BAB III PUTUSAN PERMOHONAN IZIN POLIGAMI No. 1139/Pdt
B. Kasus Putusan No. 1139/Pdt. G/2013/PA. Amb Dan No. 0493/Pdt
2. Dasar Pertimbangan Hukum Majelis Hakim Terhadap Perkara
Menimbang, bahwa maksud dan tujuan Permohonan Pemohon seperti telah diuraikan diatas.
Menimbang, bahwa Majelis Hakim telah mendamaikan pihak berperkara dengan menasehati Pemohon untuk mengurungkan niatnya berpoligami, namun tidak berhasil.
Menimbang, bahwa Pemohon hendak menikah lagi dengan calon isteri kedua Pemohon dengan alasan-alasan seperti yang telah termuat pada bagian duduk perkaranya yang secara formal telah memenuhi syarat sebuah surat Permohonan.
Menimbang, bahwa terhadap permohonan tersebut Termohon mengakui dan tidak keberatan jika Pemohon harus menikah lagi dengan calon isteri kedua Pemohon, dan pengakuan Termohon tersebut dilakukan dipersidangan, maka dengan berdasarkan Pasal 174 HIR pengakuan tersebut merupakan bukti sempurna dan Mengikat.
Menimbang, bahwa sekalipun demikian untuk menguatkan permohonan tersebut Pemohon telah mengajukan bukti P.1 sampai dengan P.8, bukti-bukti P.1, P.2, P.3, P.4, dan P.5 merupakan fotokopi yang telah bermeterai cukup, dinazegeln, dan dilegalisir serta dicocokkan dengan aslinya, sedangkan buktibukti P.6, P.7, dan P.8 merupakan surat asli yang dibuat diatas meterai, maka berdasarkan Pasal 165 HIR, bukti-bukti tersebut telah memenuhi persyaratan alat bukti dan selanjutnya dapat diterima untuk dipertimbangkan.
Menimbang, bahwa perkara in casu adalah permohonan izin poligami. Maka sesuai pasal 49 huruf (a) Undang Undang Nomor 7 tahun 1989, tentang Peradilan Agama sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 50 tahun 2009 tentang Perubahan Kedua atas Undang Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama adalah menjadi kewenangan absolut (absolut kompetensi) Pengadilan Agama.
Menimbang, bahwa berdasarkan bukti P.1 dan P.2, maka menjadi terbukti bahwa Pemohon dan Termohon berdomisili diwilayah yuridiksi Pengadilan Agama Ambarawa, maka secara relatif (relative kompetensi) Pengadilan Agama Ambarawa berwenang mengadili perkara ini.
Menimbang, bahwa sebelum mempertimbangkan pokok perkara, Majelis Hakim berpendapat perlu untuk terlebih dahulu mempertimbangkan status harta yang telah diperoleh selama Pemohon menikah dengan Termohon, vide KMA/032/SK/IV/2006 Tentang Pemberlakuan Buku II Pedoman Pelaksanaan Tugas Dan Administrasi Pengadilan angka (9) halaman 141.
Menimbang, bahwa berdasarkan keterangan Pemohon yang dibenarkan Termohon bahwa selama perkawinannya Pemohon dan Termohon telah mempunyai harta bersama berupa:
1. Sebidang tanah dan bangunan rumah seluas 168 M.2 yang terletak di Kabupaten Semarang, sebelah Barat berbatasan Jalan Desa, Sebelah Timur
tanah Bapak. Supomo, sebelah Selatan Tanah Bapak. Sudomo, sebelah Utara Tanah Bapak. Sariyadi.
2. Sebidang sawah seluas 1/2 hektar yang terletak di Kabupaten dengan batas-batas sebagai berikut :
Sebelah Barat : Tanah milik Bapak. Jari
Sebelah Timur : Tanah Bapak. Yamin
Sebelah Selatan : Tanah Bapak. Darwanto
Sebelah Utara : Tanah Ibu Cempluk.
3. Sepeda Motor merk Honda Revo keluaran tahun 2012. 4. 5 ekor kambing.
Menimbang, bahwa oleh karenanya untuk dapat memenuhi rasa keadilan, kepastian hukum dan manfaat terhadap para pihak perlu ditetapkan dalam putusan, dan sesuai dengan maksud bunyi Pasal 94 Ayat (1) dan (2) Kompilasi Hukum Islam, dan pemeriksaan perkara a quo, dapat dilanjutkan.
Menimbang, bahwa berdasarkan pengakuan Pemohon yang dikuatkan dengan bukti P.1, P-2, dan P.3 yang merupakan akta autentik, maka harus dinyatakan telah terbukti menurut hukum bahwa Pemohon dengan Termohon telah terikat dalam perkawinan yang sah, oleh karenanya Pemohon dan
Termohon memiliki kedudukan hukum (legal standing) untuk mengajukan perkara a quo.
Menimbang, bahwa berdasarkan bukti P.7, maka menjadi terbukti bahwa Pemohon bekerja dengan penghasilan Rp.3.000.000,00 sebulan.
Menimbang, bahwa berdasarkan bukti P.4 dan P.5, maka menjadi terbukti bahwa calon isteri kedua Pemohon yang bernama Sariyem berstatus janda cerai sehingga tidak ada halangan untuk menikah lagi.
Menimbang, bahwa berdasarkan bukti P.8, Pemohon menyatakan sanggup berlaku adil terhadap isteri-isterinya baik materiil maupun immaterial.
Menimbang, bahwa Penggugat telah mengajukan 2 orang saksi bernama saksi 1, umur 35 tahun, agama Islam, pekerjaan Tukang ojek, bertempat tinggal di Dusun Ledokan RT.001 RW. 001 Desa Ledokan, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang, dan saksi 2, umur 41 tahun, agama Islam, pekerjaan Buruh, bertempat tinggal di Dusun Gelaran RT.001 RW. 002 Desa Trayu, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang, yang keterangannya sebagaimana tersebut dalam duduk perkara diatas.
Menimbang, bahwa saksi-saksi tersebut telah memberikan keterangan dibawah sumpah terhadap peristiwa yang didasarkan atas penglihatan dan pengetahuannya sendiri serta keterangannya saling bersesuaian, maka
berdasarkan pasal 172 HIR keterangan tersebut dapat diterima untuk dipertimbangkan.
Menimbang, bahwa berdasarkan gugatan Penggugat yang dihubungkan dengan keterangan saksi-saksi maka telah terungkap fakta-fakta dipersidangan yang pada pokoknya sebagai berikut:
a. Bahwa Pemohon dan Termohon adalah suami isteri yang menikah pada tanggal 28 Desember 1994, Pemohon dengan Termohon melangsungkan pernikahan yang dicatat oleh Pegawai Pencatat Nikah Kantor Urusan Agama Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang sebagaimana Kutipan Akta Nikah Nomor - tanggal 28 Desember 1994.
b. Bahwa selama berumah tangga Pemohon dengan Termohon telah dikaruniai dua orang anak.
c. Bahwa Pemohon telah mengajukan permohonan izin poligami ke Pengadilan Agama Ambarawa dengan seorang wanita bernama calon isteri kedua Pemohon yang berstatus janda cerai.
d. Bahwa Pemohon sanggup berlaku adil terhadap isteri-isterinya.
e. Bahwa Termohon telah menyutujui terhadap Pemohon untuk menikah lagi dengan calon istri keduanya.
f. Bahwa Pemohon mempunyai penghasilan sebesar Rp. 3.000. 000,00 (tiga juta rupiah) sebulan.
Menimbang bahwa berdasarkan fakta-fakta tersebut yang didukung bukti-bukti diatas, permohonan poligami yang diajukan oleh Pemohon telah memenuhi alasan fakultatif yaitu Termohon tidak dapat melayani suaminya secara maksimal sebagaimna yang telah diatur dalam Pasal 4 (2) huruf b dan memenuhi syarat yang bersifat komulatif sebagaimana yang telah diatur dalam Pasal 5 ayat (1) huruf (a), (b), dan (c) Undang Undang Nomor 1 tahun 1974 jo. Pasal 55 ayat (2) dan pasal 58 ayat (1) huruf (a) dan huruf (b) Kompilasi Hukum Islam telah dapat dibuktikan oleh Pemohon.
Mengingat firman Allah SWT sebagaimana terdapat dalam Al-qur’an
surat An-Nisa’ ayat 3:
Artinya : “Maka kawinlah wanita-wanita yang kamu senangi dua, tiga, atau empat kemudian jika kamu takut tidak akan berbuat adil, maka
kawinlah seorang saja”.
Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut diatas, dan Pemohon (suami) telah berkeras hati untuk berpoligami, sedangkan Termohon mengizinkan karena Termohon tidak dapat secara maksimal melayani Pemohon, maka suatu indikasi permohonan poligami yang diajukan oleh Pemohon meruapakan suatu upaya untuk memenuhi kebahagiaan dalam rumah tangga, sehingga apabila dipaksakan untuk tidak dikabulkan permohonan Pemohon, maka patut diduga bahwa hal itu akan menimbulkan mafsadat yang lebih besar dari pada maslahatnya, padahal menolak mafsadat itu adalah lebih diutamakan dari pada mencapai maslahat, sebagaimana dimaksud Qo’idah
Fiqhiyah dalam Kitab Asybah Wan Nadhaair halaman 62 yaitu:
حلصملا بلج ىلع مدقم دس افملا ءرد
Artinya :“Mencegah kemudloratan lebih didahulukan dari pada mengejar kemaslahatan ”.
Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut diatas, alasan-alasan permohonan Pemohon telah memenuhi Pasal 4 (1) huruf (b) Jis. Pasal 5 (1) huruf (a), (b) dan (c) Undang Undang nomor 1 tahun 1974
Jo. Pasal 55 ayat (2) Jis. Pasal 58 ayat (1) huruf (a) dan (b) Kompilasi Hukum Islam.
Menimbang, bahwa disamping itu oleh karena calon isteri kedua Pemohon ternyata tuna wicara (penyandang disabilitas) yang telah disetubuhi Pemohon yang mengakibatkan calon isteri keduanya hamil sekitar 5 bulan, sebagai penyandang disabilitas calon isteri kedua Pemohon perlu dilindungi dan dihormati hak dan martabatnya sebagaimana amanat Undang-Undang Nomor 19 tahun 2011 Tentang Pengesahan Konvensi Hak-Hak Penyandang Disabilitas, yakni penjelasan undang undang tersebut pada pokok-pokok isi
konvensi angka 4 “setiap penyandang cacat harus bebas dari perlakuan tidak manusiawi, bebas dari eksploitasi, kekerasan dan perlakuan semena-mena serta berhak untuk mendapatkan penghormatan atas integritas mental dan fisiknya
berdasarkan kesamaan dengan orang lain”.
Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut sudah selayaknya untuk perlindungan terhadap penyandang disabilitas, sehingga Majelis Hakim berpendapat permohonan Izin Poligami Pemohon patut dikabulkan.
Menimbang, bahwa perkara ini termasuk dalam bidang perkawinan, berdasarkan pasal 89 ayat (1) Undang Undang Nomor 7 Tahun 1989 yang telah diubah dan ditambah dengan Undang Undang Nomor 3 Tahun 2006, dan
perubahan tahap kedua dengan Undang Undang Nomor 50 Tahun 2009 tentang Peradilan Agama, maka biaya yang timbul dalam perkara ini dibebankan kepada Penggugat.
Mengingat semua ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan nash syar'i yang berkaitan dengan perkara ini.
3. Putusan Majelis Hakim Terhadap Perkara No. 1139/Pdt. G/2013/PA. Amb.