KELURAHAN DUREN SAWIT JAKARTA TIMUR
DAFTAR ISI DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR ... x DAFTAR LAMPIRAN ... xi PENDAHULUAN ... 1 TINJAUAN PUSTAKA ... Penyakit Demam Berdarah Dengue ... Biologi Nyamuk Aedes aegypti ... Pengendalian Nyamuk Demam Berdarah ... Toksikologi Insektisida ... Insektisida Organofosfat ... Insektisida Malation ... Insektisida Temefos ... Masalah Resistensi ………. Mekanisme Detoksifikasi ... 3 3 4 9 11 12 16 18 19 22 BAHAN DAN METODE ... Lokasi Pengambilan Sampel ... Pemeliharaan nyamuk Aedes aegypti di laboratorium ... Uji Toleransi ... Uji Toleransi Larva Nyamuk Aedes aegypti Terhadap Temefos ... Uji Toleransi Nyamuk Dewasa Aedes aegypti Terhadap Malation ... Uji Peningkatan Enzim Esterase Non Spesifik ... Tanggapan masyarakat terhadap penyakit DBD dan pengendaliannya ...
23 23 26 29 29 29 31 32
HASIL DAN PEMBAHASAN ……….
Status toleransi larva Aedes aegypti terhadap temefos ………
Status toleransi nyamuk Aedes aegypti terhadap malation ... Peningkatan enzim esterase ... Hasil survei terhadap masyarakat ...
33 33 38 44 45
SIMPULAN DAN SARAN ...
Simpulan ... Saran ... 47 47 47 DAFTAR PUSTAKA ... 48 LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
1. Empat kriteria toksisitas malation berdasarkan nilai LD50 ... 18
2. Data toksisitas temefos ………. 19
3. Persentase kematian larva nyamuk Aedes aegypti pada uji toleransi terhadaptemefos ……….... 33
4. Analisis probit larva nyamuk Aedes aegypti terhadap pemakaian
temefos 0,00004 sampai dengan 0,025 ppm ... 35
5. Persentase kematian nyamuk Aedes aegypti pada konsentrasi malation 0,8% ... 39
6. Analisis probit uji pendahuluan pemakaian malation 0,8% terhadap
nyamuk Aedes aegypti ………... 40
7. Persentase kematian nyamuk Aedes aegypti pada konsentrasi malation 5% ... 41
8. Hasil perhitungan probit uji pendahuluan pemakaian malation 5%
terhadap nyamuk Aedes aegypti ………... 43
9. Nilai α-esterase larva Aedes aegypti ... 44 10. Nilai β-esterase larva Aedes aegypti ... 44 11. Hasil survei tentang sikap masyarakat terhadap penanggulangan
DAFTAR GAMBAR
1. Nyamuk Aedes aegypti ... 5 2. Infeksi virus dengue melalui vektor nyamuk Aedes aegypti ... 7
3. Reseptor neurotransmiter dan saluran ion ... 13
4. Transmisi impuls pada celah sinaps... 14
5. Reaksi enzim asetilkolinesterase ... 16
6. Rumus bangun malation ... 17
7. Rumus bangun malaoxon ... 17
8. Rumus bangun temefos ………. 18
9. Tiga jenis perubahan materi genetik yang menyebabkan resistensi …. 20
10. Lokasi Kecamatan Duren Sawit di Jakarta Timur ... 23
11. Lokasi penelitian di wilayah Kelurahan Duren Sawit, Kecamatan
Duren Sawit Jakarta Timur ... 24
12. Daerah padat dan kumuh ... 25
13. Daerah terbuka ... 26
14. Pemeliharaan larva nyamuk Aedes aegypti ... 27
15. Kandang pemeliharaan nyamuk Aedes aegypti dewasa ... 28 16. Marmut umpan sebagai sumber darah untuk nyamuk Aedes aegypti
dewasa ... 28 17. Peralatan pengujian resistensi nyamuk Aedes aegpti terhadap malation
... 30
18. Hubungan kematian larva Aedes aegypti terhadap konsentrasi temefos
... 35
19. Hubungan antara waktu kontak dengan kematian nyamuk Aedes aegypti pada penggunaan malation 0,8% ... 40
20. Hubungan antara waktu kontak dengan kematian nyamuk Aedes aegypti pada penggunaan malation 5% ... 42
DAFTAR LAMPIRAN
1. Jumlah kematian larva nyamuk Aedes aegypti pada pemakaian temefos 0,00004 sampai dengan 0,025 ppm. ... 52
2. Jumlah kematian nyamuk Aedes aegypti pada uji pendahuluan
konsentrasi malation 0,8% ... 53
3. Jumlah kematian nyamuk Aedes aegypti pada konsentrasi malation
0,8% ... 54
4. Jumlah kematian nyamuk Aedes aegypti pada konsentrasi malation 5% . 55
5. Nilai α -esterase larva Aedes aegypti ... 56 6. Nilai β-esterase larva Aedes aegypti ... 58
PENDAHULUAN
Dengue fever dan dengue hemorrhagic fever masih merupakan problem kesehatan utama di banyak negara sub tropis dan tropis. Tahun 1920 kasus pertama ditemui di Malaysia dan tahun 1962 dilaporkan di Penang. Tahun 1994 laju infeksi dengue menjadi 22,4 kasus per 100.000 populasi dan menjadi 29,5 kasus pada tahun 1998 (Nasir et al, 2001). Sebanyak 1.672.883 kasus dangue di Brazil telah dilaporkan sepanjang tahun 1981 sampai dengan 1998 (Madeira et al, 2002) dan sepanjang tahun 2002 terdapat 672.371 kasus dengue klasik dan 2.090 kasus dengue
hemorrhagic (de Carvalho et all. 2004)
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia dilaporkan untuk pertama kalinya di Surabaya dan Jakarta pada tahun 1968, akan tetapi konfirmasi virologis baru didapat pada tahun 1972 (Kho et al., 1969 , Pratana et al., 1970, Wahono, 2004). Sejak itu penyakit tersebut menyebar ke berbagai daerah, sehingga terakhir sampai tahun 1980 seluruh propinsi di Indonesia sudah ditemui kasus demam berdarah dengue. Sejak pertama kali ditemukan, jumlah kasus menunjukkan kecenderungan meningkat baik dalam jumlah maupun luas wilayah yang terjangkit dan secara sporadis selalu terjadi kasus luar biasa (KLB) setiap tahun.
Tahun 2004 kasus DBD tertinggi terdapat di Propinsi DKI Jakarta (Wahono, 2004). Kasus tersebut cenderung mengalami peningkatan yang cukup besar. Tercatat pada bulan Januari sampai dengan April 2006 terdapat kasus berturut-turut sebesar 2536, 2481, 2923 dan 3038 kasus (Sudin Kesehatan Masyarakat DKI, 2007). Pada bulan yang sama tahun 2007 jumlah kasus berturut-turut sebesar 2459, 3553, 4409 dan 4740 kasus (Sudin Kesehatan Masyarakat DKI, 2007).
Menurut data Dinas Kesehatan DKI Jakarta, pada tahun 2005 wilayah Jakarta Timur tercatat sebagai daerah yang mengalami kasus demam berdarah terbesar di Jakarta (Sudin Kesehatan Masyarakat DKI, 2005). Pada wilayah tersebut kecamatan yang terbanyak ditemui kasus demam berdarah adalah kecamatan Duren Sawit dan Cakung. Tahun 2006 dan 2007 kedua kecamatan tersebut masih menjadi wilayah kasus demam berdarah tertinggi di Jakarta Timur. Selanjutnya dari wilayah
kecamatan Duren sawit, kelurahan Kelender dan kelurahan Duren Sawit merupakan wilayah dengan kasus DBD yang tinggi. Luas wilayah Kelurahan Duren Sawit 4,56 km2 atau menempati 20,09% dari total wilayah Kecamatan Duren Sawit Jakarta Timur dengan kepadatan mencapai 10.445 jiwa per km2.
Peningkatan kasus demam berdarah tersebut antara lain dimungkinkan oleh perubahan cuaca global dan infrastruktur wilayah yang buruk. Disisi lain patut diduga pula toleransi insektisida yang digunakan dalam pemberantasan vektor nyamuk Aedes aegypti turut memberikan kontribusi terhadap peningkatan kasus demam berdarah di Jakarta Timur. Insektisida yang digunakan untuk mengendalikan nyamuk Aedes aegypti di Indonesia dan banyak negara adalah temefos untuk fase larva dan malation untuk nyamuk dewasa.
Insektisida temefos di Indonesia digunakan untuk pengendalian larva nyamuk Aedes aegypti sejak tahun 1980 sedangkan insektisida malation digunakan dalam pengendalian nyamuk dewasa Aedes aegypti sejak tahun 1969 (Hoedojo, 1993). Penggunaan insektisida ini sudah demikian lama sehingga perlu dilakukan pengamatan terhadap kemungkinan adanya perubahan kerentanan larva dan nyamuk dewasa Aedes aegypti terhadap insektisida temefos dan malation. (WHO, 1976).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status kerentanan Aedes aegypti terhadap insektisida (temefos dan malation) yang digunakan dalam program oleh dinas kesehatan untuk pengendalian larva dan nyamuk dewasa di daerah Kelurahan Duren Sawit Kecamatan Duren Sawit yang merupakan wilayah endemik Jakarta Timur. Penelitian ini diawali dengan identifikasi daerah kajian yang dilanjutkan dengan uji toleransi. Daerah kajian meliputi wilayah kelurahan/desa endemis berdasarkan petunjuk Dinas Kesehatan Jakarta Timur. Penentuan status toleransi Aedes aegypti dilakukan dengan uji bio assay dan biokimia. Uji bio assay mengikuti standar WHO sedangkan prosedur biokimia menggunakan uji Elisa. Dari hasil penelitian diharapkan dapat diperoleh status toleransi nyamuk Aedes aegypti terhadap temefos dan malation di wilayah di Kelurahan Duren Sawit, sehingga pengendalian nyamuk Aedes aegypti dapat dilakukan lebih efektif.
TINJAUAN PUSTAKA
Penyakit Demam Berdarah Dengue
Penyakit Demam Berdarah atau Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) ialah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Kedua jenis nyamuk ini terdapat hampir di seluruh pelosok Indonesia, kecuali di tempat-tempat dengan ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan air laut. Penyakit DBD sering salah didiagnosis dengan penyakit lain seperti flu atau tipus. Hal ini disebabkan karena infeksi virus dengue yang menyebabkan DBD bisa bersifat asimtomatik atau tidak jelas gejalanya. Data di bagian anak RSCM menunjukkan pasien DBD sering menunjukkan gejala batuk, pilek, muntah, mual, maupun diare (WHO dan Depkes 2003). Gejala pada penyakit demam berdarah diawali dengan :
a. demam tinggi yang mendadak 2 sampai dengan 7 hari (38 °C- 40 °C).
b. manifestasi pendarahan, dengan bentuk : uji tourniquet positif puspura, pendarahan, konjungtiva, epitaksis, melena, dan sebagainya
c. Hepatomegali (pembesaran hati).
d. Syok, tekanan nadi menurun menjadi 20 mmHg atau kurang, tekanan sistolik sampai 80 mmHg atau lebih rendah.
e. Trombositopeni, pada hari ke 3 - 7 ditemukan penurunan trombosit sampai 100.000 /mm³.
f. Hemokonsentrasi, meningkatnya nilai Hematokrit.
g. Gejala-gejala klinik lainnya yang dapat menyertai: anoreksia, lemah, mual, muntah, sakit perut, diare kejang dan sakit kepala.
h. Pendarahan pada hidung dan gusi.
Rasa sakit pada otot dan persendian, timbul bintik-bintik merah pada kulit akibat pecahnya pembuluh darah. Masa inkubasi terjadi selama 4-6 hari. Masalah bisa bertambah karena virus tersebut dapat masuk bersamaan dengan infeksi penyakit lain seperti flu atau tipus. Oleh karena itu diperlukan kejelian pemahaman tentang perjalanan penyakit infeksi virus dengue, patofisiologi, dan ketajaman pengamatan
klinis. Dengan pemeriksaan klinis yang baik dan lengkap, diagnosis DBD serta pemeriksaan penunjang (laboratorium) dapat membantu terutama bila gejala klinis kurang memadai.
Penyakit DBD disebabkan oleh virus dengue yang termasuk famili genus Flavirus grup B arthropod borne viruses (arboviruses) dengan tipe DEN 1, DEN 2, DEN 3 dan DEN 4 (Jawetz, 1982; Kettle et al, 1984). Selama ini penyakit DBD secara klinik mempunyai tingkatan manifestasi yang berbeda, tergantung dari serotipe virus dengue. Penyakit DBD menyebar di negara-negara Tropis dan Subtropis. Penyakit DBD di Indonesia pertama kali ditemukan pada tahun 1968 di Surabaya dan sekarang menyebar keseluruh propinsi di Indonesia.
Kejadian penyakit DBD semakin tahun semakin meningkat dengan manifestasi klinis yang berbeda mulai dari yang ringan sampai berat. Manifestasi klinis berat yang merupakan keadaan darurat dikenal dengan Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) dan Dengue Shock Syndrome (DSS) (WHO, 1986). Manifestasi klinis infeksi virus Dengue termasuk didalamnya Demam Berdarah Dengue sangat bervariasi, mulai dari asimtomatik, demam ringan yang tidak spesifik, Demam Dengue, Demam Berdarah Dengue, hingga yang paling berat yaitu Dengue Shock Syndrome (DSS). Sampai saat ini mekanisme respons imun pada infeksi oleh virus Dengue masih belum jelas karena banyak faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit Demam Berdarah Dengue. Faktor-faktor tersebut diantaranya: inang (host), lingkungan (environment) dan faktor virusnya sendiri. Faktor host adalah kerentanan (susceptibility) dan respon imun. Faktor lingkungan (environment) adalah kondisi geografi (ketinggian dari permukaan laut, curah hujan, angin, kelembaban, musim); kondisi demografi (kepadatan, mobilitas, perilaku, adat istiadat, sosial ekonomi penduduk).
Biologi Nyamuk Aedes aegypti
Nyamuk Aedes aegypti merupakan vektor penyakit demam berdarah. Nyamuk tersebut berwarna belang hitam putih, tersebar di daerah tropis tetapi berasal dari Afrika. Nyamuk Aedes dapat dibedakan dari jenis nyamuk lainnya dengan melihat
ujung abdomen meruncing dan mempunyai sersi yang menonjol, lalu dibagian lateral dada terdapat rambut postspiracular dan tidak mempunyai rambut spiracular (Mattingly, 1969). Aedes yang berperan sebagai vektor penyakit semuanya tergolong subgenus Stegomyia, dengan ciri-ciri tubuh berorak belang hitam putih pada toraks, abdomen dan tungkai. Corak ini merupakan sisik yang menempel di luar tubuh nyamuk. Corak putih pada dorsal dada Aedes aegypti berbentuk seperti siku yang berhadapan (lyre-shape), sedangkan Aedes albopictus berbentuk lurus ditengah- tengah punggung (median stripe).
Aedes aegypti merupakan ordo Diptera dan termasuk famili Culicidae. Aedes aegypti dewasa berukuran kecil dengan warna dasar hitam. Probosis bersisik hitam, palpi pendek dengan ujung hitam bersisik putih perak. Oksiput bersisik lebar, berwarna putih terletak memanjang. Femur bersisik putih pada permukaan posterior dan setengah basal, anterior dan tengah bersisik memanjang. Tibia semuanya berwarna hitam dan pada tibia belakang berlingkar putih pada segmen basal ke satu sampai ke empat dan segmen ke lima berwarna putih. Sayap berukuran 2,5 – 3,0 mm, bersisik hitam (Christophers, 1960).
Gambar 1. Nyamuk Aedes aegypti
Aedes aegypti bersifat antropofilik (senang sekali kepada manusia) dan hanya nyamuk betina yang menggigit. Nyamuk betina biasanya menggigit di dalam rumah,
kadang-kadang di luar rumah dan di tempat yang agak gelap. Pada malam hari nyamuk beristirahat dalam rumah pada benda-benda yang digantung, seperti pakaian, pada dinding rumah dan sebagainya. Nyamuk ini mempunyai kebiasaan menggigit berulang (multiple bitters), yaitu menggigit beberapa orang secara bergantian dan dalam waktu singkat. Hal ini disebabkan karena nyamuk Aedes aegypti sangat sensitif dan mudah terganggu. Keadaan ini sangat membantu Aedes aegypti dalam memindahkan virus dengue ke bebarapa orang sekaligus.
Telur Aedes aegypti berwarna hitam seperti sarang tawon, diletakkan satu demi satu di permukaan atau sedikit di bawah permukaan air dalam jarak 2,5 cm dari dinding tempat perindukan. Telur tahan sampai berbulan-bulan pada suhu –2oC sampai 42oC. Dalam keadaan tanpa air (kering) telur mampu bertahan sampai dengan 6 bulan. Namun bila kelembaban terlampau rendah, maka telur akan menetas dalam 4 hari. Dalam keadaan optimal telur akan menetas menjadi larva setelah dua hari terendam air. Larva nyamuk akan tubuh menjadi pupa nyamuk setelah 6 – 8 hari.
Kepala larva berkembang baik dengan sepasang antena dan mata majemuk serta sikat mulut yang menonjol. Abdomen larva terdiri atas 9 ruas yang jelas dan ruas terakhir dilengkapi dengan tabung udara (sifon) berbentuk silinder. Tahap larva adalah tahap makan. Perbedaan antara kedua jenis larva nyamuk Aedes hanya dapat dilihat dibawah mikroskop dengan melihat bentuk pekten sifon dan comb pada ruas terakhir abdomen (Christophers, 1960).
Pupa nyamuk berbentuk seperti koma, kepala dan dada bersatu dilengkapi dengan terompet pernafasan. Tahap pupa adalah tahap tidak makan. Pupa nyamuk masih dapat aktif bergerak di dalam air dan setelah 1-2 hari akan memunculkan nyamuk Aedes aegypti baru. Secara ringkas maka perkembangan telur sampai dengan nyamuk dewasa berlangsung sekurang-kurangnya 9 hari. Nyamuk setelah muncul dari pupa akan mencari pasangan kemudian mengadakan perkawinan. Setelah perkawinan inilah nyamuk siap mencari darah untuk perkembangan telurnya. Nyamuk betina dewasa yang mulai menghisap darah manusia kemudian 3 hari sesudahnya sanggup bertelur sampai dengan 100 butir dengan ukuran 0,7 mm per butir. Dua puluh empat jam kemudian nyamuk mulai menghisap darah lagi,
selanjutnya kembali bertelur. Walaupun nyamuk betina berumur kira-kira 10 hari, waktu tersebut cukup untuk untuk berkembang biak dan selanjutnya menyebarkan virus ke manusia. Pada saat nyamuk menghisap darah manusia yang kebetulan menderita demam dengue, virus dengue turut masuk ke dalam tubuh nyamuk. Virus yang dihisap masuk ke dalam saluran pencernaan kemudian sampai di hemosul dan kelenjar ludah. Virus memerlukan waktu 8 – 11 hari untuk dapat berkembang biak baik secara propagatif agar dapat menjadi infektif (masa tunas ekstrinsik). Kemudian nyamuk akan tetap infektif selama hidupnya. Nyamuk betina dapat terbang sejauh 2 kilometer, tetapi kemampuan normalnya adalah kira-kira 50 meter (Horsfall, 1955; Dit Jen. PPM &PLP, 1990). Virus dengue dapat ditularkan secara transovarial dari nyamuk betina Aedes aegypti melalui telur hingga keturunannya (Rosen et al, 1983).
Infeksi virus dengue melalui vektor nyamuk Aedes aegypti ditunjukkan pada Gambar 2.
Gambar 2. Infeksi virus dengue melalui vektor nyamuk Aedes aegypti (Mullen, 2002) Manusia Nyamuk Aedes aegypti Manusia Nyamuk Aedes aegypti Belum terinfeksi terinfeksi Infeksi pada vektor Inkubasi ekstrinsik Transmisi vektor
Infeksi pada manusia Inkubasi intrinsik Infeksi pada vektor
Manusia sebagai inang dan sumber
Berdasarkan Gambar 2, maka komponen pada siklus transmisi adalah :
- Inang vertebrata mengembangkan tingkat infeksi yang merupakan infeksi kepada vektor
- Inang antropoda atau vektor mampu melakukan transmisi - Satu atau lebih inang vertebrata terinfeksi setelah digigit vektor
Untuk dapat memberantas nyamuk Aedes aegypti secara efektif terdapat 3 perilaku nyamuk yang perlu diketahui, yaitu: perilaku mencari darah, istirahat dan berkembang biak. Perilaku mencari darah dilakukan pada saat setelah kawin dimana nyamuk betina memerlukan darah untuk bertelur. Nyamuk betina menghisap darah manusia setiap 2 – 3 hari sekali dan pada pagi hari sampai dengan sore, lebih disukai pada jam 08.00 – 12.00 dan 15.00 – 17.00. Untuk memperoleh darah yang cukup nyamuk betina lebih sering menggigit lebih dari 1 orang. Perilaku istirahat nyamuk Aedes aegypti adalah setelah kenyang menghisap darah, nyamuk betina perlu beristirahat 2 – 3 hari untuk mematangkan telurnya. Tempat istirahat yang paling disukai adalah tempat-tempat yang lembab, dan kurang terang seperti kamar mandi, WC, dapur; di dalam rumah seperti baju yang digantung, kelambu dan tirai, di luar rumah seperti pada tanaman hias di halaman rumah.
Keberadaan Aedes aegypti yang mula-mula ditemukan di Ujung Pandang pada tahun 1860 oleh Walker (Christophers, 1960) kemudian menyebar luas dan ditemukan di Jawa, Bali, Sumatera, Kalimantan, Maluku, Nusa Tenggara dan Irian Jaya. Penyebaran Aedes aegypti yang kosmopolit dan menjangkau daerah yang sangat luas erat kaitannya dengan perkembangan sistem transportasi. Penyebaran spesies nyamuk ini di Indonesia bermula dari kota-kota pelabuhan ke kota-kota di pedalaman termasuk ke desa-desa, diakibatkan oleh transportasi yang mengangkut tempat-tempat penampungan air hujan seperti drum, kaleng, ban bekas, dan benda-benda lainnya yang mengandung larva Aedes aegypti. Penyebaran populasi Aedes aegypti juga erat kaitannya dengan perkembangan pemukiman penduduk akibat didirikannya rumah- rumah baru yang dilengkapi dengan sarana pengadaan air untuk keperluan sehari- hari.
Perilaku berkembang biak nyamuk Aedes aegypti adalah bertelur dan berkembang biak di tempat penampungan air yang bersih, yaitu: tempat penampung air untuk keperluan sehari-hari sepeti bak mandi, tempayan, drum air, bak menara air yang tidak tertutup; wadah yang berisi air bersih atau air hujan seperti: tempat minum burung, vas bunga, ban bekas, potongan bambu yang dapat menampung air, talang rumah, ketiak daun-daun tebal, lubang pohon, kaleng, botol dan barang bekas lainnya.
Pengendalian Nyamuk Demam Berdarah
Lingkungan pemukiman manusia yang umumnya berupa suatu kompleks bangunan tempat tinggal berikut berbagai fasilitas yang berhubungan dengan berbagai hajat hidupnya, termasuk juga jalan, selokan, berikut tanaman pekarangan dan hewan-hewan peliharaan merupakan suatu ekosistem tersendiri yang unik. Lingkungan tersebut dibangun dan diciptakan terutama untuk kepentingan kenyamanan hidup manusia, tetapi pada kenyataannya banyak mahluk hidup lainnya ikut memanfaatkan kondisi itu sebagai habitat, tempat istirahat dan tempat mencari makan.
Permasalahan hama pemukiman termasuk nyamuk Aedes aegypti timbul sebagai resultante dari faktor-faktor (Rabb, 1972):
1. Tingkat bahaya, kerugian atau gangguan yang mungkin ditimbulkan oleh hama tersebut.
2. Tingkat populasi hama di lingkungan pemukiman.
3. Tingkat toleransi pemukim terhadap keberadaan hama lingkungannya
Di dalam ekosistem, populasi suatu jenis hama untuk jangka panjang ada pada tingkat keseimbangan, sesuai dengan komponen-komponen biotik maupun abiotik yang membentuk ekosistem. Namun untuk jangka waktu pendek, sebenarnya tingkat populasi tersebut berfluktuasi tergantung pada faktor-faktor lingkungan yang mengendalikannya. Faktor-faktor tersebut dapat dikelompokan menjadi dua macam menurut keefektifan kerjanya, yaitu:
(1) faktor yang terpengaruh oleh kepadatan populasi serangga atau density dependent factors,
(2) faktor yang tidak terpengaruh oleh kepadatan populasi hama atau density independent factors.
Faktor-faktor pengendali yang terpengaruh oleh kepadatan adalah terutama makanan dan musuh-musuh di alam (predator, parasit, patogen). Faktor-faktor pengendali yang tidak terpengaruh oleh kepadatan adalah komponen-komponen cuaca terutama suhu, kelembaban serta berbagai faktor fisik habitat tersebut. Dalam konsep pengendalian hama perlu terlebih dahulu ditanamkan paham bahwa suatu populasi hama tidak mungkin dapat diberantas habis, kecuali dalam suatu lokasi yang amat terbatas dan benar-benar terisolasi dari populasi lainnya. Selama lapangan atau areal merupakan lingkungan yang mempunyai hubungan bebas secara fisik, biologis serta sosial ekonomis dengan lingkungan sekitarnya, maka harus dilakukan pendekatan pengendalian populasi. Pendekatan ini hanya menekan populasi hama sampai ketingkat yang tidak membahayakan, tidak merugikan atau tidak merupakan gangguan pada manusia.
Menurut Metcalf (1982), dengan mempelajari sifat-sifat nyamuk, biologi dan perilakunya di alam yang sedemikian kompleks, strategi pengendalian nyamuk Aedes aegypti dapat dirancang. Secara umum pengendalian nyamuk dapat dilakukan dengan dua cara yaitu pengendalian non kimiawi dan kimiawi. Pengendalian non kimiawi pada dasarnya adalah berbagai upaya untuk membuat keadaan lingkungan menjadi tidak sesuai lagi bagi perkembangan nyamuk Aedes aegypti. Pengendalian ini salah satunya adalah dengan modifikasi lingkungan secara permanen agar tempat perindukan nyamuk tidak tersedia. Kegiatan ini di Indonesia dikenal sebagai Pengendalian Sarang Nyamuk 3M yang berarti menutup, menguras dan menimbun berbagai tempat yang menjadi sarang nyamuk.
Pengendalian nyamuk secara kimiawi dilakukan menggunakan insektisida. Insektisida dan cara-cara aplikasinya yang banyak digunakan di Indonesia adalah larvasida, berbagai repelan dan insektisida yang digunakan dalam bentuk semprot dan lainnya.
Menurut Rabb (1972), penggunaan insektisida dilakukan hanya bila diperlukan saja dengan mempertimbangkan efek samping insektisida. Bagi ekosistem permukiman yang utama harus dipertimbangkan adalah: (1) kemungkinan keracunan
langsung pada para pemukim maupun makhluk bukan sasaran lainnya, (2) kemungkinan pencemaran berbagai medium berkaitan dengan kepentingan
aktivitas makhluk hidup lainnya, (3) kemungkinan timbul resistensi pada populasi hama serangga sasaran setelah beberapa generasi. Dalam hal alternatif pestisida yang dipilih, maka masih ada satu persoalan lagi yang krusial yaitu bagaimana cara aplikasinya. Cara aplikasi yang akan dipilih harus efektif, efesien, murah, mudah, diterima dikalangan masyarakat dan tidak merusak lingkungan.
Toksikologi Insektisida
Interaksi kimiawi toksik dengan sistem biologi berhubungan dengan dosis. Toksisitas pada suatu organisme selalu dinyatakan dalam istilah LD50 (lethal dose) yang berarti jumlah racun per unit berat organisme yang dibutuhkan untuk membunuh 50% populasi percobaan. Satuan dari LD50 dinyatakan dalam mg insektisida per Kg berat organisme. Pada kondisi bahan kimia/insektisida digunakan untuk serangga, maka LD50 dinyatakan dalam mikrogram insektisida per serangga (μ g/serangga).
Konsentrasi bahan kimia yang digunakan secara eksternal yang dapat membunuh 50% hewan dinamakan LC50 (lethal concentration). Nilai ini digunakan ketika dosis yang pasti pada serangga tidak dapat ditentukan. Istilah LT50 (lethal time) merepresentasikan waktu yang dibutuhkan sehingga menyebabkan kematian 50% hewan percobaan pada dosis atau konsentrasi tertentu (Perry et al, 1998). Metode ini digunakan ketika jumlah hewan percobaan terbatas dan sering digunakan pada pengujian lapangan dimana sulit mengumpulkan jumlah serangga yang cukup untuk suatu pengujian. Pada kasus tertentu digunakan nilai KD50 (knockdown dose)