BAB III PENGGABUNGAN BADAN USAHA DAN AKIBAT
5. Dampak Positif dan Negatif Penggabungan Badan
Batasan nilai (threshold), penggabungan badan usaha antarperusahaan yang tidak terafiliasi, penggabungan badan usaha asing, serta waktu dan prosedur pemberitahuan.
Seperti diketahui bersama tujuan penggabungan badan usaha adalah untuk meningkatkan pertumbuhan dan ekspansi aset perseroan, peningkatan penjualan, dan ekspansi pangsa pasar pihak yang melakukan merger atau akuisisi. Tujuan-tujuan tersebut merupakan Tujuan-tujuan jangka menengah. Tujuan yang lebih mendasar adalah pengembangan kekayaan para pemegang saham melalui penggabungan dan akuisisi yang ditujukan pada pengaksesan atau penciptaan keunggulan kompetitif yang dapat diandalkan bagi perseroan yang melakukan penggabungan dan akuisisi. Menurut Ross, Westerfield, dan Jordan dalam teori keuangan modern, menyebutkan bahwa memaksimalkan kekayaan pemegang saham dianggap sebagai kriteria rasional untuk investasi dan keputusan finansial yang dibuat oleh para manager.98
Penggabungan badan usaha menurut Desak Agung Oka Suardewi, memiliki segi positif dan segi negatif. Segi positif dari penggabungan usaha adalah sebagai berikut :99
1. Dengan skala usaha yang relatif besar, konglomerat dapatmenikmati dan memanfaatkan economies of scale100
97Ibid, hlm.64.
98Kamaludin dkk, Restruktuisasi Merger dan Akuisisi, (Bandung: Mandar Maju, 2015), hlm.45-46.
99Ibid, hlm. 52.
.
2. Dengan melaksanakan diversifikasi setiap perusahaan yang beradadibawah kepemilikan konglomerat dapat menikmati dan memanfaatkan external economies101
3. Dengan melakukan diversifikasi usaha dan ditunjang dengan skalausaha yang relatif besar, dapat meningkatkan profesionalisme danmempercepat penguasaan alih teknologi.
karena terbukanya peluanguntuk meningkatkan efisiensi dan produktifitas yang padagilirannya akan mendatangkan laba yang memuaskan.
4. Dengan efisiensi dan produktifitas yang lebih tinggi padagilirannya dapat meningkatkan ekspor, menciptakan danmemperluas kesempatan kerja serta mendukung industrialisasi.
5. Bargaining position102
6. Dari segi manajemen, sentralisasi pengambilan keputusanmengandung aspek positif seperti pengambilan keputusan yangcenderung lebih cepat, berpandangan jauh kedepan danberwawasan luas.
atau posisi tawar yang lebih kuat.
Kemudian beberapa aspek negatif yang terdapat dalam penggabungan badan usaha, yaitu:103
1. Apabila penggabungan usaha tidak dibatasi dalam jenis dan skalausahanya, maka cenderung dapat menimbulkan free fight
100Catur Agus Saptono, Op.Cit., hlm. 46. Memberikan definisi economies of scale sebagai suatu keuntungan yang diperoleh karena adanya suatu peningkatan produksi, dan peningkatan output.
101Budi Kagramanto, Op.Cit., hlm. 27. Menjelaskan external economies yakni, faktor-faktor luar yang mempengaruhi suatu perusahaan tunggal yang mengakibatkan peningkatan biaya rata-rata jangka panjang dari perusahaan-perusahaan dalam situasi industri secara keseluruhan.
102Susanti Adi Nugroho, Op.Cit., hlm 39. Menjelaskan bargaining position, yang secara harfiah memiliki pengertian sebagai posisi tawar menawar. Dalm hal ini bargaining position yang kuat dapat menentukan harga tawar menawar di suatu pangsa pasar.
103Ibid, hlm. 53.
liberalism104
2. Sentralisasi pengambilan keputusan dapat dimanfaatkan untukmelakukan manipulasi pelaporan hasil usaha, pelaporan kekayaanperusahaan maupun manipulasi melalui transfer pricing
, yang pada akhirnya bermuara pada struktur pasar baruyang monopolistis.
105
3. Integrasi Horisontal dengan tujuan mengurangi jumlah pesaingmaupun vertikal dengan tujuan membatasi kemampuan pesaingmelalui penguasaan sejumlah mata rantai produksi dari hulusampai hilir dapat berdampak kepada melemahnya mekanismepasar yang menjurus kepada monopoli.
.
4. Dengan adanya sentralisasi pengambilan keputusan, makakepentingan tiap perusahaan anak disubordinasikan padakepentingan perusahaan induk yang pada gilirannya dapatberdampak negatif dan destruktif, seperti peluang yang semakinbesar dan mudah untuk membentuk semacam trust dan kartel.Kondisi ini juga memungkinkan terbentuknya kepentingan para pihak diantara konglomerat yang tidak sejalan dengankepentingan nasional.
5. Kecenderungan timbulnya praktik timbal balik atau reprocity yakni penciptaankondisi yang memungkinkan kesepakatan sejumlah perusahaanyang tergabung, untuk saling membeli barang dan jasa yangdihasilkan masing-masing perusahaan tersebut tanpamempertimbangkan keadaan pasaran, sehingga membatasi
104Catur Agus Saptono dan Suparji, Op.Cit., hlm. 20 menjelaskan free fight liberalism, adalah sistem ekonomi dengan kebebasan individu, yang artinya memberikan kebebasan individu untuk melakukan kegiatan ekonomi tanpa pembatasan yang nantinya dituntut agar dapat menghasilkan sesuatu yang baik yang dapat menguntungkan negara.
105Budi Kagramanto, Op.Cit., hlm. 41. Menjelaskan transfer pricing, sebagai harga yang dibebankan satuan usaha individual dalam suatu perseroan multisatuan usaha atas transaksi diantara mereka sendiri.
ataumeniadakan akses pasar bagi pesaing. Apabila kondisi ini semakinberkembang maka dapat menimbulkan ketimpangan ekonomiterutama terdesaknya usaha-usaha kecil dan menengah.
B. Posisi Dominan yang timbul dalam Penggabungan Badan Usaha 1. Pengertian Posisi Dominan Secara Umum
Secara umum posisi dominan memiliki definisi sebagai suatu keadaan dimana pelaku usaha yang mempunyai pangsa (share) besar dalam pasar, yang dapat memengaruhi harga pasar dengan memperbanyak produksinya.106 Pelaku usaha yang memiliki posisi dominan ini lebih sering berperan sebagai penentu harga (price setter), dibandingkan sebagai pengikut harga (price taker), dan oleh karenanya mempunyai kekuatan pasar (market power) yang besar. Sebaliknya pelaku usaha yang lebih kecil mempunyai peranan yang kecil dan akan bertindak sebagai price taker.107
Apabila merujuk terhadap pengaturan terkait yang mengatur tentang posisi dominan, maka yang dimaksud dengan posisi dominan merujuk kepada Pasal 1 ayat (4) UU No. 5 Tahun 1999 adalah, keadaaan di mana pelaku usaha tidak mempunyai pesaing yang berarti di pasar bersangkutan dalam kaitan dengan pangsa pasar yang dikuasai atau pelaku usaha mempunyai posisi tertinggi diantara pesaingnya di pasar bersangkutan dalam kaitan dengan kemampuan keuangan, kemampuan akses pada pasokan, atau penjualan serta kemampuan untuk menyesuaikan pasokan atau permintaan barang atau jasa tertentu.108
106Mohammad Reza, Op.Cit., hlm. 81.
107Susanti Adi Nugroho,Op.Cit., hlm. 390.
108Ahmad Yani,Op.Cit.,hlm. 37.
Melalui definisi tersebut meskipun tidak dikorelasikan secara langsung, dapat dilihat
bahwa suatu posisi dominan cenderung dimiliki oleh pelaku usaha yang secara fisik telah menguasai pangsa pasar secara dominan. Tanpa adanya penguasaan pangsa pasar yang dominan tidak mungkin suatu pelaku usaha tertentu dapat memiliki posisi dominan atas pelaku usaha atau kelompok pelaku usaha lain yang menjadi pesaingnya.
Berdasarkan ketentuan UU No. 5 Tahun 1999 suatu pelaku usaha dianggap memiliki posisi dominan apabila suatu pelaku usaha menguasai 50% (lima puluh persen) atau apabila suatu kelompok pelaku usaha menguasai 75% (tujuh puluh lima persen) atau lebih pangsa pasar.109 Dengan demikian posisi dominan memang didefinisikan untuk mencerminkan siapa sebenarnya “penguasa pasar”
dari suatu produk tertentu. Dengan mengetahui posisi dominan, dapat diketahui apakah suatu pasar masih cukup heterogen dengan penguasaan berimbang oleh beberapa pelaku usaha atau pasar sudah cenderung homogen dengan produk dari pelaku usaha tertentu.110
a. Posisi Dominan yang bersifat umum
Merujuk terhadap ketentuan UU No. 5 Tahun 1999 terdapat 4 bentuk posisi dominan yang dilarang karena dapat menimbulkan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat, yang diantaranya:
109UU No. 5 Tahun 1999, Op.Cit., Pasal 25 ayat (1).
110Ahmad Yani, Op.Cit., hlm. 38.
Dalam ketentuan ini dijabarkan bahwa suatu pelaku usaha atau kelompok pelaku usaha yang memiliki posisi dominan tidak diperbolehkan menggunakan posisi dominan tersebut baik secara langsung ataupun tidak langsung untuk menetapkan syarat-syarat perdagangan guna mencegah dan atau menghalangi konsumen memperoleh produk yang bersaing baik dari harga maupun kualitas, membatasi pasar yang bersangkutan dari pengembangan teknologi, dan menghambat suatu pelaku usaha lain untuk memasuki pangsa pasar yang bersangkutan yang berpotensi untuk menjadi pesaing.111 Ketiga hal tersebut diatas digolongkan sebagai syarat penghalang yang dapat menciptakan iklim persaingan usaha tidak sehat. Apabila unsur adanya posisi dominan yang menyertakan beberapa persyaratan pangsa pasar, maka hal tersebut sudah memenuhi kategori Pasal 25 UU No. 5 Tahun 1999 dan dapat dinyatakan menyalahgunakan posisinya tersebut, hal ini disebut juga sebagai per se illegal dimana pengadilan tidak memerlukan pembuktian lebih lanjut terhadap perbuatannya tersebut.112
b. Posisi dominan karena jabatan rangkap
Selain melarang suatu kegiatan monopoli yang timbul dari adanya posisi dominan yang dimiliki oleh suatu pelaku usaha, UU No. 5 Tahun 1999 juga mengatur mengenai larangan terjadinya bentuk-bentuk hubungan terafiliasi yang melarang seseorang memiliki jabatan rangkap.113
111Ibid, hlm. 40.
112Munir Fuady, Hukum Anti Monopoli: Menyongsong Era Persaingan Sehat, (Bandung:
Citra Aditya Bakti, 2011), hlm. 85.
113UU No. 5 Tahun 1999, Op.Cit., Pasal 26.
Pasal 26 yang mengatur tentang jabatan rangkap yaitu penyalahgunaan posisi dominan yang dapat dilakukan melalui seseorang yang menduduki jabatan sebagai direksi atau komisaris dari
suatu perusahaan, pada waktu yang bersamaan dilarang merangkap menjadi direksi atau komisaris pada perusahaan lain (interlocking directore)114
1. Berada dalam pasar bersangkutan yang sama; atau
, apabila perusahaan-perusahaan tersebut:
2. Memiliki keterkaitan yang erat dalam bidang dan atau jenis usaha;
atau;
3. Secara bersama dapat menguasai pangsa pasar barang dan atau jasa tertentu, yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat.
c. Posisi dominan karena kepemilikan saham mayoritas
Kepemilikan saham seseorang disuatu perusahaan juga membuka suatu peluang terjadinya posisi dominan yang dapat menimbulkan praktik monopoli.
Pada dasarnya pelarangan kepemilikan saham mayoritas pada perusahaan-perusahaan sejenis yang melakukan kegiatan usaha yang sama pada pasar yang sama pula.115
114Ningrum Natasya Sirait, Op.Cit., hlm.102.
115Munir Fuady, Op.Cit., hlm.86.
Pasal 27 UU No. 5 Tahun 1999 melarang dengan tegas pelaku usaha untuk memiliki saham mayoritas yang dapat mengakibatkan suatu pelaku usaha atau kelompok pelaku usaha menguasai lebih dari 50% (lima puluh persen) pangsa pasar satu jenis barang tertentu, dan melarang dua atau tida pelaku usaha atau kelompok pelaku usaha menguasai lebih dari 75% (tujuh puluh lima persen) pangsa pasar satu jenis barang atau jasa tertentu.
d. Posisi dominan karena penggabungan, peleburan, dan pengambilalihan saham
Pasal 28 UU No. 5 Tahun 1999 secara tegas melarang suatu pelaku usaha atau kelompok pelaku usaha untuk melakukan penggabungan, peleburan atau pengambilalihan saham yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. Penggabungan, peleburan, atau pengambilalihan merupakan objek pengamatan dari hukum monopoli karena dapat menimbulkan dampat negatif kepada persaingan pasar yang tidak sehat.116
2. Akibat Hukum dari posisi dominan yang dimiliki oleh perusahaan
Memiliki posisi dominan di pasar yang dilarang oleh ketentuan UU No. 5 Tahun 1999, adalah jika posisi dominan yang telah dimiliki tersebut digunakan untuk menghambat, baik pengembangan teknologi maupun mendistorsi pasar dengan cara, berupaya untuk mencegah persaingan dengan mengeliminasi munculnya pelaku usaha baru, karena umumnya pihak yang mempunyai posisi dominan dapat dengan mudah mendikte pasar dan menetapkan syarat-syarat yang tidak sesuai dengan kehendak pasar.
Menurut Debora Owen, Pejabat Komisi Perdagangan Federal Amerika Serikat menyatakan bahwa Undang-Undang Antitrust di Amerika Serikat memandang bahwa posisi dominan yang bersifat monopolistik itu tidak dilarang sepanjang diperoleh dan dipertahankan melalui kemampuan prediksi atau kejelian bisnis yang tinggi.117
116Ibid, hlm. 90.
117Norman S. Pakpahan, Op.Cit., hlm. 21.
Penyebab dilarangnya suatu posisi dominan ialah apabila suatu pelaku usaha menciptakan adanya barrier to entry dan proses integrasi
vertikal suatu usaha bisnis yang dapat menjadikan penguasaan ke atas yaitu penguasaan terhadap bahan baku, dan penguasaan ke bawah yaitu penguasaan jalur distribusi.118
a. Menetapkan harga yang berlebihan (excessive prices).
Bentuk-bentuk akibat hukum yang disebabkan dari posisi dominan yang umumnya terjadi dalam persaingan usaha, yaitu:
Dalam hal ini tingginya suatu harga mungkin terjadi karena beberapa alasan, namun salah satu permasalahan yang menjadikan adanya harga yang berlebihan adalah dikarenakan harga tersebut ditetapkan oleh satu pelaku usaha yang memiliki posisi dominan yang menyebabkan kerugian yang harus diterima oleh konsumen.119
b. Menetapkan harga diskriminasi (price discrimination)
Untuk menetapkan suatu harga apakah berlebihan atau tidak ialah dengan memerintahkan harga produk ketika mahal diturunkan menjadi murah, dan ketika harga menjadi mahal justru produk tersebut tetap laku. Hal ini dilihat berdasarkan apakah terhadap barang tersebut terdapat barang substitusi atau tidak, namun sejumlah penegak hukum berpandangan hal ini sulit dilakukan karena sulitnya mengidentifikasi biaya-biaya yang telah dikeluarkan oleh perusahaan.
Price discrimination adalah perbuatan menjual dan menetapkan harga yang berbeda (termasuk pemberian diskon) berdasarkan profil
118Susanti Adi Nugroho, Op.Cit., hlm. 405.
119Ibid, hlm.406.
konsumennya.120
c. Menetapkan syarat keterhubungan barang (tie ins or tying)
Salah satu bentuk diskriminasi harga yang umumnya terjadi adalah ketika suatu perusahaan menetapkan harga yang sama kepada para konsumen walaupun pada kegiatannya, perusahaan tersebut mengeluarkan biaya yang berbeda untuk menyuplai masing-masing konsumennya. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi ketika perusahaan dominan menetapkan harga tunggal kepada para konsumennya.
Tie ins adalah penjualan suatu barang atau produk tertentu dengan syarat (tying good) dimana pembeli harus membeli barang atau produk lainnya (the tied good).121
d. Menolak untuk bertransaksi (refusal to deal)
Kadang kala dua barang tersebut secara vertikal berhubungan (vertically related) dimana barang yang satu mempunyai fungsi yang harus digunakan bersamaan dengan barang yang lainnya (primary and secondary). Tie ins akan meningkatkan hambatan kepada perusahaan pesaing untuk masuk kedalam pasar ketika perusahaan tadi hanya menjual suatu produk dan tidak menjual produk lainnya yang mempunyai keterhubungan.
122
Perusahaan dominan yang merupakan induk perusahaan (parent’s company), yang menolak bertransaksi baik sebagai penjual maupun sebagai pembeli dengan perusahaan lainnya dengan alasan di pasar akan menambah pesaing bagi anak perusahaannya (subsidary company), dapat dikatan telah melakukan refused to deal.
120Ibid, hlm.407.
121Mohammad Reza, Op.Cit., hlm. 78.
122Susanti Adi Nugroho, Op.Cit., hlm.408.
e. Menetapkan harga rendah (predatory pricing)
Predatory pricing adalah suatu perbuatan anti kompetitif yang dilakukan oleh perusahaan dominan dengan cara menetapkan harga serendah mungkin, agar perusahaan-perusahaan lainnya tidak dapat bersaing dengan harga serendah itu ( mengeluarkan pesaing keluar dari pasar, mencegah perusahaan pesaing untuk masuk kedalam pasar dan akhirnya mendominasi pasar tanpa persaingan.123
f. Menaikkan biaya pesaing (raising rival cost)
Walaupun biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan dominan tadi untuk menjual produk tadi sangat besar dengan keuntungan yang sedikit atau bhakan tidak ada, namun perusahaan tersebut mengharapkan adanya keuntungan di masa yang akan datang.
Contoh dari perbuatan anti kompetitif ini adalah menggugat perusahaan pesaing, biasanya perusahaan kecil (modal dan segmen pasar yang dimilikinya relatif kecil dibandingkan perusahaan dominan) ke pengadilan dengan berbagai macam alasan seperti: menuduh produk perusahaan tersebut mempunyai kemiripan dengan produk mereka atau menuduhnya telah menetapkan harga rendah dibawah harga pasar atau menggunakan piranti lunak (software) bajakan dalam kegiatan usahanya dan lain sebagainya.124
g. Pengekangan vertikal (vertical restraints).
Vertical restraints adalah suatu pembatasan (restrains) yang dilakukan oleh perusahaan yang mempunyai kedudukan secara vertikal di atas (upstream
123Ahmad Yani, Op.Cit., hlm.44.
124Susanti Adi Nugroho, Op.Cit., hlm.409.
firm) seperti perusahaan produsen (manufacturer) atau penjual utama (whole saler) terhadap perusahaan dibawahnya seperti agen (retailer).125
h. Penyalahgunaan hak atas kekayaan intelektual/HAKI (intelectual property abuse).
Perbuatan yang termasuk kedalam kategori vertikal restrain adalah penetapan wilayah yang eksklusif dimana perusahaan agen dipaksa setuju untuk membatasi barang yang dijualnya pada wilayah pasar tertentu dan penetapan perjanjian eksklusif dimana perusahaan agen dipaksa setuju untuk tidak menjual barangnya kepada perusahaan pesaing.
Ada tiga kategori dalam hal ini, seperti pembelian paten atas barang tertentu oleh perusahaan dominan, kewajiban transfer teknologi didalam perjanjian lisensi dengan perusahaan dominan (the transfer of technology through licesning arrangement). Perjanjian kerjasama diantara perusahaan yang bergerak dibidang penemuan, dimana salah satunya atau keduanya adalah perusahaan dominan di dalam pasar. Dalam kenyataanya, praktik ini menimbulkan tekanan pada pasar, karena hanya ada perusahaan itu saja, namun di sisi lain hal tersebut adalah sah secara hukum (legitimate).126
C. Monopoli Dalam Penggabungan Badan Usaha 1. Pengertian Monopoli Secara Umum
Adapun pengertian monopoli menurut Pasal 1 Angka 1 UU. No. 5 Tahun 1999, yaitu “penguasaan atas produksi dan/atau pemasaran barang dan/atau jasa
125Ahmad Yani, Op.Cit., hlm.45.
126Susanti Adi Nugroho, Op.Cit., hlm. 410.
tertentu oleh satu pelaku usaha atau satu kelompok pelaku usaha” sehingga dalam hal ini monopoli memiliki artian sebagai suatu situasi pasar di mana hanya ada satu pelaku usaha atau kelompok pelaku usaha yang “menguasai” satu produksi dan/atau pemasaran barang dan/atau penggunaan jasa tertentu, yang akan ditawarkan kepada banyak konsumen, yang mengakibatkan pelaku usaha atau kelompok pelaku usaha tadi dapat mengontrol dan mengendalikan tingkat produksi, harga, dan sekaligus wilayah pemasarannya.127
Makna monopoli berdasarkan Pasal 1 Angka 1 tersebut diatas sesungguhnya mempunyai makna yang lebih luas. Hal ini dapat disimpulkan dari satu sisi yakni ciri-ciri dalam definisi struktur pasar, perilaku pasar, pangsa pasar, harga pasar serta konsumen.128 Disisi lain dapat dilihat berdasarkan ketentuan Pasal 17 ayat (2) huruf c, yaitu bahwa seorang monopolis hanya membutuhkan penguasaan lebih dari 50% pangsa pasar pada satu jenis barang maupun jasa tertentu. Sehingga dengan adanya pernyataan tersebut, selain pihak yang telah disebut sebagai monopolis, ternyata masih ada pesaing lain di pasar bersangkutan.129
Selanjutnya ciri-ciri atau jenis pasar yang bersifat monopoli adalah:130
1. Adanya sedikit penjual yang menguasai pasar dengan jumlah pembeli yang sangat banyak. Dalam hal ini produsen dapat menentukan berapa banyak produk yang dapat dijual yang bergantung kepada keuntungan yang akan diperoleh.
127Ibid, hlm. 226.
128Undang-Undang No. 5 Tahun 1999, Op.Cit., Pasal 1 angka 11-15.
129Ahmad Yani, Op.Cit., hlm.20.
130Susanti Adi Nugroho, Op.Cit., hlm.228.
2. Tidak terdapatnya barang pengganti (substitusi) dengan produk yang dijual di pasar monopoli.
3. Terdapatnya hambatan yang besar bagi pelaku usaha pesaing untuk masuk ke pasar yang bersangkutan. Dalam hal ini umumnya dikarenakan pelaku usaha di pasar monopolis cenderung memiliki market power sehingga dapat menyulitkan pelaku usaha pesaing untuk masuk ke pasar.
4. Menetapkan hak paten atau hak cipta oleh pelaku usaha di pasar monopolis, sehingga tidak dimungkinkannya pelaku usaha lain untuk membuat produk serupa.
5. Penguasaan pasar yang dimiliki oleh pelaku usaha di pasar monopoli ialah lebih dari 50% pangsa pasar atas satu jenis komoditas tertentu.
Berdasarkan teori, monopoli dapat dibedakan menjadi dua yaitu: monopoli yang bersifat alamiah (natural monopoly) dan monopoli yang diperoleh melalui peraturang perundang-undangan. Monopoli yang alamiah adalah monopoli yang terjadi dikarenakan pelaku usaha memiliki kemampuan teknis tertentu seperti:131
1. Pelaku usaha tersebut memiliki kemampuan atau pengetahuan khusus yang memungkinkan berproduksi sangat efisien.
2. Skala ekonomi, dimana semakin besar skala produksi maka biaya marginal semakin menurun, sehingga biaya produksi per unit semakin rendah.
131Suyud Margono, Op.Cit., hlm. 37.
3. Pelaku usaha memiliki kemampuan kontrol sumber faktor produksi, baik berupa sumber daya alam, sumber daya manusia maupun lokasi produksi.
Adapun monopoli yang diperoleh melalui peraturan perundang-undangan adalah:132
1. Hak atas kekayaan intelektual, yaitu dimana negara memberikan hak monopoli kepada pelaku usaha untuk memproduksi atau memasarkan hasil dari suatu inovasinya tersebut.
2. Hak usaha eksklusif, yaitu hak yang diberikan oleh pemerintah kepada pelaku usaha tertentu yang didapatkan oleh pelaku usaha lain, misalnya agen tunggal, importir tunggal, pembeli tunggal, dan lain sebagainya.
2. Akibat Hukum dari Penyalahgunaan Monopoli Oleh Perusahaan
Suatu praktik bisnis yang anti persaingan dan tidak jujur dapat dilakukan secara sendiri ataupun bekerja sama dengan pelaku usaha lainnya. Suatu bentuk monopoli yang menghambat persaingan adalah monopoli yang melakukan penyimpangan struktur pasar karena menyebabkan terjadinya pembentukan pasar, pembagian pasar, dan menyalahgunakan kekuatan pasar (market power) guna menyingkirkan para pesaing keluar dari suatu pangsa pasar.133
132Ibid, hlm.38.
133Jhonny Ibrahim, Hukum Persaingan Usaha Filosofi, Teori dan Implikasi Penerapannya di Indonesia, (Malang: Bayumedia Publishing, 2009), hlm. 42.
Pada hakikatnya monopoli tidaklah dilarang oleh suatu perundang-undangan di Indonesia, dikarenakan monopoli dapat timbul apabila suatu perusahaan memiliki tingkat
efisiensi yang sangat tinggi (sering juga disebut monopoli secara alamiah), ataupun monopoli yang timbul dikarenakan perintah suatu perundang-undangan (sebagaimana amanat Pasal 33 UUD 1945).134 Namun, suatu monopoli yang tercipta karena terbentuknya struktur pasar melalui perilaku yang tidak jujur dapat memberikan dampak yang negatif. Yakni diantaranya:135
a. Dead weight loss136
b. Terciptanya Hambatan Masuk Pasar (barriers to entry), hal ini umumnya terjadi apabila suatu pelaku usaha telah mampu menyingkirkan pesaingnya, sehingga pelaku usaha tersebut mulai menciptakan hambatan masuk pagi pelaku usaha lainnya melalui beberapa hal. Seperti, menurunkan harga barang dengan konsep jual-rugi sehingga perusahaan pesaing tidak mampu untuk menjual dengan harga sedemikian rupa dan mengakibatkan pesaing keluar dari pasar , adalah suatu dampak negatif yang ditimbulkan dari monopoli yang diakibatkan perilaku pelaku usaha yang tidak jujur.
Hal ini terjadi dikarenakan hanya terdapat satu pelaku usaha di pangsa pasar, sehingga menyebabkan konsumen tidak memiliki alternatif dalam memilih barang atau jasa lainnya, serta harga yang cenderung tidak sesuai. Kondisi yang berdampak kepada masyarakat ini akan melahirkan inefisiensi ekonomi dan memiliki potensi pemborosan sumber daya.
134Ibid, hlm. 45.
135Gunawan Widjaja & Ahmad Yani, Op.Cit., hlm. 30.
136Suyud Margono, Op.Cit., hlm. 33. Menjelaskan dead weight loss sebagai, suatu keadaan dimana adanya pengurangan terhadap surplus konsumen dan surplus produsen yang terjadi apabila output suatu produk dibatasi sehingga lebih rendah dari tingkat efisiensi optimum.
tersebut, ataupun melalui mekanisme persyaratan memasuki pasar dengan persyaratan.
c. Menciptakan pendapatan yang tidak merata, dimana sumber dana serta modal akan tersedot ke perusahaan monopoli, sehingga
c. Menciptakan pendapatan yang tidak merata, dimana sumber dana serta modal akan tersedot ke perusahaan monopoli, sehingga