• Tidak ada hasil yang ditemukan

Biaya-biaya yang dikeluarkan responden untuk pengobatan yang disebabkan oleh pencemaran. Adapun jenis penyakit yang dominan diderita masyarakat Kecamatan Medang Kampai antara lain ISPA, Diare, dan penyakit kulit. Umumnya masyarakat melakukan pengobatan ke Rumah Sakit Umum, Puskesmas, Dokter Spesialis, pengobatan tradisional, ditambah dengan ongkos angkutan menuju ke lokasi pengobatan, atau berobat sendiri dengan menggunakan ramuan sendiri. Semua biaya-biaya ini diakumulasi sehingga diperoleh total biaya pengobatan yang dikeluarkan oleh responden (Gambar 11). Dalam satu tahun, ada masyarakat yang hanya terkena sekali sakit dan hanya satu jenis penyakit saja. Namun ada pula yang kena penyakit lebih dari sekali dan lebih dari satu jenis penyakit.

Nilai biaya kesehatan dalam penelitian ini diperoleh melalui pendekatan fungsi permintaan, dimana Y sebagai variabel dependen dipengaruhi oleh lamanya masyarakat mengalami sakit dan jenis penyakit yang dideritanya. Sehingga jika dimasukkan ke dalam fungsi permintaan adalah Y=10.550551+(0.37127536x0,47)+(0.0167282x2,75), dari persamaan tersebut diketahui rata-rata biaya pengobatan individu sebesar nilai Y yaitu 10,77 atau setelah dikembalikan ke persamaan awal menjadi 47.630,27, maka dari nilai tersebut diketahui biaya pengobatan akibat pencemaran yaitu sebesar Rp.47.630,27 per orang selama satu tahun. Setelah dikalikan dengan jumlah populasi (yang sudah terkena dan yang potensial terkena penyakit akibat pencemaran) sebesar 7.000 orang, maka diketahui total biaya penyakit sebesar Rp. 333.411.863,36 per tahun. Total inilah biaya pengobatan yang harus mendapatkan kompensasi dari pihak pertama atas pencemaran yang ditimbulkannya. Di bawah ini adalah output hasil regresi dari persamaan di atas (Tabel 8):

Tabel 8. Hasil Regresi Biaya Pengobatan Masyarakat Pesisir Kecamatan Medang Kampai, Kota Dumai

Coefficients Standard

Error t Stat P-value F R

2 Intercept 10.550551 0.1664018 63.4040886 1.499047 Jumlah penyakit 0.3712753 0.1328665 2.7943489 0.006292 Lama sakit 0.0167282 0.0566873 0.29509628 0.768565 4.153639 0.0804 Ln Biaya pengobatan = 10,77 Biaya Pengobatan (Rp.) = 47.630,27

Jumlah Populasi (orang) = 7.000,00

Total biaya pengobatan (Rp) = 333.411.863,36

Dari Tabel di atas terlihat bahwa lamanya masyarakat mengalami sakit akibat pencemaran dan jenis penyakit yang dideritanya berpengaruh positif terhadap biaya pengobatan atas penyakit tersebut. Diketahui bahwa koefisien lamanya kena penyakit sebesar 0.0167282 dan koefisien jumlah penyakit yang diderita sebesar 0.3712753 yang berarti bahwa semakin banyak jenis penyakit yang diderita masyarakat, maka semakin tinggi pula biaya yang dikeluarkan. Begitu juga dengan lamanya masyarakat menderita penyakit, semakin lama sakit maka semakin tinggi biaya yang dikeluarkan.

Untuk mengetahui sejauh mana tingkat signifikansi dari model yang menjelaskan hubungan nyata atau biaya pengobatan dengan faktor-faktor yang mempengarhuinya, maka model regresi di atas diuji dengan menggunakan uji F. berdasakan uji statistik, hasil uji F menunjukkan F hitung sebesar 1.899849 lebih kecil dari F table. 5,69 pada selang kepercayaan 95 persen. Nilai F hitung lebih kecil dari F tabel ini menunjukkan bahwa peubah bebas yang terdapat dapat fungsi permintaan model log berganda tersebut berpengaruh tidak signifikan dalam menjelaskan hubungan antara lamanya sakit, banyaknya jenis penyakit yang diderita terhadap tingkat besarnya biaya yang dikeluarkan untuk pengobatan.

Dengan menghitung Coufounding dan Discounting maka diperoleh bahwa

perbandingan nilai riel uang di masa lalu dengan nilai riel di masa sekarang dan masa yang akan datang. Nilai uang sebesar Rp.76.708,59 pada masa lima tahun lalu sama artinya dengan Rp. 47.630,00 di masa sekarang. Dan nilai tersebut pada lima tahun kedepan akan sama nilai dengan Rp.29.574,48 (tabel 9). Hal ini diasumsikan terjadi karena dipengaruhi oleh tingkat inflasi. Dengan demikian, jika dilakukan kompensasi

pada tahun tertentu, maka nilai kompensasinya ditentukan oleh tingkat bunga yang berlaku dan tahun kapan akan dibayarkan.

Tabel 9. Rata-rata Biaya Pengobatan Setelah di Counfounding dan Discounting

Sumber: data primer diolah

Penurunan Pendapatan

Penurunan pendapatan masyarakat dipengaruhi oleh frekuensi kerja dari masyarakat menurun akibat gangguan kesehatan. Hal ini akan berpengaruh pada upah yang diperoleh masyarakat sehingga akan berpengaruh terhadap tingkat konsumsi masyarakat. -200,000.00 400,000.00 600,000.00 800,000.00 1,000,000.00 1,200,000.00 1,400,000.00 1,600,000.00 1,800,000.00 P e nda pa ta n ( R p) Ne la yan Pe tern ak Pedag ng PN Bu ruh Buru h t ani Sw asta Ke lompok M asyarakat

Total Pendapatan tahun 2007

Gambar 12. Total Pendapatan Masyarakat Kecamatan Medang Kampai

Akibat penyakit yang dideritanya menyebabkan hilangnya kesempatan masyarakat untuk bekerja, sehingga kesempatan untuk mendapatkan uang menjadi

Tahun DF/CF Biaya pengobatan Nilai dulu & Sekarang

5 1.61051 47.630,00 76.708,59 4 1.4641 47.630,00 69.735,08 3 1.331 47.630,00 63.395,53 2 1.21 47.630,00 57.632,30 1 1.1 47.630,00 52.393,00 0 1 47.630,00 47.630,00 1 0.909090909 47.630,00 43.300,00 2 0.826446281 47.630,00 39.363,64 3 0.751314801 47.630,00 35.785,12 4 0.683013455 47.630,00 32.531,93 5 0.620921323 47630,00 29.574,48

hilang karena mereka tidak bekerja. Dari hasil valuasi yang dilakukan diperoleh bahwa masyarakat yang paling besar kesempatan kehilangan pendapatan adalah kelompok masyarakat peternak yaitu rata-rata sebesar Rp.75.000/hari, dan yang paling rendah adalah kelompok BUMD/BUMN/Swasta yaitu sebesar Rp.40.714,29 (Gambar 13).

Rata-rata Pengeluaran Masyarakat untuk Berobat

-10,000.00 20,000.00 30,000.00 40,000.00 50,000.00 60,000.00 70,000.00 80,000.00 Nelay an Pet ernak Ped agn g Gu ru/P NS /AB RI Bur uh Buruh tan i BU MD /BU MN /Sw asta Series1

Gambar 13. Rata-rata nilai kehilangan pendapatan Masyarakat Kecamatan Medang Kampai selam sakit.

Besarnya kerugian tersebut yang seharusnya diperoleh oleh masyarakat yang terkena dampak pencemaran tersebut dari pihak pencemar. Akibat dari penyakit-penyakit ini menyebabkan kesempatan untuk bekerja menjadi hilang. Sehingga pendapatan yang seharusnya diperoleh dari bekerja tersebut menjadi hilang. Kehilangan pendapatan tersebut ditentukan melalui jumlah hari tidak bekerja dikalikan dengan pendapatan perhari.

Sebagai dasar dalam memberikan kompensasi, dapat dilakukan dengan mengukur nilai uang dimasa lalu, masa kini dan dimasa yang akan datang. Nilai uang tersebut otomatis akan mengalami penurunan dari waktu ke waktu karena dipengaruhi oleh tingkat inflasi. Tinggi rendahnya tingkat penurunan tersebut diukur dengan fluktuasi tingkat bunga yang berlaku. Tabel dibawah ini menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan masyarakat pesisir Medang Kampai lima tahun lalu Rp.1.211.244,49 per bulan, terus mengalami penurunan akibat inflasi yang terjadi sebesar 10 persen. Artinya, terjadi penurunan sebesar 10 persen nilai pendapatan rata-rata masyarakat setiap tahun. Berikut

adalah perubahan nilai uang dari pendapatan masyarakat setelah dilakukan discounting

dan counfounding (Tabel 10):

Tabel 10. Rata-rata Pendapatan Masyarakat Setelah di Counfounding dan Discounting

Tahun DF/CF 10% Rata-rata

Pendapatan/bulan

Nilai dulu & sekarang 5 1.61051 1.211.244,49 1.950,721,36 4 1.4641 1.211.244,49 1.773,383,06 3 1.331 1.211.244,49 1.612,166,42 2 1.21 1.211.244,49 1.465,605,83 1 1.1 1.211.244,49 1.332,368,94 0 1 1.211.244,49 1.211,244,49 1 0.909090909 1.211.244,49 1.101,131,35 2 0.826446281 1.211.244,49 1.001,028,50 3 0.751314801 1.211.244,49 910.025,91 4 0.683013455 1.211.244,49 827.296,28 5 0.620921323 1.211.244,49 752.087,53

Sumber: data primer diolah

Tabel di atas menunjukkan bahwa perbandingan nilai riel uang di masa lalu dengan nilai riel di masa sekarang dan masa yang akan datang. Nilai uang sebesar Rp.1.950,721,36 pada masa lima tahun lalu sama artinya dengan Rp.1.211.244,49 di masa sekarang. Dan nilai tersebut pada lima tahun kedepan akan sama nilai dengan Rp.752.087,53. Hal ini diasumsikan terjadi karena dipengaruhi oleh tingkat inflasi. Dengan demikian, jika dilakukan kompensasi pada tahun tertentu, maka nilai kompensasinya ditentukan oleh tingkat bunga yang berlaku dan tahun kapan akan dibayarkan.

Partisipasi Dalam Pengendalian Pencemaran

Keinginan masyarakat untuk mau membayar atau Willingness to pay merupakan

pengukuran jumlah maksimum masyarakat Kecamatan Medang Kampai untuk membayar sejumlah uang guna memperoleh kualitas lingkungan yang lebih baik akibat pencemaran oleh perusahaan-perusahaan disekitarnya, atau sejumlah uang yang dikeluarkan untuk menghindari terjadinya penurunan kualitas lingkungan. Persyaratan WTP yang harus dipenuhi menurut Haab dan McConner (2002) dalam Fauzi (2004) adalah apabila WTP tidak melebihi batas atas yang negatif, batas atas WTP tidak boleh melebihi pandapatan, dan adanya konsistensi atara keacakan pendugaan dan keacakan penghitungannya.

Dalam bahasan ini menjelaskan tentang keinginan dari masyarakat yang menjadi responden untuk membayar biaya perbaikan lingkungan akibat dari pencemaran. Sedangkan berapa jumlah yang ingin dibayar oleh responden akan dibahas selanjutnya setelah pembahasan ini. Hasil regresi logit menunjukkan sebagai berikut:

Tingkat Pendidikan Responden (A3)

Tingkat pendidikan responden sangat berpengaruh terhadap mau atau tidaknya responden membayar atas kerusakan lingkungan yang terjadi atas pencemaran lingkungan. Karena tingkat pendidikan pada umumnya akan mempengaruhi cara berpikir responden menyangkut logis atau tidaknya keputuasn yang akan diambil. Jika tingkat pendidikannya tinggi, maka keinginan responden untuk membayar relative tinggi dan akan memberikan penilaian yang tinggi atas biaya perbaikan kualitas lingkungan tersebut. Dan sebaliknya, responden yang memiliki pendidikan lebih rendah, umumnya kurang menyadari dampak dari adanya pencemaran bagi kesehatannya.

a. SLTP Sederajat (A3 (1))

Responden yang berpendidikan SLTP sederajat tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap keinginan untuk membayar biaya perbaikan lingkungan. Pada taraf alpa 10 persen, nilai signifikansi yang didapat lebih besar dari 0,10 yaitu sebesar 0,938. Hal ini berarti responden yang berpendidikan SLTP sederajat tidak mempengaruhi keinginan untuk membayar biaya perbaikan lingkungan. Nilai koefisien yang diperoleh A3 (1) sebesar 12,754 menunjukkan bahwa nilainya bertanda positif. Hal ini berarti bahwa responden yang berpendidikan SLTP sederajat mempunyai peluang lebih besar untuk tidak mau membayar dibanding responden yang hanya berpendidikan SD sederajat. Dengan nilai beta sebesar 345947.9 berarti bahwa responden yang berpendidikan SLTP sederajat mempunyai peluang untuk tidak mau membayar sebesar 345947.9 kali responden yang memiliki pendidikan SD sederajat. Hal ini berarti bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan masyarakat, peluang untuk mau membayar semakin kecil.

b. SLTA Sederajat (A3 (2))

Pada variabel pendidikan dengan jenjang SLTA sederajat tidak memberikan pengaruh yang sifnifikan terhadap keinginan untuk membayar biaya perbaikan lingkungan pada taraf alpa sebesar 10 persen, karena nilai sifnifikansinya yang didapat

lebih besar dari 0.10 yaitu sebesar 0.950. Hal ini berarti bahwa responden yang berpendidikan SLTA Sederajat tidak mempengaruhi keinginan untuk membayar biaya perbaikan kualitas lingkungan.

Nilai koefiesien yang diperoleh A3 (2) sebesar 10.398 menunjukkan angka positif. Hal ini berarti bahwa responden yang memiliki pendidikan SLTA Sederajat mempunyai peluang lebih besar untuk membayar kerusakan lingkungan dibandingkan dengan responden yang berpendidikan SD Sederajat. Dengan nilai beta sebesar 32789.039 bararti bahwa responden yang berpendidikan SLTA Sederajat mempunyai peluang untuk tidak mau membayar sebesar 32789.039 kali responden yang memiliki pendidikan SD Sederajat.

c. Akademi / Perguruan Tinggi (A3 (3))

Sedangkan pada variabel pendidikan dengan jenjang Akademi/Perguruan Tinggi tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap keinginan untuk membayar biaya

perbaikan kualitas lingkungan pada taraf α = 10 persen, karena nilai signifikansi yang

didapat lebih besar dari 0.10 yaitu sebesar 0.957. Hal ini berarti bahwa responden yang berpendidikan Akademi/Perguruan Tinggi tidak mempengaruhi keinginan untuk membayar biaya perbaikan kualitas lingkungan.

Nilai koefisien/slope yang diperoleh A3 (3) sebesar 8.949. Terlihat bahwa nilainya bertanda positif. Hal ini berarti bahwa responden yang memiliki pendidikan Akademi/Perguruan Tinggi mempunyai peluang lebih besar untuk tidak mau membayar

dibanding responden yang berpendidikan SD sederajat. Dengan nilai Exp (β) sebesar

7703.575 berarti responden yang berpendidikan Akademi/Perguruan Tinggi mempunyai peluang untuk tidak mau membayar sebesar 7703.575 kali responden yang memiliki pendidikan SD sederajat (Gambar 14).

Peluang Masyarakat Untuk Mem bayar -100,000.00 200,000.00 300,000.00 400,000.00 sltp slta PT

Gambar 14. Peluang Masyarakat Untuk Mau Membayar Perbaikan Lingkungan Akibat Pencemaran

Dari Gambar di atas menunjukkan bahwa makin rendah tingkat pendidikan masyarakat, maka peluang masyarakat untuk mau membayar sejumlah uang untuk memperbaiki kualitas lingkungan akibat adanya pencemaran semakin tinggi. Pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi, masyarakat semakin sadar bahwa untuk memperbaiki kualitas lingkungan bukan kewajiban masyarakat, melainkan kewajiban dari pihak yang melakukan pencemaran.

6.1.2 Tingkat Pendapatan

Tingkat pendapatan juga berpengaruh terhadap keinginan responden untuk membayar biaya kerusakan lingkungan. Hal ini berkaitan dengan kemampuan responden dalam memenuhi kebutuhan rumah sebagai prioritas utama yang harus dipenuhi.

1. Pendapatan Antara Rp 750.000; s/d Rp 1.000.000; (C1(1))

Pada variabel pendapatan yang berkisar antara Rp 750.000; s/d Rp 1.000.000; ini memberikan pengaruh yang signifikan terhadap keinginan untuk membayar biaya perbaikan kualitas lingkungan pada taraf alpa sama dengan 10 persen, karena nilai signifikansi yang didapat lebih kecil dari 0.10 yaitu sebesar 0.092. Hal ini berarti bahwa responden yang memiliki pendapatan antara Rp 750.000; s/d Rp 1.000.000; mempengaruhi keinginan untuk membayar biaya perbaikan kualitas lingkungan.

Sedangkan nilai slope/koefisien yang diperoleh bertanda negatif yaitu -4.571. Hal ini dapat diinterpretasikan bahwa responden yang memiliki pendapatan antara Rp 750.000; s/d Rp 1.000.000; berpeluang lebih kecil untuk tidak mau membayar dibanding

diperoleh sebesar 0.010, yang berarti bahwa responden yang memiliki pendapatan antara Rp 750.000; s/d Rp 1.000.000 mempunyai peluang untuk tidak mau membayar sebesar 0.010 kali responden yang memiliki pendapatan kurang dari Rp 750.000;.

6.2.3. Jumlah Tanggungan Keluarga (C2)

a) Sama dengan 5 orang (C2(1))

Pada variabel jumlah tanggungan keluarga sebanyak 5 orang tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap keinginan untuk membayar biaya perbaikan kualitas

lingkungan pada taraf α = 10%, karena nilai signifikansi yang didapat lebih besar dari

0.10 yaitu sebesar 0.797. Hal ini berarti bahwa responden yang menanggung 5 orang dalam keluarganya tidak mempengaruhi keinginan untuk membayar biaya perbaikan kualitas lingkungan.

Nilai koefisien/slope yang diperoleh C2 (1) sebesar 11.868. Terlihat bahwa nilainya bertanda positif. Hal ini berarti bahwa responden yang memiliki tanggungan keluarga sebanyak 5 orang mempunyai peluang lebih besar untuk tidak mau membayar

dibanding responden yang memiliki tanggungan keluarga >5 orang. Dengan nilai Exp (β)

sebesar 142669.9 berarti responden yang memiliki tanggungan keluarga sebanyak 5 orang mempunyai peluang untuk tidak mau membayar sebesar 142669.9 kali responden yang memiliki tanggungan keluarga lebih dari lima orang.

b) Kurang dari 5 orang (C2(2))

Pada variabel jumlah tanggungan keluarga sebanyak kurang dari 5 orang tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap keinginan untuk membayar biaya perbaikan kualitas lingkungan pada taraf alpa sama dengan 10 persen, karena nilai signifikansi yang didapat lebih besar dari 0.10 yaitu sebesar 0.134. Hal ini berarti bahwa responden yang menanggung kurang dari 5 orang dalam keluarganya tidak mempengaruhi keinginan untuk membayar biaya perbaikan kualitas lingkungan.

Nilai koefisien/slope yang diperoleh C2 (2) sebesar 1.761. Terlihat bahwa nilainya bertanda positif. Hal ini berarti bahwa responden yang memiliki tanggungan keluarga sebanyak kurang dari 5 orang mempunyai peluang lebih besar untuk tidak mau membayar dibanding responden yang memiliki tanggungan keluarga lebih besar dari 5

orang. Dengan nilai Exp (β) sebesar 5.821 berarti responden yang memiliki tanggungan

sebesar 5.821 kali responden yang memiliki tanggungan keluarga lebih besar dari 5 orang.

6.2.3. Tingkat Umur (A2)

a) Umur 21 – 30 tahun (A2 (1))

Variabel tingkat umur yang berkisar 21 - 30 tahun tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap keinginan untuk membayar biaya perbaikan kualitas lingkungan pada taraf alpa sama dengan 10 persen, karena nilai signifikansi yang didapat lebih besar dari 0.10 yaitu sebesar 0.970. Hal ini berarti bahwa usia yang berkisar 21 – 30 tahun yang dimiliki oleh responden tidak mempengaruhi keinginan untuk membayar biaya perbaikan kualitas lingkungan.

Nilai koefisien/slope yang diperoleh A2 (1) sebesar -6.146. Terlihat bahwa nilainya bertanda negatif. Hal ini berarti bahwa responden yang berumur 21 – 30 tahun mempunyai peluang lebih kecil untuk tidak mau membayar dibanding responden yang

memiliki umur 15 – 20 tahun. Dengan nilai Exp (β) sebesar 0.002 berarti responden yang

berumur 21 – 30 tahun mempunyai peluang untuk tidak mau membayar sebesar 0.002 kali responden yang berumur 15 – 20 tahun.

b) Umur 31 - 40 tahun (A2 (2))

Pada variabel tingkat umur yang berkisar 31 - 40 tahun tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap keinginan untuk membayar biaya perbaikan kualitas lingkungan pada taraf alpa sama dengan 10 persen, karena nilai signifikansi yang didapat lebih besar dari 0.10 yaitu sebesar 0.963. Hal ini berarti bahwa usia yang berkisar 31 - 40 tahun yang dimiliki oleh responden tidak mempengaruhi keinginan untuk membayar biaya perbaikan kualitas lingkungan.

Nilai koefisien/slope yang diperoleh A2 (2) sebesar -7.652. Terlihat bahwa nilainya bertanda negatif. Hal ini berarti bahwa responden yang berumur 31 - 40 tahun mempunyai peluang lebih kecil untuk tidak mau membayar dibanding responden yang

memiliki umur 15 – 20 tahun. Dengan nilai Exp (β) sebesar 0.000 berarti responden yang

berumur 31 - 40 tahun mempunyai peluang yang sama untuk tidak mau membayar yaitu 0.000 kali responden yang berumur 15 – 20 tahun.

c) Umur 41 - 50 tahun (A2 (3))

Pada variabel tingkat umur yang berkisar 41 - 50 tahun tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap keinginan untuk membayar biaya perbaikan kualitas lingkungan pada taraf alpa sama dengan 10 persen, karena nilai signifikansi yang didapat lebih besar dari 0.10 yaitu sebesar 0.950. Hal ini berarti bahwa usia yang berkisar 41 - 50 tahun yang dimiliki oleh responden tidak mempengaruhi keinginan untuk membayar biaya perbaikan kualitas lingkungan.

Nilai koefisien/slope yang diperoleh A2 (3) sebesar -10.402. Terlihat bahwa nilainya bertanda negatif. Hal ini berarti bahwa responden yang berumur 41 - 50 tahun mempunyai peluang lebih kecil untuk tidak mau membayar dibanding responden yang

memiliki umur 15 – 20 tahun. Dengan nilai Exp (β) sebesar 0.000 berarti responden yang

berumur 41 - 50 tahun mempunyai peluang yang sama untuk tidak mau membayar yaitu 0.000 kali responden yang berumur 15 – 20 tahun.

d) Umur diatas 50 tahun (A2 (4))

Sedangkan pada variabel tingkat umur yang diatas 50 tahun, juga tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap keinginan untuk membayar biaya perbaikan kualitas lingkungan pada taraf alpa sama dengan 10 persen, karena nilai signifikansi yang didapat lebih besar dari 0.10 yaitu sebesar 0.944. Hal ini berarti bahwa usia yang lebih dari 50 tahun yang dimiliki oleh responden tidak mempengaruhi keinginan untuk membayar biaya perbaikan kualitas lingkungan.

Nilai koefisien/slope yang diperoleh A2 (4) sebesar -11.467. Terlihat bahwa nilainya juga bertanda negatif. Hal ini berarti bahwa responden yang berumur lebih dari 50 tahun mempunyai peluang lebih kecil untuk tidak mau membayar dibanding

responden yang memiliki umur 15 – 20 tahun. Dengan nilai Exp (β) sebesar 0.000 berarti

responden yang berumur lebih dari 50 tahun mempunyai peluang yang sama untuk tidak mau membayar yaitu 0.000 kali responden yang berumur 15 – 20 tahun.

Besarnya Nilai WTP oleh Masyarakat

Range terendah besarnya WTP yang ditawarkan kepada responden adalah antara Rp.0,- hingga Rp.2.500,-, sedangkan range tertinggi yaitu sebesar Rp.10.000,-, sehingga stelah dilakukan regresi logit diperoleh koefisien sebagai berikut:

6.3.1. Jenis Kelamin (Laki-laki / A1(1))

Pada tabel 3 di atas, variabel jenis kelamin (laki-laki) tidak memberikan pengaruh

yang signifikan terhadap besarnya nilai WTP responden pada taraf α = 10%, karena nilai

signifikansi yang didapat lebih besar dari 0.10 yaitu sebesar 0.714. Hal ini berarti bahwa responden yang berjenis kelamin laki-laki tidak mempengaruhi besarnya nilai WTP.

Nilai koefisien/slope yang diperoleh A1(1) sebesar -0.309. Terlihat bahwa nilainya bertanda negatif. Hal ini berarti bahwa responden yang berjenis kelamin laki-laki mempunyai peluang lebih kecil dengan nilai WTP Rp 0; - Rp 2.500; dibanding

responden yang berjenis kelamin perempuan. Dengan nilai Exp (β) sebesar 0.734 berarti

responden laki-laki mempunyai peluang untuk memiliki nilai WTP Rp 0; - Rp 2.500; sebesar 0.734 kali responden perempuan.

6.3.2. Jenis Pekerjaan (A4)

a. Nelayan (A4 (1))

Pada responden yang bermatapencaharian sebagai nelayan tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap besarnya nilai WTP responden pada taraf alpa sama dengan 10 persen, karena nilai signifikansi yang didapat lebih besar dari 0.10 yaitu sebesar 0.270. Hal ini berarti bahwa responden yang menjadi nelayan tidak mempengaruhi besarnya nilai WTP.

Nilai koefisien/slope yang diperoleh A4 (1) sebesar 1.643. Terlihat bahwa nilainya bertanda positif. Hal ini berarti bahwa responden yang bekerja sebagai nelayan mempunyai peluang lebih besar dengan nilai WTP Rp 0; - Rp 2.500; dibanding

responden yang bekerja sebagai petani. Dengan nilai Exp (β) sebesar 5.168 berarti

responden yang bekerja sebagai nelayan mempunyai peluang untuk memiliki nilai WTP Rp 0; - Rp 2.500; sebesar 5.168 kali responden yang bekerja sebagai petani.

b. Pedagang (A4 (2))

Pada responden yang bekerja sebagai pedagang tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap besarnya nilai WTP responden pada taraf alpa sama dengan 10 persen karena nilai signifikansi yang didapat lebih besar dari 0.10 yaitu sebesar 0.773. Hal ini berarti bahwa responden yang menjadi pedagang tidak mempengaruhi besarnya nilai WTP.

Nilai koefisien/slope yang diperoleh A4 (2) sebesar 0.392. Terlihat bahwa nilainya bertanda positif. Hal ini berarti bahwa responden yang bekerja sebagai pedagang

mempunyai peluang lebih besar dengan nilai WTP Rp 0; - Rp 2.500; dibanding

responden yang bekerja sebagai petani. Dengan nilai Exp (β) sebesar 1.479 berarti

responden yang bekerja sebagai pedagang mempunyai peluang untuk memiliki nilai WTP Rp 0; - Rp 2.500; sebesar 1.479 kali responden yang bekerja sebagai petani.

c. PNS/Pensiunan (A4 (3))

Pada responden yang bekerja sebagai PNS / pensiunan tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap besarnya nilai WTP responden pada taraf alpa sama dengan 10 persen karena nilai signifikansi yang didapat lebih besar dari 0.10 yaitu sebesar 0.874. Hal ini berarti bahwa responden yang menjadi PNS/pensiunan tidak mempengaruhi besarnya nilai WTP.

Nilai koefisien/slope yang diperoleh A4 (3) sebesar -9.081. Terlihat bahwa nilainya bertanda negatif. Hal ini berarti bahwa responden yang bekerja sebagai PNS/pensiunan mempunyai peluang lebih kecil dengan nilai WTP Rp 0; - Rp 2.500;

dibanding responden yang bekerja sebagai petani. Dengan nilai Exp (β) sebesar 0.000

berarti responden yang bekerja sebagai PNS/pensiunan mempunyai peluang yang sama untuk memiliki nilai WTP Rp 0; - Rp 2.500; sebesar 0 kali responden yang bekerja sebagai petani.

d. Buruh (A4 (4))

Pada responden yang bekerja sebagai Buruh tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap besarnya nilai WTP responden pada taraf alpa sama dengan 10 persen, karena nilai signifikansi yang didapat lebih besar dari 0.10 yaitu sebesar 0.926. Hal ini berarti bahwa responden yang menjadi Buruh tidak mempengaruhi besarnya nilai WTP.

Nilai koefisien/slope yang diperoleh A4 (4) sebesar -9.280. Terlihat bahwa nilainya bertanda negatif. Hal ini berarti bahwa responden yang bekerja sebagai Buruh mempunyai peluang lebih kecil dengan nilai WTP Rp 0; - Rp 2.500; dibanding

responden yang bekerja sebagai petani. Dengan nilai Exp (β) sebesar 0.000 berarti

Dokumen terkait