• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dampak Kenakalan Anak Terhadap Suasana Kelas

GAMBARAN UMUM SDIT-AL-AMANAH

D. Dampak Kenakalan Anak Terhadap Suasana Kelas

Kenakalan yang dilakukan oleh anak tidak hanya berdampak kepada dirinya saja, akan tetapi berdampak pula terhadap suasana kelas, suasana di dalam kelas menjadi ribut dan sangat tidak kondusif serta sangat mengganggu anak-anak yang lain. Bahkan tidak jarang ada guru yang sampai marah-marah di dalam kelas, seperti yang diungkapkan oleh Dice Aisyah siswi kelas V (lima).

”Iiihh pokonya males banget pak kalo ada anak yang rusuh di kelas udah berisik, ga enak belajar juga. Malahan dulu pernah ada guru yang sampe marah-marah pak gara-gara si dendi sama gengnya ga bisa diem ngeledekin anak-anak mulu”10

Dari pengamatan dan wawancara yang telah penulis lakukan terhadap beberapa orang anak/siswa, banyak mereka yang mengaku sangat terganggu dengan kenakalan yang dilakukan anak-anak ketika berada di dalam kelas, karena apa bila guru sedang menjelaskan itu kurang terdengar akibat suara yang sangat berisik. Alasan yang sama pun telah diungkapkan oleh seorang anak yang bernama M. Lutfi Al-Farisi.

“pernah pak, apa lagi pulpen, buku saya suka ilang mulu, duit saya aja pernah ilang pak lagi istirahat. Malahan waktu itu lagi belajar malahan ada yang berantem di dalem kelas gara-garanya main kata-kataan ehh malah berantem jadinya berisik pak di dalem kelas”11

Bentuk pelanggaran ini memang seringkali dilakukan oleh anak/siswa, namun jika hal ini tetap dibiarkan begitu saja, maka tidak ada kedisiplinan dalam peroses belajar mengajar di SDIT Al-Amanah serta tidak

10

Siswi Kelas V (lima). Wawancara 6 Desember 2010 Dice Aisyah

11

akan adanya suasana yang tenang di dalam kelas ketika kegiatan belajar mengajar berlangsung. Karena suasana di dalam kelas pun sangat mempengaruhi anak-anak dalam menangkap pelajaran yang diberikan oleh gurunya.

E. Tindakan Guru

Tugas para dewan guru di sekolah bukanlah hanya mendidik dan mengajar, tetapi juga memberikan motivasi, bimbingan dan arahan kepada seluruh anak didiknya agar menjadi lebih baik lagi.

Biasanya tindakan guru terhadap anak yang melakukan pelanggaran di SDIT Al-Amanah berbeda-beda sesuai dengan kesalahan yang mereka lakukan, misalkan pelanggaran yang ringan contohnya berpakaian tidak rapih, berbicara tidak sopan, biasanya guru bisa langsung menegurnya dan memberikan nasihat kepada anak yang melanggar tersebut tanpa harus di panggil kedalam ruang guru BP. Berbeda dengan anak yang melakukan pelanggaran yang bisa dibilang berat misalnya berkelahi, mencuri, dan bolos sekolah, dalam prosesnya terhadap anak yang melakukan pelanggaran tersebut pertama-tama si anak akan di panggil oleh guru BP, kemudian guru tersebut akan melakukan interogasi dengan mengajukan beberapa pertanyaan yang sekiranya dapat memberikan keterangan apa yang dilakukan oleh anak tersebut, ketika semuanya sudah jelas dan benar bahwa anak tersebut bersalah, maka hukuman yang sesuai akan diberikan kepada anak yang melakukan kesalahan tersebut. Seperti pernyataan dari guru BP :

“Tindakan guru di sekolah ini berbeda-beda tergantung dengan kesalahan yang anak lakukan, misalnya berpakaian tidak rapih, berbicara yang tidak sopan itu bisa langsung di tegur di tempat oleh guru yang melihatnya tanpa harus di panggil ke ruangan kantor guru BP. Berbeda dengan mereka yang melakukan kesalahan seperti mencuri, bertengkar, dan bolos sekolah barulah itu di panggil langsung oleh guru BP”12

Hukuman memang suatu yang penting dalam dunia pendidikan karenan dengan adanya hukuman diharapkan dapat memperbaiki tingkah laku siswa/anak yang tidak dapat diatasi dengan teladan dan nasihat. Untuk lebih memperjelas pemahaman mengenai hukuman, berikut pendapat dari Ngalim Purwanto mengenai pengertian hukuman yaitu suatu penderitaan yang diberikan atau ditimbulkan dengan sengaja oleh seseorang (orang tua, guru dsb) sesudah terjadinya pelanggaran, kejahatan atau kesalahan. Maksud dari pemberian hukuman itu bermacam-macam, hal ini terkait dengan pendapat yang dijelaskan oleh Elizabeth Hurlock (1990) yang mengatakan bahwa fungsi hukuman yaitu:

1. Menghalangi pengulangan tindakan yang tidak diinginkan oleh msyarakat. siswa/i yang telah dihukum biasanya urung melakukan tindakan tersebut karena teringat dengan hukuman yang pernah dirasakannya.

2. Mendidik, siwa/anak dapat belajar tindakan yang benar dan salah dari hukuman. Apabila siswa/i mendapat hukuman berarti siswa/i tersebut melakukan kesalahan dan tidak akan mendapatkan hukuman apabila tidak melakukan kesalahan.

12

3. Member motivasi untuk menghindari prilaku yang tidak diterima masyarakat dan teman-temannya.13

Sudah sepatutnya peemberian hukuman harus tetap dalam jalinan cinta dan kasih sayang, pemberian hukuman harus didasarkan pada alasan “keharusan” artinya sudah tidak ada alat pendidik yang lain yang bisa dipergunakan, pemberian hukuman harus dapat menimbulkan kesadaran dan penyesalan terhadap anak, pemberian hukuman pun harus diikuti dengan pemberian ampun dan disertai dengan harapan serta kepercayaan.

Menurut penulis hukuman memang diperlukan untuk membuat efek jera bagi si pelanggar. Tapi hukuman tersebut harus sesuai dengan tindakn yang telah dilakukan si pelanggar, dan tidak semata-mata karena emosi dan rasa kesal terhadap si pelanggar jika hal ini sampai terjadi maka tidak menutup kemungkinan dapat timbulnya pro dan kontra dari berbagai pihak baik seperti oran tua itu sendiri.

Oleh karena itu tindakan koreksi anak-anak nakal sebenarnya membutuhkan tenaga-tenaga ahli yang terdidik seperti pekerja sosial, ahli pekerja kemasyarakatan, psikolog, pendidik, pembimbing dan psikiater. Dengan dikerahkannya cukup ahli yang terdidik dalam bidangnya masing-msing, barulah dapat diharapkan koreksi terhadap gejala-gejala delikuensi secara meluas dan mendalam.

Maka, pada anak yang delikuen, khususnya yang sudah tidak bisa ditangani lagi oleh orang tua dan anggota keluarga sendiri maupun guru BK di

13

sekolah perlu kiranya dipikirkan permintaan bantuan seorang professional seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Walaupun kadar para professional ini berbeda-beda (tergantung dari pendididkannya masing-masing). Akan tetapi setidaknya mereka mempunyai pengetahuan dan keahlian tertentu yang tidak dimiliki oleh orang awam.

Seperti peran pekerja sosial terhadap anak yang bermasalah yaitu sebagai pendamping bukan sebagai penyembuh atau pemecah masalah. Seorang pekerja sosial bertugas sebagi fasilitator yang memfasilitasi seorang klien untuk melakukan perubahan, karena pada dasarnya setiap perubahan akan terjadi jika adanya usaha dari klien itu sendiri.sebagai mediator yang bertugas untuk menjembatani atau pendamai pihak ketiga antara orang tua dengan anak, anak dengan guru, anak dengan teman sebayanya dan anak dengan lingkungannya.

Beberapa cara yang dapat dilakukan dalam proses pendampingan sosial yaitu memotivasi anak agar dapat berfungsi sosial dan bisa menjadi seorang anak yang dibanggakan oleh orang tua lalu mendukung mereka untuk melakukan perubahan pada diri si anak,

65 PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari hasil penelitian kulitatif dan juga pengumpulan data melalui observasi dan wawancara yang penulis lakukan di SDIT Al-Amanah Pasiron Curug Bojongsari Kota Depok, dan berdasarkan penjelasan yang telah penulis uraikan pada bab-bab sebelumnya dan telah penulis analisis sebagai faktor yang menjadi penyebab seorang anak menjadi nakal/delikuen, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Nilai-nilai agama juga sangat memperkokoh mental dan sepiritual seorang anak dimulai dari lingkungan keluarga dengan menanamkan dan menjunjung tinggi norma agama. Menjadi suatu kelebihan jika seorang anak disekolahkan di lembaga pendidikan islam, dengan begitu diharapkan anak tersebut bisa lebih memahami ajaran agama Islam yang nanti diharapkan menjadi pedoman hidup mereka kelak.

2. Lingkungan yang tidak baik pun sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak, dan seorang anak pun harus lebih diperhatikan dalam bergaulnya, sebab terkadang mereka salah bergaul dan lebih tertarik kepada kelompok temannya ketimbang orang tuanya.

3. Seorang anak sangat membutuhkan peran serta orang tua untuk mendidik dan membimbingnya dalam menjalani setiap proses peralihan ketika mereka menjadi remaja dan dewasa. Cara orang tua yang salah dalam mendidik, membimbing serta orang tua yang terlalu perhatian dan

cenderung over proctetive dapat menyebabkan seorang anak menjadi delikuen. Berdasarkan temuan kasus di lapangan, faktor penyebabnya berbeda-beda, namun penulis lebih banyak menemukan kasus dengan faktor penyebab keharmonisan keluarga sehingga kurangnya perhatian terhadap anak.

4. SDIT Al-Amanah menjadi pilihan yang utama bagi masyarakat disekitarnya karena mengajarkan bukan hanya sikap hidup di dunia, tetapi sikap hidup di akhirat (spiritual). Karena sekolah ini sangat mementingkan menanamkan nilai-nilai agama sedini mugkin kepada siswa/I nya.

Pihak sekolah pun tidak segan untuk memberikan teguran kepada siswa/i nya yang melakukan pelanggaran.

B. Saran

1. Agama menjadi bekal bagi seorang anak, karena dengan ditanamkannya nilai-nilai agama sedini mungkin diharapkan dapat menjadi peribadi anak yang Islami, jadi sudah seharusnya dan menjadi kewajiban, khusus orang tua untuk menanamkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari karena seorang ibu adalah sekolah yang utama untuk anak-anaknya.

2. Sebagai orang tua harus memilih lingkungan yang baik sebagai tempat mereka bermain, seperti sealektif dalam memilih teman sebaya dan jangan sampai terbawa arus lingkungan yang buruk.

3. Sebagai orang tua sudah seharusnya mendampingi perkembangan anaknya dan selalu kooperaktif dengan guru untuk mengetahui perkembangan

anaknya di sekolah. Orang tua harus mempunyai waktu bersama dengan anak dan mendengarkan semua cerita yang akan anak ceritakan. Sedini mungkin ditanamkannya nilai-nilai agama yang akan menjadi pondasi dasar bagi anak. Orang tua harus benar-benar tanggap dengan perubahan sikap anak, jika ada sikap-sikap yang berubah dari anak maka orang tua dapat mencari tahu langsung penyebabnya dan segera mungkin meminimalisir penyebab tersebut karena jika dibiarkan saja seorang anak akan benar-benar menjadi nakal.

4. Pemilihan sekolah yang berbasis agama bisa juga menjadi salah satu pilihan untuk orang tua dalam meminimalisir terdjadinya kenakalan anak. Berikan pendidikan yang terbaik bagi anak bukan yang terbaik bagi orang tua.

5. Saran untuk guru BP

Saya rasa akan lebih baik jika yang menangani anak yang bermasalah tidak hanya guru BP saja alangkah lebih baiknya semua guru dapat bertanggung jawab terhadap semua siswa/i.

6. Saran untuk pengurus Yayasan

Meskipun yayasan tidak terlalu terlibat dalam menangani permasalahan yang ada pada siswa/i, namun untuk memberikan motivasi dan perhatian pada para guru harus lebih dipentingkan dan ditingkatkan, karena dengan demikian para guru akan merasa lebih semangat dalam menjalani tugas-tugasnya.

68

Departemen Agama RI, Wawasan Tugas dan Tenaga Kependidikan, (Jakarta: Direktorat Jendral Kelembagaan Agama Islam, 2005),

Abu Al-Ghifari, Fiqh Remaja Kontemporer, (Jakarta: Media Qolbu, 2005), Cet. Ke-1, Qoimi Ali 2002.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (849:1988).

Prof. DR. Hj. Zakiah Daradjat, Siswa, harapan dan tantangan, jakarta: Ruhana, 1995.

Kartini Kartono, Patologi Sosial (Gangguan-gangguan Kejiwaan), Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,2003.

Drs. Sudarsono ,S.H. Kenakalan Siswa, Rineka Cipta,1991.

E. Kristi Poerwandari, Pendekatan kualitatif dalam Pnelitian Psikologi. Jakarta: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 1998.

Lexy Moleong. Metodologi Penelitian Kualitatip, edisi Revisi, Bandung : Rosda Karya, 2007,Cet Ke-23,

Tirtiadi A. Ardani, lin T. Rahayu, Yulia Sholichatun, Psikologi Klinis, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2007)

Robert L. Barker, The Social Work Dictionary, (Washington DC: NASW Prees, 1995),

Adi Ilmu Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial, Robert L. Barker, The social Work Dictionari,

Mendosa (1981:4) dalam Isbandi Rukminto Adi Ilmu Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial, (Jakarta: FISIP UI Pres,2004),

Adi Ilmu Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial, (Wirdiani dan Soetjiningsih 2004 : 244).

Prof. Dr. Singgih D. Gunarsa dan Dra. Ny. Y. Singgih D. Gunarsa, Psikologi Praktis: Anak, Remaja dan Keluarga. (Jakarta PT. BPK Gunung mulia 1955)

Prof.Dr.H. Dadang Hawari, Psikiater “Al-Quran : Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Jiwa” Yogyakarta : PT.Dana Bakti Prima, 2004,

Elizabeth Hurlock. Psikologi Perkembangan Anak, Jakarta:Erlangga,1990, jilid 2. Mary Richmond, (1922:98-990) dalam Rex A. Skidmore, Thackeray, O Wiliam

Farley, Introduction to Social Work, (New Jersey: Prentice hall Inc.. 1994)

Drs. Isbandi Rukminto Adi, Psikologi, Pekerjaan Sosial dan Ilmu Kesejahteraan Sosial Dasar-dasar pemikiran. (Jakarta PT. Raja Gratindo Press 1994) Rex A. Skidmore Thackeray, O William Farley, Introductions to Social Work,

Dokumen terkait