BAB III WACANA PEMASUNGAN MASYARAKAT ATAS DIRI AGUNG TR
C. Dampak yang diterima Keluarga atas Tindakan memasung Agung Tri Subagyo
Setelah Agung dipasung, tidak serta merta permasalahan yang dihadapi keluarga Agung selesai. Tanggung jawab merawat serta memelihara Agung tetap di tangan mereka. Begitu pula dengan memasung Agung, pemasungan pada Agung di satu sisi membuat keluarga memenuhi tanggung jawabnya untuk melindungi masyarakat dari perasaan terancam atas keberadaan Agung juga melindungi Agung dari kemungkinan disakiti orang lain. Namun, di sisi lain ,pemasungan juga menimbulkan luka baru.
1. Jeritan Bahagia Seorang Ibu Atas Tunainya Tanggungjawab
Rufiah merupakan pihak keluarga yang dianggap masyarakat sebagai orang yang harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Agung. Suaminya telah meninggal sejak Agung masih kecil, sedangkan kakak-kakak Agung yang lelaki telah merantau di luar kota mencari nafkah. Ketika masyarakat mendesak Rufiah segera melakukan tindakan pada Agung atau mendesak memasung Agung, saat itu dialah yang harus memutuskan. Sebab anak-anaknya, Dewi dan Ika, saat itu masih muda. Mau tak mau, suka tak suka, dialah yang harus mengambil
keputusan itu. Karenanya, para tetangga yang ikut memasung Agung mengatakan bahwa mereka memasung Agung karena disuruh Rufiah. Radhin, yang ikut memasung Agung berkata, “ Yo…aku iku manut karo wong dhuwur mbak. Kan memang ibunya yang minta warga untuk memasung Agung. ( Ya…saya itu ikut
kata-kata orang atas bapak. Kan memang ibunya yang meminta bantuan warga
memasung Agung)”
Setelah Agung dipasung, Rufiah merasa lega. “Ben ngono wae mbak..emang iku wes takdire Allah. Luwih apik dipasung daripada ngrusui wong- wong. Misale dijarke, aku yo Isin mbak lek wong-wong jukuk krambil neng umah, mengko do ngiro lek aku seng ngongkon Agung. ngisin-ngisini wae.
(Biarkan Agung seperti itu mbak. Memang sudah takdir Allah. Lebih baik dipasung daripada mengganggu orang-orang. Kalau dibiarin-tidak dipasung- saya malu. Misale kalau orang-orang mengambil kelapa di rumah itu saya malu, nanti
dikira saya yang nyuruh Agung)” dibandingkan dengan perasaan ketika Agung
belum dipasung, Rufiah merasa lebih lega . Karena dengan dipasung, ia tidak lagi merasa tidak enak dengan tetangga akibat tindakan-tindakan Agung yang di luar kebiasaan, seperti mencuri barang-barang milik tetangganya.
Sebagai seorang ibu, naluri melindungi anak-anaknya adalah hal yang tak bisa ia hindari. Meskipun Agung kadang-kadang membuatnya jengkel, karena tindakannya yang aneh-aneh tetapi tetap saja ia tak terima ketika anaknya diperlakukan semena-mena pada tetangga-tetangga. Misalnya, ia tak bisa menahan amarah dan tangis ketika mengingat Agung yang dilempar batu oleh tetangganya atau dipukuli sampai babak belur oleh pemuda-pemuda di desanya. “
Emang aku rangerti lek wong-wong kuwi jahat karo anakku, aku ngerti wong ngantemi watu neng anakku (memang saya tidak tahu kalau orang-orang itu pada
jahat sama anak saya, saya tahu orang yang melempar batu ke anak saya)” mukanya terlihat marah, dengan nada tinggi saat mengatakan hal itu, lalu dia meneruskan “ Sopo seng tego delok anae disakiti mbak, sampai sirae berdarah- darah ( siapa orang tua yang tega, melihat anaknya disakiti mbak, hinggga kepalanya berdarah-darah lho)” kenang Rufiah. “Lek dicancang, aku kan ra perlu kuatir. Wong-wong koyok ngono maneh (Kalau diikat saya tak perlu khawatir, Agung akan diperlakukan buruk lagi)”
Selain itu, dengan memasung Agung berarti memudahkannya merawat anaknya itu. Ia dapat memastikan bahwa Agung di tempat yang nyaman, tanpa perlu was-was akan tindakan-tindakan Agung atau tindakan-tindakan orang lain pada Agung. Dengan dipasung, ia dapat memastikan sandang dan pangan Agung. Setiap hari ia bisa memberi makanan pada anaknya itu. Setidaknya, ia bisa memastikan bahwa Agung bisa makan sehari tiga kali, bisa merokok, bisa minum teh tiap hari, juga terjamin kebersihan tempat pemasungannya. Keinginannya untuk merawat dan memastikan bahwa Agung sehat-sehat saja, baik-baik saja, tanpa kekurangan sandang pangan itu ia ungkapkan pada Agung. Ketika itu
Agung mengatakan keinginannya untuk tidak dipasung, “ Jane aku ki yo pingin macul-macul ngono..” Lalu dengan spontan Rufiah menjawab, “Wes gogok wae, tak ragati ( sudah duduk saja, saya rawat)”
Agung ngamuk. Jika sebelum Agung dipasung, Rufiah harus mencari tempat persembunyiaan karena khawatir akan dicelakai, dalam bayangannya dibunuh Agung, karena Agung pernah membawa golok sambil mengancam akan membunuhnya, maka dengan memasung Agung ancaman itu ia dapat tidur pulas di rumahnya sendiri. Ia tak lagi takut karena Agung sudah diikat. Dulu setiap Agung kumat, ngamuk, dan memarahinya, ia akan bersembunyi di rumah warga.
2. Jeritan Tangis Seorang Ibu Atas ‘Musibah’ yang Harus Ia Pikul Bagi Rufiah pemasungan juga menimbulkan luka baru. Meski ada kelegaan tetap saja ada yang mengganjal. “Sopo seng pingin anae koyok ngono
(siapa yang mau anaknya diperlakukan seperti itu?)” Berkali-kali ketika saya datang ke rumahnya, kata-kata tak berdaya semacam itu sering keluar.
Seringkali ia bernada tinggi ketika ada orang yang bertanya tentang Agung. Perasaan tidak menentu, merasa tidak nyaman dengan kenyataan bahwa anaknya dipasung seringkali hinggap, terutama ketika ada orang lain yang ia anggap menyalahkan tindakan itu. Ia tak bisa menyembunyikan amarah ketika seorang pemuda, yang memotret Agung saat itu, menasehatinya agar tidak memasung Agung. Pernyataan orang lain yang melarang pemasungan itu benar- benar mengusik dan membuatnya geram. “Wong kuwi rangerti wae masalae, ra ngerti koyok piye aku, nasehati ben ra masung Agung emang sopo dee?” (Orang
itu tidak tahu masalah sebenarnya, tidak mengerti saya seperti apa, seenaknya menasehati orang biar tidak memasung, memang siapa dia?), ia menceritakan hal itu dengan nada tinggi.
Setiap kali ia berbicara tentang Agung selalu dengan nada tinggi, seperti orang yang tersinggung. Misalnya, ketika saya sudah berusaha semaksimal mungkin bertanya dengan nada dan kata-kata halus tentang bagaimana kondisi Agung, “Des pundi buk kabarnipun Agung? (bagaimana kabar Agung)” dia langsung dengan nada tinggi berkata, “ Yo cah ra genah yo ngono kuwi, jenenge wae cah ra genah. Jenenge wae wong gendeng. (Namanya juga orang nggak
bener, namanya aja orang gila, ya seperti itu), yo lek bar mangan iku karepku tak
suruh rapi, ora ngrusui (setelah makan itu inginku dia itu rapi, tidak
memperburuk.)
Memasung Agung juga membuatnya tidak dapat kemana-mana. Ia mengatakan tidak dapat berkunjung ke rumah anak-anaknya yang lain karena
harus merawat Agung setiap hari. “Aku ki raiso neng ndi-neng ndi, jane yo pingin dilii putu, nginep neng umae anakku, ( saya tak bisa kemana-mana, sebenarnya saya ingin menengok cucu, nginep di rumah anak saya)” Keluh Rufiah. Ia tak
bisa meninggalkan Agung barang sehari saja, karena tidak ada yang bisa mengganti merawat Agung. Ia juga akan selalu kepikiran anaknya itu jika ditinggal pergi. Karena itu ia juga merasa terpenjara, “Raiso neng ndi-neng ndi
(tidak bisa kemana-mana)” begitu inginnya terlepas dari pekerjaan merawat anaknya itu, ia bilang, “lek onok seng gelem ganteni ngurusi Agung, aku gelem kok, (kalau ada yang bersedia mengganti saya merawat Agung, saya juga mau kok?)” lalu ia lanjutkan, “Tapi sopo seng gelem ngurus cah ngono kuwi (tetapi siapa yang bersedia merawat anak seperti itu?)”.