Abrori, Ahmad, Merayakan Toleransi; Studi atas Masyarakat Pandeglang, Refleksi, Vol. VIII, No. I, 2006
Ahmad, Mirza Bashir, Silsilah Ahmadiyah, terj. Abdul Muhid H.A. (Kemang: tp, 1997)
Burhanuddin, Asep, Ghulam Ahmad Jihad tanpa Kekerasan (Yogyakarta: LkiS, 2005)
Dasar-dasar Hukum dan Legalitas Jemaat Ahmadiyah Indonesia Djamaluddin, M. Amin, Ahmadiyah & Pembajakan al-Qur’an, (Jakarta: LPPI,
2005), Cet. Ke-6 Djamaluddin, Muhammad, Religiusitas dan Stress Kerja pada Polisi
(Yogyakarta: UGM Press, 1995)
Fathoni, Muslih, Faham Mahdi Syiah dan Ahmadiah dalam Perspektif (Jakarta: Grafindo Persada, 1994), Cet. Ke-2
Gerakan Ahmadiyah Indonesia Minta Dibedakan Dengan JAI, artikel diakses dari 2008 Agustus 20 tanggal -indonesia -ahmadiyah -gerakan / 15 / 1 / 2008 / arc / id . co . antara . www :// http / jai -dengan -dibedakan -minta
Gibb, H.A.R., Aliran-Aliran Modern dalam Islam (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1998)
Hakim, Masykur, Kenapa Ahmadiyah Dihujat...? Jakarta: SDM Bina Utama, 2005)
Hariadi, Ahmad, Mengapa Saya Keluar dari Ahmadiyah Qodiyan, (Singapura: PERIPENSIS, 1987), Cet. Ke-1
Iqbal, Sir Muhammad, Islam dan Ahmadiyah, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), Cet. Ke-1
Johnson, Dyle Paul, Teori Sosiologi Klasik dan Modern, Jakarta: Gremedia, 1984 Kahmad, Dadang, Sosiologi Agama, (Bandung:Remaja Rosda Karya,2000)
Kurniawan, A. Fajar, Teologi Kenabian Ahmadiyah (Jakarta: Rakyat Merdeka Books, 2006)
Mujeeb, M., the Indian Muslim (London: George Allah & Unwin Ltd, 1967) Munarman, Menyoal Logika Ham Pembela Ahmadiyah, artikel diakses tanggal 20
Agustus 2008 dari http://hizbut-tahrir.or.id/2008/05/02/menyoal-logika-ham-pembela-ahmadiyah/
Malfuzhat I, Kutipan Sabda-sabda Hz. Mirza Ghulam Ahmad, terj. MI 1992-1997 Nurdin, M. Amin, Strategi Kerukunan Antarumat Beragama Berbasis Teknologi
Informasi, artikel tidak diterbitkan Penjelasan Jemaat Ahmadiyah, (Bogor: Jemaat Ahmadiyah Indonesia, 2005),
Puspito, Hendro, Sosiologi Agama (Yogyakarta: Kanisius, 2000), Cet. Ke-16 Robertson, Roland, Agama dalam Analisa dan Interpretasi Sosiologis (Jakarta:
PT Rajawali Press, 1988) artikel diakses dari ,
SKB Ahamdiyah Sebaiknya Dikaji Ulang
1260 = id _ news & view _ news = menu & id = lang ? php . page / id . or . nu . www // : http 5 2009 Januari 12 tanggal
Smart, Ninian, The World’s Religions (United Kingdom: Cambridge University Press, 1998), Cet. Ke-2
Soekanto, Soerjono, Kamus Sosiologi (Jakarta: CV. Rajawali Press, 1993) Suprayogo, Imam dan Tobroni, Misi Metodologi Penelitian Sosial-Agama,
(Bandung:Penerbit PT Remaja Rosdakarya, 2001), Cet ke-1 Sururin, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2004) Syams, Jamaluddin, (ed), Malfhuzat, (Bogor: Jemaat Islam Indonesia, 2000), III Zulkarnain, Iskandar, Gerakan Ahmadiyah di Indonesia, (Yogyakarta: LkiS,
2005)
Wawancara: Wawancara pribadi dengan informan Asep Wawancara pribadi dengan informan Burhan Wawancara pribadi dengan informan Cecep Hidayat
Wawancara pribadi dengan informan Dede Setiawan Wawancara pribadi dengan informan Endang Subana Wawancara pribadi dengan informan Hartanto Wawancara pribadi dengan informan Juma’an Wawancara pribadi dengan informan Mufidz Wawancara pribadi dengan informan Ujang Nurohman
Hasil wawancara
Nama informan : Asep
Tanggal wawancara : 12 April 2009
1. Apakah anda penduduk asli desa Pondok Udik? Ya, saya asli orang sini.
2. Tahukah anda keberadaan Jamaah Ahmadiyah?
Ya, saya tahu. Tapi kalau masuk ke dalamnya belum pernah. Dan saya tidak terlalu memiliki keinginan untuk masuk ke dalamnya
3. Bagaimana sikap anda terhadap anggota Jamaah Ahmadiyah?
Kalau saya sih biasa-biasa saja sama mereka. Kita mah hidup sewajarnya, selayaknya manusia bertetangga.
4. Dalam kehidupan sehari-hari, apakah anda berinteraksi dengan mereka? Terkadang saja.
5. Bagaimana proses interaksi tersebut?
Tidak ada yang aneh. Yah seperti mas kalau hidup bertetangga.
6. Dalam kehidupan beragama, apakah anda sering berhubungan dengan mereka?
Kalau masalah agama mah, mereka sendiri-sendiri aja. Kami tidak pernah diundang dalam acara-acara keagamaan mereka, atau melakukan ibadah di tempat ibadah mereka. Demikian juga sebaliknya, anggota Jemaah Ahmadiyah juga tidak pernah saya lihat shalat di masjid kampung. Saat kami mengadakan pengajian memperingati hari-hari besar Islam, lalu mengundang Jemaah Ahmadiyah untuk hadir, mereka tidak pernah hadir
7. Dalam merayakan hari-hari besar Islam, apakah anda terlibat dengan aktivitas mereka?
Sering juga masyarakat sini mengundang mereka dalam merayakan hari-hari besar Islam, seperti maulid nabi, isra’ mi’raj dan lain sebagainya. Lebih seringnya mereka nggak datang. Mungkin sudah ada acara sendiri.
8. Apakah anda mendapatkan doktrin dari Jamaah Ahmadiyah? Nggak pernah.
9. Selama ini, adakah ajaran atau doktrin dari Jamaah Ahmadiyah yang anda anut?
Tidak ada
10. Bagaimana pendapat anda tentang kehidupan sosial Jamaah Ahmadiyah? Biasa saja. Mereka tidak terlihat mengucilkan diri dari masyarakat sekitar. Mereka juga berbaur kok.
11. Apakah anda menemukan hal-hal yang ganjil dalam kehidupan sosial mereka? Bisa sebutkan contohnya?
Menurut saya, Jemaah Ahmadiyah itu tidak mengganggu keberadaan kami. Setahu saya, mereka tidak banyak bergaul dengan masyarakat. Mereka cenderung hanya bergaul dengan kelompok mereka sendiri. Jarang sekali saya lihat mereka berbincang-bincang dengan masyarakat di sekitar sini. Paling-paling mereka hanya lewat saja kalau ada keperluan di luar kampus 12. Selama ini adakah perhatian dari pemerintah maupun masyarakat terhadap
anggota Jamaah Ahmadiyah?
Kalau perhatian dari pemerintah sih ada. Lha itu, MUI mengeluarkan fatwa pelarangan penyebaran ajaran Ahmadiyah, kan sudah merupakan bentuk perhatian pemerintah mengenai keberadaan Jemaah Ahmadiyah. Kalau dari masyarakat sih, karena tidak ada pengaruh yang negatif dari keberadaan mereka, masyarakat di sini tidak pernah usil atau pun berusaha untuk ikut campur urusan mereka. Buktinya, waktu pengrusakan kampus Al-Mubarok, masyarakat di sini tidak ada yang ikut. Mereka hanya diam saja
13. Tahukah anda fatwa MUI mengenai Jamaah Ahmadiyah?
Kurang tahu ya. Kalau saya boleh ngasih saran, pemerintah nggak usah lah ngurusin masalah agama. Itu kan sudah menjadi urusan pribadi masing-masing, asal tidak mengganggu dan meresahkan orang lain, biarin saja. Lebih baik pemerintah mengurusi hal-hal yang menyangkut kebutuhan rakyat
banyak, seperti kemiskinan dan kebutuhan bahan pokok. Mas tau sendiri kan, kalau harga sembako paling gampang naiknya, tapi turunnya susah banget. Kita kan semakin susah jadinya. Eh.. ini malah direpotin masalah kepercayaan
14. Setahu anda, apa fatwa MUI tersebut?
Kalau lihat berita di tv fatwanya bahwa Ahmadiyah adalah golongan yang sesat, yang tidak boleh ada di Indonesia.
15. Sebagai anggota masyarakat, bagaimana anda memperlakukan anggota Jamaah Ahmadiyah sebelum terjadinya perusakan kampus Al-Mubarok? Kami memperlakukan mereka dengan baik. Saat terjadi perusakan pun saya tidak ikut-ikutan. Tapi tidak juga bisa nolong mereka.
16. Setelah terjadinya kasus perusakan tersebut, bagaimana sikap anda? Tetap sama, seperti sebelum terjadinya perusakan.
17. Apa yang dapat anda tarik pelajaran dari kejadian tersebut?
Masyarakat kita masih belum bisa hidup berdampingan dengan orang yang beda golongan. Menurut saya, masing-masing orang punya hak untuk memilih suatu ajara. Selama tidak mengganggu orang lain, kenapa kita juga harus mengganggu mereka.
18. Apa pandangan anda tentang hidup rukun dengan sesama warga negara? Ya itu tadi. Sebagai masyarakat yang hidup dengan orang lain, kita harus saling menghargai segala perbedaan.
19. Bisakah anda jelaskan pandangan anda mengenai keberadaan Jamaah Ahmadiyah tersebut?
Mereka juga manusia, yang patut mendapatkan perlakuan yang sama sebagaiman orang pada umumnya. Kalau akidah atau ajaran mereka sesat, itu kan urusan mereka, bukan urusan kita.
Hasil Wawancara
Nama informan : Burhan Tanggal Wawancara : 14 April 2009
20. Apakah anda penduduk asli desa Pondok Udik? Ya, saya lahir di desa ini.
21. Tahukah anda keberadaan Jamaah Ahmadiyah? Tahu
22. Bagaimana sikap anda terhadap anggota Jamaah Ahmadiyah?
Kalau menurut saya mah, orang Ahmadiyah sebenarnya baik-baik saja kok. Mereka tidak suka usil dengan kehidupan kita, apalagi mencampuri urusan masyarakat di sini. Hanya saja memang mereka sedikit tertutup jika berkenaan dengan masalah akidah. Yah, saya nggak terlalu mengerti bagaimana akidah itu. Mungkin saya hanya tahu sedikit dari nonton berita di TV kalau akidah mereka itu tidak sesuai dengan akidah kebanyakan pemeluk agama di Indonesia
23. Dalam kehidupan sehari-hari, apakah anda berinteraksi dengan mereka? Ya, sering kami ngobrol masalah sehari-hari atau topik-topik yang sering diberitakan di tv. Kami jarang sekali membahas masalah agama atau akidah. Yah, seperti orang-orang pada umumnya lah.
24. Bagaimana proses interaksi tersebut? Tidak ada yang aneh. Wajar-wajar saja.
25. Dalam kehidupan beragama, apakah anda sering berhubungan dengan mereka?
Yah kalau dalam hal agama mah kita masing-masing aja. Dulu kami sering kalau lagi ada tahlilan atau selamatan mengundang mereka, tapi pada nggak datang. Ya udah, pas kami ada acara tahlilan atau selamatan kami jarang mengundang mereka
26. Dalam merayakan hari-hari besar Islam, apakah anda terlibat dengan aktivitas mereka?
Tidak, saya belum pernah datang ke dalam perayaan hari-hari besar yang diadakan oleh mereka. Selain karena tidak diundang, juga jarang saya dengar mereka mengadakan perayaan hari-hari besar Islam.
27. Apakah anda mendapatkan doktrin dari Jamaah Ahmadiyah? Tidak pernah.
28. Selama ini, adakah ajaran atau doktrin dari Jamaah Ahmadiyah yang anda anut?
Tidak ada.
29. Bagaimana pendapat anda tentang kehidupan sosial Jamaah Ahmadiyah? Masih normal-normal saja. Tidak ada yang melenceng, atau tidak sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat. Mereka bersikap baik dengan masyarakat.
30. Apakah anda menemukan hal-hal yang ganjil dalam kehidupan sosial mereka? Bisa sebutkan contohnya?
Tidak pernah saya menemukan hal-hal yang ganjil dalam kehidupan sosial mereka. Kalau disuruh menyebutkan contohnya ya saya tidak tahu, kan belum pernah menemukan hal-hal yang ganjil dalam kehidupan mereka.
31. Selama ini adakah perhatian dari pemerintah maupun masyarakat terhadap anggota Jamaah Ahmadiyah?
Setahu saya tidak pernah ada. Yang ada juga itu, pemberian fatwa dari MUI yang menyatakan bahwa Ahmadiyah adalah ajaran sesat dan dilarang di Indonesia. Selain itu saya tidak pernah dengar.
32. Tahukah anda fatwa MUI mengenai Jamaah Ahmadiyah?
Saya tahu kalau Ahmadiyah itu dilarang oleh MUI dari TV. Tahunya sih nggak lama ini mas. Ya… pas terjadi kerusuhan di Monas itu. Kan habis itu TV banyak memberitakan masalah tersebut, dan salah satunya ya mengenai fatwa MUI tentang pelajaran Ahmadiyah itu
33. Setahu anda, apa fatwa MUI tersebut?
Ya itu tadi, Ahmadiya adalah aliran sesat, dan tidak boleh tumbuh dan berkembang di Indonesia.
34. Sebagai anggota masyarakat, bagaimana anda memperlakukan anggota Jamaah Ahmadiyah sebelum terjadinya perusakan kampus Al-Mubarok?
Saat terjadi perusakaan kampus Al-Mubarok, saya diam saja di rumah. Saya tidak ikut merusak, tetapi di sisi yang lain saya juga tidak bisa mencegah orang itu merusak kampus. Menurut saya apa yang dilakukan orang-orang yang merusak kampus tersebut merupakan tindakan yang melanggar hak-hak orang lain. Alangkah lebih baik, kalau kita saling menghargai, meskipun dengan orang yang berbeda keyakinan dengan kita
35. Setelah terjadinya kasus perusakan tersebut, bagaimana sikap anda?
Saya masih menghormati mereka. Karena bagi saya, meskipun ajaran yang mereka percayai menurut MUI adalah sesat, tapi bagi saya, sebagai manusia, tetap harus menghormati keberadaan orang lain. Dengan yang beda agama saja saya hormat, apalagi dengan orang yang masih Islam, meskipun mereka berbeda kepercayaan dalam beberapa hal.
36. Apa yang dapat anda tarik pelajaran dari kejadian tersebut?
Setelah terjadinya perusakan kampus Ahmadiyah, sebenarnya saya sedih. Karena Indonesia, sebagai salah satu Negara yang mempunyai penduduk muslim terbesar di dunia, masih belum bisa menerapkan sikap saling menghormati dengan aliran atau agama lain. Kita sering kali menggunakan cara-cara kekerasan untuk menunjukkan ketidaksukaan kita terhadap kelompok lain.
37. Apa pandangan anda tentang hidup rukun dengan sesama warga negara? Hidup rukun menurut saya sebagai sesama warga Negara adalah hidup berdampingan dengan damai dan sentosa, tidak perlu ada pertengkaran atau pun perselisihan yang didasarkan atas perbedaan keyakinan dan agama. Negara kita kan Negara yang mengakui agama-agama lain selain agama Islam. Jadi ya harus menghormati keberadaan mereka. Jangan suka menang sendiri, mentang-mentang jumlah kita paling banyak. Bayangkan kalau seandainya kita tinggal di suatu daerah di mana jumlah kita sedikit.
38. Bisakah anda jelaskan pandangan anda mengenai keberadaan Jamaah Ahmadiyah tersebut?
Demikian juga dengan Ahmadiyah. Mengenai kesesatan ajaran mereka, saya rasa saya tidak berhak untuk menentukannya. Maklum, saya kan bukan orang pinter atau sarjana yang bisa menilai ini sesat, itu tidak sesat. Bagi saya, yang
penting adalah hidup rukun. Hidup sudah susah kok malah dipersulit dengan adanya perselisihan karena perbedaan ajaran dan keyakinan.
Hasil wawancara
Nama Informan : Cecep Hidayat Tanggal Wawancara : 12 April 2009
39. Apakah anda penduduk asli desa Pondok Udik?
Bukan, saya bukan asli penduduk desa pondok Udik. Saya dari Bogor, tapi sudah sekitar 10 tahun saya tinggal di desa ini.
40. Tahukah anda keberadaan Jamaah Ahmadiyah?
Tahu, tapi tidak begitu banyak. Yang saya tahu bahwa di desa ini ada kampus yang digunakan untuk kegiatan Jemaah Ahmadiyah.
41. Bagaimana sikap anda terhadap anggota Jamaah Ahmadiyah? Biasa saja sih. Tidak ada perasaan yang berlebihan atau ketakutan. 42. Dalam kehidupan sehari-hari, apakah anda berinteraksi dengan mereka?
Lumayan juga. Seringkalinya saya bergaul dengan mereka kalau ada acara-acara desa yang bersifat sosial, seperti kerja bakti atau kegiatan-kegiatan sosial lainnya.
43. Bagaimana proses interaksi tersebut?
Awalnya canggung juga, tapi lama-kelamaan mereka tidak berbeda jauh dengan kita kok. Ya, seperti masyarakat pada umumnya.
44. Dalam kehidupan beragama, apakah anda sering berhubungan dengan mereka?
Kalau mas bertanya kepada saya bagaimana pendapat saya tentang Jemaah Ahmadiyah, saya jawab bahwa mereka seperti anggota masyarakat pada umumnya. Kalau kami mengadakan kerja bakti di desa, seperti bersih-bersih desa, atau acara-acara sosial, seperti hajatan dan mengundang anggota Jemaah Ahmadiyah, mereka datang kok. Jarang sekali jika ada undangan acara-acara sosial tersebut anggota Jemaah Ahmadiyah yang tidak datang. Mereka sangat menghormati keberadaan kami, dengan menghadiri undangan-undangan tersebut. Hanya saja, kalau kami mengadakan acara keagamaan, seperti pengajian memperingati hari besar Islam, dan kami mengundang mereka, dengan halus mereka menyatakan ketidaksediaan mereka untuk
mengikuti acara tersebut. Saya kurang tahu alasan tepatnya apa. Tapi saya juga harus menghormati mereka juga dong
45. Dalam merayakan hari-hari besar Islam, apakah anda terlibat dengan aktivitas mereka?
Pernah sih saya coba nanya kepada mereka, kenapa tidak mau menghadiri acara pengajian yang diadakan oleh masyarakat? Pernah saya dengar bahwa hal tersebut tidak sesuai dengan ajaran mereka. Setelah mendengar jawaban itu saya tidak mau mencari tahu lebih jauh. Itu kan hak mereka juga. Dan saya menghormati keyakinan mereka tersebut
46. Apakah anda mendapatkan doktrin dari Jamaah Ahmadiyah?
Kalau selama bergaul dengan mereka, saya jarang bahkan tidak pernah mendengar mereka membicarakan tentang ajaran Ahmadiyah.
47. Selama ini, adakah ajaran atau doktrin dari Jamaah Ahmadiyah yang anda anut?
Tidak ada mas.
48. Bagaimana pendapat anda tentang kehidupan sosial Jamaah Ahmadiyah? Wajar-wajar saja. Tidak ada yang aneh-aneh atau yang menakutkan.
49. Apakah anda menemukan hal-hal yang ganjil dalam kehidupan sosial mereka? Bisa sebutkan contohnya?
Saya pribadi tidak pernah menemukan hal-hal yang ganjil dalam kehidupan sosial anggota Jemaah Ahmadiyah. Mereka biasa-biasa saja kok, tidak ada yang aneh-aneh. Kalau anda menyangka ada yang aneh dengan kehidupan sosial mereka, anda salah. Selama saya bergaul dengan mereka, semuanya berlangsung biasa-biasa saja
50. Selama ini adakah perhatian dari pemerintah maupun masyarakat terhadap anggota Jamaah Ahmadiyah?
Setahu saya pemerintah kurang begitu perhatian dengan urusan beginian mas. 51. Tahukah anda fatwa MUI mengenai Jamaah Ahmadiyah?
Saya tahu fatwa MUI yang melarang penyebaran Ahmadiyah di Indonesia ya dari TV. Kalau dari radio atau pun koran, tidak kayaknya. Masalahnya saya jarang baca koran mas
Ya masalah pernyataan bahwa Ahmadiyah adalah aliran yang sesat dan dilarang penyebarannya di Indonesia.
53. Sebagai anggota masyarakat, bagaimana anda memperlakukan anggota Jamaah Ahmadiyah sebelum terjadinya perusakan kampus Al-Mubarok? Sebelum ada sekelompok orang yang merusak kampus Ahmadiyah tersebut, saya berhubungan baik dengan mereka kok.
54. Setelah terjadinya kasus perusakan tersebut, bagaimana sikap anda?
Sama saja, justru saya lebih simpati dengan mereka dibandingkan dengan orang-orang yang melakukan perusakan tersebut. Saat terjadinya perusakan kampus, yang saya tahu, anggota Jemaah Ahmadiyah diam saja, tidak melawan.
55. Apa yang dapat anda tarik pelajaran dari kejadian tersebut? Masyarakat masih belum bisa menghargai keberadaan orang lain. 56. Apa pandangan anda tentang hidup rukun dengan sesama warga negara?
Pandangan saya tentang hidup rukun dengan sesama warga Negara, khususnya di desa ini sudah baik. Masing-masing orang menghargai orang lain. Kalau ada konflik gara-gara berbeda keyakinan atau agama, menurut saya mereka masih belum mengerti benar tentang arti hidup rukun.
57. Bisakah anda jelaskan pandangan anda mengenai keberadaan Jamaah Ahmadiyah tersebut?
Kalau saya pribadi menganggap mereka sama seperti masyarakat pada umumnya. Mereka tidak menimbulkan dampak yang negatif terhadap warga yang berada di sekitarnya.
Hasil wawancara
Nama Informan : Dede Setiawan Tanggal Wawancara : 14 April 2009
58. Apakah anda penduduk asli desa Pondok Udik? Ya, saya asli orang sini.
59. Tahukah anda keberadaan Jamaah Ahmadiyah?
Sebagian masyarakat di sini tahu kok kalau kampus itu adalah tempat kegiatan Jemaah Ahmadiyah. Tapi orang-orang di sini tidak mau ikut campur mengenai kegiatan yang mereka lakukan
60. Bagaimana sikap anda terhadap anggota Jamaah Ahmadiyah?
Saya pribadi berteman baik dengan beberapa anggota jamaah Ahmadiyah. 61. Dalam kehidupan sehari-hari, apakah anda berinteraksi dengan mereka?
Ya.
62. Bagaimana proses interaksi tersebut?
Kalau ada orang yang menganggap bahwa anggota Jemaah Ahmadiyah itu adalah orang yang tertutup dengan masyarakat sekitarnya, itu karena mereka jarang bertemu dengan mereka. Wajar saja kalau banyak yang mengira bahwa Jemaah Ahmadiyah tidak mau bergaul dengan masyarakat. Saya pribadi sih tidak ada masalah. Mereka orangnya baik-baik kok. Tidak jahil, apalagi usil. Kalau sudah begitu kan, kita juga tidak bakal mengganggu mereka
63. Dalam kehidupan beragama, apakah anda sering berhubungan dengan mereka?
Kalau dalam kehidupan beragama saya jarang berhubungan dengan mereka. Hal ini karena mereka melaksanakan berbagai kegiatan keagamaan mereka di dalam kampus.
64. Dalam merayakan hari-hari besar Islam, apakah anda terlibat dengan aktivitas mereka?
Tidak, saya belum pernah terlibat dengan aktivitas anggota Jemaah Ahmadiyah dalam merayakan hari-hari besar Islam.
Tidak.
66. Selama ini, adakah ajaran atau doktrin dari Jamaah Ahmadiyah yang anda anut?
Tidak ada.
67. Bagaimana pendapat anda tentang kehidupan sosial Jamaah Ahmadiyah? Mereka berbaur dengan masyarakat. Ya, seperti anggota masyarakat pada umumnya. Bertegur sapa, ngobrol, dan lain sebagainya.
68. Apakah anda menemukan hal-hal yang ganjil dalam kehidupan sosial mereka? Bisa sebutkan contohnya?
Belum pernah saya menemukan hal-hal yang ganjil dalam kehidupan sosial mereka.
69. Selama ini adakah perhatian dari pemerintah maupun masyarakat terhadap anggota Jamaah Ahmadiyah?
Ya sudah seharusnya pemerintah memberikan perhatian terhadap masalah-masalah yang menyangkut kepentingan rakyat banyak seperti masalah-masalah Ahmadiyah ini. Dari TV, saya tahu informasi bahwa Ahmadiyah banyak meresahkan masyarakat. Tapi secara pribadi saya tidak merasa demikian. Cuma kalau memang hal itu sudah menyangkut rakyat, ya pemerintah harus turun tangan untuk menyelesaikan. Biar nantinya masalah ini tidak menjadi semakin parah, yang ujung-ujungnya kerugian yang paling banyak ya di derita sama masyarakat itu sendiri
70. Tahukah anda fatwa MUI mengenai Jamaah Ahmadiyah? Tahu
71. Setahu anda, apa fatwa MUI tersebut?
Bahwa ajaran Ahmadiyah termasuk ajaran sesat dan di larang penyebarannya di Indonesia oleh Majlis Ulama Indonesia.
72. Sebagai anggota masyarakat, bagaimana anda memperlakukan anggota Jamaah Ahmadiyah sebelum terjadinya perusakan kampus Al-Mubarok? Saya pribadi memperlakukan mereka dengan baik. Karena tidak mungkin memperlakukan buruk terhadap orang yang memperlakukan kita dengan baik. 73. Setelah terjadinya kasus perusakan tersebut, bagaimana sikap anda?
74. Apa yang dapat anda tarik pelajaran dari kejadian tersebut?
Yang saya tarik dari kejadian itu adalah bahwa kita harus menghormati hak orang lain.
75. Apa pandangan anda tentang hidup rukun dengan sesama warga negara? Pandangan saya tentang hidup rukun dengan sesama warga Negara yaitu dengan saling menghargai dan menghormati. Kalau kita sudah menghargai dan menghormati orang lain, insya allah kita juga nanti akan dihargai dan dihormati oleh orang lain.
76. Bisakah anda jelaskan pandangan anda mengenai keberadaan Jamaah Ahmadiyah tersebut?
Pandangan saya terhadap keberadaan Jemaah Ahmadiyah di lingkungan saya tidak menjadi masalah. Sampai saat ini saya belum menemukan efek negatif dari keberadaan mereka.
Hasil wawancara
Nama Informan : Endang Subana Tanggal Wawancara : 12 April 2009
77. Apakah anda penduduk asli desa Pondok Udik?