selama 56 hari RHZE (150/75/400/275)
2.2 Conversion Rate (angka konversi)
Angka konversi adalah persentase pasien TB paru BTA positif yang mengalami konversi menjadi BTA negatif setelah menjalani masa pengobatan intensif. Angka konversi dihitung tersendiri untuk tiap klasifikasi dan tipe pasien, BTA postif baru dengan pengobatan kategori-1, atau BTA positif pengobatan ulang dengan kategori-2. Indikator ini berguna untuk mengetahui secara cepat kecenderungan keberhasilan pengobatan dan untuk mengetahui apakah pengawasan langsung menelan obat dilakukan dengan benar.
Perhitungan angka konversi untuk pasien TB baru BTA positif, adalah :
Jumlah pasien TB baru BTA Positif yang konversi Jumlah pasien TB baru BTA Positif yang diobati
Di Unit Pelayanan Kesehatan (UPK), indikator ini dapat dihitung dari kartu pasien TB.01, yaitu dengan cara mereview seluruh kartu pasien baru BTA Positif yang mulai berobat dalam 3-6 bulan sebelumnya, kemudian dihitung berapa diantaranya yang hasil pemeriksaan dahak negatif, setelah pengobatan intensif (2 bulan). Angka minimal yang harus dicapai adalah 80 %. Angka konversi yang tinggi akan diikuti dengan angka kesembuhan yang tinggi pula.
X 100 %
16
2.3 Zink
. Zink merupakan suatu logam yang disebut juga sebagai “ essential trace element “ karena walaupun hanya dalam jumlah yang sangat sedikit tapi penting untuk kesehatan manusia. Zink dibutuhkan untuk pembentukan struktur protein dan membran sel tubuh manusia, sehingga zink diperlukan untuk pertumbuhan dan pertahanan tubuh (Natural Medicine Comprehensive Zinc).Mengaktifkan ratusan enzim tubuh, menguatkan sel T Limfosit pembunuh, meningkatkan nafsu makan dan menguatkan imunitas tubuh
Zink dalam darah akan menurun jika terjadi infeksi, anemia, hipertiroid.
Zink juga essensial untuk fungsi optimum pada system imun dimana zink berperan utama dalam cell mediated imun (CMI) function, terutama T-cells.
Suplementasi dan intake optimal pada zink memperbaiki ketidakseimbangan respon imun dan menurunkan kejadian infeksi. Suplementasi zink meningkatkan T sel (CD4 Tcell dan Cytotoxic T Lymphocytes) dan NK (Natural Killer) sel serta meningkatkan produksi IL-2 (Interleukin 2) sehingga dapat memperbaiki respon imun (Prasad,2003)
Tubuh mengandung 2-2,5 gram zink yang tersebar dihampir semua sel.
Sebagian besar Zink berada didalam hati, pankreas, ginjal, otot dan tulang.
Jaringan yang banyak mengandung zink adalah bagian-bagian mata, kelenjar prostat, spermatozoa, kulit, rambut dan kuku (Plum 2010, Almatsier 2004).
Didalam cairan tubuh, zink terutama merupakan ion intraselular. Zink dalam plasma hanya merupakan 0,1 % dari seluruh zink didalam tubuh yang mempunyai masa pergantian yang cepat. (Almatsier, 2004) Zink berperan didalam bekerjanya lebih dari 10 macam enzim. Zink juga Berperan didalam sintesis Dinukleosida Adenosisn (DNA), Ribonukleosida Adenosin (RNA) dan protein. Maka bila terjadi defisiensi Zink dapat menghambat pembelahan sel, pertumbuhan dan perbaikan jaringan (Departemen gizi dan Kesmas FKM UI, 2010 ,Shanker &
Prasad, 1998)
17
2.3.1 Absorpsi zink
Absorpsi membutuhkan alat angkut dan terjadi di bagian atas usus halus ( duodenum ). Zink diangkut oleh albumin dan transferin masuk ke aliran darah dan dibawa ke hati. Kelebihan Zink disimpan di dalam hati dalam bentuk metalotionein. Lainnya dibawa ke pankreas dan jaringan tubuh lain. Di dalam pankreas zink digunakan untuk membuat enzim pencernaan, yang pada waktu makan dikeluarkan kedalam saluran cerna. Dengan demikian saluran cerna menerima Zink dari dua sumber, yaitu dari makanan dan dari cairan pencernaan yang berasal dari pankreas.(Almatsier,2004)
Pengambilan zink dimulai dari oral (mulut) kemudian di absorbsi melalui usus dan di distribusi, selanjutnya terjadi melalui serum dimana predominan mengikat protein missal, albumin, alfa mikroglobulin dan transferin. Didalam plasma konsentrasi zink 12-16 mol/L. (Plum, 2010)
Absorpsi zink diatur oleh metalotionein yang disintesis di dalam sel dinding saluran cerna. Bila konsumsi zink tinggi, di dalam sel dinding saluran cerna sebagian diubah menjadi metalotionein sebagai simpanan, sehingga absorpsi berkurang. Seperti halnya dengan besi, bentuk simpanan ini akan dibuang bersama sel-sel dinding usus usus halus yang umurnya adalah 2-5 hari.
Metalotionein di dalam hati mengikat zink hingga dibutuhkan oleh tubuh.
Metalotionein diduga mempunyai peranan dalam mengatur kandungan zink di dalam cairan intraselular. Distribusi zink antara cairan ekstraselular, jaringan dan organ dipengaruhi oleh keseimbangan hormon dan situasi stres. (Almatsier, 2004)
18
2.3.2 Fungsi Zink
Salah satu fungsi zink yaitu berperan sebagai kofaktor yang penting untuk lebih dari 300 enzim. Dalam fungsi ini, zink mengikat residu histidin dan sistein dan dalam waktu yang sama menstabilkan serta membuka tempat / sisi aktif dari enzim-enzim ini sedemikian rupa sehingga katalis dan reaksi dapat berjalan. (Pryjambodo, 2008)
Zink penting untuk menjaga struktur protein dan untuk sintesis serta degradasi ribonucleic acid ( RNA ) dan deoxiribonucleic acid ( DNA ) (Krusser, 2008). Sebagai bagian dari enzim kolagenase, zink berperan pula dalam sintesis
siklus
enteropankreatik
Menyimpan sebagian sebagai metalotionein
Sebagian hilang melalui feses dan sel saluran cerna yang dibuang
Sebagian hilang melalui urin, kulit, darah, dan mani
Menyimpan kelebihan sebagai metalotionein
Hati
Darah membawa zink dalam albumin ke jaringan tubuh lain
Zink makanan
Sel saluran cerna
Mengikatkan zink ke albumin dan transferin
Darah mengangkut zink dalam albumin
dan transferin
Pankreas membentuk enzim pencernaan dari zink dan mengeluarkannya kedalam saluran cerna
Gambar 3.1 Penyaluran zink didalam tubuh ( Almatsier, 2004 )
19
metabolisme jaringan ikat dan penyembuhan luka. Zink berperan dalam fungsi kekebalan, yaitu dalam fungsi sel T dan dalam pembentukan antibodi oleh sel B.
Taraf darah zink yang rendah dihubungkan dengan hipogeusia, atau kehilangan indra rasa. Hipogeusia biasanya disertai penurunan nafsu makan dan hiposmia atau kehilangan indra bau. Zink tampaknya juga berperaan dalam metabolisme tulang, transport oksigen, dan pemunahan radikal bebas, pembentukan struktur dan fungsi membran serta proses penggumpalan darah. Karena zink berperan dalam reaksi-reaksi yang luas, kekurangan zink akan berpengaruh banyak terhadap jaringan tubuh terutama pada saat pertumbuhan. (Almatsier, 2004)
Zink juga terlibat pada keadaan-keadaan sebagai berikut : proses pembelahan sel, metabolisme asam nukleat, sintesa protein, kofaktor atau metaloenzim, transportasi dan regulasi beberapa hormon kelenjar hipofise, tiroid, timus, adrenal, ovarium dan testis, antioksidan kuat sehingga zink melindungi membran sel dari kerusakan oksidatif dan berfungsi menstabilkan struktur dinding sel, stimulator proliferasi dan migrasi keratinosit di daerah luka. (Pryjambodo, 2008)
2.3.3 Angka Kecukupan Zink yang dianjurkan
Kadar zink normal dalam serum 80-110 mikrogram/dl, dalam darah mengandung 20 kali lipat karena adanya enzim Karbonik anhidrase dalam eritrosit, rambut mengandung 125-250 mikrogram/dl, muskulus 50 mikrogram/dl.
(Pryjambodo, 2008) Kebutuhan tubuh akan zink bervariasi tergantung usia, jenis kelamin, bioavailabilitas zink dari makanan dan keadaan fisiologi tertentu seperti kehamilan dan menyusui.
Tabel 2.4 Angka kecukupan gizi untuk Indonesia
Bayi 3-5 Mg
1-9 tahun 8-10 Mg
10 - > 60 tahun 15 mg ( baik pria maupun wanita )
Ibu hamil + 5 mg
Ibu menyusui + 10 mg
Sumber : Widya Karya Pangan dan gizi 1998
20
2.3.3 Sumber makanan yang mengandung zink
Sumber yang paling baik adalah sumber protein hewani
Tabel 2.5 Kandungan zink pada beberapa makanan ( Gropper, 2009 )
Makanan Zink
Telur dan Daily Products Telur
Susu Keju
Kacang polong(dimasak) Beras & pasta(dimasak) Gandum
Beberapa bahan makanan yang dapat meningkatkan penyerapan zink adalah asam askorbat dan sitrat (missal, papaya, jeruk, apel), asam malak dan tartrat (missal, wortel, kentang, tomat, kol), asam amino sistein (missal, daging kambing, hati, ayam, ikan) dan produk fermentasi (missal, kecap, kacang kedele, acar/asinan kubis)
Beberapa bahan makanan yang dapat menghambat penyerapan zink adalah makanan berserat, fitat (missal, beras, terigu, gandum, coklat, kacang, tumbuhan polong), politenol (missal, the, kopi, bayam). (Nasution, 2004)
2.3.4 Defisiensi Zink
Kekurangan zink pertama dilaporkan pada tahun 1960-an, yaitu pada anak dan remaja laki-laki di Mesir, Iran, dan Turki dengan karakteristik tubuh pendek, dan keterlambatan pematangan seksual. Diduga penyebabanya makanan
21
zink. Makanan terutama terdiri atas serelia tumbuk dan kacang-kacangan yang tinggi akan serat dan fitat yang menghambat absorpsi zink. Serelia terutama dimakan sebagai roti yang pembuatannya tidak diragikan. Pada proses fermentasi oleh ragi, fitat dipecah sehingga tidak menghambat absorpsi zink. (Almatsier, 2004)
Tanda-tanda kekurangan zink adalah gangguan pertumbuhan dan kematangan seksual. Fungsi pencernaan terganggu karena gangguan fungsi pankreas, gangguan pembentukan kilomikron dan kerusakan permukaan saluran cerna, gangguan fungsi pertahanan tubuh baik pertahanan spesifik maupun non spesifik, seperti kerusakan sel-sel epidermal, gangguan aktifitas sel natural killer, fagositosis dari makrofag dan netrofil. (Pryjambodo, 2008). Pengaruh zink terhadap sistem imun non spesifik meliputi barrier tubuh seperti epitel kulit, mukosa gastrointestinal dan saluran nafas. Defisiensi zink akan mempengaruhi mediator imunitas non spesifik seperti fungsi lekosit polimorfonuklear (PMN), makrofag, sel Natural Killer dan aktifasi komplemen. Zink juga merupakan salah satu faktor penting dalam sisitem imun spesifik yaitu pertumbuhan dan fungsi limfosit, aktivasi limfosit, produksi sitokin terutama sitokin Th 1 (Boraz Z 2002, Shankar AH, Prasad AS 1998).
Kekurangan zink kronis mengganggu pusat sistem saraf dan fungsi otak.
Karena kekurangan zink mengganggu metabolisme vitamin A, sering terlihat gejala yang terdapat pada kekurangan vitamin A. Kekurangan zink juga mengganggu fungsi kelenjar tiroid dan laju metabolisme, gangguan nafsu makan, penurunan ketajaman indra rasa serta memperlambat penyembuhan luka.
Suplemen dilaporkan dapat menstimulasi pertumbuhan, mengurangi kematian (diare dan infeksi respiratori) pada anak-anak. (Almatsier, 2004)