DAFTAR PUSTAKA
2. Desa Sukatani
3. Desa Haurwangi 4. Desa Ramasari 5. Desa Kertamukti 6. Desa Kertasari 7. Desa Mekarwangi 8. Desa Cipeyeum
Jumlah penduduk Kecamatan Haurwangi sebanyak 51 229 jiwa.Terdiri dari laki-laki 25 854 jiwa dan perempuan 25 365 jiwa. Jumlah Kepala Keluarga (KK) sebanyak 14 465 KK.
Desa Sukatani
Berdasarkan Data Desa Sukatani bulan Desember tahun 2011, jumlah penduduk Desa Sukatani untuk laki-lakinya sebanyak 3600 jiwa sedangkan perempuannya 3661 jiwa. Kemudian untuk jumlah Kepala Keluarga yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 1885 jiwa. Kepala Keluarga yang berjenis kelamin perempuan 113 jiwa sehingga total keseluruhan Kepala Keluarga (KK) adalah 1998 KK. Jumlah angkatan kerja yang berusia 18-56 tahun sebanyak 3261 orang, sedangkan jumlah usia 18-56 yang masih sekolah tetapi tidak bekerja sebanyak 983 orang. Jumlah yang bekerja tidak tentu sebanyak 231 orang.
Lampiran 2 Hasil penelitian terdahulu
Hasil Penelitian Terdahulu
Penelitian mengenai interaksi keluarga telah banyak dilakukan, hal ini dapat dilihat dalam Tabel 19. Sementara itu, penelitian mengenai nilai-nilai keluarga dan potensi perdagangan manusia masih jarang dilakukan di Indonesia. Penelitian mengenai perdagangan manusia banyak dilakukan di negara lain seperti penelitian Neill Casey 2010 yang menganalisis proses geografis perdagangan manusia dalam konteks perbatasan AS-Meksiko. Perdagangan manusia ini terjadi dalam proses migrasi. Para migran sangat rentan terhadap penipuan yang dibawa oleh para perekrut perdagangan manusia apalagi para migran tersebut mungkin tidak dapat berbicara bahasa di tempat barunya dan membutuhkan bantuan orang lain untuk mencari pekerjaan atau perumahan. Perdagangan manusia di seluruh dunia didorong oleh proses yang kompleks namun secara umum kemiskinan, ketimpangan dan kurangnya kesempatan ekonomi akibat perpindahan menjadi tema menyeluruh bahwa populasi memaksa untuk meninggalkan rumah mereka dan berpotensi menjadi terlibat dalam perdagangan manusia.
No Tahun Penulis Judul Hasil
1 2012 Nurafifah Analisis Nilai Anak, investasi Anak, dan Potensi Perdagangan Anak
Nilai anak dan investasi anak tidak memiliki hubungan dengan potensi perdagangan orang. Potensi perdagangan anak internal memiliki hubungan negatif signifikan dengan pendidikan ayah dan pendidikan ibu, artinya semakin tinggi pendidikan ayah dan ibu, maka potensi perdagangan anak internal semakin rendah.
2 2012 Dewi RR Pengaruh interaksi Orang Tua dan Anak terhadap
Kesejahteraan Anak pada Keluarga Nelayan.
situasi dalam keluarga secara langsung dan tidak langsung akan membentuk kualitas interaksi yang terjadi antara ibu dan anak.
3 2008 Mashud M Perspektif Fenomenologi tentang Trafficking TKW. Masyarakat, Kebudayaan dan Politik
Pilihan menjadi TKW sudah menjadi kebutuhan bagi perempuan miskin di pedesaan. Mereka berada dalam posisi subordinat, marjinal dan kurang dalam pengetahuan, pemahaman, dan akses prosedur-prosedur hukum sehingga tiada perlindungan dari hukum termasuk negara.
4 2011 Neves A Women Trafficking for Sexual
Fenomena perdagangan perempuan untuk eksploitasi
Lampiran 2 Hasil penelitian terdahulu (lanjutan)
No Tahun Penulis Judul Hasil
Exploitation in Portugal: Life narratives
seksual tidak dapat mengesampingkan tentang seberapa besar pengaruh isu-isu gender, kelas etnis, budaya dan sosial.
Perempuan korban trafficking
berasal dari pedesaan yang tingkat perekonomiannya berada di bawah garis kemiskinan.
5 2011 Septiana S Analisis Fungsi Pengasuhan dan interaksi dalam Keluarga terhadap KualitasPerkawinan dan Kondisi Anak pada Keluarga TKW
Presentase terbesar
pengasuhan dilakukan oleh ayah. Interaksi antara anak dan ibu tergolong sedang, interaksi antara anak dan ayah tergolong tinggi dan interaksi antara ayah dan ibu juga tergolong tinggi. 6 2010 Hoque S Female Child
Trafficking from Bangladesh: a new form of slavery.
Upah kerja atau buruh paksa, migrasi tenaga kerja dan prostitusi, mitos budaya dan lain-lain dianggap faktor penarik bagi perdagangan anak perempuan
7 Contentious Issues in
Research on Trafficked Women Working in the Sex Industry
Faktor dari dalam keluarga turut berperan serta dalam menjerumuskan wanita ke dalam perdagangan manusia.
8 2000 Siregar V Nilai-Nilai Keluarga, Kecerdasan
Emosional (EQ) anak, dan Faktor-Faktor yang mempengaruhinya (Kasus di SDN Kotamadya Bogor)
Karakteristik keluarga (pendidikan ibu, pendapatan keluarga, hubungan suami istri dan riwayat ibu
berhubungan positif dengan nilai-nilai keluarga,
sedangkan besar keluarga berhubungan negatif. 9 2005 Trommsdroff G The Value of
Children in Cross-Cultural Perspective. Case of Studies from Eight Societies
This volume brings together studies from different countries on selected aspects of the value of children including theoretical and applied aspects of ongoing prosecces of
socio-demographic change in the international context. 10 2003 Siregar F Pengaruh Nilai dan
Jumlah Anak pada Keluarga terhadap
Anak memiliki nilai universal namun, nilai anak tersebut sangat dipengaruhi oleh
Lampiran 2 Hasil penelitian terdahulu (lanjutan)
No Tahun Penulis Judul Hasil
Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKKBS)
faktor sosiokultural dan lain-lain. Latar belakang sosial yang berbeda, tingkat pendidikan, kesehatan, adat istiadat, atau kebudayaan suatu kelompok sosial serta penghasilan dan pekerjaan yang berlainan menyebabkan pandangan yang berbeda terhadap anak.
Lampiran 3 Jenis data, variabel, alat dan cara pengukuran dan skala
Jenis
data Variabel
Alat & Cara
Pengukuran Skala Data
Cronbach Alpha (α)
Primer Karakteristik keluarga Kuisioner dengan wawancara langsung dan Indepth Interview 1. Usia 2. Jenis kelamin 3. Status dalam keluarga Rasio Nominal Rasio - - -
4. Tingkat pendidikan Nominal - 5. Pekerjaan Nominal - 6. Besar keluarga Nominal - 7. Pendapatan keluarga per bulan 8. Pendapatan per kapita Rasio Rasio - - Primer Primer Nilai-nilai keluarga 1. Makna keluarga 2. Makna pernikahan 3. Makna pasangan 4. Makna anak
5. Makna anak laki-laki 6. Makna anak
perempuan 7. Makna pendidikan
bagi anak laki-laki 8. Makna pendidikan
bagi anak perempuan Komitmen terhadap nilai-nilai keluarga Kuesioner dengan wawancara langsung dan Indepth Interview Kuesioner dengan wawancara langsung dan Indepth Interview Ordinal (40 item) Ordinal (6 item) (α=1.000) (α=0.317) Primer Primer Interaksi keluarga 1. Interaksi suami istri 2. Interaksi orang tua
dan anak 3. interaksi dengan keluarga besar Potensi perdagangan orang 1. Potensi internal 2. Potensi eksternal Kuesioner dengan wawancara langsung dan Indepth Interview Kuesioner dengan wawancara langsung dan Indepth Interview Ordinal (24 item) Ordinal (33 item) (α=0.863) (α=0.985)
Lampiran 4 Sebaran keluarga berdasarkan nilai-nilai keluarga, komitmen, interaksi keluarga No Pernyataan TS (1) KS (2) S (3) n % n % n % Makna Keluarga
1 Sekelompok orang yang memiliki hubungan darah 0 0 7 11.7 53 88.3 2 Tempat berbagi suka dan duka 0 0 0 0 60 100 3 Sumber kebahagiaan, kenyamanan dan ketentraman 0 0 0 0 60 100 4 Tempat untuk meneruskan generasi/keturunan 0 0 0 0 60 100 5 Sandaran hidup/tulang punggung 0 0 2 3.3 58 96.7
6 Harta yang paling berharga 0 0 0 0 60 100
Makna Perkawinan 7 Penyatuan antara laki-laki dan perempuan yang sah secara
agama dan hukum 0 0 0 0 60 100
8 Suatu ikatan yang suci dan sakral 0 0 0 0 60 100 9 Untuk mewujudkan keluarga yang sakinah, mawadah dan
warahmah 0 0 5 8.3 55 91.7
10 Suatu komitmen masa depan dan tanggung jawab 0 0 2 3.3 58 96.7 Makna Pasangan
11 Suami adalah seorang imam atau pemimpin di dalam
keluarga 0 0 0 0 60 100
12 Keputusan keluarga suami yang menentukan 3 5.0 14 23.3 43 71.7 13 Seseorang yang menjadi teman dalam berbagi suka dan
duka 3 5.0 1 1.7 56 93.3
14 Pencari nafkah dan pelindung keluarga 3 5.0 0 0 57 95 15 Penentu kesejahteraan dan kebahagiaan keluarga 3 5.0 0 0 57 95
Makna Anak
16 Titipan dan anugerah dari Tuhan YME 0 0 0 0 60 100 17 Buah cinta dalam suatu perkawinan 0 0 0 0 60 100
18 Penerus keturunan keluarga 0 0 0 0 60 100
19 Pencari nafkah tambahan keluarga 1 1.7 1 1.7 58 96.6 20 Meningkatkan taraf hidup keluarga 1 1.7 0 0 59 98.3
Makna Anak Laki-Laki 21 Pelindung bagi saudara perempuan dan keluarga di masa
depan 15 25 0 0 45 75
22 Tulang punggung keluarga 17 28.3 2 3.3 41 68.4 23 Calon pencari nafkah utama 14 23.3 1 1.7 45 75 24 Anak yang harus bertanggung jawab, tegas dan calon
pemimpin/imam 14 23.3 0 0 46 76.7
25 Anak yang harus bersekolah sampai ke jenjang yang lebih
tinggi 17 28.3 26 43.4 17 28.3
26 Anak yang bisa bekerja ke luar daerah atau merantau 14 23.3 4 6.7 42 70 Makna Anak Perempuan
27 Dapat membantu pekerjaan rumah tangga 15 25 1 1.7 44 73.3 28 Tidak diperbolehkan pulang larut malam 9 15 5 8.3 46 76.7 29 Anak yang manja dan lemah lembut 11 18.3 13 21.7 36 60 30 Lebih dalam memberikan kontribusi dalam ekonomi
keluarga 20 33.3 22 36.7 18 30
31 Anak yang lebih diperhatikan dalam pergaulannya 9 15 13 21.7 38 63.3 32 Memberikan kebahagiaan, keceriaan dan pemerhati dalam
rumah tangga 9 15 8 13.3 43 71.7
Makna Pendidikan Anak Laki-Laki
33 Bekal di masa depan untuk mencapai kesuksesan 14 23.3 4 6.7 42 70 34 Untuk mencari pekerjaan yang layak 14 23.3 1 1.7 45 75 35 Laki-laki akan menjadi pencari nafkah utama dalam
keluarganya 14 23.3 0 0 46 76.7 36 Tidak begitu penting, yang penting adalah bekerja 14 23.3 20 33.3 26 43.3
Makna Pendidikan Anak Perempuan
37 Bekal di masa depan dalam mencapai kesuksesan 12 20 6 10 42 70 38 Bermanfaat untuk mencari pekerjaan 12 20 9 15 39 65 39 Tidak perlu bersekolah terlalu tinggi karena nantinya akan
mengurus anak, suami dan rumah tangga 15 25 19 31.7 26 43.3 40 Investasi dalam memperbaiki kehidupan keluarga 13 21.7 23 38.3 24 40 Keterangan : TS= Tidak setuju; KS=Kurang setuju; S=Setuju
Lampiran 5 Sebaran keluarga berdasarkan komitmen terhadap nilai-nilai keluarga No Pernyataan TS (1) KS (2) S (3) n % n % n %
1 Materi di atas segala-galanya 34 56.7 15 25 11 18.3 2 Makan sedikit tidak menjadi masalah asalkan keluarga
bisa makan 1 1.7 0 0 59 98.3
3 Perceraian merupakan hal yang wajar dilakukan oleh
pasangan suami istri jika terdapat konflik 47 78.3 6 10 7 11.7 4 Saya ingin selalu meluangkan waktu untuk
bersama-sama dengan keluarga 2 3.3 6 10 52 86.7
5 Anak merupakan kebahagian yang tidak dapat
digantikan oleh apapun 0 0 1 1.7 59 98.3
6 Keluarga merupakan sumber kebahagiaan 0 0 0 0 60 100 Keterangan : TS= Tidak setuju; KS=Kurang setuju; S=Setuju
Lampiran 6 Sebaran keluarga berdasarkan interaksi keluarga No Pernyataan TP (1) K (2) S (3) n % n % n % Interaksi Suami-Istri 1 Saya dan suami berusaha berkomunikasi untuk
membicarakan masalah anak 6 10 14 23.3 40 66.7 2 Suami sangat senang jika bercerita kepada saya
dibandingkan orang lain 6 10 11 18.3 43 71.7 3 Saya dan suami sering konflik ketika membicarakan
masalah keuangan 11 18.3 29 48.4 20 33.3
4 Setiap akhir minggu, saya dan suami selalu
menyempatkan untuk jalan-jalan berdua 53 88.3 5 8.4 2 3.3 5 Suami sering memberikan saya surprise seperti
bunga 60 100 0 0 0 0
6 Saya merasa suami adalah sosok yang dapat
melindungi saya dan keluarga 6 10 1 1.7 53 88.3 7 Saya dan suami saling menghargai satu sama lain 6 10 0 0 54 90 8 Saya merasa sedih dan kesepian jika suami sedang
tidak berada di rumah 18 30 24 40 18 30
Interaksi Orang tua-Anak 1 Saya dan suami selalu menasehati anak jika anak
telah berbuat salah 8 13.3 9 15 43 71.7
2 Saya dan suami selalu memuji bila anak
mendapatkan hal yang baik 5 8.3 13 21.7 42 70 3 Saya dan suami selalu menyempatkan untuk makan
malam bersama dengan anak-anak 38 63.3 18 30 4 6.7 4
Saya dan suami selalu mengajak anak-anak untuk berlibur/ jalan-jalan pada akhir minggu atau jika ada hari libur
46 76.7 13 21.7 1 1.7 5 Saya dan suami mengetahui hobi anak-anak dan
kami sangat mendukungnya 11 18.3 25 41.7 24 40 6 Saya dan suami selalu membiasakan diri untuk
berkomunikasi terbuka dengan anak-anak 6 10 21 35 33 55 7 Saya dan suami selalu bersedia untuk membantu
anak-anak dalam memecahkan masalahnya 11 18.3 14 23.7 35 60 8 Saya dan suami sangat memperhatikan dengan siapa
anak-anak berteman 5 8.4 17 28.3 38 63.3
Interaksi dengan saudara 1
Kami selalu meminta pendapat dan masukan pada saudara atau keluarga besar saya mengenai kehidupan keluarga saya
16 26.6 34 56.7 10 16.7 2 Jika sedang mengalami kesulitan keluarga, kami
selalu menceritakan kepada keluarga besar 22 35 35 60 3 5 3 Keluarga besar tidak pernah memberikan kami
solusi jika kami sedang mengalami masalah 55 91.7 5 8.3 0 0 4 Kami tidak pernah menceritakan permasalahan
keluarga kepada keluarga besar kami 11 20 42 70 7 10 5 Keluarga besar terlihat cuek jika kami sedang
mengalami kesulitan 57 95 3 5 0 0
6 Jarak rumah yang saling berdekatan membuat kami
sering bertemu dengan keluarga besar 7 10 18 30 35 60 7 Jarak yang jauh membuat kami tidak pernah
bertemu dengan keluarga besar 37 61.7 17 28.3 6 10 8 Keluarga besar banyak memberikan solusi ketika
Interaksi suami-istri Interaksi orang tua-anak Interaksi dgn saudara Total interaksi Makna keluarga Makna pernikahan Makna pasangan Makna anak Makna nilai keluarga Makna anak laki-laki Makna anak perempuan Makna pendidikan anak laki-laki Makna pendidikan anak perempuan Makna nilai gender Interaksi suami-istri 1 0.609** 0.434** 0.865** -0.029 -0.730* 0.753** -0.123 0.643** -0.263* -0.125 -0.308* -0.205 -0.329* Interaksi orang
tua-anak 1 0.374** 0.877** -0.005 0.670** 0.764** -0.171 0.632** -0.095 -0.124 -0.085 0.015 -0.115 Interaksi dgn saudara 1 0.649** -0.041 0.512** 0.377** -0.265* 0.232 -0.052 -0.268* -0.071 -0.218 -0.211 Total interaksi 1 -0.026 0.798** 0.820** -0.212 0.666** -0.177 -0.190 -0.197 -0.141 -0.259* Makna keluarga 1 -0.005 -0.091 -0.123 -0.139 0.199 0.011 0.134 0.077 0.163 Makna pernikahan 1 0.643** -0.102 0.551** -0.181 -0.183 -0.167 -0.128 -0.245 Makna pasangan 1 -0.068 0.896** -0.160 -0.155 -0.181 -0.122 -0.227 Makna anak 1 0.381** 0.049 0.324* 0.043 0.295* 0.244 Makna nilai keluarga 1 -0.126 -0.000 -0.149 -0.018 -0.102
Makna anak laki-laki 1 -0.057 0.876** 0.134 0.770** Makna anak perempuan 1 -0.119 0.826** 0.549** Makna pendidikan anak laki-laki 1 0.101 0.718** Makna pendidikan anak perempuan 1 0.693**
Makna nilai gender 1
Komitmen Potensi internal Potensi eksternal Total potensi Usia suami Usia istri Pendidikansuami Pendidikanistri Besar keluarga Pendapatan/bulan Pendapatan /kapita
Komitmen Potensi internal Potensi eksternal Total potensi
Usia suami Usia istri Pendidikan suami Pendidikan istri Besar keluarga Pendapatan /bulan Pendapatan /kapita Interaksi suami-istri -0.145 -0.204 0.157 -0.030 0.430** -0.482** 0.360** -0.198 -0.154 0.110 0.163
Interaksi orang tua-anak -0.030 -0.349** -0.171 -0.314* 0.443** -0.373** 0.255* -0.291* 0.027 0.190 0.183
Interaksi dgn saudara 0.206 -0.247 -0.167 -0.250 0.428** -0.128 0.277* -0.351** -0.036 0.063 0.075 Total interaksi -0.024 -0.334** -0.064 -0.240 0.529** -0.435** 0.362** -0.330* -0.063 0.162 0.185 Makna keluarga -0.235 0.157 0.113 0.163 0.084 0.128 -0.110 0.028 0.045 -0.006 -0.049 Makna pernikahan 0.004 -0.168 -0.059 -0.137 0.666** -0.464** 0.539** -0.375** -0.072 0.107 0.138 Makna pasangan -0.055 -0.258 -0.032 -0.175 0.431** -0.348** 0.192 -0.352** 0.014 -0.008 0.038 Makna anak -0.011 0.257* 0.160 0.252 0.130 0.337** -0.141 0.030 0.271* -0.126 -0.199
Makna nilai keluarga -0.055 -0.124 0.042 -0.050 0.458** -0.172 0.115 -0.313* 0.133 -0.063 -0.053
Makna anak laki-laki -0.017 0.376** 0.248 0.376** 0.052 0.310* -0.170 -0.042 0.389** 0.219 0.030
Makna anak perempuan -0.166 0.371** 0.475** 0.509** 0.113 0.465** -0.235 0.042 0.436** 0.002 -0.291*
Makna pendidikan anak laki-laki
0.175 0.322* 0.142 0.280* 0.061 0.325* -0.115 -0.082 0.372** 0.190 0.021
Makna pendidikan anak perempuan
-0.010 0.377** 0.395** 0.464** 0.284* 0.548** 0.258* -0.105 0.651** -0.065 -0.390**
Makna nilai gender -0.018 0.529** 0.455** 0.592** 0.168 0.589** -0.285* -0.033 0.653** 0.147 -0.200
Komitmen 1 -0.091 -0.233 -0.189 0.044 0.119 0.095 -0.014 0.073 -0.015 -0.009 Potensi internal 1 0.382** 0.834** 0.190 0.475** -0.280* -0.019 0.413** -0.171 -0.356** Potensi eksternal 1 0.828** 0.221 0.308* -0.029 0.009 0.387* 0.199 -0.024 Total potensi 1 0.247 0.472** -0.187 -0.006 0.482** 0.015 -0.231 Usia suami 1 0.244 0.203 -0.339** 0.411** 0.046 -0.142 Usia istri 1 -0.423** -0.123 0.573** -0.128 -0.384** Pendidikan suami 1 0.057 0.332** 0.298* 0.366** Pendidikan istri 1 -0.242 0.115 0.141 Besar keluarga 1 -0.153 -0.517** Pendapatan/bulan 1 0.881** Pendapatan /kapita 1
Lampiran 8 Indepth interview
Kasus 1
Responden ini adalah seorang ibu yang memiliki tiga orang anak, anak pertama seorang perempuan berusia 23 tahun dan pendidikan terakhir hanya lulusan SD. Saat ini anak pertama Ibu A sudah menikah dan telah memiliki satu orang anak. Pekerjaan anak pertama Ibu A hanya sebagai ibu rumah tangga saja, sedangkan suaminya bekerja di Jakarta. Anak kedua Ibu A seorang laki-laki yang berusia 20 tahun. Pendidikan terakhirnya pun hanya lulusan SD. Saat ini anak kedua Ibu A bekerja sebagai buruh jahit di Jakarta. Anak ketiga Ibu A juga seorang laki-laki yang berusia 14 tahun, pendidikan terakhir SD dan saat ini bekerja sebagai buruh jahit di Jakarta bersama dengan kakak laki-lakinya. Pekerjaan suami Ibu A hanya seorang buruh tani yang pendapatan per bulannya pun tidak tentu. Terkadang sehari bisa mendapatkan upah sebesar Rp 30 000.00
atau diupah kembali oleh “pare 5kg/ 3 bulan”. Pekerjaan menjadi buruh tani tidak
menentu. Tidak setiap hari pekerjaan itu datang, hanya sesekali jika ada yang meminta.
Keterbatasan ekonomi yang menyebabkan anak-anak hanya bisa menyelesaikan pendidikan hingga bangku SD. Demi membantu perekonomian keluarga, anak-anak dari Ibu A rela bekerja ke luar kota kecuali anak pertamanya. Menurut Ibu A hampir sebagian warga di lingkungan rumah tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Rata-rata hanya lulusan SD dan bekerja sebagai buruh ataupun menikah usia dini. Selain itu ada juga warga yang bekerja ke luar negeri untuk menjadi TKW. Walaupun keterbatasan ekonomi, Ibu A tetap selalu menanamkan nilai-nilai agama kepada anak-anaknya. Pemaknaan Ibu A terhadap makna anak laki-laki dan perempuan tidak ada perbedaan. Menurut Ibu A, anak laki-laki dan perempuan sama saja baik itu dalam hal pendidikan maupun pengasuhan. Ibu A juga sangat berkomitmen terhadap pernikahannya, Ibu A tidak setuju dengan adanya perceraian walaupun di dalam rumah tangga terdapat konflik karena menurutnya segala sesuatu masih bisa diselesaikan baik-baik. Interaksi dalam keluarga pun cukup baik sehingga jarang terjadi konflik apalagi sampai pada tindakan KDRT yang tergolong berat.Hanya sesekali melakukan tindakan mencubit atau memukul saat anak-anaknya masih kecil. Hal tersebut dilakukan jika memang anak-anaknya melakukan kesalahan.
Kasus 2
Ibu B merupakan seorang wanita yang pernah bekerja di Abudabi selama 7 tahun.Ibu B bekerja demi memenuhi kebutuhan keluarganya karena seluruh keluarga besar hanya dapat mengandalkan ibu B saja. Responden B merupakan ibu yang memiliki dua orang anak perempuan, masing-masing berusia 23 tahun dan 15 tahun. Kedua anak ibu B hanya sebatas lulusan SMP dan untuk anak yang pertama telah menikah serta telah memiliki satu anak. Sedangkan untuk anak yang kedua tidak ingin melanjutkan sekolah ke SMA. Ia memiliki keinginan untuk bekerja seperti teman-teman di sekitar lingkungan rumah. Padahal suami ibu B bekerja sebagai pedagang di Bandung yang dilihat dari segi pendapatan mampu membiayai anak-anaknya sekolah sampai ke tingkat SMA. Tetapi memang ibu B memiliki prinsip untuk apa sekolah tinggi-tinggi jika nanti ujungnya menikah. Ibu B berpikir jika si anak melanjutkan sekolah ke SMA dan setelah lulus memilih
untuk menikah maka ibu B beranggapan bahwa tidak akan “balik modal”.
Menurutnya jika memang si anak ingin menikah lebih baik tidak usah melanjutkan ke tingkat SMA. Namun, jika si anak ingin bekerja maka diperbolehkan untuk melanjutkan ke tingkat SMA.
Kasus 3
Ibu C merupakan seorang ibu muda yang masih berusia 18 tahun tetapi sudah memiliki anak berusia 2 tahun. Suami ibu C berusia 21 tahun dan bekerja sebagai supir angkot di kampungnya. Sedangkan ibu C sendiri hanya seorang ibu rumah tangga. Pendapatan keluarga per bulan Rp 200 000.Ibu C merupakan seorang anak yang ditinggalkan oleh ibunya bekerja ke Arab Saudi sebagai TKW sedangkan bapaknya sudah tinggal bersama istri mudanya. Orang tua ibu C memang sudah bercerai sehingga ibu C tidak bisa melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Ibu C hanya sebagai lulusan SD saja.Di rumah ibu C tinggal bersama anak dan seorang adik laki-lakinya yang masih duduk di bangku SD. Semenjak orang tua ibu C bercerai dan ibunya bekerja sebagai TKW, ibu C lah yang mengurusi adiknya.Saat ini ibu C sudah menikah dan memiliki seorang anak perempuan yang masih balita tetapi ibu C memiliki harapan untuk anaknya kelak dan ibu C juga tidak ingin nasib yang dialami olehnya menimpa anaknya. Ibu C ingin yang terbaik untuk anaknya, mulai dari pendidikan dan masa depan anaknya. Interaksi yang terjadi di dalam keluarga ibu C tergolong cukup baik walaupun terkadang terjadi konflik antara ibu C dengan suaminya. Biasanya konflik dipicu karena masalah keuangan. Interaksi dengan saudara pun cukup baik karena rumah ibu C berdekatan dengan para saudara-saudaranya.
Kasus 4
Ibu D merupakan seorang ibu yang memiliki 6 orang anak. Pekerjaan suami ibu D hanya sebagai buruh tani yang memiliki penghasilan tidak tetap sehingga keluarga ibu D memiliki permasalahan dalam membiayai pendidikan anggota keluarganya. Ibu D hanya bisa membiayai anak-anaknya sampai tingkat SD. Anak pertama ibu D adalah seorang perempuan yang berusia 15 tahun namun sudah menikah. Selain itu, kelima adik-adiknya masih berusia di bawah 12 tahun bahkan ada yang masih berusia 1 tahun sehingga tanggungan ibu D semakin berat. Keadaan keluarga yang serba kekurangan tidak membuat ibu D lupa akan nilai-nilai keluarga. Interaksi dalam keluarga juga tergolong cukup baik, baik itu interaksi dengan suami, anak maupun keluarga besar. Tetapi terkadang ibu D juga mengalami perdebatan dengan suami karena masalah uang dan anak. Perdebatan tersebut tidak sampai menimbulkan konflik yang besar apalagi sampai menimbulkan tindak kekerasan. Menurut ibu D wajar bila dalam rumah tangga terjadi konflik dan biasanya konflik antara suami istri yang sering terjadi adalah konflik yang disebabkan karena masalah keuangan keluarga.
Kasus 5
Ibu E merupakan seorang ibu dari 6 orang anak. Ibu D hanya seorang ibu rumah tangga sedangkan suaminya bekerja sebagai buruh tani yang memiliki penghasilan tidak menentu. Anak pertama ibu E berusia 19 tahun namun telah menikah dan memiliki seorang anak yang berusia 3 tahun. Menurut ibu E, ia menikahkan anak pertamanya karena memang sudah tidak dapat membiayai
pendidikan ke jenjang berikutnya. Keluarga ibu E memang memiliki permasalahan dalam segi ekonomi ditambah lagi dengan anak yang jumlahnya cukup banyak dan jarak usia yang tidak begitu jauh sehingga ibu E sangat kerepotan untuk mengurusi anak-anaknya yang masih berusia balita dan sekolah. Ibu E sering berhutang jika tidak memiliki uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bahkan jika memang mendesak, ibu E akan menjual asset yang dimilikinya. Keadaan keluarga yang serba kekurangan tidak membuat ibu E lupa akan nilai-nilai keluarga walaupun memang ibu E masih lebih memikirkan materi dibandingkan pendidikan anak-anaknya.