• Tidak ada hasil yang ditemukan

VI HASIL DAN PEMBAHASAN

6.5 Dampak Kenaikan Tarif Air pada Maret

Penetapan tarif rendah untuk kategori pelanggan sosial umum (hidran umum, tempat ibadah, asrama yatim piatu) saat ini adalah Rp 2.000 sedangkan hasil perhitungan didapatkan tarif rendah sebesar Rp 1.838. Hal ini menunjukkan tarif pelanggan sosial umum sudah layak yaitu hanya selisih Rp 162/m3 dari yang seharusnya disubsidi oleh pelanggan tarif penuh. Penetapan tarif rendah untuk

kategori pelanggan sosial khusus (rumah sakit pemerintah, puskesmas, lembaga pendidikan sosial) saat ini adalah Rp 3.000. Penetapan tarif dasar untuk pelanggan rumah saat ini adalah Rp 5.000 sedangkan berdasarkan perhitungan didapatkan tarif dasar sebesar Rp 3.535, artinya tarif yang diberlakukan sudah mencapai kondisi biaya pemulihan penuh. Kelompok pelanggaan tarif bersubsidi (kelompok I dan II) mendapatkan harga yang lebih rendah dari tarif dasar untuk konsumsi blok 1. Sedangkan kelompok IV ke atas dikenakan tarif yang lebih tinggi. Variasi tarif antar kelompok pelanggan dibentuk dalam upaya melakukan subsidi silang untuk meringankan kelompok pelanggan berpendapatan rendah.

Tarif yang berlaku saat ini merupakan kebijakan tarif baru PT Watertech Estate Cikarang setelah menaikkan tarif air sebesar Rp 1.000 pada bulan Maret 2013 untuk setiap blok konsumsi pelanggan. Hal ini dikarenakan semakin tingginya biaya produksi yang harus dikeluarkan perusahaan dalam mengolah air baku menjadi air bersih layak konsumsi untuk didistribusikan kepada pelanggan. Kenaikan tarif air menjadi salah satu solusi bagi perusahaan untuk tetap dapat memberikan kualitas dan pelayanan yang terbaik bagi pelanggan. Berikut adalah perbandingan tarif lama dengan tarif baru PT Watertech Estate Cikarang yang akan diuraikan pada Tabel 11.

Tabel 11 Perbandingan Tarif Lama dan Tarif Baru PT Watertech Estate Cikarang

Pelanggan Tarif lama Tarif baru

Blok 1 (0-10m3) Blok 2 (11-21 m3) Blok 3 (>21 m3) Blok 1 (0-10 m3) Blok 2 (11-21 m3) Blok 3 (>21 m3) Kelompok I (sosial umum) 1 000 2 000 3 000 2 000 3 000 4 000 Kelompok II (sosial khusus) 2 000 3 000 4 000 3 000 4 000 5 000 Kelompok III (rumah) 3 000 4 000 5 000 4 000 5 000 6 000 Kelompok IV A (rumah mewah dan niaga kecil) 4 000 5 000 6 000 5 000 6 000 7 000 Kelompok IV B (industri kecil) 5 000 6 000 7 000 6 000 7 000 8 000 Kelompok IV C (niaga besar) 7 000 8 000 9 000 8 000 9 000 10 000 Kelompok V (industri besar) 9 000 10 000 11 000 10 000 11 000 12 000

Pada Tabel terlihat bahwa telah terjadi kenaikan tarif sebesar Rp 1.000 pada setiap tingkat kelompok pelanggan atas blok konsumsi pemakaian air, sehingga dapat menggambarkan perbandingan antara tarif lama dengan tarif baru. Tarif dasar untuk blok konsumsi 1 sebelum adanya kenaikan tarif adalah Rp 4.000/m3 sementara berdasarkan perhitunga adalah Rp 3.535/m3, artinya tarif yang diberlakukan sudah mencapai kondisi biaya pemulihan penuh.

Mekanisme penetapan tarif diarahkan agar tarif rata-rata nilainya sama atau lebih besar dibandingkan tarif dasar yang dibentuk. Pencapaian kondisi pemulihan biaya penuh (full cost recovery), maka volume air yang terjual untuk kategori tarif penuh lebih besar dibanding dengan tarif air yang dijual pada tarif rendah. Tarif air dari kondisi full cost recovery memasukan biaya tetap baik langsung maupun tidak langsung sebagai biaya usaha air.

Berikut ini adalah gambar grafik yang membandingkan antara tarif lama dan tarif baru yang berlaku saat ini terhadap tarif dasar.

Gambar 5 Perbandingan Tarif Dasar Air PT Watertech Estate Cikarang Dengan prinsip pemulihan biaya, penerimaan perusahaan seharusnya dapat menutupi semua biaya atau pengeluaran perusahaan, sehingga dapat menggantikan barang modal dan suatu investasi tertentu untuk pengembangan usaha perusahaan. Akan tetapi telah terjadi kerugian usaha dari penerimaan penjualan air pada PT Watertech Esate Cikarang sepanjang peridoe tahun 2011

hingga tahun 2013 sebelum diberlakukan kebijakan kenaikan tarif. Penerimaan air PT Watertech Estate Cikarang tahun 2011-2013 dijelaskan pada Lampiran 2.

Pada data tersebut menunjukkan bahwa penerimaan penjualan air PT Watertech Estate Cikarang cenderung mengalami peningkatan. Pada periode Januari 2011-Februari 2013 telah terjadi kerugian dari penerimaan penjualan air. Kerugian paling besar terjadi pada bulan Januari 2011 sebesar Rp 394.338.172 hal ini karena perusahaan baru mulai beroperasi. Adanya kenaikan bahan bakar minyak mengakibatkan harga peralatan dan komponen biaya yang diperlukan untuk produksi, distribusi, pemeliharaan serta pengelolaan air meningkat. Kenaikan harga bahan bakar minyak, upah minimun rata-rata pegawai, dan harga listrik per kwh untuk industri sangat berpengaruh terhadap biaya operasional perusahaan sehingga diperlukan penyesuaian antara penerimaan dengan biaya perusahaan. Oleh karena itu, pada bulan Maret 2013 kenaikan tarif mulai diberlakukan. Adanya kenaikan tersebut penerimaan penjualan air terus mengalami peningkatan, begitu juga dengan keuntungan usaha yang diterima perusahaan dari penjualan air tersebut. Berikut adalah grafik laba dan rugi perusahaan tahun 2011 sampai 2013.

Gambar 6. Grafik laba dan rugi PT Watertech Estate Cikarang Tahun 2011-2013 Pada gambar diatas dapat dilihat bahwa kenaikan tarif pada bulan Maret 2013 (bulan ke-27) memberikan dampak positif bagi perusahaan air ini. Penerimaan perusahaan atas penjualan air setelah adanya kenaikan tarif berada

diatas grafik total biaya produksi air. Demikan halnya pada grafik keuntungan (laba/rugi) perusahaan, pada bulan ke-27 menunjukkan angka positif. Artinya pada kondisi ini perusahaan sudah tidak mengalami kerugian. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kebijakan kenaikan tarif memberikan dampak positif bagi keuntungan PT Watertech Estate Cikarang.

Penetapan tarif air oleh PT Watertech Estate Cikarang telah mencapai kondisi biaya pemulihan penuh (full cost recovery) yang berarti pendapatan perusahaan dapat menutupi semua biaya atau pengeluaran perusahaan dan bisa memberikan suatu tingkat hasil investasi tertentu diantaranya untuk pengembangan usaha perusahaan. Penetapan tarif air juga harus memperhatikan kemampuan para pelanggan dan subsidi silang diantara para pelanggan yang bertujuan untuk membantu pelanggan yang tidak mampu membayar tarif di tingkat kebutuhan dasar (10 m³ per bulan tiap rumah tangga) dan menetapkan tarif yang lebih tinggi bagi pelanggan yang menggunakan air diatas kebutuhan dasar. Hal ini dilakukan dalam rangka menciptakan efisiensi pemakaian air.

Selain itu, dapat disimpulkan bahwa penetapan tarif air minum oleh PT Watertech Estate Cikarang didasarkan pada kombinasi antara konsep diskriminasi harga (price discrimination) yang didasarkan pada kemampuan membayar dan konsep struktur tarif increasing block tariff . Konsep diskriminasi harga bertujuan untuk mendorong terjadinya subsidi silang (cross subsidies) dari golongan masyarakat yang berpendapatan tinggi ke masyarakat yang berpendapatan rendah. Sedangkan konsep increasing block tariff bertujuan untuk menimbulkan upaya menekan konsumsi oleh pelanggan karena dengan semakin tinggi konsumsi air maka secara progresif semakin besar tarif air minum per m³ yang dibayar.

Perbaikan mutu pelayanan merupakan pertimbangan yang harus dijadikan dasar peningkatan tarif. Pencapaian target pemulihan biaya penuh dilakukan untuk transparansi biaya dan hasil positif berupa keuntungan sehingga dapat digunakan untuk penambahan area pelayanan dan fasilitas penyediaan air bagi masyarakat pelanggan PT Watertech Estate Cikarang kedepannya secara menyeluruh.

BAB VII

Dokumen terkait