• Tidak ada hasil yang ditemukan

36

Artikel ini telah diterbitkan di Harian Suara Pembaruan, 1 Desember 2020

BUNGA RAMPAI

BAB III

138 COVID-19 DALAM TULISAN PROF. TJANDRA | JILID 2

AIDS sejak 1990an, tapi situasi global pengendalian AIDS kini tentu jadi sangat dipengaruhi oleh pandemi COVID-19. Karena itu disebutkan bahwa peringatan tahun 2020 amat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya karena ada pandemi sekarang ini, “World AIDS Day 2020 will be like no other”. Laporan dari berbagai negara menunjukkan gangguan pada kegiatan pencegahan, test, pengobatan dan pelayanan HIV, khususnya pada negara dengan sistem kesehatan yang tidak terlalu kuat. Gangguan dan kelambatan dari pelayanan-pelayanan kesehatan HIV ini dapat meningkatkan risiko kelompok rentan untuk penularan HIV, dan bukan tidak mungkin berpengaruh juga pada risko sakit berat dan kematian.

Ada juga beberapa faktor lain akibat pandemi COVID-19 yang mungkin mengganggu program pengendalian HIV/AIDS. Petugas kesehatan kini banyak harus lebih prioritas menangani COVID-19, dan mungkin sedikit banyak membuat program penyakit lain (termasuk HIV/AIDS) dapat relatif terkendala. Juga akibat lockdown di beberapa negara, dan terbatasnya transportasi antar negara, maka ketersediaan logistik untuk test dan pengobatan HIV/AIDS dilaporkan juga pernah terganggu di beberapa negara, walaupun kini situasinya sudah lebih membaik.

Karena itu pada kesempatan World AIDS Day 1 Desember 2020 ini WHO (World Health Organization) bergandengan tangan dengan berbagai organisasi internasional lainnya untuk memberi dukungan pada semua pihak yang memberi pelayanan kesehatan untuk HIV/

AIDS. WHO juga menghimbau pimpinan dan masyarakat dunia untuk membentuk solidaritas global untuk tetap mempertahankan pelayanan kesehatan HIV/AIDS di masa pandemi COVID-19 ini, sampai nanti sesudah pandemi teratasi. Fokus utamanya diharapkan pada kelompok risiko tinggi dan juga memperluas cakupan pada anak dan remaja.

Dampak penyakit

Walaupun pandemi COVID-19 sudah nyaris meluluh lantakkan berbagai sendi kehidupan, tetapi penyakit ini sebenarnya “umurnya”

baru sekitar 1 tahun, sejak Desember 2019. Karena itu masih banyak

yang dipelajari para ahli diseluruh dunia, termasuk bagaimana dampaknya pada HIV/AIDS dan sebaliknya. Berdasar data yang ada sejauh ini maka para ahli dan banyak organisasi internasional berpendapat bahwa ODHA yang sedang dalam pengobatan punya risiko yang kurang lebih sama dengan orang yang tidak ada HIV untuk tertular COVID-19. Di sisi lain, ada juga dua penelitian di Inggris yang menyatakan bahwa ODHA punya risiko antara 63% dan 130% lebih tinggi.

Tentu saja secara umum memang ada beberapa keadaan yang membuat seseorang ber risiko untuk mendapat penyakit COVID-19 yang cukup berat, yaitu mereka dengan usia tua, ada ko morbid tertentu, mereka dengan angka CD4 yang rendah dan mereka yang tidak mendapat pengobatan ART (antiretroviral therapy) yang efektif.

Kita tahu bahwa yang dianggap sebagai COVID-19 berat antara lain adalah keadaan yang harus masuk rumah sakit, atau harus masuk ICU, harus diintubasi untuk pemasangan ventilator dan bahkan sampai kematian. Juga disebutkan bahwa keadaan seperti tingginya viral load dan riwayat infeksi oportunistik (seperti tuberkulosis dll) adalah merupakan faktor yang harus diwaspadai oleh ODHA. Kepustakaan lain menyebutkan bahwa ODHA dengan obesitas, Diabetes Mellitus yang tidak terkontrol dan tekanan darah tinggi nampaknya juga punya risiko lebih besar untuk terinfeksi COVID-19. Tentu data dan temuan ilmiah masih terus berkembang, ada juga satu dua laporan kasus dengan keadaan tertentu dan mungkin saja akan ada temuan baru di masa mendatang.

Pengalaman dari AIDS

Karena program penanggulangan AIDS sudah berjalan beberapa puluh tahun maka mungkin ada beberapa hal yang dapat dipakai sebagai bahan pertimbangan dalam pengendalian COVID-19.

Beberapa diantaranya adalah upaya mencari vaksin dan obat, juga upaya penyesuaian perilaku. Kita tahu bahwa upaya mencari vaksin HIV masih belum menunjukan hasil yang nyata, sementara vaksin COVID-19 diharapkan akan segera ada dalam waktu mendatang ini, tentu dengan berbagai tantangaannya. Di sisi lain, obat ART untuk

140 COVID-19 DALAM TULISAN PROF. TJANDRA | JILID 2

AIDS sudah dikenal luas dan punya pengalaman cukup panjang, sementara obat COVID-19 masih terus diteliti untuik mendapatkan pilihan yang tepat.

Dari aspek kesehatan masyarakat, setidaknya ada lima pengalaman penanggulangan AIDS yang mungkin akan baik juga dilakukan pada COVID-19. Pertama, pengendalian COVID-19 dapat memegang teguh azaz hak azazi manusia dan kesamaan hak. Kedua, perlu perhatian pada mereka yang terdampak penyakit, termasuk juga mungkin yang telah sembuh dalam hubungan fenomena COVID berkepanjangan (long COVID) misalnya. Hal ke tiga adalah bahwa penanggulangan COVID-19 perlu bersifat multisektoral, serta hal ke empat adalah pengendalian COVID-19 sebenarnya dapat digunakan -nantinya- untuk memperkuat infrastruktur sistem kesehatan di suatu negara. Hal ke lima adalah amat pentingnya keterlibatan aktif masyarakat, juga mekanisme informasi yang benar serta penghilangan stigma dan diskrimasi yang semua merupakan bagian amat penting dalam penanggulangan AIDS selama ini dan tentu juga pengendalian pandemi COVID-19 sekarang ini. Satu hal penting lainnya, kita tahu bahwa HIV/AIDS selama ini cukup mendapat atensi dan dukungan dari organisasi internasional dan pemimpin dunia. Hal yang sama juga terjadi pada COVID-19, dan ini merupakan modal kuat dalam pengendalian pandemi COVID-19, karena “Global problems need global solidarity”.

Sebagaai penutup, tentu saja kita semua harus selalu menerapkan protokol kesehatan untuk meminimalisir tertular COVID-19. Pesan mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak, memeliharan etiket batuk dan menyampaikan salam, juga menghindari kerumunan, segera berkonsultasi kalau ada gangguan kesehatan serta upaya lain menjaga hidup sehat harus selalu dilakukan.

Di akhir November 2020 ada beberapa laporan tentang kemungkinan COVID-19 sudah ada di dunia sebelum Desember 2019, jadi sebelum kejadian di Wuhan China. Sebagian laporan ini juga sudah dipublikasi di jurnal ilmiah, tetapi penulisnya -dan banyak pakar lainnya- memang juga menyampaikan beberapa kelemahan metodologi penelitian, sehingga hasilnya memang belum sepenuhnya pasti dan masih memerlukan penelitian lebih lanjut lagi.

Pada 30 November 2020 sebuah penelitian dipublikasi di jurnal ilmiah Clinical Infectious Diseases. Penelitian yang dilakukan oleh badan ber reputasi tinggi yaitu Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat ini menganalisa sampel darah dari 7.389 donor darah rutin yang dikumpulkan oleh Palang Merah Amerika Serikat (American Red Cross) dalam periode waktu antara 13 Desember 2019 sampai 17 Januari 2020, sebelum ada laporan kasus COVID-19 di Amerika Serikat. Ternyata, mereka mendapatkan adanya petunjuk ke arah ditemukannya SARS-CoV-2 (virus penyebab COVID-19) pada 106 dari 7.389 sampel darah itu, artinya mereka mungkin sudah pernah tertular COVID-19 pada waktu itu, padahal kasus pertama COVID-19 baru terjadi di Amerika Serikat pada 19 Januari 2020. Tetapi memang dalam laporan penelitian ini juga disampaikan sedikitnya lima poin keterbatasan penelitian, sehingga kesimpulan akhir penelitiannya memang “menduga mungkin”

sudah ada virus ini di Amerika Serikat sejak Desember 2019, atau