BAB III AKUNTABILITAS KINERJA 23
3.3 Cost Per Outcome
1. ALOKASI PER SASARAN PEMBANGUNAN
Laporan kinerja ini menyajikan informasi keuangan yang terkait dengan capaian kinerja pelaksanan suatu program yang meliputi realisasi keuangan atas setiap kegiatan, informasi keuangan yang mengkaitkan antara realisasi keuangan dengan hasil-hasil program yang menggambarkan kinerja utama
dan informasi keuangan yang dapat mengidentifikasi jumlah biaya yang dibutuhkan untuk mewujudkan sasaran tertentu (cost per outcome), yang dapat diilustrasikan, sebagai berikut :
Tabel 3.17 Alokasi per Sasaran Pembangunan
No Sasaran Strategis Indikator Kinerja Anggaran (Rp) Anggaran %
1 2 3 4 5
1. Meningkatnya kualitas pengelolaan keuangan dan aset daerah Provinsi Jawa Timur
1. Ketepatan waktu penyusunan RAPBD dan RPAPBD Provinsi Jawa Timur 4.666.347.000 6,5 2. Rasio Kemandirian Keuangan Daerah 1.772.025.000 2,5 3. Toleransi deviasi penyerapan keuangan sesuai target 2.457.288.000 3,4 4. Persentase SKPD dengan realisasi diatas 95% 1.772.025.000 2,5 5. Persentase SKPD yang menerapkan Accrual Accounting Based Capacity Building 5.200.051.000 7,2 6. Persentase Laporan Keuangan SKPD sesuai Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) 2.932.262.000 4,1
7. Persentase tanah milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang bersertifikat
2.402.000.000 3,3
8. Persentase Aset Tetap Tanah dan Bangunan yang digunakan dan dimanfaatkan
3.181.000.000 4,4
9. Persentase sertifikasi kompetensi pengelola keuangan daerah Pemerintah Provinsi Jawa Timur
No Sasaran Strategis Indikator Kinerja Anggaran (Rp) Anggaran %
1 2 3 4 5
2. Meningkatnya kualitas pengelolaan keuangan kabupaten / kota se-Jawa Timur
10. Persentase
Raperda/Raperkada Kab./Kota tentang APBD yang dievaluasi tepat waktu
1.272.738.500 1,8
11. Persentase
Raperda/Raperkada Kab./Kota tentang Perubahan APBD yang dievaluasi tepat waktu
1.272.738.500 1,8
12. Persentase
Raperda/Raperkada Kab./Kota tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD yang dievaluasi tepat waktu
1.203.535.200 1,7
Memperhatikan tabel 3.17, dapat dijelaskan bahwa alokasi anggaran untuk sasaran Meningkatnya kualitas pengelolaan keuangan dan aset daerah Provinsi Jawa Timur, yaitu sebesar Rp. 28.805.798.000,00, dengan rincian :
1. Ketepatan waktu penyusunan Rancangan APBD dan RPAPBD Provinsi Jawa Timur, didukung oleh Kegiatan Penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD dengan alokasi anggaran sebesar Rp.4.666.347.000,00 atau 6,5% dari total anggaran belanja langsung ;
2. Rasio Kemandirian Keuangan Daerah, didukung oleh Kegiatan Penataan, Pengembangan Sistem dan Pengelolaan Keuangan Daerah dengan alokasi anggaran sebesar Rp.1.772.025.000,00 atau 2,5% dari total anggaran belanja langsung ;
3. Toleransi deviasi penyerapan keuangan sesuai target, didukung oleh Kegiatan Peningkatan Kapasitas Keuangan Pemerintah Daerah dengan alokasi anggaran sebesar Rp.2.457.288.000,00 atau 3,4% dari total anggaran belanja langsung; 4. Persentase SKPD dengan realisasi diatas 95%, didukung oleh Kegiatan Penataan, Pengembangan Sistem dan Pengelolaan Keuangan Daerah dengan
alokasi anggaran sebesar Rp.1.772.025.000,00 atau 2,5% dari total anggaran belanja langsung ;
5. Persentase SKPD yang menerapkan Accrual Accounting Based Capacity Building, didukung oleh Kegiatan Penyusunan kebijakan akuntansi pemerintah daerah dengan alokasi anggaran sebesar Rp.5.200.051.000,00 atau 7,2% dari total anggaran belanja langsung ;
6. Persentase Laporan Keuangan SKPD sesuai Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP), didukung oleh Kegiatan Penyusunan rancangan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD dengan alokasi anggaran sebesar Rp.2.932.262.000,00 atau 4,1% dari total anggaran belanja langsung; 7. Persentase tanah milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang bersertifikat, didukung oleh Kegiatan Percepatan Sertifikasi Aset Daerah dengan alokasi anggaran sebesar Rp.2.402.000.000,00 atau 3,3% dari total anggaran belanja langsung ;
8. Persentase Aset Tetap Tanah dan Bangunan yang digunakan dan dimanfaatkan, didukung oleh Kegiatan Optimalisasi Pengelolaan Aset dengan alokasi anggaran sebesar Rp.3.181.000.000,00 atau 4,4% dari total anggaran belanja langsung ;
9. Persentase sertifikasi kompetensi pengelola keuangan daerah Pemerintah Provinsi Jawa Timur, didukung oleh Kegiatan Pemberdayaan Kapasitas Laboratorium Keuangan Daerah dengan alokasi anggaran sebesar Rp.4.422.800.000,00 atau 6,2% dari total anggaran belanja langsung ;
Sedangkan sasaran Meningkatnya kualitas pengelolaan keuangan kabupaten/ kota se-Jawa Timur, yaitu sebesar Rp. 3.749.012.200,00, dengan rincian :
10. Persentase Raperda/Raperkada Kab./Kota tentang APBD yang dievaluasi tepat waktu, didukung oleh Kegiatan Analisa dan Evaluasi Raperda Kabupaten/Kota dengan alokasi anggaran sebesar Rp.1.272.738.500,00 atau 1,8% dari total anggaran belanja langsung ;
11. Persentase Raperda/Raperkada Kab./Kota tentang Perubahan APBD yang dievaluasi tepat waktu, didukung oleh Kegiatan Analisa dan Evaluasi Raperda Kabupaten/Kota dengan alokasi anggaran sebesar Rp.1.272.738.500,00 atau 1,8% dari total anggaran belanja langsung ;
12. Persentase Raperda/Raperkada Kab./Kota tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD yang dievaluasi tepat waktu, didukung oleh Kegiatan Analisa Dan Evaluasi Rancangan Peraturan Daerah tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Kabupaten/Kota Dan Rancangan Peraturan Kdh Tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Kabupaten/Kota dengan alokasi anggaran sebesar Rp.1.203.535.200,00 atau 1,7% dari total anggaran belanja langsung.
2. PENCAPAIAN KINERJA DAN ANGGARAN
Tabel 3.18 Pencapaian Kinerja dan Anggaran Sasaran /
Program Indikator
Kinerja Anggaran
Target Realisasi Capaian Target Realisasi Capaian Sasaran 1 Meningkatnya kualitas pengelolaan keuangan dan aset daerah Provinsi Jawa Timur Program 1 Peningkatan dan Pengembangan Pengelolaan Keuangan Daerah
1. Ketepatan waktu penyusunan RAPBD Provinsi Jawa Timur
Tepat waktu Tepat waktu 100 4.666.3 47.000 3.787.24 1.000 81,16
2. Rasio Kemandirian Keuangan Daerah 310% 176% 57 1.772.0 25.000 1.628.62 6.337 91,92
3. Toleransi deviasi penyerapan keuangan sesuai target
4,9% 3,1% 163 2.457.2 88.000 2.373.10 6.200 96,57 4. Persentase SKPD dengan realisasi diatas 95% 24% 54% 225 1.772.0 25.000 1.628.62 6.337 91,92 5. Persentase SKPD yang menerapkan Accrual Accounting Based Capacity Building 75% 79% 105 5.200.0 51.000 4.473.57 5.715 86,03
6. Persentase Laporan Keuangan SKPD sesuai Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) 80% 80% 100 2.932.2 62.000 2.148.12 6.775 73,26
7. Persentase tanah milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang bersertifikat
20,68 % 20,9% 101 2.402.0 00.000 2.006.23 8.180 83,52
8. Persentase Aset Tetap Tanah dan Bangunan yang digunakan dan dimanfaatkan 98,87 % 98,71% 99 3.181.0 00.000 2.804.24 1.956 88,16 9. Persentase sertifikasi kompetensi pengelola keuangan daerah Pemerintah
40% 54,7% 137 4.422.8 00.000
4.397.36 1.971
Sasaran /
Program Indikator
Kinerja Anggaran
Target Realisasi Capaian Target Realisasi Capaian
Provinsi Jawa Timur
Sasaran 2 Meningkatnya kualitas pengelolaan keuangan kabupaten / kota se-Jawa Timur Program 2 Pembinaan dan Fasilitasi Pengelolaan Keuangan Kabupaten/Kota 10. Persentase Raperda/Raperkada Kab./Kota tentang APBD yang dievaluasi tepat waktu
100% 97% 97 1.272.7 38.500 1.050.61 6.188 87,29 11. Persentase Raperda/Raperkada Kab./Kota tentang Perubahan APBD yang dievaluasi tepat waktu 100% 100% 100 1.272.7 38.500 1.050.61 6.188 87,29 12. Persentase Raperda/Raperkada Kab./Kota tentang Pertanggungjawaban
Pelaksanaan APBD yang dievaluasi tepat waktu
100% 97% 97 1.203.5 35.200
1.579.84 6.250
88,91
Memperhatikan tabel 3.18, dapat dijelaskan bahwa capaian realisasi kinerja dan capaian realisasi anggaran untuk sasaran Meningkatnya kualitas pengelolaan keuangan dan aset daerah Provinsi Jawa Timur, yaitu :
1. Ketepatan waktu penyusunan RAPBD dan RPAPBD Provinsi Jawa Timur, capaian realisasi kinerja sebesar 100 persen, sedangkan capaian realisasi anggaran sebesar 81,16 persen ;
2. Rasio Kemandirian Keuangan Daerah, capaian realisasi kinerja sebesar 57 persen, sedangkan capaian realisasi anggaran sebesar 91,92 persen ;
3. Toleransi deviasi penyerapan keuangan sesuai target, capaian realisasi kinerja sebesar 163 persen, sedangkan capaian realisasi anggaran sebesar 96,57 persen ;
4. Persentase SKPD dengan realisasi diatas 95%, capaian realisasi kinerja sebesar 225 persen, sedangkan capaian realisasi anggaran sebesar 91,92 persen ;
5. Persentase SKPD yang menerapkan Accrual Accounting Based Capacity Building, capaian realisasi kinerja sebesar 105 persen, sedangkan capaian realisasi anggaran sebesar 86,03 persen ;
6. Persentase Laporan Keuangan SKPD sesuai Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP), capaian realisasi kinerja sebesar 100 persen, sedangkan capaian realisasi anggaran sebesar 73,26 persen ;
7. Persentase tanah milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang bersertifikat, capaian realisasi kinerja sebesar 101 persen sedangkan capaian realisasi anggaran sebesar 83,52 persen ;
8. Persentase Aset Tetap Tanah dan Bangunan yang digunakan dan dimanfaatkan, capaian realisasi kinerja sebesar 99 persen, sedangkan capaian realisasi anggaran sebesar 88,16 persen ;
9. Persentase sertifikasi kompetensi pengelola keuangan daerah Pemerintah Provinsi Jawa Timur, capaian realisasi kinerja sebesar 137 persen, sedangkan capaian realisasi anggaran sebesar 99,42 persen ;
Sedangkan sasaran Meningkatnya kualitas pengelolaan keuangan kabupaten / kota se-Jawa Timur, yaitu :
10. Persentase Raperda/Raperkada Kab./Kota tentang APBD yang dievaluasi tepat waktu, capaian realisasi kinerja sebesar 97 persen, sedangkan capaian realisasi anggaran sebesar 87,29 persen ;
11. Persentase Raperda/Raperkada Kab./Kota tentang Perubahan APBD yang dievaluasi tepat waktu, capaian realisasi kinerja sebesar 100 persen, sedangkan capaian realisasi anggaran sebesar 87,29 persen ;
12. Persentase Raperda/Raperkada Kab./Kota tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD yang dievaluasi tepat waktu, capaian realisasi kinerja sebesar 97 persen, sedangkan capaian realisasi anggaran sebesar 88,91 persen.
3. EFISIENSI PENGGUNAAN SUMBER DAYA
Tabel 3.19 Efisiensi Penggunaan Sumber Daya
No Sasaran Indikator Sasaran % Capaian Kinerja Penyerapan % Anggaran
Tingkat Efisiensi 1. Meningkatnya
kualitas pengelolaan keuangan dan aset daerah Provinsi Jawa
1. Ketepatan waktu penyusunan RAPBD dan RPAPBD Provinsi Jawa Timur
No Sasaran Indikator Sasaran % Capaian Kinerja Penyerapan % Anggaran
Tingkat Efisiensi
Timur 2. Rasio Kemandirian
Keuangan Daerah 57 91,92 8,08% 3. Toleransi deviasi penyerapan keuangan sesuai target 163 96,57 3,43% 4. Persentase SKPD dengan realisasi diatas 95% 225 91,92 8,08% 5. Persentase SKPD yang menerapkan Accrual Accounting Based Capacity Building 105 86,03 13,97% 6. Persentase Laporan Keuangan SKPD sesuai Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) 100 73,26 26,74%
7. Persentase tanah milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang bersertifikat
101 83,52 16,48%
8. Persentase Aset Tetap Tanah dan Bangunan yang
digunakan dan dimanfaatkan 99 88,16 11,84% 9. Persentase sertifikasi kompetensi pengelola keuangan daerah
Pemerintah Provinsi Jawa Timur 137 99,42 0,58% 2. Meningkatnya kualitas pengelolaan keuangan kabupaten / kota se-Jawa Timur 10. Persentase Raperda/Raperkada
Kab./Kota tentang APBD yang dievaluasi tepat waktu
97 87,29 12,71%
11. Persentase
Raperda/Raperkada
Kab./Kota tentang Perubahan APBD yang dievaluasi tepat waktu
100 87,29 12,71%
12. Persentase
Raperda/Raperkada
No Sasaran Indikator Sasaran % Capaian Kinerja Penyerapan % Anggaran Tingkat Efisiensi Kab./Kota tentang Pertanggungjawaban
Pelaksanaan APBD yang dievaluasi tepat waktu
Memperhatikan tabel 3.18, dapat dijelaskan bahwa capaian realisasi kinerja dan capaian realisasi anggaran untuk sasaran Meningkatnya kualitas pengelolaan keuangan dan aset daerah Provinsi Jawa Timur, yaitu :
1. Ketepatan waktu penyusunan RAPBD Provinsi Jawa Timur, dengan capaian realisasi kinerja sebesar 100% dan tingkat efisiensi sebesar 18,84% ;
2. Rasio Kemandirian Keuangan Daerah, dengan capaian realisasi kinerja sebesar 57% dan tingkat efisiensi sebesar 8,08% ;
3. Toleransi deviasi penyerapan keuangan sesuai target, dengan capaian realisasi kinerja sebesar 163% dan tingkat efisiensi sebesar 3,43% ;
4. Persentase SKPD dengan realisasi diatas 95%, dengan capaian realisasi kinerja sebesar 225% dan tingkat efisiensi sebesar 8,08% ;
5. Persentase SKPD yang menerapkan Accrual Accounting Based Capacity Building, dengan capaian realisasi kinerja sebesar 105% dan tingkat efisiensi sebesar 13,97% ;
6. Persentase Laporan Keuangan SKPD sesuai Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP), dengan capaian realisasi kinerja sebesar 100% dan tingkat efisiensi sebesar 26,74% ;
7. Persentase tanah milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang bersertifikat, dengan capaian realisasi kinerja sebesar 101% dan tingkat efisiensi sebesar 16,48% ;
8. Persentase Aset Tetap Tanah dan Bangunan yang digunakan dan dimanfaatkan, dengan capaian realisasi kinerja sebesar 99% dan tingkat efisiensi sebesar 11,84% ;
9. Persentase sertifikasi kompetensi pengelola keuangan daerah Pemerintah Provinsi Jawa Timur, dengan capaian realisasi kinerja sebesar 137% dan tingkat efisiensi sebesar 0,58% ;
Sedangkan sasaran Meningkatnya kualitas pengelolaan keuangan kabupaten / kota se-Jawa Timur, yaitu :
10. Persentase Raperda/Raperkada Kab./Kota tentang APBD yang dievaluasi tepat waktu, dengan capaian realisasi kinerja sebesar 97% dan tingkat efisiensi sebesar 12,71% ;
11. Persentase Raperda/Raperkada Kab./Kota tentang Perubahan APBD yang dievaluasi tepat waktu, dengan capaian realisasi kinerja sebesar 100% dan tingkat efisiensi sebesar 12,71% ;
12. Persentase Raperda/Raperkada Kab./Kota tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD yang dievaluasi tepat waktu, dengan capaian realisasi kinerja sebesar 97% dan tingkat efisiensi sebesar 11,09%.
Memperhatikan uraian tersebut, realisasi belanja BPKAD Tahun Anggaran 2016, secara umum menunjukkan bahwa capaian keberhasilan atas pelaksanaan program kegiatan dapat dikategorikan sesuai dengan sasaran dan target yang direncanakan, sebagaimana dokumen perencanaan baik jangka menengah (Renstra) maupun jangka pendek (Renja) walaupun masih terdapat beberapa kendala dan memerlukan penyempurnaan dalam pelaksanaan pada tahun mendatang, antara lain :
1. Aspek Perencanaan,
a. Pola pikir dalam menyusun perencanaan anggaran masih bersifat rutinitas serta belum yang didasarkan hasil analisa dan kebutuhan riil ; b. Perencanaan program kegiatan masih bersifat formalitas, parsial/
sektoral, sehingga sangat dimungkinkan adanya program atau kegiatan baru yang pelaksanaannya muncul pada tahun anggaran berjalan ; c. Perencanaan masih kurang visioner dan/atau belum mengantisipasi
adanya kebijakan atau peraturan perundang-undangan baru.
2. Aspek Pelaksanaan,
a. Terbatasnya sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dan kemampuan dibidang perencanaan anggaran, program kegiatan, pengelolaan keuangan dan aset daerah serta kompetensi di bidang
b. Adanya kebijakanatau regulasi yang diterbitkan dalam tahun anggaran berjalan dan atau kebijakan yang kadang kala tidak diikuti dengan petunjuk pelaksanaannya serta adanya perbedaan kebijakan yang mengatur pengelolaan keuangan antara APBN dan APBD (terdapat perbedaan sistem dan SOP) ;
c. Penyusunan Daftar Kebutuhan Kas Bulanan (DKKB) masih bersifat formalitas dan/atau belum dihitung berdasarkan analisa kebutuhan riil. 3. Aspek Penatausahaan,
a. Terbatasnya sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dan kemampuan dibidang penatausahaan keuangan daerah ;
b. Adanya keterlambatan dalam menyusun dokumen Surat
Pertanggungjawaban (SPJ), kurang teliti, cermat dan juga masih terdapat kesalahan pembebanan dalam penulisan Buku Kas Umum (BKU) ;
c. Masih adanya kekurangan persyaratan dan kelengkapan penyusunan dokumen SPJ, dan inkonsistensi pencatatan transaksi harian, sehingga berdampak pada keakurasian data.
Memperhatikan beberapa kendala tersebut, untuk meminimalisir terjadinya kesalahan yang sama dan berulang pada tahun-tahun berikutnya dalam pengelolaan keuangan dan aset daerah, perlu :
1) Optimalisasi dan pemberdayaan fungsi Satuan Pengawas Internal (SPI) melalui Forum Group Discusion (FGD) ;
2) Pemberdayaan fungsi UPT- Laboratorium Pengelolaan Keuangan Daerah (UPT-LPKD) melalui bintek, workshop dan sosialisasi kepada para pengelola keuangan dan aset daerah ;
3) Melakukan pendampingan dan mengikutsertakan pendidikan dan pelatihan kepada para pengelola keuangan mulai dari perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan dan pelaporan pertanggungjawaban ;
4) Memfasilitasi sistem informasi pengelolaan keuangan daerah serta mengembangkan aplikasi berdasarkan regulasi, dinamika dan kebutuhan riil ; 5) Membangun keselarasan dan kesepahaman antar bidang dan instansi