Hasil penelitian didapatkan bahwa orang tua melakukan suatu bentuk usaha secara langsung ketika anaknya mulai menunjukan adanya gangguan pertumbuhan dan perkembangan, dalam bentuk usaha secara langsung untuk mengatasi masalah yang ada, dengan cara membawa anaknya kedokter atau langsung terapi ke rumah sakit, ada juga yang diurut-urut dukun kampung, serta mengikuti saran-saran kuno lainnya dan menempatkan anak pada sekolah khusus. Hal ini merupakan suatu tindakan yang dilakukan untuk mengatasi masalah yang dihadapi, berikut ini adalah ungkapan partisipan yang menggunakan usaha langsung dengan melakukan pengobatan medis :
65
”pokoknya pas saya tahu anak saya down sindrom, saya langsung usaha kerumah sakit, untuk terapi, karena jalannya lambat, bicaranya juga lambat” (Tn.A)
“…,ya saya juga terapi-terapi kerumah sakit, terapi jalan, terapi bicara walupun sedikit-sedikit terus terapi biar bisa bicara, ya pokoknya terapi jalan terus sampe akhirnya dia
bisa jalan sekarang”. (Ny.N)
“Pada saat itu saya disarankan terapi-terapi, saya ikutin terus itu terapi-terapi.. seperti terapi bicara, jalan, memegang suatu benda, gag lama terapi bisa jalan, terapi iya tetep jalan, rutin kedokter, saya usahain kemana aja terapi pokoknya harus berperan nanti anak supaya bisa mandiri. Setelah terapi-terapi semakin bertahap terus ada perubahan, kemana aja udah saya lakukan”. (Tn.D)
“Saya rutin kedokter, ikut terapi-terapi… terapi jalan, terapi bicara, sampai sekarang masih terapi”.(Tn.S)
“….Langsung kedokter, terapi juga”.(Tn.Z) “saya langsung kedokter, terapi juga…..”(Ny.M)
“Anak saya juga sering panas, batuk lalu langsung saya bawa kedokter,semua terapi saya lakuin, dari terapi wicara, terapi konsentrasi di fatmawati, terapi terus
66
Beberapa responden yang menggunakan pengobatan alternatif dengan menggunakan jasa tukang urut ,mengungkapkan sebagai berikut :
“….,karena jalannya lambat, bicaranya juga lambat, saya juga bawa dia ketukang urut biar bisa jalan”(Tn.A)
“….,saya juga usahakan membawa dia ke orang pinter urut
sampe tujuh kali, gada perubahan, terus mencoba lagi
ketempat lain urutnya”.(Ny.N)
“…., setiap minggu rutin saya bawa ketukang urut”.(Tn.Z)
Dua partisipan lain mengungkapkan bahwa mereka juga menggunakan jasa dukun kampung untuk menyebuhkan penyakit anak yang dideritanya :
“saya bawa juga dia kedukun-dukun kampung, disuruh potong ayam kampung, beli beras dipedaleman, ya.. saya
lakuin disruh ini.. disuru itu.. saya kerjain”. (Tn.A)
“….,obat kampung iya… yang diketokin centong iya.. itukan gag masuk akal yaa… secara logika tapi yang
penting saya usaha, dikasih saran kesana, kesini juga saya langsung lakuin, saya usahain agar anak saya sekolah, sebisa mungkin anak saya mandiri”(Ny.M)
. Tema 7 : Seeking social support (mencari dukungan sosial) Peneliti mencoba mengkategorikan pencarian dukungan sosial dengan cara mencari informasi baik dukungan internal,
67
ekternal dan dukungan spiritual. Beberapa partisipan utama lain dalam penelitian ini cenderung mencari dukungan social untuk mendapatkan suatu kenyamanan emosional dan bantuan informasi dari orang lain. Orang tua cenderung mendapatkan kenyamanan ketika sudah menceritakan masalah yang ada dan mendapatkan dukungan yang diberikan seseorang sehingga dapat menenangkan situasi yang membuatnya merasa sedih saat menghadapi masalah atau stressor. Seperti ungkapkan partisipan sebagai pencarian dukungan internal keluarga :
“Pada saat saya sedang ada masalah, saya cerita sama orang terdekat saya yaitu suami saya, saya sering berdikusi dengan suami saya tentang anak saya ini, pokoknya lebih tenang kalo udah cerita sama suami”. (Ny.N)
Saya sering berbagi cerita dan masalah dengan keluarga, keluarga mendukung, suami saya dan kakaknya juga mendukung, suami dan keluarga sayang sekali dengan
dia”. (Ny.P)
Sementara satu partisipan mengungkapkan pencarian dukungan ekstrenal didapatkan dari teman dengan berbagi cerita untuk dapat menenangkan perasaan khawatir yang dirasakannya, berikut ungkapan partisipan :
“…., dan saya disini sering berbagi cerita ibu-ibu yang sama dengan saya diSLB (sekolah luar biasa) ini, banyak
68
masukan yang saya dapatkan, isi pembicaraan kita seperti
“gimana ya masa depan anak kita, gimana kalo kita sudah gada” yaa.. kita saling menguatkan dan mendukung, usaha ya usaha terus, kita sekolahin, kita doa’ain, kita latih juga
dirumah (Ny.N)
“…, saya sering berbagi cerita sama teman dirumah, disekolah ini juga sering saya dan orang tua disini saling dukung buat kemajuan anak kita, biar lebih mandiri, ya.. paling engga anak saya ini bisa sosialisasi. Kalo udah cerita bikin hati saya jadi agak enteng gitu, soalnya mereka
juga ngerasain punya anak kaya gini .” (Ny.M)
Selain berbagi informasi dengan suami dan teman, partisipan juga mengungkapkan bahwa partisipan juga mencari informasi dan dukungan dari pihak sekolah, yaitu guru yang mengajar dikelas berikut ungkapan partisipan :
“…, ya..saya sering menanyakan bagaimana perkembangan anak saya disekolah, kadang saya mikir koq gitu-gitu aja, padahal dirumah sudah saya ajarkan juga kaya yang gurunya kasih buat PR (pekerjaan rumah), akhirnya lama-lama saya sadar kalo anak kaya gini ya emang begini, gurunya juga bilang, kalo anak kaya gini cuma bisa dioptimalisasikan dibina dirinnya. Tapi saya
69
tetep sering nanya gimana perkembangan anak saya”
(Tn.A)
“…, karena ibunya tidak mau mengantarkan kesekolah dan
apa-apa saya, ya.. saya jadi suka nanya gimana perkembangan An.I kalo dikelas, Alhamdulillah sih ada kemajuan dikit-dikit. Ya.. kadang kakaknya juga ikut bantu kalo belajar dirumah. Apa-apa saya nanya langsung sama
gurunya itu.”(Tn.Z)
Orang tua sangat berespon sekali untuk mengetahui perkembangan anaknya dibidang akademik dan pengembangan diri agar anaknya dapat hidup mandiri, orang tua mencari informasi pada guru kelas merupakan suatu usaha orang tua dalam mencari dukungan informasi untuk memberi ketenangan pada dirinya, berikut beberapa ungkapan dari informan pendukung :
“iya, mereka sering menanyakan kepada saya, “bagaimana perkembangan anak saya dikelas?” saya hanya menyampaikan seperti ini… “saya sudah usaha untuk mengajarkan, karena
kemapuannya memang seperti itu, dirumah juga tolong diajarkan, yang penting tujuan anak ibu disini bisa mandiri saja, biar bisa pakai baju sendiri, makan sendiri. Orang tuapun paham akan kemapuan anaknya dan harapannya tidak terlalu muluk-muluk, mereka hanya berharap agar agar
70
“Pernah, rata-rata orang tuannya sering menanyakan seperti
ini “Bu, bagaimana si A? perkembangan saya anak
bagaimana kalo dikelas?, perkembangan kemajuan belajar, keterampilan bantu dirinya , kadang2 kalo dikelas bagaimana anak saya bu ? biasa nya tentang pelajaran juga yang mereka tanyakan, saya bilang ibu pelan – pelan saja, misalnya meniru tulisan dari saya (guru), akan sama seperti itu, kalo di lepas
tidak bisa, tapi harus dibimbing juga”. (Ny.GM)
Tema 8 : Planful problem solving (perencanaan pemecahan