• Tidak ada hasil yang ditemukan

DALAM POKOK PERKARA

Dalam dokumen PENGADILAN TINGGI MEDAN (Halaman 31-36)

PENGADILAN TINGGI MEDAN

II. DALAM POKOK PERKARA

- Perkebunan kelapa sawit di kawasan hutan Padangf Lawas seluas + 24.000 hektar yang dikuasai oleh Koperasi Parsub dan PT. Torus Ganda beserta seluruh bangunan yang ada di atasnya.

Dirampas untuk Negara dalam hal ini Departemen Keuangan.

e. Bahwa terhadap perkebunan sebagaimana butir d di atas, telah dilakukan eksekusi administrasi oleh Kejaksaan Tinggi Medan sesuai Berita Acara tanggal 26 Agustus 2009.

f. Bahwa meskipun sudah ada putusan yang berkekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde), Penggugat secara melawan hukum masih menguasai objek perkara dimaksud, yang sebenarnya di rampas dan di kelola oleh Negara.

Dengan demikian, maka Penggugat tidak mempunyai kepentingan hukum untuk mengajukan gugatan a quo, sehingga cukup alasan bagi Majelis Hakim a quo untuk menjatuhkan Putusan sela dengan menyatakan gugatan tidak dapat diterima (Niet ontankelijke verklaard).

II. DALAM POKOK PERKARA.

1. Segala uraian yang terdapat dalam pokok perkara ini merupakan satu kesatuan dengan eksepsi yang telah di sampaikan di atas.

2. Bahwa tanah sengketa a quo merupakan adalah Kawasan Hutan Register 40 Padang Lawas berdasarkan:

1) Government Besluit (GB) Nomor: 50/1924 tanggal 25 Juni 1924. 2) Berita Acara Penyerahan tanah Kawasan Hutan Padang Lawas dari

masyarakat kepada Gubernur

- Tertanggal 20 Mei 2981 seluas 12.000 Ha. - Tertanggal 26 Mei 1981 seluas 10.000 Ha. - Tertanggal 6 Juni 1981 seluas 8.000 Ha.

3) Keputusan Manteri Pertanian Nomor: 923/Kpts/Um/12/1982 tanggal 27 Desember 1982 tentang Penunjukan areal hutan di Wilayah Provinsi Dati I sumatera Utara Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK).

PENGADILAN TINGGI MEDAN

4) Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara Nomor: 7 Tahun 1998 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Tapanuli Selatan.

5) Peraturan Daerah Kabupaten Tapanuli selatan Nomor:14 Tahun 1998 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Tapanuli Selatan.

6) Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: SK.44/Menhut-II/2005 menunjuk kembali keadaan hutan di wilayah Provinsi Sumatera Utara seluas + 3.724.120 Ha yang mencabut Keputusan Menteri Kehutanan No. 923/Kpts/UM/12/1982 tanggal 27 Desember 1982 tentang Penunjukan Areal hutan di wilayah Provinsi Dati 1 Sumatera Utara Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK).

7) Putusan Mahkamah Agung yang telah berkekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde) Nomor 2642 L/Pid/2006 tanggal 12 Februari 2007.

8) Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: SK. 579/Menhut-II/2014 tentang Kawasan Hutan Provinsi Sumatera Utara.

3. Dalil Penggugat angka 2 s/d 4 Halaman 2 s/d 5 yang intinya menyatakan bahwa atas tanah objek sengketa a quo telah di adakan kerjasama pengelolaan perkebunan Kelapa Sawit antara Koperasi Parsadaan Simangambat Ujung Batu (Parsub) dengan PT. Torus Ganda atas lahan seluas 24.000 Ha yang berada di Kecamatan Simangambat (Dahulu Kecamatan Barumun Tengah) yang bukan merupakan kawasan hutan, adalah dalil yang tidak berdasar hukum dengan alasan.

4. Dalil Penggugat Angka 5 Halaman 6 yang intinya menyatakan bahwa para Tergugat telah melakukan perbuatan melawan hukum sehingga mengganggu kegiatan perkebutan Penggugat adalah tidak berdasar hukum dengan alasan:

a. Bahwa tanah objek sengketa merupakan kawasan hutan sebagaimana uraian angka 2 diatas.

b. Berdasarkan Putusan Mahkamah Agung yang telah berkekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde) Nomor: 2642 K/Pid/2006 tanggal 12 Februari 2007 tanah objek sengketa telah dijadikan sebagai kawasan hutan dan dirampas oleh Negara untuk diserahkan kepada Departement Kehutanan.

PENGADILAN TINGGI MEDAN

Dengan demikian tidak terdapat unsure perbuatan melawan hukum pada diri para Tergugat, sehingga dalil Penggugat tidak beralasan hukum dan harus di tolak.

5. Dalil Penggugat angka 13 halaman 9, angka 21 Halaman 14, Angka 27 s/d 28 Halaman 16 s/d 17 yang intinya menyatakan Para Tergugat telah melakukan perbuatan melawan hukum yaitu melanggar Pasal 15, Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor: 45/PUU-IX/2011 tanggal 21 Februari 2012 dan Putusan MK Nomor: 35/PUU-X/2012, tanggal 16 Mei 2013 adalah dalil yang tidak beralasan hukum dengan alasan:

a. Berdasarkan pertimbangan Hukum Majelis Mahkamah Konstitusi pada angka 3.14 Putusan Nomor: 45/PUU-IX/2011 tanggal 21 Februari 2012, dinyatakan “Bahwa meskipun Pasal 1 angka 3 dan Pasal 81 Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan sebagaimana telah di ubah dengan Undang-Undang Nomor: 19 Tahun 2004, mempergunakan frasa “ditujukan atau ditetapkan” dalam Pasal 81 Tetap sah dan mengikat”.

b. Berdasarkan ketentuan Pasal 47 Undang-Undang Nomor: 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi diatur bahwa Putusan Mahkamah Konstitusi merupakan kekuatan hukum tetap sejak selesai diucapkan dalam sidang pleno terbuka untuk umum. Dalam putusan Mahkamah Konstitusi tersebut tanggal 21 Februari 2012.

Dalam hukum tata Negara, keberlakuan suatu peraturan perundang-undangan didasarkan pada asa proaktif, artinya berlakunya untuk jangka waktu ke depan dan tidak retroaktif/ kebelakang.

c. Bahwa tempus delicti tindak pidana kehutanan atas nama Darianus Lungguk Sitorus dan Putusan Mahkamah Agung Nomor: 2642 K/Pid/2006 tanggal 12 Februari 2007 adalah sebelum diucapkannya Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor: 45/PUU-IX/2011 tanggal 21 Februari 2012.

Berdasarkan uraian tersebut huruf a s/d c di atas, maka GB dan Keputusan Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 923/Kpts/UM/12/1982 tanggal 27 Desember 1982 tentang Penunjukan Areal Hutan di Wilayah Provinsi Dati I Sumatera Utara Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK)

PENGADILAN TINGGI MEDAN

dan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: SK.44/Menhut-II/2005 tanggal 16 Februari 2005 yang telah menunjuk Register 40 Padang Lawas sebagai kawasan hutan adalah sah dan mempunyai kekuatan hukum mengikat.

d. Terkait Putusan MK Nomor: 35/PUU-X/2012, tanggal 16 Mei 2013, Mahkamah Konstitusi tidak mengabulkan permohonan pembatalan Pasal 67 Undang-Undang Nomor: 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. Dengan demikian quod non Penggugat adalah masyarakat adat, maka pengukuhan keberadaannya harus ditetapkan dengan peraturan daerah. Fakta hukumnya Penggugat tidak dapat menunjukkan Paraturan Daerah yang mengukuhkan keberadaan Penggugat sebagai masyarakat adat.

Dengan demikian tidak terdapat perbuatan melawan hukum pada diri Para Tergugat, sehingga gugatan Penggugat harus dinyatakan ditolak.

6. Dalil Penggugat angka 33 dan 35 halaman 18 dan 20 yang intinya menyatakan Tergugat I telah melakukan perbuatan melawan hukum dengan Mengeluarkan Surat Menteri Lingkungan Hidup dan Kehuatan RI No. S.174/Menlhk-II/2015 tanggal 21 April 2015 perihal Penghentian Pelayanan oleh Gubernur Sumatera Utara dan Bupati Padang Lawas Selatan dan Bupati Tapanuli Selatan kepada KPKS bukit Harapan, PT. Torganda, Koperasi Parsadaan Simangambat Ujung Batu (Parsub) serta PT. Torus Ganda dan Surat Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. S.13/Menlhk-Set.Jen/RHS/2015 tanggal 25 Juni 2015 perihal pemberitahuan putusan MA Nomor: 2642 K/Pid/2006 tentang Register 40 Padang Lawas adalah dalil yang tidak berdasarkan hukum dengan alasan:

a. Bahwa dalam putusan Putusan MA Nomor: 2642 K/Pid/2006 tabggal 12 Februari 2007 di atas, yang telah berkekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde), Darianus Lungguk Sitorus dinyatakan secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana melakukan tindak pidana mengerjakan dan menduduki kawasan hutan secara tidak sah yang dilakukan secara bersama-sama dan dalam bentuk sebagai perbuatan berlanjut.

PENGADILAN TINGGI MEDAN

b. Selanjutnya dalam putusan tersebut dinyatakan barang bukti yang disita berupa:

- Perkebunan kelapa sawit di kawasna hutan Padang Lawas seluas + 23.000 hektar yang dikuasai oleh KPKS Bukit Harapan dan PT. Torganda beserta seluruh bangunan yang ada di atasnya.

- Perkebunan kelapa sawit di kawasan hutan Padangf Lawas seluas + 24.000 hektar yang dikuasai oleh Koperasi Parsub dan PT. Torus Ganda beserta seluruh bangunan yang ada di atasnya.

Dirampas untuk Negara dalam hal ini Departemen Keuangan.

c. Berita Acara Penyerahan Barang Bukti Rampasan tanggal 26 Agustus 2009, telah dilaksanakan pelaksanaan putusan MA Nomor: 2642 K/Pid/2006 tanggal 12 Februari 2007.

d. Bahwa sampai saat ini KPKS Bukit Harapan, PT. Torus Ganda, PT. Torganda, Koperasi Parsub (Penggugat) tetap berada di tanah objek sengketa dan menguasai objek perkara tersebut serta memanen hasilnya yang seharusnya menjadi hak Negara.

e. Dalam rangka pelaksanaan putusan dan agar pihak-pihak yang terkait dalam putusan pidana dapat segera menyerahkan objek perjara tersebut, maka dilakukan berbagai upaya yang antara lain berupa Surat Menteri Lingkungan Hidup dan Kehuatan RI No. S.174/Menlhk-II/2015 tanggal 21 April 2015 dan Surat Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. S.13/Menlhk-Set.Jen/RHS/2015 tanggal 25 Juni 2015.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka Tergugat I tidak melakukan perbuatan melawan hukum, sehingga dalil Penggugat harus ditolak.

7. Dalil Penggugat dalam memori Gugatannya angka 37 halaman 21 berkaitan dengan ganti rugi yang harus dibayar Tergugat I kepada Penggugat sebesar Rp 1.000.000.000.000 (satu triliun rupiah) adalah tidak beralasan hukum yang dilakukan Tergugat I yang menimbulkan kerugian bagi Penggugat, tuntutan ganti rugi yang di ajukan oleh Penggugat a quo juiga tidak di dukung dengan suatu perincian dan dasar hukum yang jelas, sehingga sudah sepatutnya di tolak, karena berdasarkan Yiriprudensi Mahkamah Agung Tanggal 18

PENGADILAN TINGGI MEDAN

Desember 1970 Nomor 492 K/Sip/1970 dan Putusan Mahkamah Agung RI Nomor 1720 K/Pdt/1986 tanggal 18 Agustus 1988 dengan tegas dinyatakan bahwa “Setiap tuntutan ganti rugi harus disertai perincian kerugian dalam bentuk apa yang menjadi dasar tuntutannya Tanpa perincian dimaksud maka tuntutan ganti rugi harus dinyatakan tidak dapat diterima karena tuntutan tersebut tidak jelas/tidak sempurna.

8. Petitum Penggugat angka 5 halaman 28 yang intinya menyatakan putusan dalam perkara ini dapat dilaksanakan lebih dahulu walaupun ada banding/ menjatuhkan putusan serta merta (uitvoerbaar bij voorraad) adalah tidak berdasar hukum karena tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Surat Edaran Mahkamah Agung RI Nomor: 03 Tahun 2000 tentang Putusan Serta Merta (uitvoerbaar bij vorraad) dan provisional yaitu tidak terdapat gugatan provisional yang di kabulkan dan gugatan tidak didasarkan pada putusan yang telah memperoleh hukum tetap yang mempunyai hubungan dengan pokok gugatan a quo. Di samping itu untuk dapat di kabulkannya putusan serta merta harus memenuhi syarat antara lain:

a. Memenuhi Pasal 191 ayat (1) RBg.

b. Adanya pemberian jaminan yang nilainya sama dengan nilai barang/obyek eksekusi. Sehingga tidak menimbulkan kerugian pada pihak lain, apabila ternyata di kemudian hari dijatuhkan putusan yang membatalkan putusan tingkat pertama.

Atas dasar SEMA tersebut diatas jeas bahwa permohonan putusan serta merta yang di ajukan Penggugat tidak memenuhi syarat-syarat yang telah di tentukan, sehingga harus ditolak.

Dari uraian yang terdapat baik dalam eksepsi dan pokok perkara, Maka selanjutnya Tergugat I mohon dengan hormat kepada Majelis Hakim Pengadilan Negeri Padangsidimpuan yang memeriksa dan mengadili perkara a quo untuk memutus sebagai berikut:

Dalam dokumen PENGADILAN TINGGI MEDAN (Halaman 31-36)

Dokumen terkait