• Tidak ada hasil yang ditemukan

5 HASIL DAN PEMBAHASAN

5.4 Dampak Subsektor Perikanan Tangkap

Berdasarkan teori ekonomi basis, pada dasarnya pertumbuhan wilayah dapat terjadi akibat adanya efek pengganda. Pembelanjaan kembali pendapatan yang telah diperoleh melalui penjualan barang dan jasa yang dihasilkan oleh wilayah yang bersangkutan dan dipasarkan ke luar wilayah (ekspor). Multiplier effect dilakukan untuk melihat seberapa besar koefisien yang menunjukkan kemampuan setiap peningkatan pendapatan atau tenaga kerja yang dihasilkan, karena adanya pertumbuhan subsektor perikanan tangkap di Kabupaten Cirebon.

5.4.1 Multiplier effect subsektor perikanan tangkap berdasarkan indikator PDRB daerah

Analisis efek pengganda subsektor perikanan tangkap berdasarkan indikator PDRB Kabupaten Cirebon dapat dilihat pada Tabel 15. Tabel ini menjelaskan bahwa koefisien pengganda menunjukkan nilai yang cenderung meningkat selama periode analisis dari tahun 20052009, yaitu berkisar antara -57,85 hingga 80,69. Koefisien pengganda tertinggi terjadi pada tahun 2007, yaitu sebesar 80,69. Artinya setiap peningkatan PDRB subsektor perikanan tangkap sebesar Rp1,00 akan menghasilkan PDRB Kabupaten Cirebon sebesar Rp80,69. Pada tahun 2009 koefisien pengganda sebesar 14,59. Artinya setiap peningkatan

PDRB subsektor perikanan tangkap sebesar Rp1,00 akan menghasilkan PDRB Kabupaten Cirebon sebesar Rp14,59. Hal ini diartikan subsektor perikanan tangkap Kabupaten Cirebon pada tahun 2007 dan tahun 2009 dapat menciptakan efek pengganda. Akibatnya, terjadi pembelian kembali di dalam daerah dan seterusnya dapat membuka lapangan kerja baru.

Tabel 15 Analisis multiplier effect subsektor perikanan tangkap berdasarkan PDRB daerah Kabupaten Cirebon Tahun 2005-2009 (juta rupiah)

Tahun Yb Y ∆Yb ∆Y Msy = ∆Y/∆Yb

2005 243.550,18 6.343.779 - - -

2006 237.908,08 6.670.000 -5.642,1 326.220,7 -57,82

2007 242.326,89 7.026.564 4.418,81 356.564,2 80,69

2008 206.322,49 7.371.622 -36.004,4 345.057,8 -9,58

2009 232.010,68 7.746.385 25.688,19 374.763,9 14,59

Sumber: Data diolah, 2010.

Ket : Y : (Jumlah PDRB Sektor perikanan Kabupaten Cirebon)

Yb : (Jumlah PDRB Subsektor Perikanan Tangkap Kabupaten Cirebon)

∆Y : (Perubahan PDRB Sektor Perikanan Kabupaten Cirebon)

∆Yb : (Perubahan PDRB subsektor perikanan tangkap Kabupaten Cirebon)

Msy : (Koefisien Multiplier effect).

5.4.2 Multiplier effect subsektor perikanan tangkap berdasarkan indikator tenaga kerja

Analisis efek pengganda subsektor perikanan tangkap berdasarkan indikator tenaga kerja Kabupaten Cirebon dibutuhkan untuk memprediksi kesempatan kerja yang akan dihasilkan pada subsektor perikanan tangkap. Multiplier effect subsektor perikanan tangkap berdasarkan indikator tenaga kerja di Kabupaten Cirebon yaitu, perbandingan antara perubahan tenaga kerja subsektor perikanan tangkap dengan perubahan seluruh sektor di Kabupaten Cirebon. Multiplier effect kesempatan kerja subsektor perikanan tangkap Kabupaten Cirebon dapat dilihat pada Tabel 16.

Berdasarkan Tabel 16 dapat diketahui bahwa multiplier effect kesempatan kerja subsektor perikanan tangkap di Kabupaten Cirebon pada tahun 2005-2009 cenderung menurun. Pada tahun 2008 Kabupaten Cirebon tidak mampu menciptakan kesempatan kerja wilayah untuk subsektor perikanan tangkap.

Multiplier effect kesempatan kerja subsektor perikanan tangkap tahun 2006 yaitu

76,43. Artinya penambahan satu orang tenaga kerja di Kabupaten Cirebon bisa menciptakan kesempatan kerja wilayah sebanyak 77 orang. Pada tahun 2007

multiplier effect kesempatan kerja subsektor perikanan tangkap yaitu 39,34.

Artinya penambahan satu orang tenaga kerja di Kabupaten Cirebon bisa menciptakan kesempatan kerja wilayah sebanyak 40 orang. Pada tahun 2009

multiplier effect kesempatan kerja subsektor perikanan tangkap yaitu 12,55.

Artinya penambahan satu orang tenaga kerja di Kabupaten Cirebon bisa menciptakan kesempatan kerja wilayah sebanyak 13 orang. Multiplier effect kesempatan kerja subsektor perikanan tangkap Kabupaten Cirebon secara keseluruhan cukup besar. Hal ini disebabkan pengembangan perikanan tangkap dapat ditingkatkan dengan membentuk suatu usaha perikanan yang saling berkaitan antara satu nelayan dengan pelaku perikanan lainnya. Semakin luasnya lapangan usaha semakin banyak menyerap tenaga kerja dan dapat memberikan peningkatan pendapatan daerah.

Tabel 16 Analisis multiplier efect subsektor perikanan tangkap berdasarkan tenga kerja Kabupaten Cirebon Tahun 2005-2009 (orang)

Tahun Eb E ∆Eb ∆E Mse

2005 21.811 882.000 - - -

2006 22.740 811.000 929 71.000 76,43

2007 23.350 835.000 610 24.000 39,34

2008 18.680 804.000 -4.670 31.000 -6,64

2009 22.425 851.000 3.745 47.000 12,55

Sumber: Data diolah, 2010

Ket : E : (Jumlah tenaga kerja sektor perikanan Kabupaten Cirebon)

Eb : (Jumlah tenaga kerja Subsektor Perikanan Tangkap Kabupaten Cirebon) ∆E : (Perubahan tenaga kerja sektor perikanan Kabupaten Cirebon)

∆Eb : (Perubahan tenaga kerja subsektor perikanan tangkap Kabupaten Cirebon)

Mse : (Koefisien Multiplier effect).

5.5 Komoditas Unggulan Hasil Tangkapan

Komoditas hasil tangkapan terdapat pada Lampiran 5. Penentuan komoditas unggulan dilakukan dengan melakukan perhitungan nilai produksi subsektor perikanan tangkap, perhitungan dilakukan dengan metode LQ. Subsektor perikanan tangkap dibagi berdasarkan kelompok. Kelompoknya yaitu berdasarkan kelompok ikan pelagis kecil, kelompok ikan pelagis besar, kelompok ikan demersal, dan kelompok binatang berkulit keras dan kelompok binatang berkulit lunak.

Tabel 17 Nilai LQ kelompok ikan di Kabupaten Cirebon Tahun 2005-2009

No Tahun LQ Jenis Ikan

Jenis Ikan 2005 2006 2007 2008 2009

1 Lidah 57,74 0,00 2,00 0,02 0,95 Demersal

2 Beloso 4,52 0,00 0,00 1,65 0,00 Demersal

3 Sebelah 0,00 0,28 5,61 4,92 4,49 Demersal

4 Gulamah 0,00 0,00 0,13 0,40 0,47 Demersal

5 Biji nangka 0,00 0,00 4,21 1,51 4,96 Demersal 6 Tenggiri papan 0,00 0,00 0,14 1,95 2,04 Pelagis besar 7 Peperek 0,89 0,00 0,19 0,21 0,19 Pelagis kecil 8 Manyung 0,05 0,02 0,69 1,71 0,07 Pelagis kecil 9 Kakap putih 0,00 0,00 0,02 0,94 1,43 Pelagis kecil 10 Julung-julung 0,00 0,00 3,42 2,97 2,41 Pelagis kecil 11 Kembung 1,25 0,44 0,72 0,16 2,41 Pelagis kecil 12 Selar 0,02 0,32 0,17 0,27 0,29 Pelagis kecil 13 Udang Windu 0,00 0,00 2,63 24,27 4,65 Binatang

berkulit keras

14 Rajungan 0,00 0,00 3,17 4,32 3,68 Binatang

berkulit keras 15 Kerang darah 0,00 0,00 4,22 4,97 4,87 Binatang

berkulit lunak

16 Gurita 0,00 0,00 4,22 4,95 4,67 Binatang

berkulit lunak 17 Udang Dogol 0,38 0,00 3,71 3,70 1,45 Binatang

berkulit keras 18 Udang Krosok 0,00 0,00 3,34 3,11 4,47 Binatang

berkulit keras Sumber: Data Diolah, 2010

Berdasarkan hasil perhitungan LQ pada Tabel 17, ikan lidah memiliki nilai LQ tertinggi pada tahun 2005 sebesar 57,74; pada tahun 2007 nilai LQ tertinggi terdapat pada ikan sebelah sebesar 5,61; pada tahun 2008 nilai LQ tertinggi terdapat pada udang windu sebesar 24,27 dan pada tahun 2009 LQ tertinggi terdapat pada ikan biji nangka sebeesar 4,96. Nilai LQ pada tahun 2006 rata-rata kurang dari 1 sedangakan mulai dari tahun 2007 sampai 2009 nilai LQ cenderung fluktuatif. Nilai LQ kurang dari satu maka Kabupaten Cirebon harus memasok ikan dari daerah lain, sehingga dapat menurunkan pendapatan daerah Kabupatan Cirebon. Nilai LQ lebih dari satu memungkinkan adanya ekspor jenis ikan ke daerah lain sehingga dapat meningkatkan pendapatan daerah Kabupaten Cirebon. Jenis ikan yang dominan memiliki nilai LQ lebih dari satu terdapat pada tahun 2007 sampai 2009. Jenis ikannya antara lain ikan sebelah, ikan biji nangka, ikan

julung-julung, udang windu, rajungan, kerang darah, gurita, udang dogol dan udang krosok. Jenis ikan tersebut yang memiliki potensi untuk dikembangkan, karena memiliki nilai LQ yang stabil dan cenderung fluktuatif. Hal ini memungkinkan adanya ekspor jenis ikan tersebut ke luar daerah sehingga dapat meningkatkan pendapatan daerah Kabupaten Cirebon.

Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya, menurut Citraningtyas (2010) bahwa perhitungan LQ untuk penentuan komoditas unggulan, dapat ditentukan nilai bobot LQ dan nilai bobot trend. Ketentuan untuk nilai bobot LQ yaitu, apabila nilai LQ>1 maka diberi bobot 3; apabila nilai 0,8 ≤ LQ ≤ 0,99 diberi bobot 2; dan apabila LQ < 0,8 diberi bobot 1. Ketentuan untuk nilai trend yaitu apabila trend mengalami peningkatan maka diberi bobot 3; apabila trend tetap maka diberi bobot 2; dan apabila trend mengalami penurunan maka diberi bobot 1.

Tabel 18 Penilaian total bobot LQ di Kabupaten Cirebon Tahun 2005-2009

No

Tahun Nilai bobot LQ Nilai

bobot trend Total bobot Komoditas Jenis Ikan 2005 2006 2007 2008 2009 1 Lidah 3 1 3 1 2 1 11 Netral 2 Beloso 3 1 1 3 1 1 10 Non unggulan 3 Sebelah 1 1 3 3 3 3 14 Unggulan 4 Gulamah 1 1 1 1 1 3 8 Non unggulan

5 Biji nangka 1 1 3 3 3 3 14 Unggulan

6 Tenggiri papan 1 1 1 3 3 3 12 Netral 7 Peperek 2 1 1 1 1 1 7 Non unggulan 8 Manyung 1 1 1 3 1 3 10 Non unggulan

9 Kakap putih 1 1 1 2 3 3 11 Netral

10 Julung-julung 1 1 3 3 3 3 14 Unggulan

11 Kembung 3 1 1 1 3 3 12 Netral

12 Selar 1 1 1 1 1 3 8 Non

unggulan

13 Udang Windu 1 1 3 3 3 3 14 Unggulan

14 Rajungan 1 1 3 3 3 3 14 Unggulan

15 Kerang darah 1 1 3 3 3 3 14 Unggulan

16 Gurita 1 1 3 3 3 3 14 Unggulan

17 Udang Dogol 1 1 3 3 3 3 14 Unggulan

18 Udang Krosok 1 1 3 3 3 3 14 Unggulan

Kecenderungan LQ komoditas unggulan hasil tangkapan dapat dilihat pada Lampiran 6. Jadi, berdasarkan Tabel 18 mengenai pembobotan nilai LQ, menunjukkan bahwa ada komoditas unggulan, komoditas non unggulan, dan komoditas netral. Menentukan jenis ikan kedalam kelompok komoditas unggulan, non unggulan, dan netral dengan menentukan selang kelas dari jumlah jenis ikan tersebut (Lampiran 7). Selang kelas untuk komoditas unggulan nilai ≥ 14, komoditas netral nilai 11-13 dan komoditas non unggulan rentangnya dari 8-10. Berdasarkan nilai pada selang tersebut ikan yang termasuk kedalam komoditas unggulan terdiri dari ikan sebelah, ikan biji nangka, ikan julung-julung, udang windu, udang krosok, udang dogol, rajungan, kerang darah dan gurita. Ikan-ikan tersebut mayoritas ditangkap dengan menggunakan alat tangkap dogol dan jaring insang tetap.

Dokumen terkait