Adonis,T dkk. 1993. Perkawinan Adat Batak Di Kota Besar. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan: Jakarta.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 1978. Adat dan
Upacara Perkawinan Daerah Sumatera Utara. Departemen
pendidikan dan kebudayaan: Jakarta.
Gultom, Ibrahim. 2010. Agama Malim Di Tanah Batak. Bumi Aksara: Jakarta. Hutagaol, Ronald. 2013. “Penerapan Tradisi Batak Toba Di Yogyakarta: Studi
Deskriptif Penerapan Tradisi Martarombo dalam Komunikasi Anak Muda Perantauan Suku Batak Toba di Yogyakarta”. Skripsi. Universitas Gajah Mada (UGM): Yogyakarta.
Irianto, S. 2005. Perempuan DI Antara Berbagai Pilihan Hukum, Yayasan Obor Indonesia: Jakarta.
Koentjaraningrat. 1974. Pengantar Antropologi. Aksara Baru: Jakarta. ______________ 1985. Pengantar Ilmu Antropologi. Aksara Baru: Jakarta.
Kuntowijoto. 2003. Pengantar Ilmu Sejarah Edisi ke-2. Tiara Wacana: Yogyakarta.
___________ 2013. Pengantar Ilmu Sejarah Edisi Baru Cetakan Ke-I. Yogyakarta : Pt. Tiara Wacana Yogya
Muhammad. Takari. 2009. “Ulos dan Sejenisnya dalam Budaya Batak di Sumatera Utara: Makna, Fungsi, dan Teknologi”. Universitas Sumatera Utara (USU): Medan.
Nurhalimah. 2015. “Upaya Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Dalam Menyelenggarakan Kegiatan Bidang Kebudayaan Di Kabupaten Nunukan”. Universitas Mulawarman. Kalimantan Timur.
Pardede,B.T, dkk. 1981. Bahasa Tutur Perhataan dalam Upacara Adat Batak
Toba. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan: Jakarta.
Pardosi, J. 2008. “Makna Simbolik Umpasa, Snamot, dan Ulos pada Adat Perkawinan Batak Toba”. Jurnal Ilmiah Bahasa dan Sastra: USU.
Schrool, J.W. 1980. Modernisasi: Pengantar Sosiologi Pembangunan
Simanjuntak, B.A 2010. Orang-Orang Yang Dipaksa Kalah: Penguasa dan
Aparat Keamanan Milik Siapa?. 2010. Obor Indonesia:
Jakarta.
________________ 2006. Struktur Sosial dan Politik Batak Toba hingga 1946:
Suatu pendekatan Atropologi Budaya dan Politik, Jakarta:
Yayasan Obor Indonesia.
Sitompul,R.H.P. 2013. Ulos Batak ; Tempo Dulu – Masa Kini. KERABAT: Jakarta.
Situmorang, S. 2004. Toba Na Sae: Sejarah Lembaga Sosial Politik Abad
XIII-XX, Jakarta: Komunitas Bambu.
Vergouwen, J. C. 1985. Masyarakat dan Hukum Adat Batak Toba. Pustaka Azet:Jakarta.
Website:
M, Simandalahi. 2016. Kamus Batak. Dilansir dari www.kamusbatak.com diakses pada tanggal 15 Desember 2016, pukul 14.43 Wib.
Wawancara
Jhonson Sigalingging. Bertempat tinggal di Jl. Karanglo RT 02 RW 02 Nomor 20 Purwomartani Kabupaten Sleman. Diwawancarai pada tanggal 14 september 2016, pada pukul 14.00 Wib
Marsinton Marpaung. Bertempat tinggal di Jl. Ngampilan No.1/64, Rt 03 Rw 01. Diwawancarai pada tanggal 16 September 2016, pada pukul jam 18.00 Wib
K. Kudadiri (Naibaho). Bertempat tinggal di Jl. Dusun duwet rt 5 rw 33 sendangadi Mlati Kabupaten Sleman. 106B. Diwawancarai pada tanggal 28 september 2016, pada pukul 16.00 Wib
Dandi Kristian Tarigan. Bertempat tinggal di Amunasa Regency II blok C.6 wedomartani Ngemplak Yogyakarta. Diwawancarai pada tanggal 18 Juli 2017, pada pukul 15.00 Wib
Prof. Asan Damanik. Bertempat tinggal di Jl. Perumahan Kopri UPN, Sambiroto Purwomartani, Kalasan, blok f.40. diwawancarai pada tanggal 19 Juli 2017, pada pukul 15.00 Wib
Daniel Rimbang Simbolon bertempat tinggal di Jl. Arjuna rt 06 rw 10 no. 58 Pugeran. Diwawancarai pada tanggal 20 juli 2017, pada pukul 13.00 Wib
LAMPIRAN
Lampiran Hasil Wawancara I. Identitas Narasumber
A. Nama : Jonson Sigalingging, S.E B. Usia : 48 Tahun
C. Agama : Kristen Protestan D. Pekerjaan : Majelis HKBP (Sintua)
E. Status Punguan : 2 kali periode Ketua Parna, Sekretaris Naimarata (Pasaribu, Lubis, Limbong, Sagala, Malau, Manik, Ambarita, dll), Wakil Ketua Raja Sitepang (Sitanggang, Sigalingging, Manihuruk, Sidauruk), ketua dewan kononia (Gereja), persekutuan yaitu daerah Kalasan, Purwomartani dan Maguwoharjo, sekretaris Parna 2 periode.
F. Alamat : Jl. Karanglo RT 02 RW 02 Nomor 20 Purwomartani Kabupaten Sleman.
G. Cp : 0812 1598 071 Pertanyaan
A. Pewawancara : Sejak Kapan Pindah Ke Yogyakarta? Narasumber : Januari 1996.
B. Pewawancara : Alasan pindah ke Yogyakarta?
Narasumber : Mencari pekerjaan dan mempunyai saudara di Yogyakarta.
C. Pewawancara : Selama sekian tahun, pernah pindah ke luar Yogyakarta? Narasumber : Tidak pernah.
D. Pewawancara :Bagaimana kehidupan masyarakat Batak dulu di Yogyakarta (punguan)?
Narasumber : Harmonis, masih menjaga nilai-nilai sosial adat Batak dalam adat istiadat
E. Pewawancara : Menurut Bapak, semakin banyak tidak masyarakat Batak di Yogyakarta?
Narasumber : Masyarakat Batak di Yogyakarta semakin banyak datang dari luar Yogyakarta kurang lebih 1000 KK.
F. Pewawancara : Mengapa semakin banyak?
Narasumber : Karena disamping pekerjaan, pernah sekolah di Yogyakarta, mencari penghidupan lebih layak, dapat jodoh di Yogyakarta. G. Pewawancara : Apa yang membedakan orang Batak di Yogyakarta dulu
Narasumber : Masyarakat Batak dulu adat Batak masih kental budaya dan kalau Masyarakat Batak sekarang berkurang daya tarik masyarakat Batak untuk mengenal adat Batak , semakin menurun : bahasa, kurangnya pendidikan dan pergaulan.
H. Pewawancara : Apa yang membedakan masyarakat Batak di Yogyakarta dengan masyarakat Batak Toba (Tobasa)?
Narasumber : Kemajuan zaman mempengaruhi perbedaan masyarakat Batak di Yogyakarta dengan di Tobasa (Toba), misalkan kota cenderug sifatnya akademis sedangkan di Tobasa (Toba) cenderung kental budaya dan logat bahasa.
I. Pewawancara : Apakah perubahan atau pergeseran Batak di Yogyakarta terjadi dalam acara pernikahan?
Narasumber : Secara pernikahan : waktu (penghematan waktu), jumlah undangan dan acara pernikahan (di Yogyakarta ada resepsi selanjutnya pernikahan adat sedangkan di Tobasa tidak ada resepsi langsung adat pernikahan), juru bicara atau raja parhata (juru bicaranya tidak ribet di Yogyakarta sedangkan di Toba masih cenderung berubah karena dianggap ribet mulai dari acara hingga selesai acara hingga memakan waktu yang panjang)
J. Pewawancara : Mengapa ada perubahan, alasan perubahan?
Narasumber : Masalah waktu Tobasa bisa memakan waktu panjang yaitu sampai jam 10 malam selesai acara adatnya kalau di Yogyakarta sekitar jam 6 malam sudah selesai, pemberian Ulos juru bicara atau raja parhata di Tobasa lebih dari satu juru bicara jadi memakan waktu yang panjang kalau di Yogyakarta hanya satu orang juru bicaranya jadi tidak memakan waktu panjang, masalah panjambar atau pemberi jambar (ikan atau daging babi) di Tobasa harus di beritahu satu per satu keluarga yang mendapatkan, kalau di Yogyakarta diberikan ke pihak boru (pihak wanita) dan lebih dipersempit atau diperwakilkan pemberian jambar tidak memakan waktu lama,pemberian tuppak atau sinamot (pemberian sumbangan berupa uang) di Tobasa harus mengikuti tata cara misalkan pemberian tuppak atau sinamot dulu baru jambar sedangkan kalau di yogyakarta bisa bersamaan sehingga praktis atau lebih cepat, masalah pangandaion (pihak laki-laki lebih mengenal pihak wanita) di Tobasa pemberian pihak laki-laki ke wanita harus di beritahu satu persatu mulai dari tulang ito namboru amanguda sedangkan di Yogyakarta langsung diwakilkan tanpa memberitahu satu persatu.
K. Pewawancara : Hal-hal yang menyebabkan perubahan?
Narasumber : Hal-hal yang menyebabkan perubahan tersebut masalah waktu, dimana waktu untuk saat ini penting bagi masyarakat yang bekerja
sehingga untuk mempersingkat waktu agar tidak memakan waktu lama maka perubahan tersebut diberlakukan dalam konteks teknis pernikahan adat Batak di Yogyakarta ini.
L. Pewawancara : Apa dampak perubahan dalam acara adat Batak?
Narasumber : Ada perubahan tapi secara prinsip tidak ada perubahan. Secara prinsip sama nilainya, namun manfaat waktu dipersingkat tetapi makna adat dan nilain budayanya tersampaikan. Dan tidak menganggu waktu pada saat pesta misalkan tamu undangan. Secara kesimpulan nilai tradisi tidak boleh hilang namun secara teknis waktu memang dipersingkat. Paulak une dan tingkir tangga di huta pelaksanaan dilain waktu atau yang akan datang sedangkan di Yogyakarta menjadi satu hari dalam acara pernikahan adat tersebut. Sibubuhai, greja, resepsi, adat, adat naggok, paulak une, dan tingkir tangga (acara adat pernikahan adat Batak). Untuk saat ini perubahan dalam konteks waktu semakin baik karena tidak menganggu waktu bekerja.
M. Pewawancara : Dalam kaitan dengan Ulos, adakah perubahan aturan? Narasumber : Dalam kaitan Ulos di Yogyakarta pemberian Ulos masih menggunakan Ulos sendiri sedangkan di Jakarta ada beberapa orang memberi Ulos dengan uang,biasanya memberi Ulos yaitu: Hula-hula Tulang bona tulang tulang robot baik dari laki-laki maupun perempuan. Tidak ada perubahan pemberian Ulos pada acara pernikahan.
Selama 20 tahun di Yogyakarta, pada tahun 2000 mulai mengikuti acara pernikahan adat batak, namun menurut saya untuk saat ini ada perubahan lebih baik dalam acara adat karena dulu misalkan protokol pembicara adat lebih dari satu sedangkan sekarang cukup satu saja sudah cukup dan biasanya teks protocol diambil dari luar Yogyakarta karena sekarang lebih banyak memahami adat batak. Makna pemberian Ulos, panjang umur, renda-rendan (banyak anak dan rejeki), memberikan kehangatan dalam berumah tangga. Ulos merupakan Ulos. Sebelum memberikan Ulos harus memberi nasehat-nasehat dan pepatah.
Pewawancara : Ada pernah lihat di pernikahan Ulos diganti dengan amplop?
Narasumber : Pernah. Ya, mungkin supaya ringkas dan cepat saja.
N. Pewawancara : Dalam kaitannya dengan ulos, adakah perubahan makna atau nilai?
Narasumber : Menurut saya, untuk perubahan makna dan nilai tidak ada, namun secara teknis ada perubahan misalkan waktu dan tempat.
O. Pewawancara : Mengapa nilai ulos berubah?
Narasumber : Di Yogyakarta tidak ada bergeser nilai Ulos tersebut namun secara teknis kegiatan yang berubah sedangkan di Jakarta mungkin
ada perubahan karena hanya orang terdekat memberikan Ulos sedangkan yang tidak dekat memberikan Uang, alasanya perubahan tersebut karena kalau semua memberikan Ulos akan memakan waktu yang lama.
II. Identitas Narasumber
A. Nama : Marsinton Marpaung. B. Usia : 51 Tahun.
C. Agama : Kristen Protestan. D. Pekerjaan : Wiraswasta.
E. Status Punguan : Anggota dan koordinasi Wilayah. F. Alamat : Ngampilan No.1/64, Rt 03 Rw 01 G. CP : 081 392 191 220
Pertanyaan
A. Pewawancara : Sejak kapan pindah ke Yogyakarta? Narasumber : Dari tahun 1991 hingga sekarang B. Pewawancara : Alasan Pindah ke Yogyakarta?
Narasumber : Karena Pekerjaan
C. Pewawancara : Selama sekian tahun, pernah pindah ke luar Yogyakarta? Narasumber : Tidak Pernah
D. Pewawancara : Bagaimana kehidupan masyarakat Batak dulu di Yogyakarta (punguan)?
Narasumber : Kehidupan punguan keharmonisannya baik, karena punguan itu yang menyatukan keharmonisan keluarga Batak yang berada di Yogyakata.
E. Pewawancara : Menurut Bapak, semakin banyak tidak masyarakat Batak di Yogyakarta?
Narasumber : Menurut saya semakin banyak orang batak kurang lebih 400an kk yang berada di Yogyakarta.
F. Pewawancara : Mengapa semakin banyak?
Narasumber : Karena pensiun, pendidikan, kehidupan lebih nyaman, ekonomi buat kehidupan lebih murah dibandingkan di Batak Toba
G. Pewawancara : Apa yang membedakan orang Batak di Yogyakarta dulu dengan yang sekarang?
Narasumber : Menurut saya, tidak ada beda dan semua sama saja.
H. Pewawancara :Apa yang membedakan masyarakat Batak di Yogyakarta dengan masyarakat Batak Toba (Tobasa)?
I. Pewawancara : Apakah perubahan atau pergeseran Batak di Yogyakarta terjadi dalam acara pernikahan?
Narasumber : Menurut saya Pergeseran adat tidak ada, kalau salah menerapkan ada.
J. Pewawancara : Mengapa ada perubahan, alasan perubahan?
Narasumber : Menurut saya kalau berkaitan dengan salah menerapkan karena si pengguna Ulos tidak mengerti makanya terjadi salah penerapan pemakaian Ulos.
K. Pewawancara : Hal-hal yang menyebabkan perubahan?
Narasumber : Kurangnya pengetahuan akan nilai Ulos dan tidak berani bertanya terhadap orang yang ahli dalam adat.
L. Pewawancara : Apa dampak perubahan dalam acara adat Batak? Narasumber : Tidak ada dampak perubahan dalam acara adat. M. Pewawancara : Dalam kaitan dengan Ulos, adakah perubahan aturan?
Narasumber : Menurut saya, ada tapi tergantung orang yang mengadakan acara adat tersebut misalkan jumlah Ulos dikurangi. Dijakarta dipatok (diberikan saat pesta adat ada 17 ulos yang diberikan) kalau diyogya sudah ada beberapa menerapkan tersebut tapi tergantung pihak keluarga. Tapi kalau di Yogyakarta masih menggunakan sistem ganjil yaitu mulai dari 7 hingga seterusnya.
N. Pewawancara : Dalam kaitannya dengan ulos, adakah perubahan makna atau nilai?
Narasumber : Menurut saya, kalau dibilang perubahan tidak ada maupun bergeser yang ada hanya salah menerapkan saja sehingga dapat dikatakan kuantitas yang bergeser bukan kualitas yang bergeser.
O. Pewawancara : Mengapa nilai ulos berubah? Narasumber : Tidak ada berubah.
III. Identitas Narasumber
A. Nama : K. Kudadiri (Naibaho). B. Usia : 65 Tahun.
C. Agama : Khatolik. D. Pekerjaan : Pensiunan PNS.
E. Status Punguan :Punguan Raja Holoan, Parna, Naimarata, Silahisabungan, dan Raja si Teppang.
F. Alamat : Jl. Dusun duwet rt 5 rw 33 sendangadi melati sleman. 106B
Pertanyaan.
A. Pewawancara : Sejak kapan pindah ke Yogyakarta?
Narasumber : Awalnya merantau di Jakarta pada tahun 1976-1986, namun kalau di Yogyakarta pada tahun 1986 sampai sekarang.
B. Pewawancara : Alasan Pindah ke Yogyakarta?
Narasumber : Dapat kerja di Yogyakarta sebagai PNS sampai sekarang menikmati masa pensiunan.
C. Pewawancara : Selama sekian tahun, pernah pindah ke luar Yogyakarta?
Narasumber : Pernah yaitu di Jakarta pada tahun 1976-1986. D. Pewawancara : Bagaimana kehidupan masyarakat Batak dulu di
Yogyakarta (punguan)?
Narasumber : Sudah banyak perubahan tentang pola berpikir terutama dalam hal adat istiadat dan banyak orang batak yang merantau ke Yogyakarta yang sebelumnya mengerti budaya batak setelah di Yogyakarta banyak mengerti budaya adat batak (bahasa). Dasarnya Batak dalihan na tolu (hula-hula, anak, boru). Dalihan na tolu (UDD batak) tidak bisa berubah.
E. Pewawancara : Menurut Bapak, semakin banyak tidak masyarakat Batak di Yogyakarta?
Narasumber : Menurut saya, kira-kira ratusan KK orang Batak bertempat tinggal di Yogyakarta.
F. Pewawancara : Mengapa semakin banyak?
Narasumber : Di Yogyakarta bagi orang batak kota bertempat tinggal semasa pensiunan. Relatif murah kehidupannya dan nyaman lingkungannya. Alasanya faktor pekerjaan, pendidikan, dan kehidupan lebih layak.
G. Pewawancara : Apa yang membedakan orang Batak di Yogyakarta dulu dengan yang sekarang?
Narasumber : Perubahan dulu-sekarang, orang batak identik dengan merantau karena dasarnya menuntut ilmu, terkenal dengan merantau, kemiskinan. Menuntut diri lebih maju bukan di kampung tidak akan maju, ikut-ikutan.”Mangolu na mate berangkat (Nekat)”.
H. Pewawancara : Apa yang membedakan masyarakat Batak di Yogyakarta dengan masyarakat Batak Toba (Tobasa)?
Narasumber : Batak Yogyakarta dan Batak Toba, pola pikir yang berbeda tapi tujuan hidup sama. Pola pikir dalam acara lebih
singkat dan menyampai nilai dan makna ulos tersampaikan kalau toba lebih lama dan menyampaikan nilai dan makna ulos tersampaikan juga. Tujuannya sama.
I. Pewawancara : Apakah perubahan atau pergeseran Batak di Yogyakarta terjadi dalam acara pernikahan?
Narasumber : Kesimpulannya tidak ada perubahan dalam pergeseran nilai Ulos dalam pernikahan adat batak, namun secara teknis ada karena bertujuan untuk mepersingkat waktu dan acara.
“Ommputa marjolo, martukot sialagundi
Adat na pinukka na parjolo, di ihutton na parpudi”.
Menurut saya Ulos pada zaman dulu fungsi Ulos merupakan untuk menghangatkan tubuh, semakin berkembang dan hingga sakral dalam adat batak. Ulos Batak itu ada 7 ulos yaituUlos pansamot (ulos dari bapak laki-laki), Ulos hela, Ulos pamarai (kalau bapatua tidak ada amangudanya boleh), dan Ulos sihutiappang naopat: sebelum (4 yang menerima/ pokok : pangarai (bapatua atau amanguda, sihutiappang (boru hasuhuton atau namboru), aha ni hela, namboru. Kalau di Yogyakarta memberi ulos selalu ganjil (7, 9, 11, dll) sedangkan di medan ada beberapa tempat memberi ulos genap, mulai dari 6,8,10, dll.
Pewawancara : Di Yogyakarta pernah ada yang memberikan Ulos dengan menggantinya dengan amplop?
Narasumber : Adalah beberapa kali.
J. Pewawancara : Mengapa ada perubahan, alasan perubahan?
Narasumber : Perubahan itu disebabkan adanya keinginan bersama karena untuk mendapatkan persetujuan tersebut terlebih dahulu dimusyawarahkan bersama-sama sehingga hasil keputusan tersebut diambil secara bersama-sama dan perubahan tersebut disepakati bersama-sama.
K. Pewawancara : Hal-hal yang menyebabkan perubahan? Narasumber :Kekerabatan dan kebersamaan lebih menonjol L. Pewawancara : Apa dampak perubahan dalam acara adat Batak?
Narasumber : Dampak perubahan secra teknis dan ikut-ikutan M. Pewawancara : Dalam kaitan dengan Ulos, adakah perubahan
aturan?
Narasumber : Menurut saya, tidak ada perubahan kalau dibilang ke sakralannya sudah mulai memudar nilai ke sakralannya.
N. Pewawancara : Dalam kaitannya dengan ulos, adakah perubahan makna atau nilai?
Narasumber : Menurut saya, ada karena ada beberapa kejadian di acara adat orang salah pemakaian Ulos sehingga kalau dipakai sudah tidak memiliki makna dan nilai atau sudah beda makna Ulos bagi si pengguna Ulos. Nilai juga ada karena nilai ke sakralan Ulos sudah mulai memudar akibat dari Ulos yang terbuat dari mesin bukan tenunan.
O. Pewawancara : Mengapa nilai ulos berubah?
Narasumber : Menurut saya karena kurangnya pengetahuan tentang makna dan nilai Ulos tersebut sehingga mengalami perubahan.
IV. Identitas Narasumber
A. Nama : Dandi Kristian Tarigan B. Usia : 19 tahun
C. Jabatan : Ketua komunitas Sada Pardomuan Sanata dharma tahun 2017/2018
D. Profesi : Mahasiswa
E. Alamat : Perumahan Amunas Regency II blok C no 6 F. CP : 082 339 165 457
G. Email : [email protected] Pertanyaan
A. Pewawancara : Sejak Kapan Anda di Yogyakarta?
Narasumber : Ketika saya pertama kali kuliah tahun 2016 B. Pewawancara : Dalam rangka apa datang ke Yogyakarta?
Narasumber : kuliah
C. Pewawancara :Ikut Punguan atau Komunitas Batak di Yogyakarta?
Narasumber : Saya mengikuti dua komunitas di Yogyakarta yaitu Sada Pardomuan di Sanata Dharma dan komunitas Batak Karo di Yogyakarta.
D. Pewawancara : Kapan Punguan itu berdiri?
Narasumber : Dibentuk sejak 1997 punguan Sada Pardomuan Sadhar
E. Pewawancara : Menurut anda, apa tujuan terbentuknya punguan tersebut?
Narasumber : Menurut saya, tujuan yang utama untuk mengumpulkan mahasiswa Batak yang berada di Universitas Sanata Dharma dan menjalin silahturahmi sesama Batak, kekerabatan dan kekeluargaan. Saling mengingatkan akan budaya Batak yang harus
selalu ditanam dalam dirinya sendiri, dan saling membantu sesama mahasiswa Batak yang mengalami kekurangan materi.
F. Pewawancara : Berapa Jumlah anggota dalam punguan atau komunitas?
Narasumber : Untuk saat ini pengurus inti ada 8 orang tapi kalau di totalkan 100 orang Batak yang ada di Sanata Dharma.
G. Pewawancara : Apakah mahasiswa Batak setiap tahunnya mengalami peningkatan?
Narasumber : Menurut saya, mahasiswa Batak yang di terdata dalam komunitas ini mengalami penikatan setiap tahunnya. Sebagai contoh mulai dari tahun pengurusan 2013 berjumlah 20 orang, tahun 2014 bertambah menjadi 50an orang, tahun 2015 semakin bertambah sekitar 80an hingga tahun 2016 sampe memasukin tahun ajaran 2017 berjumlah 100an yang terdata.
H. Pewawancara : Apa saja kegiatan komunitas itu?
Narasumber : Kalau untuk ajaran baru ini lagi dibentuk acara apa yang akan dilakukan, tapi kalau kegiatan rutinitasnnya mengadakan pertemuan sekali seminggu di kantin ataupun panggung realino, mengadakan BAKSOS atau USDA (usaha pengumpulan dana) setahun sekali, menyambut Natal, Tahun Baru atau Paskah. Kegiatan ini selalu dilakukan setiap tahunnya.
I. Pewawancara : Apakah ada relasi hubungan komunitas dengan di Toba?
Narasumber : Kalau relasi di Toba tidak ada tapi kalau relasi untuk alumni yang pernah ikut komunitas masih ada hingga saat ini. J. Pewawancara : Alamat basecamp komunitas?
Narasumber : Kalau ruangan tidak ada tapi biasanya memanfaatkan sekitaran kampus yaitu Panggung Realino dan Kantin Realino.
V. Identitas Narasumber
A. Nama : Prof. Asan Damanik B. Usia : 53 Tahun
C. Jabatan : Dosen D. Pekerjaan : Dosen
E. Alamat : Perumahan Kopri UPN, Sambiroto Purwomartani, Kalasan, blok f.40
F. CP : 081 227 990 479
Pertanyaan
A. Pewawancara : Kapan pertama kali datang ke Yogyakarta? Narasumber : Sejak Tahun 1987
B. Pewawancara : Dalam rangka apa datang ke Yogyakarta? Narasumber : Sekolah dan pekerjaan
C. Pewawancara : Menurut Bapak, apakah setiap tahun masyarakat Batak mengalami peningkatan signifikan setiap tahunnya di Yogyakarta?
Narasumber : Kalau menurut saya, secara pendidikan atau orang yang kuliah di Yogyakarta mengalami peningkatan signifikan setiap tahunnya tapi kalau bertempat tinggal atau berkeluarga atau kerja di Yogyakarta tidak mengalami peningkatan signifikan karena yang mendominasi peningkatan tersebut disebabkan pendidikan misalkan orang yang berkuliah, setelah selesai mereka biasanya langsung pulang kampung dan sebagainya.
D. Pewawancara : Ikut Punguan apa di Yogyakarta?
Narasumber : Saya mengikuti Punguan Parna, Toga Semarga, Purba, dan Parhusataon
E. Pewawancara : Kapan punguan tersebut berdiri?
Wawancara : Kalau menurut tahun berdirinya kurang paham, tapi semenjak saya berada di Yogyakarta dari tahun 1987 punguan tersebut berdiri. Menurut saya kira-kira 1970an berdirinya.
F. Pewawancara : Apa tujuan pembentukan punguan tersebut?
Narasumber : Menurut saya,tujuan utamanya punguan ini dibentuk sebagai wadah tempat berkumpulnya masyarakat Batak yang berada di Yogyakarta misalkan yang satu marga ataupun berbeda-beda marga dan menjalin hubungan kekerabatan masyarakat Batak yang berada di rantau. G. Pewawancara : Berapa jumlah anggota punguan?
Narasumber : Kira-kira kalau dihitung semua punguan yang saya ikutin berkisar lebih dari 100 kk.
H. Pewawancara : Apa saja kegiatan tahunan punguan?
Narasumberr : Banyak, salah satunya mengadakan acara buka tahun hingga tutup tahun, arisan, parsahutaon, dan lain-lain.
I. Pewawancara : Ada relasi hubungan antar punguan di Yogyakarta dengan di Batak Toba?
Narasumber : Tidak ada, karena punguan ini berdiri akibat dari masyarakat Batak yang merantau di Yogyakarta, kebanyakan punguan berdiri disebabkan itu jadi kalau di singgungkan dengan relasi tidak ada. J. Pewawancara : Alamat basecamp?
Narasumber : Berpindah-pindah tidak menetap karena tergantung siapa yang mengadakan acara atau rapat misalkan arisan atau rapat tahunan. K. Pewawancara : Apa saja aktivitas punguan tersebut?
Narasumber : Seperti yang dikatakan pertanyaan sebelumnya aktivitas yang dilakukan mengadakan rapat tahunan, arisan, paskah, natal dan sebagainya.
L. Pewawancara : Apakah punguan pernah jadi penyelenggara pesta, kalau pernah punguan ikut terlibat dalam acara pesta?
Narasumber : Ada ketika acara pesta adat punguan saya memberikan Ulos atau sering disebut dengan Mangulosi.
M. Pewawancara : Pernah menemui acara pernikahan yang Ulosnya diganti amplop?
Narasumber : Pernahlah beberapa kali. Ya, mungkin karena sdah modern mereka.
N. Pewawancara : Menurut bapak, ketika memberikan Ulos tersebut dalam acara pesta pernikahan adat di Yogyakarta mengalami perubahan nilai,fungsi ataupun makna Ulos?
Narasumber : Menurut saya, ketika memberikan Ulos pada acara pesta adat tidak mengalami perubahan secara faktor internal (kesakralan makna dan nilai Ulos) tapi kalau faktor ekternalnya ada karena itu disebabkan oleh lingkungan dan biasanya itu dibuat keputusan bersama, misalkan gedung pernikahan yang tidak lagi menggunakan halaman, waktu yang dipersingkat sehingga bisa sehari selesai dalam acara adat tersebut dan sebagainya. Jadi secara keseluruhan dapat disimpulkan kalau perubahan secara internal tidak ada tapi kalau secara ekternal itu ada akibat dari lingkungan yang kita bertempat tinggal.
VI. Identitas Narasumber