• Tidak ada hasil yang ditemukan

Alma, B. 2009. Kewirausahaan. Bandung: Penerbit Alfabeta.

Azzahra R. 2009. Perilaku wirausaha mahasiswa Institut Pertanian Bogor peserta Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKMK) dan Program Pengembangan Kewirausahaan Mahasiswa (PPKM) [skripsi]. Bogor: Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Bogor: Institut Pertanian Bogor

Bandura, A. (1977). Self-Efficacy:Toward a Unifying Theroy of Behavioral Change. Phsycological Review. 84 (2). 191 - 215.

Basu. A. et.al. 2009. Assessing Entrepreneurial Intentions Amongst Students: A Comparative Study. San Jose State University (tidak dipublikasikan). http://nciia.org.

[BPS] Badan Pusat Statistik. 2011. Ketenagakerjaan Indonesia. [terhubung berkala]. http://www.bps.go.id [22 Mei 2011].

Burhan. M. 1994. Model Pembinaan dan Pendidikan Kewirausahaan di Kalangan Pemuda. Jakarta: Makalah Seminar Nasional Pengembangan Kewirausahaan Pemuda.

Burlin. F. 1976. The relationship of parental education and maternal work and occupational status to occupational aspiration in adolescent females. Journal of Vocational Behavior. 9: 99-104.

Charney, A. et.al. (2000). The Impact of Entrepreneurship Education:An Evaluation of the Berger Entrepreneurship Program at the University of Arizona. 1985-1999. Arizona: University of Arizona Tucson.

Chowdhury, S. 2009. Gender Difference and The Formation of Entrepreneurial Self efficacy. Michigan.

Chung, YB., Loeb, JW., & Gonzo, ST. 1996. Factor predicting the educational and career aspirations of Black College freshmen. Journal of Career Development. 23(2). 127-135.

Ciputra. 2008. Quantum Leap: Bagaimana Entrepreneurship Dapat Mengubah Masa Depan Anda dan Masa Depan Bangsa. Cetakan Pertama. Jakarta: Penerbit PT Elex Media Komputindo.

Cohen. J. 1983. Peer influence on college aspirations with initial aspirations controlled. American Sociological Review. 48: 728-734.

Coutleur. CA dan Sandra K.. (2009). Parental and Gender Influences on Entrepreneurial Intentions. Motivations and Attitudes. Frostburg State University dan California State Polytechnic University. (tidak dipublikasikan). http://usasbe.org.

Cromie. S. dan O'Donaghue. (1992). Research Note:Assessing Entrepreneurial Inclinations. International Small Business Journal. 10 (2).

Davis. M. & Kandel. DB. 1981. Parental and peer influence on adolescents’ education plan: some further evidence. American Journal of Sociology. Vol. 87 (2): 363-387.

Davidsson, P. dan Honig, B. 2003. The Role of Social and Human Capital Among Nascent Entrepreneurs. J. Bus. Venturing. 18(3): 301-331.

Dewanti. R. 2008. Kewirausahaan. Edisi Pertama. Jakarta: Penerbit Mitra Wacana Media.

Din, MS. 1992. Entrepreneurship and Enterprise:The Influence of Work Experience on Enterprising Tendency - An Empirical Tendency. Malaysian Management Journal. 1 (1). 1 - 7.

Faisol. 2002. Kalau begitu, saya berani berwirausaha: Jilid 1 Memahami dan mengembangkan sikap kewiraushaaan. Cet. 1. Jakarta: Bina Rena Pariwara. Farmer. HS. 1985. Model of career and achievement motivation for women and men.

Journal of Counseling Psychology. 32 (3): 363- 390.

Frazier. Barbara J. dan Linda S. Niehm. Predicting The Entrepreneurial Intentions Of Non-Business Majors:A Preliminary Investigation. Western Michigan University dan Iowa State University (tidak dipublikasikan).

Friedman. H.S. dan Miriam W.S. 2008. Kepribadian Teori Klasik dan Riset Modern. Alih Bahasa: Benedictine Widyasinta. Edisi Ketiga. Jakarta: Penerbit Erlangga. Gadar. K. dan NKY. Yunus. 2009. The Influence of Personality and Socio-Economic

Factors on Female Enterpreneurship Motivations in Malaysia. International Review of Business Research Papers. January. 5 (1). 149 - 162

Garcia. Elizabeth Arteaga dan Virginia Lasio Morello. 2003. Entrepreneurial Intentionsof Undergraduates at ESPOL in Equador. Espae Espol (tidak dipublikasikan).

Greve. A. and JW. Salaff. 2003. Social Networks and Entrepreneurship. Entrepreneurship. Theory & Practice. 28(1):1-22.

Gunarsa, SD. 2004. Bunga Rampai Psikologi Perkembangan: Dari Anak Sampai Usia Lanjut. Jakarta: Gunung Mulia.

Gunarsa, SD. dan Gunarsa, YSD. 2004. Psikologi perkembangan anak dan remaja. Jakarta: Gunung Mulia.

Gunarsa, SD. dan Gunarsa, YSD. 2008. Psikologi Prkatis: Anak, Remaja dan Keluarga. Cet. 8. Jakarta: Gunung Mulia.

Harpowo dan Sri WW. 2009. Budaya Kewirausahaan Pada Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang. Lembaga Penelitian Universitas Muhammadiyah Malang.

Hastuti, D. 2008. Pengasuhan: Teori dan Prinsip serta Aplikasinya di Indonesia. Diktat kuliah. Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen. Fakultas Ekologi Manusia. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Hisrich, RD., Michael PP., dan Dean, AS. 2008. Kewirausahaan. Edisi 7. Jakarta: Penerbit Salemba Empat.

Hurlock. 1991. Perkembangan Anak. Edisi ke-6. Jakarta : Erlangga.

Indarti. N. dan Rokhima R. (2008). Intensi Kewirausahaan Mahasiswa: Studi Perbandingan Antara Indonesia. Jepang dan Norwegia. Jurnal Ekonomika dan Bisnis Indonesia. Oktober. 23 (4).

Jones. C. snd J. English. (2009). A Contemporary Approach to Entrepreneurship Education.

Kasmir. 2007. Kewirausahaan. Edisi 1. Jakarta: Penerbit PT RajaGrafindo Persada. Kemendiknas. 2010. Membangun Jiwa Kewirausahaan. Direktorat Pembinaan

Kursus dan Kelembagaan. Dirjen Pendidikan Non Formal dan Informal. Jakarta Kolbre, E., T. Piliste dan U. Venesaar. Students' Attitudes and Intentions toward

Entrepreneurship at Tallinn University of Technology. TUTWPE No 154.

Lupiyoadi, R. 2007. Entrepreneurship From Mindset To Strategy. Cetakan Ketiga. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Manurung. AH. 2008. Modal untuk Bisnis UKM. Cet. Ke-2. Jakarta: Penerbit PT

Kompas Media Nusantara.

Marshall, MI. dan WN, Oliver. 2005. The Effects of Human. Financial. and Social Capital on the Entrepreneurial Process for Entrepreneurs in Indiana. Allied Social Science Associations Annual Meeting. Philadelphia. Pennsylvania.

Meredith. Geoffrey G. 2002. Kewirausahaan:Teori dan Praktek. PPM. Jakarta.

Morello. Virginia Lasio. Dirk Deschoolmeester dan Elizabeth Arteaga Garcia. (2003). Entrepreneurial Intention of Undergraduates at ESPOL in Equador. CICYT- ESPOL.

Mudjiarto dan Aliaras W. 2006. Membangun Karakter dan Kepribadian Kewirausahaan. Edisi Pertama. Cet. I. Yogyakarta dan Jakarta: Penerbit Graha Ilmu dan UIEU University Press.

Muhandri. Tjahja. (2002). Strategi Penciptaan Wirausaha (Pengusaha) Kecil Menengah yang Tangguh. Program Pasca Sarjana S3. Institut Pertanian Bogor (tidak dipublikasikan).

Muhyi. Herwan Abdul. (2007). Menumbuhkan Jiwa dan Kompetensi Kewirausahaan. Universitas Padjadjaran. Bandung (tidak dipublikasikan).

Napitupulu. Ester Lince. (2009). Lulusan Perguruan Tinggi Hanya Berorientasi Jadi Pencari Kerja. Kompas.Com. Jakarta.

Nora. A. 1993. Two-year colleges and minority students' educational aspirations: Help or hindrance? Higher Education: Handbook of Theory and Research. 9. 212-247.

Oosterbeek, H.. MCV. Praag dan Auke Ijsselstein. (2008). The Impact of Entrepreneurship Education On Entrepreneurship Competencies and Intentions. TI 2008-038/3. Tinbergen Institute dan University of Amsterdam. http://www.economist.ne.

Oswari, T. (2005). Membangun Jiwa Kewirausahaan (Entrepreneurship) Menjadi Mahasiswa Pengusaha (Entrepreneur Students) Sebagai Modal Untuk Menjadi Pelaku Usaha Baru. Proceeding Seminar Nasional PESAT. Agustus.

Pascarella. ET.. & Terenzini. PT. 1991. How college affects students. Jossey-Bass. San Francisco

Prasetyo. JR. 2005. A Study Of Educational And Career Aspirations Of Semarang Freshmen Universities. Indonesia. [dissertation]. Pittsburgh: University of Pittsburgh.

Puspitawati. H. 2009. Kenakalan Pelajar Dipengaruhi oleh Sistem Sekolah dan Keluarga.Bogor: IPB Press.

Qomarun. 2000. Kewirausahaan: Buku Pegangan Kuliah. Teknik Arsitektur. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Surakarta.

Penerbit Alfabeta.

Riyanti. BPD. 2003. Kewirausahaan Dipandang dari Sudut Pandang Psikologi Kepribadian. Cetakan Pertama. Jakarta: Penerbit PT Grasindo.

Rudy. 2010. Analisis Pengaruh Faktor Kepribadian. Lingkungan dan Demografis Terhadap Minat Kewirausahaan Mahasiswa Strata Satu Universitas Sumatera Utara. [tesis]. Medan: Universitas Sumatera Utara. 124 hlm.

Saleh, A. 1986. Determinants of access to higher education in Indonesia. [dissertation]. Ohio: The Ohio State University.

Saud, MB dan MN. Sharrif. 2009. An Attitude Approach to the Prediction of Entrepreneurship on Students at Institution of Higher Learning in Malaysia. International J. of Business and Management. July. 4 (4). 129 - 135.

Sephana, A. 2010. Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Kecenderungan Jiwa Wirausaha Mahasiswa ITS dengan Menggunakan Model Persamaan Struktural. [skripsi]. Surabaya: Institut Teknologi Surabaya. 66 hlm.

Setiyorini, M. (2009). Pengaruh Faktor Personal dan Lingkungan terhadap Keinginan Berwirausaha. Universitas Sebelas Maret Surakarta (tidak dipublikasikan)

Shastri, RK., S. Kumar dan M. Ali. 2009. Entrepreneurship Orientation Among Indian Professional Students. J. of Economics and Internatioanl Finance Vol.1(3). pp 085-087. August 2009.

Silalahi, GJ. 2005. Kesempatan Wirausaha Bagi Lulusan Perguruan Tinggi. [terhubung berkala]. http://www.depdiknas.co.id [10 Mei 2011].

Siswoyo. H. Bambang Banu. (2009). Pengembangan Jiwa Kewirausahaan di Kalangan Dosen dan Mahasiswa. Jurnal Ekonomi Bisnis. Tahun 14 No 2. Juli. Situmorang, J. 2007. Program Diklat Enterpreneurship. DisainTek Vol. 01, No. 01

Desember.

Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

Sumahamijaya. S. 1980. Membina Sikap Mental Wiraswasta. Gunung jati. Jakarta.

Sunarti. E. 2008. Program Pemerintah Terkait Penanggulangan Kemiskinan. Peningkatan Kesejahteraan dan Pemberdayaan Keluarga. Bahan Kuliah KKP. Departemen IKK. FEMA-IPB.

Suryana. 2006. Kewirausahaan Pedoman Praktis: Kiat dan Proses Menuju Sukses. Edisi Ketiga. Jakarta: Penerbit Salemba.

Sutjipto. 2002. Minat Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMEA) terhadap kewiraswastaan. Jurnal Penelitian Humaniora. Vol. 9. No. 2. Agustus 2008. Hal 119-127.

Tarmudji. T. 1996. Prinsip-prinsip Kewirausahaan. Liberti. Yogyakarta.

Tunggal. Amin Wijaya. 2008. Pengantar Kewirausahaan. Edisi Revisi. Penerbit Harvarindo. Jakarta.

Umar H. 2006. Metode Penelitian untuk Skripsi dan Tesis Bisnis. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta

Van der Zwan, P., I. Verheul, dan R. Thurik. 2011. Drivers of Female Entrepreneurial Activity Across Countries: Choice or Barriers?. ICSB paper. Holand: Erasmus

University Rotterdam.

Verheul, I., R. Thurik dan I. Grilo. 2009. Explaining Preferences and Actual Involvement in Self-Employment:New Insights into the Role of Gender. Holland: Erasmus Research Institute of Management.

Weidman. J. C. (1989). Undergraduate socialization: a conceptual approach. In Higher education: Handbook of theory and research. Edited by Smart. John C. Vol. V. pp. 289-322. Agathon Press. New York

Wijaya. Tony. (2008). Kajian Model Empiris Perilaku BerwirausahaUKM DIY dan Jawa Tengah. Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan. September. 10 (2). 93 - 104.

Yohnson. (2003). Peranan Universitas dalam Memotivasi Sarjana Menjadi Young Entrepreneurs. Jurnal Manajemen & Kewirausahaan. 5 (2). September. 97 - 111.

Yuwono. Susatyo dan Partini. (2008). Pengaruh Pelatihan Kewirausahaan Terhadap Tumbuhnya Minat Berwirausaha. Jurnal Penelitian Humaniora. Vol 9 No 2. Agustus. 119 - 127

Zarkasyi, SW. (2006). Mahasiswa dan Motivasi Berprestasi. Universitas Padjadjaran (tidak dipublikasikan) http://pustaka.unpad.ac.id.

Zimmerer. TW. dan N. Scarborough. 2009. Pengantar Kewirausahaan dan Manajemen Bisnis Kecil. Jakarta: Gramedia.

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Dewasa ini masih banyak lulusan perguruan tinggi yang masih berstatus sebagai pencari kerja (job seeker) daripada sebagai pencipta lapangan kerja (job creator). Keadaan ini timbul sebagai salah satu akibat dari sistem pembelajaran sebagian besar perguruan tinggi di Indonesia lebih menitikberatkan pada penciptaan lulusan yang cepat dan mudah mendapatkan pekerjaan, bukan lulusan yang siap menciptakan lapangan pekerjaannya sendiri (Napitupulu 2009). Hendarman dalam Siswoyo (2010) menyebutkan semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin rendah kemandirian dan semangat kewirausahaannya.

Data BPS Indonesia (2011) menunjukkan bahwa Jumlah pengangguran mencapai 8.3 juta orang atau 7.14 persen dari total angkatan kerja. 12.78 persen berada pada tingkat pendidikan Diploma dan 11.92 persen pada tingkat pendidikan Sarjana. Secara umum jumlah pengangguran setiap tahun cenderung menurun, namun jumlahnya masih tetap tinggi sehingga masih diperlukan untuk mengembangkan strategi penciptaan lapangan kerja baru melalui pengembangan kewirausahaan di kalangan pemuda, pelajar dan mahasiswa.

Data Dirjen Pemuda dan Pendidikan Luar Sekolah, Departemen Pendidikan Nasional (2009) dari 75.3 juta pemuda Indonesia, 6.6 persen lulusan sarjana. 82 persen dari jumlah tersebut, bekerja sebagai pegawai pada instansi pemerintah maupun swasta, sementara hanya 18 persen yang berusaha sendiri atau menjadi wirausahawan. Hal itu menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan dan kesadaran lulusan perguruan tinggi akan pentingnya peranan wirausaha dalam pembangunan masih rendah, sehingga berpengaruh pada rendahnya minat wirausaha mahasiswa (Silalahi, 2005).

Indonesia dengan segala sumber daya alam yang dimiliki, saat ini baru memiliki pengusaha tak lebih dari 0,18 persen dari total penduduknya. Jumlah tersebut masih sangat rendah bila dibandingkan dengan negara maju, seperti Amerika Serikat dan Singapura. Amerika Serikat telah memiliki 11,5 persen pengusaha dari total penduduknya. Singapura memiliki 7,2 persen pengusaha. Secara historis dan konsensus, sebuah negara akan maju apabila memiliki wirausaha minimal 2 persen dari total penduduknya (Alma, 2009). Singapura menjadi negara yang maju, karena prinsip-prinsip entrepreneurship. Pemerintah bersama dunia usaha, yang menyadari akan minimnya sumber daya alam, sangat bergantung

pada kemampuan berkreasi dan berinovasi masyarakatnya dalam menghasilkan produk dan jasa yang berkualitas. Pemerintah juga mendorong lulusan perguruan tinggi menjadi wirausahawan yang kreatif dan membangun usaha kecil menengah yang tangguh. Hasilnya adalah perusahaan IT kelas dunia yang dirintis oleh wirausahawan muda Singapura. Hal yang sama dilakukan juga oleh negara Jepang, Taiwan, dan Korea yang peka terhadap pembentukan entrepreneurs dan menyadari pengaruh entrepreneurship terhadap kemajuan ekonomi bangsa. (Sillalahi, 2005).

Sumahamijaya (1980) menyatakan bahwa dunia wirausaha pada dasarnya merupakan pilihan yang cukup rasional dalam situasi dan kondisi yang tidak mampu diandalkan, serta sulitnya mencari lapangan pekerjaan, namun sampai saat ini dunia wirausaha belum menjadi lapangan pekerjaan yang diminati dan dinanti generasi muda, khususnya para sarjana. Penyebab rendahnya minat wirausaha ini muncul akibat dari keinginan para lulusan untuk menjadi pegawai negeri, sifat malas (tidak mau bekerja), belum siap pakai, sikap mental yang kurang baik, tidak percaya diri, dan lain-lain. Sifat-sifat tersebut menurut Qomarun (2000) bersumber pada kehidupan yang penuh keragu-raguan,tanpa orientasi tegas, mentalitas yang suka menerabas, tidak percaya pada diri sendiri, tidak berdisiplin, dan mentalitas yang mengabaikan tanggung jawab yang kokoh.

Penyebab lain yang mengakibatkan rendahnya minat berwirausaha rendah adalah sulitnya mengubah persepsi masyarakat bahwa menjadi wirausaha merupakan pekerjaan yang lebih menguntungkan dan mulia, karena dapat membuka lowongan pekerjaan bagi orang lain. Selain itu, pemerintah juga belum optimal mendukung pemunculan pengusaha baru yang merupakan solusi terbaik untuk menekan pengangguran, kejahatan dan peningkatan perekonomian bangsa (Arbie, 2008).

Sejak tahun 2007, Dirjen Pendidikan Tinggi (DIKTI) Kementerian Pendidikan Nasional RI bersama perguruan tinggi di Indoensia mulai gencar melakukan berbagai upaya yang berkaitan dengan pengembangan entrepreneurship dalam dunia pendidikan dengan menjadikan program kewirausahaan mahasiswa sebagai prioritas nasional. Hal ini dilakukan sebagai upaya pembenahan sistem pendidikan, agar terjadi keselarasan antara dunia pendidikan dan dunia kerja (Irwandi, 2009). Institut Pertanian Bogor (IPB) sebagai salah satu perguruan tinggi terkemuka di Indonesia turut berpartisipasi dalam program tersebut. Saat ini IPB menjadikan mata kuliah kewirausahaan menjadi mata kuliah wajib bagi mahasiswa tahun pertama atau Tingkat Persiapan Bersama (TPB). IPB memberlakukan technopreneurship atau entrepreneurship berbasis teknologi menjadi arahan program kerja dalam

pencapaian visi dan misi IPB. Hal ini bertujuan untuk merubah mindset mahasiswa dari job seeker menjadi job creator, serta membekali mahasiswa dengan kemampuan untuk menyusun sebuah rencana/proposal bisnis.

Sutjipto (2002) menyatakan Individu yang mempunyai minat pada suatu kegiatan akan melakukan lebih giat daripada kegiatan yang tidak diminati. Minat kewirausahaan yang tinggi dapat berarti kesadaran wirausaha pada diri individu telah melekat kuat, sehingga individu lebih banyak perhatian dan lebih senang melakukan kegiatan wirausaha. Suryana (2006) mengatakan keinginan seseorang untuk berwirausaha dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu: faktor pribadi dan faktor lingkungan. Faktor pribadi meliputi minat berwirausaha dan konsep diri, sedangkan faktor lingkungan meliputi lingkungan keluarga dan sosial.

Lingkungan keluarga terutama orang tua berperan sebagai pengarah bagi masa depan anaknya, oleh karena itu, orang tua secara tidak langsung dapat mempengaruhi minat pekerjaan anak di masa yang akan datang, termasuk dalam hal berwirausaha. Kondisi orangtua sebagai keadaan yang ada dalam lingkungan keluarga dapat menjadi figur bagi pemilihan karier anak, sekaligus dapat dijadikan sebagai pembimbing untuk menumbuh kembangkan minat terhadap suatu pekerjaan. Alma (2009) menyatakan anak yang berasal dari keluarga dengan orangtua yang bekerja sendiri dan memiliki usaha mandiri cenderung memilih pekerjaan yang yang sama dengan orangtuanya, yaitu berwirausaha.

Beberapa penelitian menunjukkan lingkungan keluarga berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat wirausaha antara lain: Ginting (2009) melakukan penelitian pada siswa kelas II sekretaris SMKN 1 Kabanjahe Tahun Pembelajaran 2008/2009; Nadeak (2008) melakukan penelitian pada siswa Kelas XI Jurusan Tata Busana SMK Pembangunan Daerah Lubuk Pakam Tahun Ajaran 2007/2008; Sumarni (2005) dengan subjek siswa kelas 3 SMK Negeri 2 Semarang Tahun Ajaran 2005/2006 dan Tobing (2010) yang meneliti mahasiswa Politeknik Negeri Medan Jurusan Akuntansi Program Studi Perbankan dan Keuangan. Penelitian lain tentang keluarga dan minat kewirausahaan pada mahasiswa juga dilakukan oleh beberapa peneliti, seperti Wijatmiko (2004), Meinitha (2006), Nurrohmah (2005), Indarti et al. (2008), Setiyorini (2009), Khusnuriyah (2006), Morello et al. (2003); Harpowo et al. (2009), dan Basu et al. (2009). Wijatmiko (2004) dan Meinitha (2006) menemukan bahwa pola asuh demokrasi/autorian berpengaruh positif terhadap minat wirausaha. Peneliti lain menghubungkan minat wirausaha dengan suku bangsa (Wibisono 2006), pekerjaan orangtua (Morello et al. 2003; Harpowo et al. 2009), pekerjaan ayah, pengalaman berwirausaha (Basu et al. 2009), dan pendidikan kewirausahaan

(Harpowo et al. 2009). Penelitian tesebut menunjukkan bahwa lingkungan keluarga berperan penting dalam menumbuhkan minat wirausaha pada individu.

Lingkungan sosial menurut Suryana (2006) berpengaruh terhadap pengembangan minat wirausaha mahasiswa. Menurut Gunarsa dan Gunarsa (2008), lingkungan sosial dengan berbagai ciri khusus yang menyertainya, memegang peranan besar terhadap munculnya corak dan gambaran kepribadian individu. Lingkungan sosial dapat berupa nilai-nilai yang terdapat dalam masyarakat atau budaya tertentu, juga dapat berupa pengaruh dari kondisi ekonomi, politik, dan sosial. Role model yang berada pada lingkungan sosial dapat mempengaruhi minat wirausaha seseorang. Role model dapat berupa teman, sahabat, pasangan dan atau pengusaha sukses yang diidolakan, selain orangtua, saudara, dan atau keluarga lain, seperti kakek, nenek, paman, bibi, anak, dan lain-lain (Alma, 2009). Dorongan teman memberi pengaruh signifikan terhadap pembukaan usaha baru, disebabkan oleh aspek kedekatan dan keterbukaan. Teman dapat menjadi teman diskusi, pemberi dorongan dan pengertian, bahkan bantuan (Alma, 2009).

Faktor lain yang juga memiliki andil dalam mempengaruhi atau mendukung minat kewirausahaan adalah lingkungan pendidikan, baik saat SMA maupun perguruan tinggi dalam hal ini IPB, yaitu dengan membekali pengetahuan tentang kewirausahaan kepada mahasiswa melalui pengajaran kewirausahaan. Mahasiswa diajak dan diarahkan, agar mereka mampu membuka wawasan tentang pentingnya kewirausahaan, karena dapat dijadikan potensi mencapai kehidupan yang baik disaat sulit mencari pekerjaan seperti yang telah dinyatakan Sumahamijaya (1980).

Proses pendidikan yang tidak membentuk konsep diri individu, tidak akan berpengaruh terhadap pengembangan minat kewirausahaan. Hal ini dinyatakan oleh Sumarni (2005) bahwa pada umumnya mahasiswa yang dibekali dengan mata kuliah kewirausahaan dan memperoleh nilai baik tidak mempengaruhi minat mahasiswa untuk berwirausaha. Menurutnya, minat untuk menjadi seorang wirausaha harus didukung dengan konsep diri, dimana mahasiswa harus mengetahui dan mengenali dirinya dan juga dukungan dari lingkungan keluarga. Berdasarkan uraian sebelumnya, maka diperlukan sebuah kajian tentang minat wirausaha mahasiswa yang dikaitkan dengan lingkungan keluarga, lingkungan pendidikan, dan lingkungan sosialnya dengan harapan dapat dikembangkan program dan kurikulum yang sesuai untuk melahirkan banyak wirausaha dari kampus.

Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian dari latar belakang permasalahan, maka dirumuskan masalah-masalah sebagai berikut:

1 . Bagaimanakah karakteristik individu, karakteristik keluarga, lingkungan keluarga, lingkungan pendidikan, lingkungan sosial, jiwa dan minat kewirausahaan mahasiswa Tingkat Persiapan Bersama Institut Pertanian Bogor (TPB-IPB) TA. 2010/2011?

2 . Adakah perbedaan karakteristik individu, karakteristik keluarga, lingkungan keluarga, lingkungan pendidikan, lingkungan sosial, jiwa dan minat kewirausahaan mahasiswa Tingkat Persiapan Bersama Institut Pertanian Bogor (TPB-IPB) TA. 2010/2011 berdasarkan jenis kelamin?

3 . Bagaimana hubungan antara karakteristik individu, karakteristik keluarga, lingkungan keluarga, lingkungan pendidikan, lingkungan sosial dengan jiwa dan minat kewirausahaan mahasiswa Tingkat Persiapan Bersama Institut Pertanian Bogor (TPB-IPB) TA. 2010/2011?

4 . Faktor-faktor apakah yang berpengaruh terhadap jiwa dan minat kewirausahaan mahasiswa Tingkat Persiapan Bersama Institut Pertanian Bogor (TPB-IPB) TA. 2010/2011?

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah antara lain untuk:

1 . Mengkaji karakteristik individu, karakteristik keluarga, lingkungan keluarga, lingkungan pendidikan, lingkungan sosial, jiwa dan minat kewirausahaan mahasiswa Tingkat Persiapan Bersama Institut Pertanian Bogor (TPB-IPB) TA. 2010/2011.

2 . Menganalisa perbedaaan karakteristik individu, karakteristik keluarga, lingkungan keluarga, lingkungan pendidikan, lingkungan sosial, jiwa dan minat kewirausahaan mahasiswa Tingkat Persiapan Bersama Institut Pertanian Bogor (TPB-IPB) TA. 2010/2011 berdasarkan jenis kelamin.

3 . Menganalisis hubungan antara karakteristik individu, karakteristik keluarga, lingkungan keluarga, lingkungan pendidikan, lingkungan sosial dengan jiwa dan minat kewirausahaan mahasiswa Tingkat Persiapan Bersama Institut Pertanian Bogor (TPB-IPB) TA. 2010/2011.

4 . Menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap jiwa dan minat kewirausahaan mahasiswa Tingkat Persiapan Bersama Institut Pertanian Bogor (TPB-IPB) TA. 2010/2011.

Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada pihak-pihak berikut:

1 . Sebagai masukan bagi perguruan tinggi agar dapat membuat kebijakan dan kurikulum yang mendorong dan meningkatkan minat kewirausahaan bagi para mahasiswa, sehingga para mahasiswa dapat menjadi pencipta lapangan pekerjaan setelah lulus perguruan tinggi.

2 . Sebagai masukan bagi pemerintah daerah, terutama dinas pendidikan dalam membuat kebijakan dan program yang tepat untuk meningkatkan minat berwirausaha para lulusan perguruan tinggi, sehingga dapat membantu pemerintah menciptakan lapangan pekerjaan, mengurangi angka pengangguran di masyarakat, menggerakkan perekonomian dan lain-lain.

3 . Sebagai masukan bagi para mahasiswa, sehingga mahasiswa bisa tertarik menjadi wirausaha dan dapat mempersiapkan diri dengan baik sebelum terjun menjadi wirausaha.

4 . Sebagai kontribusi terhadap ilmu pengetahuan dalam penelitian di bidang kewirausahaan, keluarga, dan pengembangan karier.

5 . Sebagai referensi bagi penelitian selanjutnya dalam melakukan penelitian yang sama di masa mendatang.

Dokumen terkait