• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III TINJAUAN UMUM TENTANGHUKUM

B. Dasar Hukum dalam Hukum Administrasi Negara (HAN)

15

15Paulus Effendie lotulung. 1993. Beberapa Sistem Tentang Kontrol Segi Hukum Terhadap Pemerintah.Citra Aditya bakti: Bandung, hlm.xvi.

Hukum Administrasi Negara adalah rangkaian peraturan-peraturan yang memuat cara bagaimana orang harus bertindak terhadap dan di muka peradilan dan cara

bagaimana cara pengadilan itu harus bertindak, satu sama lain untuk melaksanakan berjalannya peraturan Tata Usaha Negara (Hukum Administrasi Negara). Dengan kata lain yang dimaksud Hukum Acara Peradilan tata usaha Negara adalah hukum yang mengatur tentang cara-cara menyelesaikan sengketa di Pengadilan Tata Usaha Negara,

serta mengatur hak dan kewajiban pihak-pihak yang terkait dengan proses sengketa tersebut.

16

(1) hukum mengenai kekuasaan memerintah;

Eksistensi hukum administrasi menjadi sangat penting artinya dalam suatu negara karena hukum administrasi sebagai norma memberi wewenang dan batas wewenang yang digunakan sebagai landasan dalam menjalankan pemerintahan.

Hukum administrasi juga membatasi tindakan pemerintah di luar wewenangnya, agar tidak bebas sepenuhnya dan tidak menurut kehendaknya sendiri dalam menjalankan wewenang dalam arti sewenang-wenang.Singkat kata, hukum administrasi

merupakan pembatasan kebebasan pemerintah. Dengan demikian, dapat dipetakan unsur-unsur utama hukum administrasi, antara lain :

(2) hukum mengenai peran serta masyarakat dalam pelaksanaan pemerintahan;

(3) hukum mengenai organisasi pemerintahan;

(4) hukum mengenai perlindungan hukum bagi rakyat.

Ilmu Hukum Administrasi Negara adalah suatu sistem ilmiah dan merupakan salah satu cabang ilmu Hukum yang lambat laun yang merupakan suatu displin hukum tersendiri. Dengan memperlakukan hukum Administrasi negara sebagai suatu disiplin ilmiah, maka kita menerima dua hal, yaitu:

- Menerima Hukum Administrasi Negara sebagai objek dari studi dan pendidikan ilmiah;

16Erny Herlin. 2012. Hukum Administrasi Negara. Malang

- Menerima Hukum Administrasi Negara sebagai suatu kesatuan dari aturan hukum tertentu yang memerlukan metode tersendiri.

Dalam lapangan hukum, hukum digolongkan menjadi hukum publik dan hukum privat.Hukum publik sebagai hukum yang mengatur hubungan antara pemerintah dan masyarakat, sedangkan hukum privat adalah hukum yang mengatur hubungan antara individu dengan individu atau individu dengan badan hukum, dan sebaliknya.

Sumber hukum formil adalah sumber hukum materil yang sudah dibentuk melalui proses-proses tertentu, sehingga sumber hukum tersebut menjadi berlakudan ditaati secara umum. Ada beberapa sumber hukum formilHukum Administrasi Negara :

a) Undang-undang (dalam arti luas);

Di Indonesia yang dimaksudkan dengan UU dalam arti materiil atau UU dalamarti yang luas meliputi semua peraturan perundang-undangan yang tertuangdalam TAP MPRS No.XX/MPRS/1966 sebagaimana telah disempurnakan dengan TAP MPR No.II Tahun 2000 mengenai Sumber Hukum dan Tata UrutanPeraturan

Perundang-Undangan, yaitu : 1) UUD 1945;

2) Ketetapan MPR;

3) Undang-Undang;

4) Peraturan Pemerintah pengganti UU (Perpu);

5) Peraturan Pemerintah;

6) Keputusan Presidan;

7) Peraturan Daerah;

8) Dan peraturan-peraturan pelaksanaan lainnya.

b) Kebiasaan/praktek Alat Tata Usaha Negara;

Alat Administrasi Negara mempunyai tugas melaksanakan apa yangmenjadi tujuan Undang-undang dan menyelenggarakan kepentingan umum. Didalam rangka melaksanakan tugasnya alat Administrasi Negara menghasilkanatau mengeluarkan keputusan-keputusan/ketetapan-ketetapan gunamenyelesaikan suatu masalah konkrit yang terjadi berdasarkan peraturan hukum(Undang-undang dalam arti yang luas atau Undang-undang dalam arti materiil)yang abstrak sifatnya.Keputusan-keputusan alat Administrasi Negara ini seringdikenal dengan istilah beschikking atau UU Peradilan Tata Usaha Negaramenyebutnya dengan istilah Keputusan Tata Usaha Negara.

c) Yurisprudensi;

Dimaksudkan dengan yurisprudensi ini adalah suatu keputusan hakimatau keputusan suatu badan peradilan yang sudah mempunyai kekuatan hukumyang tetap. Yurisprudensi sebagai sumber hukum ini berkaitan dengan prinsipbahwa hakim tidak boleh menolak mengadili perkara yang diajukan kepadanya dengan alas an belum ada peraturan perundang-undangan yang mengaturperkara tersebut, sehingga seorang hakim harus melihat juga nilai-nilai yang adadalam masyarakat dan keputusan hakim yang terdahulu, apabila ia bertugasmenyelesaikan permasalahan yang belum ada peraturan perundang-undangannya.

d) Doktrin/pendapat para ahli;

Doktrin sebagai sumber hukum formil HAN, berlainan dengan sumber-sumber hukum yang lain karena doktrin ini diakui sebagai sumber hukum formil HAN memerlukan waktu yang lama dan proses yang panjang. Undang-undang begitu diundangkan (sudah mengikat umum), langsung dapat dipakai sebagai sumber hukum.Yurisprudensi begitu mempunyai kekuatan hukum yang tetap langsung bisa menjadi sumber hukum.Begitu juga kebiasaan/praktek administrasi negara, setelah mempunyai kekuatan hukum yang tetap langsung bisa dipakai sebagai sumber hukum.Akan tetapi doktrin atau pendapat para ahli HAN, baru dapat dipakai sebagai sumber hukum HAN apabila doktrin tersebut sudah diakui oleh umum.

e) Traktat.

Traktat sebagai sumber hukum formal dari sumber hukum administrasinegara ini berasal dari perjanjian internasional yang kemudian diratifikasi olehpemerintah untuk dilaksanakan di negara yang telah meratifikasi perjanjianinternasional tersebut.Namun demikian perjanjian internasional yang dapatdijadikan sumber hukum formal hanyalah perjanjian internasional yang penting,lazimnya berbentuk traktat atau traty.Kalau tidak dibatasi demukian menurutSudikno Mertokusumo pemerintah tidak mempunyai cukup keleluasaan bergerakuntuk menjalankan hubungan internasional dengan sewajarnya.Apalagi untukberlakunya traktat di suatu negara ini diharuskan mendapatkan persetujuanterlebih dahulu dari wakil-wakil rakyat.17

17Victor Situmorang, 1989, Dasar-dasar Hukum Administrasi Negara, Bina Aksara, Jakarta;

C. Badan Atau Lembaga Terkait Pelaksanaan HAN

18Subyek hukum adalah segala sesuatu yang dapat memperoleh hak dankewajiban dari hukum.Yang dapat memperoleh hak dan kewajiban dari hukumhanyalah manusia atau orang atau sesuatu yang dapat dipersamakan denganorang yang sering kita kenal dengan istilah badan hukum.Badan hukum itubertindak sebagai satu kesatuan dalam lalu lintas hukum seperti

orang.Hukummenciptakan badan hukum oleh karena pengakuan organisasi atau kelompokmanusia sebagai subyek hukum itu sangat diperlukan karena hal itu bermanfaatbagi lalu lintas hukum.

Hukum Administrasi Negara memiliki ruang lingkup yang luas, diantaranya membicarakan mengenai aparatur pemerintah sebagai bagian dari alatAdministrasi Negara yang dapat melakukan tindakan-tindakan khususnyatindakan yang berakibat hukumdilakukan oleh subyek hukum. Dapat dikatakan bahwa subyek hukum

dalamlapangan hukum administrasi negaraadalah : 1. Pegawai Negri;

2. Jabatan-jabatan;

3. Jawatan publik, dinas-dinas public, badan usaha milik negara/daerah;

4. Daerah swapraja dan daerah swatantra (daerah kabupaten/kota danpropinsi);

5. Negara

18 Muchsan, 1998, Pengantar Hukum Administrasi Negara, Liberty, Yogyakarta;

D. Keterkaitan Hukum Administrasi Negara Terhadap Pengangkatan Kepala Desa

Berdasarkan paparan diatas dapat dilihat bahwa hukum administrasi negara merupakan suatu bentuk hukum yang salah satunya mengatur hubungan pemerintah dengan masyarakat.Kepala desa merupakan bagian dari pemerintah yang diangkat sesuai prosedur berlaku dan berhubungan secara langsung dengan masyarakat desa setempat.

Pengangkatan kepala desa jelas diatur dalam Undang-undang nomor 6 tahun 2014 tentang desa.19

Desa Adat pada prinsipnya merupakan warisan organisasi kepemerintahan masyarakat lokal yang dipelihara secara turun-temurun yang tetap diakui dan diperjuangkan oleh pemimpin dan masyarakat Desa Adat agar dapat berfungsi mengembangkan kesejahteraan dan identitas sosial budaya lokal.Desa Adat memiliki hak asal usul yang lebih dominan daripada hak asal usul Desa sejak Desa Adat itu lahir sebagai komunitas asli yang ada di tengah masyarakat.Desa Adat adalah sebuah

Desa atau yang disebut dengan nama lain mempunyai

karakteristik yang berlaku umum untuk seluruh Indonesia, sedangkan Desa Adat atau yang disebut dengan nama lain mempunyai karakteristik yang berbeda dari Desa pada umumnya, terutama karena kuatnya pengaruh adat terhadap sistem pemerintahan lokal, pengelolaan sumber daya lokal, dan kehidupan sosial budaya masyarakat Desa.

19Opcit

kesatuan masyarakat hukum adat yang secara historis mempunyai batas wilayah dan identitas budaya yang terbentuk atas dasar teritorial yang berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat Desa berdasarkan hak asal usul.

Kepala Desa/Desa Adat atau yang disebut dengan nama lain merupakan kepala Pemerintahan Desa/Desa Adat yang memimpin penyelenggaraan Pemerintahan Desa. Kepala Desa/Desa Adat atau yang disebut dengan nama lain mempunyai peran penting dalam kedudukannya sebagai kepanjangan tangan negara yang dekat dengan masyarakat dan sebagai pemimpin masyarakat. Dengan posisi yang demikian itu, prinsip pengaturan tentang Kepala Desa/Desa Adat adalah:

a. sebutan Kepala Desa/Desa Adat disesuaikan dengan sebutan lokal;

b. Kepala Desa/Desa Adat berkedudukan sebagai kepala Pemerintah Desa/Desa Adat dan sebagai pemimpin masyarakat;

c. Kepala Desa dipilih secara demokratis dan langsung oleh masyarakat setempat, kecuali bagi Desa Adat dapat menggunakan mekanisme lokal; dan

d. pencalonan Kepala Desa dalam pemilihan langsung tidak menggunakan basis partai politik sehingga Kepala Desa dilarang menjadi pengurus partai politik.

Mengingat kedudukan, kewenangan, dan Keuangan Desa yang semakin kuat, penyelenggaraan Pemerintahan Desa diharapkan lebih akuntabel yang didukung dengan sistem pengawasan dan keseimbangan antara Pemerintah Desa dan lembaga Desa. Lembaga Desa, khususnya Badan Permusyawaratan Desa yang dalam

kedudukannya mempunyai fungsi penting dalam menyiapkan kebijakan

Pemerintahan Desa bersama Kepala Desa, harus mempunyai visi dan misi yang sama

dengan Kepala Desa sehingga Badan Permusyawaratan Desa tidak dapat

menjatuhkan Kepala Desa yang dipilih secara demokratis oleh masyarakat Desa.

Berdasarkan penjelasan diatas yang diambil dari undang-undang nomor 6 tahun 2014, jelas bahwa pemerintahan desa dan pengangkatan kepala desa sudah diatur dalam perundang-undangan.Hal ini menunjukkan bahwa pengangkatan kepala desa dan pemerintahan desa merupakan bagian dari hukum administrasi negara yang mengatur hubungan pemerintah dengan masyarakat.Tujuan dari penetapan ini adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa melalui badan pemerintahan desa yang dipimpin langsung oleh kepala desa setempat.

BAB IV

EFEKTIVITAS PENGANGKATAN KEPALA DESA SEIKARANG BERDASARKAN UNDANG-

UNDANGNOMOR 6 TAHUN 2014

A. Pelaksanaan Pengangkatan Kepala Desa di Desa Seikarang Kecamatan Galang Desa Seikarang merupakan salah satu dari 29 desa di Kecamatan Galang.Desa Seikarang memiliki 6 dusun yang dikepalai oleh kepala dusun masing-masing. Desa Seikarang merupakan salah satu desa yang memiliki jumlah penduduk yang sedang

dibandingkan dengan desa lain di Kecamatan Galang dengan sebanyak 314 kepala keluarga.

Secara umum deskripsi jumlah penduduk di Desa Seikarang dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 2. Deskripsi Jumlah Penduduk Desa Seikarang

Dusun 1 Dusun2 Dusun3 Dusun4 Dusun5 Dusun6

Jumlah Kepala keluarga 54 33 71 33 78 45

Jumlah Laki-Laki 134 83 139 87 143 33

Jumlah Perempuan 108 83 138 46 159 38

Jumlah Penduduk 296 133 277 133 302 71

Sumber: Kantor Kepala Desa Seikarang

Berdasarkan hasil pemungutan suara di desa Seikarang pada tanggal 19 April 2016 kepala desa terpilih adalah Bapak Muhammad Nur. Setelah pengesahan jabatan sebagai kepala desa, Bapak Muhammad Nur dapat melaksanakan tugas dan wewenangnya sebagai kepala pemerintahan desa. Struktur organisasi desa Seikarang dapat dilihat pada bagan berikut ini.

Sumber: Kantor Kepala Desa Seikarang

Gambar 1. Struktur Organisasi Desa

Dalam pelakasanaan kebijakan pemerintahan desa pihak Bapak Muhammad Nur dibantu oleh Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa Seikarang yang diketuai oleh Bapak Syamsuddin.Lebih jelasnya struktur organisasi lembaga ini dapat dilihat pada bagan berikut.

Sumber: Kantor Kepala Desa Seikarang

Gambar 2. Struktur Organisasi Lembaga Ketahanan Masyarakat

Dengan adanya kerja sama pemerintahan desa dengan lembaga ketahanan masyarakat diharapkan dapat mengatasi permasalahan yang terkait dengan kesejahteraan masyarakat desa Seikarang kecamatan Galang.

Prosedur pengangkatan kepala desa di Desa Seikarang mengacu kepada peraturan pemerintah yang berlaku.Namun, pada pelaksanaanya tidak terlepas dari peran pemangku adat yang diakui keberadaannya oleh masyarakat.Menurut hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti, pengangkatan kepala desa diupayakan sejalan dengan peraturan pemerintah namun tidak bertentangan dengan adat istiadat yang berlaku di masyarakat.Adat istiadat merupakan warisan sosial budaya yang sangat penting dan harus dijaga masyarakat dengan baik.untuk itu, pemerintah sekalipun sangat menghormati keberadaan adat istiadat di Indonesia. Hal ini tercantum jelas di dalam Undang-undang Nomor 6 tahun 2014 tentang Desa di dalam ketentuan umum yang berbunyi sebagai berikut.

20

20Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa.

Keberagaman karakteristik dan jenis Desa, atau yang disebut dengan nama lain, tidak menjadi penghalang bagi para pendiri bangsa (founding fathers) ini untuk menjatuhkan pilihannya pada bentuk negara kesatuan. Meskipun disadari bahwa dalam suatu negara kesatuan perlu terdapat homogenitas, tetapi Negara Kesatuan Republik Indonesia tetap memberikan pengakuan dan jaminan terhadap keberadaan kesatuan masyarakat hukum dan kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak tradisionalnya.”

Pelaksanaan pemilihan dan pengangkatan kepala desa di Seikarang juga tidak terlepas dari peran Badan Permusyawaratan Desa (BPD) desa Seikarang yang dibentuk berdasarkan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.BPD desa Seikarang diketuai oleh bapak Drs. Hatmansyah.BPD bertugas untuk membentuk panitia pelaksanaan pemilihan kepala desa, mengawasi pelaksanaan pemilihan dan melakukan musyawarah terkait dengan kebijakan-kebijakan yang diperlukan masyarakat desa Seikarang.Struktur organisasi BPD desa Seikarang dapat dilihat pada bagan dibawah ini.

Sumber: Kantor Kepala Desa Seikarang

Gambar 3. Struktur Organisasi BPD Desa Seikarang

Berdasarkan waancara yang dilakukan oleh peneliti terhadap Bapak Drs.

Hatmansyah selaku ketua BPD di desa Seikarang pelaksanaan pengangkatan kepala desa di desa Seikarang melalui beberapa tahap sebagai berikut.

1. Tahapan pembentukan panitia pemilihan.

Pelaksanaan pembentukan panitia pemilihan ditetapkan oleh badan permusyawaratan desa (BPD) setempat. Melalui BPD anggota kepanitian

pemilihan diakui oleh pemerintah setempat dengan adanya instruksi pengalokasian dana sebesar Rp. 1.500.000,00 untuk berbagai kegiatan seperti persiapan tempat pemungutan suara, honor panitia pemilihan, sosialisasi pemilihan kepala desa, dana biaya makan dan minum anggota kepanitaaan pemilihan suara.

2. Tahapan pendaftaran daftar pemilih.

Pendaftaran daftar pemilih diagendakan oleh kepanitian pemilihan dengan terlebih dahulu melakukan survey ke setiap rumah penduduk duntuk di data sebagai pemilih. Masyarakat yang sudah di data akan diberikan kartu tanda bukti

pendaftaran. Daftar pemilih yang sudah didata ditempelkan panitia di kedai-kedai dan tempat umum yang sering diramaikan oleh penduduk.

3. Tahapan penjaringan bakal calon dan penyeleksian calon kepala desa.

Panitia pemilihan memberikan kesempatan kepada anggota masyarakat yang ingin mencalonkan diri sebagai kepala desa. Calon yang mendaftar kepada panitia akan diseleksi apakah memenuhi syarat dan ketentuan yang berlaku. Syarat dan

ketentuan ini mengacu kepada peraturan pemerintah yang telah ditetapkan di dalam perundang-undangan.

Syarat-syarat pendaftaran pencalonan Kepala Desa yang diserahkan panitia dalam proses penjaringan bakal calon kepala desa, ialah :

a. Surat lamaran pencalonan Kepala Desa.

b. Surat Pernyataan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa

c. Surat pernyataan setia kepada Pancasila sebagai dasar Negara, Undang-UndangDasar Negara Republik Indonesia 1945, Negara dan Pemerintahan RepublikIndonesia.

d. Surat pernyataan bersedia menjadi Calon Kepala Desa.

e. Surat pernyataan mengenal desa dan tikenal oleh masyarakat Desa.

f. Surat pernyataan Belum pernah menjabat kapala desa paling lama 10 tahun atau dua kali masa jabatan.

g. Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa

h. Berpendidikan sekurang-kurangnya Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP)dan atau berpengetahuan yang sederajat

i. Tidak pernah di hukum penjara melakukan tindakan pidana.

j. Tidak di cabut hak pilihnya berdasarkan Keputusan pengadilan yangmempunyai kekuatan hukum tetap.

k. Memenuhi syarat-syarat lain yang sesuai dengan adat istiadat setempat.

4. Tahapan kampanye calon kepala desa.

Setelah dilakukan penjaringan terhadap calon kepala desa, maka panitia memberikan masa kampanye kurang lebih 2 minggu kepada calon untuk memberikan keyakinan kepada masyarakat terkait kapabilitas yang

dimilikanya.Proses kampanye diawasi oleh panitia dan diharuskan tidak melanggar ketentuan yang berlaku.

5. Tahapan pemungutan suara.

Pada tahapan pemilihan dan pemungutan suara yang dilakukan masyarakat desa Seikarang, masyarakat melakukan pemilihan di tempat pemungutan suara yang telah ditetapkan panitita sebelumnya. Masyarakat wajib membawa surat undangan yang diberikan panitia pemilih dan akan memberikan surat suara calon kepala desa kepada masyarakat yang berisikan tanda gambar peserta calon kepala desa agar masyarakat mencoblos salah satu tanda gambar yang berada pada surat suara tersebut dan dimasukkan kedalam kotak suara yang telah disediakan oleh panitia pemilihan. Pemilihan dan pemungutan suara dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang diberikan panitia pemilihan kepala desa yaitu mulai dilaksanakan pada jam 08.00 WIB sampai jam 13.00 WIB, yang telah dihadiri panitia pemilihan dan para calon kepala desa beserta para saksi-saksi dari para calon kepala desa Seikarang.

6. Tahapan penetapan calon terpilih.

Penetapan canlon terpilih dilakukan oleh kepanitian pemilihan berdasarka calon yang mendapatkan suara terbanyak.Adapun ketentuan dalam menetapkan calon terpilih adalah :

a. Apabila calon yang memiliki jumlah suara yang sama maka dilakukan pemilihan kepala desa putaran kedua, dan apabila juga masih memperoleh jumlah suara yangsama maka akan dilakukan musyawarah antara calon kepala desa dengan badanperwakilan desa.

b. Apabila musyawarah tidak dapat diselesaikan maka dilakukan pengundian.

Calon kepala desa terpilih kemudian diusulkan oleh Badan Perwakilan Desa kepada kepala daerah melalui camat untuk dapat disahkan sebagai kepala desa oleh perintah setempat, setelah disahkan maka kepala desa terpilih akan dilantik oleh kepala daerah setelah 15 (limabelas hari) setelah terhitung tanggal penerbitan keputusankepala daerah.

Berdasarkan uraian diatas menunjukkan bahwa pengangkatan kepala desa di Desa Seikarang berjalan secara demokratis.Peranan pemangku adat dapat dilihat pada setiap langkah pemilihan kepala desa. Pemangku adat setempat dijadikan sebagai penasehat untuk memberikan masukan-masukan kepada panitia, calon kepala desa beserta masyarakat untuk mengarahkan pemungutan suara agar tetap berjalan kondusif dan sesuai dengan norma yang berlaku.

B. Prosedur Pengangkatan Kepala Desa Menurut Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 Melaui undang-undang nomor 6 tahun 2014, pemerintah menetapkan prosedur pemilihan kepala desa.Peraturan ini diterbitkan oleh pemerintah dengan tujuan untuk menjaga asas demokrasi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat desa.Pada butir 8 dalam ketentuan umum Undang-undang nomor 6 tahun 2014 dijelaskan sebagai berikut.

“Kepala Desa dipilih secara langsung oleh dan dari penduduk Desa warga negara Republik Indonesia yang memenuhi persyaratan dengan masa jabatan 6 (enam) tahun terhitung sejak tanggal pelantikan. Kepala Desa dapat menjabat paling banyak 3 (tiga) kali masa jabatan secara turut atau tidak secara

berturut-turut. Sedangkan pengisian jabatan dan masa jabatan Kepala Desa Adat berlaku ketentuan hukum adat di Desa Adat sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat serta prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten/Kota dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah.

Khusus mengenai pemilihan Kepala Desa dalam Undang-Undang ini diatur agar dilaksanakan secara serentak di seluruh wilayah Kabupaten/Kota dengan maksud untuk menghindari hal negatif dalam pelaksanaannya.Pemilihan Kepala Desa secara serentak mempertimbangkan jumlah Desa dan kemampuan biaya pemilihan yang dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten/Kota sehingga dimungkinkan pelaksanaannya secara bergelombang sepanjang diatur dalam Peraturan Daerah Kabupaten/Kota.Sebagai akibat dilaksanakannya kebijakan pemilihan Kepala Desa secara serentak, dalam Undang-Undang ini diatur mengenai pengisian jabatan Kepala Desa yang berhenti dan diberhentikan sebelum habis masa jabatan.Jabatan Kepala Desa Adat diisi berdasarkan ketentuan yang berlaku bagi Desa Adat.Dalam hal terjadi kekosongan jabatan Kepala Desa Adat, Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dapat menetapkan penjabat yang berasal dari masyarakat Desa Adat yang bersangkutan”.

Berdasarkan uraian diatas sangat jelas terlihat bahwa pemerintah sangat mendukung demokrasi di Indonesia sampai pada tingkat terkecil seperti

desa.pemerintah juga menghormati dan mengakui keberadaan adat istiadat yang berlaku di masyarakat setempat. Pemerintah menginginkan pemilihan kepala desa sejalan antara ideologi negara dan adat istiadat yang berlaku di setiap desa.Karena

perlu disadari bahwa adat istiadat yang diwariskan oleh leluhur sangat penting dan merupakan salah satu bentuk kekayaan bhineka tunggal ika di Indonesia.

Pelaksanaan pemilihan kepala desa dijelaskan dalam Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa pada pasal 31-39 yang diuraikan sebagai berikut.

Pasal 31

1) Pemilihan Kepala Desa dilaksanakan secara serentak di seluruh wilayah Kabupaten/Kota.

2) Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota menetapkan kebijakan pelaksanaan pemilihan Kepala Desasecara serentak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota.Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemilihan Kepala Desa serentak sebagaimana dimaksud padaayat (1) dan ayat (2) diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah.

Pasal 32

1) Badan Permusyawaratan Desa memberitahukan kepada Kepala Desa mengenai akan berakhirnya masajabatan Kepala Desa secara tertulis 6 (enam) bulan sebelum masa jabatannya berakhir.

2) Badan Permusyawaratan Desa membentuk panitia pemilihan Kepala Desa.

3) Panitia pemilihan Kepala Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) bersifat mandiri dan tidak memihak.

4) Panitia pemilihan Kepala Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (3) terdiri atas unsur perangkat Desa,lembaga kemasyarakatan, dan tokoh masyarakat Desa.

pasal 33

Calon Kepala Desa wajib memenuhi persyaratan:

1) warga negara Republik Indonesia;

2) bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;

3) memegang teguh dan mengamalkan Pancasila, melaksanakan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta mempertahankan dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan RepublikIndonesia dan Bhinneka Tunggal Ika;

4) berpendidikan paling rendah tamat sekolah menengah pertama atau sederajat;

5) berusia paling rendah 25 (dua puluh lima) tahun pada saat mendaftar;

6) bersedia dicalonkan menjadi Kepala Desa;

7) terdaftar sebagai penduduk dan bertempat tinggal di Desa setempat paling kurang 1 (satu) tahun sebelumpendaftaran;

8) tidak sedang menjalani hukuman pidana penjara;

9) tidak pernah dijatuhi pidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah

9) tidak pernah dijatuhi pidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah

Dokumen terkait