• Tidak ada hasil yang ditemukan

Halaman

DAFTAR TABEL... iii DAFTAR GAMBAR ... iv DAFTAR LAMPIRAN... v PENDAHULUAN ... 1 Latar Belakang ... 1 Tujuan ... 3 TINJAUAN PUSTAKA ... 4

Teknologi Near infrared (NIR)... 4 Kalibrasi dan Validasi ... 7 Tepung Ikan ... 7

Teknologi Pengolahan Tepung Ikan ... 10 Cara Kering... ... 11 Cara Basah... ... 12

Mutu Tepung Ikan... 13 Energi Bruto ... 15 Energi Metabolis ... 15

METODOLOGI PENELITIAN... 17 Waktu dan Tempat ... 17 Bahan dan Alat... 17 Prosedur Penelitian ... 19 Pengukuran Pantulan Spektrum ... 20

Penentuan Kandungan Energi Metabolis... ... 21 Metode Analisa Energi Bruto... ... 21 Pengolahan dan Analisis Data... 23 Metode Regresi Linier Berganda... ... 23 Metode Orincipal Component Regression ... 24

HASIL DAN PEMBAHASAN... 26 Reflektan Near Infrared Tepung Ikan... 26 Absorbansi Near Infrared Tepung Ikan... 26 Analisis Data Regresi Linier Berganda... 27 Pendugaan Energi Bruto Reflektan ... 28 Pendugaan Energi Absorban ... 31 Pendugaan Energi Metabolis Reflektan ... 35

Pendugaan Energi Bruto Absorban... 46 Pendugaan Energi Metabolis Absorban ... 48

KESIMPULAN DAN SARAN... 49 Kesimpulan ... 49 Saran... ... 49

DAFTAR PUSTAKA ... 51 LAMPIRAN ... 56

iii

DAFTAR TABEL

Halaman

1. Persyaratan Mutu Standar Tepung Ikan... 14 2. Hasil validasi pendugaan nilai Energi Bruto

berdasarkan Reflektan... 31

3. Hasil validasi pendugaan nilai Energi Bruto

berdasarkan Absorban ... 34

4. Hasil validasi pendugaan nilai Energi Metabolis

berdasarkan Reflektan ... 38

5. Hasil validasi pendugaan nilai Energi Metabolis

berdasarkan Absorban ... 41

6. Hasil validasi pendugaan nilai Energi Bruto

berdasarkan Absorban ... 46

7. Hasil validasi pendugaan nilai Energi Metabolis

Halaman 1. Proses Penyinaran Infrared pada Bahan... 5 2. Skema Pengolahan Tepung Ikan Cara Kering ... 11 3. Skema Pengolahan Tepung Ikan Cara Basah... 13 4. Peralatan Near infrared (NIR) ... 18 5. Sistem Pengukuran NIR... 18 6. Prosedur Pengujian Sistem Near Infrared... 19 7. Reflektan 50 buah sample tepung ikan ... 26 8. Absorbansi 50 buah sample tepung ikan... 27 9. Grafik perbandingan nilai energi bruto bahan dugaan NIR

dengan hasil uji kimia pada tahap reflektan kalibrasi 35 sampel... 29 10. Grafik perbandingan nilai energi bruto bahan dugaan NIR

dengan hasil uji kimia pada tahap reflektan validasi 15 sampel ... 30 11. Grafik perbandingan nilai energi metabolis dugaan NIR

dengan hasil uji kimia pada tahap reflektan kalibrasi 35 sampel... 32 12. Grafik perbandingan nilai energi metabolis dugaan NIR

dengan hasil uji kimia pada tahap reflektan validasi 15 sampel ... 33 13. Grafik perbandingan nilai energi bruto bahan dugaan NIR

dengan hasil uji kimia pada tahap absorbansi kalibrasi 35 sampel... 36 14. Grafik perbandingan nilai energi bruto bahan dugaan NIR

dengan hasil uji kimia pada tahap absorbansi validasi 15 sampel ... 37 15. Grafik perbandingan nilai energi metabolis dugaan NIR

dengan hasil uji kimia pada tahap absorbansi kalibrasi 35 sampel... 39 16. Grafik perbandingan nilai energi metabolis dugaan NIR

dengan hasil uji kimia pada tahap absorbansi validasi 15 sampel ... 40 17. Grafik kumulatif variasi sebagai fungsi dari jumlah komponen utama . 45

v

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1. Hasil pemilihan panjang gelombang pendugaan nilai

Energi Bruto (EB) dari data reflektan ... 56

2. Hasil pemilihan panjang gelombang pendugaan nilai

Energi Bruto (EB) dari data absorban ... 58

3. Hasil pemilihan panjang gelombang pendugaan nilai

Energi Metabolis (EM) dari data reflektan ... 60

4. Hasil pemilihan panjang gelombang pendugaan nilai

Energi Metabolis (EM) dari data absorban ... 74

5. Dua puluh bobot yang diekstrak dari data absorbansi tepung ikan

dengan analisis komponen utama ... 84

6. Persamaan regresi dari komponen utama ... 95 7. Nilai akar ciri pada sepuluh komponen utama ... 97

Latar Belakang

Dalam rangka menjamin konsisitensi kandungan nutrisi ransum, bahan pakan harus dimonitor secara terus menerus jenis, kondisi dan kandungan nutrisinya. Idealnya setiap bahan pakan, diuji kandungan gizinya pada setiap bahan datang, namun karena mempertimbangkan waktu dan biaya dengan menggunakan metode konvensional, maka evaluasi dilakukan dengan frekuensi terbatas. Frekuensi evaluasi tergantung kepada jenis bahan baku yang digunakan. Menurut Leeson dan Summers (1997) kandungan kadar air setiap bahan harus dimonitor pada setiap kedatangan. Protein kasar jagung dan dedak padi dimonitor pada setiap minggu, kacang kedelai setiap bulan, tetapi untuk bungkil kedelai dan tepung ikan harus dimonitor untuk setiap kedatangan. Lemak kasar jagung dan dedak padi dimonitor setiap dua bulan, bungkil kedelai dan kedelai cukup sekali sebulan, tetapi untuk tepung ikan harus dilakukan setiap kedatangan. Kalsium dan phosphor jagung, dedak dan kacang kedelai dimonitor setiap enam bulan, bungkil kedelai sekali sebulan, sedangkan untuk tepung ikan dilakukan setiap kedatangan. Asam amino dimonitor sekali enam bulan, kecuali bungkil kedelai sekali empat bulan dan tepung ikan setiap bulan. Dengan tingginya frekuensi evaluasi kandungan kimia bahan tersebut maka diperlukan metode penentuan yang cepat, murah dan akurat.

Salah satu bahan pakan yang digunakan adalah tepung ikan. Tepung ikan merupakan hasil industri pengolahan hasil perikanan yang sangat penting, mengingat tepung ikan sangat diperlukan untuk kegiatan industri peternakan dan perikanan, dalam menyusun pakan sebagai sumber protein. Sejalan dengan berkembangnya industri peternakan dan budidaya ikan atau udang, kebutuhan tepung ikan selalu meningkat. Sampai saat ini tepung ikan masih diimpor dari beberapa negara seperti Chili, Peru dan Thailand (Sunarya dan Djazuli, 1998). Impor tepung ikan Indonesia pada tahun 2002 adalah sebesar 524.120 ton (Statistik Hasil Impor Perikanan, 2004), sedangkan produksi tepung ikan lokal pada tahun yang sama adalah sebesar 8.346 ton (Statistik Perikanan Indonesia, 2004).

2 Metode konvensional Association Official Analitic Chemist (AOAC, 1999) untuk menentukan kandungan gizi bahan pakan membutuhkan bahan kimia dan peralatan yang beragam, waktu yang lama dan prosedur yang rumit, sehingga membutuhkan biaya yang mahal. Penentuan kadar air dilakukan dengan pengeringan dalam oven selama 5 jam. Penentuan kadar air protein dilakukan dengan metode kjelhdal membutuhkan 8 macam bahan kimia, prosedurnya juga cukup rumit dan membutuhkan waktu yang lama terutama dalam proses pendidihan dan destilasi. Penentuan kadar lemak kasar dan serat kasar membutuhkan waktu yang lama dalam proses ekstraksi (minimal 5 jam ), filtrasi dan pengeringan kadar abu membutuhkan waktu yang lama dalam pengendapan kalsium. Prosedur yang paling rumit dan biaya yang mahal dibutuhkan pada analisis asam amino. Pengukuran Energi Metabolis (EM) secara konvensional dilakukan dengan percobaan menggunakan ternak (bioassay) selama beberapa hari (Sibbald dan Wolynetz, 1985; Farrel,1999).

Berdasarkan permasalahan tersebut perlu dicarikan metode alternatif untuk mengetahui nilai gizi bahan pakan dengan cepat, murah, mudah dan keakuratannya dapat dipertanggungjawabkan. Pada saat ini sejumlah teknik instrumentasi yang didasarkan pada sifat fisik bahan telah dikembangkan. Salah satu teknik tersebut adalah pengukuran reflektan cahaya near infrared (NIR) yang dipancarkan ke bahan. Data dipengaruhi oleh jumlah dan tipe ikatan C-H, N-H dan O-H bahan yang dianalisis. Karakteristik tersebut erat hubungannya dengan komposisi kimia bahan (Williams dan Norris, 1990; Osborne et al., 1993). Berdasarkan hubungan tersebut dikembangkan metode pendugaan kandungan gizi menggunakan spectra NIR tersebut. Keuntungan metode ini adalah dalam pengukuran spectra NIR dapat dilakukan tanpa persiapan sampel yang rumit karena dapat dilakukan langsung pada material yang utuh atau bisa juga pada sampel dalam bentuk tepung. Dengan demikian pengukuran dapat dilakukan dengan cepat, murah dan tanpa bahan kimia.

Near Infrared (NIR) merupakan salah satu metode analisis untuk mengukur kandungan kimia bahan dengan cepat, tanpa merusak dan hanya membutuhkan contoh (sample) sederhana untuk persiapan. Ikatan Kovalen (covalent bond) antara atom-atom cahaya seperti C, N, H, O dan P, pada umumnya menyerap energi dalam jangkauan inframerah dimana atom-atom tersebut memiliki frekwensi vibrasi dasar

dan kombinasi yang dapat dideteksi pada wilayah kerja NIR yaitu 700 nm hingga 2500 nm. Analisis NIR, juga telah menjadi bagian terpenting dalam menentukan kadar protein, kadar air gandum dan produk palawija lainnya selama hampir 30 tahun. Hal lain yang juga menarik adalah cara ini digunakan juga secara luas untuk analisa beras.

Tingkat penerimaan metode pengukuran dengan pantulan infra merah dekat sangat ditentukan oleh kualitas spektrum yang didapat selama pengukuran dan metode matematika yang akan digunakan dalam analisis. Beberapa metode matematika yang digunakan dalam analisis pantulan infra merah dekat adalah regresi liniear berganda (multiple regression), regresi komponen utama (Principal Component Regression, PCR), partial least square, regresi transformasi fourier dan jaringan syaraf tiruan.

Tujuan penelitian ini adalah mengkaji metoda NIR untuk memprediksi kandungan energi bruto tepung ikan sebagai salah satu bahan pakan ternak. Hasil penelitian akan dapat membantu peternak dan industri makanan ternak memformulasikan ransum secara adaptif sesuai dengan kandungan gizi bahan yang digunakan pada saat ini.

TINJAUAN PUSTAKA

Teknologi Near Infrared (NIR)

Metode Near Infrared (NIR), cahaya infra merah dekat saat ini merupakan salah satu metode analisis yang cukup populer disebabkan berbagai kelebihannya antara lain tidak bersifat destruktif, singkat, biaya tenaga kerja relatif rendah, kebutuhan bahan-bahan kimia sedikit, dapat bersifat massal dan tidak menimbulkan masalah limbah.

Penerapan metode NIR telah lama berkembang terutama untuk keperluan bahan pangan/pertanian, kedokteran/farmasi, minyak dan industri-industri kimia. Untuk bahan pangan dan hasil pertanian seperti kedelei, jagung, beras, daging, telur, ikan, hortikultur (sayur dan buah-buahan), metode NIR dapat digunakan untuk penentuan komposisi kimia seperti kadar air, lemak, asam, gula, protein dan berbagai senyawa lainnya.

Infra merah dekat merupakan bagian dari spektrum gelombang elektromagnetik dimana panjang gelombangnya sedikit diatas daerah tampak yaitu antara 700-2500nm. Selain itu daerah infra merah dekat memiliki energi yang relatif rendah dan stabil, dalam interaksi terhadap molekul-molekul hanya akan menimbulkan vibrasi ikatan inter atomic. Keunggulan dari gelombang infra merah dekat dalam analisis khususnya analisa bahan makanan yaitu gabungan antara kecepatan, tingkat ketepatan, dan kemudahan dari percobaan yang dilakukan (Osborne et al .1993).

Informasi dari spektrum pantulan ini bisa didapat karena radiasi infra merah dekat yang dipancarkan oleh sumber radiasi berkorespondensi dengan frekuensi vibrasi dari molekul-molekul yang ada di dalam bahan organik karena setiap ikatan kimia CH, NH, dan OH memiliki frekuensi vibrasi tertentu sedangkan yang tidak berkorespondensi dengan molekul yang ada dalam bahan tersebut akan dipantulkan. Spektrum pantulan yang dihasilkan berisi hasil pengukuran parameter- parameter dan parameter tersebut dijelaskan oleh panjang gelombang dalam nanometer, amplitudo dengan tinggi puncak gelombang dan lebar gelombang menjelaskan intensitasnya

sehingga dengan parameter-parameter ini seluruh informasi penyerapan dari suatu bahan dapat dijelaskan (Murray dan Williams, 1990).

Informasi yang tercakup dalam spektrum infra merah dekat cukup banyak karena setiap bahan memiliki spektrum pantulan atau serapan infra merah dekat yang unik dan beragam dan juga hal ini dapat menyebabkan kesulitan dalam menginterpretasi spektrum tersebut.

Cahaya infra merah dekat yang mengenai suatu bahan memiliki energi yang kecil dan hanya menembus sekitar satu millimeter permukaan bahan, tergantung dari komposisi bahan tersebut. Jika cahaya mengalami penyebaran, spektrum tersebut tetap mengandung informasi contoh penyerapan permukaan bahan tetapi terjadi distorsi pada puncak gelombang. Variasi pada ukuran dan suhu partikel sampel mempengaruhi penyebaran radiasi infrared pada saat melewati sampel (Dryden, 2003). Partikel berukuran besar tidak dapat menyebarkan radiasi infrared sebanyak partikel kecil (Dryden, 2003). Makin banyak radiasi yang diserap dapat memberikan nilai absorban yang tinggi dan efeknya besar pada panjang gelombang yang diserap lebih kuat (Dryden, 2003). Proses pemantulan dan penyerapan cahaya infra merah dapat dilihat pada Gambar 1.

Infrared

Transmitten

Reflection

Gambar 1 Proses penyinaran infrared pada bahan

Berdasarkan sifat absorbansi dan reflektan dari energi radiasi yang dipancarkan, maka NIR dapat digunakan untuk mengkaji komposisi kimia bahan, termasuk bahan hasil pertanian dan bahan pangan. Evaluasi kualitas bahan hasil pertanian telah menggunakan perangkat dari radiasi infra merah dekat, (Norris dan Hart,1962), Evaluasi komposisi bahan lebih didasarkan pada jumlah energi radiasi

yang diserap (absorb), dibandingkan dengan jumlah energi yang dipantulkan

(reflectant). Berdasarkan energi radiasi yang diserap pada kedalaman beberapa nm

6 dalam bahan, bukan hanya komposisi kimianya yang terdeteksi, namun kerusakan bahan pangan dan pakan juga dapat terdeteksi tanpa merusak bahan.

Teknologi NIR juga telah banyak diterapkan dalam menganalisis kandungan suatu bahan pangan atau pakan karena lebih mudah, sangat cepat dan tidak menimbulkan polusi. Pantulan infra merah dekat digunakan untuk pengukuran langsung kandungan sukrosa dan asam sitrat pada jeruk Mandarin (Miyamoto et al.1998).

Rosita (2001) menerapkan teknologi NIR untuk memprediksi mutu buah duku berdasarkan kadar gula dan kekerasan buah dengan nilai korelasi yang dihasilkan 0,91, standard error 0,87 dan koefisien keragaman sebesar 5,93.

Fontaine et al. (2001) menerapkan NIR dalam menduga kandungan asam amino kedelai. Didapat bahwa 85 – 98% variasi asam amino mampu dijelaskan dengan baik menggunakan NIR.

Fontaine et al. (2001) telah menggunakan NIR untuk memprediksi

kandungan asam amino esensial beberapa bahan pakan yakni kedelai, rapeseed meal, tepung biji bunga matahari, kacang polong, tepung ikan, tepung daging dan tepung produk samping pemotongan ayam (poultry by product).

Teknologi NIR digunakan pada pendugaan kadar air, karbohidrat, protein dan lemak tepung jagung pada panjang gelombang 900-1400 nm. Hasil pendugaan bahwa data reflektan dapat menganalisa kadar protein lebih baik dari data absorban. Data absorbansi dapat mengukur karbohidrat, lemak dan kadar air lebih baik daripada data reflektan (Mitamala, 2003). Panjang gelombang 900-2000 nm dapat digunakan dalam menduga kadar air, karbohidrat, protein, lemak dan amilosa beras (Oryza Sativa L.) secara cepat dan akurat dengan teknologi near infrared

(Kusumaningtyas,2004).

Kelebihan penggunaan metode NIR antara lain disebabkan banyak komposisi kimia dari bahan pangan/pertanian yang menyerap (absorpsi) atau memantulkan (reflektan) cahaya pada rentang panjang gelombang 0.7-3 μm. Protein, air, asam, lemak, gula dan senyawa-senyawa kimia lainnya memiliki pola serapan yang khas berbeda satu dengan lainnya pada setiap panjang gelombang cahaya yang diberikan.

Kendala metode NIR adalah biaya investasi alat yang tinggi. Metode NIR masih tergolong sekunder karena memerlukan tahap kalibrasi terutama bagi sampel uji yang belum pernah menggunakan metode ini misalnya tepung ikan, bungkil inti sawit, dedak. Metode NIR sangat membantu pekerjaan analisis yang bersifat rutin, seperti kadar air, serat kasar, protein, dan lemak. Metode ini sangat sesuai karena tidak lagi banyak memerlukan tahap kalibrasi.

Kalibrasi dan Validasi

Untuk menganalisa pantulan infra merah dekat maka spektrum pantulan infra merah dekat dan nilai referensi di laboratorium perlu diukur. Hubungan antara spektrum pantulan dan nilai referensi diperoleh dengan cara metode matematika dengan cara mengkalibrasinya. Kesulitan dalam kalibrasi menurut Osborne et al.

(1993) adalah masalah informasi alam yang kompleks dalam spektrum infra merah contohnya setiap puncak spektrum hampir selalu tumpang tindih (overlapped) oleh satu atau lebih puncak-puncak yang lain. Berbagai macam metode kalibrasi spektrum infra merah telah tersedia tetapi dapat dibagi dalam dua kategori yaitu metode kalibrasi untuk panjang gelombang terpilih atau sering disebut metode lokal dan metode yang melibatkan seluruh spektrum atau sering disebut metode global atau juga disebut dengan metode kalibrasi spektrum penuh (full spectrum calibration methods) contohnya Principal Components Regression (PCR) dan Partial Least Square (PLS). Metode full-spectrum banyak digunakan karena dengan metode ini data dalam spektrum direduksi untuk mencegah masalah overfitting tanpa kehilangan satu atau beberapa informasi yang sangat berguna.

Jumlah sampel yang digunakan untuk kalibrasi maupun validasi harus cukup banyak. Jumlah sampel untuk kalibrasi harus lebih banyak dari pada untuk keperluan validasi, disarankan minimal 90% dari total sampel yang digunakan.

Tepung Ikan

Tepung ikan adalah salah satu sumber gizi yang lengkap dan sangat potensial dalam pembuatan pakan. Faktor yang sangat penting dalam pengembangan

8 usaha peternakan dan budidaya ikan adalah tersedianya pakan sehingga untuk menstimulasi produksi tersebut selain mengusahakan adanya pakan alami juga perlu ditambahkan pakan tambahan yang merupakan sumber gizi yang dapat melengkapi pakan alami. Pakan tersebut harus mempunyai kandungan gizi yang lengkap berupa protein, asam amino, lemak, asam lemak, vitamin, kalori dan mineral yang akan mampu meningkatkan produksi (Sunarya, 1990 dan Saleh, 1990).

Kegunaan tepung ikan adalah sebagai bahan campuran pakan ternak, unggas serta ikan dan berfungsi sebagai sumber protein. Tepung ikan yang akan digunakan sebagai sumber protein pakan harus memenuhi kualitas yang dipersyaratkan baik secara organoleptik, fisik, kimiawi dan bakteriologis maupun metode pengolahannya. Tepung ikan produk dalam negeri harus dapat memenuhi persyaratan ini agar dapat bersaing dengan produk impor. Secara umum tepung ikan yang berkualitas baik mengandung protein kasar antara 60% hingga 70% dan kaya akan asam amino esensial. Asam amino esensial yaitu asam amino yang mutlak diperlukan oleh hewan atau ternak dan harus tersedia di dalam makanannya sebab asam amino esensial itu tidak dapat dibuat di dalam tubuh hewan atau ternak itu sendiri. Komposisi asam amino yang ada pada tepung ikan antara lain lysine, methionine dan cystine, yang selalu kurang dalam bahan-bahan makanan ternak asal nabati (Rasyaf, 1990). Protein dari bahan nabati biasanya miskin akan methionine, hal ini dapat diperbaiki dengan menambahkan tepung ikan yang kaya akan methionine (Firdaus,1999). Tepung ikan merupakan penyumbang protein hewani pada pakan ternak. Pada formulasi ransum ternak 80% bahan pakan berasal dari nabati sehingga protein yang diperoleh juga berasal dari protein nabati. Protein nabati (asal tumbuh-tumbuhan) lebih sukar dicerna daripada protein hewani (asal hewan). Hal ini karena protein nabati terbungkus dalam dinding selulose yang sukar dicerna. Umumnya kandungan asam amino esensial dari protein nabati kurang lengkap dibandingkan dengan protein hewani (Mudjiman, 1984). Moeljanto (1982) menjelaskan bahwa jenis vitamin yang paling banyak ditemukan pada tepung ikan adalah vitamin-vitamin B yaitu riboflavin, asam pantothenat, niacin dan cobalamin.

Tepung ikan yang bermutu baik harus mempunyai sifat-sifat sebagi berikut : butiran- butirannya agak seragam, bebas dari sisa-sisa tulang, mata ikan dan

benda-benda asing lainnya. Tepung ikan yang dibuat dari bahan offal (sisa dari industri fillet ikan) mempunyai kadar protein lebih rendah dan kadar mineral lebih tinggi daripada tepung ikan yang terbuat dari ikan utuh. Cara pengolahan secara modern dan tradisional juga memberikan pengaruh terhadap kadar protein tepung ikan (Sunarya,1990). Irawan (1995) berpendapat bahwa ada dua faktor yang mempengaruhi kandungan lemak dan protein yang terdapat dalam daging ikan yaitu faktor dari luar dan dari dalam. Faktor dari luar berupa tempat ikan itu hidup, sumber makanan yang didapat dan pengaruh musim. Faktor dari dalam seperti masalah umur, jenis, sifat keturunan dan jenis kelamin.

Menurut Irawan (1995), tepung ikan merupakan suatu produk padat kering yang dihasilkan dari sisa-sisa olahan atau limbah ikan, bahkan bisa juga dari hasil kelebihan pada waktu penangkapan ikan. Di Indonesia pengolahan tepung ikan masih belum menggembirakan perkembangannya. Untuk memenuhi kebutuhan sendiri, produksi dalam negeri hanya mampu memenuhi 5% dari total kebutuhan dengan mutu relatif lebih rendah (Ilyas, 1988), sedangkan 95% sisanya dipenuhi dari impor dengan volume impor 128,9 ribu ton dengan nilai US $ 72,9 juta. Kenaikan rata-rata impor tepung ikan setiap tahunnya adalah 49,30%(Warta Gappindo, 1998).

Produksi dalam negeri yang hanya mampu memenuhi sebagian kecil kebutuhan tersebut, didapatkan dari industri pengolahan tepung ikan dengan skala tradisional sampai medium yang belum beroperasi secara maksimal karena terbatasnya bahan baku.

Untuk meningkatkan mutu tepung ikan agar memenuhi standar SNI dan FAO perlu dicari cara pengolahan tepung ikan paling efektif dan efisien tetapi sesuai dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat kita. Sampai saat ini data yang berkaitan dengan hal tersebut masih sangat terbatas.

Di Indonesia, sumber bahan baku yang digunakan untuk pengolahan tepung ikan umumnya berupa jenis-jenis ikan yang kurang ekonomis (ikan rucah), hasil tangkapan samping(HTS), sisa-sisa olahan ikan (limbah pengolahan) yang berasal dari pengolahan ikan kaleng, ikan asap, ikan asin dan limbah udang. Industri tepung ikan di Banyuwangi dan daerah Pantai Barat Bali menggantungkan pada hasil tangkapan lemuru yang sangat musiman. Disamping memanfaatkan limbah dari

10 pabrik pengalengan yang mencapai 30-40% dari bahan baku untuk pengalengan serta lemuru yang tidak tertampung untuk konsumsi manusia pada musim berlimpah (Martosubroto dan Naamin 1985; Indriyati et al. 1990).

Jenis-jenis ikan yang dipakai sebagai bahan tepung ikan termasuk

ikan-ikan demersal antara lain golongan petek (Leiognathidae), kerong-kerong

(Theraponidae), buntal (Lagocephalidae, Diodonthidae), beloso (Saurida spp.), ikan kepala pipih (Platycephalidae), baronang (Singhanidae). Disamping itu termasuk pula jenis-jenis ikan pelagis yang ekonomis penting tetapi masih berukuran kecil-kecil seperti dari laying (Decapterus spp.), kembung (Rastrellinger spp), lemuru (Sardinela spp.) dan beberapa jenis selar (Carangidae) (Martosubroto dan Naamin 1985; Hardy dan Masumoto 1991).

Dalam Anonim (1985) dikemukakan bahwa selain ikan rusak, kelebihan ikan pada waktu musim penangkapan dan hasil buangan pabrik pengolahan ikan merupakan sumber yang sangat cocok untuk bahan baku tepung ikan adalah jenis-jenis ikan dasar yang berkualitas dan bernilai rendah yang dinilai sebagai “ikan sampah”. Jenis-jenis ikan sampah tersebut dikategorikan sebagai ikan komersial ketiga yang terdiri dari : kapas-kapas (Gerenidae), peperek (Leiognathidae), biji nangka, kuniran (Upeneus), pasir-pasir (Scolopsis), beloso (Saurida), kerong-kerong (Theraponidae), nomei (Harpodon), gigi anjing, mamar (Labridae), ikan hitam, buntana, greon (Acanthuridae), sedangkan ikan rucah lainnya adalah buntel duren (Diodonthidae), buntel mas, buntel pasir, buntel kelapa (Tetraodontidae), beloso (Synodus), pokol (Balistidae) dan lidah (Cynoglossidae).

Teknologi Pengolahan Tepung Ikan

Tepung ikan adalah suatu produk padat yang diperoleh dengan jalan mengeluarkan sebagian air atau seluruh lemak dari ikan atau limbah. Pengolahan tepung ikan pada prinsipnya adalah perubahan bentuk dari ikan utuh atau limbahnya menjadi bentuk tepung ikan sedangkan metode yang digunakan dapat dilakukan secara konvensional maupun secara sederhana (Erlina et al. 1985; Ilyas et al. 1985).

Teknologi pengolahan tepung ikan yang dipilih dapat ditentukan berdasarkan ketersediaan bahan mentah yang akan diolah. Jika bahan mentah yang

akan diolah menjadi tepung ikan dalam jumlah yang besar dan teratur pengadaannya, maka dapat digunakan cara konvensional yang lazim digunakan dalam industri

Dokumen terkait