• Tidak ada hasil yang ditemukan

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

DAFTAR PUSTAKA

Aprianto A. 2008. Komparasi Kearifan Tradisional Masyarakat Adat Kasepuhan Cibedug Dengan Aturan Formal Pengelolaan Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Skripsi. Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Badan Pertanahan Nasional. 1999. Peraturan Menteri Negara Agraria Nomor 5 Tentang Pedoman Penyelesaian Masalah Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat, Jakarta.

Balai TNGHS. 2010. Laporan Kegiatan Koordinasi Pengamanan Hutan. Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Citorek.

Basuni S. 1987. Konsep Pengaturan Sumberdaya Taman Nasional. Buletin Media Konservasi Vol. I No.3 (Hal : 1-12). Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

BPD Citorek Barat. 2010. Buku Induk Penduduk. Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Lebak.

Departemen Kehutanan. 2002. Informasi Umum Kehutanan, Jakarta.

Departemen Kehutanan. 2003. Keputusan Menteri Kehutanan No. 175/Kpts- II/2003 tentang Penunjukkan Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun. http://www.dephut.go.id. diakses pada 6 Januari 2012.

Departemen Kehutanan. 2003. Siaran Pers No 782/II/PIK-1/2003 tentang Kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan Gunung Halimun Diperluas. http://www.dephut.go.id. diakses pada 7 Januari 2012.

Departemen Kehutanan. 2006. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 56 Tentang Pedoman Zonasi Taman Nasional, Jakarta.

Departemen Kehutanan. 2007. Rencana Pegelolaan Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Gunung Halimun-Salak National Park Management Project, Kabandungan.

Departemen Kehutanan. 2007. Statistik Kehutanan Indonesia, Jakarta.

Emilia dan Suwito. 2006. TN Gunung Halimun dan Masyarakat Adat Kasepuhan.

Warta Tenure. No. 2:17-18.

Fahrizal A. 2009. Analisis Nilai Ekonomi Lahan Sebagai Informasi Bagi Upaya Peningkatan Nilai Pembayaran Jasa Lingkungan (Kasus Desa Citaman DAS Cidanau). Skripsi. Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

101 Fauzi A. 2004. Ekonomi Sumberdaya Alam dan Lingkungan. PT. Gramedia

Pustaka Utama, Jakarta.

Hartono T, Kobayashi H, Widjaya H dan Suparmo M. 2007. Menyingkap Kabut Gunung Halimun-Salak. Edisi Revisi. Balai Taman Nasional Gunung Halimun-Salak, Bogor.

Hasiholan W. 2010. Bahan Kuliah Manajemen Kawasan Konservasi. Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Hidayat S, Fijridiyanto IA. 2002. Pemanfaatan Tumbuhan Secara Tradisional Di Taman Nasional Gunung Halimun. Berita Biologi Volume 6 Edisi Khusus. No 1: 125-130.

Hidayat A. 2009. Bahan Kuliah Ekonomi Kelembagaan Untuk Sumberdaya Alam dan Lingkungan. Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Hodgson G.M. 1988. Economics and Institution: A Manifesto for A Moderns Institutional Economics. Polity Press and University of Pennsylvania Press, Cambridge and Philadelphia

Hodgson GM. 2002. A Modern Reader in Institutional and Evolutionary Economics. Edward Elgar Publishing, UK.

Mangkoesoebroto G. 1993. Ekonomi Publik. BPFE, Yogyakarta.

MacKinnon J, MacKinnon K, Child G, Thorsell J. 1990. Pengelolaan Kawasan yang Dilindungi di Daerah Tropika (diterjemahkanoleh H.H. Amir). Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Olstrom E. 1990. The Evolution of Institutions for Collective Action. Cambridge University Press, UK.

Pemerintah Republik Indonesia. 2007. Peraturan Pemerintah No 6 Tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan Serta Pemanfaatan Hutan, Jakarta.

Pemerintah Republik Indonesia. 2011. Peraturan Pemerintah No 28 Tentang Pengelolaan Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam, Jakarta.

Poerwanto H. 2000. Kebudayaan dan Lingkungan Dalam Perspektif Antropologi. Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

102 Prasetyo LB, Setiawan Y. 2006. Land Use and Land Cover Change Gunung Halimun-Salak National Park 1989-2004. JICA and Ministry of Forestry Indonesia, Management Plan Project.

Priyanti, Wijayanti F, dan Rizki M. 2011. Keanekaragaman dan Potensi Flora di Hutan Karst Gombong Jawa Tengah. Berk. Penel. Hayati Edisi Khusus. Hal (79-81).

Purnamadewi YL, Tanjung D. 2005. Desentralisasi dan Sistem Pengelolaan Sumberdaya Alam DAS Citanduy : Pendekatan Ekonomi Kelembagaan. Pusat Studi Pengembangan-Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Ramli M. 2007. Kelembagaan Pengelolaan Sumberdaya Hutan Masyarakat Adat Baduy Desa Kanekes, Kecamatan Luwidamar, Kabupaten Lebak, Propinsi Banten. Skripsi. Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Reksohadiprodjo S, Pradono. 1998. Ekonomi Sumberdaya Alam dan Energi Edisi 2. BPFE-YOGYAKARTA, Yogyakarta.

Rudito B, Famiola M. 2008. Social Mapping Metode Pemetaan Sosial : Teknik Memahami Suatu Masyarakat atau Komuniti. Rekayasa Sains Bandung, Bandung.

Sanim B, Syaukat Y dan Nur Aidi M. 2006. Kajian Kelembagaan dan Ekonomi Sumberdaya Eks Areal Hutan Konsesi di Sekitar Zona Penyangga Taman Nasional Kerinci Seblat. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Sangaji A. 2001. Penghancuran Masyarakat Adat dalam Pengelolaan Sumberdaya Alam di Sulawesi Tengah. Yayasan Tengah Merdeka, Palu.

Sen S, Nielsen JR. 1996. Fisheries co-management: a comparative analysis. Marine Policy 20(5) : 405-418.

Singarimbun M. 1989. Metode Penelitian Survey. LP3ES, Jakarta.

Sungkar A. 2010. Bahan Praktikum Manajemen Kawasan Konservasi Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Undang-Undang Republik Indonesia. 1990. Undang-Undang Nomor 5 Tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya, Jakarta.

Undang-Undang Republik Indonesia. 1999. Undang-Undang Nomor 41 Tentang Kehutanan, Jakarta.

103 Wibisono BK. 2009. Masyarakat adat Kasepuhan Banten Kidul Minta Perlindungan. http : //www.antaranews.com/Antara News Masyarakat Adat Kasepuhan Banten Kidul Minta Perlindungan.htm. diakses pada 24 Februari 2011

Wahyu. 2007. Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Pemberdayaan Masyarakat Dalam Perspektif Budaya dan Kearifan Lokal. Universitas Lambung Mangkurat Press, Banjarmasin.

Wikipedia Bahasa Indonesia. 2010. Kasepuhan Banten Kidul.

http://wikipedia.co.id. diakses pada 20 Februari 2011.

Rusyana Y. 2011. Altingia excelsa Noronha. http://www.plantamor.com. Diakses pada 24 April 2012.

ANALISIS KELEMBAGAAN MASYARAKAT ADAT KASEPUHAN

DALAM PEMANFAATAN SUMBERDAYA HUTAN

Studi Kasus Masyarakat Adat Kasepuhan Cibedug Taman Nasional

Gunung Halimun-Salak

AGUNG KURNIAWAN

DEPARTEMEN EKONOMI SUMBERDAYA DAN LINGKUNGAN

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2012

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi Analisis Kelembagaan Masyarakat

Adat Kasepuhan Dalam Pemanfaatan Sumberdaya Hutan: Studi Kasus

Masyarakat Adat Kasepuhan Cibedug Taman Nasional Gunung Halimun-Salak

adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan

dalam bentuk apapun pada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang

berasal atau dikutip dari karya diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis

lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian

akhir skripsi ini.

Bogor, Mei 2012

Agung Kurniawan H44070009

RINGKASAN

AGUNG KURNIAWAN. Analisis Kelembagaan Masyarakat Adat Kasepuhan Dalam Pemanfaatan Sumberdaya Hutan (Studi Kasus Masyarakat Adat Kasepuhan Cibedug Taman Nasional Gunung Halimun-Salak).

METI EKAYANI dan KASTANA SAPANLI.

Hutan sebagai karunia dan amanah Tuhan Yang Maha Esa merupakan kekayaan yang wajib disyukuri, diurus, dan dimanfaatkan secara optimal serta dijaga kelestariannya. Masyarakat adat Kasepuhan Cibedug adalah salah satu komunitas masyarakat hukum adat yang memanfaatkan sumberdaya hutan dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Poerwanto (2000) menyebutkan masyarakat adat memiliki kearifan lokal dan pengetahuan tradisi yang bermanfaat bagi penetapan dan pengaturan fungsi hutan. Walau dalam pemanfaatan sumberdaya hutan (SDH) hanya untuk dimanfaatkan sehari-hari dan tidak diperjual belikan bukan berarti keberadaan mayarakat Kasepuhan Cibedug di

kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (TNGHS) tidak

membahayakan kelestarian TNGHS. Penambahan jumlah penduduk di Kasepuhan Cibedug khususnya pendatang yang bukan asli masyarakat adat menyebabkan kebutuhan terhadap sumberdaya hutan untuk memenuhi kebutuhan hidup juga bertambah. Hal ini mengakibatkan semakin meningkatnya aktivitas pembukaan lahan kawasan hutan TNGHS untuk dijadikan lahan garapan serta pemukiman.

Tujuan utama dari penelitian ini adalah memberikan informasi tentang kondisi masyarakat adat Kasepuhan Cibedug yang berada di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak terutama dalam pola pemanfaatan sumberdaya hutan kawasan TNGHS serta pengaruhnya pada kondisi sumberdaya hutan TNGHS tersebut. Tujuan khusus penelitian ini antara lain : (1) menganalisis peran Balai TNGHS serta stakeholder terkait dengan keberadaan masyarakat adat Kasepuhan Cibedug di dalam kawasan TNGHS, (2) melihat kesesuaian serta potensi dampak yang dihasilkan dari pemanfaatan sumberdaya hutan yang dilakukan oleh masyarakat adat Kasepuhan Cibedug melalui perbandingan aturan adat Kasepuhan Cibedug dengan peraturan perundangan yang berlaku pada pengelolaan kawasan TNGHS, (3) mengevaluasi kegiatan co-management yang telah terbangun antara TNGHS dan Kasepuhan Cibedug di dalam pengelolaan kawasan TNGHS. Analisis kelembagaan dilakukan dengan metode deskriptif menggunakan Institutional Analysis and Development. Peraturan perundangan digunakan untuk menganalisis kesesuaian aturan adat Kasepuhan Cibedug dengan peraturan perundangan yang berlaku tentang pemanfaatan sumberdaya hutan.

Aturan-aturan adat Kasepuhan Cibedug dalam hal pemanfaatan sumberdaya hutan di TNGHS memiliki banyak kesesuaian dengan peraturan perundangan yang berlaku. Akan tetapi, masih terdapat ketidaksesuaian dalam aturan adat tersebut seperti alih fungsi lahan menjadi lahan petanian dan pemukiman serta pemanfaatan hasil hutan kayu oleh masyarakat Kasepuhan Cibedug. Walaupun ketidaksesuaian tersebut hanya sedikit namun bila tidak dikelola dengan baik dapat berpotensi mengancam kelestarian kawasan TNGHS.

Melalui wawancara yang mendalam (depth interview) dengan teknik informan kunci (Key Informant Approach) dihasilkan bahwa masyarakat adat Kasepuhan Cibedug memiliki kearifan lokal terhadap pemanfaatan sumberdaya hutan. Kearifan lokal tersebut antara lain pembagian ruang adat, aturan batasan

dalam pemanfaatan sumberdaya hutan, aturan akses pemanfaatan sumberdaya hutan dan aturan sanksi terhadap pemanfaatan sumberdaya hutan. Kasepuhan Cibedug juga memiliki struktur kelembagaan inti yang dipimpin oleh seorang Kepala Adat. Stakeholder yang terkait dengan keberadaan masyarakat Kasepuhan Cibedug antara lain TNGHS melalui Resort Cibedug, Pemerintah Desa Citorek Barat, dan lembaga swadaya masyarakat RMI.

Antara Kasepuhan Cibedug dan Taman Nasional Gunung Halimun Salak telah terbentuk Ko-manajemen secara informal dan telah mencapai tingkat konsultatif. Hal ini bisa dilihat dalam bentuk pertukaran informasi dan penentuan keputusan antara TNGHS dan Kasepuhan Cibedug berupa dijadikannya mandor dan tokoh masyarakat Cibedug sebagai perpanjangan tangan dari TNGHS melalui pihak resort untuk mengingatkan masyarakatnya agar tidak merusak hutan.

Kata Kunci : Kelembagaan, Sumberdaya Hutan, Taman Nasional, Co- Management, Masyarakat Adat

ANALISIS KELEMBAGAAN MASYARAKAT ADAT KASEPUHAN

DALAM PEMANFAATAN SUMBERDAYA HUTAN

Studi Kasus Masyarakat Adat Kasepuhan Cibedug Taman Nasional

Gunung Halimun-Salak

AGUNG KURNIAWAN H44070009

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan

DEPARTEMEN EKONOMI SUMBERDAYA DAN LINGKUNGAN

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR