• Tidak ada hasil yang ditemukan

CRASH PROGRAM ATAU PERCEPATAN PELAKSANAAN PEKERJAAN

Dalam dokumen PELATIHAN KEPALA PROYEK BANGUNAN GEDUNG (Halaman 69-75)

PENGENDALIAN WAKTU

5.2 CRASH PROGRAM ATAU PERCEPATAN PELAKSANAAN PEKERJAAN

Crash program atau percepatan pelaksanaan pekerjaan berarti memperpendek umur (pelaksanaan) proyek. Besarnya/jumlah umur proyek sama dengan besarnya/jumlah waktu yang ada pada suatu lintasan kritis. Dengan demikian percepatan pelaksanaan berarti memperpendek lintasan kritis pada jaringan rencana proyek yang bersangkutan.

Ada 2 alasan mengapa dilakukan crash program :

1. Kegiatan proyek yang bersangkutan diharapkan segera selesai sebab sudah merupakan keputusan dan disetujui manajeman atau pemilik proyek dengan alasan tertentu

2. Karena terjadi keterlambatan pelaksanaan proyek yang sudah melebihi batas toleransi tertentu dan dinilai oleh manajemen atau pemilik proyek akan sangat

mempengaruhi kelancaran dan batas waktu penyelesaian proyek tersebut secara keseluruhan.

Percepatan pelaksanaan pekerjaan yang baik

- Tidak menambah biaya proyek secara keseluruhan

- Memperpendek umur proyek dengan memperpendek lintasan kritisnya, bukan mempercepat pekerjaan/kegiatan yang non kritis. Percepatan pekerjaan yang non kritis akan menambah biaya tetapi tidak mempercepat penyelesaian proyek karena adanya waktu tenggang, yaitu FREE FLOAT dan TOTAL FLOAT pada lintasan kegiatan tersebut

- Kegiatan yang dipilih untuk dilakukan percepatan penyelesaiannya harus mempunyai biaya percepatan yang terendah, termasuk apabila pekerjaan non kritis harus dipercepat.

- Sebaiknya usaha percepatan proyek sudah direncanakan dan dilakukan dari awal pelaksanaan proyek. Atau paling tidak sebelum kegiatan dimulainya pelaksanaan sesuai dengan waktu mulai yang seharusnya (dilaksanakan sebelumnya saat EET nya) dari pekerjaan tersebut. dalam hal ini apabila percepatan hanya pada beberapa item pekerjaan saja.

- Percepatan kegiatan pada jalur kritis sebenarnya tidak menambah biaya pekerjaan/proyek. Ini karena pekerjaan yang bersangkutan sudah diperhitungkan berdasarkan produksi tenaga kerja dan peralatan yang bersangkutan per satuan waktu kerjanya.

- Hindari percepatan pekerjaan pada lintasan kritis apabila menimbulkan lintasan kritis baru yang menyulitkan pelaksanaan pekerjaan yang bersangkutan.

Alasan meningkatnya biaya percepatan pelaksanaan proyek;

- Karena keterlambatan pelaksanaan proyek, sebagian sumber daya waktu telah terpakai tanpa menghasilkan produksi kerja (hasil pekerjaan) yang sebenarnya dicapai dalam waktu yang direncanakan. Apabila dilakukan percepatan pelaksanaan pekerjaan pasti hal ini akan meningkatkan biaya karena:

 Dilakukan persiapan dan penataan kembali program kerja, itu berarti diperlukan tambahan waktu. tambahan waktu berarti juga penambahan biaya tak langsung, selama tindakan percepatan belum berproduksi sampai dengan kuantitas minimal tercapai sebesar seharusnya tercapai dari presentase biaya sampai dengan periode tersebut terhadap rencana semula.

 Untuk mengejar ‘progres fisik yang ketinggalan’ diperlukan penambahan biaya untuk sumber daya (fasilitas) lainnya, misalnya biaya lembur tenaga kerja, peralatan penerangan, genset, keamanan, izin dll. Semua biaya tambahan tersebut merupakan biaya pengganti atas terjadinya’ineffisiensi’,atau keterlambatan pekerjaan tersebut. Termasuk dalam katagori ini adalah biaya produksi menjadi lebih tinggi karena produksi kerja lembur umumnya lebih kecil daripada produksi kerja normal,selain itu juga ada biaya lembur, ektra makanan dan lain-lain

Biaya percepatan Pekerjaan

1 0 0 2 3 3 3 6 6 6 1 13 5 8 14 7 18 18 4 7 10 8 2 21 A 3 B 3 C 4 F 8 E 5 H 4 I 3 Q 5 D 7

Contoh: diambil dari kegiatan dengan jaringan sederhana seperti di atas. Misalnya: dari pengamatan dan estimasi yang dilakukan, diperoleh data biaya percepatan sebagai berikut:

Kegiatan :

A. Rp 30.000,- /hari untuk biaya lembur B. Rp 40.000,-/hari untuk biaya material bantu D. Rp. 40.000,-/hari untuk biaya alat bantu+lembur G. Rp (tidak ada) karena lokasi cukup untuk tambah alat I. Rp (tidak ada) karena lokasi cukup untuk tambah tenaga.

Adapun biaya tidak langsung proyek (biaya umum/overhead cost) adalah sebesar Rp 100.000,- per hari

Biaya pekerjaan (21 hari) = 0+21 x 100.000

= Rp. 2.100.000,- (tanpa percepatan)

Kegiatan G dan I, meskipun biaya percepatan nol tetapi pelaksanaan tidak bisa didahulukan karena harus menunggu selesainya pekerjaan A, B, dan D

1 0 0 2 1 1 3 3 4 6 0 10 5 6 9 7 13 13 4 5 5 8 1 15 A 1 B 2 C 4 F 8 E 5 H 4 I 2 Q 5 D 6

dari pengamatan dan perkiraan, setelah mempertimbangkan kondisi kerja lapangan dan kebutuhan sumber dayanya, diperoleh data perkiraan percepatan sebagai berikut :

(Bukan data total flot dan free float; disini yang dipercepat lintasan kritisnya) Pekerjaan A bisa dipercepat maksimal 2 hari

B bisa dipercepat maksimal 1 hari D bisa dipercepat maksimal 4 hari G bisa dipercepat maksimal 2 hari I bisa dipercepat maksimal 1 hari

Total 10 hari

Waktu percepatan yang dibutuhkan adalah 7 hari kerja. jadi dipilih pekerjaan yang dipercepat, A,B,G,I. dan pekerjaan D cukup dipercepat 1 hari saja karena pelaksanaan percepatan pekerjaan lebih sulit, resiko besar dan biaya percepatan realif lebih mahal.

Biaya pekerjaan A = 2xRp 30.000,- + 1x Rp 100.000 = Rp 160.000 Biaya pekerjaan A = 1xRp 40.000,- + 2x Rp 100.000 = Rp 240.000 Biaya pekerjaan A = 1xRp 40.000,- + 6x Rp 100.000 = Rp 640.000 Biaya pekerjaan G dan I = Rp (2+1) Rp 0,-(3+2) Rp 100.000 = Rp 500.000 Biaya dipercepat = Rp. 1.540.000,-

Jadi dengan percepatan tersebut biaya lebih efisien< Rp 2.100.000,- dan lebih efektif karena waktu pelaksanaan lebih cepat 7 hari. Realisasi efisiensi dan efeknya pelaksanaan percepatan hanya akan terjadi apabila persiapan dan pengendalian operasional pelaksanaan pekerjaan berjalan dengan semestinya. Karena waktu dipercepat maju 7 hari, net work planning menjadi:

Diperoleh lintasan kritis baru A-C-F-I, justru merupakan pekerjaan yang lebih mudah pelaksanaannya (tidak lebih sulit). Kegiatan C dan F tidak dipercepat lagi, karena biaya percepatan realtif lebih tinggi, yaitu  Rp 200.000 per hari.

RANGKUMAN

Bab 1

1. Guna mencapai efisiensi penyelenggaraan proyek tepat mutu, tepat waktu dan tepat biaya memerlukan pengawasan dan pengendalian yang ketat.

2. Mutu hasil pelaksanaan konstruksi tidak sesuai spesifikasi akan dapat terjadi pembongkaran dan membangun/ memperbaiki kembali yang memerlukan tambahan biaya, material dan waktu pelaksanaan.

3. Kurang tepat menggunakan waktu yang dijadwalkan dan berakibat keterlambatan pelaksanaan konstruksi berakibat.

- banyak kegiatan lain yang mundur waktunya - kenaikan harga

- sisa anggaran karena waktu tahun anggaran habis - menurunnya tingkat produktivitas

4. Tentang pengendalian biaya yang pasti perusahaan kontraktor berusaha memenangkan tender dengan motivasi mendapatkan keuntungan dan menghindari kerugian, maka pengendalian biaya secara ketat dan tepat berbasis efisiensi (bukan pengiritan) dengan tetap memenuhi spesifikasi dan tepat waktu merupakan tantangan tersendiri.

Bab 2

1. Dalam rangka menerapkan wewenang pengendalian pelaksanaan perlu adanya alat kontrol dalam upaya pencapaian tujuan tepat biaya, tepat mutu dan tepat waktu. 2. Alat kontrol pengendalian antara lain :

a. Dokumen dan selalu mendokumentasikan semua aktivitas b. Persiapan dan RMK (Rencana Mutu Kontrak)

c. Proses dan ketentuan pembayaran d. Pekerjaan tambah kurang

e. Perselisihan f. Serah terima Bab 3

1. Pengendalian biaya pelaksanaan proyek terkait erat dan dipengaruhi oleh :

a. Pengendalian waktu pelaksanaan proyek (efek dari penambahan biaya tidak langsung).

b. Pengendalian mutu dan hasil pelaksanaan proyek (efek dari pekerjaan ulang, finishing pembongkaran dan lain-lain yang harus menambah biaya lagi yaitu biaya langsung maupun tidak langsung).

c. Pengendalian sistem manajemen operasional proyek yang bersangkutan yang kurang baik atau tidak konsisten dalam pelaksanaan penerapannya (efek penambahan biaya karena in efisiensi realisasi biaya pekerjaan dari yang seharusnya direncanakan).

2. Kiat pengendalian biaya sebagai berikut : a. Pengendalian langsung

b. Pengendalian tidak langsung

c. Pembuatan RAP (Rencana Anggaran Pelaksanaan) tepat dan efisien d. Penjelasan mengenai pendapatan dan biaya

e. Melakukan efisiensi biaya di masing-masing item pekerjaan/ pengeluaran f. Mengamati terus cash flow proyek

Bab 4

1. Prinsip dasar yang harus dikendalikan tentang mutu adalah :

a. Dimensi (panjang, lebar tinggi, lebar, kemiringan, bentuknya dan sebagainya). b. Kualitas (kepadatan, kuat tekan daya dukung kekerasan dan sebagainya). 2. Ada tiga unsur pokok yang harus dikendalikan secara intensif dan konsisten yaitu :

a. Mutu bahan baku b. Mutu bahan olahan c. Mutu hasil pekerjaan

3. Prosedur pengendalian mutu dapat diterapkan dengan : a. Kerangka pengendalian mutu

b. Metoda pengawasan kualitas pekerjaan konstruksi

4. Pengendalian mutu yang baik dengan cara penerapan standar secara konsisten disiplin terdiri dari :

a. Standar kualitas b. Standar pengujian c. Standar pelaksanaan

d. Standar pengawasan/ pemeriksaan Bab 5

1. Pengendalian waktu dapat menggunakan jadwal pelaksanaan untuk : - Memantau kemajuan pekerjaan

- Menjadi rujukan pembayaran eskalasi/ de eskalasi - Mendukung pengalokasian anggaran biaya

- Mempertimbangkan permintaan tambahan biaya akibat perubahan pekerjaan - Mendukung permintaan perpanjangan waktu

Dalam dokumen PELATIHAN KEPALA PROYEK BANGUNAN GEDUNG (Halaman 69-75)

Dokumen terkait