakan organisasi politik dan bersusah payah mencoba untuk saling berhubungan dengan kelompok kelas pekerja lainnya di tempat yang berbeda untuk memperoleh suatu kekuatan perlawanan bersama. Selanjutnya, meskipun jumlah pekerja jauh lebih banyak dibandingkan elit-elit pebisnis, namun kekuatan besar dari mobilisasi politik yang dipegang oleh kaum pebisnis memberikan keseimbangan dalam hal kekuatan politik. Hal ini sekaligus dengan kuatnya kontrol dari kaum kelas atas dalam memperoduksi kekuatan mental –di dalam masyarakat modern kepemilikan dari koran, stasiun televisi, dan lain sebagainya- diartikan bahwa kelompok minoritas pebisnis akan dapat selalu dengan mudah mendefinisikan isu-isu politik dari sisi pandang mereka dan mencapai kekuatan politik keluar dari proporsi mereka di dalam sistem sosial.

Sistem politik Negara yang demokrasi sangat cocok kepada berkembangnya dan menguatnya kelas social pebisnis, karena mereka adalah pihak yang paling kuat untuk memenangkan perjuangan untuk memperoleh

93 kekuasaan. Satu hal yang bisa dijadikan alasan karena kondisi material mendasari sistem bisnis itu sendiri telah sebelumnya menjadi dominan pada pasar. Alasan lain berikutnya yang penting juga untuk menjelaskan mengapa para kapitalis dapat dengan mudah mendominasi politik demokrasi. Ini karena pentingnya masalah financial pada setiap pemerintahan, khususnya dalam hutang luar negeri. Marx menekankan pemerintah revolusioner tahun 1848 di Perancis tidak tega menekankan pada efek dari kebijakan ekonomi yang radikal karena kesanggupan Negara saat itu membayar hutang bergantung pada kekuatan peredaran uang di Perancis, dan itu tidak pernah lepas dari peran para kapitalis (Collins, 1985).

Sosiologi Weber sering dikatakan sebagai pemikiran antaginistik terhadap pendekatan Marxian. Sesungguhnya, Weber lebih sebagai penerus dari pemikiran Marx, dan dikemudian hari Ia merupakan generasi penerus dari tradisi pemikiran konflik sejarah di dalam dunia intelektual di Jerman. Weber sendiri sangat menaruh perhatiannya terhadap latarbelakang dari kemunculan kapitalisme, mengenai potongan-potongan dari bagaimana kapitalisme bisa muncul ditempatkan pada tujuan utama analisanya. Pendekatan Weber tidak pada melihat rangkaian dari tahap-tahap perubahan, namun dengan membuat analisa perbandingan: Mengapa kapitalisme modern muncul di dunia eropa dibandingkan beberapa pusat peradaban dunia seperti Cina, India, Roma, dan Islam? Sosiologi Weber menjawab pertanyaan tersebut. Teori sosiologinya berusaha untuk menciptakan alat analisa mengenai institusionalisasi dasar dari kegiatan ekonomi, untuk menunjukkan apa kekuatan-kekuatan yang melatarbelakangi sistem sosial yang berbeda-beda. Sebagai penyempurna dari pemikiran Marx, maka Weber lebih menunjukkan bahwa kapitalisme tidak dihasilkan oleh kekuatan-kekuatan ekonomi namun dipengaruhi ide-ide relijius, yakni didorong oleh semangat puritan untuk bekerja keluar dari keinginannya untuk mencari keselamatan, dengan meninggalkan doktrin-doktrin teologikal dari takdir(Collins, 1985).

Dalam berbagai cara teori Marxian berperan negative terhadap teori Weberian, akan tetapi dengan cara lain, Weber yang bekerja menurut tradisi Marxian, mencoba menyelesaikan” teori Marx. Teori Weberian mendapat banyak bahan dari teori Marxian (Burger, 1976 dalam Ritzer, 2001). Weber memandang Marx dan para pengikutnya sebagai determinisme ekonomi yang mengemukakan

94 teori-teori berpenyebab tunggal tentang kehidupan sosialnya. Salah satu contoh determinisme ekonomi yang rupanya sangat mengganggu pikiran Weber adalah pandangan yang mangatakan bahwa ide-ide hanyalah refleksi kepentingan material (utamanya kepentingan ekonomi) dan bahwa kepentingan materi menetukan ideologi. Sebaliknya Weber lebih banyak menekankan pada gagasan dan pengaruhnya terhadap ekonomi. Menurut Weber, protestanisme sebagai sebuah gagasan mempengaruhi munculnya gagasan lain yakni semangat kapitalisme dan akhirnya menjadi sistem ekonomi kapitalis. Weber juga mencurahkan perhatian serupa terhadap agama dunia yang lain, mempelajari bagaimana cara gagasan keagamaan merintangi perkembangan kapitalisme di dalam masyarakatnya. Misalnya weber menemukan sistem agama yang irasional (misalnya konfusianisme, Taoisme, Hinduisme) merintangi perkembangan sistem ekonomi rasional. Pada akhirnya agama-agama itu hanya memberikan rintangan sementara, karena sistem ekonomi, dan bahkan struktur sosialnya akan menjadi rasional.

Weber sangat terkenal dalam penjelasannya mengenai tiga model dimensi dari stratifikasi social yang sangat dekat dengan dengan kunci pemahaman teorinya yang sangat rumit. Tiga dimensi tersebut antara lain : (1) kelas, (2) status, (3) partai . Ketiga pihak ini saling “bertarung”. Tiga dimensi ini selalu saling berhubungan satu sama lainnya, dan setiap dimensi menggambarkan realitas khusus mengenai teori Weberian.

Analisa kelas di dalam teori Weber, memiliki realitas yang sama dengan Marx dan Engels. Namun, Weber mengubah model teorinya mengenai kelas. Konflik kelas bagi Weber jauh lebih rumit dibandingkan yang diteorikan oleh Marx dan Engels. Weber setuju dengan temuan Marx bahwa terjadi konflik antara kapitalis dengan pekerja, dan pemilik dari kekuatan produksi versus tenaga produksi. Weber mengelaborasi teori ini dengan menambahkan konflik antara kapitalis pemberi kredit (dimana Marx menggunakan analisa ini untuk menggambarkan revolusi Perancis) melawan para debitor yang meminjam modal, juga antara penjual versus pembeli.

Konflik kelas ala Weberian berbeda dari Marxian lebih dalam dan lebih krusial. Konsep kelas Marx didefinisikan sebagai kepemilikan atau ketidakpemilikan atas kekuatan produksi. Sementara konsep kelas Weber didefinisikan oleh posisi di dalam pasar. Beberapa penerus Marx, kemudian

95 melawan apa yang telah dikonsepsikan oleh Weber mengani kelas. Pendukung Marx mengkritisi skema ini karena menaruh stratifikasi sosial pada level pengukuran luar dari sirkulasi ekonomi, dibandingkan sebagai tingkatan dasar dari ekonomi produksi. Menurut Collins (1985), ini lah kekuatan teori dari Weber, jika Marx selalu berkutat pada perlawanan dua kelas saja, maka Weber jauh lebih melihat kenyataan yang ada bahwa kelas tidak melulu hanya terjadi pada kelas pemilik dan kelas pekerja melainkan juga fokus pada kelas menengah dengan jenis rumitisasi di dalam pergantian kelas atas : para pemberi pinjaman dengan pemilik lahan (Weber mengkonsepsikan kelas ini sebagai kelas debitor) yang ukurannya sama dengan para industrialis kecil.

Weber membangun teori kelasnya kepada konflik ekonomi yang paling nyata : Suatu perjuangan untuk mengkontrol suatu tempat untuk pasar tertentu. Untuk Weber, monopoli tidak sesederhana bahwa timbul di akhir tahap dari kapitalisme. Bagi Weber monopoli merupakan proses yang mendasar di dalam sejarah pembentukan kelas. Kelas social dari konsepsi Weber didasarkan pada cara-cara yang berbeda dari upaya-upaya untuk lebih mengkontrol pasar tertentu: misalnya uang dan kredit, tanah, ragam industry manufaktur, dan ragam keterampilan tertentu. Semua ini memberikan gambaran yang realistic dari konflik kelas yang telah terjadi, dan juga menyediakan sebuah konsepsi teoritik yang umum dari proses stratifikasi. Kelas yang dominan kemudian mengelola cara-cara untuk mencapai suatu monopoli yang ketat untuk beberapa pasar yang menguntungkan. Sementara kelas yang tidak mendapatkan monopoli sepenuhnya kemudian akan berjuang pada pasar yang terbuka untuk memperoleh monopoli.

Kemudian, kategori kedua dari konsep stratifikasi sosial, yakni kelompok status. Ini selalu dipahami sebagai lawan dari konsep kelas ekonomi. Ketika kelas didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan ekonomi-pengelompokan dari minat-minat yang sama oleh gambaran dari posisi yang sama di pasar- kelompok-kelompok, maka status diandaikan menjadi bidang dari budaya. Yang menetukan kelompok-kelompok status merupakan komunitas itu sendiri. Yang harus diingat dan dicamkan baik-baik : bahwa kelompok kelas membagi suatu derajat tertentu dari monopoli terhadap pasar tertentu. Mereka para kelas atas melakukan ini melalui pengorganisasian, melalui pembentukan suatu komunitas

96 tertentu, memperoleh suatu kesadaran melalui beberapa penghambat budaya diantara mereka sendiri-pendek kata melalui kelompok status.

Beberapa kelompok yang berhasil dan menjadi kelas yang memiliki kekuasaan yang dominan harus terorganisasikan sebagai suatu kelas status. Marx dan Engels mengungkapkan bahwa kelas penguasa terorganisasikan secara legal dan secara budaya untuk menjaga control dari kepemilikan property usaha melalui posisi mereka. Misalnya di India, kelompok-kelompok pekerja tergolong dalam kasta-kasta tertentu, menghindari satu sama lain melalui ritual- ritual yang menjustifikasi mereka dari penghindaran oleh doktrin-doktrin agama Hindu melalui karma masa lalu, dan reinkarnasi. Bagi Marx, kelas menjadi jubah bagi mereka para kelas atas pemilik moda produksi di dalam ideology mereka. Bagi teori Weber, hal tersebut juga disetujuinya, namun dengan syarat : bahwa ideology atau sisi budaya tentu sangat dibutuhkan bagi kelompok kelas tertentu untuk menjadi lebih berkuasa. Selanjutnya kelompok status menyerang kembali terhadap situasi ekonomi tertentu : yang merupakan jalan bagi kelompok untuk menjadi lebih kuat untuk memonopoli. Sehingga pengorganisasian kelompok status menjadi suatu senjata ekonomi. Weber menekankan bahwa dalam analisa komparasinya, mengungkapkan bahwa kelompok social tertinggi selalu memilih melakukan puji-pujian terhadap agama, menjalankan seremoninya, tapi tidak banyak yang melakukan dengan sungguh-sungguh ajaran agama dengan penuh komitmen; kelas menengah memilih menjadi asketik, agama moralistik yang mendorong kemampuan untuk bekerja keras sekaligus memotivasinya ; dan kelas bawah memperlakukan agama sebagai bentuk dari magis, intervensi supranatural yang dipahami mampu memberikan keberuntungan baik, dan mampu mematikan lawan.Memiliki jenis status ideologi membuat kelas tertentu dengan mudah memonopoli posisi ekonomi. Orang luar dari kelompok status ini kemudian bisa menjadi pengecualian dan persaingan menjadi terbatas secara otomatis, karena hanya orang-orang tertentu yang cenderung “tipe ideal” dapat memperoleh posisi tersebut.

Pada akhirnya kita bisa menyimpulkan bahwa Weber yang menyusun teorinya berdasarkan konsepsi Marx mengenai kelas social memberikan suatu kesimpulan baru, yang memperbaiki teori Marx, bahwa pejuangan untuk memperoleh kemapanan ekonomi lebih multidimensional dibandingkan yang Marx lihat. Kelas menjadi terbagi dalam tiga kelas, dan juga tergolong menjadi

97 ragam kelompok status dan mampu mengkontrol sector tertentu dari pasar ekonomi.

Pada akhirnya partai-partai atau kelompok-kelompok yang berkuasa: disini Weber menekankan pada fakta perjuangan berikutnya, diantara faksi-faksi politik. Faksi-faksi politik juga sesungguhnya mendukung terbentuknya kelas social atas yang mendukung mereka. Negara dalam hal ini merupakan pencerminan dari faksi politik tertentu, memberikan suatu senjata khusus kepada kelas social tertentu melalui “legitimasi”. Menurut Weber, terdapat beberapa cara agar legitimasi dapat dihasilkan: Weber menyebutkan satu demi satu seperti kharisma dari pemimpin yang berkuasa, tradisi yang ada secara turun-temurun, dan kekuasaan yang legal rasional oleh kebijakan hokum Negara. Legitimasi tidak muncul begitu saja, melainkan diproduksi oleh produksi mental (means of emotional production).

Bagi Weber dalam Giddens (1986), kapitalisme merupakan perwujudan dari adanya bentuk-bentuk rasionalisasi sekuler. Bagi Weber, Kapitalisme adalah utilitarianisme yang tiada hentinya dan secara keagamaan disistematiskan melalui agama protestan. Agama kemudian mendorong munculnya rasionalitas formal dari kebudayaan Barat. Kapitalisme rasional modern, diukur dengan batasan dari nilai-nilai inti dan efisiensi atau dari produktifitas. Weber dalam