Arifin, Sugoro. (2013). Skripsi: Hubungan Kompetensi Terhadap Kinerja Wartawan Riau Pos. Riau: Universitas Islam Negeri Suska Riau
Bungin, Burhan. (2008). Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Kencana
Darmawan, Deni. (2009). Pendidikan Teknologi Informasi dan Komunikasi.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Departemen Pendidikan Indonesia (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta:
Balai Pustaka.
Dewan Pers Indonesia (2006). Kode Etik Jurnalis. Diakses pada 08 Februari 2021 dari dewanpers.or.id.https://dewanpers.or.id/kebijakan/peraturan.
Grant A. E. & Wilkinson, J.S. (2009). Understanding Media Convergence : The State of the Field, NY : Oxford University Press.
Hadi, I. P. (2009). Perkembangan Teknologi Komunikasi dalam Era Jurnalistik Modern
,
Jurnal Ilmiah Scriptura, 3 (1), 70.Haryanto, A.T (2020). Riset: Ada 175,2 Juta Pengguna Internet di Indonesia.
Detik.com. https://inet.detik.com/cyberlife/d-4907674/riset-ada-1752-juta-pengguna-internet-di-indonesia. (diakses pada tanggal 8 Agustus 2020).
Hsiang Iris Chyi & Angela M. Lee. (2013). Online News Consumption, Digital Journalism, 1 (2), 194-211.
Indranata, Iskandar. (2008). Pendekatan Kualitatif Untuk Pengendalian Kualitas.
Jakarta: Universitas Indonesia.
Ishak, Zulkarnain.(2017). Jurnalisme Modern. Jakarta: PT Gramedia.
Jayani, D.H. (2019). Berapa Pengguna Internet di Indonesia?. Databoks.co.id.
https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/09/09/berapa-pengguna-internet-di-indonesia. (diakses pada tanggal 8 Agustus 2020, pukul 14:30 WIB).
Kriyantono, Rachmat. (2006). Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana.
Kusuma, S. (2016). Posisi Media Cetak di Tengah Perkembangan Media Online di Indonesia. Prodi Ilmu Komunikasi, Unika Atma Jaya, 5(1), 56-71.
Mc.Quail, Dennis. (2005). Teori Komunikasi Massa. Jakarta: Erlangga.
______________. (2011). Teori Komunikasi Massa. Jakarta: Salemba Humanika.
Muhamad, A. N & Gunawan Ikhtiono. (2019). Manajemen Media Massa Menghadapi Persaingan Media Online. Komunika: Journal of Communication Science and Islamic Da‟wah. 3 (1), 211
Muhtadiah, Dian. (2018). Konvergensi Media Terhadap Kinerja Jurnalis (Studi Kasus: Fajar TV dan Fajar FM). Jurnal Tabligh. 19 (1), 58 – 83.
Mulyana, Deddy. (2005). Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya .
Moleong, L. J. (2005). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Pamela J Shoemaker dan Stephen D. Reese. (1996) Mediating The Message. New York: Longman Publisher.
Patilima, Hamid. (2005). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.
Prastowo, Andy. (2016). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Pujileksono, Sugeng. (2015). Metode Penelitian Kualitatif : Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya. Bandung: Rosdakarya.
Reily, Michael. (2017). Nielsen: Pembaca Media Digital Sudah Lampaui Media Cetak.Katadata.co.id.https://katadata.co.id/pingitaria/digital/5e9a5623eb608/
nielsen-pembaca-media-digital-sudah-lampaui-media-cetak. (diakses pada tanggal 8 Agustus 2020).
Resmadi, Idhar dan Yuliar, Sonny. (2014), Kajian Difusi Inovasi Konvergensi Media di Harian Pikiran Rakyat, Jurnal Sosioteknologi, 13 (2), 111-112.
Romli, Khomsahrial. (2016). Komunikasi Massa. Jakarta, Grasindo.
Said. (1995). Sejarah Harian Waspada dan 50 Tahun Peristiwa Halaman Satu.
Medan: Prakarsa Abadi Press.
Salim & Syahrum. (2012). Metode Penelitian Kualitatif: Konsep dan Aplikasi dalam Ilmu Sosial, Keagamaan dan Pendidikan. Bandung: Citapustaka Media.
Santana, Septiawan. (2005). Jurnalisme Kontemporer. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Sudjarwo & Basrowi. (2009). Metode Penelitian Sosial. Bandung: Mandar Maju.
Sugiyono. (2011). Statistika Untuk Penelitian. Bandung: CV Alfabeta.
Supadiyanto. (2020). Pengantar Jurnalisme Konvergentif (Menjawab Tren Industri Media Digital). Yogyakarta: PT Pustaka Baru.
Wahyu, Anton Prihartono. (2016). Surat Kabar & Konvergensi Media (Studi Deskriptif Kualitatif Model Konvergensi Media Pada Solopos). Program Studi Ilmu Komunikasi. 4 (1), 105-116.
LAMPIRAN
Lampiran 1 : Pedoman Wawancara Lampiran 2 : Transkrip Wawancara Lampiran 3 : Dokumentasi Wawancara Lampiran 4 : Biodata Penulis
Lampiran 5 : Lembar Bimbingan Skripsi
Lampiran 1 : Pedoman Wawancara
Pedoman Wawancara
Praktik Kerja Jurnalis di Era Konvergensi Media yang terjadi pada Institusi Berita Online Waspada.id Medan (Studi Kasus New Media di Kantor Berita Waspada Medan).
Identitas Responden
Nama :
Usia :
Jenis Kelamin : Pekerjaan :
Pertanyaan
Jurnalis Harian Waspada dan Waspada.id
1. Sejak kapan anda bekerja dan menulis sebagai wartawan?
2. Bagaimana proses mendapatkan berita?
3. Apa saja beban yang dirasakan saat menulis di media cetak dan media online?
4. Aspek apa saja yang di butuhkan untuk menulis di media online?
5. Apakah berita yang anda tulis di media online sama dengan berita yang anda tulis di media cetak?
6. Ada berapa berita yang anda tulis dalam satu hari baik itu di media cetak maupun di media online?
7. Apa bedanya menulis di media cetak dan media online?
8. Bagaimana akurasi di media online menurut anda? Apakah dengan kecepatan dari media online sudah menjamin akurasi sebuah berita?
9. Bagaimana cara anda menghadapi persaingan dengan jurnalis media lain?
Informan Pendukung
1. Apa latar belakang sejarah berdirinya SKH Waspada? Apa motif dan tujuan SKH Waspada?
2. Apa yang melatarbelakangi SKH Waspada melakukan konvergensi dengan membuka media online Waspada.co.id?
3. Bagaimana struktur organisasi SKH Waspada? Apakah media online bersatu dengan media cetak?
4. Bagaimana sirkulasi koran harian Waspada/ Waspada.co.id?
5. Apa saja dampak dan strategi yang terjadi dengan surat kabar Waspada ketika terjadi konvergensi media?
6. Apakah SKH Waspada/Waspada.co.id menentukan target pembacanya? Jika ya, bagaimana cara SKH Waspada/Waspada.co.id dalam menentukan target pembacanya?
7. Bagaimana cara SKH Waspada/Waspada.co.id dalam menghadapi persaingan baik antar sesama surat kabar maupun sesama media online?
8. Apa saja kriteria atau nilai berita yang layak dimuat di Harian Waspada?
9. Berapa target pembaca waspada.id? Dan dari mana saja?
10. Bagaimana proses masuknya berita di media online?
11. Bagaimana usaha waspada.id dalam menciptakan umpan balik (feedback) kepada pembaca?
12. Bagaimana usaha waspada.id dalam menghadapi persaingan di media online?
13. Kanal apa yang paling banyak di akses di waspada.id?
Lampiran 2 : Transkrip Wawancara
Informan I Identitas Responden
Nama : Arianda Tanjung Usia : 34 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pekerjaan : Jurnalis Harian Waspada dan Waspada.id Pelaksanaan Wawancara
Hari/Tanggal : Rabu, 16 September 2020 Waktu : 14.00 – 15.15 WIB Tempat : Kantor Harian Waspada
1. Sejak kapan anda bekerja dan menulis sebagai wartawan?
“2009 mulai masuk di Waspada, tapi pengangkatan sebagai wartawan tetap mulai 2014”
2. Sebelumnya di mana anda menjadi wartawan?
“Dari awal saya memang bekerja disini. Dulu masih menjadi wartawan magang, bekerja sambil kuliah. Setelah itu lanjut jadi wartawan disini sampai sekarang”
3. Bagaimana proses mendapatkan berita?
“Yang pertama mencari berita ke lapangan. Setelah dapat kita olah berita itu, kita edit kembali sebelum di berikan ke redaktur. Setelah kita cek, barulah bisa di kasi ke redaktur. Udah, sesimpel itu aja sih”
4. Apakah proses mendapatkan untuk media online dan media cetak itu berbeda?
“Kalau sekarang sama aja sih. Kalau dulu nulis untuk media cetak, kita harus ke kantor nih, kita ketik di komputer kantor terus kita print, kita kasih ke redaktur.
Kalau sekarang kan kita sudah ada gawai, sama aja sama online, kita ketik di hp dan kita kirim langsung, bisa lewat email. Hampir sama aja”
5. Apa saja beban yang dirasakan saat menulis di media cetak dan media online?
“Kalau sekarang sih udah ngga ada bebannya, karena kita sudah menguasai lapangan. Terlebih di Waspada ini, pergantian pos itu sangat lama. Artinya, saya sendiri nulis di rubrik olahraga ini udah 5 tahun, udah ngga ada beban. Kalau dulu bebannya itu mencari narasumber. Setahun dua tahun kita masih bingung mencari narasumbernya itu siapa, susah dihubungi karena kita wartawan baru.
Untuk sekarang, kalau kita salah nulis aja, mereka udah nelpon balik. Sekarang, sejauh ini udah ngga ada beban lagi lah.
Kalau di media online inikan menuntut kecepatan, jadi kita harus cepat.
Terutama di berita-berita yang peristiwa tabrakan, ketika kita dilapangan, langsung kita tulis, 3-5 menit langsung kita kirim. Itu bicara kecepatan. Tapi kalau di cetak, kita bicara akurasi, ketepatan data. Artinya kita juga sebetulnya bisa leluasa, kira-kira deadline jam 4 sore, kejadian jam 8 pagi, nulisnya nanti ajalah jam 10 jam 11”
6. Aspek apa saja yang di butuhkan untuk menulis di media online?
“Kalau saya rasa, siap mental. Artinya, ketika kita tidak bisa memenuhi kecepatan itu ya bakal di marah-marahi. Karena seorang jurnalis harus memiliki inisiatif. Nah di media online, tantangannya ketika dapat suatu peristiwa, kita ngga boleh hanya dapat satu angel. Misalnya pada pertandingan sepak bola.
Harus cari 5 angel ya. Artinya kita harus nulis „jalannya pertandingan‟,
„komentar pelatih‟, „tim tuan rumah dan lawan‟, „suasana pertandingan‟ dan
„tanggapan masyarakat‟. Ini harus kita jadikan 5 berita. Jadi, selain kecepatan, kita harus memiliki wawasan yang luas. Jadi ketika kita ingin meliput, kita harus sudah punya apa yang akan kita liput. Angel apa yang akan kita liput. Kalau di media cetak, satu (angel) aja, semua di rangkum dalam satu berita”.
7. Ada berapa berita yang anda tulis dalam satu hari baik itu di media cetak maupun di media online?
“Kalau di Waspada ini, kita tidak ada target, ya. Tapi karena kita seorang jurnalis, kalau ngga buat berita gimana gitu ya. Jadi minimal sekitar 1-2 beritalah kalau di cetak, kalau di media online, karena kita bisa nulis untuk banyak angel, sekitar 3-5 berita. Karena di cetak sendiri itu ada keterbatasan halaman, ya. Di masa pandemi gini, kita mengurangi ongkos cetak dengan mengurangi halaman. Jadi seminimalisir mungkin sih berita itu. Ngga kayak dulu bisa banyak banyak”
8. Apa bedanya menulis di media cetak dan media online?
“Bedanya itu mungkin dari segi kecepatan, banyaknya angel, kalau menurut saya sendiri, karena sudah lama menulis di media cetak, menulis di media online itu enak. Kenapa? Online itu beritanya kan kecil kecil ya, pendek pendek ya. 3
sampai 5 paragraf aja udah jadi. Jadi ketika kita dari cetak ke online, kita gampang aja nulisnya. Begitu ada pertandingan, kita buat jalannya pertandingan, 4 paragraf, selesai. Jadi lebih enak sih. Sementara kalau media cetak kita rangkum semuanya dalam media cetak. Jadi, lebih enak nulis di media online sih”
9. Bagaimana cara anda menghadapi persaingan dengan jurnalis media lain?
“Buat angel yang berbeda dari jurnalis lain. Jadi kita gini, kita itu punya insting ini kawan nulis apa, angelnya bagaimana, kita harus bisa nulis beda. Kalau perlu kita harus eksklusif. Kalau ada suatu peristiwa, biarkan mereka wawancara dulu.
Nanti saya sembari jalan, saya pura pura tanya padahal saya sedang wawancara, saya tanya apa yang mereka ngga tanya. Jadi kita memang harus tampil beda, karena ketika kita menyajikan sesuatu yang sudah mereka sajikan, yaa orang ngga akan mau baca. Makanya kita harus tampilkan sesuatu yang berbeda. Lagi-lagi kembali ke pengalaman si jurnalis. Kita usahakan harus dapat yang eksklusif. Orang lain ngga dapat, kita dapat. Karena ketika kita udah jadi seorang jurnalis, kita memiliki kedekatan dengan narasumber. Kadang-kadang narasumber itu cuma mau kasi informasi sama orang-orang tertentu. Contohnya nih, ada bimtek atau pelatih baru mau datang, karena kecepatan, kalau bisa kita datang 2-3 jam datang lebih cepat dari mereka. Karena kita bisa menjadi referensi, eh ini udah naik ni di waspada, jadi kita di media juga ada istilah bobol bobolan. Artinya kita juga bisa naik”.
Informan II Identitas Responden
Nama : Sri Wahyuni Naibaho Usia : 40 Tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Jurnalis Harian Waspada dan Waspada.id Pelaksanaan Wawancara
Hari/Tanggal : Jumat, 18 September 2020 Waktu : 15.00 – 15.45 WIB
Tempat : Kantor Harian Waspada
1. Sejak kapan anda bekerja dan menulis sebagai wartawan? Dan di mana dulu anda menjadi wartawan?
“Dulu pertama kali di Harian Medan Bisnis selama 12 tahun. Setelah itu, pindah ke Waspada karena Medan Bisnis tutup waktu itu. Ada peluang disini, jadi ya masuk kesini. Disini (waspada) sudah dua tahun”
2. Bagaimana proses mendapatkan berita?
“Liputan, nyari berita buat beritanya kan. Buat berita. Yaudah di kirim”
3. Apa saja beban yang dirasakan saat menulis di media cetak dan media online?
“Ngga ada. Sama aja buatnya itu. Sebenarnya itu malah lebih gampang, lebih mudah buatnya di media online. Cepat naik beritanya. Lebih cepat. Udah itu ngga perlu panjang panjang. Karena kalau kepanjangan pembaca akan cepat bosan.
Yang ngga enak itu adalah jika kita sulit ketemu narasumbernya, yang ngga bisa dihubungilah, karena kan kita ngga boleh opini, harus cakap orang yang harus kita buat. Nah orang yang becakap ini yang sulit dihubungi, itu aja sih yang sulitnya.
Diluar itu ngga ada yang sulit. Itu juga bisa diatasi sih. Bagaimana pendekatan kita dengan narasumbernya, kalau kita dekat dengan narasumber, kita gampang dapat informasinya. ”
4. Aspek apa saja yang di butuhkan untuk menulis di media online?
“Judul. Online itu sekarang banyak. Portal berita media online itu banyak. Jadi bagaimana kita buat judunya itu yang menarik sehingga link kita itu dibuka, di klik orang untuk di baca. Lihat detik.com, tribun. Kalau tribun sih kurang, tribun itu judulnya terlalu parah. Tapi kalau medianya beretika walaupun judulnya itu menarik, isinya juga harus sesuai. Isinya harus menggambarkan judul. Banyak media online yang judulnya itu berbeda dengan isi, jadi seolah-olah „Ini kasus pembunuhan si A‟, tapi kalau di klik ternyata isinya ngga ada. Pemilihan judul itu sangat sangat penting. Setelah itu beritanya jangan terlalu panjang, tapi tetap mengikuti kode etik. Dengan ada 2 narasumber minimal, 5 w+1 h-nya tetap , kerangka beritanya harus jelas. Tapi yang paling penting itu harus judul. Selain itu sama, sama seperti kayak cetak. Kalau cetak ada batasan judul itu berapa kata, maksimal dia harus 8. Nah kalau dia online, jangan panjang, karena dia ada spacenya. Jadi ngga perlu panjang panjang, dia cukup 4-5 kata. Dia sudah langsung menggambarkan isi“
5. Berapa biasanya anda tulis dalam sehari baik untuk media cetak maupun media online?
“Perhari ngga tentu lah yaa. Tergantung peristiwa. Maksimal, 5 berita untuk di media online”
6. Apakah berita yang anda tulis di media online sama dengan berita yang anda tulis di media cetak?
“Biasanya ku samain, kalau di cetak ada 5, di online juga kk buat 5. Beritanya bisa sama, bisa juga tidak. Kalau beritanya versi cetak bisa kita pecahkan untuk ke online, misalnya 3 untuk di cetak, bisa jadi 5 untuk di online. Karena di perdalam bisa dijadikan dua berita, karena dalam satu peristiwa, narasumber bisa beri 2 informasi sekaligus. Kalau dalam cetak, kita bisa buat dalam satu judul, bisa semuanya itu digabung. Misalnya soal pilkada satu, satu lagi soal money politic nya, itu bisa digabung, dijadikan sub judul. Tapi kalau di media online, bisa kita buat jadi berita baru soal money politicnya, gituu. Jadi, satu berita bisa di pecah jadi dua, bisa dikembangkan jadi dua. Jadi kalau 3 di kirim ke media cetak, bisa jadi 5 berita untuk media online nya. Bisa dibagi tadi”
7. Apa perbedaan dalam menulis di media cetak dan media online? Apa kelebihan dan kekurangan menulis di media cetak dan media online?
“Bedanya, kalau untuk di media online pasti lebih cepat. Cepat dalam arti updatenya, kalau di media cetak kan bisa nunggu besok percetakannya. Online itu beritanya tidak terlalu panjang, 4-5 paragraf udah bisa dalam satu berita, tapi tetap kode etiknya udah masuk ya, 5 w +1 h nya udah dapat. Terus, kalau online lebih cepat membaginya dengan pembaca, kalau koran kan besok baru bisa dibaca orang. Kalau di cetak 8 paragraf. Kalau online 5 paragraf aja udah bisa. Itu aja, selebihnya sama aja cetak dan online, Cuma lebih cepat aja online, itu aja”.
Informan III Identitas Responden
Nama : Armansyah Thahir Usia : 40 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pekerjaan : Jurnalis Harian Waspada dan Waspada.id Pelaksanaan Wawancara
Hari/Tanggal : Kamis, 17 September 2020 Waktu : 16.00 – 16.45 WIB
Tempat : Kantor Harian Waspada
1. Sejak kapan anda bekerja dan menulis sebagai wartawan? Dan di mana dulu anda menjadi wartawan?
“Dulu awal kerja di waspada, bagian layout, dulu kerjanya malam. Sambilan bekerja itu, kita dikasi kesempatan jadi wartawan. Ya dari awal memang di waspada terus, sejak 86 sampai sekarang. Dulu sampai sekarang menulis di rubrik olahraga dan otomotif. Jadi wartawan dulu sudah sejak kuliah, sambil kerja disini, kemudian dikasi kesempatan jadi wartawan yaa diambil”.
2. Apa saja hambatan menulis di media online dan media cetak?
“Hambatan udah ngga ada lagi sekarang. Karena sekarang buat berita udah gampang, bisa langsung lewat hp. Kalau dulu kita kan dari lokasi kegiatan, kita ke kantor, ngetik berita disitu kan. Dulu kita masih pakai mesin tik, pakai komputer, atau laptop. Kalau sekarang kan ngga lagi, di tempat kegiatan tu aja kita udah bisa ngetik pakai handphone, jadi sekarang lebih mudah jadi wartawan. Meskipun persaingan kan lebih ketat lagi. Sekarang hanya mengejar kecepatan. Kalau bisa dari lokasi kejadian itu kita buat beritanya biar cepat tayang kalau online. Kalau dulu kan kita antri dulu pakai komputer di kantor. Komputernya paling sepuluh, wartawannya ada 40. Kalau sekali masuk, kita antri dulu lah. Pas antri itu mungkin inspirasi itu udah bekurang, udah hilang bahan bahan yang di pikiran.
Informasinya ada yang kita ingat, ada yang kita catat. Karena berita itu lebih cepat kita buat, lebih mudah. Kalau lama lama kan dah hilang momennya”.
3. Aspek apa saja yang di butuhkan untuk menulis di media online?
“Kalau di media online itu yang penting kecepatan, terus data. Kalau di online ini, berita itukan ngga perlu panjang. Dari satu peristiwa itu bisa kita buat 4 sampai 5 berita kalau untuk online. 7 sampai 8 paragraf aja udah bisa dijadikan berita. Satu kegiatan itu bisa kita ambil angel yang ini, angel yang itu, bisa kita pecah pecah.
Kalau di media cetak kan ngga. Mana sisi yang paling menarik itu yang kita buat.
Kalau online ni kita buat dari satu peristiwa cuma 7 sampai 8 paragraf udah bisa satu berita, abis tuh bisa kita buat berita dengan angel yang berbeda. Dalam seminar, kalau ada 5 narasumber, udah bisa dapat 5 berita. Masing masing
narasumber bisa dijadikan satu berita. Misalnya kegiatan bola, wawancara sama pelatih satu, wawancara sama pemain, hasil pertandingan. Tapi di online ini yang paling utama adalah kecepatan. Kecepatan konsumen bisa dapat beritanya, jadi harus cekatanlah wartawannya, harus yang muda muda, karena yang tua ini sudah susah bergeraknya. Kalau di online itu langsung ada follow up beritanya”.
4. Bagaimana akurasi di media online menurut anda? Apakah dengan kecepatan dari media online sudah menjamin akurasi sebuah berita?
“Sudah lah. Kalau didalamnya sudah ada 5w+1 h sudah jadi sebuah berita. Itu kalau untuk online lah. Kalau beritanya mau yang mendalam yaa lain lagi”.
5. Berita berita biasanya anda tulis dalam satu hari?
“Saya kan menulis di rubrik olahraga. Kalau di olahraga ini agak jarang, karena kegiatan olahraga ini kan agak jarang sekarang. Kalau olahragakan bisa berita dari medan, bisa dari luar negeri itu, berita bola itu, ronaldo, messi kan itukan. Jadi kalau di olahraga itu 1 hari 2 berita itu udah lumayanlah kalau untuk rubrik olahraga“.
6. Bagaimana anda menghadapi persaingan dengan wartawan lain dalam menulis di media cetak dan media online?
“Kita mencari angel yang paling menarik menurut kita. Jangan angel yang biasa, cari yang antimainstream, yang unik, yang menarik dan beda. Kita bisa tahu angel kita beda dengan wartawan lain melalui naluri kita sebagai wartawan. Jadi, kalau misalnya ada satu seminar, ada satu narasumber menteri misalnya. Rata rata banyak wartawan pasti mengutip pernyataan dari menteri itu. Tapi kalau bisa kita jangan seperti itu, itu kita simpan dulu. Kita wawancara khusus aja sama dia, tanya pertannyan satu dari kita. Kita tanya terus dijawabnya baru kita jadikan acuan utama, nanti pernyataannya yang di pidato baru kita sambut. Eksklusifme itu juga harus diutamakan, harus beda dari yang lain”.
7. Apa kelebihan dan kekurangan menulis di media cetak dan media online?
“Masing-masing punya kelebihan. Kalau media cetak inikan ada buktinya, kalau berita kita masuk kan lebih puaslah di media cetak. Sekarang pun rata rata instansi pun media cetak referensinya. Di media cetak inipun kita bisa lebih detail, lebih dalam. Kalau online kan mengandalkan kecepatan itu aja. Di media cetak beritanya bisa kita dokumentasikan, bisa kita bingkai berita kita, kalau ada yang
wisudakan, di buat beritanya, dibingkai. Kalau online kan tidak. Ini hari dimuat, besok sudah hilang beritanya. Kalau online kan gitu kan, beputar-putar beritanya, masuk yang baru, yang lama hilang teruskan. Kalau media cetak ini kan engga,
wisudakan, di buat beritanya, dibingkai. Kalau online kan tidak. Ini hari dimuat, besok sudah hilang beritanya. Kalau online kan gitu kan, beputar-putar beritanya, masuk yang baru, yang lama hilang teruskan. Kalau media cetak ini kan engga,