• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dari Hobi Menuju Profesi: Mengoleksi, Membaca dan Menulis

Dalam dokumen Ketika “Aku” Tak Menyapa”nya" (Halaman 36-42)

Oleh Agus Hermanto, M.H.I. (Bandar Lampung)

T

idak dipungkiri bahwa kehidupan seseorang sangat terpengaruh oleh kedua orang tuanya. Sedikit atau banyak pasti akan meniru sifat dan kebiasaan orang tuannya. Namun tidak dipungkiri, bahwa kemudian akan terpengaruhi oleh kawan, lingkungan-masyarakat, pendidikan dan bacaan seseorang yang akan dapat merubah kebiasaan keluarga, baik yang positif maupun negatif sekalipun.

“Hidup adalah pilihan dan beresiko”. Itulah motto hidup saya. Jika kita memaknai sebuah kehidupan, semua orang akan memberikan definisi dan pengertian yang berdeda-beda. Namun dalam sebuah perjalanan hidup seseorang harus menentukan pilihan dan tujuannya, karena dari pilihan itulah akan beresiko dan berakibat pada perjalanan hidup selanjutnya, baik untuk sementara maupun selamanya.

Namun pada intinya, bagaimana seseorang dapat mencapai tujuan akhir hidupnya, yaitu kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Demikian, ketika manusia lahir ke dunia ia akan segera berhadapan dengan kenyataan dan pilihan-pilihan kehidupan. Hidup memang harus memilih. Seseorang tidak mungkin mampu melakukan dan menentukan arah hidupnya, dan Ia hanya bisa merencanakan ini karena kehidupan manusia dilingkupi oleh dua atmosfer, yaitu kuasa Tuhan dan kuasa manusia.

Mengoleksi buku adalah bagian dari pilihan. Membaca adalah bagian dari pilihan. Menulis juga bagian dari pilihan. Maka, ketika pilihan itu telah kita tentukan, maka akan timbul rasa hobi, karena hobi itu adalah sebuah keinginan untuk mendapatkan kepuasan. Begitulah ketika hobi itu kita teruskan lama-kelamaan akan mendarah daging

membentuk sebuah karakter yang kemudian menjadi profesi yang menyenangkan, bahkan menjadi sebuah kebutuhan, bukan sekadar kewajiban. Karena profesi itu sendiri merupakan tugas khusus yang paten, tetap dan permanen. Bahkan ketika sudah menjadi profesi, tidak ada lagi rasa beban, tuntutan atau kewajiban, yang ada hanyalah kebutuhan.

Ada sebuah pepatah mengatakan “ilmu shaidun wa

al-kitabatu shaiduhu, qayyid shuyudaka bi al-hibalil watsiqati”. Ilmu di

ibaratkan sebagai hewan buruan, dan tulisan sebagai pengikatnya, maka hendaknya hewan buruan itu kita ikat dengan ikatan yang sangat kuat agar tidak lepas. Begitulah ilmu, harus kita pahami, telaah, analisa, dan kemudian tidak cukup sampai di situ, tapi harus kita tulis agar tidak lupa. Karena tulisan adalah sebagai pengikat agar ilmu yang kita miliki tidak lepas kembali seperti binatang buruan.

Kegiatan mengoleksi buku merupakan sebuah hobi yang saya lakukan selama masih di pesantren. Bahkan keinginan memiliki perpustakaan pribadi merupakan salah satu planning yang muncul ketika saya di pesantren, yang hal tersebut belum muncul ketika masih kanak-kanak. Dari situ nyata bahwa keinginan saya mengoleksi buku terinspirasi dari kawan, karena melihat kawan-kawan banyak yang mengoleksi buku. Dari pendidikan, karena semakin banyak mengerti pentingnya ilmu, maka ada niatan untuk maju, berubah ke arah yang positif, karena lingkungan pelajar, maka secara pribadi tertuntut untuk “fas tabiqul khairat” dalam konteks kebaikan. Ilmu merupakan candu dalam kehidupan. Jika tidak mendapatkan hal yang baru di setiap detiknya terasa gelisah, bahkan hampa di setiap langkahnya, karena tiada kepuasan yang didapatkan.

Kegiatan membaca muncul beriringan dengan niat mengoleksi buku, walaupun di kala itu ada rasa bingung dan bimbang, dari mana harus memulai. Ketika mencoba untuk membaca, maka ada sebuah problem yang tidak terselesaikan, yaitu “tidak atau susah dipahami”. Karena secara pribadi tidak memiliki basic yang kuat untuk sebuah keilmuan. Namun beriringnya waktu berjalan, setelah mencoba dan terus mencoba, ternyata suatu keilmuan satu tidak dapat dipisahkan dengan keilmuan yang lainnya.

Pada awalnya saya lebih hobi membaca novel, karena novel lebih dapat saya rasakan dalam perjalanan hidup saya di kala itu. Bahkan setiap novel baru berbit, tidaklah terlupakan, bahkan ada puluhan novel yang telah terkoleksi. Namun setelah mengenal banyak novel, ternyata begitu eloknya cerita yang terkandung di dalamnya.

Aku, Buku dan Membaca: Kisah Persahabatan dengan Buku

Namun pada akhir cerita adalah sebuah ratapan, tangisan, musibah, yang memang ditulis agar pembaca terharu dengan cerita tersebut. Dari situlah saya keluar dari hobi mengoleksi novel, meskipun tidak dipungkiri bahwa novel merupakan sumber inspirasi dan imajinasi saya yang kemudian ingin selalu membaca dan membaca.

Setelah meninggalkan novel, hobi saya pindah untuk mengoleksi buku-buku ilmiah, walaupun di kala itu saya sangat alergi dengan tulisan-tulisan yang yang dipenuhi dalil-dalil yang muatannya padat dan sangat memeras otak. Namun karena hobi mengoleksi buku sudah terlanjur mendarah daging, maka saya tetap menyisihkan uang saku untuk membeli buku, walaupun belum terbaca. Hanya satu misi saya waktu itu, yaitu ingin memiliki perpustakaan pribadi, walaupun kala itu belum membutuhkannya, alias hanya sekadar mengoleksi saja.

Keinginan menulis bukanlah impian saya sejak kecil, namun justru muncul ketika di sela-sela saya berada di pondok yang dengan segala lika-liku kehidupan nyata yang saya rasakan, yang begitu unik; senyum, ketawa, bahagia, derita menjadi satu. Saat itulah saya mulai menulis cerita hidup. Kenyataan yang saya rasakan tertuang dalam diary. Hanya berupa lembaran-lembaran yang tercecer yang tiada bersambung antara tulisan satu dengan yang lainnya.

Keinginan menulis selalu muncul di sela-sela membaca. Namun keinginan itu kemudian hilang tiada kesan. Terkadang muncul kembali dan hilang begitu saja tanpa kesan. Lagi-lagi masalah yang dialami sama, yaitu selalu berpikir, untuk apa menulis? Bagaimana caranya menulis? Bagaimana cara memulainya? Layak ataukah tidak untuk diterbitkan dan dibaca orang? Tema apa yang harus ditulis? Permasalahan-permasalahan tersebut selalu muncul setiap kali ingin mengawali menulis. Hal ini berjalan begitu lama, bahkan bertahun-tahun hanya merenung menentukan tema, tidak percaya diri, khawatir ditertawakan orang yang membaca dan sebagainya yang tiada ujung.

Langkah awal yang saya lakukan adalah mencoba untuk mengumpulkan buletin. Setiap kali ada buletin selalu saya simpan dan saya reka-reka bagaimana caranya buletin ini bisa dituangkan, toh isinya tidak begitu bertele-tele dan tidak memeras otak atau menggunakan analisa yang begitu sulit sehingga melelahkan. Hal ini kami lakukan dan selalu kami lakukan berulang kali, namun lagi-lagi terbentur kepada tema yang akan dituangkan dan dari mana mulainya menulis.

Perjalanan yang sangat pahit nan indah di pondok pesantren tersebut saya tulis di diary, saya kumpulkan dan saya coba kembangkan menjadi novel. Namun hal tersebut hanya sebuah mimpi belaka. Pada akhirnya saya berpikir bahwa ini hanya sebuah angan-angan yang saya coba untuk lupakan, walaupun terkadang masih terbayang alangkah bahagianya jika saya dapat menulis walaupun satu buku.

Ketika kuliah S-1, posisi saya masih di pesantren. Saking banyaknya tugas dan kegiatan, seakan tugas kuliah hanya melulu makalah dan tuntutan saja. Namun keinginan mengoleksi buku tidak kunjung reda, walaupun keinginan menulis sudak terkubur dalam-dalam. Setiap materi kuliah minimal memiliki satu buku pelajaran yang diajarkan. Saya benar-benar berusaha untuk memiliki. Pada tugas akhir kuliah, saya ditemukan dengan pembimbing yang kompeten. Di situlah saya banyak mengenal transliterasi dan sistematika penulisan ilmiah. Selain itu ada motivasi dari fakultas untuk berlomba-lomba bahwa skripsi terbaik 5 besar akan diberikan hadiah. Saya berpikir bahwa ini adalah sebuah tantangan. Alhamdulillah skripsi saya masuk 5 besar. Dari situlah kemudian muncul angan-angan untuk melanjutkan S-2. Lagi-lagi saya aktif mengoleksi buku, walaupun pada saat S-2 tidak sebanyak seperti S-1.

Seiring perjalanan waktu, setelah S-2 selesai saya menjadi dosen Luar Biasa di suatu perguruan tinggi negeri. Waktu luang mengajar saya manfaatkan untuk berkunjung ke lembaga jurnal kampus. Di sanalah kami selalu berkomunikasi dengan beberapa kawan, termasuk para pengelola jurnal.

Awalnya kunjungan hanya untuk bersemayam sebentar sembari menunggu mata kuliah lain yang hendak diajar, namun lama-kelamaan terasa nyaman, bahkan berusaha memberanikan diri untuk menulis. Memang benar kata pepatah, “Kalau ingin baik bertemanlah dengan orang baik, kalau ingin wangi berdekatlah dengan pedagang minyak wangi, pasti akan terpengaruhi menjadi menjadi wangi”.

Dari situlah otak saya mulai terbuka kembali ketika membaca atau melihat jurnal kawan-kawan yang terbit. Awalnya saya bimbang untuk menulis, namun ketika inspirasi menulis itu tiba-tiba muncul, saya mulai berdialog dengan diri sendiri. Akhirnya timbul keyakinan untuk menulis. Saat itu saya berpikir, berapa pun biaya yang dibutuhkan pasti akan kami bayar asalkan jurnal kami diterbitkan. Setelah satu artikel jurnal diterbit, ada rasa ketagihan untuk selalu menulis dan menulis.

Aku, Buku dan Membaca: Kisah Persahabatan dengan Buku

Setelah artikel jurnal pertama saya terbit, saya bergerilya mencari informasi jurnal lain yang mau menampung karya saya. Umumnya jurnal hanya mau menerbitkan artikel kita satu tahun sekali. Padahal saat itu keinginan menulis sangat kuat. Akhirnya saya menerima beberapa informasi “call for paper” dari beberapa penerbit jurnal.

Setelah aktif menulis artikel jurnal, tiba-tiba ada sebuah tawaran menulis buku yang dikirim melalui email. Email tersebut mengajak bekerjasama menulis dan menerbitkan buku. Awalnya saya tidak begitu yakin. Ada kecurigaan; darimana pengirim email ini tahu alamat email saya. Usut punya usut ternyata ia menerima alamat email dari lembaga penerbit jurnal yang mencantumkan nama dan alamat email saya di website lembaga jurnal tersebut.

Akhirnya saya mencoba mengirikan naskah pertama yang saya olah dari tesis. Setelah buku pertama terbit, tentu saja saya merasa bahagia dan terharu. Hal ini semakin memotivasi untuk gemar menulis. Motivasi menulis itu juga muncul dari faktor sugesti pribadi yang kebetulan menerima beasiswa 5000 doktor dari Kementerian Agama. Muncul pertanyaan dalam diri saya; doktor tidak punya penelitian dan karya ilmiah? Tuntutan itu justru muncul ketika sedang mendaftar beasiswa online. Terdapat kolom yang harus diisi di form pendaftaran. Saat kolom karya ilmiah atau penelitian saya kosong.

Sejak itulah, menulis menjadi pilihan saya. Dengan menulis saya dapat mentransfer ilmu. Proses mengajar tidak harus dilakukan di kelas, melainkan bisa dilakukan dengan cara menulis, agar tulisan saya dapat dinikmati orang lain. Dengan menulis, apa yang kita angan-angankan bisa kita tuangkan dalam sebuah coretan. Dengan menulis kita dapat menyampaikan inspirasi, saran, dan kritikan.

Menulis merupakan candu. Itu adalah sebuah kenyataan. Jika menulis sudah menjadi hobi, terasa hampa jika dalam sehari tidak menulis. Ketika jenuh, letih, dan lelah terasa terhibur dengan menulis. Ketika melihat karya-karya kita, selalu ketagihan untuk menulis dan terus menulis.

Saya benar-benar merasakan, bahwa menulis bukanlah hal yang sukar seperti yang kita bayangkan awal, namun juga tidak mudah seperti yang saya sampaikan, karena menulis membutuhkan ketekunan, meluangkan waktu yang cukup, banyak bacaan, setelah hal tersebut kita miliki, inspirasi akan muncul dan mengajak otak kita selalu terarah dan tertuju pada keinginan menulis.

Ada sebuah keunikan yang dilakukan oleh sebagian ulama yang gemar berkarya. Ketika pagi hari disuguhi makan, siang makanan tersebut masih untuh. Ketika siang diantar makanan, sore dilihat istrinya masih utuh belum tersentuh. Begitulah kecintaan ulama terhadap ilmu Allah. Saking cintanya terhadap ilmu, banyak diceritakan para ulama sampai tidak menikah. Subhanallah.

Memang benar, menulis membutuhkan waktu yang panjang dan memeras otak, namun jika hal tersebut sudah menjadi hobi akan menjadi ringan tanpa beban. Semoga Allah memberikan kekuatan untuk selalu merenungi kebesaran-Nya yang tiada batas, walaupun semua ranting pohon di jagat raya ini dijadikan penanya dan lautan dijadikan tintanya.

Dalam dokumen Ketika “Aku” Tak Menyapa”nya" (Halaman 36-42)