• Tidak ada hasil yang ditemukan

Consociationalisme / Konsensus

B. Beberapa Model Bentuk Pemerintahan 1 Parlementarisme

4. Consociationalisme / Konsensus

Menurut Rahman Tolleng, Consociationalisme sebagai suatu pendekatan dalam mengatur perikatan dalam masyarakat politik, khususnya sebagai bentuk pemerintahan, pertama kali diidentifikasikan oleh Arend Lijphart, seorang ilmuwan Amerika keturunan Belanda. Tidak diketahui dengan persis asalusul kata consociational – untuk sekadar menduga-duga, kemungkinan sebagai gabungan kata to console yang artinya menghibur, menyenangkan, dan kata association yang artinya perkumpulan, gabungan. Lijphart sendiri sekali-sekali mempertukarkannya dengan kata consensual (kata sifat consensus), malahan terakhir ia lebih banyak menyebut modelnya sebagai model konsensus. Jadi intinya, consociationalisme adalah sebuah pendekatan yang secara sadar melibatkan semua pihak yang berkepentingan demi mengimbangi atau menetralisasikan perbedaan- perbedaan – dalam negara, yang disebabkan oleh pembelahan masyarakat dalam subkultur berbeda. Arend Lijphard sampai pada model alternatif ini ketika ia mulai menganalisis kasus yang menyimpang, dengan mengambil Negeri Belanda sebagai suatu kasus khusus, mengeritik Almond dan kawan-kawan yang berpendapat bahwa ada suatu hubungan negatif yang tak terelakkan antara masyarakat majemuk (dicirikan oleh budaya politik terfragmentasi) dan stabilitas demokrasi. Disini ia lalu menggeneralisasikan model demokrasi consociational bagi negara-negara Eropa yang lain, terutama Swis, Belgia,dan Austria.

Beberapa model Consociationalisme a. Model Konsensus vs Model Mayoritas

Lijphart beranjak lebih lanjut untuk membedakan antara sistem politik majoritarian, yang secara logis didasarkan pada prinsip mengkonsentrasikan sebanyak mungkin kekuasaan di tangan mayoritas, dan sistem politikconsociational, yang didasarkan pada prinsip power sharing atau pembagian kekuasaan, penyebaran, dan pembatasan kekuasaan dalam berbagai cara.

Dalam analisis mengenai sejumlah negara (Lijphart 1984, 1999) menemukan sejumlah dimensi yang memisahkan model consociational dengan model Westminster. Lebih lanjut Lijphart (1999) membagi dalam dua kelompok dimensi yang membedakan kedua sistem, yang masing-masing terdiri atas lima karakteristik. Kelompok pertama, yang disebutnya sebagai dimensi eksekutif-partai, meliputi susunan kekuasaan eksekutif, sistem kepartaian dan pemilihan, dan kelompok kepentingan. Sementara kelompok kedua, disebut sebagai dimensi federal-kesatuan yang umumnya dihubungkan secara kontras antara pemerintahan federal dan kesatuan.Yang penting disajikan di sini cukup lima dimensi yang termasuk dalam kelompok pertama yang bertalian langsung dengan pokok pembicaraan, yaitu bentuk pemerintahan. Kelima perbedaan pada dimensi eksekutif-partai adalah sebagai berikut:

1. Konsentrasi kekuasaan eksekutif dalam kabinet mayoritas partai tunggal versus eksekutif berdasarkan power sharing atau pembagiankekuasaan dalam koalisi multi-partai yang luas.

2. Hubungan eksekutif-legislatif dengan eksekutif yang dominan versus keseimbangan kekuasaan antara eksekutif-legislatif.

3. Sistem kepartaian dwi-partai versus multi-partai.

4. Sistem pemilihan majoritarian dan disproporsional versus perwakilan yang proporsional.

5. Sistem kelompok kepentingan yang pluralis dengan persaingan yangmerupakan pertarungan bebas (free-for-all) di antara kelompok- kelompok versus sistem kelompok kepentingan yang terkoordinasikandan “korporatis” yang ditujukan untuk kompromi dan kebersamaan.

Swis merupakan sebuah negara yang menerapkan secara penuh model demokrasi consociational. Swis adalah sebuah masyarakat yang sangat majemuk yang terbagi sepanjang beberapa garis pembelahan : suku, agama ,bahasa dan wilayah. Satu dan lain hal karena kemajemukan ini, selain menerapkan model konsensus bagi bentuk pemerintahannya, juga memilih federalisme (dalam konstitusi disebut konfederasi) bagi bentuk negaranya. Sebagai negara federal, kekuasaan dibagi antara pemerintah pusat dan pemerintah-pemerintah sebanyak 24 canton dan enam setengah canton.

Dalam banyak hal, status setengah-canton setara dengan canton, kecuali dalam hal jumlah kursi dalam Dewan Federal, eksekutif negara itu, dan bobot suara pada setiap amandemen konstitusi. Dalam kerangka federalisme,Swis juga termasuk negara yang sangat desentralistik di dunia.Kemajemukan itu juga terefleksi dalam sistem kepartaian Swis.Pembelahan agama memecah Demokrat-Kristen yang, terutama didukungoleh kalangan Katolik yang taat, dari Demokrat-Sosial dan Demokrat-Radikal, yang menarik sebagian besar dukungannya dari kalangan Katolikyang tidak atau jarang ke gereja dan dari kalangan Protestan. Pembelahan sosial ekonomi lebih lanjut memisahkan Demokrat-Sosial, terutama ditopang oleh kelas pekerja, dari Demokrat Radikal, yang mempunyai pendukung lebih banyak datang dari kelas menengah. Partai Rakyat Swis terutama kuat di kalangan para petani Protestan. Pembelahan bahasa tidak menyebabkan pemisahan dalam sistem kepartaian Swis, sungguhpun dukungan partai Rakyat Swis terutama datang dari kalangan berbahasa Jerman, dan ketiga partai besar merupakan aliansi yang secara relatif longgardi antara partai-partai canton yang mengandung pembelahan bahasa sebagai pembeda utama.

Ciri Prototipe Swis

a. Eksekutif berdasarkan Power Sharing.

Eksekutif Nasional Swis yangterdiri atas tujuh orang merupakan contoh dari suatu koalisi luas. Ketigapartai besar – Demokrat-Kristen, Demokrat-Sosial, dan Demokrat-Radikal,yang masing-masing menduduki seperempat bagian kursi dalam majelisrendah – dan partai Rakyat Swis yang menduduki seperdelapan bagian kursi,membagi ketujuh posisi eksekutif itu menurut komposisi 2:2:2:1. Komposisi ini disebut sebagai magic formula yang merupakan kesepakatan dalamkonvensi

1959 yang dimaksudkan untuk mempertahankan keseimbangan politik di Swis. Sebagai kriteria tambahan, komposisi ini harus sekaligusmencakup perwakilan kelompok-kelompok linguistik dalam perbandinganyang kasar: empat atau lima berbahasa Jerman, satu atau dua berbahasa Prancis, dan kerapkali seorang berbahasa Italia. Selain itu tiga canton harus selalu terwakili.

b. Dewan Federal mempunyai masa jabatan selama 4 tahun. Ketua dan Wakilnya dipilih di antara ketujuh anggota dengan ketua sebagai Presiden dan wakil ketua sebagai Wakil Presiden. Kedua jabatan itu tidak boleh dipegang dua kali berturut- turut, tetapi seorang mantan Wakil Presiden dapat dipilih sebagai Presiden pada periode berikutnya.

c. Presiden merangkapsebagai kepala negara. d. Keseimbangan Kekuasaan Eksekutif-Legilatif.

Berbeda dengan yang lain, model konsensus Swis sama sekali bukan parlementer. Dewan Federal tidak bertanggung jawab kepada legislatif. Jika usul pemerintah ditolak oleh legislatif, Dewan Federal atau anggota yang mengajukan usul itu tidak mundur. Permisahan kekuasaan ini menjadikan eksekutif maupun legislative lebih independen, dan hubungan di antara keduanya jauh lebih seimbang dibandingkan dengan hubungan kabinet-parlemen dalam model Westminster. Legislatif Swis terdiri dari dua kamar, yaitu Dewan Nasional yang dipilih langsung di antara partai-partai yang bersaing, dan Dewan Negara, yang merupakan utusan setiap Kanton, masing-masing sekitar 1 sampai 2 orang.

e. Perwakilan Proporsional.

Sistem multi-partai Swis yang telah dibicarakan di atas adalah sistem kepartaian tanpa satu pun partai yang dapat mendekati kedudukan mayoritas. Pada pemilihan 1995 untuk Dewan Nasional, lima belas partai memenangi kursi, tetapi bagian besar kursi ini, yaitu 162 dari 200, dipegang oleh keempat partai besar yang diwakili dalam Dewan Federal. Pemilihan dijalankan menurut sistem proporsional (PR) yang menjadi faktor kedua disamping faktor pembelahan sosial sebagai pendorong munculnya sistem multi-partai. Tujuan dasar penerapan sistem proporsional adalah untuk membagi kursi parlementer di antara partai-partai menurut proporsi suara yang mereka peroleh.

Tanpa disadari, sebetulnya consociationalisme sebagai suatu pendekatan juga merasuki kehidupan politik di Indonesia. Pada tingkat gagasan, dalam batas-batas tertentu, konsepsi Nasakom (Nasionalisme-Agama-Komunisme) dan Kabinet Kaki Empat Soekarno juga dijiwai gagasan consociationalisme. Gagasan itu sendiri ditolak oleh sejumlah partai, khususnya Masjumi, karena tidak rela duduk semeja dengan PartaiKomunis Indonesia. Soekarno lalu memaksakan konsepsinya, dan dengan demikian praktek ini tidak dapat lagi disebut consociational.

Selain itu, walaupun sama sekali tidak sempurna, praktek reformasi sejak keruntuhan Soeharto telah memperagakan ciri-ciri consociational dalam berbagai bentuk susunan power sharing dalam pemerintahan Abdurrahman Wahid dan Megawati (Leonard C. Sebastian, 2004). Kabinet masing-masing praktis bersifat koalisi yang mencakup semua partai besar.

Presiden SBY, sungguhpun ia seorang presiden yang dipilih langsung, tanpa kecuali juga menyusun kabinet atas dasar power sharing yang memasukkan banyak wakil- wakil partai. Kalau diamati, pada tingkat legislatif, di pusat maupun di daerah, pemilihan pimpinannya juga mengandung ciri-ciri consociational. Di daerah-daerah tertentu praktek consociationalisme tidaklah terlampau sukar menemukannya dalam penentuan komposisi pemerintahan.

III. Dampak Institusi (Presidensialisme & Parlementarisme)

Dokumen terkait