Abolmaali, S.S., Tamaddon, A. M., Farvadi, F.S., daneshamuz, S., and Moghimi, H. (2011). Pharmaceutical Nanoemulsions and Their Potential Topical and Transdermal Application. Iranian Journal of Pharmaceutical Sciences, 142-143.
Anderson, P.D. (1996). Anatomi dan Fisiologi TubuhManusia. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Halaman 473.
Aramo. (2012). Skin and Hair Diagnosis System. Sungnam: Aram Huvis Korea Ltd. Halaman 1-10.
Ardhie, M.A. (2011). Radikal Bebas dan Peran Antioksidan dalam Mencegah Penuaan. MEDICINUS. 24(1): 1, 7, 9.
Arifianti, A.E.(2012). Stabilitas Fisik dan Aktivitas Antioksidan Nanoemulsi Minyak Biji Jinten Hitam (Nigella sativa Linn. Seed oil) Sebagai Sediaan Nutrasetika. Skripsi. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Program Studi Sarjana Farmasi Universitas Indonesia. Halaman 24-30.
Arsiwala S, et al., (2013). Evaluation of topical antiwrinkle and firming (awf) for women, antiwrinkle and firming (afm) for menand deep wrinkles for wrinkles on face and neck. Asian Journal of Pharmaceutical and Clinical Research.6 (3).
Basiron,Y. (2007). Palm Oil Production Through Sustainable Plantations. Eur. J.
Lipid Sci. Technol. 109:289-295.
Devarjan, V and Ravichandran, V. (2011). Nanoemulsion: As Modified Drug Delivery Tool. Internasional Journal of Comprehensive Pharmacy.4(01) Ditjen POM. (1979). Farmakope Indonesia. Edisi III. Jakarta: Departemen
Kesehatan Republik Indonesia. Halaman 33.
Ditjen POM. (1985). Formularium Kosmetika Indonesia. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Halaman 29, 103, 356 – 357
Duraivel, S., Asma, S., Rabbani, B., Eesaf, P., Jilani. (2014). Formulation And Evaluation Of Antiwrinkle Activity Of Cream And Nano Emulsion Of Moringa Oleifera Seed Oil. IOSR Journal of Pharmacy and Biological Sciences. 9 (4): 58-61.
Elfiyani R. (2011). Pembuatan dan Evaluasi Solid Lipid Nanopartikel Ketokonazol untuk Penghantaran Topikal. Tesis. Padang: Fakultas Farmasi. Universitas Andalas.
Fauzi, A.R., dan Nurmalina, R. (2012). Merawat Kulit dan Wajah.Jakarta: PT ElexMedia Komputindo. Halaman 60, 171-173.
Gozali D., Rusmiati D., Utama P. (2009). Formulasi dan Uji Stabilitas Mikroemulasi Ketokonazol sebagai Anti jamur Candida albicans dan Trichophyton mentagrophytes. Jurnal Farmaka. 7 : 21-28
Gupta, P.K., Pandit, J.K., Kumar, A., Swaroop, P., and Gupta S. (2010).
Pharmaceutical Nanothecnology Novel Nanoemulsion-High Energy Emulsifying Preparation, Evaluation, and Aplication the Pharmacy Research. Ph. Res., 3, 117-138.
Haneefa, K.P.M., Easo, S., Hafsa, P.V., Mohanta, G.P., dan Nayar, C. (2013).
Emulgel : An Advanced Review. Journal of Pharmaceutical Sciences and Research.5(12): 255.
Iskandar, B., Karsono., danSilalahi, J., (2016). Preparation of Spray Nanoemulsionand Cream Containing Vitamin E as Anti-Aging Product Tested In Vitro And In Vivo Method. Int J PharmTech. 9(6): 308-315.
Jufri, M dan Natalia, M. (2014). Physical Stability and Antibacterial activity of Black Cumin Oil (Nigella sativa L.) Nanoemulsion Gel. International Journal of Pharm Tech Research6 (4). 1162-1169.
Kishore, R.S.K., Pappenberger, A., Dauphin, I.B., Ross, A., Buergi, B., Staempfli, A. (2011). The Degradation of Polysorbates 20 and 80 and its Potential Impact on the Stability of Biotherapeutics. Pharmaceutical Research 28:
1194-1210.
Koroleva, M.Y.,and Yurtov, E.V. (2012). Nanoemulsions: the properties, methods of preparation and promising applications Russian Chemical Reviews.
81(1): 21-43.
Kunto, Y.S. (2007). Analisis Pasar Pelanggan Pria Produk Facial Wash di Kota Surabaya. Jurnal Manajemen Pemasaran. 2(1): 21-30.
Lachman, L., H.A. Lieberman dan J.L. Kanig. (1994). Teori dan Praktek Farmasi Industri. Edisi III. Jakarta: Universitas Indonesia Press. Hal.1079-1083, 1104-1105.
Lalitha, P., dan Jayanthi, P. (2014). Antiaging Activity of the Skin Cream containing Ethyl Acetate Extract of Eichhornia crassipes (Mart.) SOLMS.
International Journal of PharmTech Research. CODEN (USA): IJPRIF ISSN: 0974-4304. 6(1): 29 - 34.
Loden, M., danMaibach, H (2006). Clinical and Basic Science Series: Dry Skin an Moisturizers Chemistry and Function. Edisi II. Boca Rato: CRC Press.
Halaman 245-267
Martin, A., Swarbrick, J., dan Cammarata, A. (1993). Farmasi Fisik Dasar-Dasar Kimia Fisik Dalam Ilmu Farmasetik. Volume Kedua, Edisi Ketiga.
Jakarta: Universitas Indonesia. Halaman 1095-1096, 1135-1136, 1144-11-45.
Medicinus. (2011). Anti Aging. Scientific Journal of Pharmaceutical Development and Medical Application. 24(1): 4-8
Muliyawan, D., dan Suriana, N. (2013). A-Z Tentang Kosmetik. Jakarta: PT Elex Media Komputindo. Halaman 21, 312.
Naibaho, P.M., (1990). Penggunaan Minyak Sawit Sebagai Sumber Provitamin A dan Dampaknya terhadap Perkembangan Industri Minyak Sawit. Pusat Penelitian Perkebunan Medan. Halaman: 40-45.
Njoku, P.C., Egbukole, M.O and Enenebeaku, C.K. (2010). Physio-Chemical Characteristics and Dietary Metal Levels of Oil from Elaeis guineensis Species. Pakistan Journal of Nutrition. 9(2): 137-140.
Noormindhawati, L. (2013). Jurus Ampuh Melawan Penuaan Dini. Jakarta:
Kompas Gramedia. Halaman 2, 5, 74-77, 89.
Oddos, T., Romain, S., James., L., Valérie, B., dan Christiane, B. (2012). A Placebo-Controlled Study Demonstrates the Long-Lasting Anti-Aging Benefits of a Cream Containing Retinol, Dihydroxy Methyl Chromone (DMC) and Hyaluronic Acid. Journal of Cosmetics, Dermatological Sciences and Applications. 2(1): 51-59
Panjaitan, D.T., Budi, P., dan Leenawaty, L. (2008). Peranan Karotenoid Alami Dalam Menangkal Radikal Bebas di Dalam Tubuh. e-USU Repository.
Prianto, J. (2014). Cantik: Panduan Lengkap Merawat Kulit Wajah. Jakarta: PT.
Gramedia Pustaka Utama. Halaman 145-148.
Putro, D. S. (1997). Agar Awet Muda. Malang: Universitas Negeri Malang Press.
Halaman 2,3,16,17.
Rohmatussolihat. (2009). Antioksidan Penyelamat Sel-Sel Tubuh Manusia.
BioTrends. 4(1): 5.
Rosi, A. (2012). Cantik dan Bugar Sepanjang Usia. Jogjakarta: Andi Jogjakarta.
Halaman 4.
Rowe, R.C., Sheskey, P.J., and Owen, S.S. (2009). Handbook of Pharmaceutical Excipient 6th Edition. London: Pharmaseutical Press and American Pharmacist Association.Halaman: 89-103.
Salager, J. L., J. M. Anderez, M. I. Briceno, de Sanchez, M. P., and de Gouveia M.
R. (2002). Formulation and Composition Variables as well as Stirring Energy. Rev. Tec. Ing. Univ. Zulia. 25 (3): 16
Sayuti,K., dan Yenrina, R. (2015). Antioksidan, Alami dan Sintetik.CetakanPertama. Padang: Andalas University Press. Halaman 11-12.
Shah, P.,Bhalodia D., Shelat P. (2010). Nanoemulsion: A Pharmaceutical Review, Sys Rev Pharm. 1(1):25-26.
Shakeel, F., Baboota, S., Ahuja, A., Ali, J., Aqil, M.,and Shafiq,S. (2008).
Stability evaluation of celecoxib nanoemulsion containing tween 80. Thai Journal Pharm. Sci. 32, 49.
Siahaan, D.danSinaga, A.G.S (2018).Proses Pengolahan Buah Kelapa Sawit Untuk Menghasilkan Ekstrak Minyak Kelapa Sawit Alami Murni Dengan Kandungan Nutrisi Tinggi. Indonesia Patent S00201800304
Sinaga, A.G.S dan Siahaan, D.(2015). Pengaruh Kandungan Komponen Minor dari Minyak Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq). Terhadap Aktivitas Antioksidan pada Proses Pemurnian Karotenoid. Original article.2(3):136.
Sofwan, A.G. (2014). Minyak Nabati Utama dan Peran Dalam Nutrisi Manusia.
Pusat Penelitian Kelapa sawit: Medan. Halaman: 2-3, 26, 30-31, 36-45, 55-62.
Tranggono, R.L., dan Latifah, F. (2007). Buku Pegangan Ilmu Pengetahuan Kosmetik. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Halaman 7, 21.
Utami, S.S. (2012).Formulasi dan Uji Penetrasi in VitroNanoemulsi, Nanoemulsi Gel, dan Emulsi Gel Kurkumin. Skripsi. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Program Studi Sarjana Farmasi Universitas Indonesia.
Halaman17-69.
Washington, N., Washington, C., dan Wilson, C.G. (2003). Physiological Pharmaceutics: Barriers to Drug Absorption. Edisi kedua. New York:
Taylor and Francis. Halaman 183.
Wasitaatmadja, S.M. (1997). Penuntun Ilmu Kosmetik Medik. Jakarta: Universitas Indonesia. Halaman 59-63, 111-112.
Winarno, F.G, (1997). Kimia Pangan dan gizi. PT Gramedia Pustaka Utama.
Jakarta. Halaman: 105-108.
Winarsi, H., Alice, Y., dan Agus, P. (2013). Deteksi Aging pada Perempuan Berdasarkan Status Antioksidan. MKB. 45(3): 142.
Yuliasari, S danHamdan, (2012). Karakterisasi Nanoemulsi Minyak Sawit Merah Yang Disiapkan Dengan High Pressure Homogenizer. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bengkulu. Halaman: 25-28
Zelfis, F. (2012). Kunci Awet Muda. Cetakan Pertama. Yogyakarta: Laksana.
Halaman 23.
Zulkifli, M., Estiasih, T. (2014). Sabun dari Distilat Asam Lemak Minyak Sawit : Kajian Pustaka. Jurnal Pangan dan Agroindustri. 2 (4): 170-177
Lampiran 1. Surat permohonan izin telah selesai penelitian
Lampiran 2 . Surat rekomendasi persetujuan etik penelitian kesehatan
Lampiran 3 . Surat pernyataan persetujuan (informed consent)
Lampiran 4. Bagan alir pembuatan nanoemulsi minyak sawit olein merah
Dimasukkan magnetic stirrer pada kecepatan 3000-5000rpm selama 30 menit
Ditambahkan fase minyak kedalam fase air dengan cara meneteskannya sedikit-demi sedikit dengan mengguna- kan pipet tetes
Dihomogenkan dengan menggunakan magnetic stirrer Pada kecepatan 3000-5000 rpm selam 30 menit pada suhu kamar hingga homogen dan terbentuk nanoemulsi yang jernih dan transparan
Dihomogenkan dengan menggunakan ultarturrax selama 30 menit dengan kecepatan 10.000 rpm
Minyak sawit
olein merah Aqua destilata
Fase minyak
Fase air Diaduk homogen dengan
menggunakan magnetic stirrer pada kecepatan 5000 rpm selama 30 menit
Nanoemulsi minyak sawit olein merah
Lampiran 5. Bagan alir pembuatan basis gel
Ditimbang CMC
Dipanaskan aqua destilata sebanyak 20 kali massa CMC didalam beaker glass
Dipanaskan lumpang di dalam penangas air 90°C Dimasukkan aqua destilata yang telah dipanaskan ke
dalam lumpang yang telah dipanaskan
CMC ditaburkan ke dalam lumpang yang telah dipanaskan
Dihomogenkan hingga membentuk basis gel yang transparan
Ditetesi sedikit demi sedikit gliserin sampai homogen
CMC
Basis gel CMC
Lampiran 6 . Bagan alir pembuatan nanoemulsi gel minyak sawit olein merah meneteskannya sedikit-demi sedikit dengan mengguna-
kan pipet tetes
Dihomogenkan dengan menggunakan magnetic stirrer Pada kecepatan 3000-5000 rpm selama 30 menit
Dihomogenkan emulsi minyak sawit olein merah dengan basis gel dengan menggunakan ultarturrax selama 30 menit dengan kecepatan 10.000 rpm
Minyak sawit
olein merah Aqua destilata
Fase minyak
Lampiran 7. Gambar alat yang dipakai dalam sediaan nanoemulsi dan nanoemulsi gel
Ultraturrax Particle size analyzer
Alat Skin Analyzer Pemeriksaan anti-aging
Lampiran 7. (lanjutan)
Viskometer Brookfield DV-E Piknometer
Sentrifugator (Thermo Scientific) pH meter
Lampiran 8. Distribusi ukuran partikel nanoemulsi minyak sawit olein merah 1. Distribusi ukuran partikel nanoemulsi F1 penyimpanan 0 minggu pada suhu
kamar
2. Distribusi ukuran partikel nanoemulsi F1 penyimpanan 12 minggu suhu 25°C
3. Distribusi ukuran partikel nanoemulsi F1 penyimpanan 12 minggu suhu 4°C
4. Distribusi ukuran partikel nanoemulsi F1 penyimpanan 12 minggu suhu 40°C
5. Distribusi ukuran partikel nanoemulsi F1 penyimpanan cycling test
6. Distribusi ukuran partikel nanoemulsi F2 penyimpanan 0 minggu pada suhu kamar
7. Distribusi ukuran partikel nanoemulsi F2 penyimpanan 12 minggu suhu 25°C
8. Distribusi ukuran partikel nanoemulsi F2 penyimpanan 12 minggu suhu 4°C
9. Distribusi ukuran partikel nanoemulsi F2 penyimpanan 12 minggu suhu 40°C
\
10. Distribusi ukuran partikel nanoemulsi F2 penyimpanan cycling test
11. Distribusi ukuran partikel nanoemulsi F3 penyimpanan 0 minggu
12. Distribusi ukuran partikel nanoemulsi F3 penyimpanan 12 minggu suhu 25°C
13. Distribusi ukuran partikel nanoemulsi F3 penyimpanan 12 minggu suhu 4°C
14. Distribusi ukuran partikel nanoemulsi F3 penyimpanan 12 minggu suhu 40°C
15. Distribusi ukuran partikel nanoemulsi F3 Cycling Test
Lampiran 9. Distribusi ukuran partikel nanoemulsi gel minyak sawit olein merah 1. Distribusi ukuran partikel nanoemulsi gel F1 penyimpanan 0 minggu pada suhu
kamar
2. Distribusi ukuran partikel nanoemulsi gel F1 penyimpanan 12 minggu suhu 25°C
3. Distribusi ukuran partikel nanoemulsi gel F1 penyimpanan 12 minggu suhu 4°C
Lampiran 9. (Lanjutan)
4. Distribusi ukuran partikel nanoemulsi gel F1 penyimpanan 12 minggu suhu 40°C
5. Distribusi ukuran partikel nanoemulsi gel F1 penyimpanan suhu cycling test
6. Distribusi ukuran partikel nanoemulsi gel F2 penyimpanan 0 minggu suhu kamar
Lampiran 9. (Lanjutan)
7. Distribusi ukuran partikel nanoemulsi gel F2 penyimpanan 12 minggu suhu 25°C
8. Distribusi ukuran partikel nanoemulsi gel F2 penyimpanan 12 minggu suhu 4°C
9. Distribusi ukuran partikel nanoemulsi gel F2 penyimpanan 12 minggu suhu 40°C
Lampiran 9. (Lanjutan)
10. Distribusi ukuran partikel nanoemulsi gel F2 penyimpanan 12 minggu Cycling Test
11. Distribusi ukuran partikel nanoemulsi gel F3 penyimpanan 0 minggu pada suhu kamar
12. Distribusi ukuran partikel nanoemulsi gel F3 penyimpanan 12 minggu pada suhu 25°C
Lampiran 9. (Lanjutan)
13. Distribusi ukuran partikel nanoemulsi gel F3 penyimpanan 12 minggu pada suhu 4°C
14. Distribusi ukuran partikel nanoemulsi gel F3 penyimpanan 12 minggu pada suhu 40°C
15. Distribusi ukuran partikel nanoemulsi gel F3 penyimpanan 12 minggu cycling test
Lampiran 10. Pengujian aktivitas anti-aging sediaan nanoemulsi dan nanoemulsi gel
- Kadar air (moisture)
Kondisi awal sebelum pemakaian
Pemakaian setelah 1 minggu
Gambar 11.1b Nanoemulsi gel -Kadar air yang diperoleh 22%
-Kadar air seharusnya 53%
Gambar 11.1a Nanoemulsi -Kadar air yang diperoleh 22%
-Kadar air seharusnya 53%
Gambar 11.1a Nanoemulsi -Kadar air yang diperoleh 32%
-Kadar air seharusnya 53%
Gambar 11.1b Nanoemulsi gel -Kadar air yang diperoleh 29%
-Kadar air seharusnya 53%
Gambar 11.1a Nanoemulsi -Kadar air yang diperoleh 36%
-Kadar air seharusnya 53%
Gambar 11.1b Nanoemulsi gel -Kadar air yang diperoleh 35%
-Kadar air seharusnya 53%
Gambar 11.1a Nanoemulsi -Kadar air yang diperoleh 45%
-Kadar air seharusnya 53%
Gambar 11.1b Nanoemulsi -Kadar air yang diperoleh 40%
-Kadar air seharusnya 53%
Gambar 11.1a Nanoemulsi -Kadar air yang diperoleh 56%
-Kadar air seharusnya 53%
Gambar 11.1b Nanoemulsi -Kadar air yang diperoleh 49%
-Kadar air seharusnya 53%
Lampiran 10. (Lanjutan) - Pori (Pore)
Kondisi awal sebelum pemakaian
Pemakaian setelah 1 minggu
Pemakaian setelah 2 minggu
Gambar 11.1b Nanoemulsi gel -Jumlah pori yang diperoleh 44 -Jumlah pori seharusnya 25 Gambar 11.1a Nanoemulsi
-Jumlah pori yang diperoleh 44 -Jumlah pori seharusnya 25
Gambar 11.1a Nanoemulsi -Jumlah pori yang diperoleh 32 -Jumlah pori seharusnya 25
Gambar 11.1b Nanoemulsi -Jumlah pori yang diperoleh 32 -Jumlah pori seharusnya 25
Pemakaian setelah 3 minggu
Pemakaian setelah 4 minggu
Gambar 11.1a Nanoemulsi -Jumlah pori yang diperoleh 26 -Jumlah pori seharusnya 25
Gambar 11.1b Nanoemulsi -Jumlah pori yang diperoleh 30 -Jumlah pori seharusnya 25
Gambar 11.1a Nanoemulsi -Jumlah pori yang diperoleh 21 -Jumlah pori seharusnya 25
Gambar 11.1b Nanoemulsi -Jumlah pori yang diperoleh 22 -Jumlah pori seharusnya 25
Gambar 11.1a Nanoemulsi -Jumlah pori yang diperoleh 13 -Jumlah pori seharusnya 25
Gambar 11.1b Nanoemulsi -Jumlah pori yang diperoleh 13 -Jumlah pori seharusnya 25
Lampiran 10. (Lanjutan) - Noda (melanin)
Kondisi awal sebelum pemakaian
Pemakaian setelah 1 minggu Gambar 11.1a Nanoemulsi -Jumlah noda yang diperoleh 52 -Jumlah noda seharusnya 25
Gambar 11.1b Nanoemulsi gel -Jumlah noda yang diperoleh 52 -Jumlah noda seharusnya 25
Gambar 11.1a Nanoemulsi -Jumlah noda yang diperoleh 38 -Jumlah noda seharusnya 25
Gambar 11.1b Nanoemulsi gel -Jumlah noda yang diperoleh 42 -Jumlah noda seharusnya 25
Pemakaian setelah 2 minggu
Pemakaian setelah 3 minggu
Gambar 11.1b Nanoemulsi -Jumlah noda yang diperoleh 33 -Jumlah noda seharusnya 25 Gambar 11.1a Nanoemulsi
-Jumlah noda yang diperoleh 31 -Jumlah noda seharusnya 25
Gambar 11.1a Nanoemulsi -Jumlah noda yang diperoleh 25 -Jumlah noda seharusnya 25
Gambar 11.1b Nanoemulsi -Jumlah noda yang diperoleh 26 -Jumlah noda seharusnya 25
Lampiran 10. (Lanjutan) Pemakaian setelah 4 minggu
Gambar 11.1bNanoemulsi -Jumlah noda yang diperoleh 19 -Jumlah noda seharusnya 25 Gambar 11.1a Nanoemulsi
-Jumlah noda yang diperoleh 19 -Jumlah noda seharusnya 25
Lampiran 10. (Lanjutan) - Kerutan (wrinkle)
Kondisi awal sebelum pemakaian
Pemakaian setelah 1 minggu
Gambar 11.1a Nanoemulsi
-Banyaknya kerutan yang diperoleh 51 -Banyaknya kerutan seharusnya 15
Gambar 11.1b Nanoemulsi gel -Banyaknya kerutan yang diperoleh 51 -Banyaknya kerutan seharusnya 15
Gambar 11.1b Nanoemulsi
-Banyaknya kerutan yang diperoleh 40 -Banyaknya kerutan seharusnya 15 Gambar 11.1a Nanoemulsi
-Banyaknya kerutan yang diperoleh 40 -Banyaknya kerutan seharusnya 15
Pemakaian setelah 2 minggu
Pemakaian setelah 3 minggu
- Pemakaian setelah 4 minggu Gambar 11.1a Nanoemulsi
-Banyaknya kerutan yang diperoleh 31 -Banyaknya kerutan seharusnya 15
Gambar 11.1b Nanoemulsi
-Banyaknya kerutan yang diperoleh 32 -Banyaknya kerutan seharusnya 15
Gambar 11.1b Nanoemulsi
-Banyaknya kerutan yang diperoleh 26 -Banyaknya kerutan seharusnya 15 Gambar 11.1a Nanoemulsi
-Banyaknya kerutan yang diperoleh 23 -Banyaknya kerutan seharusnya 15
-Banyaknya kerutan yang diperoleh 14 -Banyaknya kerutan seharusnya 15 Gambar 11.1a Nanoemulsi
-Banyaknya kerutan yang diperoleh 14 -Banyaknya kerutan seharusnya 15
Gambar 11.1a Nanoemulsi -Kadar sensitif yang diperoleh 40 -Kadar seharusnya 15
Gambar 11.1b Nanoemulsi gel -Kadar sensitif yang diperoleh 44 -Kadar seharusnya 15
Gambar 11.1b Nanoemulsi -Kadar sensitif yang diperoleh 33 Gambar 11.1a Nanoemulsi
-Kadar sensitif yang diperoleh 32
Pemakaian setelah 2 minggu
Pemakaian setelah 3 minggu
Pemakaian setelah 4 minggu
Gambar 11.1a Nanoemulsi -Kadar sensitif yang diperoleh 20 -Kadar seharusnya 15
Gambar 11.1b Nanoemulsi -Kadar sensitif yang diperoleh 22 -Kadar seharusnya 15
Gambar 11.1a Nanoemulsi -Kadar sensitif yang diperoleh 17 -Kadar seharusnya 15
Gambar 11.1b Nanoemulsi -Kadar sensitif yang diperoleh 18 -Kadar seharusnya 15
Gambar 11.1b Nanoemulsi Gambar 11.1a Nanoemulsi
Lampiran 11. Data pengukuran pH nanoemulsi dan nanoemulsi gel penyimpanan selama 12 minggu
Formula Waktu (minggu)
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Nanoemulsi F1 7,0 7,0 6,8 6,7 6,7 6,7 6,6 6,6 6,5 6,5 6,3 6,2 6,0 F2 6,8 6,8 6,8 6,7 6,7 6,6 6,6 6,5 6,5 6,4 6,3 6,3 6,2 F3 6,8 6,8 6,8 6,8 6,7 6,7 6,6 6,5 6,5 6,5 6,4 6,3 6,3 Nanoemulsi
gel
F1 6,3 6,3 6,2 6,2 6,0 6,0 6,0 5,9 5,9 5,9 5,8 5,8 5,8 F2 6,3 6,3 6,3 6,2 6,2 6,2 6,1 6,1 6,0 5,9 5,9 5,8 5,8 F3 6,2 6,2 6,1 6,1 6,1 6,0 6,0 5,9 5,9 5,9 5,8 5,8 5,8 Keterangan : F1:Nanoemulsi dan Nanoemulsi gel minyak sawit olein merah 5%
F2:Nanoemulsi dan Nanoemulsi gel minyak sawit olein merah10%
F3:Nanoemulsi dan Nanoemulsi gel minyak sawit olein merah15%
Lampiran 12. Data uji viskositas nanoemulsi dan nanoemulsi gel selama 12 minggu
Formula Waktu (minggu)
0 2 4 6 8 10 12
Nanoemulsi F1 100 113 125 200 250 325 400
F2 113 125 225 250 300 375 450
F3 150 225 275 280 350 475 475
Nanoemulsi gel
F1 2790 3140 3140 3220 3250 3500 3500 F2 2790 3500 3500 3600 4300 4300 4300 F3 3250 3600 4300 4300 4660 5200 5400 Keterangan : F1:Nanoemulsi dan Nanoemulsi gel minyak sawit olein merah 5%
F2:Nanoemulsi dan Nanoemulsi gel minyak sawit olein merah10%
F3:Nanoemulsi dan Nanoemulsi gel minyak sawit olein merah15%