BAB III METODE PENELITIAN
G. Dasar Pemikiran Variabel Yang diteliti
72 regresi kita ingin menduga garis populasi yang sesungguhnya tidak pernah diketahui (garis lurus putus-putus) berdasarkan sampel pasangan data pada sampel. Persoalanvini merupakan persoalan estimasi uji inferensi daam regresi. Garis regresi penduga ini dapat dipergunakan untuk meramal (prediksi) rentang rata-rata nilai Y pada saat nilai X diketahui, demikian juga rentang nilai-nilai Y pada saat nilai tertentu dari X .
Berikut ini adalah contoh rumus : Keterangan :
Y = nilai yang diukur/dihitung pada variabel tidak bebas x = nilai tertentu dari variabel bebas
a = intersep/perpotongan garis regresi dengan sumbu y
b = koefisien regresi /kemiringan dari garis regresi/untuk mengukur kenaikan atau penurunan y untuk setiap perubahan satu-satuan x /untuk mengukur besarnya pengaruh x terhadap y kalau x naik satu unit.
ratio-73 demographic imbalance (ketidakseimbangan jumlah penduduk) di perkotaan yang sering menghambat pembangunan.
Banyak yang berpendapat bahwa pertumbuhan penduduk yang cepat di kota akan menghambat pembangunan di bidang ekonomi, sosial, dan politik (Todaro dan Stilkind, 1983). Bahkan, pertumbuhan kota yang cepat di negara-negara dunia ketiga dapat menghambat pertumbuhan ekonomi karena adanya penumpukan jumlah tenaga kerja dan sumber daya. Hal ini disebabkan oleh adanya pembangunan yang bersifat urban bias: pembangunan terlalu diarahkan dan bertumpu pada wilayah perkotaan sehingga kota berfungsi sebagai centers of powers and privilege, yakni pusat kekuatan dari segala bidang atau aspek dan mempunyai hak-hak istimewa yang menyebabkan daya tarik perkotaan semakin kemilau bagi banyak urban.
Pada negara sedang berkembang, dampak urbanisasi dapat menimbulkan ketimpangan antardaerah, terutama kota dan desa. Di kota ditandai munculnya kawasan kumuh disertai pertumbuhan sektor informal yang cukup pesat. Bahkan, urbanisasi dapat memunculkan pengangguran, kemiskinan, peningkatan kriminalitas, pencemaran lingkungan, masalah transportasi, penyediaan fasilitas kota, dan sebagainya.
Munculnya masalah sosial dan kantong-kantong miskin di kota-kota merupakan akibat “urbanisasi semu” atau suatu proses urbanisasi yang kebanyakan terjadi di dunia ketiga yang tidak berkaitan dengan perkembangan ekonomi, sehingga menimbulkan kelompok rakyat jelata yang
74 merupakan massa miskin kota. Hal ini terjadi karena kebanyakan yang menjadi urban adalah orang-orang yang hanya membawa tenaga tanpa membawa intelektual ke kota. Dalam hubungannya dengan masalah tersebut, Todaro dan Stilkind (1983) berpendapat bahwa kota-kota di dunia ketiga mengalami over urbanization, suatu keadaan yang menunjukkan bahwa kota-kota tidak mampu lagi menyediakan fasilitas pelayanan pokok dan kesempatan kerja yang memadai kepada sebagian besar penduduk. Hal ini merupakan implikasi dari prioritas pengembangan kota sehingga penduduk luar kota tidak mampu lagi menikmati fasilitas perkotaan.
Definisi mengenai lingkungan hidup dalam undang-undang, yaitu Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Di dalam undang-undang ini, lingkungan hidup diartikan sebagai kesatuan, dan mahluk hidup termasuk di dalamnya manusia dan kesejahteraan manusia serta mahluk hidup lainnya.
Pengertian kebiasaan adalah perbuatan yang diualng-ulang terhadap hal yang sama kemudain diterima serta diakui oleh masyarakat. Di dalam masyarakat, kenyataan keberadaan hukum tidak tertulis atau kebiasaan diakui sebagai norma hkum yang patut dipatuhi. Dalam praktek penyelenggaraan negara, hukum tidak tertulis disebut konvensi. Dipatuhinya hukum tidak tertulis karena adanya kekosongan hukum tertulis yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat/negara. Oleha karena itu, hukum tidak tertulis (kebiasaan)
75 sering digunakan oleh para hakim untuk memutuskan perkara yang belum pernah diatur di dalam Undang-Undang.
Menurtr Bellefroid, kebiasaan merupakan semua peraturan yang meskipun tidak ditetapkan oleh pemerintah, tetapi ditaati oleh seluruh rakyat karena mereka yakin bahwa peraturan itu berlaku sebagai hukum. Agar kebiasaan itu mempunyia kekuatan dan dapat dijadikan sebagai sumber hukum, maka ditentukan oleh 2 faktor: yakni; adanya perbuatan yang dilakukan berulang kali dalam hal yang sama yang selalu diikuti dan diterima oleh orang yang lainnya. Adanya keyakinan hukum dari orang-orang atau golongan – golongan yang berkepentingan. Maksudnya adanya keyakinan bahwa kebiasaan itu memuat hal-hal yang biak dan pantas ditaati serta mempunyai kekuatan mengikat.
Kesadaran diri merupakan proses mengenali motivasi, pilihan dan kepribadian kita lalumenyadari pengaruh faktor-faktor tersebut atas penilaian, keputusan dan interaksi kitadengan orang lain.
Manfaat Kesadaran Diri
Memahami diri dalam relasi dengan orang lain
Menyusun tujuan hidup dan karir
Membangun relasi dengan orang lain
Memahami nilai-nilai keberagaman
Memimpin orang lain secara efektif
76
Meningkatkan produktivitas
Meningkatkan kontribusi pada perusahaan, masyarakat dan keluarga.
Kesadaran tentang lingkungan hidup menyangkut kesadaran akan betapa pentingnya lingkungan hidup dalam menunjang kwalitas hidup sangat di perlukan demi terciptanya lingkungan hidup yang harmonis dan lestari lewat tindakan-tindakan yang positif.
Hasil penelitian teoritik tentang kesadaran lingkungan hidup dari Noelaka (1991), menyatakan bahwa kesadaran adalah keadaan tergugahnya jiwa terhadap sesuatu, dalam hal ini terhadap lingkungan hidup dan terlihat pada perilaku dan tindakan masing-masing individu. Husserl yang dikutip Brauwer (1986), menyatakan bahwa kesadaran adalah pikiran sadar (pengetahuan) yang mengatur akal, hidup wujud yang sadar, bagian dari sikap/perilaku yang di lukiskan sebagai gejala dalam alam dan harus dijelaskan berdasarkan prinsip sebab musabab.
Daniel Chiras 1985 dan 1991) menyatakan bahwa dasar penyebab kesadaran lingkungan adalah etika lingkungan. Etika lingkungan yang sampai sekarang masih berlaku adalah etika lingkungan yang didasarkan pada sisitem nilai yang mendudukan manusia bukan bagian dari alam tetapi manusia sebagai pengatur dan penakluk alam. Sistem nilai ini timbul dari sifat dasar manusia sebagai makhluk biologis. Setiap makhluk biologis memiliki sifat dasar “biological imperialisme” , sifat yang mau makan untuk hidup bagi
77 dirinya sendiri dan bagi keturunannya sehingga tumbuh menjadi sikap
“anthopocentric”, semuannya berpusat pada diri sendiri.
Menurut Sarnoff (dalam Sarwono, 2000) mengidentifikasikan sikap sebagai kesediaan untuk bereaksi (disposition to react) secara positif (favorably) atau secara negatif (unfavorably) terhadap obyek – obyek tertentu. D.Krech dan R.S Crutchfield (dalam Sears, 1999) berpendapat bahwa sikap sebagai organisasi yang bersifat menetap dari proses motivasional, emosional, perseptual, dan kognitif mengenai aspek dunia individu.
Sedangkan La Pierre (dalam Azwar, 2003) memberikan definisi sikap sebagai suatu pola perilaku, tendensi atau kesiapan antisipatif, predisposisi untuk menyesuaikan diri dalam situasi sosial, atau secara sederhana, sikap adalah respon terhadap stimuli sosial yang telah terkondisikan. Lebih lanjut Soetarno (1994) memberikan definisi sikap adalah pandangan atau perasaan yang disertai kecenderungan untuk bertindak terhadap obyek tertentu. Sikap senantiasa diarahkan kepada sesuatu artinya tidak ada sikap tanpa obyek.
Sikap diarahkan kepada benda-benda, orang, peritiwa, pandangan, lembaga, norma dan lain-lain.
Tingkah laku manusia ialah sekumpulan tingkah laku yang ditonjolkan oleh manusia dan dipengaruhi oleh budaya, sikap, emosi, nilai, etika, autoriti, hubung baik, hipnosis, pujukan, paksaan, dan/atau genetik. Ia merupakan salah satu faktor yang penting dalam masyarakat manusia. Menurut sudut
78 pandangan humanisme, setiap manusia mempunyai tingkah laku yang berbeza. Tingkah laku manusia dikaji dalam disiplin akademik seperti psikologi, kerja sosial, sosiologi, ekonomi, dan antropologi.
Perkembangan kehidupan kota yang semakin kompleks ditandai dengan pertambahan jumlah penduduk yang semakin meningkat setiap tahun.
Penduduk kota Makassar pada masa colonial tercatat sebanyak. Berdasarkan hasil sensus tahun 1930, penduduk kota Makassar mencapai lebih dari 84.855 jiwa (Milone,1966 dalam Heryanto, 2015; Sumalyo, 2002). Sedangkan jumlah penduduk kota Makassar tahun 2014 sebesar 1,7 juta jiwa (BPS Kota Makassar).
Pada saat ini muncul gejala semakin tumbuhnya bangunan-bangunan modern searah dengan kompleksitas aktifitas masyarakat, dilain pihak bangunan-bangunan cagar budaya semakin hilang yang berdampak pada semakin terlupakannya makna dan warisan kawasan kota pusaka (urban heritage). Kawasan tersebut memiliki kekayaan pusaka yang berupa historical site, historical distric dan historical cultural (Shirvani, 1985). Kegiatan pembangunan kota yang terus berkembang merupakan suatu harapan, tetapi mempertahankan beberapa komponen spasial dan visual perkotaan yang bernilai pusaka merupakan sebuah keniscayaan.
Salah satu upaya pengembangan ekonomi perkotaan dalam perspektif penataan ekonomi kreatif adalah dengan melakukan kegiatan pelestarian kota pusaka yang meliputi berbagai bangunan warisan budaya di kawasan tersebut.
79 Tatanan ini menjadi penting karena adanya kecenderungan hilangnya aset warisan budaya perkotaan seperti di kawasan pesisir kota lama Makassar.
Perkembangan aset budaya ini membutuhkan penciptaan ruang/spasial sebagai wadah aktifitas budaya yang berkekuatan dalam memberikan peningkatan terhadap kualitas kehidupan masyarakat (Tajuddin, 2003).
Perkembangan perkotaan yang sporadis cenderung melupakan makna-makna pusaka unik yang telah di perjuangkan dan dibangun oleh pendahulu kita, yang tak kalah menariknya dengan bangunan penggantinya. Tatanan kota yang telah terbentuk sepantasnyadilestarikan atau ditingkatkan vitalitasnya.
Pola perubahan land use dan jaringan jalannya dari masa ke masa merupakan perkembangan yang menarik untuk dikaji lebih mendalam, begitu pula jika dikaitkan dengan faktor-faktor apa yang mempengaruhi atau memotivasi perkembangannya. Hal tersebut dapat menjadi dasar filosofi dalam perencanaan kota akan datang.