VI. PERAN KAKAO BAGI PEREKONOMIAN REGIONAL
7.1. Dampak Internalisasi Biaya Eksternalitas
7.1.1 Dampak Internalisasi Biaya Eksternalitas Terhadap
7.1. Dampak Internalisasi Biaya Eksternalitas
7.1.1. Dampak Internalisasi Biaya Eksternalitas Terhadap Output
Internalisasi biaya eksternalitas dari berbagai sektor ekonomi menimbulkan perubahan terhadap nilai output dan PDRB serta nilai pengganda output, pengganda pendapatan, dan pengganda tenaga kerja serta nilai indeks keterkaitan antar sektor perekonomian regional Sulawesi Selatan. Arah perubahannya sangat tergantung pada besarnya beban biaya eksternalitas dan lemah-kuatnya keterkaitan antar sektor ekonomi dengan sektor ekonomi penghasil biaya eksternalitas.
Internalisasi biaya Eksternalitas menyebabkan penurunan nilai output dari beberapa sektor ekonomi yang menanggung beban biaya eksternalitas lingkungan. Total biaya eksternalitas yang teridentifikasi mencapai Rp 1,76 triliun atau 2,53% dari total output perekonomian regional Sulawesi Selatan. Biaya eksternalitas tertinggi dihasilkan sektor ekonomi perkebunan selain kopi dan kakao, tetapi karena
perbedaan nilai outputnya dengan output sektor ekonomi yang berada di bawahnya cukup besar, maka penurunan nilai output perkebunan selain kopi dan kakao tersebut tidak menyebabkan terjadinya pergeseran posisi dalam memberikan sumbangan output bagi perekonomian regional Sulawesi Selatan. Demikian juga sektor-sektor lain seperti sektor ekonomi kakao, peternakan, tanaman bahan makanan lainnya dan sektor industri semen tidak mengalami perubahan posisi dalam memberikan sumbangan output bagi perekonomian regional Sulawesi Selatan.
Penggeseran posisi/peringkat dalam menghasilkan output terjadi pada sektor padi dan kopi. Sektor padi yang mempunyai biaya eksternalitas relatif besar tergeser dari posisi ke-4 ke posisi ke-6 dan sektor kopi tergeser dari posisi 23 ke posisi 24 (Tabel 24).
Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa sektor-sektor ekonomi yang mempunyai beban biaya eksternalitas mengalami peningkatan nilai pengganda output, kecuali sektor tanaman bahan makanan lainnya yang beban biaya eksternalitasnya relatif kecil. Sebaliknya sektor-sektor ekonomi yang tidak memiliki beban biaya eksternalitas mengalami penurunan nilai pengganda output dan penurunan pengganda output yang cukup besar dialami sektor-sektor ekonomi pengguna output sektor penghasil eksternalitas sebagai input produksinya. Penurunan nilai pengganda output yang cukup besar dialami oleh sektor industri kopi giling dan kupasan diikuti sektor industri biji-bijian, cokelat dan kembang gula, sektor industri makanan dan minuman serta sektor bangunan (Lampiran 7).
Hal ini memberikan indikasi bahwa analisis input-output konvensional menghasilkan nilai pengganda output yang lebih besar dari yang seharusnya untuk sektor ekonomi yang menggunakan output sektor penghasil eksternalitas sebagai bahan bakunya dan sebaliknya nilai pengganda output yang lebih kecil dari yang seharusnya bagi sektor sektor ekonomi yang menghasilkan biaya eksternalitas. Apabila indikator pengganda output yang dijadikan penentu kebijakan dan sektor ekonomi pengguna output dari sektor penghasil eksternalitas yang menjadi sektor unggulan, maka upaya memacu pertumbuhan sektor unggulan dapat menarik
pertumbuhan sektor penghasil eksternalitas, sehingga biaya eksternalitas perekonomian regional makin besar.
Tabel 24. Posisi nilai output berbagai sektor ekonomi pada tabel IO konvensional dan tabel IO dikoreksi biaya eksternalitas Sulawesi Selatan, tahun 2003
Pering-kat Nama Sektor Ekonomi Output IO-K
(Rp juta) (%) Nama Sektor Ekonomi
Output IO-E (Rp juta) (%) 1 Ind. Makanan & minuman 11.294.326 16,16 Ind Makanan & minuman 11.294.326 16,58 2 Perdag-Hotel-Rst 9.100.364 13,02 Perdag-Hotel-Rst 9.100.364 13,36 3 Jasa Pemerintahn 6.628.179 9,49 Jasa Pemerintahn 6.628.179 9,73 4 Padi 4.875.512 6,98 Bangunan 4.768.562 7,00 5 Bangunan 4.768.562 6,82 Angkutan-Kmnks 4.652.510 6,83 6 Angkutan-Kmnks 4.652.510 6,66 Padi 4.560.282 6,70 7 Industri lainnya 3.566.140 5,10 Industri lainnya 3.566.140 5,24 8 Tabama lainnya 3.147.259 4,50 Tabama lainnya 3.124.289 4,59 9 Tambang nekel 3.075.889 4,40 Tambang nekel 3.075.889 4,52 10 Bank-Lkeuangan 2.986.037 4,27 Bank-Lkeuangan 2.986.037 4,38 11 Industri semen 2.634.467 3,77 Industri semen 2.476.397 3,64 12 Kakao 2.585.784 3,70 Kakao 2.302.614 3,38 13 Perkeb. Lainnya 2.385.799 3,41 Perkeb. Lainnya 1.631.519 2,40 14 Budidaya udang 1.560.485 2,23 Budidaya udang 1.560.485 2,29 15 Perikan laut 1.450.536 2,08 Perikan laut 1.450.536 2,13 16 Listrik, Gas, Air 935.053 1,34 Listrik, Gas, Air 935.053 1,37 17 Ind kopi giling dan kupasan 811.002 1,16 Ind kopi giling & kupasan 811.002 1,19 18 Budidaya bandeng & ikan 734.337 1,05 Budidaya bandeng & ikan 734.337 1,08 19 Peternakan 704.187 1,01 Peternakan 653.427 0,96 20 Ind biji-an, cokelat&k gula 581.711 0,83 Ind biji-an, cokelat&k gula 581.711 0,85 21 Jasa Lainnya 507.158 0,73 Jasa Lainnya 507.158 0,74 22 Tambang & Gln lainnya 440.360 0,63 Tambang & Gln lainnya 440.360 0,65 23 Kopi 287.532 0,41 Kehutanan 115.358 0,17 24 Kehutanan 115.358 0,17 Kopi 107.582 0,16 25 Industri pupuk pestisida 50.265 0,07 Industri pupuk pestisida 50.265 0,07
Jumlah 69.878.813 100,00 Jumlah 68.114.383 100,00
Keterangan: IO-K = IO konvensional; IO-E= IO dikoreksi biaya eksternalitas.
7.1.2. Dampak Internalisasi Biaya Eksternalitas Terhadap PDRB
Internalisasi biaya eksternalitas menyebabkan penurunan nilai PDRB Sulawesi Selatan tahun 2003 dari Rp 42,868 triliun menjadi Rp 41,997 triliun atau turun sebesar Rp 871 milyar (2,03%). Penurunan nilai PDRB tersebut merupakan akumulasi dari penurunan dan peningkatan nilai PDRB berbagai sektor ekonomi. Suatu sektor ekonomi mengalami penurunan nilai PDRB akibat pembebanan biaya
eksternalitas dari sektor yang bersangkutan. Namun pembebanan eksternalitas pada sektor tersebut akan meningkatkan nilai PDRB sektor lainnya yang menggunakan output sektor yang menghasilkan biaya eksternalitas tersebut sebagai input produksinya. Hal ini terjadi karena sebelum ada koreksi biaya eksternalitas, sektor pengguna output dari sektor yang menghasilkan biaya eksternalitas telah membayar harga input yang lebih tinggi dibandingkan dengan setelah adanya koreksi biaya eksternalitas (Tabel 25).
Tabel 25. Posisi PDRB berbagai sektor ekonomi pada tabel IO konvensional dan tabel IO dikoreksi biaya eksternalitas Sulawesi Selatan, tahun 2003 Pering
kat Nama Sektor Ekonomi
PDRB-K
(Rp juta) (%) Nama Sektor Ekonomi
PDRB-E (Rp juta) (%) 1 Perdag-Hotel-Rst 6.353.926 14,82 Perdag-Hotel-Rst 6,359,631 15.14
2 Jasa Pemerintahn 4.599.964 10,73 Jasa Pemerintahn 4,600,754 10.95
3 Padi 4.256.270 9,93 Padi 3,949,595 9.40
4 Angkutan-Kmnks 2.855.224 6,66 Angkutan-Kmnks 2,855,283 6.80
5 Tabama lainnya 2.855.086 6,66 Tabama lainnya 2,833,889 6.75
6 Tambang nekel 2.759.380 6,44 Tambang nekel 2,759,380 6.57
7 Kakao 2.233.829 5,21 Indust Makanan & minuman 2,122,358 5.05
8 Bank-Lkeuangan 2.109.337 4,92 Bank-Lkeuangan 2,109,337 5.02
9 Perkeb. Lainnya 2.020.151 4,71 Bangunan 1,959,237 4.67
10 Bangunan 1.870.277 4,36 Kakao 1,952,128 4.65
11 Industri semen 1.765.854 4,12 Industri lainnya 1,654,321 3.94
12 Industri lainnya 1.631.152 3,81 Industri semen 1,609,231 3.83
13 Indust Makanan & minuman 1.615.354 3,77 Perkeb. Lainnya 1,282,426 3.05
14 Budidaya udang 1.270.541 2,96 Budidaya udang 1,270,579 3.03
15 Perikan laut 1.243.689 2,90 Perikan laut 1,243,691 2.96
16 Peternakan 603.770 1,41 Budidaya bandeng, & ikan 602,517 1.43
17 Budidaya bandeng, & ikan 602.511 1,41 Indkopi giling & kupasan 573,872 1.37
18 Listrik, Gas, Air 474.726 1,11 Peternakan 556,584 1.33
19 Ind kopi giling dan kupasan 417.871 0,97 Listrik, Gas, Air 474,726 1.13
20 Tambang & Gln lainnya 373.161 0,87 Tambang & Gln lainnya 373,161 0.89
21 Jasa Lainnya 333.609 0,78 Ind. biji-an, cokelat & k.gula 343,339 0.82
22 Ind. biji-an, cokelat&k gula 270.628 0,63 Jasa Lainnya 333,889 0.80
23 Kopi 232.240 0,54 Kehutanan 102,599 0.24
24 Kehutanan 102.599 0,24 Kopi 57,770 0.14
25 Industri pupuk pestisida 16.975 0,04 Industri pupuk pestisida 16,985 0.04
Jumlah 42.868.122 100,00 Jumlah 41,997,281 100.0 Keterangan: PDRB-K = Produk Domestik Regional Bruto IO-konvensional;
Pada Tabel 25 tersebut tampak bahwa internalisasi biaya eksternalitas menyebabkan struktur perekonomian Sulawesi Selatan mengalami sedikit perubahan. Sektor ekonomi kakao mengalami penurunan kontribusi sebesar Rp 281,70 milyar atau 12,61%, sehingga peringkatnya dalam menghasilkan nilai PDRB tergeser dari posisi 7 ke posisi 10. Namun pergeseran posisi sektor ekonomi kakao tersebut tidak setajam penurunan sektor ekonomi perkebunan lainnya yang merosot dari posisi 9 ke posisi 13. Tajamnya penurunan posisi sektor ekonomi perkebunan lainnya tersebut terutama disebabkan oleh besarnya biaya eksternalitas sektor yang bersangkutan dan relatif kecilnya selisih nilai PDRBnya dengan sektor ekonomi peringkat dibawahnya. Sektor ekonomi perkebunan lainnya menimbulkan biaya eksternalitas terbesar diantara berbagai sektor ekonomi regional Sulawesi Selatan.
Sementara itu, sektor-sektor yang mengalami peningkatan PDRB antara lain sektor industri makanan dan minuman, sektor industri kopi giling dan kupasan, sektor bangunan, dan sektor industri biji-bijian, cokelat & kembang gula. Sektor ekonomi yang mengalami peningkatan nilai PDRB yang paling besar adalah sektor industri makanan dan minuman yaitu sebesar Rp 507,01 milyar. Sektor berikutnya yang memperoleh kenaikan nilai PDRB yang cukup besar adalah sektor industri kopi giling dan kupasan, sektor bangunan, dan sektor industri biji-bijian, cokelat & kembang gula dengan peningkatan nilai PDRB masing-masing sebesar Rp 156,00 milyar, Rp 88,96 milyar dan Rp 72,71 milyar. Namun dilihat dari nisbah peningkatannya, maka sektor yang paling tinggi peningkatannya adalah sektor industri kopi giling dan kupasan yang meningkat 37,33%, disusul industri makanan dan minuman yang meningkat 31,39%, sektor sektor industri biji-bijan, cokelat & kembang gula 26,87% dan sektor bangunan 4,76%.
Lebih lanjut, internalisasi biaya eksternalitas menyebabkan nilai pengganda pendapatan sektor ekonomi yang mempunyai beban biaya eksternalitas mengalami penurunan, kecuali sektor tanaman bahan makanan lainnya yang beban biaya eksternalitasnya relatif kecil. Sebaliknya sektor-sektor ekonomi yang tidak memiliki beban biaya eksternalitas mengalami peningkatan nilai pengganda pendapatan. Hal ini memberikan indikasi bahwa analisis input-output konvensional menghasilkan
nilai pengganda pendapatan yang lebih besar dari yang seharusnya untuk sektor ekonomi yang memiliki beban biaya eksternalitas dan sebaliknya nilai pengganda pendapatan yang lebih kecil dari seharusnya bagi sektor sektor ekonomi yang tidak menghasilkan biaya eksternalitas (Lampiran 8).
Data IO Sulawesi Selatan yang digunakan dalam penelitian ini tidak memberikan perbedaan hasil yang nyata antara IO konvensional dengan IO yang dikoreksi dengan biaya eksternalitas karena nilai pengganda pendapatan sektor-sektor ekonomi yang mempunyai beban eksternalitas berada pada posisi pertengahan dari 25 sektor ekonomi yang dianalisis, sehingga koreksi biaya eksternalitas tidak menimbulkan perubahan yang nyata. Meskipun demikian adanya perbedaan hasil analisis yang mengindikasikan bahwa nilai pengganda pendapatan sektor ekonomi penghasil eksternalitas yang lebih tinggi (over estimate) pada IO konvensiaonal dibanding IO dikoreksi biaya eksternalitas.
7.1.3. Dampak Internalisasi Biaya Eksternalitas Terhadap Tenaga Kerja Dan
Keterkaitan Antar Sektor Ekonomi
Internalisasi biaya eksternalitas tidak mempengaruhi penyerapan tenaga kerja, tetapi berpengaruh pada nilai pengganda tenaga kerja. Internalisasi biaya eksternalitas menyebabkan nilai pengganda tenaga kerja semua sektor ekonomi mengalami peningkatan kecuali sektor kehutanan dan sektor industri pupuk dan pestisida yang nilai pengganda tenaga kerjanya tetap.
Jika diperhatikan lebih lanjut tampak bahwa besarnya peningkatan nilai pengganda tenaga kerja akibat internalisasi biaya eksternalitas sangat erat kaitannya dengan besarnya beban biaya eksternalitas sektor yang bersangkutan dan keterkaitan suatu sektor ekonomi dengan sektor ekonomi penghasil biaya eksternalitas. Sektor kopi, perkebunan lainnya, kakao, padi dan sekto peternakan merupakan sektor-sektor ekonomi yang mengalami peningkatan nilai pengganda tenaga kerja yang cukup besar karena memiliki biaya eksternalitas, sementara sektor industri kopi giling dan kupasan, industri biji-bijian, cokelat dan kembang gula dan sektor industri makanan minuman mengalami peningkatan nilai pengganda tenaga kerja yang relatif besar
karena mempunyai keterkaitan yang kuat dengan sektor penghasil biaya eksternalitas (Lampiran 9).
Selanjutnya jika diperhatikan nilai indeks keterkaitan antar sektor yang dinormalisasi (koefisien penyebaran dan kepekaan penyebaran), maka akan tampak bahwa sektor-sektor yang mempunyai beban biaya eksternalitas akan mengalami peningkatan nilai koefisien penyebaran (indeks keterkaitan ke belakang), kecuali sektor tabama lainnya. Sebaliknya sektor-sektor yang tidak mempunyai beban eksternalitas mengalami penurunan nilai koefisien penyebarannya.
Sementara itu, nilai kepekaan penyebaran (indeks keterkaitan ke depan) sektor-sektor yang mempunyai eksternalitas cenderung mengalami penurunan kecuali sektor tabama lainnya yang mengalami peningkatan. Sektor ekonomi lainnya, kecuali perikanan laut, budidaya udang, budidaya bandeng dan ikan lainnya, tambang nikel, industri biji-bijian dan cokelat serta jasa pemerintahan cenderung mengalami peningkatan nilai kepekaan penyebarannya (Lampiran 10 dan 11). Sektor ekonomi yang nilai kepekaan penyebarannya meningkat cukup besar terjadi pada sektor industri pupuk dan pestisida diikuti oleh sektor industri lainnya. Sedangkan sektor ekonomi yang nilai kepekaan penyebarannya menurun cukup besar adalah sektor ekonomi kopi dan perkebunan lainnya.
Berdasarkan uraian di atas dapat dikemukakan secara ringkas bahwa internalisasi biaya eksternalitas menyebabkan terjadinya berbagai perubahan pada besaran output, PDRB dan nilai pengganda output, pendapatan, dan tenaga kerja, serta nilai koefisien penyebaran dan kepekaan penyebaran. Perubahan-perubahan tersebut meliputi: Penurunan output dan PDRB sektor yang menghasilkan biaya ekternalitas serta peningkatan PDRB sektor pengguna output sektor penghasil eksternalitas; Peningkatan nilai pengganda output sektor yang menghasilkan biaya ekternalitas dan penurunan nilai pengganda output sektor lainnya terutama sektor pengguna output sektor penghasil eksternalitas; Penurunan nilai pengganda pendapatan sektor yang menghasilkan biaya ekternalitas dan peningkatan nilai pengganda pendapatan sektor lainnya khususnya sektor pengguna output sektor penghasil eksternalitas; Peningkatan nilai pengganda seluruh sektor ekonomi
terutama sektor penghasil eksternalitas; Dan peningkatan nilai koefisien penyebaran sektor penghasil eksternalitas dan penurunan nilai koefisien penyebaran sektor ekonomi lainnya.
Dengan memperhatikan berbagai perubahan tersebut maka perlu berhati-hati dalam menggunakan hasil analisis IO konvensional karena hasilnya dapat menyesatkan. Analisis IO-konvensional akan menghasilkan nilai pengganda output sektor ekonomi pengguna output sektor ekonomi yang menghasilkan biaya eksternalitas dan pengganda pendapatan sektor ekonomi yang menghasilkan biaya eksternalitas, lebih besar dari hasil analisis IO yang dikoreksi dengan biaya eksternalitas. Dengan kata lain analisis IO konvensional menghasilkan nilai pengganda output sektor ekonomi pengguna output sektor penghasil biaya eksternalitas dan nilai pengganda pendapatan sektor ekonomi penghasil biaya eksternalitas yang terlalu tinggi (over estimate) dari yang seharusnya.
Akibatnya jika nilai pengganda output dijadikan sebagai indikator dan sektor ekonomi pengguna output sektor ekonomi penghasil biaya eksternalitas yang menjadi pilihan, maka memacu pertumbuhan sektor ekonomi tersebut akan mempercepat pertumbuhan sektor penghasil biaya eksternalitas yang pada gilirannya akan memperbesar biaya eksternalitas perekonomian regional. Demikian pula halnya jika nilai pengganda pendapatan yang dijadikan sebagai acuan dan sektor penghasil biaya eksternalitas yang menjadi pilihan, maka memacu pertumbuhan sektor ekonomi tersebut secara langsung akan memperbesar biaya eksternalitas perekonomian regional. Oleh karena itu perlu berhati-hati dalam menggunaka nilai pengganda output sektor ekonomi pengguna output sektor ekonomi penghasil biaya eksternalitas dan nilai pengganda pendapatan sektor ekonomi penghasil biaya eksternalitas.