BAB 2 GAMBARAN UMUM WILAYAH
2.3 Kelurahan Sidoharjo
2.3.9 Dampak Perubahan Iklim di Kelurahan Sidoharjo
Perubahan iklim yang terjadi telah dirasakan di berbagai belahan dunia. Hal ini dapat dirasakan dari pergantian musim yang terjadi. Saat ini pergantian musim telah mengalami perubahan waktu, dan hampir sulit untuk diprediksikan. Sebagai contoh adalah musim kemarau yang panjang, musim dingin yang lebih panjang dari biasanya maupun sebaliknya dan pergantian musim lainnya. Untuk di Indonesia perubahan iklim ditandai dengan pergeseran musim hujan dan musim kemarau. Musim kemarau yang lebih panjang dari waktu normalnya dapat berdampak pada menurunnya produktivitas pertanian dan mempengaruhi ketersediaan pangan. Sebagaimana diketahui, bahwa sebagian besar lahan pertanian di Indonesia merupakan lahan pertanian yang menggantungkan kebutuhan airnya pada air hujan. Jika hujan tak datang tepat waktu, maka akan mempengaruhi produktivitas tanaman pertanian yang mana sangat membutuhkan air untuk pertumbuhannya. Demikian juga sebaliknya, jika musim penghujan lebih panjang dari biasanya maka akan mempengaruhi sektor yang lain dan bahkan bisa mengakibatkan terjadinya bencana, seperti banjir, tanah longsor dan lain sebagainya.
Wilayah pesisir juga merupakan salah satu wilayah yang rentan terhadap dampak perubahan iklim. Perubahan iklim telah mengakibatkan kenaikan paras muka air laut. Kenaikan muka air laut ini mengakibatkan terkikisnya wilayah pesisir melalui abrasi dan semakin menggerus wilayah daratan. Hal ini sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir, karena
28 banyak lahan-lahan produktif yang hilang, pemukiman yang tergenang banjir dan bahkan ada pemukiman yang tenggelam.
Kelurahan Sidoharjo merupakan salah satu desa yang memiliki tingkat resiko tinggi terhadap dampak perubahan iklim. Berdasarkan hasil indentifikasi, dampak yang dirasakan masyarakat antara lain :
Sering terjadi banjir jika hujan terlalu lama, sehingga membanjiri pemukiman warga.
Meluapnya air disekitar Bleber dan Tuban
Hasil tangkapan nelayan di laut dan hasil panen pembudidaya ikan di tambak menurun.
Dampak perubahan iklim yang dirasakan masyarakat ini, memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap pola hidup dan kesejahteraan masyarakat di lokasi terdampak. Untuk itu, dengan dampak perubahan iklim yang semakin nyata dirasakan oleh masyarakat di Kelurahan Sidoharjo ini, maka perlu kiranya dirumuskan suatu perencanaan yang tepat dan implementatif dalam upaya untuk bisa beradaptasi terhadap dampak perubahan iklim.
29
BAB 3
METODE PENYUSUNAN
RENCANA PENGEMBANGAN DESA PESISIR
3.1 Kerangka Perencanaan
Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan desa, Rencana Pengembangan Desa Pesisir (RPDP) sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Desa, dimana terdapat sinkronisasi dan sinergitas. Dokumen rencana pengembangan desa pesisir dibuat selama jangka waktu 5 (lima) tahun yang memuat visi, misi, tujuan, strategi, kebijakan, program dan kegiatan pengembangan desa. Rencana Pengembangan Desa Pesisir (RPDP) ditetapkan dengan Peraturan Desa. Perencanaan pengembangan desa pesisir disusun secara partisipatif oleh Pemerintah Desa sesuai dengan kewenangannya.
Dalam menyusun perencanaan pengembangan desa pesisir ini melibatkan kelembagaan masyarakat desa serta tokoh masyarakat.
Proses pelaksanaan penyusunan rancangan RPDP adalah sebagai berikut :
3.1.1 Tahap Persiapan
Pada tahap ini, kegiatan yang dilakukan adalah:
1) Pembentukan Tim Penyusun RPDP ;
2) Menyusun jadwal dan agenda pelaksanaan kegiatan penyusunan RPDP;
3) Mengumumkan secara terbuka kepada masyarakat mengenai agenda musrenbang desa ;
4) Mengundang peserta musrenbang desa ;
5) Menyiapkan sarana,alat dan kegiatan penyusunan RPDP.
3.1.2 Pengkajian Keadaan Desa
Pengkajian keadaan desa ini adalah proses penggalian dan pengumpulan data mengenai keadaan masyarakat, masalah, potensi dan berbagai informasi
30 terkait,yang menggambarkan secara jelas dan lengkap kondisi dan dinamika masyarakat desa.
Kegiatan ini bertujuan untuk menggali secara objektif, lengkap dan cermat tentang :
1) Potensi desa.
2) Permasalahan yang dihadapi.
3) Kebutuhan masyarakat.
3.1.3 Pendekatan dan Metode
Pengkajian keadaan desa dilakukan secara partisipatif dengan menggunakan metode P3MD (Perencanaan Partisipatif Pembangunan Masyarakat dan Desa).
3.1.4 Proses dan Alat Kaji
1) Memfasilitasi masyarakat dalam pertemuan untuk mengenali potensi, masalah dan kebutuhan masyarakat dengan menggunakan dokumen profil desa;
2) Memfasilitasi masyarakat dalam pertemuan melakukan pengelompokan potensi dan masalah;
3) Memfasilitasi masyarakat dalam pertemuan melakukan pengkajian Tindakan Pemecahan Masalah ;
4) Memfasilitasi masyarakat dalam pertemuan melakukan penentuan peringkat tindakan.
3.1.5 Waktu Pelaksanaan
Durasi (lamanya) waktu yang dibutuhkan untuk melakukan pengkajian keadaan desa disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan desa.
3.1.6 Hasil
Hasil dari Kegiatan ini merupakan penggabungan dari proses pengkajian keadaan di tingkat kelompok atau dukuh adalah :
1) Data Potensi Desa ;
31 2) Data Permasalahan ;
3) Data Kebutuhan Peringkat Tindakan.
3.2 Fokus Penyusunan
Fokus penyusunan dititikberatkan pada identifikasi masalah dan penyusunan peringkat masalah. Selama ini, program pembangunan masyarakat lebih banyak direncanakan oleh lembaga penyelenggara program tanpa melibatkan secara langsung warga masyarakat yang menjadi sasaran. Program demikian bersifat diturunkan dari atas ke bawah (top-down) artinya diturunkan dari pimpinan lembaga kepada pelaksanan dan masyarakat. Walaupun program semacam ini didasarkan pada proses „penjajagan kebutuhan‟ (Need Assessment) masyarakat.
Namun hal ini dilaksanakan hanya berdasarkan suatu survey atau penelitian akademis yang tidak melibatkan masyarakat secara berarti.
Berbagai kritik sering dilontarkan terhadap pola pengembangan program yang masih diturunkan dari atas ke bawah, antara lain:
Dalam pola tersebut sering terjadi ketidakcocokan antara para peneliti/pemrakarsa dan para pelaksana program. Penelitian yang terlalu akademis terlampau dipengaruhi oleh wawasan, pikiran dan pandangan penelitinya sendiri, Sehingga nilai terapannya sangat kurang. Dengan sendirinya program yang disusun berdasarkan penelitian itu tidak menyentuh kebutuhan-kebutuhan praktis yang sesungguhnya dirasakan masyarakat.
Keterlibatan masyarakat dalam program yang “diturunkan “ berupa paket hanyalah sekedar sebagai pelaksana; masyarakat tidak merasa sebagai
“pemilik” program karena seringkali tidak melihat hubungan antara penelitian yang pernah dilakukan dan program yang akhirnya diturunkan. Dengan sendirinya dukungan masyarakat dengan adanya program seperti itu akan sangat berpura-pura, demikian pula partisipasi mereka.
Keterlibatan masyarakat hanya sebagai pelaksanan saja kurang mendidik dan kurang menjamin keberlanjutan program karena prakarsa selalu datang dari luar dan keterampilan pengkajian, perencanaan dan pengorganisasian, tetap dimiliki orang luar.
32 Oleh karena itu dalam penyusunan perencanaan ini lebih memfokuskan kepada permasalahan-permasalahan yang ada di desa.
3.3 Pendekatan
3.3.1 Munculnya Pemikiran Tentang Pendekatan Partisipatif
Kritik dan alasan-alasan seperti itulah yang melahirkan beragam pemikiran tentang pendekatan pengembangan program yang lebih partisipatif. Istilah-istilah seperti “partisipasi masyarakat” dan “bottom-up planning” (perencanaan dari bawah atau dari masyarakat), pada saat ini sudah menjadi bagian yang lumrah dalam istilah para aktivis pembangunan masyarakat, baik dikalangan lembaga-lembaga swasta maupun dikalangan pemerintah.
Apabila masyarakat dapat dilibatkan secara berarti dalam keseluruhan proses program, selain program itu menjadi lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan rasa kepemilikan warga masyarakat terhadap program lebih tinggi,juga kertampilan,ketrampilan analisis dan perencanaan tadi dipindahkan kepada masyarakat. Dengan demikian, dimasa yang akan datang ketergantungan pada pihak luar dalam pengambilan prakarsa dan perumusan program secara bertahap akan bisa dikurangi.
3.3.2PRA Sebagai Pendekatan Alternatif
Tantangan yang kemudian dihadapi lembaga-lembaga ini adalah menemukan cara untuk mewujudkan pendekatan yang partisipatif secara praktis dilapangan. Pilihan (alternatif) yang kemudian dianggap layak dicoba adalah seperangkat metode dan teknik yang dikenal dengan Participatory Rural Appraisal atau PRA. Pendekatan ini dianggap baik karena didasari prinsip-prinsip untuk mewujudkan partisipasi masyarakat, sekaligus memiliki teknik-teknik penerapannya.
Dengan demikian, secara garis besar latar belakang pengembangan metode PRA adalah :
a. Kebutuhan adanya metode kajian masyarakat yang „mudah‟
dilakukan untuk pengembangan program yang benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat setampat.
33 Seperti yang telah dijelaskan, PRA mencakup aspek penelitian, namun tekanan aspek ini bukan pada validitas ilmiah (kebenaran ilmu) dari data yang diperoleh, namun lebih pada penerapan prinsip pembelajaranmesyarakat pada nilai praktis pengembangan program masyarakat yang berasal dari masyarakat. PRA merancang proses dan visualisasi (alat peraga atau gambar) yang mudah ditangkap dan dapat dilaksanakan di tingkat desa maupun sarana seadanya, dengan harapan petani dapat memahami dan pada akhirnya dapat melakukan sendiri dengan peran orang luar yang minimal. Dari kacamata para akademisi, pendekatan penyederhanaan dan adaptasi teknik tersebut sering dikritik, karena dianggap mengabaikan kepepatan data dan ketajaman analisa.
Namun hal ini diimbangi dengan kejayaan informasi yang sangat lokal, seperti pandangan dan pengetahuan tradisional para petani sendiri.
b. Kebutuhan adanya pendekatan program pembangunan yang bersifat kemanusiaan dan berkelanjutan.
PRA adalah salah satu metode pendekatan yang tekanannya pada keterlibatan masyarakat dalam keseluruhan kegiatan pengembangan program pembangunan. Pendekatan PRA memang bercita-cita menjadikan warga masyarakat sebagai PELAKU AKTIF (SUBYEK) PEMBANGUNAN, yaitu sebagai
“peneliti” perencana, dan pelaksana program pembangunannya sendiri.
Dengan pelibatan tersebut, diharapkan agar tercapai PEMBERDAYAAN MASYARAKAT atau penguatan kemampuan masyarakat yang merupakan cita-cita dan misi utama metode PRA. Salah satu dari penguatan kemampuan itu adalah mendorong agar warga masyarakat mengembangkan alternatif (pilihan) pemecahan masalah, bukan hanya sekedar konsumen “pemecah”
masalah (teknologi) yang dikembangkan di lembaga-lembaga riset dan diterapkan kepada mereka oleh lembaga program. Dengan demikian, pembangunan akan bersifat berkelanjutan karena memperhatikan pembangunan manusia dan pengembangan teknologi sederhana (tepat guna), bukan hanya pembangunan fisik serta modernisasi berupa teknologi mutakhir
34 yang dikuasai oleh segelintir orang berpendidikan tinggi, sedang masyarakat banyak semakin susah.
c. Prinsip-prinsip PRA
Salah satu masalah dengan Penamaan atau istilah PRA adalah adanya anggapan bahwa PRA hanya sekedar metode „pengkajian‟ (oleh) masyarakat.
Sejumlah prinsip-prinsip dasar metode PRA yang diuraikan dibawah ini, memperhatikan adanya nilai-nilai atau keyakinan dalam PRA karena bukan hanya sekedar pengkajian atau panggilan informasi saja.
1. Prinsip-prinsip utama yang terabaikan (keberpihakan)
Sering terjadi dalam masyarakat, sebagian besar masyarakat tetap berada di pinggir arus pembangunan yang berjalan cepat. Karena itu, prinsip paling pertama metode PRA ialah mengutamakan masyarakat yang terabaikan tersebut agar memperoleh kesempatan untuk memiliki peran dan mendapat manfaat dalam kegiatan program pembangunan.
Keberpihakan terhadap golongan masyarakat yang terabaikan ini bukan berarti bahwa golongan masyarakat lainnya (elite masyarakat) perlu mendapat giliran untuk diabaikan atau tidak diikutsertakan. Keberpihakan ini lebih pada upaya untuk mencapai keseimbangan perlakuan terhadap berbagai golongan yang terdapat disuatu masyarakat, dengan mengutamakan golongan paling miskin agar kehidupannya meningkat.
2. Prinsip pemberdayaan (Penguatan) masyarakat
Pendekatan PRA bermuatan peningkatan kemampuan masyarakat.
Kemampuan itu ditingkatkan di dalam proses pengkajian keadaan, pengambilan keputusan dan penentuan kebijakan sampai pada pemberian penilaian dan koreksi terhadap kegiatan yang berlangsung. Dengan kata lain, masyarakat memiliki akses (peluang/kesempatan) dan kontrol (kemampuan memberikan keputusan dan memilih)terhadap berbagai keadaan yang terjadi di seputar kehidupannya. Dengan demikian mereka bisa mengurangi ketergantunga terhadap bantuan orang luar terutama
35 bila bantuan itu bersifat merugikan (melemahkan posisi masyarakat/petani).
3. Prinsip masyarakat sebagai pelaku, orang luar sebagai fasilitator Metode PRA menempatkan masyarakat sebagai pusat dari kegiatan pembangunan. Orang luar harus menyadari perannya Sebagai „fasilitator‟
dan bukannya „guru‟, penyuluh atau bahkan instruktur. Hal ini mudah untuk diucapkan, tetapi tidak mudah untuk dilakukan karena adanya anggapan bahwa masyarakat miskin itu bodoh. Bahwa pendapat anggapan bahwa kemiskinan itu disebabkan oleh kebodohan. Untuk itu perlu sikap rendah hati serta kesediaan untuk belajar dari masyarakatdan menempatkan warga masyarakat sebagai narasumber utama dalam memahami masyarakat itu. Kalaupun pada awalnya peran orang luar lebih besar, harus diusahakan agar secara bertahap orang itu bisa berkurang dengan mengalihkan prakarsa kegiatan-kegiatan PRA warga masyarakat itu sendiri.
4. Prinsip saling belajar dan Menghargai perbedaan
Salah satu Prinsip dasar adalah pengakuan akan pengalaman dan pengatahuan tradisional masyarakat. Hal ini bukanlah berarti bahwa masyarakar selamanya benar dan harus dibiarkan tidak berubah.
Kenyataan memperlihatkan bahwa dalam banyak hal perkembangan pengalaman dan pengetahuan tradisional masyarakat tidal sempat mengejar perubahan-perubahah yang terjadi dan tidak lagi dapat memecahkan masalah-masalah yang berkembang. Namun sebaliknya telah terbukti bahwa pengetahuan modern yang diperkenalkan oleh orang luar tidak juga memecahkan masalah mereka karena tidak cocok. Bahkan dalam banyak kasus, malah menciptakan masalah yang lebih besar lagi.
Karena harus dilihat bahwa pengalaman dan pengetahuan masyarakat dan pengetahuan orang luar saling melengkapi dan sama bernilainya, dan
36 bahwa proses PRA adalah ajang komunikasi antara kedua sistem pengetahuan untuk melahirkan sesuatu yang lebih baik.
5. Prinsip santai dan informal
Kegiatan PRA diselenggarakan dalam suasana yang bersifat luwes, terbuka tidak memaksa, dan informal. Situasi yang santai ini akan menimbulkan hubungan akrab, karena orang luar akan berproses masuk sebagai anggota masyarakat,bukan sebagai tamu asingyang oleh masyarakat harus disambut dengan segala protokol. Terkadang menjadi tradisi bagi masyarakat desa untuk menerima kedatangan orang diluar komunitasnya dengan semacam penyambutan, seperti berkumpulnya para tokoh adat dan pemerintah desa, jamuan dan tarian adat. Barangkali suasana pantai dan informal ini lebih cocok disebutkan sebagai salah satu tip untuk pemandu, tetapi hal ini menjadi prinsipil karena sering dilanggar.penerapan PRA diharapkan untuk sama sekali tidak mengganggu kegiatan sehari-hari masyarakat. Orang luar harus juga memperhatikan jadwal masyarakat bukan sebaliknya masyarakat harus mengikuti jadwal orang luar dalam kegiatan PRA yang terpatok waktu.
6. Prinsip Triangulasi
Salah satu kegiatan PRA adalah usaha mengumpulkan dan menganalisis data secara sistematis bersama masyarakat. Usaha itu akan memanfaatkan berbagai sumber informasi data. Namun kita tahu, tidak semua sumber informasi itu senantiasa bisa dipercaya letepatannya.
Untuk mendapatkan informasi yang kedalamannya bisa diandalkan kita bisa menggunakan Triangulasi yang merupakan bentuk pemeriksaan dan pemeriksaan ulang (check and re-check) informasi.Triagulasi dilakukakan antara lain melalui penganekaragaman keanggotaan tim (keragaman disiplin ilmu atau pengalaman), penganekaragaman sumber informasi (keragaman latar belakang golongan masyarakat, keragaman tempat, jenis kelamin) dan variasi teknik.
37 Keragaman teknik PRA
Setiap teknik PRA mempunyai kelebihan dan kekurangan. Tidak semua informasi yang diperlukan dapat diperoleh, dibahas, dimanfaatkan dengan satu atau dua teknik saja. Karena bersama masyarakat kita harus tetap melihat bagaimana teknik-teknik PRA dapat saling melengkapi, sesuai dengan proses belajar yang diinginkan dan cakupan informasi yang dibutuhkan dalam kegiatan pengembangan program.
Keragaman sumber informasi
Masyarakat selalu memiliku bentuk hubungan yang kompleks (rumit) dan memiliki berbagai kepentingan yang sering berbeda dan bahkan bertentangan.informasi yang berasal dari sumber tunggal atau terbatas tidak jarang diwarnai oleh kepentingan pribadi atau kepentingan kelompok tertentu. Karena itu dianggap sangat perlu mengkaji silang informasi dari sumber informasi yang berbeda asalkan relevan atau berhubungan.
Informasi dari kelompok elite masyarakat perlu dikaji silang dengan informasi dari masyarakat biasa, demikian juga dari informasi kelompok laki-laki dikaji dengan pendapat perempuan, juga informasi dari sumber lainnya saling dikaji silang, seperti dari kelompok kaya dan miskin, kelompok muda dan tua, dan sebagainya.
Keragaman latar belakang tim pemandu/ tim PRA
Pelaksanaan dengan kajian teknik-teknik PRA bisa dilakukan dengan perorangan (misal oleh petugas lapangan dalam menjalankan kegiatannya) maupun secara khusus oleh sebuah tim yang terdiri dari sejumlah orang (misal dalam kegiatan kajian keadaan yang cukup luas untuk perencanaan kegiatan atau evaluasi kegiatan yang sudah berlangsung sekian lama). Dalam hal penerapan PRA dengan tim semacam ini dianjurkan keberagaman latar belakang tim, baik itu dari segi pendidikan, pengalaman, ketrampilan, dan jenis kelamin.
Keikutsertaan masyarakat di dalam tim inti PRA memerlukan pertimbangan tersendiri. Persoalannya adalah mereka memiliki budaya dan bahasa yang berbeda dengan anggota tim lain, yang selain orang luar
38 biasanya berpendidikan lebih tinggi. Keuntungan menyertakan masyarakat pesisir merupakan nilai yang tinggi, kegiatan ini juga akan menampilkan sisi pengamatan dari orang dalam yang bersikap sebagai orang luar (menjadi tim inti yang memfasilitasi kegiatan).
7. Prinsip mengoptimalkan Hasil
Dalam upaya mengumpulkan informasi seringkali dilakukan pengumpulan informasi sebanyak-banyaknya dan ternyata banya dari informasi tersebut yang tidak diperlukan atau tidak dipergunakan. Walaupun sudah banyak teknik PRA yang dipergunakan untuk mengkaji, tetapi tim pemandu seringkali merasa bahwa informasi yang terkumpul belum lengkap atau belum mendetail.Tim pemandu pada saat persiapan perlu merumuskan secara jelas jenis dan dan tingkat kedalaman informasi yang dibutuhkan.
Hanya jangan lupa bahwa kebutuhan informasi tim pemandu semestinya menyerap juga pendapat masyarakat tentang jenis-jenis informasi yang menurut masyarakat itu lebih penting daripada yang dirumuskan oleh tim pemandu.
Berikut ini adalah penjabaran dari prinsip mengoptimalkan atau memperoleh hasil informasi yang tepat guna menurut metode PRA :
a) Lebih baik kita tidak tahu tentang apa yang tidak perlu kita ketahui (ketahui secukupnya saja)
b) Lebih baik kita tidak tahu apakah informasi itu bisa disebut benar 100%, tetapi diperkirakan bahwa informasi itu mendekati kebenaran (daripada kita tidak tahu sama sekali).
8. Prinsip Orientasi Praktis
PRA berorientasi praktis, yakni pengembangan kegiatan. Untuk itu dibutuhkan informasi yang sesuai dan memadai, agar program yang dikembangkan bisa memecahkan masalah dan meningkatkan kehidupan masyarakat. Karena itu PRA bukanlah kegiatan yang dilakukan demi PRA itu sendiri. Pra hanya sebagai alat atau metode yang dimanfaatkan untuk
39 mengoptimalkan program-program yang bisa dikembangkan bersama masyarakat. Penerapan metode Pra tidak hanya sekedar untuk menggali informasi dari masyarakat, tetapi menindaklanjuti kedalam kegiatan bersama.
9. Prinsip Berkelanjutan dan selang waktu
Kepentingan-kepentingan dan masalah-masalah masyarakat tidaklah tetap, tetapi berubah dan bergeser menurut waktu sesuai dengan berbagai perubahan dan perkembangan baru dalam masyarakat itu sendiri. Karena pemahaman masyarakat bukanlah suatu usaha yang sekali dilakukan kemudian selesai, namun merupakan kegiatan berlanjut.
Metode PRA bukanlah paket kegiatan PRA yang selesai setelah kegiatan penggalian informasi dianggap cukup. Dan orang luar yang memfasilitasi kegiatan keluar dari desa.PRA merupakan metode yang harus dijiwai dan dihayati oleh lembaga dan para pelaksana dilapangan, agar program yang mereka kembangkan secara terus menerus berlandaskan pada prinsip-prinsip dasar PRA yang mencoba menggerakkan potensi masyarakat.
10. Belajar dari kesalahan
Melakukan kesalahan dalam kegiatan PRA adalah sesuatu yang wajar.
Yang terpenting bukanlah kesempurnaan dalam penerapannya, yang tentu sukar dicapai, melainkan penerapan sebaik-baiknya sesuai dengan kemampuan yang ada. Kemudian kita belajar dari kekurangan/kesalahan yang terjadi, agar pada kegiatan berikutnya menjadi lebih baik. Satu hal yang paling penting diingat adalah bahwa kegiatan PRA bukanlah kegiatan Coba-coba (trial and error) yang tanpa perhitungan. Kita harus meminimalkan dan mengurangi kesalahan.
11. Prinsip terbuka
Prinsip ini menganggap PRA sebagai metode dan perangkat teknik yang belum selesai, sempurna dan pasti benar. Diharapkan bahwa teknik-teknik
40 itu senantiasa bisa dikembangkan sesuai dengan keadaan dan kebutuhan setempat. Sumbangan-sumbangan dari mereka yang langsung menerapkan dan menjalankannya dilapangan untuk memperbaiki konsep, pemikiran maupun merancang teknik-teknik baru, akan sangat berguna dalam memperkaya metode ini.
Beberapa catatan penting mengenai PRA adalah :
1. Pemberdayaan masyarakat sebagai perubahan perilaku serta perubahan sosial
Pemberdayaan masyarakat dilakukan untuk merubah masyarakat agar menjadi lebih mampu untuk menganalisis keadaannya sendiri, kemudia memikirkan apa yang bisa dilakukan untuk memperbaiki keadaannya, serta mengembangkan potensi-potensi dan ketrampilan mereka untuk meningkatkan kehidupan. Dengan demikian, pemberdayaan masyarakat terjadi apabila perubahan perilaku masyarakat terjadi. Perubahan perilaku yang diharapkan oleh letobe PRA adalah perubahan perilaku yang membuat masyarakat kuat dan mandiri serta mengerti hak-hak dan kewajiban mereka.
2. Pendidikan masyarakat sebagai pendidikan orang dewasa
Perubahan perilaku memerlukan pendidikan. Pengertian pendidikan disini tidaklah sama dengan pendidikan formal disekolah. Melainkan sebagai pembelajaran yang dilakukan oleh orang dewasa melalui kegiatan bersama.
Sesuai dengan prinsip PRA, orang luar tidak bertindak sebagai guru, melainkan sebagai fasilitator belajar untuk saling berbagi pengetahuan dan pengalaman.
Usaha-usaha pengembangan masyarakat dilakukan mengikuti Daur Program. Daur program adalah tahapan-tahapan dalam pengembangan program mulai dari identifikasi masalah dan kebutuhan, pencarian alternatif kegiatan, pemilikan alternatif kegiatan, pengorganisasian dan pelaksanaan kegiatan, serta pemantauan dan evaluasi program.
41 Gambaran penerapan umum PRA dalam daur Program atau langkah-langkah pengembangan program secara ringkas adalah sebagai berikut : 1. Penjajagan atau pengenalan kebutuhan
Pengenalan kebutuhan seringkali disebut pengenalan masalah, karena biasanya masalah yang memiliki masalah-masalah yang menimbulkan kebutuhan, yaitu kebutuhan untuk mengatasi masalah yang mengganggu kesejahteraan hidup mereka. Pengkajian masalah ini disertai dengan potensi masyarakat, terutama bila program yang dikembangkan bertujuan untuk mengembangkan kemampuan keswadayaan masyarakat. Pada tahap awal ini yang bisa dikaji adalah informas-informasi yang mengungkapkan keberadaan lingkungan dan masyarakat secara umum serta melakukan analisis atas keadaan masyaraka.
2. Perencanaan kegiatan
Perencanaan kegiatan merupakan lanjutan proses diatas. Rencana itu perlu mencantumkan dengan jelas apa yang akan dilakukan,siapa yang akan melakukannya, dan kapan waktu pelaksanaannya, makinvkongkrit dan jelas rencana yang dihasilkan, makin besar kemungkinan bahwa rencana itu sungguh-sungguh akan dilakukan. Dengan metode PRA penyusunan rencana kegiatan untuk program desa, dilakukan berdasarkan hasil keputusan masyarakat sendiri melalui forum diskusi.
Perencanaan kegiatan merupakan lanjutan proses diatas. Rencana itu perlu mencantumkan dengan jelas apa yang akan dilakukan,siapa yang akan melakukannya, dan kapan waktu pelaksanaannya, makinvkongkrit dan jelas rencana yang dihasilkan, makin besar kemungkinan bahwa rencana itu sungguh-sungguh akan dilakukan. Dengan metode PRA penyusunan rencana kegiatan untuk program desa, dilakukan berdasarkan hasil keputusan masyarakat sendiri melalui forum diskusi.