• Tidak ada hasil yang ditemukan

TEMUAN DAN ANALISIS DATA

4. Dampak Penggunaan Gawai

Kehadiran gawai bagi anak-anak, di satu sisi memang menawarkan kemudahan dan juga hal-hal lain yang bermanfaat. Namun demikian, di sisi yang lain, ketika gawai hadir dengan segala kelebihannya, ternyata di saat yang sama juga mengundang resiko bagi anak-anak. Munculnya cyber bullying, kemungkinan anak terkontaminasi pornografi dan peluang anak terpapar kekerasan juga menjadi lebih terbuka pada saat mereka memegang gawai dan mengakses internet.

Tabel 20

Perasaan Ketika Tidak Membawa Handphone Perasaan Ketika Tidak Membawa

Handphone

Ya Tidak Total

F % F % F %

1. Takut ketinggalan informasi 74 14,8 426 85,2 500 100 2. Takut tidak bisa dihubungi 94 18,8 406 81,2 500 100 3. Takut tidak ada kegiatan saat luang 116 23,2 384 76,8 500 100 4. Takut tidak bisa bermain game 192 38,4 308 61,6 500 100 5. Takut tidak bisa nonton Youtube 148 29,6 352 70,4 500 100 6. Takut tidak bisa lihat Instagram 60 12,0 440 88,0 500 100

7. Disuruh bawa HP oleh orang tua 58 11,6 442 88,4 500 100 8. Tidak merasakan apa-apa 307 61,4 193 38,6 500 100 Sumber: P21

Bagi anak-anak di Provinsi Jawa Timur, handphone selama ini termasuk benda yang sering bahkan selalu mereka bawa. Meski sebagian besar mengaku tidak masalah kalau suatu saat handphone mereka ketinggalan. Namun demikian, cukup banyak responden yang mengaku membutuhkan handphone dan bahkan ada indikasi memiliki ketergantungan pada perangkat teknologi informasi ini. Sebanyak 38,4% responden mengaku takut tidak bisa bermain game untuk mengisi jeda waktu luang jika tidak membawa handphone. Sebanyak 29,6% responden juga mengaku kalau tidak membwa handphone takut tidak bisa menonton Youtube. Sementara itu, sebanyak 23,2% responden mengaku tidak nyaman jika handphone ketinggalan, karena kuatir tidak ada kegiatan yang bisa dilakukan pada saat ada waktu luang. Sembari menunggu atau jeda istirahat, bermain game di handphone, saling membangun interkasi dengan teman dan lain sebagainya adalah aktivitas yang rutin dilakukan sebagian responden ketika mereka tidak memiliki tugas atau kewajiban sekolah yang harus dikerjakan. Sebanyak 11,6% responden wajib dan merasa tidak enak jika tidak memba handphone karena disuruh orang tua untuk selalu membawanya untuk memudahkan komunikasi di antara mereka dengan orang tuanya.

Studi ini menemukan sebanyak 61,4% responden mengaku tidak merasakan apa-apa meskipun mereka tidak membawa handphone. Yang penting mereka ada aktivitas lain yang bisa dilakukan bersama teman, membaca bacaaan popular atau aktivitas yang lain.

Tabel 21

Rata-rata Selang Responden Mengecek Isi HP

Durasi (menit) F % 1. 1 – 45 372 75,92 2. 46 – 90 84 17,14 3. 91 – 135 29 5,92 4. 136 – 180 5 1,02 Total 490 100 Sumber: P22

Keterangan: 10 responden tidak menggunakan HP, dan hanya menggunakan Tablet/I-Pad dan/ Laptop.

Walaupun tidak termasuk yang benar-benar kecanduan dan menyatakan handphone setiap saat harus ada, studi ini menemukan sebagian besar responden tampaknya memiliki keterikatan yang cukup kuat dengan gadget miliknya. Seperti diakui 75,92% responden, bahwa rata-rata selang waktu responden mengecek handphonenya, apakah ada pesan masuk atau tidak, sekitar 1-45 menit sekali. Sebanyak 17,14% responden mengaku jeda mereka mengecek handphone adalah sekitar 46-90 menit atau sekitar 45 menit sampai dengan 1,5 jam. Hanya 1,02% responden yng mengecek handphonenya sekitar 136-180 menit sekali. Selama di sekolah, anak-anak kebanyakan memang tidak diperkenankan membawa handphone di kelas. Tetapi ketika mereka sdang di rumah atau sedang libur sekolah dan handphone ada di tangan mereka, maka kebutuhan untuk intens mengecek handphone umumnya cukup besar.

Tabel 22

Responden Merasa Tidak Kesepian karena Memanfaatkan HP

Responden Merasa Tidak Kesepian karena Memanfaatkan HP F %

1. Sangat setuju 111 22,22

2. Setuju 182 36,4

3. Ragu-ragu 53 10,6

4. Tidak setuju 144 28,8

5. Sangat tidak setuju 10 2

Total 500 100

Sumber: P23

Bagi anak-anak, keberadaan handphone harus diakui sangat strategis. Dikatakan strategis, sebab sebagian besar responden umumnya merasa kehidupan mereka sehari-hari tertolong dan tidak kesepian karena ada handphone. Dari 500 responden yang diteliti, sebanyak 36,4% responden menyatakan setuju dengan

pernyataan bahwa ia merasa tidak kesepian karena memanfaatkan handphone. Bahkan, sebanyak 22,22% responden mengaku sangat setuju dengan pernyataan itu. Hanya 28,8% responden yang tidak setuju.

Tabel 23

Kegiatan yang Pernah Dilakukan

Kegiatan yang pernah dilakukan Ya Tidak Total

F % F % F %

1. Cyberbullying 114 22,8 386 77,2 500 100

2. Korban Cyberbullying 163 32,6 337 67,4 500 100

3. Akses Cyberporn 25 5,0 475 95,0 500 100

4. Menerima Cyberporn 61 12,2 439 87,8 500 100

5. Akses konten kekerasan 70 14,0 430 86,0 500 100 6. Dikirimi konten kekerasan 121 24,2 379 75,8 500 100 Sumber: P24

Pada saat mereka sedang berkumpul dengan teman, jalan-jalan atau melakukan aktivitas lain bersama dengan teman atau keluarga, memang tidak masalah jika handphone tidak ada. Tetapi lain soal ketika anakanak sedang sendiri di kamar atau di rumah. Kehaidaran handphone menurut sejumlah informan sangat dibutuhkan agar mereka tidak kesepian, karena dengan adanya handphone mereka tetap bisa menjalin komunikasi dengan siapa saja.

Salah satu fungsi utama handphone bagi anak-anak memang sebagai media untuk berkomunikasi, menjalin interaksi dengan teman atau keluarga. Tetapi, pada saat-saat tertentu, keberadaan handphone ternyata juga dimanfaatkan untuk hal-hal yang beresiko. Di luar berbagai kelebihan yang ditawarkan gawai, ternyata ada hal-hal lain yang kontra-produktif. Walaupun tidak semua anak melakukannya, tetapi studi ini menemukan sebanyak 32,6% responden mengaku pernah menjadi korban bullying di media social (cyber bullying), dan sebanyak 22,8% responden mengaku pernah melakukan cyber bullying. Sebanyak 24,2% responden mengaku pernah dikirimi teman atau orang lain konten kekerasan, dan bahkan 14% responden mengaku pernah aktif mengakses konten kekerasan. Yang memprihatinkan, sebanyak 12,2% responden mengaku pernah dikirimi dan menerima konten cyberporn.

Dari segi jumlah, memang tidak terlalu banyak anak yang menerima efek negative penggunaan gawai. Tetapi, ketika control orang tua makin longgar, dan anak makin terbiasa memanfaatkan gawai untuk mengakses pornografi atau konten kekerasan, maka bukan tidak mungkin akan mempengaruhi perkembangan psikologis anak itu sendiri. Di era digital seperti sekarang ini, anak-anak yang makin familiar dengan pemakaian gadget, harus diakui salah satu implikasi negatifnya adalah anak-anak menjadi lebih mudah mengakses konten pornografi. Seperti dikatakan Koordinator End Child Prostitution dan Trafficking (ECPAT) Indonesia Ahmad Sofian bahwa internet adalah faktor utama yang memicu bahaya kecanduan pornografi di kalangan anak-anak. Penelitian ECPAT melaporkan, 50% anak yang kecanduan pornografi melakukan tindak kekerasan seksual kepada anak lainnya.

Di kalangan anak-anak milenial, pornografi adalah godaan terbesar yang acapkali harus dihadapi ketika mereka makin terbiasa memanfaatkan gadget dan internet. Berbeda dengan era satu dekade silam di mana anak-anak yang ingin melihat pornografi harus meminjam atau membeli gambar, majalah dan VCD/DVD porno (blue film), kini berkat perkembangan teknologi informasi dan internet, anak-anak dengan mudah mengakses cyberporn setiap waktu dalam berbagai jenis: gambar, cerita atau film porno. Sebagai anak-anak yang sudah akil balik yang memiliki libido yang tinggi, kecenderungan anak-anak untuk terus mengakses pornografi di dunia maya di satu sisi sebetulnya tidak terlalu mengherankan. Tetapi, di sisi yang lain, ketika anak-anak makin kecanduan mengakses pornografi, dan bersikap makin permisif, maka peluang anak-anak menjadi korban sekaligus pelaku tindakan asusila bukan tidak mungkin menjadi lebih terbuka. Kasus-kasus anak-anak yang mengembangkan pergaulan bebas (free sex), membuat video porno dengan pasangannya, melakukan dating rape, dan bahkan tindak pelecehan seksual (sexual harassment) hingga pemerkosaan (rape), ada indikasi makin meningkat bersamaan dengan makin mudahnya anak-anak mengakses cyberporn.

Tabel 24

Pilihan Kegiatan Sehari-hari Pilihan Kegiatan

Sehari-hari

Lebih senang internetan

Lebih senang

hal-hal lain Sama saja Total

F % F % F % F % 1. Jalan-jalan ke mall 129 25,8 335 67,0 36 7,2 500 100 2. Nonton film di bioskop 160 32,0 311 62,2 29 5,8 500 100 3. Nonton televisi 159 31,8 288 57,6 53 10,6 500 100 4. Olahraga 110 22,0 345 69,0 45 9,0 500 100 5. Kursus/les 129 25,8 320 64,0 51 10,2 500 100 6. Membaca novel/komik 199 39,8 246 49,2 55 11,0 500 100 7. Bermain bersama teman 42 8,4 415 83,0 43 8,6 500 100 Sumber: P25

Sejumlah studi menemukan, anak-anak dan remaja dengan kelompok usia 9 sampai dengan 16 tahun sebanyak 93% terlibat dalam mengakses pornografi online dalam seminggu dan 60% bahkan hampir setiap hari mengakses pornografi internet (Tsaliki, Chronaki, & Olafsson, 2014)113. Secara kuanitatif, jumlah laki-laki dan perempuan yang mengakses internet dilaporkan sebanyak 79% laki-laki dan 51,9% perempuan. Yang sering mengakses internet pornografi laki-laki dengan umur 15 tahun sebanyak 38,5% dan 19 tahun (30,2%). Perempuan dengan umur 15 tahun sebanyak 3,5% dan 19 tahun sebanyak 3,6% (Wallmyr & Welin, 2006)114. Dengan makin meluasnya kepemilikan gawai dan kesempatan anak mengakses internet, bukan tidak mungkin resiko terpapar pornografi juga makin meluas dan mensasar anak-anak yang masih berusia 10-14 tahun.

Selama ini, pilihan aktivitas yang seringkali dilakukan anak-anak sebagian adalah berselancar di dunia maya atau menghabiskan waktu untuk aktivitas yang lain? Ketika pertanyaan ini dilontarkan, sebagian besar responden sebetulnya cenderung lebih senang memanfaatkan wakttu luang untuk hal-hal lain di luar internetan. Tetapi, dari 500 responden yang diteliti cukup banyak anak yang mengaku lebih senang memanfaatkan waktu untuk internetan daripada jalan-jalan ke mal, menonton film bioskop, olahraga, membaca, atau bermain bersama teman. Sebanyak 39,8% responden mengaku lebih senang internetan daripada membaca novel atau komik. Sebanyak 32% responden mengaku lebih senang internetan daripada menonton film di bioskop. Semenrara itu, sebanyak 31,8% responden mengaku lebih senang internetan daripada menonton televisi. Sebanyak 22% responden mengaku lebih senang internetan daripada berolahraga. Bahkan yang ironis, studi ini menemukan ada indikasi sebagian anak (8,4%) ternyata tumbuh menjadi anak yang soliter. Anak-anak yang seharusnya banyak mengisi waktu dengan bermain bersama teman, membangun aktivitas bersama, ternyata ada 8,4% anak yang menyatakan lebih suka internetan sendiri daripada melakukan aktivitas offline.

Tabel 25

Kegiatan yang Dilakukan dalam 6 Bulan Terakhir

Kegiatan 6 Bulan Terakhir Sering Jarang Tidak Pernah Jumlah

F % F % F % F %

1. Belajar dengan teman 147 29,4 261 52,2 92 18,4 500 100 2. Bermain ke rumah teman 308 61,6 166 33,2 26 5,2 500 100 3. Bermain ke rumah saudara 245 49,0 230 46,0 25 5,0 500 100 4. Jalan-jalan ke mall dengan teman 48 9,6 153 30,6 299 59,8 500 100 5. Menginap di rumah teman 30 6,0 142 28,4 328 65,6 500 100

6. Olahraga dengan teman 277 55,4 176 35,2 47 9,4 500 100 7. Main games dengan

8. Nonton bioskop dengan teman

38 7,6 100 20,0 362 72,4 500 100 9. Berlibur dengan

keluarga 278 55,6 195 39,0 27 5,4 500 100

10. Berlibur ke luar kota dengan teman

36 7,2 132 26,4 332 66,4 500 100 Sumber: P26

Dalam 6 bulan terakhir, aktivitas yang banyak dilakukan anak-anak untuk mengisi waktu luang, sebagian besar adalah bermain ke rumah teman (61,6%), bermain ke rumah saudara (49%), olahraga dengan teman (55,4%), atau berlibur dengan keluarga (55,6%). Studi ini menemukan, sebanyak 29,4% responden mengaku lebih sering memanfaatkan waktu untuk mengerjakan PR atau belajar bersama teman.

Tabel 26

Keseringan Responden Membawa HP dalam Kegiatannya

Keseringan Responden Membawa HP dalam Kegiatannya F %

1. Selalu membawa, tidak pernah tidak membawa 92 18,4

2. Sering 93 18,6

3. Jarang 168 33,6

4. Tidak pernah 147 29,4

Total 500 100

Sumber: P27

Studi ini menemukan, sebanyak 33,6% responden mengaku jarang membawa handphone. Namun sebanyak 18,6% responden mengaku sering membawa handphone, dan bahkan 18,4% responden mengaku selalu membawa handphone kemana pun mereka pergi. Sebanyak 29,4% responden mengaku tidak pernah membawa handphone ketika bepergian. Sementara itu, sebanyak 33,6% responden mengaku jarang membawa handphone. Di kalangan keluarga keleas menengah, anak-anak memang umumnya sudah memiliki handphone sendiri dan terbiasa membawa handphone kemana pun mereka pergi. Tetapi, bagi anak-anak yang berasal dari kelas menengah ke bawah, tidak semua memiliki dan membawa handphone.

Tabel 27

Frekuensi Menanyakan PR menggunakan HP

Frekuensi Menanyakan PR menggunakan HP F %

1. Sering 213 42,6

2. Jarang 151 30,2

3. Tidak pernah 136 27,2

Total 500 100

Sumber: P28

Sebanyak 42,6% responden mengaku sering menggunakan handphone untuk bertanya tentang PR dari sekolah kepada teman-teman mereka. Sebanyak 30,2% responden mengaku jarang memanfaatkan handphone untuk bertanyatentang PR, dan bahkan 27,2% responden menaku tidak pernah bertanya tentang PR melalui handphone. Bagi sebagian besar anak-anak, handphone lebih banyak dipergunakan untuk bermain game, menjalin komunikasi dengan teman lain melalui media social, atau untuk melihat video pendek di Youtube daripada untuk hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan akademis.