• Tidak ada hasil yang ditemukan

Adisarwanto T. 2010. Strategi peningkatan produksi kedelai sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri dan mengurangi impor. Pengembangan Inovasi Pertanian 3:319-331.

Adisarwanto T, Subandi, Sudaryono. 2007. Teknologi produksi kedelai. Di dalam: Sumarno, Suyamto, Widjono A, Hermanto, Kasim H, editor. Kedelai Teknik Produksi dan Pengembangan. Bogor: BPPT. Hal 229-252.

Anda M. 2003. Penelaahan kualitas tanah pada lahan kering untuk mendukung pertanian berkelanjutan di daerah Sukaramah, Batu Mulia dan Bumi Asih, Kalimantan Selatan. J Tanah Trop 16:117-128.

Arsyad DM, Adie MM, Kuswantoro H. 2006. Perakitan varietas unggul kedelai spesifik agroekologi. Di dalam: Sumarno, Suyamto, Widjono A, Hermanto, Kasim H, editor. Kedelai Teknik Produksi dan Pengembangan. Bogor: BPPT. Hal 205-228.

Atman. 2006. Budidaya kedelai di lahan sawah Sumatera Barat. J Ilmiah Tambua 5:288-296.

[BPS] Badan Pusat Statistik. 2012. Produksi, luas panen dan produktivitas tanaman kedelai di Indonesia. www.bps.go.id [23 September 2012]. Balitkabi. 2009. Deskripsi varietas unggul kedelai 1918-2008. Malang: Balitkabi. Brévault T, Bikay S, Maldès JM, Naudin K. 2007. Impact of a no-till with mulch

soil management strategy on soil macrofauna communities in a cotton cropping system. Soil and Tillage Research 97:140-149.

Bunyamin Z, Aqil M. 2010. Analisis iklim mikro tanaman jagung (Zea Mays. L) pada sistem tanam sisip. Prosiding Pekan Serealia Nasional, 2010. Sulawesi Selatan: Balai Penelitian Tanaman Serealia. Hal 294-300. Chozin MA. 2006. Peran ekofisiologi tanaman dalam pengembangan teknologi

budidaya pertanian [Orasi Ilmiah Guru Besar Tetap Agronomi]. Bogor: Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Hal 114.

Demirtaş Ç, Yazgan S, Candogan BN, Sincik M, Büyükcangaz H, Göksoy AT. 2010. Quality and yield response of soybean (Glycine max L. Merrill) to drought stress in sub-humid environment. Af J Biot 9:6873-6881.

Direktorat Perluasan Areal. 2009. Pedoman teknis perluasaan tanaman pangan lahan kering tahun 2009. Jakarta: Direktorat Perluasan Areal. Ditjen PLA.

Dubey RS. 1999. Protein synthesis by plants under stressful conditions. Di dalam: Pessarakli M, editor. Handbook of Plant and Crop Stress, second edition. New York: Marcel Dekker, Inc. 365-397 p.

Erfandi D, Widati S. 2008. Dekomposisi bahan organik dan kondisi sifat fisik tanah dalam upaya mengatasi degradasi lahan. Prosiding Seminar dan Kongres Nasional MKTI VI; Jambi. 2008. Hal 561-572.

Fahrurrozi, Hermawan B, Latifah. 2005. Pertumbuhan dan hasil kedelai pada berbagai dosis mulsa alang-alang dan pengolahan tanah. J Akta Agrosia 8:21-24.

Frederick JR, Camp CR, Bauer PJ. 2001. Drought-stress effect on branch and mainstem seed yield and yield components of determinate soybean. Crop Sci 759-763.

Hamim. 2004. Underlying drought stress effects on plant: inhibition of photosynthesis. Hayati 11: 164-169.

Hamim, Sopandie D, Jusuf M. 1996. Beberapa karakteristik morfologi dan fisiologi kedelai toleran dan peka terhadap cekaman kekeringan. Hayati 3: 30-34.

Hapsoh, Yahya S, Purwoko BS, Hanafiah AS. 2005. Hasil beberapa genotip kedelai yang diinokulasi MVA pada berbagai tingkat cekaman kekeringan tanah ultisol. J Ilmiah Pertanian Kultura 40:77-83.

Hardjowigeno S. 2010. Ilmu tanah. Jakarta: Akademika Pressindo. Hal 288. Harjadi SS, Yahya S. 1988. Fisiologi stres lingkungan. Bogor: PAU Bioteknologi

IPB. Hal 236.

Harsono A, Purwaningrahayu RD, Taufiq A. 2007. Pengelolaan air dan drainase pada budidaya kedelai. Di dalam: Sumarno, Suyamto, Widjono A, Hermanto, Kasim H, editor. Kedelai Teknik Produksi dan Pengembangan. Bogor: BPPT. Hal 253-280.

Hidayat A, Mulyani A. 2002. Lahan kering untuk pertanian. Di dalam: Abdurachman et al. editor. Buku Pengelolaan Lahan Kering Menuju Pertanian Produktif dan Ramah Lingkungan. Bogor: Pusat Percobaan dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. Hal 1-34.

Irawan B. 2005. Konversi lahan sawah: potensi dampak, pola pemanfaatannya, dan faktor determinan. J Forum Penelitian Agroekonomi 23:1-18.

Jamila, Kaharuddin. 2007. Efektivitas mulsa dan sistem olah tanah terhadap produktivitas tanah dangkal dan berbatu untuk produksi kedelai. J Agrisistem 3.

49 Jodaugienė D, Pupalienė R, Sinkevičienė A, Marcinkevičienė A, Žebrauskaitė K, Baltaduonytė ε, Čepulienė R. 2010. The influence of organic mulches on soil biological properties. Zemdirbyste-Agric 97:33-40.

Khan MAH, Parvej MR. 2010. Impact of conservation tillage under organic mulches on the reproductive efficacy and yield of quality protein maize. J Agric Sci 5:52-63.

Kuntyastuti H, Taufiq A, Purwaningrahayu RD, Wijanarko A. 2006. Dinamika hara N, P dan K pada berbagai teknik pengelolaan di lokasi PTT. Laporan Teknis Penelitian TA 2005. Malang: Balitkabi.

Kuntyastuti H, Taufiq A. 2008. Komponen teknologi budidaya kedelai di lahan kering. Bul Palawija 1-17.

Lengkong JE, Kawulusan RI. 2008. Soil organic matter management to maintain soil fertility. Soil Environment 6:91-97.

Lestari T. 2004. Analisis variasi karakter kualitatif, kuantitatif dan sifat toleran kekeringan pada populasi tanaman kedelai (Glycine max (L.) Merr) hasil kultur jaringan [tesis]. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Liu F, Anderse MN, Jensen CR. 2003. Loss of pod set caused by drought stress in associated with water status and ABA content of reproductive structures in soybean. Plant Biol 30:271-280.

Mapegau. 2006. Pengaruh cekaman air terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai (Glycine max L. Merr). J Ilmiah Pertanian Kultura 4:43-49. Marschner H. 1995. Mineral nutrition of higher plants 2nd. San Diego: Academic

Press, Harcourt Brace & Company Publishers. 889 p.

Mayrowani H, Sumaryanto, Azahari DH, Ilham N, Friyatno S, Ashari. 2010. Optimalisasi sumberdaya pertanian pada agroekosistem lahan kering. Jakarta: Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, Badan Percobaan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian.

Mulyani A. 2006. Potensi lahan kering masam untuk pengembangan pertanian. Warta Percobaan dan Pengembangan Pertanian 28.

Mulyani A, Rachman A, Dairah A. 2009. Penyebaran lahan masam, potensi dan ketersediaannya untuk pengembangan pertanian. Bogor: Pusat Percobaan dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat.

Nursyamsi D, Adiningsih JS, Sholeh, Adi A. 1997. Penggunaan bahan organik untuk meningkatkan efisiensi pupuk N pada Ultisol Sitiung, Sumatera Barat. Bogor: Puslitanak. Hal 319-330.

Oldeman LR, Las I, Darwis SN. 1979. An agroclimatic map of Sumatra. Bogor: IPB. 32 p.

Patakas A, Nikolaou N, Zioziou E, Radoglou K, Noitsakis B. 2002. The role of organic solute and ion accumulation in osmotic adjusment in drought stressed grapevines. J Plant Science 163:361-367.

Purwantoro, Kuswantoro H, Arsyad DM. 2009. Identifikasi galur-galur harapan kedelai adaptif lahan kering masam. Malang: Balitkabi.

Rachman A, Dariah A, Santoso D. 2006. Pupuk hijau. Di dalam Pupuk Organik dan Pupuk Hayati. Balai Besar litbang Sumberdaya Lahan Pertanian. Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Hal 41-57.

Rachman A, Subiksa IGM, Wahyunto. 2007. Perluasan areal tanaman kedelai ke lahan suboptimal. Di dalam: Sumarno, Suyamto, Widjono A, Hermanto, Kasim H, editor. Kedelai Teknik Produksi dan Pengembangan. Bogor: BPPT. Hal 185-204.

Rismaneswati. 2006. Pengaruh terracottem, kompos dan mulsa jerami terhadap sifat fisik tanah, pertumbuhan dan produksi kedelai pada tanah Alfisols. J Agrivigor 6:49-56.

Soepardi HG. 2001. Strategi usahatani agribisnis berbasis sumber daya lahan. Di dalam Prosiding Nasional Pengelolaan Sumber daya Lahan dan Pupuk Buku I. Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. Hal 35-52.

Subagyo H, Suharta N, Agus BS. 2000. Tanah-tanah pertanian di Indonesia. Di dalam Buku Sumber Daya Lahan Indonesia dan Pengelolaannya. Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. Hal 21-66. Sudaryanto T, Swastika DKS. 2007. Ekonomi kedelai di Indonesia. Di dalam:

Sumarno, Suyamto, Widjono A, Hermanto, Kasim H, editor. Kedelai Teknik Produksi dan Pengembangan. Bogor: BPPT. Hal 1-27.

Sudaryono, Taufiq A, Wijanarko A. 2006. Peluang peningkatan produksi kedelai di Indonesia. Di dalam: Sumarno, Suyamto, Widjono A, Hermanto, Kasim H, editor. Kedelai Teknik Produksi dan Pengembangan. Bogor: BPPT. Hal 130-167.

Suhartina. 2007. Evaluasi galur harapan kedelai hitam toleran kekeringan dan berdaya hasil tinggi. Prosiding Seminar Peningkatan Produksi Kacang- kacangan dan Umbi-umbian Mendukung Kemandirian Pangan. Bogor: Puslitbangtan. Hal 628.

Sumarno, Manshuri AG. 2006. Persyaratan tumbuh dan wilayah produksi kedelai di Indonesia. Di dalam: Sumarno, Suyamto, Widjono A, Hermanto,

51 Kasim H, editor. Kedelai Teknik Produksi dan Pengembangan. Bogor: BPPT. Hal 74-103.

Taiz L, Zeiger E. 2002. Plant physiology. California: The Benjamin/Cummings Publ. Co. Inc. 559 p.

Taufiq A, Kuntyastuti H, Mansuri AG. 2004. Pemupukan dan ameliorasi lahan kering masam untuk peningkatan produktivitas kedelai. Di dalam: Prosiding Lokakarya Pengembangan Kedelai Melalui Pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu di Lahan Kering Masam; Lampung, 30 Sep 2004. Lampung: BPTP Lampung. Hal 21-40.

Tisdale SL, Nelson WL, Beaton JD, Havlin JL. 1993. Soil fertility and fertilizers (Fifth Edition). New York: Macmillan Publishing Company.

Umar, Istina IN. 2003. Sistem pengaruh takaran pupuk kandang dan fosfor terhadap pertumbuhan dan hasil kedelai pada lahan PMK. Prosiding Seminar Nasional Hasil-hasil Penelitian dan Pengkajian Teknologi Spesifik Lokasi; Jambi. Riau: BPTP.

Wijanarko A. 2004. Penggunaan asam sitrat, kapur dan fosfat dikaitkan dengan keracunan aluminium, serapan hara dan pertumbuhan tanaman kedelai [tesis]. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Zhang J, Smith DL, Liu W, Chen X, Yang W. 2011. Effect of shade and drought stress on soybean hormones and yield of main-steam and branch. Af J Biot 10:14392-14398.

Zhu JK. 2002. Salt and drought stress signal transduction in plants. Plant Biol 53:247-273.

53 Lampiran 1 Deskripsi Varietas Unggul Kedelai (Balitkabi 2009)

Anjasmoro Dilepas tahun : 22 Oktober 2001 Nomor galur : Mansuria 395-49-4

Asal : Seleksi massa dari populasi galur murni Mansuria Daya hasil : 2.03-2.25 ton/ha

Tipe tumbuh : Determinit Umur berbunga : 35.7-39.4 hari Umur polong masak : 82.5-92.5 hari Warna polong masak : Coklat muda Tinggi tanaman : 64-68 cm Percabangan : 2.9-5.6 cabang Bobot 100 biji : 14.8-15.3 g Kandungan protein : 41.8-42.1%

Kerebahan : Tahan rebah

Ketahanan terhadap penyakit : Moderat terhadap karat daun

Pemulia : Takashi Sanbuichi, Nagaaki Sekiya, Jamaluddin M., Susanto, Darman, M. A. Dan M. Muchlish Adie

Tanggamus Dilepas tahun : 22 Oktober 2001

Nomor induk : K3911-66

Asal : Hibrida (persilangan tunggal): Kerinci x No. 3911 Hasil rata-rata : 1.22 ton/ha

Tipe tumbuh : Determinit Umur berbunga : 35 hari Umur saat panen : 88 hari Warna polong masak : Coklat

Tinggi tanaman : 67 cm

Percabangan : 3-4 cabang Bobot 100 biji : 11.0 g

Kandungan protein : 44.5%

Kerebahan : Tahan rebah

Ketahanan terhadap penyakit : Moderat terhadap karat daun Wilayah adaptasi : Lahan kering masam

Pemulia : Darman, M. A. Dan M. Muchlish Adie, Heru Kuswantoro dan Purwantoro

Lampiran 2 Denah petak percobaan II III I G1 G3 G2 G4 G1 G4 G3 G2 G3 G4 G1 G2 S1 S3 S5 S4 S1 S2 S8 S10 S8 S9 S4 S6 S5 S8 S3 S5 S3 S9 S3 S8 S2 S6 S3 S10 S9 S1 S9 S7 S7 S5 S10 S1 S10 S2 S9 S1 S10 S4 S2 S6 S6 S1 S9 S6 S5 S3 S6 S2 S3 S9 S10 S2 S5 S7 S4 S3 S9 S8 S7 S3 S6 S7 S6 S10 S9 S8 S5 S7 S6 S4 S10 S9 S7 S10 S4 S9 S10 S3 S6 S4 S1 S7 S1 S5 S8 S2 S7 S1 S2 S6 S1 S9 S4 S5 S8 S4 S2 S6 S8 S8 S4 S10 S7 S2 S7 S1 S5 S8 S4 S5 S1 S3 S8 S4 S2 S5 S3 S10 S2 S7 Keterangan:

Kelompok = I, II, III

Petak utama = G (genotipe kedelai)

Anak petak = S (sistem olah tanah yang dikombinasikan dengan pemupukan) Arah utara = U Arah barat = B

Lampiran 3 Hasil analisis kandungan unsur hara pupuk kompos*

Variabel Satuan Hasil Analisis Kriteria**

pH H2O 6.88 Netral P2O5 ppm 1.62 Sangat Rendah K cmol(+)/kg 0.76 Tinggi S ppm 0.40 Bahan Organik C % 5.54 Sangat Tinggi N % 1.16 Sangat Tinggi C/N 5 Rendah Susunan kation Ca cmol(+)/kg 2.45 Rendah

Mg cmol(+)/kg 0.27 Sangat Rendah

Na cmol(+)/kg 0.06 Sangat Rendah

Unsur hara mikro

Mn ppm 29.01

Cu ppm 24.84

Zn ppm 97.79

Keterangan: * Analisis dilakukan pada bulan Juli 2011 di Laboratorium Balai Penelitian Tanah **Penilaian kriteria berdasarkan Kriteria Penilaian Sifat Kimia Tanah (Staf Pusat Penelitian Tanah 1983 dalam Hardjowigeno 2010).

57 Lampiran 4 Bentuk sistem olah tanah alur

Lampiran 5 Data iklim lokasi penelitian pada tahun 2011* Bulan Temperatur oC Curah hujan (mm) Penyinaran matahari (%) Kelembaban nisbi (%) max min Rata-

rata 07.00 13.00 18.00 Rata- rata Januari 31.0 23.2 26.3 411.6 932.9 94 66 77 83 21 HH 30.1 Februari 31.5 23.6 26.6 173.1 1231.7 94 63 72 81 11 HH 44.0 Maret 31.9 23.0 26.3 194.2 1512.5 94 64 80 83 18 HH 48.8 April 32.0 23.5 27.0 191.7 1743.7 93 63 73 80 12 HH 58.1 Mei 32.6 23.6 27.2 59.8 1815.7 92 63 73 80 8 HH 58.6 Juni 32.4 22.4 26.7 47.8 1771.8 92 58 68 77 6 HH 59.1 Juli 31.5 22.3 26.1 67.2 1880.5 93 62 69 79 11 HH 60.7 Agustus 33.5 21.0 26.6 - 2773.6 90 47 57 71 - 89.5 September 33.5 21.0 26.6 0.5 2773.6 90 47 57 71 1 HH 89.5 Oktober 34.3 21.8 27.4 122.2 2241.2 87 42 53 67 10 HH 74.7 November 32.4 23.3 27.1 142.4 1620.4 87 60 66 75 13 HH 52.3 Desember 32.2 23.3 27.2 158 1628 90 56 73 77 15 HH 54.3

Keterangan: * Data iklim berasal dari BMKG Stasiun Meteorologi Radin Inten II, Bandar Lampung; HH: hari hujan; -: tidak ada hujan.

59 Lampiran 6 Korelasi antar variabel pertumbuhan tanaman

Variabel TT 6 mst TT 8 mst JD 6 mst JD 8 mst JC 6 mst JC 8 mst JB 6 mst JB 8 mst TT 2 mst 0.57* 0.47 -0.14 -0.01 0.03 0.15 0.24 0.50 TT 4 mst 0.94** 0.90** -0.47 0.59* 0.59* 0.68** 0.43 0.39 TT 6 mst 0.98** 0.70** 0.78** 0.75** 0.81** 0.53 0.28 TT 8 mst 0.80** 0.87** 0.84** 0.91** 0.54* 0.22 JD 2 mst 0.25 0.27 0.60* 0.39 -0.23 0.01 JD 4 mst 0.87** 0.85** 0.87** 0.81** 0.10 -0.17 JD 6 mst 0.99** 0.89** 0.90** 0.47 0.02 JD 8 mst 0.91** 0.95** 0.49 0.08 JC 4 mst 0.54* 0.45 0.50 0.13 JC 6 mst 0.95** 0.37 -0.02 JC 8 mst 0.47 0.06 JB 6 mst 0.43

Keterangan: *: berbeda nyata berdasarkan uji F taraf 5%; **: berbeda nyata berdasarkan uji F taraf 1%; TT: tinggi tanaman; JD: jumlah daun; JC: jumlah cabang; JB: jumlah bintil; mst: minggu setelah tanam.

Lampiran 7 Korelasi antar variabel pertumbuhan tanaman dan bobot kering Variabel BKD 6 mst BKD 8 mst BKB 6 mst BKB 8 mst BKA 6 mst BKA 8 mst TT 2 mst 0.27 0.25 0.27 0.37 0.23 0.33 TT 4 mst 0.76** 0.71** 0.74** 0.79** 0.73** 0.80** TT 6 mst 0.87** 0.84** 0.87** 0.87** 0.87** 0.90** TT 8 mst 0.91** 0.89** 0.89** 0.91** 0.90** 0.94** JD 2 mst 0.10 0.04 0.07 0.07 0.30 0.17 JD 4 mst 0.62* 0.58* 0.59* 0.50 0.70** 0.61* JD 6 mst 0.85** 0.84** 0.84** 0.76** 0.87** 0.83** JD 8 mst 0.90** 0.89** 0.89** 0.83** 0.91** 0.90** JC 4 mst 0.23 0.34 0.22 0.33 0.29 0.33 JC 6 mst 0.76** 0.76** 0.74** 0.71** 0.83** 0.81** JC 8 mst 0.88** 0.89** 0.85** 0.85** 0.89** 0.92** JB 6 mst 0.63* 0.74** 0.66** 0.72** 0.56* 0.63* JB 8 mst 0.27 0.24 0.30 0.28 0.32 0.23 BKD 6 mst 0.97** 0.99** 0.95** 0.96** 0.96** BKD 8 mst 0.97** 0.96** 0.92** 0.96** BKB 6 mst 0.94** 0.96** 0.95** BKB 8 mst 0.88** 0.98** BKA 6 mst 0.92**

Keterangan: *: berbeda nyata berdasarkan uji F taraf 5%; **: berbeda nyata berdasarkan uji F taraf 1%; TT: tinggi tanaman; JD: jumlah daun; JC: jumlah cabang; JB: jumlah bintil; BKD: bobot kering daun; BKB: bobot kering batang; BKA: bobot kering akar; mst: minggu setelah tanam.

61 Lampiran 8 Korelasi antar variabel pertumbuhan tanaman dan produksi

Variabel Polong isi Polong hampa Bobot 100 biji Bobot ubinan Produktivitas TT 2 mst 0.13 0.14 0.84** 0.19 0.19 TT 4 mst 0.67** 0.43 0.96** 0.70** 0.70** TT 6 mst 0.84** 0.49 0.90** 0.81** 0.81** TT 8 mst 0.89** 0.51 0.83** 0.90** 0.90** JD 2 mst 0.23 -0.33 0.09 0.27 0.27 JD 4 mst 0.71** 0.28 0.12 0.74** 0.74** JD 6 mst 0.92** 0.47 0.38 0.88** 0.88** JD 8 mst 0.94** 0.53 0.50 0.93** 0.93** JC 4 mst 0.46 -0.05 0.14 0.45 0.45 JC 6 mst 0.88** 0.33 0.44 0.88** 0.88** JC 8 mst 0.92** 0.49 0.57* 0.98** 0.98** JB 6 mst 0.69** 0.35 0.51 0.57* 0.57* JB 8 mst 0.19 -0.05 0.45 0.18 0.18 BKD 6 mst 0.93** 0.63* 0.70** 0.92** 0.92** BKD 8 mst 0.94** 0.61* 0.68** 0.94** 0.94** BKB 6 mst 0.94** 0.62* 0.70** 0.90** 0.90** BKB 8 mst 0.90** 0.57* 0.76** 0.90** 0.90** BKA 6 mst 0.95** 0.45 0.65* 0.91** 0.91** BKA 8 mst 0.94** 0.54* 0.75** 0.95** 0.95** Polong isi 0.49 0.61* 0.93** 0.93** Polong hampa 0.41 0.54* 0.54* Bobot 100 biji 0.60* 0.60* Bobot ubinan 1.00**

Keterangan: *: berbeda nyata berdasarkan uji F taraf 5%; **: berbeda nyata berdasarkan uji F taraf 1%; TT: tinggi tanaman; JD: jumlah daun; JC: jumlah cabang; JB: jumlah bintil; BKD: bobot kering daun; BKB: bobot kering batang; BKA: bobot kering akar; mst: minggu setelah tanam.

Lampiran 9 Data curah hujan pada lokasi penelitian selama 10 tahun terakhir*

Tahun Curah hujan (mm/bln)

Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember

2000 241.0 197.0 162.0 299.0 19.0 85.3 81.1 114.0 36.7 167.0 130.0 117.0 2001 263.0 217.0 198.0 79.0 153.0 53.2 88.2 58.8 103.0 160.0 325.0 294.0 2002 356.0 113.0 489.0 186.0 107.0 45.9 135.0 9.5 - - 122.0 191.0 2003 230.0 355.0 256.0 162.0 140.0 81.3 76.8 15.6 154.0 70.6 197.0 170.0 2004 208.0 314.0 194.0 509.0 196.0 237.0 114.0 9.8 33.1 38.1 208.0 388.0 2005 230.0 286.0 273.0 122.0 113.0 99.4 56.9 80.8 101.0 110.0 73.7 110.0 2006 237.0 290.0 251.0 195.0 38.9 108.0 132.0 0.4 - 4.4 69.0 281.0 2007 344.0 103.0 202.0 304.0 116.0 123.0 82.9 19.0 18.2 50.3 128.0 451.0 2008 165.0 183.0 247.0 434.0 38.2 45.5 29.0 135.0 86.0 154.0 205.0 479.0 2009 327.0 307.0 81.9 160.0 91.6 246.0 48.5 70.7 19.9 84.9 121.0 230.0 2010 333.0 308.0 361.0 72.4 128.0 345.0 193.0 121.0 180.0 124.0 225.0 289.0 2011 411.6 173.1 194.2 191.7 59.8 47.8 67.2 - 0.5 122.0 142.0 158.0

63 Lampiran 10 Dokumentasi hasil penelitian

A: Kondisi lahan setelah aplikasi input (pupuk SP-36, KCl, kapur dan kompos)

C: Pertumbuhan Genotipe Tanggamus pada sistem olah tanah alur dengan pemberian input berupa pupuk dasar, kapur, kompos dan pemulsaan pada umur 8 mst

D: Pertumbuhan Genotipe Tanggamus pada sistem olah tanah konvensional tanpa pemberian input pada umur 8 mst

ABSTRACT

NOFRIANIL. The Effect of Tillage System and Fertilizer to the Growth and Production of Soybean Genotypes on Acid Dry Land. Under direction of MUNIF GHULAMAHDI, and EKO SULISTYONO.

Indonesia has quite extensive dry land for the development of the soybean plants. Low of pH and water availability in the dry season are the main factors that become obstacles on planting soybean in dry land. It can be overcome with tolerant genotypes of dry land and cultivation techniques of tillage. The objective of the research was to determine the response of soybean genotypes under cultivation techniques of tillage on acid dry land. The research was conducted at Krawangsari, Natar, South Lampung District, and Lampung Province, Indonesia from June to November 2011. The experiment was performed using a split plot design with three replications. The main-plot of the experiment was soybean genotype consisted of SP-30-4, PG-57-1, Tanggamus and Anjasmoro. The subplot was combination of tillage systems (furrow and convensional) and input types (fertilizers, lime, compost and organic mulch). The results showed that the dry weight, number of fill pods and seed weight per plot were not significantly different among genotypes. Furrow tillage system combined with fertilizers, lime, compost and organic mulch can increase plant nutrient uptake, dry weight, number of fill pods and seed weight per plot.

keywords: dry land, tolerant genotype, furrow tillage system, convensional tillage system

RINGKASAN

NOFRIANIL. Pengaruh Sistem Olah Tanah dan Pemupukan Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Beberapa Genotipe Kedelai di Lahan Kering Masam. Dibimbing oleh MUNIF GHULAMAHDI dan EKO SULISTYONO.

Pemanfaatan lahan marjinal seperti kering masam merupakan salah satu cara meningkatkan produksi kedelai. Kendala lahan kering masam berupa tingkat kesuburan tanah yang rendah dan terbatasnya ketersediaan air terutama pada musim kemarau sehingga tidak dilakukan penanaman (bera). Oleh karena itu dibutuhkan teknologi budidaya yang dapat menekan laju kehilangan air melalui evaporasi. Teknologi budidaya berupa pengolahan tanah yang minimal yaitu hanya pada alur tanam dengan pemberian input (pupuk) pada alur tanam disertai pemberian mulsa organik merupakan upaya efisiensi pemanfaatan ketersediaan air. Teknologi budidaya tersebut dipadukan dengan penggunaan genotipe kedelai yang toleran lahan kering masam dapat meningkatkan produksi kedelai.

Penelitian ini bertujuan untuk menguji tanggap beberapa genotipe kedelai yang toleran pada lahan kering masam dan mendapatkan teknik budidaya yang dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi kedelai di lahan kering masam. Penelitian dilaksanakan pada musim kemarau II yaitu bulan Juni sampai November 2011, di Desa Krawangsari, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung. Rancangan perlakuan yang digunakan adalah petak terpisah (Split plot Design) dua faktor dan rancangan lingkungan disusun menggunakan Rancangan Acak Kelompok lingkungan (RAKL) dengan 3 ulangan. Petak utama adalah genotipe kedelai yang terdiri dari 4 jenis yaitu hasil persilangan Sibayak dan Pangrango (SP-30-4); hasil persilangan Pangrango dan Godek (PG-57-1); Tanggamus; Anjasmoro. Anak petak adalah sistem olah tanah yang dikombinasikan dengan pemupukan terdiri dari 10 taraf, yaitu sistem alur (olah tanah pada alur tanam) tanpa penambahan pupuk; sistem konvensional (olah tanah rata pada seluruh petakan tanam) tanpa penambahan pupuk; sistem alur dengan penambahan pupuk dasar; sistem alur dengan penambahan pupuk dasar dan kapur; sistem alur dengan penambahan pupuk dasar, kapur dan kompos; sistem alur dengan penambahan pupuk dasar, kapur, kompos dan dihamparkan mulsa organik; sistem konvensional dengan penambahan pupuk dasar; sistem konvensional dengan penambahan pupuk dasar dan kapur; sistem konvensional dengan penambahan pupuk dasar, kapur dan kompos; sistem konvensional dengan penambahan pupuk dasar, kapur, kompos dan dihamparkan mulsa organik.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa genotipe yang ditanam baik varietas nasional maupun genotipe hasil silangan F7 menunjukkan pertumbuhan yang hampir sama pada setiap variabel pengamatan sehingga produktivitas yang dihasilkan tidak berbeda nyata. Teknik budidaya berupa olah tanah alur yang dikombinasikan dengan pupuk 200 kg SP-36/ha dan 100 kg KCl/ha; kapur kalsium magnesium karbonat [CaMg (CO3)2] dengan dosis 1.5 ton/ha; kompos dengan dosis 2.5 ton/ha; dan pemberian mulsa jerami padi dengan ketebalan 5 cm konsisten meningkatkan pertumbuhan tanaman, sehingga produktivitas yang dihasilkan nyata lebih tinggi dibandingkan teknik budidaya lainnya.

Produktivitas kedelai yang dihasilkan yaitu 686.28 kg/ha pada musim kemarau II di lahan kering masam, masih di bawah produktivitas kedelai nasional

ii

yang mencapai 1.37 ton/ha. Oleh karena itu paket teknologi yang dapat diterapkan pada lahan kering kedepannya yaitu budidaya tanam sisip dengan pengolahan tanah pada alur tanam, input berupa 200 kg SP-36/ha, 100 kg KCl/ha, dan kapur kalsium magnesium karbonat [CaMg (CO3)2] dengan dosis 1.5 ton/ha kemudian aplikasi mulsa organik. Paket teknologi ini dipadu dengan penggunaan genotipe toleran lahan kering baik yang telah dilepas oleh pemerintah yaitu Varietas Tanggamus dan Anjasmoro maupun genotipe hasil silangan F7 dari tim pemulia IPB yaitu Sp-30-4 dan PG-57-1.

Kata kunci: lahan kering masam, genotipe toleran, sistem olah tanah alur, sistem olah tanah konvensional

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Luas lahan pertanian potensial semakin berkurang karena digunakan untuk keperluan non pertanian seperti: industri, pemukiman dan infrastruktur. Irawan (2005) menyatakan bahwa konversi lahan sawah mencapai 188 ribu hektar per tahun, sebesar 58.68% untuk keperluan non pertanian. Oleh karena itu, pemanfaatan lahan marginal seperti lahan kering menjadi alternatif pilihan.

Lahan kering yang cukup luas di Indonesia berpotensi bagi pengembangan komoditas pangan seperti tanaman kedelai. Mulyani et al. (2009) menyatakan bahwa luas lahan kering masam sekitar 102 juta ha dan sekitar 56.3 juta ha diantaranya adalah lahan yang sesuai untuk usaha pertanian (pada wilayah datar- berbukit dengan lereng <30%). Berdasarkan data dari Pusat Penelitian Pengembangan Tanaman Pangan (Puslitbangtan) terdapat 7 provinsi memiliki potensi pengembangan tanaman lahan kering seperti kedelai dan padi gogo. Salah satunya adalah provinsi Lampung memiliki luasan lahan kering mencapai 802 341 ha (Direktorat Perluasan Areal 2009).

Pengembangan kedelai di lahan kering yang tersebar luas di Sumatera berhadapan dengan masalah tingkat kesuburan tanah yang rendah, yaitu pH rendah (<5), kejenuhan Al tinggi (12.0-40.1%), Fe tersedia tinggi (41.30- 73.43ppm), status P dan K tersedia rendah, sehingga memerlukan tambahan pupuk P dan K (Taufiq et al. 2004), kadar bahan organik rendah, kadar unsur hara secara umum rendah, derajat kejenuhan basa rendah, kapasitas tukar kation rendah dan daya menahan air rendah (Sudaryono et al. 2006). Kendala lingkungan lainnya adalah ketersediaan air yang rendah terutama di musim kemarau, sehingga indeks pertanaman (IP) di lahan kering lebih rendah daripada di lahan sawah (Mulyani 2006). Indeks pertanaman di lahan sawah mencapai IP 300 (Adisarwanto 2010) karena tersedianya air, sedangkan pada lahan kering tidak dilakukan penanaman (bera) ketika musim kemarau.

Faktor lingkungan sangat mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman, selain itu juga dipengaruhi oleh faktor genetik dan interaksi ke dua faktor (Chozin 2006). Komponen teknologi dalam meningkatkan produksi tanaman kedelai di lahan kering dapat dilakukan dengan penggunaan varietas

2

yang toleran dan berdaya hasil tinggi serta modifikasi lingkungan tumbuh. Sudaryanto dan Swastika (2007) menyatakan bahwa kontribusi varietas unggul dalam meningkatkan produktivitas paling mudah dilihat dan dipahami oleh petani. Oleh karena itu, perakitan varietas unggul baru yang mempunyai karakter produktivitas tinggi dan toleran terhadap cekaman lingkungan sangat diperlukan dalam rangka peningkatan produksi kedelai.

Pemerintah telah melepas beberapa varietas unggul dan toleran lahan kering masam diantaranya: Tanggamus, Sibayak dan Nanti. Akan tetapi, jumlah varietas toleran lahan kering masam masih terbatas dan perlu ditingkatkan jumlahnya (Kuntyastuti & Taufiq 2008). Peningkatan keragaman plasma nutfah dapat dilakukan dengan menggunakan kedelai F7 hasil silangan tim pemulia tanaman kedelai IPB. Beberapa hasil persilangan tersebut adalah galur harapan kedelai yang memiliki produksi tinggi dan adaptif lahan kering masam seperti: hasil persilangan Sibayak dengan Pangrango dan Pangrango dengan Godek.

Adanya keragaman karakter lahan dan kendala di lahan kering maka diperlukan varietas yang beradaptasi dengan baik terhadap lingkungan yang supoptimal dan spesifik lokasi. Suhartina (2007) mendapatkan beberapa galur kedelai (Aochi-wil-60 dan 967/kawi-d9-185) telah diuji toleransinya terhadap kekurangan air dan potensi hasil lebih tinggi dibandingkan varietas unggul. Purwantoro et al. (2009) memperoleh tiga galur dengan rerata hasil lebih tinggi daripada Varietas Tanggamus sebagai pembanding dalam identifikasi galur-galur

Dokumen terkait