• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II: DASAR PERTIMBANGAN HAKIM DALAM

B. Dasar Pertimbangan Putusan Hakim

1. Dasar Pertimbangan Putusan Hakim Pengadilan Negeri

Adapun dasar pertimbangan Majelis Hakim dalam menjatuhkan putusan pada tingkat pengadilan negeri berdasarkan Putusan No. 1616/Pid.B/2005/PN-LP, antara lain:

1) Pembuktian Dakwaan Primair

Menimbang, bahwa oleh Penuntut Umum, telah didakwa dengan surat dakwaannya disusun secara Subsideritas maka akan dipertimbangkan dakwaan

Primair terlebih dahulu yaitu sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 340 KUHPidana44 yang mengandung unsur-unsur sebagai berikut:

a) Barangsiapa; b) Dengan sengaja;

c) Dengan direncanakan lebih dahulu; d) Menghilangkan jiwa orang lain; Ad. a) Unsur Barangsiapa

Menimbang, bahwa KUHP tidak ada penjelasan apakah yang dimaksud dengan unsur “barangsiapa”, namun dalam Memorie van Toelichting (MvT) yang dimaksud dengan unsur barangsiapa adalah manusia sebagai subjek hukum;

Menimbang, bahwa Terdakwa dipersidangan pada pokoknya membenarkan bahwa keseluruhan identitas yang tercantum dalam dakwaan Penuntut Umum adalah benar diri Terdakwa. Demikian pula keseluruhan saksi-saksi yang pada pokoknya telah menerangkan bahwa yang dimaksud dengan Tua Anggiat Haris Maruli Simatupang adalah diri Terdakwa, yang saat ini dihadapkan dan diperiksa di persidangan Pengadilan Negeri Lubuk Pakam;

Menimbang, bahwa dengan demikian menjadi jelas bahwa yang dimaksud dengan unsur barangsiapa dalam hal ini adalah diri Terdakwa. Sedangkan apakah benar dapat dinyatakan telah terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah       

44

 Pasal 340 KUHP berbunyi: “Barangsiapa dengan sengaja dan dengan rencana lebih dahulu menghilangkan nyawa orang lain dihukum karena salahnya pembunuhan berencana, dengan hukuman mati atau hukuman seumur hidup atau penjara sementara selama-lamanya dua puluh tahun.” 

melakukan suatu tindak pidana sebagaimana didakwakan oleh Penuntut Umum, tentunya akan dipertimbangkan lebih lanjut apakah keseluruhan unsur dari pasal yang didakwakan kepadanya telah terbukti secara sah dan meyakinkan dalam perbuatannya, oleh karena itu akan dipertimbangkan lebih lanjut dalam bagian akhir putusan ini nanti;

Ad. b) Unsur Dengan Sengaja

Menimbang, bahwa yang dimaksud dengan sengaja tentunya berhubungan dengan sikap batin seseorang yang didakwa melakukan suatu tindak pidana. Dan Majelis Hakim menyadari tidaklah mudah untuk menentukan sikap batin seseorang atau membuktikan adanya unsur kesengajaan dalam perbuatan seseorang yang didakwa melakukan suatu tindak pidana. Atau ringkasnya apakah kesengajaan itu benar-benar ada pada diri sipelaku, lebih-lebih bagaimanakah keadaan batinnya pada waktu orang tersebut melakukan tindak pidana. Oleh karena itu, sikap batinnya tersebut harus disimpulkan dari keadaan lahir yang tampak dari luar dengan cara Majelis Hakim harus mengobjektifkan adanya unsur kesengajaan tersebut dengan berpedoman pada teori Ilmu Pengetahuan Hukum untuk sampai pada suatu kesimpulan apakah perbuatan Terdakwa merupakan suatu sebab ataukah akibat dari suatu peristiwa pidana yang mesti dialaminya;

Menimbang, bahwa dalam Ilmu Pengetahuan hukum pidana tentang unsur dengan sengaja, dikenal dua teori untuk menentukan adanya unsur dengan sengaja yaitu Teori Kehendak (Wills Theorie) yang diajarkan Von Hippel, dan Teori

Pengetahuan atau membayangkan (Voorstiling Theorie) dari Frank. Menurut Moeljatno, berdasarkan teori tersebut yang sangat memuaskan dalam kehendak dengan sendirinya diliputi pengetahuan (gambaran), artinya seseorang untuk menghendaki sesuatu, lebih dahulu sudah harus mempunyai pengetahuan tentang sesuatu itu, lagi pula kehendak merupakan arah, maksud, hal mana yang berhubungan dengan motif;45

Unsur kesengajaan tersebut merupakan kesengajaan dalam arti luas, yang meliputi:46

a. Kesengajaan sebagai tujuan (opzet als oogmerk). Opzet ini akan terjadi apabila seseorang melakukan suatu perbuatan dengan sengaja, dimana perbuatan itu merupakan “tujuan” dari pelaku;

b. Kesengajaan dengan tujuan yang pasti atau yang merupakan keharusan (opzet bij

zakerheids bewustzijn). Opzet ini akan terjadi apabila seseorang melakukan

perbuatan mempunyai tujuan untuk menimbulkan suatu akibat tertentu, tetapi disamping akibat yang dituju itu pelaku insyaf atau sadar, bahwa dengan melakukan perbuatan untuk menimbulkan akibat yang tertentu, perbuatan tersebut “pasti” akan menimbulkan akibat lain (yang tidak dikehendaki);

c. Kesengajaan dengan kesadaran akan kemungkinan (opzet bij mogelijkheids

bewustzijn/dolus eventualis/voorwardelijke opzet). Opzet ini akan terjadi apabila

seseorang melakukan sesuatu perbuatan dengan maksud untuk menimbulkan akibat tertentu, tetapi orang tersebut sadar, bahwa apabila ia melakukan perbuatan untuk mencapai akibat tertentu itu, perbuatan tersebut “mungkin” akan menimbulkan akibat lain yang juga dilarang dan juga diancam pidana oleh undang-undang terhadap akibat lain tersebut bukan merupakan tujuan yang dikehendaki, tetapi hanya disadari kemungkinan terjadinya.

Berdasarkan pengertian kesengajaan secara luas diatas, yang meliputi kesengajaan sebagai maksud, kesengajaan sebagai tujuan, dan kesengajaan sebagai       

45

Majalah Varia Paradilan, No. 12, (Jakarta: IKAHI, 1998), hlm. 86.

46

kepastian, maka akan diteliti apakah Terdakwa dalam melakukan pembunuhan tersebut termasuk dari salah satu pengertian kesengajaan diatas. Hal ini diteliti, berdasarkan keadaan yang terjadi pada saat tindak pidana pembunuhan tersebut dilakukan sesuai dengan fakta-fakta yuridis di persidangan.

Menimbang, bahwa sesuai dengan fakta-fakta yuridis dipersidangan dari pengakuan Terdakwa bahwa pada saat pukul 09.00 Wib hari Minggu korban bangun dan melihat Terdakwa memakai celananya. Lalu Terdakwa mengatakan “Kok kau pakai bajuku anjing, binatang, pukimakmu” dan diucapkan pelan karena takut didengar orangtuanya karena orangtuanya mendidik dengan disiplin dan korban dipuji-puji orangtuanya sedangkan Terdakwa disepelekan. Dan selama ini merasa terhina, karena Terdakwa sebagai abangnya akan tetapi diperintahnya sehingga Terdakwa dendam dan membunuhya dan Terdakwa silaf;

Menimbang, bahwa ketika terdakwa mengaku bertengkar dua kali, pertama kali bertengkar dan berkelahi disamping rumah sebelah Barat dan yang kedua didekat pohon durian dan pertengkaran tersebut tidak kedengaran karena ibu dan adiknya nonton TV diruang tamu;

Menimbang, bahwa ketika korban jongkok sedang mencuci oleh Terdakwa ditunjang dan dipukul kena rusuknya dan jatuh kebelakang lalu diseret dan dimasukkan ke comberan dan korban tidak melawan, dan Terdakwa mengatakan kepada saksi Bangun Tua Dalimunte bahwa kalau Terdakwa sudah mengaku apakah Terdakwa akan dihukum lagi;

Menimbang, bahwa ketika keesokan harinya yaitu tanggal 11 Juli 2005 Terdakwa pergi ke belakang pura-pura kencing kemudian korban muncul di comberan dan membuat Terdakwa grogi dan menjerit histeris dan mengatakan “Kak Rosa ini adik” kemudian kakaknya datang dan ibunya pingsan;

Menimbang bahwa dipersidangan Terdakwa menyangkal perbuatannya, dan menuduh saksi Ramot Lubis yang membunuh Terdakwa karena sebelum diketemukan mayat korban pada hari Minggu malam Terdakwa bertemu dengan Ramot Lubis dan mengancam Terdakwa agar mengakui bahwa Terdakwa pembunuhnya, oleh karena takut Terdakwa mengakui bahwa dialah pembunuhnya;

Menimbang, bahwa terhadap perbedaan fakta yang didasarkan pada keterangan para saksi maupun Terdakwa tersebut, Majelis Hakim telah berulang kali mengingatkan agar para saksi maupun Terdakwa memberikan keterangan yang benar sesuai dengan yang ditentukan dalam KUHAP, maupun menurut iman dan kepercayaannya, karena mereka telah disumpah. Peringatan Majelis Hakim yang dilakukan berkali-kali, semata-mata untuk menghindari kekeliruan dalam menjatuhkan putusan perkara ini, karena Majelis Hakim mempunyai kesangsian, manakala para saksi maupun Terdakwa mempunyai kepentingan. Mungkin memberi keterangan yang bersifat subjektif, yang bisa merugikan ataupun menguntungkan Terdakwa dan ataupun saksi korban Johan Riki Fernando Simatupang, sehingga nilai objektifitas keterangannya diragukan;

Menimbang bahwa peringatan Majelis Hakim diatas, sengaja dilakukan agar tidak perlu ada keraguan lagi bagi Majelis Hakim, untuk menilai keterangan para saksi maupun Terdakwa. Karena mereka sudah menghayati dengan sungguh-sungguh arti hakikat bersaksi dalam menegakkan keadilan, tiada lain adalah agar keadilan itu sungguh-sungguh dapat ditegakkan dan dipertanggungjawabkan kepada Tuhan, seperti yang ditetapkan dalam Pasal 4 ayat (1) UU No. 14 Tahun 1970 tentang Pokok-Pokok Kekuasaan Kehakiman, yang diubah oleh UU No. 35 Tahun 1999, dan dinyatakan tidak berlaku lagi berdasarkan UU No.4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman;

Menimbang, bahwa oleh karena itu menjadi hak dan kewajiban Majelis Hakim untuk menilai kebenaran keterangan para saksi. Dengan memperhatikan secara sungguh-sungguh persesuaian keterangan saksi yang satu dengan yang lain, persesuaian antara keterangan saksi dengan alat bukti yang lain, alasan yang mungkin dipergunakan oleh saksi untuk memberi keterangan yang tertentu, dan cara hidup dan kesusilaan saksi serta segala sesuatu yang pada umumnya dapat mempengaruhi dan dapat tidaknya keterangan itu dipercaya, sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 185 ayat (6) KUHAP;

Menimbang, bahwa selain itu dipandang perlu dipertimbangkan dalam putusan ini, bagaimanakah pembuktian dan penerapan hukum mesti dilakukan dalam perkara ini. Sehingga Terdakwa maupun masyarakat yang datang setia mengikuti jalannya sidang perkara ini memahami, bagaimana secara sungguh-sungguh telah

dilakukan penegakan hukum secara represif dalam persidangan Terdakwa saat ini; Menimbang, bahwa yang perlu diperhatikan dalam masalah ini adalah Majelis Hakim didalam menjatuhkan putusan terhadap diri Terdakwa tersebut di atas, senantiasa berpegang teguh pada ketentuan perundang-undangan sebagaimana diatur dalam KUHP maupun KUHAP. Sehingga dalam pemeriksaan atas Terdakwa Majelis Hakim senantiasa berpedoman pada sistem pembuktian yang digariskan dalam Pasal 183 KUHAP, yaitu sistem Negatif menurut UU (Negatief Wettelijk), artinya Majelis Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang, hanya didasarkan pada suatu alat bukti saja.

Tetapi sesuai dengan asas pemeriksaan Hakim Acara Perkara Biasa (Vordering), sekurang-kurangnya harus dengan dua alat bukti yang sah. Oleh karena itulah menjadi penting diperhatikan alat-alat bukti yang ditentukan dalam Pasal 184 KUHAP, sehingga nantinya dapat ditentukan bagaimanakah nilai alat-alat bukti tersebut masing-masing, sebagaimana ditentukan dalam Pasal 185 sampai dengan Pasal 189 KUHAP;

Menimbang, bahwa pertimbangan-pertimbangan tersebut diperlukan, agar dapat diperoleh suatu keyakinan apakah benar suatu tindak pidana telah terjadi, dan apakah benar bahwa Terdakwa yang terbukti secara sah dan menyakinkan yang melakukannya;

Menimbang, bahwa ternyata dalam peristiwa tindak pidana ini tidak ada seorang saksipun yang melihat kejadiannya secara langsung. Apa yang dialami

oleh korban Johan Riki Fernando Simatupang, dan ataupun yang dilakukan oleh Terdakwa, karena saksi-saksi yang mengetahui tindak pidana ini berdasarkan pengalaman Terdakwa. Namun setelah dipersidangan, Terdakwa senantiasa menyangkalnya, terpaksa mengakui karena Terdakwa takut dengan Polisi dan diancam, dan malahan menuduh Ramot Lubis yang melakukan pembunuhan terhadap saksi korban;

Menimbang, bahwa dari keterangan saksi-saksi Sukiyo, Budi Simanjuntak, Bangun Tua Dalimunte, Marsidi Ginting, Sidik Waluyo, dan saksi Ahli Elmeida Efendi, SPKJ, yang menyatakan Terdakwa mengakui terus terang perbuatannya dan sebabnya melakukan perbuatan tersebut serta caranya melakukan perbuatannya tersebut. Maka Majelis Hakim memperoleh keyakinan, bahwa telah diakui Terdakwa didepan para saksi tersebut adalah benar sedangkan sangkalan Terdakwa haruslah dikesampingkan dan ditolak. Oleh karena itu, maka terpenuhilah unsur dengan sengaja dan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut diatas maka terbuktilah unsur dengan sengaja secara sah dan menyakinkan;

Ad. c) Dengan Direncanakan Lebih Dahulu

Menimbang, bahwa yang dimaksud dengan direncanakan lebih dahulu adalah antara timbulnya maksud untuk membunuh dengan pelaksanaannya itu, masih ada tempo bagi sipembuat untuk dengan tenang memikirkannya. Sedangkan tempo ini tidak boleh terlalu sempit demikian juga tidak perlu terlalu lama, yang penting dalam tempo tersebut sipembuat dapat berpikir yang sebenarnya masih ada kesempatan

untuk membatalkan niatnya itu;47

Tentang unsur direncanakan lebih dahulu dalam KUHP sendiri tidak ada penjelasan tentang apa yang dimaksud direncanakan terlebih dahulu. Namun penjelasan tentang unsur direncanakan lebih dahulu dapat dilihat dalam M.v.T yang menyatakan, bahwa istilah met voorbedachte rade atau direncanakan lebih dahulu, menunjuk pada suatu saat untuk menimbang dengan tenang.48 Demikian halnya M.H. Tirtaamidjaja mengutarakan “direncanakan lebih dahulu” antara lain sebagai berikut: “bahwa ada suatu jangka waktu, bagaimanapun pendeknya untuk mempertimbangkan, untuk berpikir dengan tenang.”49

R. Soesilo menyatakan bahwa, saat atau tempo antara timbulnya kehendak dengan pelaksanaannya tidak boleh terlalu sempit, tetapi juga sebaliknya tidak perlu terlalu lama, yang penting adalah apakah di dalam tempo itu pelaku “dengan tenang” masih dapat berfikir yang sebenarnya ia masih ada kesempatan untuk membatalkan niat untuk membunuh itu, tetapi tidak ia pergunakan.50

Sedangkan menurut Tresna dikatakan, bahwa tidak ada ketentuan berapa lamanya harus berlaku diantara saat timbulnya maksud untuk melakukan perbuatan itu dengan saat dilaksanakannya, akan tetapi nyatalah harus ada, suatu antara dimana

      

47

R. Soesilo, Kitab Undang-undang Hukum Pidana Serta Komentar-komentarnya

Lengkap Pasal Demi Pasal, (Bogor: Politeia, 1998), hlm. 241. 48

Tongat, Op. Cit., hlm. 23.

49

Leden Marpaung, Loc. Cit.

50

http://www.kpkku.co.cc/2009/11/analisa-terhadap-tindak-pidana_29.html, diakses tanggal 3 Agustus 2010, pukul: 11.37 Wib.

ia dapat menggunakan pikiran yang tenang guna merencanakan segala sesuatunya. Tongat menyatakan terkandung 3 (tiga) syarat, yaitu:51

a. Memutuskan kehendak dalam suasana tenang;

b. Tersedianya waktu yang cukup sejak timbulnya kehendak (niat) sampai dengan pelaksanaan kehendak itu;

c. Pelaksanaan kehendak dalam suasana tenang.

Memutuskan kehendak dalam suasana tenang, mengandung maksud bahwa pada saat pelaku memutuskan kehendaknya untuk membunuh, keadaan bathin orang tersebut dalam keadaan tenang, tidak berada dalam keadaan yang tergesa-gesa, serta tidak berada dalam keadaan terpaksa dan juga tidak berada dalam keadaan emosi tinggi. Oleh karenanya, kehendak yang diputuskan oleh pelaku tersebut merupakan kehendak yang dilakukan dalam suasana batin yang tenang. Tersedianya waktu yang cukup sejak timbulnya kehendak (niat) sampai dengan pelaksanaan kehendak itu merupakan syarat yang bersifat relatif.52

Tersedianya waktu yang cukup mengandung pengertian, bahwa dalam tempo waktu yang tersedia itu, pelaku masih dapat berpikir dengan tenang. Jadi persoalannya tidak pada masalah lamanya waktu, tetapi persoalan lamanya waktu yang cukup itu lebih mengarah pada penggunaan dari yang tersedia itu. Artinya,

      

51

Ibid.

52

apakah dalam waktu yang tersedia itu benar-benar telah dapat untuk berpikir dengan tenang atau tidak.53

Sekalipun masalah tersedianya waktu yang cukup itu tidak menunjuk pada persoalan lamanya waktu, tetapi tersedianya waktu yang cukup tersebut, tidak boleh menunjuk pada suatu waktu yang terlalu singkat. Hal ini mudah dipahami, sebab apabila terlalu singkat kesempatan untuk berfikir dengan tenang tersebut mungkin tidak terjadi. Tidak mungkin rasanya seseorang dapat berpikir dengan tenang dalam waktu yang sangat singkat, biasanya dalam waktu yang sangat singkat itu orang justru tidak dapat berfikir secara tenang.54

Dalam waktu yang telalu singkat itu cenderung akan berfikir secara tergesa- gesa, panik dan tidak terencana. Lebih-lebih apabila tidak tersedianya waktu yang cukup itu atau dalam waktu yang terlalu singkat itu masih diikuti dengan perasaan takut, khawatir dan sebagainya. Dalam waktu yang demikian, jelas tidak menggambarkan suasana (batin) yang tenang.55

Yurisprudensi yang termuat dalam Arrest Hoog Raad tanggal 22-3-1909, yang menyatakan untuk dapat diterimanya suatu rencana terlebih dahulu, maka perlu adanya suatu tenggang waktu yang pendek atau panjang dalam mana dilakukan pertimbangan dan pemikiran yang tenang. Pelaku harus dapat memperhitungkan makna dan akibat-akibat perbuatannya, dalam suatu suasana kejiwaan yang        53 Ibid. 54 Ibid. 55 Ibid.

memungkinkan untuk berfikir. Dengan demikian, maka apabila pikiran-pikiran untuk membunuh tersebut dalam keadaan marah (tidak tenang), waktu yang terlalu singkat yang berakibat akan berfikir secara tergesa-gesa, panik dan tidak terencana, dan dalam suatu suasana kejiwaan yang tidak memungkinkan untuk berfikir dengan tenang, maka disitu tidak ada unsur perencanaan.56

Menimbang, bahwa dari keterangan saksi-saksi yang mendengar pengakuan Terdakwa, bahwa perbuatan Terdakwa yang dilakukan terhadap korban ada kata-kata makian juga berkelahi. Kemudian ketika korban sedang mencuci pakaiannya dan Terdakwa menunjang korban yang dilakukan korban tidak berapa lama, dalam setiap perbuatannya adalah niat yang timbul seketika karena pemicunya adalah kata-kata makian;

Menimbang, bahwa dengan demikian unsur dengan direncanakan lebih dahulu

tidak terpenuhi dan tidak terbukti secara sah dan meyakinkan;

Menimbang, bahwa oleh karena salah satu unsur dari dakwaan Primair yang didakwakan Penuntut Umum kepada Terdakwa tidak terpenuhi, maka dakwaan Primair Pasal 340 KUHP dinyatakan tidak terbukti secara sah dan meyakinkan, dan terdakwa harus dibebaskan dari dakwaan Primair tersebut.

2) Pembuktian Dakwaan Subsidiar

Menimbang, bahwa oleh karena dakwaan Primair tidak terbukti secara sah dan meyakinkan maka kini Majelis Hakim akan mempertimbangkan ke dalam       

56

dakwaan Subsidair Penuntut Umum, yaitu sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 338 KUHP,57 yang mengandung unsur-unsur sebagai berikut:

a) Barangsiapa; b) Dengan Sengaja;

c) Menghilangkan Jiwa Orang Lain; Ad. a) Unsur Barangsiapa

Menimbang, bahwa unsur barangsiapa ini telah dipertimbangkan dalam dakwaan Primair, maka oleh Majelis Hakim pertimbangan-pertimbangan unsur barangsiapa dipergunakan kembali dalam dakwaan Subsidair;

Ad. b) Unsur Dengan Sengaja

Menimbang, bahwa unsur Dengan Sengaja telah dipertimbangkan dalam dakwaan Primair dan telah terpenuhi dan terbukti secara sah dan menyakinkan. Maka oleh Majelis Hakim, pertimbangan-pertimbangan unsur Dengan Sengaja dalam dakwaan Primair dipergunakan kembali dalam pertimbangan unsur Dengan Sengaja dalam dakwaan Subsidair dan dinyatakan telah terpenuhi dan terbukti secara sah dan meyakinkan;

       57

 Pasal 338 KUHP yang berbunyi: “Barangsiapa dengan sengaja menghilangkan nyawa orang dihukum karena bersalah melakukan pembunuhan dengan hukuman penjara selama-lamanya lima belas tahun.” 

Ad. c) Unsur Menghilangkan Jiwa Orang lain

Menimbang, bahwa dari keterangan saksi-saksi maupun keterangan Terdakwa demikian juga dari hasil pemeriksaan Visum et Repertum No. 209/VII/LKK/VER/ 2005 tanggal 11 Juli 2005 atas nama Johan Riki Fernando Simatupang yang dibuat dan ditandatangani Dr. Surjit Singh, SpF, DFM, dokter pada Rumah Sakit Pirngadi Medan. Dalam kesimpulannya dari hasil pemeriksaan luar dan dalam, diambil kesimpulan bahwa penyebab kematian korban karena perdarahan jaringan otak disertai patah tulang iga ke-5 (lima) kanan dan tulang iga ke-3 (tiga) kiri akibat ruda paksa;

Menimbang, bahwa oleh karena itu unsur Menghilangkan Jiwa Orang Lain telah terpenuhi dan terbukti secara sah dan meyakinkan;

Menimbang, bahwa oleh karena selama persidangan tidak ditemukan alasan- alasan pemaaf dan ataupun pembenar bagi perbuatan Terdakwa tersebut, maka berarti Terdakwa adalah orang yang sehat akal dan jiwanya serta mampu bertanggungjawab atas perbuatan yang telah dilakukannya tersebut. Dengan demikian maka unsur barangsiapa telah terpenuhi dan terbukti secara sah dan menyakinkan dalam diri Terdakwa, sehingga Terdakwa tersebut patut dijatuhi pidana yang setimpal dengan perbuatannya;

Menimbang, bahwa oleh karena dakwaan Penuntut Umum disusun secara Subsideritas, oleh karena dakwaan Subsidair telah terbukti secara sah dan menyakinkan maka dakwaan selanjutnya tidak akan dipertimbangkan lagi;

Menimbang, bahwa perlulah dipertimbangkan untuk menjatuhkan pidana apakah yang sepatutunya dijatuhkan terhadap diri Terdakwa, agar putusan ini memenuhi rasa keadilan masyarakat. Patutlah diperhatikan peringatan Majelis Hakim yang tidak bosan-bosannya dan tidak henti-hentinya selalu mencari dan menemukan pemecahan permasalahan ini, yaitu dengan mengembalikan segala sesuatunya kepada peringatan Tuhan, dimana keadilan atas namaNya diucapkan. Sehingga senantiasa diingatkan agar para saksi dan Terdakwa memberikan keterangan yang benar, semata-mata agar Majelis Hakim tidak tersesatkan dan salah dalam menegakkan hukum dalam perkara ini;

Menimbang, bahwa usaha Majelis Hakim tersebut perlu dilakukan karena putusan ini berkepala “DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA”, oleh karena itu Majelis Hakim berusaha dengan sungguh- sungguh menempatkan segala sesuatunya semata-mata berdasarkm rasa takut akan Tuhan;

Menimbang, bahwa tujuan pidana bukanlah semata-mata untuk menderitakan/menistakan Terdakwa, tetapi lebih sebagai upaya edukatif agar dikemudian hari Terdakwa dapat memperbaiki perilakunya, menurut iman dan

kepercayaannya seturut kehendak undang-undang dan ketertiban masyarakat pada umumnya, sehingga keseimbangan dan tertib masyarakat dapat terpelihara;

Menimbang, bahwa akhirnya terhadap Terdakwa patut dan layak serta dirasakan adil harus dijatuhi pidana penjara yang setimpal dengan perbuatannya sebagaimana bunyi amar putusan ini nanti;

Menimbang, bahwa oleh karena Terdakwa ditahan, maka masa penahanan yang telah dijalani Terdakwa haruslah dikurangkan seluruhnya dari pidana penjara yang dijatuhkan;

Menimbang, bahwa barang bukti berupa: a) 1 (satu) potong celana jeans warna biru;

b) 1 (satu) potong celana dalam warna coklat;

c) 1 (satu) potong celana ponggol warna coklat;

akan ditentukan dalam amar putusan ini nanti.

Menimbang, bahwa Terdakwa juga dibebani untuk membayar biaya perkara ini;

Menimbang, bahwa sebelum Majelis menjatuhkan putusannya, maka perlu dipertimbangkan hal-hal yang memberatkan yakni: (1) Terdakwa memberikan keterangan yang berbelit-belit; (2) Perbuatan terdakwa menyebabkan mati adiknya

yang tidak mungkin diganti oleh apapun juga; dan hal-hal yang meringankan yakni: (1) Terdakwa sopan dipersidangan; (2) Terdakwa masih muda usia, sehingga diharapkan dikemudian hari masih bisa memperbaiki sikap dan perilakunya dan berguna bagi keluarga dan masyarakat sekelilingnya, dan Terdakwa belum pernah dihukum;

Mengingat Pasal 338 KUHP dan pasal-pasal lain dari undang-undang yang bersangkutan;

Berdasarkan pertimbangan yang diambil oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Lubuk Pakam, memutuskan mengadili:

1. Menyatakan terdakwa Tua Anggiat Haris Maruli Simatupang tersebut diatas tidak terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah melakukan tindak pidana yang didakwakan kepadanya dalam dakwaan Primair;

2. Membebaskan terdakwa Tua Anggiat Haris Maruli Simatupang dari dakwaan

Dokumen terkait