“Al-mutamassik bi sunnati> ‘inda fasa>di ummati> lahu> ajru shahi>d.”
(Nabi Muhammad saw)1
“La> Isla>ma illa> bi al-jama>‘ah, wa la> jama>‘ata illa> bi al-ima>rah, wa la> ima>rata illa> bi al-ta>‘ah.” (Umar bin al-Khat}t}a>b)2 Di dalam Bab II telah dijelaskan secara detail mengenai tekstualisme hadis yang dapat membentuk berbagai macam ideologi dan pola keagamaan. Pada bab ketiga dan keempat juga telah dibuktikan secara historis bahwa sebagian besar budaya muslim global, dan di Indonesia khususnya, juga dibentuk atas dasar tekstualisme pemahaman hadis. Sebaliknya, ideologi juga menentukan pola pemahaman hadis. Pada bagian ini akan dibuktikan bahwa pandangan berbagai macam ideologi terhadap hadis juga sangat mempengaruhi cara pandang terhadap hadis, sebagaimana hadis juga melahirkan banyak ideologi. Baik, ideologi yang pro dengan hadis, maupun yang tidak pro dengan hadis, yang selanjutnya membentuk sebuah komunitas, pergerakan, dan organisasi kemasyarakatan.
Setelah megkaji tentang sejarah formulasi Islam Indonesia, dapat diketahui bahwa nilai-nilai Islam yang orisinal dapat sinkretis dengan budaya lokal yang juga orisinal. Dua hal yang orisinal itu telah berpadu menjadi satu lalu melahirkan corak budaya dan peradaban yang khas yang menjunjung tinggi keragaman. Hanya saja, keragaman itu kadang menjadi kurang sehat manakala tidak dikelola dengan baik. Akibatnya konflik antara agama dan budaya menjadi muncul di permukaan dengan motif gugatan terhadap orisinalitas kebudayaan Islam Indonesia. Selanjutnya, gugatan tersebut justru menjadi bumerang bagi umat Islam Indonesia sendiri. Sesama umat Islam menjadi tidak rukun dan tampak tak akur lantaran perbedaan pemikiran keagamaan. Setelah ditelusuri, ternyata keduanya memiliki kesamaan dalam hal prinsip pemahaman terhadap teks suci, yaitu tekstualisme. Bahkan, antar keduanya pun memiliki banyak sekali titik temu dan kesamaan prinsip dasar pemahaman teks suci. Lebih dari itu, secara tak sadar, masing-masing juga sama-sama menjunjung tinggi otoritas klasik masa lalu yang sama-sama mereka junjung tinggi bersama, ayat yang sama, hadis yang sama, dan istilah-istilah yang sama pula. Lalu, apa yang membuat mereka berbeda? Lebih dalam lagi, apa yang membuat mereka radikal dalam menyikapi perbedaan?
Jika dilihat dari segi prinsip pemahaman adalah sama, lalu di manakah perbedaan prinsipil terkait pembentukan pola keagamaan yang berbeda-beda itu? Pendidikan adalah salah satu faktor utama dalam pembentukan karakter dan pola keagamaan. Pendidikan diyakini sebagai basis doktrinasi yang paling ampuh. Dari pendidikan itu pulalah mereka kemudian berkomunitas dan berorganisasi yang kemudian melahirkan sebuah gerakan keagamaan. Karena itu, pada bagian ini fokus penelitian adalah pada bagaimana hadis-hadis Nabi yang melandasari gerakan keagamaan tersebut dikaji dan dihidupkan? Pesantren-pesantren yang memilki afiliasi kepada sebuah ormas atau lembaga pengkajian Islam yang menjadi bagian dari struktur ormas menjadi salah satu sorotan utama. Di sinilah perbedaan
1HR. Ah}mad bin H{anbal, Musnad Ah}mad, ii, 390, no.9061-906; Ibn Abi> Shaybah, Mus}annaf Ibn Abi> Shaybah, xiii, 485, no. 36296;al-T{abra>ni>, al-Mu‘jam al-Awsat}, iii, 272, no. 3121; v, 515, no. 5414; al-T{abra>ni>, al-Mu‘jam al-Kabi>r, xvii, 117, no. 13977.
55
itu akan direkonstruksi dari aspek internal ormas, melalui basis pendidikan dan pengajaran tradisi kenabian.
Dalam hal keislaman, hadis menempati posisi yang terpenting selain al-Quran. Ia juga menjadi penentu sebuah peradaban dan budaya masyarakat muslim. Dari situlah, umat Islam menyandarkan pemikiran dan ideologinya agar tidak dianggap sesat. Akibatnya, kebergantungan terhadap hadis menjadi hal yang niscaya bagi sebuah komunitas, kelompok, atau organisasi umat Islam. Seseorang tidak mungkin percaya diri menyatakan pendapatnya jika tidak didukung oleh otoritas masa lalu. Tidak hanya itu, tekstualisme dan literalisme juga disebut-sebut sebagai kekuatan super untuk basis legalisasi dan doktrinasi. Dari sinilah, kemudian tekstualisme dijadikan sebagai alat untuk menciptakan kembali tradisi masa lalu agar tetap hidup di masa kini. Hobsbawm, menyebutnya dengan Inventing Tradition. Penemuan kembali tradisi lama tersebut dapat dilakukan dengan pola isnad, salaf, ahlussunnah, atau selainnya. Namun, sebenarnya, pola-pola lama yang dihidupkan kembali tersebut pada dasarnya adalah bukan pola lama yang dahulu itu sendiri, melainkan ia telah mengalami modifikasi dan penyesuaian dengan konteks masa kini, namun masih tetap tampak seperti pola asalnya. Oleh karena itu, Lahirnya—atau ditemukannya [kembali]—
pengetahuan-pengetahuan, tradisi, kebiasaan, dan adat tertentu pada dasarnya adalah sebuah
konstruksi “modifikasi masa lalu” sebagai respon terhadap situasi masa kini. Ia
dilestarikan—lebih tepatnya, dimunculkan kembali—untuk merespon masalah kekinian dengan menggunakan rumusan yang ‘seolah-olah’ telah diwarisi secara tradisional dari masa
lalu.3
Tradisi “baru” tersebut, dengan demikian bukan semata-mata peninggalan masa lalu, melainkan ada tradisi yang diciptakan kembali (the invented tradition) untuk alasan tertentu, antara lain untuk kepentingan penguasa, kestabilan dan ketahanan negara, atau alasan lain. Sumber penciptaan yang berasal dari masa lalu tersebut, dapat berupa ritual di masa yang lampau, dari cerita fiksi, dan simbolisme agama. Tradisi yang diciptakan kembali diformalkan dan diinstitusikan oleh otoritas tertentu, lalu dilakukan dengan pola yang berulang-ulang untuk mengukuhkan bahwa tradisi tersebut berasal dari masa lalu, padahal sebenarnya baru diciptakan. Hal ini secara otomatis dapat mengimplikasikan adanya kesan kesinambungan dengan masa lalu. Dari konsepsi di atas, kearifan lokal dengan demikian, sebenarnya terdiri tiga unsur masa: masa lalu, sekarang, dan mendatang. Oleh karena itu, sangat dimungkinkan ada upaya sambung-menyambung kehidupan manusia dalam setting dan konteks yang berubah-ubah sesuai zamannya.4
Sementara itu, sedikitnya ada dua model tradisi pendidikan dan doktrinasi yang berkembang di masyarakat secara umum, yaitu oral dan literal. Dalam tradisi oral, kata-kata tertutur/terucap adalah media yang paling utama, sedangkan dalam tradisi literal, kata-kata tertulis dan tergambar adalah media yang paling prima. Setelah itu, kini juga berkembang model baru yang memadukan kedua model lama tersebut, yaitu model digital. Inilah yang disebut dengan post-literal. Dalam tradisi digital, aspek verbal dan visual bersinergi membentuk sebuah pesan yang lebih mudah untuk ditransformasikan.
Lebih dari itu, diskursus global tentang modernisasi juga menjadi faktor yang sangat dominan bagi perubahan yang menentukan aspek distingtif setiap ormas. Modernisasi menjadi faktor eksternal yang paling kuat dalam perubahan tersebut, di samping juga faktor budaya lokal-tradisional. Modernisasi yang identik dengan westernisasi memiliki dampak yang luar biasa bagi perubahan pola keagamaan muslim, bukan hanya di Indonesia, melainkan di seluruh dunia. Tak pelak, bahwa ormas-ormas Islam di Indonesia pada dasarnya
3Lihat Eric Hobsbawm, “Introduction: Inventing Tradition,” dalam Eric Hobsbawmdan Terence Ranger (Eds.), The
Invention of Tradition (Cambridge: Cambridge University Press, 2000), 1-14.
4Eric Hobsbowm dan Terence Ranger (Eds.), The Invention of Tradition (Cambridge: Cambridge University Press, 2000),
56
juga memiliki jaringan sosial-politik atau setidaknya hirarki keilmuan dari luar, khususnya Timur-Tengah, dan Asia pada umumnya, hingga kepada Afrika dan Eropa-Amerika.5
Secara umum untuk mempermudah posisi ormas dan pola keagamaannya dalam kaitannya dengan modernisasi, dapat digambarkan dalam diagram berikut ini:
Gambar 19:
Hirarki jaringan pemikiran gerakan keagamaan di Indonesia modern (diolah dari berbagai sumber)
Dalam bagian inilah, penelitian ini akan melihat bagaimana tekstualisme dan juga literalisme dalam kajian hadis itu dilakukan, sehingga dapat membentuk pola keagamaan yang beragam. Ini karena transmisi ideologi berbasis hadis disebut-sebut memiliki pengaruh yang sangat signifikan. Beberapa poin penting yang digunakan sebagai acuan pembahasan dalan kajian bagian ini adalah mengenai posisi hadis hadis dalam ormas, kecenderungan dan
5Mengenai hal ini, selangkapnya lihat Talal Asad, “Anthropological Conceptions of Religion: Reflections on Geertz,”
dala Man, New Series, vol. 18, No. 2 (Jun., 1983), pp. 237-259. Diunduh dari
[http://is.muni.cz/el/1423/jaro2006/SAN102/um/1108713/Asad_Talal._1983._Anthropological_Conceptions_of_Religion._ Reflection_on_Geertz.pdf]. atau lihat juga dalam Talal Asad, “The Construction of Religion as an Anthropological
Category,” dalam Genealogies of Religion: Discipline and Reasons of Power in Christianity and Islam (Baltimore, MD.:
Johns Hopkins University Press, 1993 [1982]), pp. 27-54. Lihat juga, Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII: Akar Pembaruan Islam Indonesia (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, cet.3, 2007).
Kembali ke Quran-Hadis (Isu sunnah-bidah, ijtihad); Dikotomi Salaf-Khalaf, dll;
(Jamaludin Afgnai, Abduh, dan Ridla)
Nasionalisme di Timteng (Konsep Negara-Bangsa; Tidak islami/dinul islam)
Barat ISLAM Sosialisme Fundamentalisme Puritanisme Pan Islamisme (Politis) Al-Muwahhidun/ Wahhabisme (Non-politis) Salafisme Al-Ikhwan al-Muslimun “Abduh Kanan” (Hasan Al-Banna) “Abduh Kiri” (Ali Abdurraziq) Reformulasi gagasan pan Islamisme dan
merevisi gagasan nasionalisme dengan gagasan Islam Kaffah
Jamaah Islamiyyah (Qutbian/Sayid Qutb) Nation-state (negara-bangsa) Daulah Islamiyah/Khilafah Islamiyah (mengembangkan knsep ummah, bukan negara)
Jamaah
(Tabligh) Jamaah Islam (d.h. LDII) INDONESIA NU Perti Al-Washliyah Muhammadiyah Persis, PKS, Al-Irsyad, Salafi
HTI, MMI, JAT JI
57
metode kajiannya. Dari kajian tersebut akan didapati pula sebuah potret pembelaan ormas terhadap hadis (difa>‘ ‘an al-h}adi>th) yang merupakan refleksi ide tentang otoritas hadis dalam suatu ormas. Selanjutnya, seputar agenda ih}ya>' al-sunnah dan stragetinya. Proses pengkajian hadis mulai dari pemilihan, pemilahan, hingga pemahaman dan penggunaannya juga penting untuk dilihat agar diperoleh sebuah informasi seputar kontribusi ormas tersebut terhadap Islam di Indonesia.
Bagian ini memiliki posisi pemetaan corak kajian hadis ormas dan epistemologinya yang selanjutnya juga akan diuraikan mengenai produk-produk tekstualisme dan literalisme yang diusung oleh masing-masing ormas. Apakah produk-produk tersebut berupa moderasi atau justru sebaliknya, ekstremisme?