Alwi, Hasan. 2002. Ragam Bahasa Indonesia. J. B. Wolters-Groningen:
Jakarta.
Aminuddin. 2002. Analisis Wacana. Kanal: Yogyakarta
Arcan, Denzin, Norman.K., dan Lincoln, V. S. 2009. Hand Book of Qualitative Research. PustakaPelajar: Yogyakarta.
Arifin, Bustanul dan Rani, A. 2006. Analisis Wacana. Sebuah Kajian Bahasa dalam Pemakaian. Bayu Media Publishing: Malang
Brown, Gillian and Yule, George.1996. Analisis Wacana. DiIndonesiakan oleh I.Soetikno. PT Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.
Cuming, Louise. 2005. Pragmatics a Multidisciplinary Perspective.
Endinburgh University Press: George Square.
Dardjowidjojo, Soenjono (Ed.). 1985. Perkembangan Linguistik di Indonesia.
Cipta Gramedia : Jakarta.
Depdiknas. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi 3. Balai Pustaka.
Jakarta.
Djajasudarma, Fatimah. 2012. Wacana dan Pragmatik. PT. Rafika Aditama:
Bandung.
Eriyanto. 2005. Analisis Wacana. Pengantar Analisis Teks Media.
LKIS.Pelangi Pelajar: Yogyakarta.
Grice, H.P. 1991. Logic and Conversation. Dalam Davis, S. (Ed.), Pragmatics:
A Reader . Oxford University Press: New York
Gunawan, Heri. 2012. Pendidikan Karakter Konsep dan Implementasi.
Alfabeta: Bandung.
Hadi, Amirul. 2003. Teknik Mengajar Sistematika. Rineka Cipta. Jakarta.
Halliday, M.A.K, dan Ruqaiya Hasan. 1985. Bahasa, Konteks danTeks:
Aspek-Aspek Bahasa dalam Pandangan Semiotik Sosial,
diterjemahkan oleh Asruddin Barori Tou.Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.
Herawati, Nanik. 2008. Analisis Wacana Syair Lagu Anak-Anak Karya A.T Mahmud Kajian Eksternal dan Internal.
Hymes, Dell. 1972. Foundation in Socialinguistic. An Ethnographic Approach.
University of Pensylvania: Philadelpia.
Kaelan, M. S. 1998. Filsafat Bahasa: Masalah dan Perkembangannya.
Paradigma: Yogyakarta.
Kamisa. 1997. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Kartika: Surabaya.
Kaswanti Purwo, Bambang. 1984. Deiksis dalam Bahasa Indonesia. Balai Pustaka: Jakarta.
Kemendiknas. 2010. Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa. Puskur-Balitbang Kemendinas: Jakarta.
Khusnia, Furoidatul. 2006. Gaya Penuturan pada Salawat Nabi. Tidak Dipublikasikan.
Leech, Geofrey. 1976. Semantik 1 dan 2 (Terjemahan J. Hendriex). Uitgeverij het Spectrum: Utrecht.
Liye, Tere. 2016. Hujan. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta
Malinowsky, Bronislaw. 1923. The Problem of Meaning in Primitive Languange, dalam Ogeden, C,K dan IA Richards(ed). The Meaning of Meaning. Rouledge Keegan. Paul.Ltd: London.
Mappangewa, S. Gege. 2012. Lontara Rindu Republika: Makasar
Mulyana. 2005. Kajian Wacana: Teori, Metode, dan Aplikasi Prinsip-prinsip Analisis Wacana. Yogyakarta:Yogyakarta.
Naily, Mutia. 2012. Analisis Wacana Puisi Kembang Sepasang Karya Joko Pinurbo (Analisis Konteks, Aspek Gramatikal, dan Leksikal).
Nurchaily. 2010. Membentuk Karakter Siswa melalui Keteladanan Guru.
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol. 16. Edisi Khusus III, Oktober 2010. Balitbang Kemendiknas. Jakarta.
Nurgiyantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.
Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Makassar. 2014.
Pedoman Penulisan Tesis: Makasar.
Refatterr.1978,Sociolinguistics. Cambridge University Press: Camridge.
Semi, M. Atar. 1993. Anatomi Sastra. Angkasa Raya. Padang.
Soekemi. S. 1988. Fragmentasi Sumber Data. Karunika: Jakarta
Stanton, Robert. 2007. An Introduction to Fiction. (Diterjemahkan oleh Sugihastuti). Pustaka Pelajar :Yogyakarta.
Sumarlam. 2005. Teori dan Praktik Analisis Wacana. Pustaka Cakra:
Surakarta.
Sumarsono. 2011. Sosiolinguistik. PustakaPelajar: Yogyakarta.
Suryaman, M. 2011. Menuju Pembelajaran Sastra yang Berkarakter dan Mencerdaskan. Makalah. Disajikan dalam Pekan Sastra pada 30 April 2011. Universitas Sebelas Maret: Surakarta
Syamsuddin, A.R. 1992. Studi Wacana: Teori Analisis-Pengajaran. FPBS Press: Bandung
Tarigan, H.G. 1987. Pengajaran Wacana. Angkasa: Bandung.
Trilaksono. 2006. Drama Mayor Barbara karya George Bernardshow. Tidak Dipublikasikan.
Waluyo, H.J.2002. Pengkajian Sastra Rekaan. Widyasari Press: Salatiga.
Wellek, Rene and Warren, Austin. 1989. Theory of Literature. Cox & Wymann Ltd: London.
4. Tempat Terbit : Jakarta 5. Cetakan ke- : 2 juni, 2014 6. Tebal : viiii+343 halaman 7. ISBN : 978-602-7595-01-9
Kehidupan Vito yang sederhana tak membuatnya patah semangat. Vito dilahirkan di Pakka Sallo Desa terpencil di Sidenreng Rappang, saat dalam kandungan ibunya, Vito ditinggal sang ayah ke Kalimantan,Vito memiliki saudara kembar bernama Vino. Saat berumur satu tahun, Ilham ayah Vino dan Vito kembali ke Pakka Sallo dan kembali berpura-pura menjadi muslim.
Satu tahun kemudian Ilham kembali menganut Tolotang dan membawa lari Vino.
Halimah dan ayahnya sangat terpukul atas kejadian itu hingga mereka mendidik dan menjaga Vito dengan sangat baik. Halimah dan ayahnya sangat tertutup perihal Ilham dan Vino, Vito yang merupakan anak cerdas dan kritis mulai bertanya tentang ayah dan saudaranya. Vito terus bertanya pada ibu dan kakeknya tetapi mereka diam seribu bahasa hingga akhirnya Vito memutuskan untuk mencari informasi dari guru dan sahabat ayahnya.
Selama proses pencarian itu, Vito melalui masa kecil bersama kesembilan temannya tidak hanya pelajaran sekolah yang didapatnya tetapi pendidikan moral dan keagamaan yang baik dari Pak Amin dan Bu Maulindah.
menceritakan kejadian sebenarnya Vito makin bersemangat untuk mencari sang ayah. Terlepas dari kesalahan Ilham, Vito tetapi percaya beberapa kesalahan yang dibuat Ilham tak akan menghapus status sebagai seorang ayah apalagi masa kecil hingga dua tahun dilaluinya bersama sang ayah.
Vito memulai pencarian dengan berkunjung di rumah Pak Saleng di Corawali, dari Pak Saleng Vito mendapat alamat ayahnya di Samarinda Kalimantan Timur. Pencarian kedua adalah dengan meminta izin kepada ibu dan kakeknya untuk ke Periyammeng, Amparita. Tempat di mana ritual tahunan rutin diadakan orang Tolotang. Menurut informasi yang didapat ritual yang diadakan sekali dalam setahun itu akan menjadi ajang berkumpulnya orang-orang Tolotang. baik dari daerah Sulawesi Selatan maupun yang merantau ke Provinsi lain. Harapan Vito untuk bertemu ayahnya gagal, yang ia temui hanya Jihang teman masa kecil Vino dan Uwa’ yang merupakan ayah dari Ilham.
Vito kembali ke Pakka Salo dengan kecewa, tetapi masih dengan harapan besar. Usahanya untuk bertemu sang ayah gagal lagi, Vito mulai belajar memahami dan menerima kenyataan, usianya masih terlalu muda untuk merantau ke Samarinda. Dua bulan berakhir setelah pencarian keduanya, Vito diculik oleh orang yang tak dikenal. Halimah dan ayahnya
suruhan dari Nadia istri kedua ilham. Nadia memenuhi janjinya pada Ilham untuk mempertemukannya dengan Ilham.
Vito menyadari akan kesedihan ibu dan kakeknya, tetapi tak ada pilihan lain agar bisa bertemu sang ayah Vito harus menuruti perintah suruhan ayahnya. Setibanya di Samarinda Vito sempat kecewa karena ayahnya tak menjemput. Ketika tiba di sebuah rumah besar nan megah Vito sangat takjub, ayahnya menjadi perantau sukses berbanding terbalik dengan kehidupannya di Pakka Salo.
Pertemuan Vito dan Vino sangat mengharukan. Vino mengajak Vito ke sebuah kamar di mana ayah mereka terbaring kaku. Air mata Vito tak terbendung lagi, inilah alasan Vito diculik, ayahnya sakit parah hanya menunggu maut menjemput. Rasa bahagia Vito karena ayah dan adiknya masuk Islam dan kesedihan mendalam ia tak dapat bercengkerama dengan ayahnya. Tiga hari tinggal di Samarinda, Vito pamit untuk pulang ke Pakka Salo, berat meninggalkan ayahnya, tetapi lebih berat lagi Vito meninggalkan ibunya yang saat itu sangat berduka. Vito berharap Vino bisa menjaga ayahnya dengan baik begitupun Vito akan menjaga ibunya dengan baik. Vito berusaha kuat dan tegar sebagaimana ia melalui masa kecil tanpa sosok seorang ayah dan adik.
Suami dari Nuvida Raf ini adalah alumni Universitas Muslim Indonesia, Fakultas Teknik Jurusan Mesin, Makassar.
Pengalaman menulis, juara I Lomba Menulis Cerita Pendek Islami Majalah (LMCPI) Anninda 2008. Juara III Lomba Cipta Cerpen Aneka Yess!
2002. Pemenang Lomba Tulis Cerita Gokil/Lucu Media Kita, 2007, Universitas Hasanuddin. Juara Harapan Lomba Menulis Cerita Anak oleh Guru Majalah Bobo (2011). Lebih dari seratus cerpennya, termuat di beberapa Media (Republika, Aneka Yess!, Keren Beken, Anninda, Sabili, Fantasi Teen, Muslimah, Favorit, Jelita, dll).
Buku- bukunya yang telah diterbitkan antara lain ; sebuah novel lucu Cupider-Man 3G (LPPH, 2008). Kumpulan cerpen pribadi, Kupu-Kupu Rani (LPPH, 2005) dan Save in Your Heart (Zikrul, 2007). Antologi cerpen lucu Suparman Pulang Kampung (LPPH, 2007) dan 20 cerita Gokil (Mdia Kita, 2007. Antologi esai Ketika Penulis Jatuh Cinta (LPPH, 2005) dan Miss Right Where Are you (LPPH, 2005) dan novel anak Janji Sepasang Layang-Layang (Mitra Bocah Muslim/MBM, 2006). Ustadz Jefri pun Menangis (MBM, 2007), Peribahasa Terindah (MBM, 2008) dan Rahasia Boneka Nasywa (2009).
Penulis bergiat di Forum Lingkar Pena, sebagai dewan penasehat dan sebagai Kepala Sekolah SMP Plus Al Ashari.
N o
Fokus
Penelitian Data Terpilih Sumber
A sepantaran dengannya, yang dari gelagatnya juga senasib dengannya, mendekat. penilaian sempurna di matanya. Bukan hanya wajah. Dari cara bicaranya yang sopan, Halimah menangkap kesan jika lelaki itu berpendidikan.
“Kenapa bisa kemalaman?”. Lelaki itu membuka topik.
“Saya dari menjelang magrib berdiri disini…,” ucap Halimah tanpa sekali pun menatap mata lawan bicaranya.
“Menjelang magrib? Kalo menjelang magrib, harusnya tadi nunggu di terminal.
Biasanya mobil yang full penumpang ndak lewat sini lagi, tapi mengambil jalur lewat depan Rumah Sakit Nenek Mallomo. Di sini khusus nunggu mobil dari Parepare.”
“Kalau tidak ada angkot hingga isya, saya bisa pinjam mobil kakak sepupu saya
sekolah? Berapa biaya yang harus kalian keluarkan? Dan yang lebih mengecewakan, sudah hampir satu tahun kalian belajar disini, tak satu pun dari kalian yang bisa menyumbangkan satu piala untuk sekolah kita….?”
3.
“Kamu memang keterlaluan, To! Harusnya waktu kami ke rumahmu dengan Pak Amin, kamu jujur aja. Bukan malah pura-pura terpukul dengan kematian kakek kamu.”
“Apalagi saat Pak Amin lari tunggang langgang karena melihat kakek kamu ditengah malam, itu sama saja jumat, gantikan katte(khatib) Lolo baca kutbah,” protes Vito saat Irfan ikut menyalahkannya.
“Ssst!Pak Amin datang!” seluruh siswa beranjak ke tempat duduk masing-masing.
“Hari ini Bu Maulindah ndak masuk. Saya yang gantikan pelajaran IPS.” Irfan menyenggol kaki Vito pertanda memintanya ke depan kelas untuk meminta maaf. Vito masih kikuk.
Berikutnya tendangan dari belakang oleh Adnan. Dengan isyarat yang sama,
memenuhi panggilan itu dengan seribu tanda tanya. Tak biasanya ia dilibatkan dengan ‘upacara’ minum kopi ayah dan ibunya.
“Tadi pamanmu menemuiku di kebun mete….” Suara ayahnya berhenti sambil menyorot wajah Halimah di bawah cahaya lampu sepuluh watt.
“Sepertinya dia mabbaja laleng (membersihkan jalan): ungkapan yang berarti penjajakan. Biasanya dilakukan keluarga laki-laki sebelum datang melamar).”
“Tapi….”
“Tapi kau mencintai Ilham? Begitu maksud kamu?” tegas ayahnya
“Dua bulan tinggal di kampung kita, sekali pun dia tak pernah ke masjid. Setinggi apa pu sekolahnya, bagiku Azis yang selalu azan di masjid, masih jauh lebih berpendidikan daripada dia.”
5.
“Saya menemanimu tidur malam ini bukan untuk bercerita tentang ayahmu. Aku ingin mengajakmu menjadi lelaki Bugis yang sesungguhnya!” Vito yang tadinya memeluk guling untuk menyembunyikan tangis,kini meleraikan gulingnya.
“Lelaki Bugis tak berpantang menangis, tapi saat dia menangis, tak boleh ada yang
2012:87
Novel Lontara Rindu, 2012:118
kelelawar berebut buah semu jambu mete.
Juga sesekali suara burung hantu yang bertengkar di puncak pohon asam yang daunnya banyak meranggas akibat kemarau berkepanjangan.
6.
“Ada yang hampir terlupa, saya pertama ke Pakka Sallo tahun delapan puluhan.
Kalian tahu untuk urusan apa?” semua menggeleng. Semua penasaran. Mereka bisa membaca gaya bicara Pak Amin saat bercerita dan bertanya retoris, itu berarti ada cerita yang sangat menarik dari
“Hampir?” Alif mencoba mengorek lebih jauh, mengapa tak semua lahan tertananmi. Semua mata beralih ke Alif karena pertanyaannya dianggap mengganggu cerita.
“Lahan yang tidak tertanami adalah lahan yang tak bisa di garap lagi, karena musim hujan akan segera berakhir. Biasanya lahan seperti inilah yang akan ditempati kerbau dan sapi mencari makan….”
“Oke, sudah sore. Kita harus pulang!”
7.
“Lima jam perjalanan kaki meninggalkan Pakka Sallo, menelusuri setapak belantara di antara gelap. Cinta telah memberinya keberanian serupa itu. tak sedikit pun ketakutan menyusup di hatinya meski
Novel Lontara
akan berpijak. Matahari baru saja menyapa pagi ketika dia tiba di Corawali.
Lalu sebuah angkot mengantarnya ke Pangkajene. Tapi sedikit kecewa saat tempat yang ditujunya itu tak ada Ilham,
“Teman saya, laki-laki.” Ungkap Halimah pada Pak Sopir
“Enam hari berturut-turut ada seorang lelaki yang duduk disini. Katanya menunggu seseorang. Menunggu dari pagi dan pulang malam dengan agkot terakhir.”
8.
“Tonronge sekarang seperti pasar.”Pak Amin membuka cerita sambil merapatkan duduk di kursi kayu yang tersedia di lego-lego. “Hanya sawah kita yang tidak di beri patok pembatas.”
“Sudah kamu patok tadi?”
“Ya, sabarlah! Insya-Allah, tanah kita aman. Buktinya ndak ada yang mau mengakuinya…”
“Bukan ndak ada, tapi belum ada.”
“Tadi pagi, katanya, orang dari Dinas pertambangan sudah mengambil sampel tanahnya. Tunggu sampai ada pengumuman resmi dari pemerintah….”
“Kalau cuman mau lihat-lihat sawah , saya juga bisa. Kenapa ndak di patok tadi?.”
Novel Lontara Rindu, 2012:212
kampung untuk tidak percaya dengan apapun yang dikatakan oleh pemerintah dalam hal ini Dinas Pertambangan dan energi. Termasuk pengolahan emas jika Tonronge betul-betul jadi ladang emas.”
9.
“Hari ahad, Pak Amin dan tujuh siswa laki-lakinya berkumpul di lapangan sekolah.
Pak Bahtiar turut hadir.
“Pekan depan, kita akan ikut lomba futsal antar sekolah tingkat Kecamatan di Corawali!” kini yang berteriak. Suasana tenang lagi.
“Lawan-lawan kita di luar sana sudah siap sejak dua bulan lalu. Sedangkan waktu kita tinggal sepekan karena suratnya baru diterima. Jadi, kita harus berlatih sepuluh kali lipat dari mereka jika kita ingi menang,” Lanjut Pak Bahtiar.
10.
“Kalian ke ruang Kepala Sekolah!”
Ketujuhnya langsung tatap. Ada irama ketakutan dari degup jantung mereka.
“Berani berbuat, berani bertanggung jawab!” ucap Pak Amin saat belum ada
B
1.
Unsur Eksternal Wacana
Praanggapan
diharapkannya terpaku di tempat. Tak sampai sepuluh menit setelah mereka menemui Kepala Sekolah, mereka telah kembali tapi bukan ke kelas. Mereka digiring ke lapangan. Di sana mereka berguling, lompat kodok keliling lapangan, sambil menirukan suara burung gagak.” ketempat pertama kita bertemu. Berdiam diri di sana sampai orang mengenalku
dirusak! Nilainya pun tak seberapa, tapi cara mencurinya yang profesional, membuat saya yakin bahwa ada orang yang mem-back up aksi ini”.
17.
“Awas kena parang, jangan duduk di depan ayah!”
18.
“Bu Maulindah sebenarnya kagum dengan kepintaran Vito bercerita. Paling jago ngarang cerita. Selalu punya alasan yang membuat temannya terpesona sekaligus membuat Bu Maulindah menyembunyikan senyum karena tak ingin dianggap luluh susah sekali dinaikkan ke truk.”
20.
“Pokoknya kita harus bersatu! Jangan sampai ada yang diberi iming-iming harga tinggi lalu menjualnya. Akan lebih menguntungkan kalau kita sendiri yang mengelolanya. Ndak usah takut! Saya akan mengajari kalian cara menambang.
Rindu,
2. Implikatur
21.
“Ini situasinya darurat. Bayangkan kalau gurunya tahu dia bohong, bukan hanya dia, tapi saya sebagai kakeknya dan kamu sebagai mamanya akan ikut aksi kita, bahkan malah menyerahkan kita ke warga untuk diadili.”
“Sebelum masuk ceritakan dulu alasan keterlambatan!”
“Saat mau berangkat ke sekolah tadi, warga kampung dihebohkan dengan seekor ular hitam yang tiba-tiba muncul dari semak.”
“Panjangnya lebih dari dua meter…”
sebesar saya ya, Ma!” menunggu seseorang. Menunggu dari pagi dan pulang malam dengan angkot terakhir.”
”Pulang kemana?”
”Katanya dia orang Amparita. Dia sempat memperkenalkan nama pada saya….” tak ada lagi mobil malam ini.”
28.
”Sekali lagi, saya akan datang. Kamu jangan pernah menerima lamaran lelaki mana pun.”
”Tapi, Bu, kita ndak pernah lagi dengar
“Ayah ini bagaimana, masa mendidik anak seperti itu?”.
“Ini situasinya darurat. Bayangkan kalo gurunya tahu dia bohong…”.
dengan mata telanjang.”
”Saya mengajak kalian ke sini bukan untuk menyakini cerita-cerita mistik yang ada di balik sejarah sumur ini tapi untuk memperlihatkan kepada kalian, bahwa kisah Nenek mallomo yang melegenda di Sidrap benar-benar pernah terjadi. Bukan dongeng semata!”
35.
”Kenapa ya, Bu Maulindah sering sekali mengkhayal?”.
“Mikir jodoh kali ya?”
“Jangan berisik, pesawat mau boarding nih!”.
”Saya kesini bawain sleeping bag kamu sembilan september. Saya ulang tahunya,Ma?”
”Ada yang bisa saya bantu, Pak?”
”Saya Japareng, Pak!”
41.
”Korupsi itu sama dengan mencuri ya, Pak?”
”Ooohhh, jelassss!Koruptor itu di atasnya pencuri. Mereka adalah penyamun-penyamun berdasi,”
”Jangan-jangan mereka penyebab kemarau panjang ini!”
”Kita tidak boleh memvonis seperti itu. Kita tanya hati kita masing-masing dan jawab dengan hati kita masing-masing.
Rindu,
3. Inferensi.
mencuri karena batang kayu yang dicurinya adalah kayu yang batangnya menjulur ke kebunnya.”
”Pekan depan, kita akan ikut lomba futsal antarsekolah tingkat Kecamatan di Corawali!”.
”Kita harus jadi pemenang!”
”Kita ke Pangkajene?”
”Yess! Kalo begitu kita harus menang!”
”Kita harus latihan!”
44.
” Mau diapakan air itu?”
” Buat diminum Pak,”
”Saya mengajak kalian kesini bukan untuk menyakini cerita-cerita mistik yang ada dibalik sejarah sumur ini tapi untuk memperlihatkan kepada kalian, bahwa kisah Nenek Malomo yang melegenda di
Novel Lontara
C
Pendidikan Karakter
”bisa kita bicara?saya ada bisnis menarik!”
”Dengan saya?Mau pesan Jadde’untuk besok?.
”Bukan mau pesan Jadde’. Boleh saya naik dulu ke rumah?”.
46.
“Kamu tutup hidung saja! Saya yakin kamu ndak tahan. Ndak usah malu-malu”.
47.
“Koruptor itu di atasnya pencuri, mereka itu penyamun-penyamun berdasi.”. Namun Pak Amin tidak sekadar mengutuk keadaan tetapi juga mengajak siswa-siswanya berefleksi, “Kita tanya hati kita masing dan kita jawab masing-masing. Pernahkan kita tidak jujur selama ini? Pernahkan kita mencuri selama ini?
Ingat putra Nenek Mallomo yang membawa petaka kemarau hanya mencuri sebatang kayu.” Efek dari refeleksi Pak Amin diceritakan bahwa Sarah, Alaudin dan Adnan siswa-siswanya menjadi menyadari kesalahan mereka
48.
“La Palaga, apa yang terjadi dengan negeri ini? Sepanjang sejarah, baru kali ini negeri ini dilanda kemarau berkempanjangan,” ungkap Raja La
Novel Lontara
“Puang, ade’ temmakkeana’ nennia temmakeappo (adat tak mengenal anak dan tak mengenal cucu).
Nenek Mallomo sebagai hakim yang bijak lagi adil kemudian menjatuhkan vonis mati kepada putra tercintanya.
“Apa itu tidak terlalu berlebihan, Pagala?”
“Puang, saya menghukumnya bukan karena kayu yang dicurinya, tapi karena perbuatannya itu. Karenanya negeri ini telah dilanda kemarau berkepanjangan.
Dia telah menyengsarakan rakyat”.
50.
“Aku berpesan kepada tiga golongan:
kepada raja, hakim, dan pelayan masyarakat. Jangan sekali-kali engkau meremahkan kejujuran itu. Berlaku jujurlah serta peliharalah tutur katamu, engkau harus tegas. Sebab kejujuran dan tutur kata yang baik itu memanjangkan usia.
Oleh karena itu takkan mati kejujuran itu, takkan runtuh yang datar, takkan putus yang kendur, takkan patah yang lentur. “itu pesan Nenek Mallomo semasa hidupnya yang hingga kini tak banyak lagi yang mampu melaksanakan amanah itu.”
51.
“Vito memeluk temannya satu per satu dan mengucapkan terima kasih atas perjuangannya yang telah berhasil menyelamatkan lebih dari seperempat kebun mete…”
sepanjang jalan menuju Makassar. Besok pagi, aka nada polisi yang datang kesini untuk melaporkan hasilnya.”
53.
“Piltrip? Pil apa tuh, Pak? Tanya Anugrah sambil mencolek sambal dengan ubi goreng langsung dari ulekan.
“Field Trip! Itu sama dengan darmawisata.
Saya akan mengajak kalian ke sebuah sumur di Allaukang”.
“Sumur? Di sungai sini juga banyak sumur, Pak,” sela Irfan”
54.
“Oh iya, Pak! Allaukang yang akan kita kunjungi dekat dengan Amparita ya, Pak?”
Vito bertanya dengan tatapan penuh harapan dan suara yang serius.
“Berbatasan! Kalau dari sini, Amparita dulu baru Allaukang, setelah itu Pangkajene ibu Kota Kabupaten. Memang kenapa, To?
Novel Lontara Rindu 2012:91
Novel Lontara Rindu 2012:92
“Co-Corawali!” jawabnya dengan gugup.
“Saya mau ke Amparita. Tapi sepertinya tak ada lagi mobil malam ini.”
Halimah melirik lelaki yang berdiri tak jauh dari sampingnya. Di bawah lampu jalan yang mulai temaran, lelaki itu mendapat penilaian sempurna di matanya. Bukan hanya wajah. Dari cara bicaranya yang sopan, Halimah menangkap kesan jika lelaki itu berpendidikan.
“Kenapa bisa kemalaman?”. Lelaki itu membuka topik.
“Saya dari menjelang magrib berdiri disini…,” ucap Halimah tanpa sekali pun menatap mata lawan bicaranya.
“Menjelang magrib? Kalo menjelang magrib, harusnya tadi nunggu di terminal. Biasanya mobil yang full penumpang ndak lewat sini lagi, tapi mengambil jalur lewat depan Rumah Sakit Nenek Mallomo. Di sini khusus nunggu mobil dari Parepare.”
“Kalau tidak ada angkot hingga isya, saya bisa pinjam mobil kakak sepupu saya yang di sini. Saya janji akan antar kamu sampai ke Corawali.”
(LR, 2012:46-48) Data 2
“ingat! Ini sekolah baru! Kalau kalian tak bisa di atur, bisa-bisa pemerintah meniadakan kembali sekolah ini. Kalian mau ke sekolah kecamatan melanjutkan sekolah? Berapa biaya yang harus kalian keluarkan? Dan yang lebih mengecewakan, sudah hampir satu tahun kalian belajar disini, tak satu pun dari kalian yang bisa menyumbangkan satu piala untuk sekolah kita….?”
(LR, 2012:13) Data 3
“Kamu memang keterlaluan, To! Harusnya waktu kami ke rumahmu dengan Pak Amin, kamu jujur aja. Bukan malah pura-pura terpukul dengan kematian kakek kamu.”
“Apalagi saat Pak Amin lari tunggang langgang karena melihat kakek kamu
“Apalagi saat Pak Amin lari tunggang langgang karena melihat kakek kamu