• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR PUSTAKA

Dalam dokumen BIOAKUMULASI LOGAM BERAT KADMIUM (Halaman 71-98)

Akbar. S. Liong dan Maming. 2016 Analisis Logam Berat Timbal (Pb) dan Kadmium (Cd) Pada Akar, Kulit Batang, Daun Mangrove (Avicennia marina) dan Sedimen.Tanjung Bunga Makassar.Universitas Hasanuddin.

Amri, K., Muchlizar dan A. Ma’mun. 2018. Variasi Bulanan Salinitas, Ph, dan Oksigen Terlarut di Perairan Estuari Bengkalis. Majalah Ilmiah.

Amriani., B. Hendrato Dan A. Hadiyarto. 2011. Bioakumulasi Logam Berat Timbal (Pb) dan Seng (Zn) Pada Kerang Darah (Anadara Granosa L.) dan Kerang Bakau (Polymesoda Bengalensis L.) di Perairan Teluk Kendari.

Jurnal Ilmu Lingkungan. 9(2).

Angsori, M. 2017. Pengaruh Program Penanaman Mangrove Terhadap Perekonomian Masyarakat Pesisir (Studi Pada Masyarakat Pekon Paku Kecamatan Kelumbayan Kabupaten Tanggamus). Universitas Lampung.

Bandar Lampung. 24-25.

Aprianto, H. 2016. Konsentrasi Logam Cu di Sedimen dan Akar Mangrove Pada Kerapatan Mangrove Yang Berbeda di Kelurahan Ampallas, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Univesitas Hasanuddin. Makassar. 27-28.

Connell, D. W dan G. J. Miller. 1995. Kimia dan Ekotoksikologi Pencemaran.

Penerjemah; Yanti Koestoer; pendamping, Sahati. UI-Press. Jakarta Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 51 Tahun 2004 Tentang Baku Mutu Air Laut.

Darmono.1995. Logam dalam Sistem Biologi Makhluk Hidup. Universitas

Farhan, Isbir. 2017. Peranan Mangrove Avicennia Marina dan Rhizopora Apiculeta Dalam Menurunkan Logam Zn. Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Surabaya. 40-41.

Ginting, E. I., F. Idris dan A. D. Syakri. 2019. Logam Berat Kadmium (Cd) Pada Mangrove di Perairan Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Jurnal Ruaya.

7(2). Universitas Maritim Raja Ali Haji. Kepulauan Riau.73-83.

Hadi, A. M. M. H. Irawati dan Suhadi. 2016. Karakteristik Morfo-Anatomi Struktur Vegetatif Spesies Rhizopora apiculata (Rhizoporaceae). Jurnal Pendidikan. 1(9). Universitas Negeri Malang. 1688-1692.

Hafni, Roswita. 2011. Analisis Dampak Rehabilitasi Hutan Mangrove Terhadap Pendapatan Masyarakat Desa Lubuk Kertang Kabupaten Langkat.

Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Medan. 1-2.

Hakim, A. L. 2016. Bioakumulasi Logam Berat Kadmium (Cd) Pada Udang Windu ( Panaeus monodon) di Tambak Tradisional Kecamatan Jabon Kabupaten Sidoarjo. Universitas Airlangga. Surabaya. 20-22.

Hamuna, B., R. H. R. Tanjung., Suwit., H. K. Maury dan Alianto. 2018. Kajian Kualitas Air Laut dan Indeks Pencemaran Berdasarkan Parameter Fisika-Kimia Di Perairan Distrik Depapre, Jayapura. Jurnal Ilmu Lingkungan.

16(1).

Hanum, P. L. 2018. Analisis Kualitas Air Sebagai Parameter Kesesuaian Wisata Bahari di Pantai Gemah Kabupaten Tulungagung. Universitas Islam Negeri Sunan Ampelsurabaya.

Hasriyanti. 2015. Tipe Gelombang dan Pasang Surut di Perairan Pulau Dutungan Kabupaten Barru Sulawesi Selatan. Jurnal Sainsmat. Universitas Negeri Makassar. 14-27.

Hasriyanti. 2015. Tipe Gelombang dan Pasang Surut di Perairan Pulau Dutungan Kabupaten Barru Sulawesi Selatan. Jurnal Sainsmat. 4(1).

Hayati, N. F. 2016. Profil Distribusi Dan Kondisi Mangrove Berdasarkan Pasang Surut Air Laut di Pulau Bangkobangkoang Kecamatan Liukang Tupabbiring Kabupaten Pangkep. Universitas Hasanuddin. Makassar.

Heriyanto, N. M. 2011. Kandungan Logam Berat Padatumbuhan, Tanah, Air, Ikan dan Udang di Hutan Mangrove. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman. 8(4).

197-205.

Hidayah, A. M., Purwanto dan T. R. Soeprobowati. 2014. Biokonsentrasi Faktor Logam Berat Pb, Cd, Cr dan Cu pada Ikan Nila (Oreochromis niloticus Linn.) di Karamba Danau Rawa Pening. Bioma. 16(1). 1-9.

IACD/CEDA. 1997. Conventions, Codes, and Conditions : Marine Disporsal.

Environmental Aspects of Dredging Indonesia- Press. Jakarta.

Kartikasari, V., S.D. Tandjung dan Sunarto. 2002. Akumulasi Logam Berat Cr dan Pb Pada Tumbuhan Mangrove Avicennia Marina di Muara Sungai Babon Perbatasan Kota Semarang dan Kabupaten Demak Jawa Tengah.

Manusia dan Lingkungan. 9(1). 1-3.

Kawung, N. R., R.R. Rompas., J. J. H. Paulus., M.T.Lasut dan D. H. M. Mantiri dan N. D. Rymampuk. 2018. Analisis Akumulasi Kandungan Logam Kadmium Pada Akar dan Daun Mangrove di Perairan Basaan-Belang Kabupaten Minahasa Tenggara Dan Likupang Kabupaten Minahasa Utara.

Jurnal Pesisir dan Laut Tropis. 1(1). niversitas Sam Ratulangi, Manado.98-106.

Khairuddin, M. Yamin dan A. Syukur. 2018. Analisis Kandungnan Logam Berat pada Tumbuhan Mangrove Sebagai Bioindikator di Teluk Bima. Jurnal Biologi Tropis. Universitas Mataram. 18(1).

Kurniansyah, B. 2019. Studi Zonasi Vegetasi Mangrove Menggunakan Data Penginderaan Jauh di Muara Sungai Banyuasin Dan Muara Sungai Musi Kabupaten Banyuasin. Universitas Sriwijaya. Inderalaya. 21-23.

Lase, V. A., Yunasfi dan Desrita. 2016. Daya Serap Mangrove Avicennia marina Terhadap Logam Berat Kadmium (Cd) dan Timbal (PB) di Kampung Nelayan Kecamatan Medan Belawan Sumatera Utara. Universitas Sumatera Utara. Medan.

Lestari, N. E. N. Pola Distribusi Populasi Rhizopora apiculata di Hutan Mangrove Pantai Bilik Taman Nasional Baluran. Universitas Jember. Jawa Timur.

Mahardika, D. I dan I. R. S. Salami dan I. R. S. Salami. 2012. Profil Distribusi Pencemaran Logam Berat Pada Air Dan Sedimen Aliran Sungai Dari Air Lindi Tpa Sari Mukti. Jurnal Teknik Lingkungan. 18(1). 30-42.

Mardhiya, I. R. 2017. Sistem Akuisisi Data Pengukuran Kadar Oksigen Terlarut Pada Air Tambak Udang Menggunakan Sensor Dissolve Oxygen (Do).

Universitas Lampung. Bandar Lampung. 24-25.

Matatula, J., E. Poedjirahajoe., S. Pudyatmoko dan R. Sadono. 2019. Keragaman Kondisi Salinitas Pada Lingkungan Tempat Tumbuh Mangrove di Teluk Kupang Nusa Tenggara Timur. Jurnal Ilmu Lingkungan. 17(3). 425-434.

Milasari, F. 2016. Kajian Sebaran Logam Berat Timbal (Pb) dan Kromium (Cr) Pada Sedimen di Sekitar Perairan Teluk Lampung. Universitas Lampung.

Bandar Lampung. 31-32.

Mughofar, A., M. Masykuri dan P. Setyono. 2018. Zonasi dan Komposisi Vegetasi Hutan Mangrove Pantai Cengkrong Desa Karanggandu Kabupaten Trenggalek Provinsi Jawa Timur. Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan. 8(1). 77-85.

Mukkaromah, R, 2016. Analisis Sifat Fisis Dalam Studi Kualitas Air di Mata Air Sumber Asem Dusun Kalijeruk, Desa Siwuran, Kecamatan Garung, Kabupaten Wonosobo. Universitas Negeri Semarang. Semarang. 20-21.

Munthe, K. H. 2017. Bioakumulasi Logam Berat Kadmium (Cd) Pada Akar Kulit Batang dan Daun Avicennia Marinadikawasan Mangrove Percut Sei Tuan Kabupaten Deliserdang Sumatera Utara. Universitas Sumatera Utara.

Medan. 1-6.

Mutia, V. 2018. Pengaruh Pemberian Ekstrak Etanol 95% Kulit Batang Bakau Minyak (Rhizophora apiculata) Terhadap Histopatologi Paru Pada Tikus

Putih Jantan (Rattus norvegicus) Galur Sprague Dawley Yang Terpapar Asap Rokok. Universitas Lampung. Banda Lampung.37-39.

Nastia, P. 2014. Akumulasi Logam Berat Tembaga (Cu) dan Timbal (Pb) Pada Pohon Avicennia Marina Forsk. Di Hutan Mangrove Desa Nelayan Kecamatan Medan Labuhan dan Desa Jaring Halus Kecamatan Secanggang. Universitas Sumatera Utara. Medan.

Noor, S. Y. 2018. Konsentrasi Logam Berat Kadmium (CD) Pada Sedimen di Daerah Sekitar Perairan Pelabuhan Kapal Barang Talumolo Kota Gorontalo. Fisheries journal. 1(1).

Noor, Y., R. M. Khazali., dan I. N. N. Suryadiputra. 1999. Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia. PKA/WI-IF. Bogor.

Nur, I. 2017. Pengendalian Sirkulasi dan Pengukuran Ph Air Pada Tambak Udang Berbasis Arduino. Universitas Negeri Alauddin Makkasar. Makassar. 23-24.

Nurjanah, M. 2018. Analisis Pengelolaan Hutan Mangrove Menjadi Area Tambak (Studi Kasus Kecamatan Ketapang Kabupaten Lampung Selatan).

Universitas Lampung. Bandar Lampung. 38-39.

Permatasari, A. 2017. Analisis Logam Berat Cu, Co dan V Pada Sedimen Perairan Kabupaten Mamuju Menggunakan Inductively Coupled Plasma Optical Emission Spectroscopy (Icp-Oes). Universitas Hasanuddin. Makassar.

18-27.

Pratama, S. S. 2018. Analisis Vegetasi Mangrove di Muara Desa Kurau Kecamatan Koba Kabupaten Bangka Tengah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan Sumbangsihnya pada Pembelajaran Biologi SMA/MA.

Universitas Islam Negeri Raden Fatah. Palembang. 37-38.

Purnobasuki. H. 2004. Potensi Mangrove Sebagai Tanaman Obat. Short Communication. Universitas Airlangga. Surabaya. 1-3

Puspitasari, 2007. Laju Polutan Dalam Ekosistem Laut. Oseana. Pusat Penelitian Oseanografi. Jakarta.

Putri, A. M. P. 2016. Distribusi dan Kemelimpahan Vegetasi Mangrove di Laguna Bogowonto Kulon Progo Yogyakarta. Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Yogyakarta. 16-17.

Rukiminasari, N., Nadiarti., dan K. Awaluddin. 2014. Pengaruh Derajat Keasaman (Ph) Air Laut Terhadap Konsentrasi Kalsium dan Laju Pertumbuhan Halimeda Sp. Torani (Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan).

24(1).

Rumhayati, B. 2019. Sedimen Perairan (Kajian Kimiawi, Analisis dan Peran). UB Press. Malang. Indonesia.

Santosa, R. W. 2013. Dampak Pencemaran Lingkungan Laut Oleh Perusahaan Pertambangan Terhadap Nelayan Tradisional. 1(2).

Sari, F. G.T., D. Hidayat dan D. Septiani. 2016. Kajian Kandungan Logam Berat Mangan (Mn) Dan Nikel (Ni) Pada Sedimen Di Pesisir Teluk Lampung.

Analytical and Environmental Chemistry. 1(1). 17-25.

Setiawan, H. 2013. Akumulasi dan Distribusi Logam Berat Pada Vegetasi Mangrove di Perairan Pesisir Sulawesi Selatan. Jurnal Ilmu Kehutanan.

7(1). Balai Penelitian Kehutanan . 12-24.

Soemirat, J. 2003. Toksikologi Perairan. Gajah Mada University. Press.

Yogyakarta.

Suciaty, F. 2011. Studi Siklus Karbon di Permukaan Laut Perairan Indonesia.

Tesis. Magister Sains Kebumian. ITB. Bandung

Suhana, M. P. 2018. Karakteristik Sebaran Menegak dan Melintang Suhu dan Salinitas Perairan Selatan. Dinamika Dinamika Maritim. 6(2).

Sukaryono, I.D., dan R. P.Dewa. 2018. Pemantauan Kandungan Logam Berat Pb dan Cd Pada Sedimen di Pesisir Teluk Ambon Dalam Sebagai Indikasi Tingkat Pencemaran. Majalah BIAM. 14(1). 1-7.

Supriadi. 2016. Analisis Kadar Logam Berat Timbal (Pb), Kadmium (Cd) dan Merkuri (Hg) Pada Air Laut di Wisata Pantai Akkarena Dan Tanjung Bayang Makassar. Universitas Islam Negri Alauddin Makassar. Makassar.

43-44.

Supriyantini, E., R. A. T. Nuraini dan C.P. Dewi. 2017. Daya Serap Mangrove Rhizophora sp. Terhadap Logam Berat Timbal (Pb) di Perairan Mangrove Park, Pekalongan. Jurnal Kelautan Tropis. 20(1).

Syaikhah, A. Z., F. Idris dan A. D. Syakti. 2017. Analisis kandungan logam berat (Cd dan Pb) pada air laut dan sedimen laut di Perairan Kota Tanjung Pinang. Universitas Maritim Raja Ali Haji. Kepulauan Riau. 1-18.

Tanjung, B.S., Yunasfi dan T. Siregar. 2017. Kepadatan Epifauna Di Lingkungan Mangrove Desa Lubuk Kertang Kecamatan Brandan Barat Kabupaten Langkat Provinsi Sumatera Utara. Universitas Sumatera Utara. Medan.

1-10.

Tran, T. A. 2013. Functions and Toxicity od Cadmium in Plants: Recent Adances and Future Prospects. Turkish Journal of Botany, 37: 1-13.

Ulqodry, T. Z. 2001. Kandungan Logam Berat dalam Jaringan Mangrove Sonneratia Alba dan Avicennia Marina di Pulau Ajkwa dan Pulau Kamora, Kabupaten Timika, Papua. Skripsi. Program Studi Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Semarang.

WHO (1996) Permissible limits of heavy metals in soil and plants (Geneva:

World Health Organization), Switzerland.

LAMPIRAN

Lampiran 1. Alat dan Bahan Penelitian

DO Meter Global Positioning System

Termometer pH Meter

Refrakto Meter Pisau Cutter

Lanjutan lampiran alat dan bahan penelitian

Botol Sampel Pipa Paralon

Alat Tulis Papan Skala Pasang Surut

Oven Blender

Lanjutan lampiran alat dan bahan penelitian

Pisau Tanur (Furnish)

Cawan Spatula

Timbangan Analitik Pipet Tetes

Lanjutan lampiran alat dan bahan penelitian

Gelas Beaker Hotplate

Corong Labu Ukur

Instrumen AAS

Lanjutan lampiran alat dan bahan penelitian

Larutan Standart Cd Pipet Tetes

Plastik Sampel Kertas Label

Kertas Saring Whatman HNO3 65%

Lampiran 2. Pengukuran Kualitas Air

Pengukuran Suhu Perairan Pengukuran Salinitas Perairan

Pengukuran Kandungan Oksigen Pengukuran pH Perairan

terlarut.

Lampiran 3. Prosedur Pengambilan Sampel

Pengambilan Sampel Air Pengambilan Sampel

Lanjutan lampiran prosedur Pengambilan Sampel

Pengambilan Sampel Akar Pengambilan Kulit Batang Rhizopora apiculata Rhizopora apiculata

Pengambilan Sampel Daun Rhizopora apiculata

Lampiran 4. Metode Kerja Laboratorium

Pemberian Kode Pada Setiap Sampel Sebelum di Analisis

Kode Sampel Stasiun I Kode Sampel Stasiun II

Kode Sampel Stasiun III

Prosedur Analisis Metode AtomicAbsoption Spectroscopy (AAS) untuk sampel Akar, Kulit Batang dan Daun

Dipotong sampel akar hingga Dihancurkan sampel menjadi bagian kecil menggunakan hingga menjadi serbuk

pisau menggunakan blender.

Dimasukkan sampel yang sudah Ditimbang berat basah sampel halus kedalam plastik sampel dengan timbangan analitik

Lanjutan lampiran prosedur Analisis Metode AtomicAbsoption Spectroscopy (AAS) untuk sampel kar, Kulit Batang dan Daun

Dimasukkan sampel kedalam Dimasukkan sampel kedalam oven dengan suhu 105˚C furnish dengan suhu 550 ˚C

Selama 18 jam. Selama 18 jam.

Ditambahkan 5ml HNO3 65% Ditambahkan 5ml HNO3 65% kedalam cawan sampel.

Dipanaskan sampel diatas hotplat Dimasukkan kedalam furnish selama 15 menit dengan suhu selama 18 jam dengan suhu hingga 100˚C sampel kering. 550˚C

Lanjutan lampiran prosedur Analisis Metode AtomicAbsoption Spectroscopy (AAS) untuk sampel kar, Kulit Batang dan Daun

Ditambahkan 10 mlHCL 0,1 N Dipanaskan sampel diatas kedalam cawan hingga mengering. hotplate hingga sampel

mengering.

Ditambahkan HNO3 sebanyak Dituangkan sampel kedalam

10 ml kedalam cawan sampel labu ukur

Ditambahkan aquadeshingga Sampel Akar volume sampel 50 ml.

Prosedur Analisis Metode AtomicAbsoption Spectroscopy (AAS) untuk sampel Air

Disaring air sampel dengan Dituang sampel kedalam

kertas saring Whatman. gelas hingga volume 50 ml.

Dipanaskan sampel air Dituang sampel air kedalam

dihotplate sampai volumenya kedalam labu ukur.

berkurang menjadi 10-15ml.

.

Ditambahkan air sampel dengan Sampel Air aquades hingga volume 50 ml.

Lanjutan lampiran prosedur Analisis Metode AtomicAbsoption Spectroscopy (AAS) untuk sampel Air

Dimasukkan sampel kedalam Ditempatkan cup kedalam rak

untuk di analisis untuk di analisis

Dianalisis sampel pada

Instrumen AAS

Prosedur Pembuatan Larutan Standart Kadmium (Cd)

Diencerkan larutan standar Cd Dimasukkan larutan standart Dengan konsentrasi 1, 2,3,4 ppm 1 ppm kedalam labu ukur

Lanjutan lampiran prosedur Pembuatan Larutan Standart Kadmium (Cd)

Dimasukkan larutan standart Dimasukkan larutan standart

2 ppm kedalam labu ukur. 3 ppm kedalam labu ukur.

Dimasukkan larutan standart Ditambahkan HNO3 Pekat

3 ppm kedalam labu ukur. hingga volume 50 ml.

Larutan sampel air, akar dan

larutan standart 1,2,3,4 ppm yang siap di analisis.

Lampiran 5. Data Hasil Penelitian Parameter Fisika Kimia Perairan Ekowisata Lubuk Kertang

Lampiran 6. Data Hasil Kandungan Kadmium di Air dan Sedimen Perairan Ekowisata Lubuk Kertang

Lampiran 7. Data Hasil Kandungan Kadmium di Air dan Sedimen Perairan Ekowisata Lubuk Kertang

Lampiran 8. Pembuatan Larutan Standart Cd

Pembuatan larutan Cd 100 ppb kemudian di encerkan menjadi 1 ppb 2 ppb 3 ppb dan 4 ppb

Stasiun Stasiun I Stasiun II Stasiun III

P1 P2 P3 P1 P2 P3 P1 P2 P3

Stasiun Stasiun I Stasiun II Stasiun III

P1 P2 P3 P1 P2 P3 P1 P2 P3

Air <0,002 <0,002 <0,002 <0,002 <0,002 <0,002 1,256 1,891 0,002

Sedimen <0,12 <0,12 <0,12 <0,12 <0,12 <0,12 4,852 3,983 3,576

V1 . M1 = V2 . M2

Lampiran 9. Perhitungan Konsentrasi Logam Berat Cd Sebenarnya pada Mangrove di Perairan Ekowisata Mangrove Lubuk Kertang

Kadar sebenarnya (Mangrove)𝑀𝑔

Perhitungan Konsentrasi Logam Berat Cd Sebenarnya pada Mangrove di Perairan Ekowisata Mangrove Lubuk Kertang

Perhitungan Konsentrasi Logam Berat Cd Sebenarnya pada Mangrove di Perairan Ekowisata Mangrove Lubuk Kertang

Lampiran 10. Perhitungan Kemampuan Mengakumulasi Logam Berat Cd

Lanjutan lampiran perhitungan Kemampuan Mengakumulasi Logam Berat Cd Melalui Tingkat Faktor Biokonsentrasi (BCF)

Lampiran 11. Lampiran perhitungan nilai Formzhal

= 𝐾1 + 𝑂1

Lampiran 12. Grafik Parameter Pasang Surut

Grafik pengamatan pasang surut Daerah Ekowisata Mangrove Lubuk Kertang Hasil pengamatan pasang surut Daerah Ekowisata Mangrove Lubuk Kertang selama 2 hari dengan interval waktu 60 menit dengan pembacaan menggunakan tiang pasang surut (tiang skala). Berdasarkan tabel pengamatan diketahui bahwa pasang tertinggi terjadi pada tanggal 12 agustus pukul 18.00 Wib yaitu 0,85 m dan surut terendah terjadi pada tanggal 12 agustus 2020 pukul 13.00 wib yaitu 0,26 m.

Lampiran 13. Baku Mutu Sedimen Logam Berat

(ppm)

Level target

Level

Limit Level Tes Level

Intervensi Level Bahaya

Kadmium (Cd) 0.8 2 7.5 12 30

Timbal (Pb) 85 530 530 530 1000

Sumber : IACD/CEDA (1997) Keterangan:

1. Level target. Jika konsentrasi kontaminan yang ada pada sedimen memiliki nilai yang lebih kecil dari nilai level target, maka substansi yang ada pada sedimen tidak terlalu bahaya bagi lingkungan.

2. Level limit. Jika konsentrasi kontaminan yang ada pada sedimen memiliki nilai maksimum yang dapat ditolerir bagi kesehatan manusia maupun ekosistem.

3. Level tes. Jika konsentrasi kontaminan yang ada pada sedimen berada pada kisaran nilai antara level limit dan level tes, maka dikategorikan sebagai tercemar ringan.

4. Level intervensi. Jika konsentrasi kontaminan yang ada pada sedimen berada pada kisaran nilai level tes dan level intervensi, maka dikategorikan sebagai tercemar sedang.

5. Level bahaya. Jika konsentrasi kontaminan yang ada pada sedimen memiliki nilai yang lenih besar dari baku mutu

Lampiran 14. KEPMEN 51 LH Untuk Laut NoAir. Tahun 2004 Baku Mutu

Total

2.Metode analisa mengacu pada metode analisa untuk air laut yang telah ada, baik international mapun nasional.

3.Alami adalah kondisi normal suatu lingkungan, bervariasi setiap saat(siang, malam dan musim).

4.Pengamatan oleh manusia (visual)

5.Pengamatan oleh manusia (visual). Lapisan minyak yang diacu adalah lapisan tipis (thin layer)dengan ketebalan 0.01 mm

6.Tidak bloom adalah tidak terjadi pertumbuhan yang berlebihan yang dapat menyebabkan eutrofikasi. Pertumbuhan plankton yang berlebihan dipengaruhi oleh nutrien, cahaya, suhu, kecepatan arus, dan kestabilan plankton itu sendiri.

7.TBT adalah antifouling yang biasanya terdapat pada cat kapal.

a.Diperbolehkan terjadi perubahan sampai dengan <10 % kedalaman euphotic

b.Diperbolehkan terjadi perubahan sampai dengan <10% konsentrasi rata-rata musiman.

c.Diperbolehkan terjadi sampai dengan <2˚ C dari suhu alami d.Diperbolehkan terjadi perubahan sampai dengan<0.2 satuan pH e.Diperbolehlan terjadi sampai dengan < 5% salinitas rata-rata musiman

Lampiran 15. Baku Mutu Logam Berat Pada Tanaman World Health Organization (1996)

Elements Permissible Value Of Plant (mg/kg)

Cd 0,02

Zn 0,60

Cu 10

Cr 1,30

Pb 2

Ni 10

Source: WHO (1996)

Dalam dokumen BIOAKUMULASI LOGAM BERAT KADMIUM (Halaman 71-98)

Dokumen terkait