• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ahlschwede, W. T. & O. W., Robison. 1971. Maternal effects on weights and backfat of swine. J. Anim. Sci. 33: 1206-1211.

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP). 2006. Pemeliharaan Terpadu Tiktok dengan Padi. Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian Brosur No 01, Jakarta.

Bihan-Duval, E. L., C. Berri, E. Baeza, N. Millet & C. Beaumont, 2001. Estimation of the genetic parameters of meat characteristics and of their genetic correlations with growth and body composition in an experimental broiler line. Poult. Sci. 80: 839-843.

Brahmantiyo, B & L. H. Prasetyo. 2001. Pengaruh bangsa itik Alabio dan Mojosari terhadap performans reproduksi. Prosiding Lokakarya Unggas Air. Pengembangan Agribisnis Unggas Air Sebagai Peluang Usaha Baru. Kerjasama Institut Pertanian Bogor, Balai Penelitian Ternak. Bogor dan Yayasan Kehati. 73-78.

Brahmantiyo, B & Y. C Raharjo. 2005. Pengembangan pembibitan kelinci di pedesaan dalam menunjang potensi dan prospek agribisnis kelinci. Prosiding Lokakarya Nasional Potensi dan Peluang Pengembangan Usaha Agribisnis Kelinci, Pusat Penelitian Pengembangan Peternakan, Bogor.

Brody, S. 1964. Bioenergetics and Growth. Hofner Publishing Company, Inc., New York.

Christiandrianto, P. 1991. Pertumbuhan dan perkembangan ukuran-ukuran tubuh relatif terhadap bobot potong itik Alabio. Karya Ilmiah. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Chapman, A. B. 1985. General and Quantitative Genetics. Elsevier Science Publishers B.V., Amsterdam-New York-Tokyo.

Davies, L. 1982. Nutrition and Growth Manual. Australian Universities. International Development Program, Sydney.

Direktorat Jendral Peternakan. 2012. Statistik Peternakan. Direktorat Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan. Jakarta

Furr, R. D. & A. B., Nelson. 1964. Effect of level of supplemental winter feed on calf weight and on milk production of fall-calving range beef cows. J. Anim. Sci. 23: 775-781.

Gunawan, B., P. Edianingsih, H. Martojo & Komarudin. 1994. Produktivitas dan keragaman fenotipeik itik Alabio pada system pemeliharaan intensif. Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi Peternakan, Pengolahan dan Komunikasi Hasil-hasil Penelitian. Buku 2. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Bogor. Hal: 597-603.

Hardjosubroto, W. 2001. Genetika Hewan. Fakultas Peternakan. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Irianto, A. 2004. Statistik: Konsep Dasar dan Aplikasinya. Kencana, Jakarta.

Indradjaja. 1986. Pengaruh umur terhadap performans itik Tegal betina sampai umur delapan minggu. Karya Ilmiah. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Koerhuis, A. N. M. & R. Thompson, 1997. Models to estimate maternal effects for juvenile body weight in broiler chickens. Genet. Sel. Evol. 29: 225-249.

Lasley, J. F. 1978. Genetics of Livestock Improvement. Third Ed. Prentice Hall of India Private Ltd, New Delhi.

Lawrence, T. L. J. 1980. Growth in Animal. Redwood Burn Lmd. Trobridge and Eshe. Butterwort, London.

Lax, J. & G. H., Brown. 1967. The effects of inbreeding, maternal handicap and range in ageon 10 fleece and body characteristic in Meriono rams. Aust. J. Agric. Res. 18: 689-706

McArdle, A. A. 1961. Poultry Management and Production, Agricultural and Livestok Series. Angus and Robertson, Sydney.

Noor, R. R. 2010. Genetika Ternak. Penebar Swadaya, Jakarta.

Pingel. H. 2011. Results of selection for breast muscle percentage and feed conversion ratio in Pekin Ducks. Biotechnology in Animal Husbandry. Institute for Animal Husbandry, Belgrade – Zemun.

Prescott, J. H. D. 1976. Beef cattle production in developing countries. Proceedings. Central For Tropical Veterinary Medicine, Edinburgh University. 21: 58-78. Rose S. P. 1997. Principles of Poultry Science. CAB International, Wallingford. U.K. Samosir D. J. 1983. Ilmu Ternak Itik. PT. Gramedia, Jakarta.

Setioko, A. R., L. H. Prasetyo, B. Brahmantiyo & M. Purba. 2002. Koleksi dan karakterisasi sifat-sifat beberapa jenis itik. Laporan Hasil Penelitian. Balai Penelitian Ternak Ciawi, Bogor.

Setioko, A. R., L. H. Prasetyo, D. A. Kusumaningrum, & S. Sopiyana. 2004. Daya tetas dan konerja pertumbuhan itik Pekin x Alabio (PA) sebagai induk itik pedaging. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Pusat Penelitian dan Pengembangan. Bogor.

Soeparno. 1992. Ilmu Teknologi Daging. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Subhan, A., T. Yuwanta, J. Hp. Sidadolog & E. S. Rohaeni. 2010. Pengaruh kombinasi sagu kukus (Metroxylon Spp) dan tepung keong mas (Pmacea Spp) sebagai pengganti jagung kuning terhadap penampilan itik jantan Alabio, Mojosari dan MA. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. Pusat Penelitian dan Pengembangan, Bogor.

Suharno, B. & K. Amri. 2002. Beternak Itik Secara Intensif. Penebar Swadaya, Jakarta.

Suharno, B. & T. Setiawan. 2001. Beternak Itik Petelur di Kandang Baterai. Penebar Swadaya, Jakarta.

Suparyanto, A. 2006. Karakteristik ukuran karkas itik genotype Pekin x Alabio dan Pekin x Mojosari. Lokakarya Nasional Inovasi Teknologi dalam Mendukung Usaha Ternak Unggas Berdayasaing. Balai Penelitian Ternak Ciawi, Bogor. Supranto, J. 2000. Statistik: Teori dan Aplikasi Edisi Keenam. Erlangga, Jakarta. Suryo. 2008. Genetika. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Susanti T., L. H Prasetyo, Y. C. Raharjo, & W. K. Sejati. 1998. Pertumbuhan galur persilangan timbal balik itik Alabio dan Mojosari. Prosiding Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. Optimasi sumberdaya lokal dalam rekayasa teknologi peternakan dan veteriner untuk efisiensi usaha pasar. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Bogor.

Susanti T. 2003. Strategi pembibitan itik Alabio dan itik Mojosari. Tesis. Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Swatland, H. J. 1984. Structure and Development of Meat Animals. Prentice-Hall Inc., Englewood Cliffs, New Jersey.

Trisna, A., Roeswandy, M. A. Hutasoit. 2008. Penggunaan tepung biji markisa terhadap pertumbuhan itik Peking Umur 1 – 56 hari. Jurnal Agribisnis Peternakan. 4: 1 – 5.

Warren, E. P. & R. E. Renbarger. 1963. Some factors affecting milk yield of ewes and growth of lambs. J. Anim. Sci. 22: 866.

Wasito & E. S., Rohaeni. 1994. Beternak Itik Alabio. PT Kanisius, Yogyakarta. Wiederhold, S. & H. Pingel. 1997. Growth of breast and leg muscle of waterfowl.

Proceeding 11th European Symposium on Waterfowl, Nantes (France),

September 8-10: 541-547

Windhyarti, S., 2003. Beternak Itik Tanpa Air. Penebar Swadaya, Jakarta.

Williams, I. H. 1982. A course Manual in Nutrition and Growth. Editor H. L. Davies. Australian Vice-Chamcellors committee, Melbourne.

Vellemen, S. G., J. Anderson & K. E. Nestor, 2003. Possible maternal inheritance of breast muscle morphology in turkeys at sixteen weeks of age. Poult. Sci. 82: 1479-1484.

Lampiran 1. Diagram Sebar (Scatter Plot) Bobot Badan Itik AAP Pada Fase Starter

Lampiran 3. Diagram Sebar (Scatter Plot) Bobot Badan Itik APA Pada Fase Starter

Lampiran 5. Diagram Sebar (Scatter Plot) Bobot Badan Itik PAP Pada Fase Starter

Lampiran 7. Persamaan Regresi antara Umur dan Bobot Badan itik AAP, APA, dan PAP pada Periode Starter, Grower dan 16 Minggu

Itik Periode Persamaan regresi R2 P

value

AAP Starter Log Y = log 1,478 + (0,9750) log X 94,5% 0,000

Grower

Selama 16 minggu

Log Y = log 3,307 – (0,02560) log X Log Y = log 1,541 + (0,9061) log X

93,6% 94,5%

0,032 0,000

APA Starter Log Y = log 1,489 + (0,9790) log X 95,4% 0,000

Grower

Selama 16 minggu

Log Y = log 3,404 – (0,05834) log X Log Y = 1,560 + (0,9008) log X

84,8% 94,8%

0,079 0,000

PAP Starter Log Y = log 1.479 + (1.074) log X 95,1% 0,000

Grower

Selama 16 minggu

Y = 1341 + 39.05Xi – 0,2047Xj2

Log Y = log 1,560 + (1,029) log X

89,8% 95,8%

0,319 0,000

Lampiran 8. F Hitung dan P value Hasil Pengujian Bobot Badan Itik AAP dan APA pada Umur 1 Hari sampai 16 Minggu

Pembanding Bobot badan umur

(minggu)

F hitung P value

AAP vs APA DOD 0,18 0,675

1 1,97 0,174 2 0,11 0,744 3 1,31 0,263 4 0,12 0,736 5 0,09 0,769 6 0,61 0,441 7 0,02 0,885 8 0,65 0,429 10 2,50 0,127 12 3,17 0,088 14 3,37 0,079 16 2,30 0,143

Lampiran 9. Contoh Perhitungan Pendugaan Konversi Ransum Itik AAP pada Periode Starter

Konversi Ransum = ∑ pakan kumulatif selama 8 minggu

(itik ke-1) BB umur 8 minggu – BB umur DOD

= 5712,88

1747,34 = 3,27

Lampiran 10. Contoh Perhitungan Pendugaan Konversi Ransum Itik AAP selama 16 Minggu

Konversi Ransum = ∑ pakan kumulatif selama 16 minggu

(itik ke-1) BB umur 16 minggu – BB umur DOD

= 13.908,97 1669,34 = 8,33

Lampiran 11. Gambar Perkembangan Itik

a). Itik PAP Umur 6 Hari b). Itik AAP Umur 8 Hari

Itik PAP

e). Itik AAP Umur 12 Minggu f). Itik APA Umur 12 Minggu

Lampiran 12. Contoh Penimbangan Itik

Dokumen terkait