• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dasar-Dasar Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

Dalam dokumen HUKUM KETENAGAKERJAAN DAN PERKEMBANGANNY (1) (Halaman 143-148)

DASAR-DASAR DAN KELEMBAGAAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

A. Dasar-Dasar Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

1. Pengertian dan Tujuan Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

Untuk mengetahui dan memahami K3 secara menyeluruh dan mendalam maka kita harus mengetahui dari sudut filsafatinya. Filsafat K3 adalah mempelajari keselamatan dan kesehatan kerja yang dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan yang fundamental. Seperti hakikat dari K3, tujuan K3 dan lain-lain. Secara filosofi K3 adalah suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmani maupun rohani tenaga kerja, manusia, hasil karya, dan budayanya menuju masyrakat adil dan makmur.

Norma K3 bertujuan untuk melindungi tenaga kerja dan orang lain di tempat kerja. Di samping itu, hal tersebut diharapkan pula dapat menjamin setiap sumber produksi dipakai secara aman dan efisien. "Tujuan lain dari K3 adalah agar mampu mewujudkan produktivitas kerja yang optimal. K3 menurut UU No. 1-1970 bertujuan untuk mencegah terjadinya kecelakaan, bahaya kebakaran, bahaya peledakan, penyakit akibat kerja, pencemaran lingkungan, dan lain-lain.

Secara keilmuan K3 merupakan ilmu pengetahuan dan penerapannya dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja.

Sekarang sudah ada fakultas yang khusus mempelajari K3 dalam kurikulumnya. Universitas Brawijaya contohnya di fakultas hukum terdapat penjurusan hukum perburuhan. Dalam salah satu

mata kuliahnya terdapat mata kuliah “K3” yang berbobot 2 (dua) SKS. Sayangnya peminat jurusan ini sangat minim padahal banyak perusahaan yang meminati ahli-ahli di bidang keselamatan kerja. Di Institut Teknologi Nasional Malang, bahkan ada Fakultas K3. Hal ini merupakan perkembangan luar biasa di dunia tenaga kerja.

140

K3 bertujuan untuk mencegah dan mengurangi terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat hubungan kerja, dan menjamin:

& Setiap tenaga kerja dan orang lainnya termasuk tamu perusahaan yang berada di tempat kerja mendapat perlindungan atas keselamatannya. & Setiap sumber produksi dapat dipakai dan dipergunakan secara aman dan

efisien.

& Sumber produksi adalah tenaga kerja, dan aset perusahaan baik bergerak maupun tidak bergerak.

& Proses produksi berjalan lancar.

Usaha K3 adalah pencegahan dan penanggulangan kecelakaan kerja di tempat kerja. Pencegahan dan penanggulangan kecelakaan kerja harus ditunjukkan untuk mengenal dan menemukan seba-sebab faktor bahaya dan bukan gejalanya agar dikemudian dapat dieliminasi faktor bahaya tersebut.

Sumber-sumber bahaya di tempat kerja antara lain:

@ Faktor bahaya yaitu manusia (dalam keadaan letih, lesu, ngantuk) dan lingkungan (terlalu kotor, bising, dan kurang pencahayaan).

@ Faktor manusia misalnya sumber daya manusia yang kurang memadai (misal seorang sarjana ekonomi ditempatkan di bagian perawatan mesin). @ Faktor material yaitu bahan-bahan material yang ditempatkan pada tempat yang tidak sesuai. Misalnya bahan yang seharusnya menggunakan baja tetapi hanya menggunakan besi. Hal ini tentunya akan menimbulkan bahaya.

@ Faktor yang akan dihadapi yaitu perawatan terhadap faktor produksi secara berkala akan mencegah kecelakaan kerja.

2. Metode Pencegahan Kecelakaan

Menurut ILO langkah-langkah yang dapat ditempuh untuk menanggulangi kecelakaan kerja antara lain:

a. Peraturan perundang-undangan

Adanya peraturan yang mengatur secara implisit yang memuat tentang K3 di dalamnya terdapat unsur untuk melakukan sesuatu dan larangan untuk berbuat sesuatu.

b. Standarisasi

Standarisasi merupakan suatu ukuran terhadap besaran-besaran atau nilai, dengan adanya standar K3 yang modern dan mengacu pada perikemanusiaan akan menentukan tingkat kemajuan K3 dalam sebuah perusahaan. Jadi, pada dasarnya baik buruknya K3

141

dapat diketahui melalui pemenuhan standar K3 yang ditetapkan di tempat kerja.

c. Inspeksi

Inspeksi adalah kegiatan yang dilakukan untuk memeriksa dan menguji kelayakan tempat kerja, mesin, pesawat, alat dan instalasi sejauh mana alat ini memenuhi keselamatan kerja.

d. Riset teknis

Penelitian teknis untuk menunjang tingkat kemajuan bidang K3 sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan teknik dan teknologi.

e. Riset medis

Penelitian medis untuk menunjang tingkat kemajuan bidang K3 sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan teknik dan teknologi.

f. Riset psikologi

Penelitian psikologi untuk menunjang tingkat kemajuan bidang K3 sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan teknik dan teknologi.

g. Riset statistik

Penelitian statistik untuk menunjang tingkat kemajuan bidang K3 sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan teknik dan teknologi.

h. Pendidikan

Pendidikan adalah faktor yang sangat penting untuk sarana peningkatan kesadaran K3.

i. Latihan

Faktor keterampilan di bidang K3 adalah faktor penunjang untuk peningkatan kesadaran akan pentingnya K3 di dalam tempat kerja.

j. Persuasi

Persuasi merupakan suatu cara pendekatan K3 secara pribadi dengan tidak menerapkan dan memaksakan melalui sanksi- sanksi. Karena sanksi dianggap bukan jalan efektif untuk peningkatan kesadaran K3.

k. Asuransi

Asuransi adalah jalan penyelesaian apabila terdapat kecelakaan kerja agar perusahaan tidak terlalu mengalami kerugian dan

142

pekerja mendapatkan ganti rugi atas pengabdiannya di perusahaan.

l. Penerapan huruf a hingga k di atas langsung di tempat kerja. Kesebelas syarat di atas harus diterapkan di tempat kerja agar pekerja selalu senantiasa dalam keadaan sehat dan selamat.

Dalam pencegahan kecelakaan di Indonesia dikenal ada 5 (lima) tahapan pokok yaitu:

1. Organisasi K3

Organisasi ini dapat dibentuk struktural seperti departemen K3 dan fungsional seperti panitia pembina K3.

2. Menemukan fakta atau masalah

Dapat dilakukan dengan survey, inspeksi, observasi, investigasi, dan review of record.

3. Analisis

Dalam tahap ini akan didapatkan alternatif pemecahan K3, maka harus dapat dikenali berbagai hal mengenai:

j sebab utama masalah tersebut, j tingkat kekerapannya,

j lokasi,

j kaitannya dengan manusia maupun kondisi.

4. Pemilihan/penetapan alternatif/pemecahan

Dapat dilakukan dengan melihat keterangan di bawah ini:

j eliminasi yaitu mengeluarkan barang yang mengandung potensi

hazard.

j substitusi yaitu mengganti barang dengan barang lainnya yang lebih

mendukung.

j rekayasa barang yaitu merekayasa barang apabila eliminasi dan

substitusi tidak dapat dilakukan.

j administrasi yaitu rotasi pekerja dengan sistem work permit.

j alat pelindung diri yaitu jika keempat hal di atas tidak dapat

dilakukan maka alat pelindung diri jadi tempat yang terkahir. B. Penerapan Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Di Perusahaan 1. Membentuk atau meningkatkan aktivitas Panitia Pembina Keselamatan

dan Keselamatan Kerja (P2K3) yang terdiri dari unsur pekerja/serikat pekerja dan manajemen dengan anggota yang memiliki kepedulian, pengetahuan dan keterampilan tentang K3.

143

2. Membuat rencana kegiatan serta melaksanakan, memonitor dan mengevaluasi rencana kegiatan berkaitan dengan K3.

3. Melakukan aktivitas harian dalam bentuk inspeksi, berbicara sekurang- kurangnya 5 (lima) menit tentang K3, peneguran dan penjelasan.

4. Melakukan aktivitas mingguan atau bulanan dalam bentuk pertemuan tentang K3,serta melakukan evaluasi, pengecekan dan analisis K3 yang telah dibuat oleh ahli K3 dari departemen keselamatan.

5. Pada saat tertentu melakukan penyelidikan kecelakaan, analisis keamanan pekerjaan, diagnosis, tes kesehatan serta kampanye K3. kampanye dapat berupaka memasang spanduk berlogo K3. seperti “DATANG SELAMAT DAN SEHAT PULANG SELAMAT DAN SEHAT PULA, KELUARGA TERSAYANG MENUNGGU DI RUMAH”.

Sebagai upaya perbaikan berkesinambungan dalam pelaksanaan dan penerapan K3 di lingkungan kerja sebaiknya perlu dilakukan rekomendasi-rekomendasi sebagai berikut:

1. Meningkatkan upaya-upaya pembinaan K3 dalam semua bidang K3, terutama pembinaan tenaga kerja dan tenaga kerja magang tentang potensi bahaya yang mungkin timbul dan melengkapi peralatan kerja yang digunakan dengan alat pengaman sesuai dengan ketentuan perundang-undangan dan standar teknis yang berlaku.

2. Dengan adanya beberapa kecelakaan yang timbul sebagai akibat hubungan kerja,maka perlu ditingkatkan pengawasan terhadap norma K3, dengan dilakukannya pemeriksaan peralatan secara berkala, sertifikasi, menambah fasilitas atau peralatan tambahan agar pekerjaan bisa dilakukan dengan baik dan aman serta penggantian peralatan- peralatan yang sudah tidak layak operasi, menumbuhkan lingkuangan kerja yang berstandar, dan mematuhi peraturan terkait K3.

Selain, K3 lingkungan, K3 mekanik dan K3 konstruksi, ada hal yang sangat penting lagi yakni K3 kebakaran. K3 kebakaran dapat terjadi kapan saja dan di mana saja, sehingga tidak ada tempat kerja yang dapat dijamin bebas resiko dari bahaya kebakaran. Karena kebakaran dapat membawa konsekuensi yang berdampak merugikan bagi banyak pihak baik pengusaha, tenaga kerja maupun masyarakat luas.

Akibat yang dapat ditimbulkan dari peristiwa terjadinya kebakaran di tempat kerja dapat mengakibatkan adanya korban jiwa, kerugian materiil, hilangnya lapangan pekerjaan dan kerugian lain

144

secara tidak langsung, apalagi bila terjadi kebakaran pada objek vital (yang dapat berdampak lebih luas lagi).

Selanjutnya, melihat dari berbagai masalah K3 dan belum optimalnya pengawasan K3 karena begitu kompleksnya kegiatan produksi di perusahaan dan kurangnya pengawas spesialis untuk K3 konstruksi yang dimiliki oleh Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi dalam upaya mencegah kecelakaan kerja, maka diperlukan pengawasan yang secara terus-menerus dan terpadu dari instansi Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi untuk meningkatkan tugas pengawasan K3.

Dalam dokumen HUKUM KETENAGAKERJAAN DAN PERKEMBANGANNY (1) (Halaman 143-148)