Analisa permasalahan
Analisa permasalahan digunakan untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi dan harus dipecahkan pada proses penggarapan karya tersebut. Pada cerita rakyat Malin Kundang terdapat inti cerita, yaitu seorang anak yang durhaka kepada ibunya dan seorang ibu yang memberikan kutukan kematian kepada anaknya setelah ia durhaka terhadap ibu kandungnya. Penggambaran Malin Kundang yang jahat dan durhaka sehingga dengan kasar menolak kasih sayang ibunya sendiri, bahkan tidak mau mengakui bahwa Mande Rubayah adalah ibu kandungnya sendiri. Dalam penggambaran ini, Malin Kundang digambarkan sebagai sosok yang jahat, keras, sombong dan angkuh. Ia melawan pengakuan dari ibunya sendiri dan berlaku kasar terhadap ibunya. Kemudian penggambaran seorang Mande Rubayah digambarkan sebagai sosok wanita yang sedih, pasrah, marah dan berdoa memberikan kutukan. Hal ini dia lakukan karena perlakuan Malin Kundang terhadap dirinya.
Pada pembuatan karya ini, permasalahan yang diangkat adalah menampilkan visual karya agar penyampaian pesan dalam gambar tersebut dapat diterima oleh orang lain, penulis harus menampilkannya dengan jelas motif pada permukaan kain tersebut, sehingga penyampaian pesan tentang kedurhakaan Malin Kundang dan kutukan Mande Rubayah dapat terlihat dengan jelas.
Penyampaian pesan melalui media tekstil ini dapat sebagai contoh dan
pembelajaran kita tentang begitu pentingnya penanaman budi pekerti menghargai dan menghormati orang tua khususnya ibu.
Langkah Pemecahan Masalah
Sehubungan dengan berbagai masalah diatas, setelah dianalisa yang menjadi inti permasalahan dari pembuatan karya ini adalah bagaimana cara menyampaikan dengan baik pesan cerita rakyat Malin Kundang, kedalam selembar kain dengan menggunakan teknik batik. Dari inti cerita Malin Kundang, adalah seorang anak yaitu Malin Kundang yang digambarkan dalam cerita tersebut seseorang yang jahat, kasar, sombong dan angkuh. Dalam perancangan karya ini, penulis ingin menggambarkan sosok Malin Kundang divisualisasikan dengan bentuk yang ganas, keras dan menggunakan warna-warna yang memunculkan sifat kemarahan seperti merah dan hitam. Dalam kaitannya pembuatan karya yang mengacu pada bentuk batik yang dekoratif, penulis juga dapat menggunakan bentuk yang dapat mewakilkan dari penggambaran tokoh yang dikehendaki. Malin Kundang di gambarkan dapat berupa bentuk-bentuk yang runcing dan seakan ingin menyerang dengan menampilkan warna yang gelap.
Penggambaran tokoh Mande Rubayah didalam cerita rakyat Malin Kundang digambarkan sebagai tokoh yang pasrah, sedih karena sikap Malin Kundang sehingga dia memunculkan sifat marah dan akhirnya melakukan kutukan yang dapat membunuh anaknya dengan sebuah doa. Bentuk visual
yang lembut dan pemakaian warna yang cenderung lembut. Dengan menggunakan simbol-simbol wanita yang berupa bunga, bangau atau bentuk yang lain.
Penggambaran tokoh raksasa perempuan dirasa penulis cocok untuk mewakili sifat-sifat dari tokoh tersebut. Pengambilan beberapa bagian tubuh raksasa tersebut dirasa sudah cukup mewakili dan menggambarkan apa yang menjadi karakter dari tokoh yang diinginkan.
Semua itu dapat digambarkan dan diceritakan pada sebuah permukaan kain dengan teknik pembuatannya menggunakan batik tulis. Karya yang akan ditampilkan penulis pada penggarapan ini adalah berupa hiasan dinding, dengan maksud bentuk visual dari kedua inti cerita tersebut data dipahami dengan mudah oleh orang lain jika kain yang ditampilkan datar dan luruh membentang. Sehingga penulis ingin membuat sebuah wall hanging atau hiasan dinding dengan menampilkan kain batik yang dibentang dengan bentuk dan warna yang dikehendaki sehingga pesan yang diampilkan dapak tersalurkan kepada orang lain.
Pengumpulan Data
Jenis sumber data yang dikumpulkan adalah sesuai dengan rumusan permasalahan yang dibahas. Dalam pengerjaan Tugas Akhir ini data-data yang dikumpulkan adalah hasil observasi, wawancara dan perekaman atau pemotretan yang dilakukan pada tempat pengrajin batik tulis, berikut ini adalah hasil pengumpulan data antara lain:
1. Observasi
Teknik pengumpulan data observasi digunakan dalam mengkaji sumber data berupa peristiwa, tempat, benda serta rekaman gambar. Observasi dilakukan pada pengrajin batik tulis Nindy Wijaya desa kliwonan, Masaran Sragen.
Hasil pengamatan proses pembuatan batik tulis di pengrajin batik Nindy Wijaya adalah dimulai dari pembuatan pola motif batik pada selembar kain.
Pembuatan pola dikerjakan oleh satu ibu pekerja khusus (tukang pola) yang berasal dari penduduk sekitar. Biaya pola satu lembar kain umumnya berkisar 15-30 ribu rupiah. Proses selanjutnya adalah pencantingan, proses ini dikerjakan oleh beberapa ibu-ibu dari penduduk sekitar. Jumlah pekerja pencantingan pada pengrajin batik Nindi wijaya sekitar 4-8 orang, tergantung dari banyaknya pesanan. Proses selanjutnya adalah proses pewarnaan, proses pewarnaan dilakukan oleh pemilik dan dibantu satu orang pekerja, hal ini dilakukan agar proses pewarnaan yang dilakukan pengrajin ini tidak diketahui oleh orang lain.
Menurut pemilik, proses pewarnaan pada Nindy Wijaya lebih bagus jika dibandingkan dengan pengrajin batik di sekitarnya. Pengrajin ini juga sering mengikuti pameran batik dan berjualan pada stand yang disediakan di kota Solo, Yogyakarta dan Semarang. Daerah pemasaran adalah Solo, Yogyakarta dan Semarang.
a. Proses Produksi
Studi proses produksi dilakukan pada perusahaan batik tulis Nindy Wijaya. Proses produksi yang dilakukan pada berbagai perusahaan batik tulis
mori, kain katun, kain santung dan kain sutera. Proses yang dilakukan pengrajin batik Nindi Wijaya dimulai dengan penghilangan kanji pada selembar kain dengan merebus kain tersebut. Kemudian proses pola motif pada kain yang dilakukan oleh satu orang pekerja. Proses pemolaan kadang dilakukan di tempat pengrajin Nindy Wijaya, kadang diambil pekerjanya dan dikerjakan dirumah.
Kemudian proses pencantingan, proses ini dilakukan di tempat batik Nindy Wijaya, jika ramai pesanan jumlah pekerja adalah 8-10 orang. Proses selanjutnya adalah pewarnaan yang dilakukan oleh pemilik sendiri, proses pelorodan atau menghilangkan malam batik juga dikerjakan oleh pemilik sendiri dengan alasan mempertahankan kualitas.
Menghilangkan kanji pada kain pencantingan
“Lorodan” menghilangkan malam batik
b. Percobaan
Langkah pertama adalah proses pola pada kain. Proses ini adalah menggambar motif yang akan dibatik pada kain menggunakan pensil.
Proses pola pada kain
Proses pola pada kain
Langkah kedua adalah pencantingan malam batik pada permukaan kain yang telah dipola tersebut. Proses pencantingan dilakukan oleh perusahaan batik Nindy Wijaya. Hal ini dilakukan penulis dengan tujuan untuk meningkatkan kerapian dan memperindah dalam segi estetis. Proses pencantingan harus dilakukan oleh orang yang sudah menguasai teknik mencanting, karena tidaklah mudah menggariskan malam batik pada permukaan kain tanpa pengalaman dan kemahiran tertentu.
Kain setelah dicanting menurut pola yang digambar
Langkah yang ketiga adalah proses pewarnaan, proses ini dilakukan setelah kain telah dicanting menurut desain yang dikehendaki. Sebelum proses
pewarnaan, malam yang telah di gambarkan pada kain diteliti terlebih dahulu, apakah sudah menutup pada polanya ataukah belum. Hal ini dilakukan agar pewarnaan tidak merembes dan bocor sehingga warna saling bercampur dan tidak sesuai dengan desain yang di kehendaki.
Bahan pewarna yang digunakan adalah pigmen, dikarenakan bahan tersebut tidak terlalu encer, sehingga saat di coletkan pada kain bahan pewarna tidak mudah menyebar. Hal ini dilakukan perancang berdasarkan pengalaman, bila menggunakan bahan pewarna yang tidak kental saat dilakukan pencoletan warna akan merembes melewati batas lilin batik. Untuk menghindari hal tersebut perlu dilakukan pencantingan ulang atau yang disebut nembok’i.
Percobaan ini menggunakan pewarna sebagian besar adalah pigmen yang dicampur dengan bahan binder dan silikon sebagai pengental dan sekaligus sebagai pengunci agar warna tidak mudah luntur saat dicuci. Selain pigmen, perancang juga menggunakan zat pewarna rapid, zat pewarna rapid tergolong zat pewarna yang encer, saat dicoletkan akan langsung menyebar, sehingga harus lebih berhati-hati di bandngkan menggunakan zat pewarna pigmen. Sebagai zat pengunci rapid adalah kostik, sebelum mencampur zat pewarna rapid dengan kostik, pengikat kostik dilarutkan terlebih dahulu beberapa jam agar bereaksi setelah dicampurkan pada zat pewarna rapid agar warna yang dihasilkan data sempurna. Dalam perancangan ini hanya menggunakan satu warna dari zat rapid, yaitu warna merah.
Selain menggunakan zat pewarna pigmen dan rapid, perancang juga menggunakan zat pewarna remasol. Zat pewarna remasol juga tergolong zat
pewarna yang encer, jadi harus hati-hati saat melakukan proses pencoletan. Bahan pengunci pewarna remasol adalah waterglass. Pencoletan yang dilakukan oleh dilakukan di permukaan datar, jadi kain tidak di kelantang pada bingkai. Kain diletakkan pada permukaan datar dengan beralaskan kain, hal ini dilakukan dengan tujuan pewarna saat dicoletkan akan langsung teresap pada alas kain jadi tidak perlu khawatir akan terlalu banyak volume pewarna yang dicoletkan yang mengakibatkan saling bercampurnya pewarna yang satu dengan yang lain.
Proses pencoletan pada kain dengan menggunakan kuas
Proses pewarnaan pada kain dengan menggunakan kuas
Langkah yang keempat adalah proses pelorotan malam batik, proses ini untuk menghilangkan penyekat warna berupa malam batik menggunakan air mendidih. Kain yang telah diwarna direbus untuk menghilangkan malam batiknya.
Kain yang telah selesai diwarna direbus untuk menghilangkan malam batik
Proses menghilangkan malam batik
Proses menghilangkan malam batik
Mengamati malam batik yang masih tertempel
Setelah malam batik menjadi cair dan larut kedalam air mendidih,kain kemudian dicuci menggunakan air dingin. Jika masih terdapat malam yang menempel pada kain dapat dihilangkan dengan waterglass dengan cara digosok pada kain yang masih tertempel malam batik.
Mencuci kain setelah dilorot dengan menggunakan air dingin
Membersihkan sisa malam batik dengan waterglass
b. Eksperimen
Penulis melakukan eksperimen untuk mengetahui kekurangan hasil yang dicapai untuk kemudian dibenahi agar mencapai hasil yang lebih baik. Proses pertama adalah menghilangkan kanji pada kain dan dikeringkan, kemudian membuat motif pola yang telah disetujui pada kain tersebut. Proses pula dilakukan sendiri dengan alasan agar gambar yang dihasilkan sesuai dengan yang diinginkan dibandingkan bila dikerjakan oleh orang lain. Kenudian proses pencantingan, proses ini dikerjakan oleh pengrajin batik Nindy Wijaya agar hasilnya lebih bagus dibandingkan bila dikerjakan sendiri. Proses pewarnaan dilakukan sendiri dengan
bantuan pengrajin. Pada kain katun, menggunakan zat pewarna pigmen dengan pengunci binder, dan zar pewarna rapid dengan pengunci kostik soda. Zat pewarna tersebut setelah dilakukan pewarnaan pada kain ternyata warna-warna yang dihasilkan cukup cerah dan setelah dicuci warna pada permukaan kain zat warna yang terbuang relatif sedikit. Tetapi kain setelah diwarna menjadi sedikit kaku dan keras.
Pencucian hasil eksperimen
Eksperimen kain setelah dicuci
c. Alternatif Gagasan
Latar belakang munculnya sebuah ide pada cerita rakyat Malin Kundang adalah, bahwa cerita tersebut dirasa penulis dapat menjadi inspirasi bagi setiap orang dalam kehidupan di dunia ini. Sikap menghormati orang tua perlu ditanamkan dalam hati setiap manusia, karena hal ini akan berlangsung secara terus menerus selama perkembangan manusia. Saat manusia lahir di dunia ini harus menghormati orang tua, khususnya seorang ibu. Menurut penulis dirasa saat
banyak kejadian bahwa seorang anak berani terhadap orang tua kandung sendiri bahkan rela membunuh karena tidak sesuai atas apa yang dia inginkan. Padahal manusia tersebut dapat ada dan lahir didalam dunia ini lewat kasih sayang seorang ibu yang selalu merawat dan membesarkan anak. kita hendaknya berterima kasih dan menghormati orang tua khususnya seorang ibu, tanpanya kita tidak mungkin ada di dunia ini. Sehingga dengan penyampaian maksud dari cerita Rakyat Malin Kundang ini dapat menjadi media pembelajaran agar masyarakat mempunyai budi pekerti yang lebih baik dalam hal sikap menghormati orang tua. Dalam pembuatan karya ini juga dapat menjadikan media pesan pembelajaran terhadap orang tua agar lebih mengasihi buah hati atau anaknya walaupun anak tersebut mempunyai kesalahan, karena tugas orang tua adalah mendidik anaknya menjadi dewasa dan lebih baik.
Saat melakukan proses pengerjaan pada produk tekstil karya ini, penulis menggunakan teknik batik tulis dengan pewarnaan colet. Hal ini dilakukan penulis mungkin cerita rakyat Malin Kundang merupakan cerita klasik yang terus menerus selalu kita ingat, kita sampaikan secara berkesinambungan terhadap setiap manusia yang lahir didunia ini begitu juga batik, merupakan teknik pengerjaan pada permukaan kain yang telah ada sejak lama dan terus selalu ada dan berkembang hingga saat ini. Jadi alasan penulis menggunakan batik pada proses pengerjannya adalah menyesuaikan antara teknik klasik pada pengerjaan tektil pada selembar kain dengan cerita rakyat Malin Kundang yang telah melegenda dan selalu ada dalam kehidupan manusia.
Proses penggarapan karya batik tulis ini yang berfungsi sebagai hiasan dinding atau wall hanging, alasan penulis membuat hiasan dinding pada
pengerjaan produk tekstil ini adalah bahwa ingin dapat menampilkan dengan jelas apa yang menjadi pesan dan pembelajaran kita pada sebuah cerita rakyat Malin Kundang. Visual sebuah wall hanging atau hiasan dinding dapat menampilkan motif pada kain tersebut dengan bidang yang datar dan luas sehingga mudah dilihat dan dipahami penyampaian pesan dari perancang kepada orang lain.
commit to user
Perancangan motif kesedihan, kemarahan, kedurhakaan dan kutukan Kedalam ragam hias batik sebagai hiasan dinding
Permasalahan
Hiasan Dinding sebagai penyampaian makna kesedihan dan kutukan Karena kesombongan dan kedurhakaan