• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. HAKIKAT AKTUALISASI DIRI

3. Ciri/Sifat Orang yang Mengaktualisasikan Diri

Gamba r 2. 1 Hirarki

Kebutuhan Maslow

3. Ciri/Sifat Orang yang Mengaktualisasikan Diri.

17

Maslow (Schultz, 1991) menyebutkan lima belas sifat/ciri dalam aktualisasi diri yaitu sebagai berikut:

a. Mengamati realitas secara efisien

Orang-orang yang amat sehat mengamati objek-objek dan orang-orang di dunia sekitarnya secara objektif (Maslow menyebut persepsi objektif ini: Being atau B-cognition). Mereka tidak memandang dunia hanya sebagaimana mereka inginkan atau butuhkan, tetapi merek melihatnya sebagaimana adanya. Sebagai bagian dari persepsi objektif ini, Maslow berpendapat bahwa pengaktualisasian-pengaktualisasian-diri adalah hakim-hakim yang teliti terhadap orang-orang. Contohnya:

Seseorang yang diminta untuk menilai suatu tindakan dari orang lain, ia mampu menilai tindakan tersebut benar atau salah.

b. Penerimaan umum atas kodrat, orang-orang lain dan diri sendiri

Orang-orang yang mengaktualisasikan-diri menerima diri mereka, kelemahan-kelemahan dan kekuatan-kekuatan mereka tanpa keluhan atau kesusahan. Sesungguhnya, mereka tidak terlampau banyak memikirkannya. Meskipun individu-individu yang sangat sehat ini memiliki kelemahan-kelemahan atau cacat-cacat, tetapi mereka tidak merasa malu atau merasa bersalah terhadap hal-hal tersebut.

Mereka menerika kodrat mereka sebagaimana adanya. Maslow menulis, “Orang tidak dapat mengeluh tentang air karena air basah atau tentang batu-batu karena batu-batu keras atau tentang pohon-pohon karena pohon-pohon hijau.” Ini adalah tata tertib kodrati dari hal-hal

18

itu, demikian juga kodrat dari pengaktualisasian-pengaktualisasian-diri.

Contoh: Ketika seseorang mengalami suatu kegagalan dalam pekerjaan, ia menerima kegagalan tersebut sebagai suatu pembelajaran yang berharga bagi dirinya untuk menjadi lebih baik lagi.

c. Spontanitas, kesederhanaan, kewajaran

Dalam semua segi kehidupan, pengaktualisasi-pengaktualisasi-diri bertingkah laku secara terbuka dan langsung tanpa berpura-pura.

Mereka tidak harus menyembunyikan emosi-emosi mereka, tetapi dapat memperlihatkan emosi-emosi tersebut dengan jujur. Dalam istilah yang sederhana, kita dapat berkata, orang-orang ini bertingkah laku secara kodrati, yakni sesuai dengan kodrat mereka. Contoh: Ketika ada orang yang melakukan kesalahan, maka yang yang memiliki ciri spontanitas akan segera menegurnya dengan memberitahukan kesalahan orang tersebut.

d. Fokus pada masalah-masalah di luar diri mereka

Orang-orang yang mengaktualisasikan-diri yang dipelajari Maslow, melibatkan diri pada pekerjaan. Tanpa pengecualian, mereka memiliki suatu perasaan akan tugas yang menyerap mereka dan mereka dan mereka mengabdikan banyak energi mereka kepadanya. Begitu kuatnya Maslow merasakan sifat ini sehingga dia menyimpulkan bahwa tidak mungkin menjadi orang yang mengaktualisasikan-diri tanpa perasaan dedikasi ini. Contoh: Orang yang memiliki ciri ini sering

19

menyibukan diri dengan membantu teman lain yang sedang membutuhkan bantuan, seperti mengerjakan pekerjaan rumah bersama.

e. Kebutuhan akan privasi dan independensi

Orang-orang yang mengaktulisasikan-diri memiliki suatu kebutuhan yang kuat untuk pemisahan dan kesunyian. Meskipun mereka tidak menjauhkan diri dari kontak dengan manusia, mereka rupanya tidak membutuhkan orang-orang lain. Mereka tidak tergantung pada orang-orang lain untuk kepuasan-kepuasan mereka dan dengan demikian mungkin mereka menjauhkan diri dan tidak ramah. Tingkah laku dan perasaan mereka sangat egosentris dan terarah kepada diri mereka sendiri. Ini berarti mereka memiliki kemampuan untuk membentuk pikiran, mencapai keputusan, dan melaksanakan dorongan dan disiplin mereka sendiri. Contoh: Orang yang memiliki ciri ini meluangkan waktunya untuk berefleksi tentang pengalaman hidup yang ia alami setiap harinya.

f. Berfungsi secara otonom

Erat hubungannya dengan kebutuhan akan privasi dan indipendensi ialah preferensi dan kemampuan-kemampuan pengaktualisasi-pengaktulisasi-diri untuk berfungsi secara otonom terhadap lingkungan sosial dan fisik. Karena mereka tidak lagi didorong oleh motif-motif kekurangan, maka mereka tidak tergantung pada dunia yang nyata untuk pemuasan mereka karena pemuasan dari motif-motif pertumbuhan datang dari dalam. Perkembangan mereka

20

tergantung pada potensi-potensi dan sumber-sumber dari dalam mereka sendiri (sebaliknya pemuasan akan cinta, penghargaan, dan kebutuhan-kebutuhan lain yang lebih rendah tergantung pada sumber-sumber dari luar). Contoh: Orang yang memiliki ciri ini ketika ingin mengambil keputusan untuk melakukan sesuatu, ia tidak bergantung pada pendapat orang lain.

g. Apresiasi yang senantiasa segar

Pengaktualisasi-pengaktualisasi-diri senantiasa menghargai pengalaman tertentu bagaimanapun seringnya pengalaman-pengalaman itu berulang, dengan satu perasaan kenikmatan yang segar, perasaan terpesona, dan kagum. Suatu pandangan yang bagus atau menyegarkan terhadap dorongan setiap hari untuk bekerja, misalnya, mungkin dilihat sangat menyenangkan selama lima tahun, tetapi seolah-olah dialami untuk pertama kalinya. Pengaktualisai-pengaktualisasi-diri memiliki kemampuan untuk menghargai pengalaman-pengalaman ini – mata hari terbenam, simponi, makanan yang disenangi, atau gelak tawa dari partner mereka – seolah-olah pengalaman-pengalam itu baru. Beberapa orang bereaksi terhadap (terpesona oleh) alam, orang-orang lain terhadap (oleh) anak-anak, orang-orang lain lagi terhadap (oleh) musik.

Mereka tidak menjadi puas atau bosan oleh pengalaman-pengalaman hidup. Contoh: Ketika seseorang yang memiliki ciri ini melakukan aktivitas yang sama setiap harinya, ia selalu merasa bahagia karena merasa bahwa hal-hal yang dilakukannya itu baru.

21

h. Pengalaman-pengalaman mistik atau “puncak”

Ada kesempatan-kesempatan dimana orang-orang yang mengaktualisasikan-diri mengalami ekstase, kebahagiaan, perasaan terpesona yang hebat dan meluap-luap, sama seperti pengalaman keagamaan yang mendalam. Selama pengalaman-pengalaman puncak ini, yang dianggap Maslow adalah biasa di kalangan orang-orang yang sehat, diri dilampaui, dan orang itu digenggam oleh suatu perasaan kekuatan, kepercayaan, dan kepastian, suatu perasaan yang dalam bahwa tidak ada sesuatu yang tidak dapat diselesaikannya atau menjadi. Contoh: Ketika orang yang memiliki ciri ini membuat jadwal pribadi, ia mampu melaksanakan semua rencananya, sihingga ia merasa sangat bahagia.

i. Minat sosial

Pengaktualisasi-pengaktualisasi-diri memiliki perasaan empati memiliki perasaan empati dan afeksi yang kuat yang dalam terhadap semua manusia, juga suatu keinginan untuk membanttu kemanusiaan.

Mereka adalah anggota-anggota dari satu keluarga – bangsa manusi – dan memiliki suatu perasaan persaudaraan dengan setiap anggota lain dalam keluarga. Ini semacam persaudaraan khusus, seperti sikap dari seorang saudara atau saudari yang lebih tua terhadap sanak saudara sekandung yang lebih muda. Contoh: Ketika ada teman yang mengalami kesulitan, orang yang memiliki ciri ini akan turut berempati

22

serta membantu mencarikan solusi bagi permasalahan temanya tersebut.

j. Hubungan antarpribadi

Pengaktualisasi-pengaktualisasi-diri mampu mengadakan hubungan yang lebih kuat dengan orang lain daripada orang-orang yang memiliki kesehatan jiwa yang biasa. Mereka mampu memiliki cinta yang lebih besar dan persahabatan yang lebih dalam, dan identifikasi yang lebih sempurna dengan individu-individu lain.

Akan tetapi hubungan antarpribadi mereka, walaupun lebih kuat, namun jumlahnya lebih sedikit (kurang) daripada hubungan antarpribadi orang-orang yang tidak mengaktualisasikan-diri.

Betapapun orang-orang yang sangat sehat yang dijadikan sahabat, kolega, dan partner begitu sedikit, namun pengaktualisasi-pengaktualisasi-diri, seperti kebanyakan orang lain, lebih suka berada dengan orang-orang yang memiliki nilai-nilai dan sifat-sifat mereka.

Contoh: Orang yang memiliki ciri ini memiliki teman yang banyak karena bisa berelasi dengan siapa saja.

k. Struktur watak demokrasi

Orang-orang yang sangat sehat membiarkan dan menerima semua orang tanpa memperhatikan kelas sosial, tigkat pendidikan, golongan politik atau agama, ras, atau warna kulit. Perbedaan-perbedaan serupa itu tidak menjadi masalah bagi

pengaktualisasi-23

pengaktualisasi-diri. Tentu, Maslow mengandaikan bahwa mereka jarang menyadari perbedaan-perbedaan ini.

Tingkah laku pengaktualisasi-pengaktualisasi-diri lebih dalam daripada toleransi. Dalam hubungan-hubungan mereka dengan orang-orang lain – misalnya, dengan orang-orang-orang-orang yang berpendidikan atau inteligensinya kurang, mereka tidak mempertahankan suatu sikap angkuh. Mereka sangat siap untuk mendengarkan atau belajar dari siapa saja yang dapat mengajarkan sesuatu kepada mereka. Cendekiawan yang mengaktualisasikan-diri, misalnya, sangat hormat terhadap tukang kayu yang terampil karena tukang kayu itu memperlihatkan keterampilan-keterampilan dan pengetahuan yang tidak dimiliki oleh cendekiawan itu. Contoh: Orang yang memiliki ciri ini tidak memiliki musuh karena mampu berteman dengan siapa saja tanpa mendiskriminasi orang lain.

l. Perbedaan antara sarana dan tujuan, antara baik dan buruk

Pengaktualisasi-pengaktualisasi-diri membedakan dengan jelas antara sarana dan tujuan. Bagi mereka, tujuan atau cita-cita jauh lebih penting daripada sarana untuk mencapainya. Akan tetapi, hal ini lebih sulit karena kegiatan-kegiatan dan pengalaman-pengalaman tertentu yang merupakan sarana bagi orang-orang yang kurang sehat kerapkali dianggap oleh pengaktualisasi-pengaktualisasi-diri sebagai tujuan dalam dirinya sendiri. Rupanya apa yang dijelaskan oleh Maslow ialah bahwa orang-orang yang sehat sepenuhnya senang “melakukan” atau

24

“menghasilkan” sebanyak atau lebih banyak daripada mendapat atau mencapai tujuan. Sarana menjadi tujuan karena kesenangan dan kepuasan yang ditimbulkannya. Contoh: Orang yang memiliki ciri ini lebih memilih untuk langsung menyelesaikan suatu tugas yang dipercayakan tanpa harus menunggu adanya sarana pendukung.

m. Perasaan humor yang tidak menimbulkan permusuhan

Orang-orang yang sehat sepenuhnya berbeda dari individu-individu biasa dalam apa yang mereka anggap humor yang menyebabkan mereka tertawa. Orang-orang yang kurang sehat menertawakan tiga macam humor: humor permusuhan yang menyebabkan seseorang merasa sakit, humor superioritas yang mengambil keuntungan dari perasaan rendah diri orang lain atau orang lain, dan humor pemberontakan terhadap penguasa yang berhubungan dengan suatu situasi Oedipus atau percakapan cabul.

Humor pengaktualisasi-pengaktualisasi-diri bersifat filosofis;

humor yang menertawakan manusia pada umumnya, tetapi bukan kepada seorang individu yang khusus. Humor ini kerap kali bersifat istruktif, yang dipakai langsung kepada hal yang dituju, dan juga menimbulkan tertawa. Itu adalah semacam humor yang bijaksana yang mengakibatkan suatu senyuman dan anggukan tanda mengerti daripada gelak tertawa yang keras. Humor semacam ini hanya dihargai oleh orang-orang lain yang juga sehat. Individu-individu yang biasa, umumnya, tidak merasa bahwa pengaktualisasi-pengaktualisasi-diri

25

sangat lucu dan mungkin menjauhi mereka karena heran mengapa mereka begitu muram dan serius. Contoh: Orang yang memiliki ciri ini memberikan suatu humor dalam bentuk tanya jawab yangmana jawabannya itu merupakan suatu pembelajaran bagi yang mendengarkannya.

n. Kreativitas

Kreativitas merupakan suatu sifat yang akan diharapkan seseorang dari pengaktualisasi-pengaktualisasi-diri. Mereka adalah asli, inventif, dan inovativ, meskipun tidak selalu dalam pengertian menghasilkan suatu karya seni; tidak mereka semua adalah penulis, seniman, atau pengubah lagu. Maslow menyamakan kreativitas ini dengan daya cipta dan daya khayal naif yang dimiliki anak-anak, suatu cara yang tidak berprasangka dan langsung melihat kepada hal-hal.

Kebanyakan diantara kita kehilangan kreativitas masa kanak-kanak ini karena pengaruh sekolah dan kekuatan-kekuatan sosial lain, tetapi pengaktualisasi-pengaktualisasi-diri mempertahankannya dan mendapatkannya kembali kelak dalam kehidupan.

Kreativitas lebih merupakan suatu sikap, suatu ungkapan kesehatan psikologis dan lebih mengenai cara bagaimana kita mengamati dan bereaksi terhadap dunia dan bukan mengenai hasil-hasil yang sudah selesai dari suatu karya seni. Orang-orang dalam pekerjaan apa saja dapat memperlihatkan kreativitas. Contoh: Seorang guru yang

26

selalu tampil beda dengan membuat media untuk pembelajaran yang menarik dan inovatif.

o. Resistensi terhadap inkulturasi

Pengaktualisasi-pengaktualisasi-diri dapat berdiri sendiri dan otonom. Mampu melawan dengan baik pengaruh-pengaruh sosial, untuk berpikir atau bertindak menurut cara-cara tertentu. Mereka mempertahankan otonomi batin, tidak terpengaruh kebudayaan mereka, dibimbing oleh diri mereka, bukan oleh orang-orang lain.

Akan tetapi mereka tidak terus terang menentang kebudayaan.

Mereka tidak sengaja melanggar aturan-aturan sosial untuk memperlihatkan independensi. Tentu saja, mereka dapat sangat menjai konvensional dalam hal perpakaian, tata krama, atau apa saja lainnya yang mereka anggap tidak penting. Hanya apabila timbul suatu soal yang sangat penting bagi pribadi (biasanya suatu masalah moral atau etis), mereka akan terus terang menentang aturan-aturan dan norma-norma masyarakat. Contoh: Seseorang yang berani mengungkapkan pendapatnya ketika melihat ada sebuah kesalahan, lalu memberikan solusinya.

Dokumen terkait