SIKLUS II Pemberian materi
DAFTAR PUSTAKA
Yamin, Martinis. 2012. Desain Baru Pembelajaran Konstruktivistik. Jambi : Referensi
Ade Sanjaya. Pengertian-Definisi-Hasil-Belajar. (Diakses tanggal 05 Mei 2012).
Andi. Teori-teori-Belajar. (Diakses tanggal 05 Mei 2012).
Aunurrahman, 2009. Belajar dan Pembelajaran. Bandung : Alfabeta Ekawarna, 2010. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Gaung Persada
--- & Suhardjo. 2010. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : PT Bumi Aksara
Hasan muhammad tholchah, 2009. Metode penelitian kualitatif. Surabaya:
visipress media
Hasbullah, 2006. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: Grafindo Persada Huda Miftahul, 2011. Cooperatif Learning. Yogyakarta : Pustaka Pelajar Lekroy, Efektifitas-Model-Cooperatif-Learning. (Diakses 03 Mei 2012) Mulyasa. 2008. Kurikulum tingkat satuan pendidikan. Bandung. Rosda Priyono, Titi, Drs. 2006. Sosiologi Untuk Tingkat SMA Kelas XI. Jakarta:
Erlangga Indonesia printing.
Purwanto. 2004. Prinsip- prinsip dan Tekhnik Evaluasi Pengajaran. Bandung:
PT. Remaja Rosdakarya
Riyanto, 2010. Model-model Pembelajaran Inovativ Berorientasi Konstruktivistik Konsep, Landasan, Teori Praktis dan Implementasinya. Cetakan
Pertama. Jakarta: Prestasi Pustaka.
Soekanto, Soejono. 1982. Sosiologi Suatu Pengantar : Rajawali Pers.
Soemarno Dkk, 2003. Sosiologi Suatu Kajian Tentang Masyarakat. Jakarta : Yudistira
Suprijono, Agus. 2012. Cooperatif Learning. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Suyono, 2011. Belajar dan Pembelajaran. Bandung : Remaja Rosdakarya
Trianto, 2009. Mendesain Model pembelajaran inovatif-Progresif:Konsep Landasan , dan Implementasinya Pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta:Kencana.
Wahab abdul azis. 2008. Metode dan model-model mengajar. Bandung: alfabeta
A. Diferensiasi dan Stratifikasi Sosial 1. Diferensiasi sosial
a. Pengertian
Diferensiasi sosial adalah proses proses penempatan orang – orang dalam berbagai kategori sosial yang berbeda, yang didasarkan pada perbedaan – perbedaan yang diciptakan secara sosial.
a. Bentuk-bentuk diferensiasi 1. Ras dan etnis
Menurut Michael Banton (1967), ras merupakan suatu tanda peran, perbedaan fisik dijadikan dasar untuk menetapkan peran yang berbeda-beda. Pengertian ras menyangkut aspek biologis dan aspek sosial.
Menurut Francis (Sunarto, 1993 : 137), kelompok etnis adalah suatu komunitas yang menampilkan persamaan bahasa, adat istiadat, kebiasaan, wilayah, bahkan sejarah.
Etnis ditandai dengan persamaan warisan kebudayaan dan ikatan batin diantara anggota-anggotanya.
2. Agama dan kepercayaan
Agama adalah kepercayaan akan alam gaib, darimana, bagaimana, dan akan kemana manusia setelah mati, yang dicantumkan dalam kitab-kitab suci.
3. Gender
Gender adalah perbedaan secara budaya antara pria dan wanita yang dipelajari melalui proses sosialisasi.
tinggi, kelas sedang, dan kelas rendah.
b. Macam-macam stratifikasi
1. Berdasarkan status yang diperoleh secara alami a. Stratifikasi berdasarkan perbedaan usia b. Stratifikasi berdasarkan senioritas c. Stratifikasi berdasarkan jenis kelamin d. Stratifikasi berdasrakan kekerabatan
e. Stratifikasi berdasarkan keanggotaan dalam kelompok tertentu.
2. Berdasarkan status yang diperoleh melalui serangkaian usaha a. Stratifikasi sosial dalam bidang pendidikan
b. Stratifikasi sosial dalam bidang pekerjaan c. Stratifikasi sosial dalam bidang ekonomi B. Pengaruh Diferensiasi dan Stratifikasi Terhadap Masyarakat
Aspek yang dipengaruhi oleh adanya diferensiasi dan stratifikasi dalam kehidupan masyarakat antara lain aspek kesehatan, pendidikan, harapan hidup, dan keadilan sosial.
semua pihak sepakat bahwa nasib suatu komunitas atau suatu bangsa di masa depan sangat bergantung pada kontibusinya pendidikan. Shane (1984: 39), misalnya sangat yakin bahwa pendidikanlah yang dapat memberikan kontribusi pada kebudayaan di hari esok. Pendapat yang sama juga bisa kita baca dalam penjelasan Umum Undang-Undang Republik Indonesia Nomer 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional (UU No. 20/2003), yang antara lain menyatakan: “Manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya.
Pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran dan/atau cara lain yang dikenal dan diakui oleh masyarakat”.
Dengan demikian, sebagai institusi, pendidikan pada prinsipnya memikul amanah
“etika masa depan”. Etika masa depan timbul dan dibentuk oleh kesadaran bahwa setiap anak manusia akan menjalani sisa hidupnya di masa depan bersama-sama dengan makhluk hidup lainnya yang ada di bumi. Hal ini berarti bahwa, di satu pihak, etika masa depan menuntut manusia untuk tidak mengelakkan tanggung jawab atas konsekuensi dari setiap perbautan yang dilakukannya sekarang ini.
Sementara itu pihak lain, manusia dituntut untuk mampu mengantisipasi, merumuskan nilai-nilai, dan menetapkan prioritas-prioritas dalam suasana yang tidak pasti agar generasi-generasi mendatang tidak menjadi mangsa dari proses yang semakin tidak terkendali di zaman mereka dikemudian hari (Joesoef, 2001:
198-199).
Dalam konteks etika masa depan tersebut, karenanya visi pendidikan seharusnya lahir dari kesadaran bahwa kita sebaiknya jangan menanti apapun dari masa depan, karena sesungguhnya masa depan itulah mengaharap-harapkan dari kita, kita sendirilah yang seharusnya menyiapkannya (Joesoef, 2001:198). 9
Visi ini tentu saja mensyaratkan bahwa, sebagai institusi, pendidikan harus solid. Idealnya, pendidikan yang solid adalah pendidikan yang steril dari berbagai
dengan mengidentifikasi dan memahami substansinya untuk kemudian dicari solusinya. Makalah ini berusaha mengidentifikasi dan memahami permasalahan-permasalahan pendidikan kontemporer di Indonesia. Permasalahan-permasalahan-permasalahan pendidikan dimaksud dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu permasalahan eksternal dan permasalahan internal. Perlu pula dikemukakan bahwa permasalah pendidikan yang diuraikan dalam makalah ini terbatas pada permasalahan pendidikan formal. Namun sebelum menguraikan permasalahan eksternal dan internal tersebut, terlebih dahulu disajikan uraian singkat tentang fungsi pendidikan. Uraian yang disebut terakhir ini dianggap penting, karena permasalahan pendidikan pada hakekatnya terkait erat dengan realisasi fungsi pendidikan.
Fungsi Pendidikan Pasal 3 UU No. 20/2003 menyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam rumusan pasal 3 UU No. 20/2003 ini terkandung empat fungsi yang harus diaktualisasikan olen pendidikan, yaitu: (1) fungsi mengembangkan kemampuan peserta didik, (2) fungsi membentuk watak bangsa yang bermartabat, (3) fungsi mengembangkan peradaban bangsa yang bermartabat, dan (4) fungsi mencerdaskan kehidupan bangsa. Noeng Muhadjir (1987: 20-25) menyebutkan bahwa, sebagai institusi pendidikan mengemban tiga fungsi. Pertama, pendidikan berfungsi menumbuhkan kreativitas peserta didik. Kedua, pendidikan berfungsi mewariskan nilai-nilai kepada peserta didik; dan Ketiga, pendidikan berfungsi meningkatkan kemampuan kerja produktif peserta didik.
Kalau dibandingkan dengan fungsi pendidikan yang termaktup dalam rumusan pasal 3 UU No. 20/2003 di atas, fungsi pertama yang dikemukakan Noeng Muhadjir secara substantive sama dengan fungsi keempat menurut UU No.
20/2003.
sikap, nilai dan norma ; (2) memilih dan menyiapkan peran sosial bagi peserta didik; (3) menjamin intergrasi nasional; dan (4) mengadakan inovasi-inovasi sosial. Terlepas dari adanya perbedaan rincian dalam perumusan fungsi pendidikan seperti tersebut di atas, namun satu hal yang pasti ialah bahwa fungsi utama pendidikan adalah membantu manusia untuk meningkatkan taraf hidup dan martabat kemanusiaannya.
Permasalahan eksternal pendidikan di Indonesia dewasa ini sesungguhnya sangat komplek. Hal ini dikarenakan oleh kenyataan kompleksnya dimensi-dimensei eksternal pendidikan itu sendiri. Dimensi-dimensi eksternal pendidikan meliputi dimensi sosial, politik, ekonomi, budaya, dan bahkan juga dimensi global. Dari berbagai permasalahan pada dimensi eksternal pendidikan di Indonesia dewasa ini, makalah ini hanya akan menyoroti dua permasalahan, yaitu permasalahan globalisasi dan permasalahan perubahan sosial.
Permasalahan globalisasi menjadi penting untuk disoroti, karena ia merupakan trend abad ke-21 yang sangat kuat pengaruhnya pada segenap sector kehidupan, termasuk pada sektor pendidikan. Sedangakan permasalah perubahan social adalah masalah “klasik” bagi pendidikan, dalam arti ia selalu hadir sebagai permasalahan eksternal pendidikan, dan karenya perlu dicermati. Kedua permasalahan tersebut merupakan tantangan yang harus dijawab oleh dunia pendidikan, jika pendidikan ingin berhasil mengemban misi (amanah) dan fungsinya berdasarkan paradigma etika masa depan.
Karakteristik masyarakat nelayan terbentuk mengikuti sifat dinamis sumberdaya yang digarapnya, sehingga untuk mendapatkan hasil tangkapan yang maksimal, nelayan harus berpindah-pindah. Selain itu, resiko usaha yang
tinggi menyebabkan masyarakat nelayan hidup dalam suasana alam yang keras yang selalu
diliputi ketidakpastian dalam menjalankan usahanya (Sebenan, 2007).
Rumahtangga nelayan memiliki ciri khusus seperti penggunaan wilayah pesisir dan laut (common property) sebagai faktor produksi, jam kerja harus mengikuti kondisi oseanografis (melaut hanya ratarata sekitar 20 hari dalam satu bulan, sisanya relatif menganggur). Demikian juga pekerjaan menangkap ikan adalah pekerjaan yang penuh resiko, sehingga pekerjaan ini umumnya dikerjakan oleh lelaki. Hal ini mengandung arti bahwa keluarga yang lain tidak dapat membantu secara penuh, sehingga masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir pada umumnya sering diidentikkan dengan masyarakat miskin.
Hal ini menunjukkan bahwa rumahtangga nelayan yang pekerjaannya semata-mata
tergantung pada usaha menangkap ikan memperoleh pendapatan yang hanya mampu
memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari, dan jika ada uang yang tersisa, itu biasanya
digunakan untuk biaya sekolah anak, membeli pakaian, dan memperbaiki tempat tinggalnya.
Temuan studi pada berbagai komunitas nelayan di luar negeri menunjukkan bahwa organisasi sosial ekonomi maupun lembaga terkait lainnya yang ada di desa pesisir memegang peranan penting dalam perbaikan taraf hidup masyarakat pesisir. Dengan kata lain bahwa organisasi sosial ekonomi bisa menjadi penunjang dalam upaya peningkatan tarafhidup masyarakat pesisir.
telah lama diadopsi sedangkan yang ketiga yaitu organisasi masih jauh dari perhatian. Negara berkembang masih bertahan dengan organisasi perikanan secara tradisional yang dikombinasikan dengan modal dan teknologi yang rendah pula, dan pelaksanaan program pembangunan perikanan yang dilaksanakan belum mampu, memperbaiki dan meningkatkan taraf kehidupan
sosial-ekonomi masyarakat nelayan yang tinggal di wilayah pesisir.
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN