• Tidak ada hasil yang ditemukan

D OKTRIN T RUMAN

Dalam dokumen Suar Suroso – Akar dan Dalang (Halaman 35-38)

THE POLICY OF CONTAINMENT

TAHUN 1948, Presiden Harry Truman menyetujui anggaran belanja militer miliaran dolar lebih rendah di bawah permintaan angkatan bersangkutan. Ini menempatkan Forrestal dalam kedudukan bagaikan “tarik-tambang” antara presiden dan gabungan kepala staf. Forrestal juga menjadi bertambah khawatir mengenai ancaman Sovyet. Masa 18 tahun menduduki jabatan Menteri Pertahanan adalah saat-saat sulit bagi lembaga militer Amerika Serikat: Pemerintah Komunis naik panggung di Cekoslowakia dan Tiongkok, Uni Sovyet melakukan blokade terhadap Berlin Barat yang menyebabkan Amerika mengerahkan Berlin Airlift (jembatan udara) untuk memberi suplai bagi kota tersebut, perang antara negara-negara Arab dan Israel sesudah berdirinya negara Israel, dan perundingan-perundingan tengah berlangsung mengenai pembentukan NATO.

Perebutan kekuasaan begitu banyak di Eropa Timur yang diilhami oleh komunis Sovyet, kampanye militer dan politik yang didukung oleh Sovyet melawan pemerintah Yunani, Itali, dan Perancis, kemenangan komunis yang akan datang di Tiongkok, invasi atas Korea Selatan oleh komunis Korea Utara menunjukkan tepatnya pandangan-pandangan Forrestal. Dwight D. Eisenhower mencatat bahwa dia sependapat dengan teori-teori Forrestal mengenai bahaya ekspansi Sovyet dan komunis internasional. Eisenhower mengingatkan, bahwa Forrestal adalah “seorang yang di tengah-tengah berlangsungnya perang, selalu mengedepankan kewaspadaan terhadap Uni Sovyet. Eisenhower ingat akan berbagai kesempatan, ketika dia menjabat

& , .

Panglima Tertinggi Pasukan Sekutu, dia dikunjungi oleh Forrestal, yang dengan hati-hati menjelaskan tesis-tesisnya, bahwa kaum komunis tidak akan pernah berhenti mencoba menghancurkan semua negara yang representatif. Eisenhower mencatat dalam buku hariannya tanggal 11 Juni 1949, “Saya tidak pernah merasa sangsi akan ketepatan kesimpulannya mengenai hal ini.”[Immerman, James, The CIA in Guatemala, Univ. of Texas Press, 1982].

Dalam pembentukan the policy of containment Amerika Serikat, dalam bulan Februari 1946 dari Kedutaan Besar AS di Moskow, Duta Besar George Kennan, mengirim telegram panjang yang kemudian dipublikasi sebagai Artikel X bulan Juli 1947. Telegram ini memaparkan hal berikut: “Dalam membangun pemulihan ekonomi dan menegakkan kepercayaan politik rakyat Eropa Barat dan Jepang demi mereka bisa mempunyai daya tahan terhadap tekanan- tekanan komunis setempat–dan untuk menunjukkan kepada mereka yang di Kremlin dengan cara begini supaya mereka tidak berhasil memperluas kekuasaan dengan intrik-intrik politik dan intimidasi, hingga mereka tak dapat berbuat demi kepentingannya tanpa berhadapan dengan kita, dan seterusnya, di kala keseimbangan politik sudah diciptakan, lanjutkan bisa berunding dengan Moskow mengenai penyelesaian politik secara umum.”

isi telegram ini menunjukkan perlawanan terhadap penguasa Kremlin,

menunjukkan supaya dilakukan containment, pembendungan terhadap

perluasan kekuasaan komunis. Teori containment yang semula ditujukan untuk Eropa dan Jepang, segera berkembang meluas ke daerah-daerah lainnya termasuk Indonesia.

Tanggal 17 Desember 1948, Kennan, yang ketika itu adalah direktur dari Policy Planning Staff dari Kementerian Luar Negeri menyatakan kepada Menteri Luar negeri AS, George C.Marshall, bahwa “masalah yang paling gawat pada waktu itu dalam perjuangan kita menghadapi Kremlin adalah mungkin problem Indonesia.” Bagi Kennan, masalahnya diringkaskan menjadi soal kedaulatan republik, atau kekacau-balauan.” Dan dia mengingatkan Menteri Luar Negeri Marshall, kekacau-balauan berfungsi sebagai “pintu terbuka buat komunisme.” [Ibid, 25].

Jadi dengan motivasi ketakutan akan perluasan daerah komunis dan adanya hingar-bingar pendapat umum orang Amerika, yang bersimpati pada kekuatan nasionalisme dan anti-kolonialisme, maka Amerika Serikat mengambil peranan mendukung gerakan kemerdekaan Indonesia.

Pada 7 Februari 1949, Amerika mengancam untuk menarik bantuan Plan Marshall bagi Belanda jika tidak menghentikan kegiatan militer melawan Indonesia. Republik Indonesia berada di bawah pimpinan Presiden Soekarno.

, '

Ada yang berpendapat, bahwa malangnya, pada waktu itu, sekali lagi Amerika dibingungkan oleh Kremlin dan medan pertempuran Perang Dingin di bagian bumi lainnya, hingga gagal mengembangkan politik luar negeri yang menyeluruh untuk menggunakan keunggulan dan merebut kesempatan yang ditunjukkan oleh negeri demokrasi yang baru muncul itu, yang kaya sumber alam, berkedudukan strategis, berkebudayaan aneka ragam, beragama yang moderat. Dalam kenyataannya, politik luar negeri Amerika selama lebih enam puluh tahun terhadap Indonesia tidaklah tegas, dan sering saling bertentangan. Maka akibatnya, Indonesia bukanlah sekutu yang kuat, Indonesia dewasa ini memandang Amerika dengan mata yang berpurbasangka. Sesudah Soeharto turun panggung dari 32 tahun kekuasan militer, Amerika kini menghadapi pemusnahan kaum Islam fundamentalis, menggantikan penghancuran “gerombolan komunis”. [Eddie R.Howard, Lt.Col. USAF, US Relations With Indonesia : A Second Chance To Get It Right, 29 Januari 2008].

Mantan pejabat CIA, Ralph McGhee, penulis buku Deadly Deceits-My 25 Years in the CIA menulis sejumlah artikel dalam tahun 1980 sampai awal 1990, di mana dipaparkannya bahwa CIA dan pejabat Kementerian Luar Negeri AS terlibat dalam menyusun nama-nama orang PKI yang diserahkan kepada tentara untuk kemudian dipergunakan dalam pembasmian mereka. Walaupun ada dari kalangan CIA yang membantah, tapi sangat sedikit kesangsian, bahwa CIA benar-benar ambil bagian aktif dalam penggulingan Soekarno.

Truman telah memaparkan sederetan prinsip politik Amerika Serikat yang dikenal kemudian sebagai Doktrin Truman. Truman menyatakan bahwa Amerika Serikat, sebagai pemimpin dari dunia bebas, haruslah mendukung kapitalisme di seluruh dunia dan berjuang melawan komunisme. Sikap ini didukung oleh George Marshall dan Dean Acheson, yang menggeneralisasi harapan buat Yunani dan Turki menjadi satu doktrin yang dapat dilaksanakan di seluruh dunia. Jelas-jemelas, Uni Sovyet adalah inti dari pikiran Truman, tapi tak dinyatakan terang-terangan dalam pidatonya ini. Truman berusaha memecahkan masalah ketidakstabilan Eropa Timur sambil memastikan bahwa komunisme tak akan menyebar masuk negeri-negeri Yunani dan Turki. Pandangan Truman ini didasarkan pada isi telegram George Kennan, Duta Besar Amerika di Moskow waktu itu. Dari isi telegram itu sebagai inti, lahirlah Doktrin Truman, yang isinya dipaparkan dalam pidato Truman berikut ini.

12 Maret 1947, Presiden Truman berpidato di depan sidang gabungan Senat dan Congress Amerika. Antara lain Truman mengemukakan: “Ini

% , .

menyangkut politik luar negeri dan keamanan nasional. Pemerintah Amerika sudah menerima seruan mendesak dari pemerintah Yunani untuk mendapatkan bantuan keuangan dan ekonomi. Keadaan sesungguhnya yang dihadapi pemerintah Yunani sekarang adalah masalah ancaman dari kegiatan teroris beberapa ribu orang bersenjata di bawah pimpinan komunis, yang merongrong kekuasaan pemerintah di berbagai daerah terutama sepanjang perbatasan utaranya. Saya sepenuhnya memaklumi bahwa jika Amerika Serikat memberikan bantuan kepada Yunani dan Turki akan ada pengaruhnya yang luas. Salah satu tujuan utama dari politik luar negeri Amerika adalah menciptakan syarat-syarat agar kita dan bangsa-bangsa lainnya dapat menempuh cara hidup bebas dari tekanan-tekanan. Ini adalah masalah pokok dalam perang dengan Jerman dan Jepang. Kemenangan kita adalah kemenangan atas negeri-negeri yang memaksakan kemauannya, memaksakan cara hidup mereka atas negeri dan bangsa-bangsa lain. Untuk menjamin perkembangan damai bangsa-bangsa di dunia, bebas dari tekanan-tekanan, Amerika Serikat telah ambil bagian penting dan memimpin pembentukan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Rakyat di sejumlah negeri akhir-akhir ini mengalami tekanan dari rezim-rezim totaliter yang memaksakan kemauan atas mereka. Pemerintah Amerika Serikat sudah melakukan berbagai protes menentang kekerasan-kekerasan dan intimidasi yang melanggar Persetujuan Yalta mengenai Polandia, Rumania, dan Bulgaria. Saya harus menyatakan bahwa perkembangan hal yang sama juga terjadi di negeri-negeri lainnya.

...

Dewasa ini dalam sejarah dunia hampir setiap bangsa harus memilih cara hidup mereka sendiri. Pilihan ini sering tidaklah bebas. Suatu cara hidup adalah didasarkan pada kemauan mayoritas, dan diwujudkan dalam lembaga-lembaga yang bebas, pemerintahan yang representatif, pemilihan umum yang bebas, jaminan bagi kebebasan pribadi, kebebasan berpendapat dan beragama, bebas dari penindasan politik. Cara hidup yang lain adalah didasarkan pada kemauan minoritas yang memaksakan kehendaknya atas mayoritas. Ia bersandar pada teror dan penindasan, pers dan radio yang diawasi, pemilihan yang ditetapkan, dan penindasan atas kebebasan pribadi. Saya percaya bahwa politik Amerika Serikat adalah mendukung rakyat- rakyat yang bebas, yang berjuang melawan usaha-usaha penundukan oleh minoritas bersenjata atau tekanan-tekanan dari luar. Saya percaya bahwa kita harus membantu rakyat-rakyat yang bebas, mencapai tujuan mereka dengan cara mereka sendiri. Dunia tidak statis, dan status quo tidaklah abadi. Tetapi kita tidak bisa membiarkan perubahan status quo dengan melanggar

, "

Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, dengan menggunakan cara kekerasan atau dengan cara main dalih atau infiltrasi politik.

Dalam membantu bangsa-bangsa bebas dan merdeka mempertahankan kebebasan mereka, Amerika Serikat akan berpegang pada prinsip-prinsip Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa. Jika Yunani jatuh ke bawah kontrol minoritas bersenjata, maka akan memberi pengaruh pada tetangganya, Turki, dan bisa segera dan serius. Kebingungan dan kekacauan akan menyebar ke seluruh Timur Tengah. Lebih-lebih lagi, lenyapnya Yunani sebagai satu negara merdeka akan memberi pengaruh mendalam bagi negeri-negeri Eropa yang rakyatnya tengah berjuang melawan kesulitan besar mempertahankan kemerdekaan mereka dan usaha pemulihan negeri mereka dari korban peperangan. Jika kita gagal membantu Yunani dan Turki, akibatnya akan mencapai jauh ke Barat bahkan ke Timur.

Hakikat sesungguhnya dari masalah Yunani dewasa ini adalah ancaman dari kegiatan teroris beberapa ribu orang bersenjata yang dipimpin oleh orang-orang komunis, yang merongrong kekuasaan pemerintah, terutama di perbatasan utaranya.”

Yang dimaksud Truman dengan ancaman terhadap Yunani dan Turki adalah datangnya kekuatan komunis.

, !

V

Dalam dokumen Suar Suroso – Akar dan Dalang (Halaman 35-38)