• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR GAMBAR

2.5 Citra Satelit Sumberdaya Alam 1 SPOT-

Satelit SPOT-5 (Systeme Pour I’Observation de la Terre-5) merupakan kelanjutan dari program seri satelit remote sensing (Prahasta, 2008). Satelit komersial ini merupakan kerjasama antara Perancis, Swedia, dan Belgia dibawah koordinasi Centre National d’Etudes Spatial (CNES). Satelit pengamatan bumi SPOT-5 diluncurkan dari pusat luar angkasa The Guiana, Kourou, Guyana, Perancis.

Satelit pengamatan SPOT-5 memiliki banyak kelebihan dibandingkan satelit SPOT pendahulunya. Kemampuan kualitas citra yang lebih tinggi sehingga menjamin keefektifan solusi penambahan harga citra yaitu dengan peningkatan resolusi sebesar 2,5–5 meter untuk pankromatik serta 10 meter untuk multispektral, satelit SPOT-5 memberikan keseimbangan ideal antara resolusi yang tinggi dan luas area cakupan.

Satelit SPOT-5 dilengkapi dengan beberapa sensor, diantaranya sensor High Resolution Geometric (HRG), sensor High Resolution Streosopic (HRS) yang memiliki kemampuan untuk produksi digital terrain model (DEM), dan sensor vegetasi (Prahasta, 2008).

Karakteristik dari citra satelit SPOT- 5, serta sensornya dijelaskan pada Tabel 3. Pada penelitian ini digunakan sensor HRG (High Resolution Geometric). Dua sensor HRG merupakan instrumen yang berasal dari HRVIR SPOT 4 yang mampu menghasilkan data pada empat tingkat resolusi yang sama. Sensor dengan resolusi sebesar 2,5 meter yang menghasilkan konsep sampling yang unik disebut Supermode. Supermode menggunakan teknik pemrosesan yang canggih untuk menghasilkan gambar 2,5 meter dari dua gambar 5 meter dimana kedua gambar ini diperoleh secara bersamaan. Satelit SPOT-5 disajikan pada Gambar 4.

8

Gambar 4 Satelit SPOT (CNES, 1999) Pengolahan citra satelit SPOT pada penelitian ini dengan sensor HRG, yaitu hanya pada band 1 (hijau) , band 2 (merah), dan band 3 (near infrared) karena ketiga band tersebut memiliki resolusi yang sama yaitu 10 meter.

2.5.2 ALOS

Satelit ALOS (Advanced Land Observing Satellite) diluncukan oleh Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA), memiliki lebar 3,5 meter, panjang 4,5 meter dan tinggi 6,5 meter dengan Solar Battery Paddle memiliki lebar 22 meter x 3 meter yang merupakan satelit pengamatan bumi terbesar yang pernah dibangun Jepang (Restec, 2008). Alos merupakan satelit yang diutamakan untuk pengamatan daratan, observasi wilayah, pemantauan bencana alam, dan survei sumber daya alam. Satelit ALOS diprogramkan untuk meneruskan dan meningkatkan fungsi satelit JERS-1 (Japanese Earth Resources Satellite-1) dan satelit ADEOS (Advanced Earth Observing Satellite).

ALOS mempunyai tiga instrumen penginderaan jauh, yaitu Panchromatic Remote-sensing Instrument for Stereo Mapping (PRSIM) untuk pemetaan elevasi digital yang memiliki resolusi spasial 2,5 meter, Advance Visible and Near Infrared Radiometer type 2 (AVNIR-2) untuk observasi penutupan lahan secara tepat yang memiliki resolusi spasial 10 meter, dan

Phased Array type L-band Synthetic Apertur Radar (PALSAR) untuk observasi permukaan bumi dan cuaca pada siang dan malam hari yang terdiri dari high resolution dan ScanSAR yang masing-masing memiliki resolusi spasial 10 meter dan 100 meter (JAXA, 2007).

Karakteristik citra ALOS, serta sensornya dijelaskan pada Tabel 3. Pada penelitian ini digunakan citra satelit ALOS sensor AVNIR-2. AVNIR-2 adalah suatu sensor yang dirancang untuk meneruskan sensor VNIR/OPS pada satelit JERS-1 adalah satelit Jepang untuk pengamatan daratan. AVNIR/ADEOS adalah sensor optik dengan 4 kanal spectral, mempunyai resolusi spasial 10 m untuk pengamatan daratan dan zona-zona garis pantai. Sensor AVNIR-2 merupakan peningkatan dari sensor AVNIR/ADEOS. Satelit ALOS disajikan pada Gambar 5.

Gambar 5 Satelit ALOS (JAXA, 2007) Pengolahan citra satelit ALOS pada sensor AVNIR-2 dari band 2, band 3, dan band 4. Pada kedua citra, digunakan band yang memiliki domain spektral sama yaitu band hijau, band merah, band NIR. Nilai spektral masing-masing band pada kedua citra memiliki nilai yang hampir sama, yaitu di dominasi oleh warna merah yang dihasilkan dari pantulan vegatasi yang mendominasi penutupan lahan daerah penelitian.

9

Tabel 3 Karakteristik citra satelit SPOT-5 dan ALOS

Sumber : Prahasta, 2008 ; JAXA, 2007

Keterangan : * Sensor citra satelit yang digunakan dalam penelitian

2.6 Digital Elevation Models

Digital Elevation Model atau DEM adalah model digital yang memberikan informasi bentuk permukaan bumi (topografi) dalam bentuk data lainnya. Data DEM ini merupakan data digital berformat raster yang memiliki informasi koordinat posisi (x,y) dan elevasi (z) pada setiap pixel atau selnya. DEM terdiri dari 2 informasi, yaitu : data ketinggian (topografi) dan data posisi koordinat dari ketinggian tersebut di permukaan bumi (Bambang dan Firsan, 2007). Data DEM dari permukaan bumi merupakan informasi yang sangat penting dalam membantu proses koreksi dan analisis citra seperti koreksi citra karena pengaruh ketinggian (orthorektrfikasi), pembuatan kontur, tampilan citra 3D, analisis manajemen bencana (penentuan daerah rawan bencana banjir, longsor, dan tsunami), penyusunan tata ruang, penurunan level tanah (land subsidence) dan yang lainnya (Trisakti, 2005). Pada penelitian ini data DEM dapat digunakan untuk menggambarkan kondisi topografi wilayah yang diteliti sebagai salah satu data

pendukung dalam analisa daerah kejadian banjir rob (pasang).

Data DEM dapat dibuat berdasarkan data titik tinggi (spot height) yang dapat diperoleh dari hasil pengolahan foto udara, citra satelit secara fotogrametri atau citra RADAR melalui proses inferometri. Data DEM juga dapat diperoleh dengan melakukan pengolahan terhadap berbagai peta topografi atau peta rupabumi. Secara konvensional DEM juga dapat diperoleh melalui survei lapangan dengan menggunakan berbagai alat survei yang banyak digunakan untuk survei lokasi. Data DEM yang digunakan dalam penelitian ini adalah data DEM hasil perekaman space shuttle (NASA) yaitu GDEM 30 meter.

Pengolahan data DEM akan selalu menghasilkan kesalahan (sink) dari proses interpolasi yang akan berpengaruh terhadap akurasi data. Hasil pengolahan dari data DEM dengan proses-proses di atas tidak sepenuhnya dapat menggambarkan kondisi dari kenampakan yang ada. Untuk meningkatkan kualitas topografi tersebut pada pekerjaan data DEM perlu di sesuaikan dengan data survei, sehigga kenampakan

Karakteristik SPOT-5 ALOS

Tanggal

Peluncuran 03 Mei 2002 24 Januari 2006

Ukuran Scene 60 x 60 km 70 x 70 km

Orbit Sun-Syncrronous Sun-Syncrronous

Sub-Reccurent

Ketinggian 832 km diatas equator 691,65 km diatas equator

Inklinasi 98o 98,16 o

Periode Orbit 101 menit 2 hari

Sensor HRG, HRS, dan Vegetation PRSIM, AVNIR-2, PALSAR, dan ScanSAR

Siklus Kembali 26 hari 46 hari

Domain Spektral Sensor* HRG 1.Hijau : 0,50 – 0,59 µm 2.Merah : 0,61 – 0,68 µm 3.NIR : 0,78 – 0,89 µm Sensor* AVNIR-2 1. Biru : 0,42 – 0,50 µm 2. Hijau : 0,52 – 0,60 µm 3. Merah : 0, 61– 0,69 µm 4. NIR : 0,76 – 0,89 µm Resolusi Spasial 1. Hijau : 10 m 2. Merah : 10 m 3. NIR : 10 m 1. Biru : 10 m 2. Hijau : 10 m 3. Merah : 10 m 4. NIR : 10 m

10

topografi wilayah yang direkam tersebut dapat terwakili pada data DEM.

2.7 Sistem Informasi Geografis (SIG)