• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Hasil Wawancara

2. Dampak kekerasan simbolik dalam pelayanan kesehatan terhadap

E. Intrumen penelitian

Intromen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar wawancara dan observasi lapangan.

F. Jenis dan sumber data

Dalam melakukan analisis penulis menggunakan: a. Data primer

Data primer adalah data yang didapatkan langsung dari lapangan pada objek penelitian atau field research. Data primer yaitu hasil dari wawancara mendalam dan observasi lapangan kepada masyarakat yang ada di kelurahan Pisang Utara dan tenaga medis yang ada di kota Makassar.

b. Data sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh dari data yang merupakan dokumen-dokumen pendukung penelitian serta sumber-sumber lainnya beberapa undang-undang, peraturan-peraturan pendukung program/ kebijakan, serta dokumen yang diperoleh sepanjang penelitian dari berbagi sumber untuk mendukung penelitian atau dokumen-dokumen atau tertiban literatur yang dapat mendukung kelengkapan data primer.

G. Teknik pengumpulan data

1. Wawancara mendalam (indepth interview)

Dalampenelitian ini pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara yaitu dengan melakukan wawancara mendalam kepada pihak informan atau semua pihak yang terlibat dalam dunia kesehatan guna memenuhi keperluan penelitian tentang kejelasan masalah penelitian sehingga mampu mengeksplorasikan data dari informan yang bersifat nilai, makna dan pemahaman yang tidak mungkin dilakukan melalui teknik survey.

2. Observasi (observation)

Obsevasi atau pengamatan ini dimaksudkan sebagai pengumpulan data yang seletif. Selanjutnya penelitian memahami dan menganalisis berbagai gejala yang berkaitan dengan objek penelitian melalui berbagai situasi dan kondisi nyata yang terjadi baik secara formal maupun non formal.

3. Studi dokumen ( dokumentasion)

Studi dukumen dimaksudkan sebagai pengumpulan data dan telaah pustaka, dimana dokumen-dokumen yang diangap menunjungang dan relevan dengan permasalahan yang akan diteliti baik berupa buku-buku, literatur, laporan tahunan, jurnal, tabel, karya tulis ilmuah, dukumen peraturan pemerintahan dan undang-undang yang telah tersedia pada lembaga yang terkait dipelajari, dikaji dan disusun/ dikatagorikan sedemikian rupa sehingga dapat diperoleh data guna memberikan informasi berkenaan dengan penelitian yang akan dilakukan.

H. Teknik analisis data

Analisis data penelitian kualitatif dalam penelitian ini dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber. Yaitu dari wawancara, pengamatan yang sudah ditulis dalam catatan lapangan, dukumen dan sebagainya sampai dengan penarikan kesimpulan. Sejalan dengan apa yang telah diutarakan oleh Matthew Miles dan Michael Huberman (2014) bahwa analisis dari tiga jalur yang terjadi secara bersamaan yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/ verifikasi.

1. Rekduksi Data

Rekduksi data dalam hal ini sebagai proses pemilihan, dan pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data “kasar” yang muncul dari catatan- catatan tertulis dilapangan. Sebagaimana kita ketahuai bahwa rekduksi data berlangsung secara terus menerus selama objek yang berorientasi kualitatif berlangsung

2. Penyajian data

Alur penting yang kedua dari analisis adalah penyajian data. Kami membatasi suatu “ penyajian” sebagai sekumpulan informasi tersunsun yang memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan.

3. Menarik kesimpulan/ Verifikasi

Kegiatan analisis ketiga yang penting adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Dari permulaan pengumpulan data, seseorang penganalisis kualitataif mulai mencari arti benda-benda mencatat keteraturan pola-pola dan proposi.

Dalam penelitian ini, analisis kualitatif merupakan upaya berlanjut, berulang dan terus menerus. Masalah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/ verifikasi menjadi gambaran keberhasilan secara berurutan sebagai rangkaian kegiatan analisis yang saling susun menyusun. Namun dua hal lainya itu senantiasa merupakan bagian dari lapangan.

I. Teknik Keabsahan Data

Dalam penelitian ini untuk menguji keabsahan data, peneliti mengunakan triagulasi sumber. Triagulasi sumber yang di gunakan untuk membandingkan tidak keseluruhan. Akan tetapi peneliti hanya membandingkan hasil wawancara dari pihak dinas kesehatan kota Makassar dengan warga miskin yang memperoleh layanan kesehatan.

Keabsahan data diterapkan dalam rangka membuktikan temuan hasil lapangan dengan kenyataan yang diteliti dilapangan. Keabsahan data dilakukan dengan meneliti kredibilitasnya mengunakan teknik trigulasi. Teknik trigulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. ( Moleong 2004:330)

Ide triangulasi bersumber dari ide tentang “ Multipe Operationism” yang mengesankan bahwa keaslian temuan-temuan dan tingkat konfidensinya akan dipertinggi oleh pemakian lebih dari satu pendekatan untuk mengumpulkan data (Brimen, 2005:880).

Peneliti melakukan perbandingan data yang telah diperoleh yaitu data primer dilpangan yang akan dibandingkan dengan data-data sekunder. Dengan

demikian penelitian akan membandingkan antara data wawancara dengan data dokumen dan studi pustaka. Sehingga kebenaran dari data yang diperoleh dapat dipercaya dan meyakinkan.

Dengan cara diatas, maka diperoleh hasil yang benar-benar dapat dipercaya keabsahannya karena triangulasi data diatas sesuai dengan penelitian yang bersifat kualitatif sebagaimana metode pendekatan skripsi ini.

Berdasarkan pada teori yang sudah ada setelah melakukan pendekatan personal, peneliti melakukan wawancara dengan pihak dinas kesehatan kota Makassar dan warga miskin yang memperoleh pelayanan kesehatan dengan mengunakan catatan kecil ( block note) yang membantu penelitian dalam mendokumentasikan hasil wawancara. Setelah itu adanya pengecekan informasi yang diperoleh dari wawancara dengan dokumen yang terkait.

52 A. Gambaran umum Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini dilakukan di kota Makassar provinsi Sulawesi Selatan, tepatnya di kelurahan Pisang Utara kecamatan Ujung Pandang adapun gambaran lokasi penelitian.

Makassar sendiri berdiri pada 9 November 1607, kota Makassar pernah berganti nama menjadi Ujung Pandang pada tahun 1971 dan pada tahun 1999 berubah nama menjadi Makassar. Kota Makassar mempunyai luas wilayah 175,77 km2 dengan batas wilayah sebagai berikut:

a. Sebelah utara berbatasan dengan kabupatan Maros dan kabupaten Pangkep

b. Sebelah timur berbatasan dengan kabupataen Gowa dan kabupataen Maros

c. Sebelah selatan berbatasan dengan kabupaten Gowa dan kabupaten Takalar

d. Sebelah barat berbatasan dengan Selat Makassar.

Makassar merupakan kota yang maju, maju baik dalam bidang kesehatan, pendidikan, sosial dan budaya. Dibidang kesehatan kota Makassar memberikan fasilitas kesehatan yang berkerja sama antara rumah sakit dengan BPJS, berikut beberapa nama rumah sakit yang ada dikota Makassar:

1. RSU Wahidin Sudiro Husodo. Tlp. 0411-584 677 Alamat: Jl. Perintis Kemerdekaan Km1.

2. RSU Palamonia. Tlp. 0411- 391 381

Alamat : Jl Jend. Sudirman No 27 Kota Makassar. 3. RSU Labuang Baji. Tlp. 0411- 873 482

Alamat : Jl Dr Samratulangi No 81 Kota Makassar. 4. RS Akademis Jaury. Tlp. 0411-317 343

Alamat: Jl Jend. M. Jusuf No 57A Kota Makassar 5. RS Bhayangkara. Tlp. 0411- 836 344

Alamat: Jl A. Mappaoddang No 63 Kota Makassar 6. RS Grestelina. Tlp. 0411-458 546

Alamat: Jl Hertasning Raya No 51 Kota Makassar 7. RS Stella Maris. Tlp. 0411-873 346

Alamat: Jl Somba OPU No 273 Kota Makassar 8. RS Islam Faisal. Tlp. 0411-853 364

Alamat: Jalan A Pangerang Pettarani

9. RS Angkatan Laut Jala Ammari. Tlp. 0411-3617 343 Alamat: Jl Satando No 27 Kota Makassar

10. RS Awal Bros. Tlp. 0411- 454 567

Alamat: Jl Urip Sumoharjo No 43 Kota Makassar 11. RS Pendidikan Unhas. Tlp. 0411-591 210

Alamat: Jalan Perintis Kemerdekaan, Jl Pintu II No KM 11 Kota Makassar 12. RS Tajuddin Chalid. Tlp. 0411- 512 902

Alamat: Pajjaiang Daya, Jl Paccerakkang No 67 Kota Makassar 13. RS Umum Daya. Tlp. 0411- 513 127

Alamat: Jl Perintis Kemerdekaan KM.14

14. RS Umum Haji Makassar. Tlp. 0411- 856 091 Alamat: Jl Dg. Ngeppe No 14, Kota Makassar 15. RS Umum Laramay. Tlp. 0411-506 7964

Alamat: Jl Yusuf Daeng Ngawing Blok E19 No 11, Kota Makassar 16. RS Umum Syech Yusuf. Tlp. 0411-866536

Alamat: Jalan Dr Wahidin Sudirohusodo No 48 Kota Makassar

Kelurahan Pisang Utara masuk dalam wilayah kecamatan Ujung Pandang kota Makassar. Kelurahan Pisang Utara mempunyai luas wilayah 30km2

dengan jumlah penduduk sebanyak 3.933 jiwa yang meliputi 1.190 KK, terdiri dari 1.950 jiwa laki-laki dan 1.983 jiwa perempuan. Kelurahan Pisang Utara memiliki enam RW ( Rukun Warga), kelurahan Pisang Utara mempunyai batas wilayah sebagai berikut:

a. Sebelah utara berbatasan dengan kelurahan Pattunuang kecamatan Wajo

b. Sebelah timur berbatasan dengan kelurahan Ga’dong kecamatan Bontoala

c. Sebelah selatan berbatasan dengan kelurahan Lajangiru kecamatan Ujung Pandang

d. Sebelah barat berbatasan dengan kelurahan Baru Kecamatan Ujung pandang

Kelurahan Pisang Utara dimana sebagian besar wilayahnya adalah pusat pertokoan Bank Negeri, kantor asuransi, beberapa rumah makan,

warkop, dan lain-lain. Yang membuat roda perekonomian dikelurahan menjadi meningkat penghasilannya. Dikelurahan Pisang Utara setidaknya terdapat dua puluh satu pedagang kaki lima (PKL) binaan yang tersebar dibeberapa jalan dikelurahan Pisang Utara yang dapat meningkatkan perekonomian warga.

Kelurahan Pisang Utara terdapat tujuh tempat ibadah yaitu dua Masjid, tiga Gereja dan dua Vihara. Di Kelurahan Pisang Utara juga terdapat tiga penginapan, dua Bank, dan terdapat delapan sekolahan yang terdiri dari satu Paud, satu TK, empat sekolah SD Negeri, dan dua sekolah SMP swasta, serta terdapat satu rumah sakit yang ada di kelurahan Pisang Utara yaitu rumah sakit Palamonia yang berada dijalan Jend. Sudirman No 27.

B. Hasil wawancara

Membahas hasil penelitian dilapangan berupa wawancara kepada pengguna kartu BPJS yang ada di Kelurahan Pisang Utara, Kecamatan Ujung Pandang Kota Makkassar, yang dilakukan pada bulan Maret sampai April 2020. Jumlah informan yang diambil adalah (dua puluh) 20 orang, yang terdiri dari pengguna kartu BPJS Kelas III sebanyak delapan (8) orang, pengguna kartu BPJS kelas II sebanyak dua (2) orang, pengguna kartu BPJS kelas I sebanyak tiga (3) orang, dan dokter sebanyak enam (6) orang dan satu (1) orang apoteker yang dianggap dapat mewakili pengguna fasilitas pelayanan kesehatan dan tenaga kesehatan yang ada di kota Makassar.

Profil informan dimasukan pada laporan ini agar dapat diketahui latar belakang dari informan yang menjadi narasumber dalam penelitian ini. Profil informan terdiri dari nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan dan kelas BPJS. Kriteria informan yang dibutuhkan oleh peneliti adalah pengguna fasilitas pelayanan kesehatan yang pernah berobat dirumah sakit dan tenaga medis dikota Makassar. Dua puluh (20) informan tersebut bersedia menjadi informan dalam penelitian ini, kemudian peneliti melakukan wawancara kepada dua puluh (20) informan tersebut. Hasil dari wawancara dijadikan dasar untuk menjawab permasalahan penelitian mengenai kekerasan simbolik di dunia kesehatan ( studi kasus fenomenologis peserta BPJS dalam pengguna fasilitas kesehatan di kota Makassar) .

Pada bagian ini disajikan hasil penelitian tentang kekerasan simbolik didunia kesehatan studi kasus fenomenologis peserta BPJS dalam penguna fasilitas pelayanan kesehatan dikota Makassar.

1. Bentuk kekerasan simbolik yang dialami peserta BPJS dalam menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan dikota Makassar.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di kelurahan Pisang Utara dan masyarakat kota Makassar pada umum serta tenaga medis yang ada di kota Makassar dengan mewawancarai beberapa informan yang menggunakan kartu BPJS. Dari hasil wawancara yang dilakukan di kelurahan Pisang Utara bahwa masyarakat Pisang Utara rata-rata menggunkan kartu BPJS kelas III, alasan utama mereka banyak yang

mengunkan kartu BPJS kelas III karena yang mudah iurannya yang mudah dijangkau oleh mereka. Banyak dari mereka yang mengeluh tentang pelayanan yang mereka dapat selama berobat menggunakan kartu BPJS, baik waktu mendaftar, waktu kunsultasi, dan saat pengobatan.

Adapun kekerasan simbolik yang mereka alami selama berobat mengunakan kartu BPJS di rumah sakit, kekerasan simbolik yang mereka alami sebagai berikut:

a. Kekerasan psikis

merupakan bentuk kekerasan yang sering terjadi dimana sulitnya mengurus surat-surat dan administrasi. Kekerasan dalam pelayanan administrasi paling banyak dihadapi dan dirasakan oleh pengguna kartu BPJS, terutama pengguna kartu BPJS kelas III dan pengguna kartu BPJS PBI, berbeda dengan pesien non BPJS ( pasien Umum) untuk pengurusan administrasinya mudah dan tidak ribet, dimana kekerasan dalam pelayanan administrasi sering dilakukan dengan sengaja, pihak rumah sakit sering kali membatasi waktu pelayanannya, di rumah sakit tertentu bahkan pasien harus antri dari subuh untuk ambil nomor antrian padahal loket pendaftaran buka pukul 08,00 WITA. Pasien sering kali untuk ngurus ini itu dan bila berkas kurang maka tidak akan dilayani dengan baik dan bila dalam keadaan darurat pasien dianjurkan untuk berobat secara umum kalau mau cepat ditanggani hal itu dinyatakan oleh informan yang telah peneliti wawancarai. Berikut merupakan jawaban informan ketika ditanya masalah pengurusan surat-surat dan administrasi saat berobat di rumah sakit.

Menurut MN, perempuan, 39 tahun, Ibu Rumah Tangga saat diwawancarai mengatakan

“Mas pada waktu itu saya sakit parah deman tinggi sehingga saya langsung kerumah sakit X untuk berobat sampai dirumah sakit, waktu mau mendaftar ditanyai mana surat rujukannya? kami tidak bisa melayani ibu karena administrasinya kurang, saya lihat ibu tidak sakit parah kenapa mintak dirawat? Ibu datang saja pakai dibonceng motor tandanya ibu masih kuat, kalau ibu mau silahkan berobat secara umum saja. Dan saya terpaksa berobat secara umum waktu itu mas karena sudah tidak kuat, saya diimpus selama tiga hari di rumah sakit itu”.

Hal serupa juga pernah dialami oleh JTS, laki-laki, 33 tahun Wiraswasta mengatakan.

“ Saat itu saya sakit gigi saya mau cabut gigi dan saat itu mendaftarnya antri lama sedang pasien umum langsung aja dilayani padahal datangnya duluan saya, pada saat saya tanya petugas yang ada di rumah sakit itu, masih berapa orang lagi bu? Sabar kenapa nanti juga dilayani, loh itu kenapa bapak cepat dilayani, kalau kamu mau cepat pakai umum saja, ya udah mas akhirnya saya antri aja walaupun kesel sih dengan jawaban ketus gitu”.

Hal serupa juga pernah dialamai oleh AF, laki-laiki, 33 tahun, Karywan Swasta mengatakan.

“ Ada sebagian rumah sakit yang bila pasien menggunakan Asuransi BPJS maka layanan administrasi lebih lambat, pihak rumah sakit lebih mengutamakan layanan non-BPJS”.

Hal serupa pernah dialami oleh AD, laki-laki, 34 tahun, PNS mengatakan:

“ Berdasarkan informasi dari pengguna layanan rumah sakit dan pantauan lapangan , pasien BPJS kesulitan dibandingkan pasien umum. jumlah pendaftar dan waktu pelayanan dibatasi dan dibedakan dibandingkan pasien umum”

Hal serupa pernah dialami oleh MK, Perempuan, 46 tahun, Wiraswasta mengatakan:

“ Ya.Dipersulit oleh pihak rumah sakit, pada waktu itu tante saya sakit dan harus menunggu selama tiga hari di IGD, kata pihak rumah sakit kalau mau segera ditangani untuk mengurus administrasi umum karena untuk BPJS lama prosedurnya.

Hal serupa juga dialami oleh MD, perempuan, 25 tahun, karyawan swasta mengatakan:

“Iya. Lama mengantri”

Hal serupa juga dialami oleh RWT, laki-laki, 35 tahun, wiraswasta mengatakan:

“Tergantung rumah sakitnya mas”

Hal serupa juga dialami oleh AT, laki-laki, 33 tahun, wiraswasta mengatakan:

“ Ya. Kadang dipersulit”

Berbanding dengan apa yang dikatakan oleh NL, perempuan, 70 tahun, Ibu Rumah Tangga:

“Saya waktu berobat dirumah sakit mendapatkan pelayanan administrasi dengan baik, tidak terlalu dipersulit karena saya hanya cek kesehatan dan kunsultasi dengan dokter”

Dari hasil wawancara yang telah dilakukan mengenai pelayanan administrasi dirumah sakit bisa ditarik kesimpulan bahwa masih ada perbedaan saat pengurusan administrasi dirumah, sakit walaupun tidak semua rumah sakit membedakan pelayanan administrasi baik pengguna kartu BPJS dan Non BPJS. Namun masih ada beberapa rumah sakit membedaan saat pelayanan administrasi, perbedaan administrasi itu berupa, lamanya antrian, lambatnya pelayanan administrasi, jumlah pendaftar dan waktu pelayanan yang dibatasi, pelayanan kesehatan kurang respon terhadap pengguna kartu BPJS, dan mereka harus mengurus ini dan itu, bahkan bila administrsi yang dibutuhkan kurang maka pasien tidak dilayani dengan baik bahkan rumah sakit tertentu mengajurkan untuk menggunakan fasilitas umum bila mau cepat dilayani. Seperti yang dialami oleh merlin yang ingin berobat mengunakan BPJS ditolak karena administrsinya kurang padahal dalam keadaan deman tinggi, dan merlin terpaksa menggunakan jalur non BPJS.

2. Kekerasan fisik

merupakan kekerasan yang dialami oleh masyarakat bawah dimana kurangnya pelayanan dan penanganan terhadap pasien kelas bawah. Sering kali pengguna kartu BPJS mengalami kekersan ini dimana mereka sering kali tidak dilayani dengan baik, bahkan cenderung diabaikan dan lambatnya penanganannya, kamar penuh, tenaga medisnya acuh dan kurang ramah, padahal mereka juga membayar iuran BPJS setiap bulannya, kekerasan ini sering didapati di rumah sakit tertentu, tidak semua rumah sakit melakukan hal demikian, ada juga rumah sakit yang menangani dengan baik tanpa membedakan secara senifikan pasien umum dan BPJS, biasanya perbedaannya saat pendaftaran saja selebihnya sama.

Rata-rata pengguna kartu BPJS yang berobat dirumah sakit pernah mengalami kekerasan fisik, hal itu dikatakan oleh informan, ketika peneliti wawancarai. Berikut merupakan jawaban informan ketika ditanya masalah pelayanan dirumah sakit.

MK, perempuan, 46 tahun, wiraswasta mengatakan.

“Tidak, Pada waktu itu tante saya kecelakaan terus dirawat dirumah sakit Z dan dibiarkan saja selama tiga hari di IGD tidak segera ditanggani padahal tante mengalami patah tulang, pihak rumah sakit beralasan kamar penuh untuk kelas III dan kurangnya perawat, bila tantenya mau segera ditanggani silahkan pindah ke pelayanan umum jangan pakai BPJS, setelah bicara dengan pihak keluarga memutuskan untuk mengunakan jalur umum”.

hal serupa pernah dialami oleh JTS, laki-laki, 33 tahun, Wiraswasta. “Lama dan lambatnya pelayanan serta lamanya pengobatan dan tidak dilayani dengan baik, karena pas cabut gigi masih terasa sakit langsung cabut saja tidak bertanya dulu”.

Hal serupa juga pernah dialami oleh MN, perempuan, 39 Tahun, Ibu Rumah Tangga.

” Tidak dapat pelayanan dengan baik sehingga saya berobat umum tidak menggunakan kartu BPJS”.

Hal serupa juga pernah dialami oleh AF, laki-laki, 33 Tahun, Karyawab swasta,

“ Tidak. Ada rumah sakit tertentu biasanya menyuruh pasien cari obat sendiri alias beli sendiri diluar bila stock obat sudah habis”.

Hal serupa juga pernah dialami oleh RWT, laki-laki, 35 Tahun, Wiraswasta.

“ Tidak. Kalau BPJS tertentu sesuai dengan diagnosa dokter dan kebutuhan untuk pasien”.

Hal serupa juga pernah dialami oleh AT, laki-laki, 33 tahun, wiraswasta. “ Tidak. Terlalu lama antri”

Hal serupa juga dinyatakan oleh AD, laki-laki, 34 tahun, PNS

”Berdasarkan informasi dari pengguna Pelayanan pasien BPJS tidak maksimal dibandingkan dengan pasien umum”.

Berikut hasil wawancara masalah perbedaan pelayanan antar apasien pengguna BPJS dan pasien umum.

MD 25 tahun, karyawan swasta mengatakan:

“Ya. Lebih cepat dilayani jika umum, BPJS terlalu banyak administrasi yang harus dilengkapi”

Hal serupa juga diungkapkan oleh AF, laki-laki, 33 tahun, karyawan swasta:

“ Ya. Karena pihak rumah sakit mendahulukan pasien yang bayar uang cash untuk berobat ketimbang BPJS”

“ Ya. Kalau BPJS tentu obat sesuai kebutuhan, kadang juga dikurangi jumlahnya”

Hal serupa juga diungkapakan oleh MN, perempuan, 39 tahun, ibu rumah tangga

“Pernah, karena dipersulit untuk pengurusan sedangkan pasien umum langsung dilayani”

Hal serupa juga diungkapkan oleh NL, perempuan, 70 tahun, ibu rumah tangga

” Pernah, pihak rumah sakit lebih mengutamakan pasien umu, walupun sudah antri lama, begitu juga waktu ambil obat”

Hal serupa juga diungkapkan oleh MK, perempuan 46 tahun, wiraswasta “ Pernah merasakan dibedakan, dibedakan baik dari sisi pelayanan dan obat dibedakan”

Hal serupa juga diungkapkan oleh JTS, laki-laki, 33 tahun, wiraswasta

“Pernah. Karena agak lama untuk proses pengobatannya, dan pelayanannya berbeda dengan pasien umum”.

Hal serupa juga diungkapkan oleh AD, laki-laki, 34 tahun, PNS

“ Iya. Berdasarkan informasi pengguna layanan rumah sakit dan pantauan langsung dibedakan terlihat jelas berdasarkan pembedaan nomot antrian dan waktu pelayanan”.

Hal serupa juga diungkapakan oleh AT, laki-laki, 33 tahun, wiraswata. “ Ya. Dibedakan pelayanannya”

Hal serupa juga diungkapkan HD, laki-laki, 27 tahun, karyawanswasta. “ Ya. Seperti kurang respect”

Hal serupaa. juga diungkapakan JL, perempuan, 25 tahun, karyawan swasta.

“Ya. Kurang ramah”

Berikut hasil wawancara tentang pelayanan dokter dan perawat kepada pasien dirumah sakit.

JTS, laki-laki, 33 tahun, wiraswasta mengatakan

“ kurang ramah karena mereka lebih mengutamakan pasien umum” Hal serupa juga dikatakan oleh AF, 33 tahun, karyawan swasta

“kalau pihak dokter terkadang terlambat hadir tugas. Terkadang ada perawat tertentu biasa kurang ramah melayani pasien. Kalau pihak apoteker diklinik atau rumah sakit bila stock obatnya, pihak pasien diminta cari sendiri obatnya diluar, terkadang ada pihak apoteker di klinik mengurangi jumlah obat dari anjuran resep dokter”

Hal serupa juga dikatakan oleh MK, perempuan, 46 tahun, wiraswasta “kurang respon pada pemegang kartu BPJS apalagi untuk BPJS kelas III”

Hal serupa juga dikatakan oleh MN, perempuan, 39 tahun, ibu rumah tangga

“ Buruk karena pakai BPJS ditolak”

Hal serupa juga dikatakan oleh JL, perempuan, 25 tahun, pegawai swasta “Kurang ramah”

hal serupa juga dikatakan oleh AT, 33 tahu, wiraswasta. “Kurang ramah”

Hal serupa juga dikatakan oleh AD, laki-laki, 34 tahun, PNS

“Berdasarkan informasi pengguna layanan rumah sakit dan pantauan lapangan. Pasien BPJS masih belum masih belum maksimal dan masih bibedakan.

Berikut hasil wawancara kepada menggunakan kartu BPJS, tentang kepuasan pelayanan kesehatan yang telah diberikan oleh rumah sakit

HD , laki-laki, 27 tahun, karyawan swasta mengatakan

“ Tidak puas. Karena masih terasa perbedaan pelayanan saat

Dokumen terkait