A. Aktivitas Belajar
Belajar yang berhasil mesti melalui berbagai macam aktivitas fisik maupun
psikis. Aktivitas fisik adalah peserta didik giat aktif dengan anggota badan
membuat sesuatu, bermain maupun bekerja, ia tidak hanya duduk mendengarkan.
Sedangkan kegiatan psikis nampak bila ia sedang mengamati dengan teliti,
berfikir, memecahkan persoalan, mengambil keputusan, dsb.
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, aktivitas diartikan sebagai
kegiatan, kesibukan (Poerwadarminta, 1982). Sedangkan menurut Sumadi
Suryabrata (1984: 15) sifat-sifat umum aktivitas manusia meliputi:
1. Perhatian
Perhatian adalah pemusatan tenaga psikis tertuju pada suatu obyek. Selain itu
perhatian juga diartikan sebagai banyak sedikitnya kesadaran yang menyertai
sesuatu aktivitas yang dilakukan. Kedua pengertian (arti) itu dipakai keduanya
secara bertukar-tukar. Untuk dapat menangkap maksudnya hendaklah
pengertian tersebut tidak dilepaskan dari konteksnya (kalimatnya).
2. Pengamatan
Manusia mengenal dunia wadhag atau dunia riil, baik dirinya sendiri maupun
dunia sekitarnya dimana dia berada, dengan melihatnya, mendengarnya,
membaunya, atau mencecapnya. Cara mengenal obyek yang demikian itu
disebut mengamati. Sedangkan melihat, mendengar dan seterusnya disebut
modalitas pengamatan.
3. Tanggapan dan Variasinya
Bigot et al (dalam Sumadi Suryabrata, 1984: 38) mendefinisikan tanggapan
sebagai bayangan yang tinggal dalam ingatan setelah kita melakukan
pengamatan.
4. Fantasi
Fantasi didefinisikan sebagai daya untuk membentuk tanggapan-tanggapan
baru dengan pertolongan tanggapan-tanggapan yang sudah ada, dan tanggapan
baru itu tidak harus sesuai dengan benda-benda yang ada. Fantasi juga dapat
dilukiskan sebagai fungsi yang memungkinkan manusia untuk berorientasi
dalam alam imajiner, melampaui dunia riil.
5. Ingatan
Ingatan didefinisikan sebagai kecakapan untuk menerima, menyimpan dan
memproduksi kesan-kesan. Ingatan yang baik mempunyai sifat cepat atau
mudah mencamkan, setia, teguh, luas dalam menyimpan, dan siap atau sedia
dalam memproduksi kesan-kesan. Ingatan cepat artinya mudah dalam
mencamkan sesuatu hal tanpa menjumpai kesukaran. Ingatan setia artinya apa
yang telah diterima (dicamkan) itu akan disimpan sebaik-baiknya, tak akan
berubah-ubah, jadi cepat cocok dengan keadaan waktu menerimanya. Ingatan
teguh artinya dapat menyimpan kesan dalam waktu yang lama, tidak mudah
lupa. Ingatan luas artinya dapat menyimpan banyak kesan-kesan. Ingatan siap
artinya mudah dapat memproduksikan kesan yang telah disimpannya.
6. Berfikir
Berfikir adalah meletakan hubungan antara bagian-bagian pengetahuan kita.
Bagian-bagian pengetahuan kita yaitu segala sesuatu yang telah kita miliki,
yang berupa pengertian-pengertian dan dalam batas tertentu juga
tanggapan-tanggapan.
7. Perasaan
Perasaan didefinisikan sebagai gejala psikis yang bersifat subyektif yang
umumnya berhubungan dengan gejala-gejala mengenal, dan dialami dalam
kualitas senang atau tidak senang dalam berbagai taraf. Perasaan umumnya
bersangkutan dengan fungsi mengenal. Artinya perasaan dapat timbul karena
mengamati, menanggap, mengkhayalkan, mengingat-ingat, atau memikirkan
sesuatu.
8. Motif-motif
Motif adalah keadaan dalam pribadi orang yang mendorong individu untuk
melakukan aktivitas-aktivitas tertentu guna mencapai suatu tujuan. Motif
bukanlah hal yang dapat diamati, tetapi adalah hal yang dapat disimpulkan
adanya karena sesuatu yang dapat kita saksikan. Tiap aktivitas yang dilakukan
seseorang didorong oleh sesuatu kekuatan dari dalam diri orang itu. Kekuatan
pendorong inilah yang disebut dengan motif.
Paul B. Diedrich (dalam Eko Wahyudi, 2000: 16) setelah mengadakan
penyelidikan mengenai aktivitas menyimpulkan: terdapat 177 macam kegiatan
peserta didik yang meliputi aktivitas jasmani dan aktivitas jiwa, antara lain:
1. Visual activites (kegiatan-kegiatan visual): membaca, memperhatiakan:
gambar, demonstrasi, percobaan, pekerjaan orang lain dan sebagainya.
2. Oral activities (Kegiatan lisan): menyatakan, merumuskan, bertanya,
mengadakan interview, diskusi, interupsi dan sebagainya.
3. Listening activities (kegiatan mendengar) : mendengarkan uraian,
mendengarkan percakapan, mendengarkan diskusi, mendengarkan musik,
mendengarkan pidato dan sebagainya.
4. Writing activities (aktivitas menulis): menulis cerita, menulis karangan,
menulis laporan, menulis test, menulis angket, menyalin dan sebagainya.
5. Drawing activities (kegiatan menggambar): menggambar, membuat grafik,
peta, diagram, pola dan sebagainya.
6. Motor activities (kegiatan metrik): melakukan percobaan, membuat
konstruksi, model, mereparasi, bermain, berkebun, memelihara binatang dan
sebagainya.
7. Mental activities (kegiatan mental): menganggap, mengingat, memecahkan
masalah, menganalisis, melihat hubungan, mengambil keputusan, dan
sebagainya.
8. Emotional activities (kegiatan emosional): menaruh minat, merasa bosan,
Aktivitas-aktivitas tersebut tidaklah terpisah satu sama lain. Dalam setiap
aktivitas motoris terkadang aktivitas mental disertai oleh perasaan tertentu. Setiap
pelajaran terdapat berbagai aktivitas yang dapat diupayakan.
B. Program Akselerasi
1. Pengertian Program Percepatan Belajar.
Depdiknas (dalam Reni Akbar-Hawadi, 2004: 34) pengertian tentang
anak berbakat sangat luas sehingga masing-masing orang dapat membuat
definisi yang berbeda. Untuk itulah pengertian anak berbakat dalam program
percepatan belajar yang dikembangkan oleh pemerintah dibatasi pada dua hal
berikut :
1. Mereka yang mempunyai taraf intelegesi atau IQ di atas 140.
2. Mereka yang oleh psikolog dan/atau guru diidentifikasikan sebagai peserta
didik yang telah mencapai prestasi yang memuaskan, dan memiliki
kemampuan intelektual umum yang berfungsi pada taraf cerdas, dan
keterkaitan terhadap tugas yang tergolong baik serta kreativitas yang
memadai.
Selanjutnya Reni Akbar – Hawadi menuturkan definisi anak berbakat
untuk Program Percepatan Belajar ini tidak sama dengan definisi anak
berbakat yang telah dikenal selama ini di Indonesia. Definisi yang ada
diadopsi dari definisi keberbakatan United States Office of Education (1972)
yang berbunyi sebagai berikut :
Anak berbakat adalah mereka yang didefnisikan oleh orang-orang yang
berkualitas professional memiliki kemampuan luar biasa dan mampu
berprestasi tinggi. Anak-anak ini membutuhkan program pendidikan yang
terdiferensiasi dan atau pelayanan di luar jangkauan program sekolah
regular agar dapat merealisasikan kontribusi dirinya ataupun
masyarakat.
Menurut Setiawan, (2008) akselerasi adalah suatu proses percepatan
(acceleration) pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik yang memiliki
kemampuan luar biasa (unggul) dalam rangka mencapai target kurikulum
Nasional dengan mempertahankan mutu pendidikan sehingga mencapai hasil
yang optimal. Dengan kata lain peserta didik dapat menyesuaikan cara
belajarnya lebih cepat dari siswa lainnya (siswa yang mengikuti program
reguler).
Menurut Ulya Latifah (2006), Program Percepatan Belajar atau juga
sering disebut sebagai program akselerasi adalah program layanan pendidikan
yang diberikan kepada siswa yang memiliki potensi kecedasan dan bakat
istimewa untuk dapat menyelesaikan masa belajarnya lebih cepat dari siswa
program reguler.
Dalam kamus Umum Bahasa Indonesia (Purwodarminta, 1984:25),
akselerasi berarti percepatan, penyegeraan. Oleh karena itu, program
akselerasi juga dikenal sebagai Program Percepatan Belajar. Jadi yang
dimaksud dengan program akselerasi adalah program percepatan dalam
menempuh pendidikan bagi peserta didik yang memiliki kemampuan dan
kecerdasan tinggi. Melalui program ini diharapkan mereka dapat menempuh
program pendidikan setahun lebih cepat dari pada peserta didik pada kelas
regular.
2. Dasar Hukum
Menurut Nasichin (2004), jaminan pelayanan pendidikan bagi anak
berbakat akademik/intelektual atau lazim disebut peserta didik yang memiliki
kemampuan dan kecerdasan luar biasa mulai tampak sejak diterbitkanya
Undang-undang Nomor 2 tahun 1989 tentang sistem pendidikan Nasional.
Penegasan yang dimaksud secara eksplisit dinyatakan pada pasal 24, yaitu
“setiap peserta didik pada satuan pendidikan memiliki hak-hak sebagai
berikut:
Ayat (1) mendapat perlakuan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuanya;
Ayat (2) mengikuti program pendidikan yang berlangsung atas dasar
pendidikan berkelanjutan, baik untuk mengembangkan kemampuan diri,
maupun untuk memperoleh pengakuan tingkat pendidikan tertentu yang telah
diberlakukan;
Ayat (6) menyelesaikan program pendidikan lebih awal dari waktu yang telah
ditentukan”.
Selain UU Nomor 2 tahun 1989 pasal 24, Ulya Latifah Lubis (2004)
menyebutkan pasal 8 ayat 2 sebagai dasar hukum program akselerasi. Pasal
ini berbunyi : bahwa warga Negara yang memiliki kemampuan dan
kecerdasan yang luar biasa, berhak memperoleh perhatian khusus”.
Selanjutnya menurut Nasichin (2004), amanat tersebut ditindaklanjuti
dengan PP Nomor 29 tahun 1990 tentang pendidikan dasar dan Kep.
Mendikbud nomor 0489/U/1992. Dalam Kep. Mendikbud tersebut, pasal 16
ayat (1) menyebutkan bahwa “siswa yang memiliki bakat istimewa dan
kecerdasan luar biasa dapat menyelesaikan program belajar lebih awal dari
waktu yang telah ditentukan, dengan ketentuan telah mengikuti pendidikan
SMU sekurang-kurangnya dua tahun”.
Tingkat keseriusan pemerintah tampak dalam pemberian pelayanan
pendidikan anak berbakat yang selalu dituangkan dalam setiap GBHN periode
lima tahunan. Dalam GBHN tahun 1998 dinyatakan bahwa “peserta didik
yang memiliki tingkat kecerdasan luar biasa mendapat perhatian dan pelajaran
lebih khusus agar dapat memicu perkembangan prestasi peserta didik lainya”.
Dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003, tertulis antara lain :
• Pasal 5 ayat 4 :
“ Warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa
berhak memperoleh pendidikan khusus “
• Pasal 12 ayat 1 :
“ Setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak:… (b)
mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat dan
kemampuannya; (f) menyelesaikan program pendidikan sesuai dengan
kecepatan belajar masing-masing dan tidak menyimpang dari ketentuan
batas waktu yang ditetapkan “.
3. Kurikulum
Kurikulum program percepatan belajar adalah :
a.
Kurikulum nasional dan muatan lokal yang dimodifikasi dengan
penekanan pada materi esensial dan dikembangkan melalui sistem
pembelajaran yang dapat memacu dan mewadahi integrasi antara
pengembangan spiritual, logika, etika, dan estetika, serta dapat
mengembangkan kemampuan berpikir holistik, kreatif, sistemik, dan
konvergen, untuk memenuhi tuntunan masa kini dan masa mendatang.
b.Kurikulum nasional dan muatan lokal yang dikembangkan secara
berdiferensiasi untuk memenuhi pendidikan peserta didik yang memiliki
potensi kecerdasan dan bakat istimewa dengan cara memberikan
pengalaman belajar yang berbeda dalam arti kedalaman, keluasan,
percepatan, maupun jenisnya.
c.
Pengembangan kurikulum berdiferensiasi untuk program percepatan
belajar dapat dilakukan dengan melakukan modifikasi kurikulum nasional
dan muatan lokal dengan cara sebagai berikut :
1) Modifikasi alokasi waktu, yang disesuaikan dengan kecepatan belajar
bagi siswa yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa;
2) Modifikasi isi/materi, dipilih yang esensial;
3) Modifikasi sarana-prasarana, yang disesuaikan dengan karakteristik
siswa yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa yakni
senang menemukan sendiri pengetahuan baru;
4) Modifikasi lingkungan belajar yang memungkinkan siswa memiliki
potensi kecerdasan dan bakat istimewa dapat memenuhi kehausan akan
pengetahuan;
5) Modifikasi pengelolaan kelas, yang memungkinkan siswa dapat
bekerja di kelas, secara mandiri, berpasangan, maupun berkelompok.
d.Struktur program (jumlah jam setiap mata pelajaran) sama dengan kelas
reguler, hanya perbedaannya terletak pada waktu penyelesaian kurikulum
tersebut lebih dipercepat dari pada kelas reguler. Untuk itu sekolah dapat
menyusun kalender pendidikan khusus untuk program percepatan belajar.
Kurikulum Program Percepatan Belajar di SMA Negeri 3 Yogyakarta adalah
kurikulum nasional yang urutan penyajian dan alokasi waktunya dimodifikasi
sehingga dapat diajarkan dalam waktu yang lebih pendek. Dari segi materi,
modifikasi dilakukan dengan memilah materi yang esensial dan non-esensial.
Struktur Kurikulum, Kalender akademik, dan Pengaturan Jam Pelajaran SMA
N 3 Yogyakarta terlampir.
4. Tujuan Program Percepatan Belajar
Menurut Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa (2001: 13), ada
dua tujuan yang mendasari dikembangkannya Program Percepatan Belajar
bagi peserta didik dengan potensi kecerdasan dan bakat istimewa.
a. Tujuan Umum
Tujuan umum Program Percepatan Belajar sebagai berikut :
1) Memenuhi kebutuhan peserta didik yang memiliki karakteristik
spesifik dari segi perkembangan kognitif dan afektifnya.
2) Memenuhi hak asasi peserta didik sesuai dengan kebutuhan
pendidikan bagi dirinya sendiri.
3) Memenuhi minat intelektual dan perspektif masa depan peserta didik.
4) Memenuhi kebutuhan aktualisasi diri peserta didik.
5) Menimbang peran peserta didik sebagai aset masyarakat dan
kebutuhan masyarakat untuk pengisian peran.
6) Menyiapkan peserta didik sebagai pemimpin masa depan.
b. Tujuan Khusus
Tujuan khusus Program Percepatan Belajar sebagai berikut :
1) Memberi penghargaan untuk dapat menyelesaikan program
pendidikan secara lebih cepat sesuai dengan potensinya.
2) Meningkatkan efisiensi dan efektivitas proses pembelajaran peserta
didik.
3) Mencegah rasa bosan terhadap iklim kelas yang kurang mendukung
berkembangnya potensi keunggulan peserta didik secara optimal.
4) Memacu mutu siswa untuk peningkatan kecerdasan spiritual,
intelektual, dan emosionalnya secara berimbang.
5. Persyaratan Peserta Didik
Siswa yang diterima sebagai peserta Program Percepatan Belajar adalah siswa
yang memenuhi persyaratan sebagai berikut :
a. Persyaratan Akademis, yang diperoleh dari skor rata-rata nilai Rapor,
Nilai Ujian Nasional, serta Tes Kemampuan Akademis dengan nilai
sekurang-kurangnya 8,00.
b. Persyaratan Psikologis, yang diperoleh dari hasil pemeriksaan psikologis
meliputi tes kemampuan intelektual umum, tes kreativitas, dan keterikatan
pada tugas. Peserta yang lulus tes psikologi adalah mereka yang memiliki
kemampuan intelektual umum dengan kategori jenius (IQ > 140) atau
mereka yang memiliki kemampuan intelektual umum dengan kategori
cerdas (IQ > 125) yang ditunjang oleh kreativitas dan keterikatan terhadap
tugas dalam kategori di atas rata-rata.
c. Informasi Data Subyektif, yaitu nominasi yang diperoleh dari diri sendiri
(self nomination), teman sebaya (peer nomination), orangtua (parent
nomination), dan guru (teacher nomination) sebagai hasil dari pengamatan
dari sejumlah ciri-ciri keberbakatan.
d. Kesehatan fisik, yang ditunjukkan dengan surat keterangan sehat dari
dokter.
e. Kesediaan Calon Siswa dan Persetujuan Orangtua.
Southern dan Jones (dalam Reni Akbar-Hawadi, 2004 : 7-8) menyebutkan
beberapa keuntungan dari dijalankanya program akselerasi bagi anak
berbakat.
a. Meningkatkan efisiensi
Siswa yang telah siap dengan bahan-bahan pengajaran dan menguasai
kurikulum pada tingkat sebelumnya akan belajar lebih baik dan lebih
efisien.
b. Meningkatkan efektivitas
Siswa yang terikat belajar pada tingkat kelas yang dipersiapkan dan
menguasai keterampilan-keterampilan sebelumnya merupakan siswa yang
paling efektif.
c. Penghargaan
Siswa yang telah mampu mencapai tingkat tertentu sepantasnya
memperoleh penghargaan atas prestasi yang dicapainya.
d. Meningkatkan waktu untuk karier
Adanya pengurangan waktu belajar akan meningkatkan produktivitas
siswa, penghasilan, dan kehidupan pribadinya pada waktu yang lain.
e. Membuka siswa pada kelompok barunya
Dengan program akselerasi, siswa dimungkinkan untuk bergabung dengan
siswa lain yang memiliki kemampuan dan intelektual dan akademis yang
sama.
Keuntungan bagi sekolah adalah tidak perlu mengeluarkan banyak biaya
untuk mendidik guru khusus anak berbakat.
7. Kelemahan Program Percepatan Belajar
Southern dan Jones (dalam Reni Akbar-Hawadi, 2004 : 8-11) menyebutkan
empat hal yang berpotensi negatif dalam proses akselerasi bagi anak berbakat.
a. Bidang akademis
1) Bahan ajar terlalu tinggi bagi siswa akseleran. Hal ini akan membuat
mereka menjadi siswa yang tertinggal di belakang kelompok teman
barunya, dan akan menjadi siswa yang berprestasi sedang-sedang saja,
bahkan siswa akseleran yang gagal.
2) Bisa jadi kemampuan siswa akseleran yang terlihat melebihi teman
sebayanya hanya bersifat sementara.
3) Meskipun memenuhi persyaratan dalam bidang akademis, siswa
akseleran kemungkinan imatur secara sosial, fisik dan emosional
dalam tingkatan kelas tertentu.
4) Siswa akselerasi terikat pada keputusan karier lebih dini, yang bisa
jadi karier tersebut tidak cocok dengan dirinya.
5) Siswa akseleran mungkin mengembangkan kedewasaan yang luar
biasa tanpa adanya pengalaman yang dimiliki sebelumnya.
6) Pengalaman-pengalaman yang sesuai untuk anak seusianya tidak
dialami oleh siswa kaseleran karena tidak merupakan bagian dari
kurikulum.
7) Tuntutan sebagai siswa sebagian besar pada produk akademik
konvergen sehingga siswa kaseleran akan kehilangan kesempatan
mengembangkan kemamuan berpikir kreatif dan divergen.
b. Penyesuaian sosial
1) Siswa akan didorong untuk berprestasi baik secara akademiknya
sehingga mereka kekurangan waktu beraktivitas dengan teman sebaya.
2) Siswa akselerasi akan kehilangan aktivitas dalam masa-masa
hubungan sosial yang penting pada usianya.
3) Kemungkinan, siswa akseleran akan ditolak oleh kakak kelasnya,
sedangkan untuk teman sebayanya kesempatan untuk bermainpun
sedikit sekali.
c. Aktivitas ekstrakurikuler
Southern dan Jones (dalam Reni Akbar-Hawadi, 2004 : 40) menyebutkan
dua hal kelemahan program akselerasi di bidang aktivitas ekstrakurikuler.
Dua hal tersebut adalah:
1) Aktivitas ekstrakurikuler berkaitan erat dengan usia sehingga siswa
akseleran akan memiliki kesempatan yang kurang untuk
berpartisipasi dalam aktivitas-aktivitas yang penting di luar
kurikulum yang normal. Hal ini juga akan menurunkan jumlah waktu
untuk memperkenalkan masalah karir pada mereka.
2) Partisipasi dalam berbagai aktivitas atletik penting untuk setiap siswa.
Kegiatan dalam program akselerasi mustahil dapat menyaingi mereka
yang mengikuti program sekolah secara normal dalam hal lebih kuat
dan lebih terampil.
d. Penyesuaian emosional
Southern dan Jones (dalam Reni Akbar-Hawadi, 2004 : 40-41)
menyebutkan empat hal kelemahan program akselerasi di bidang
penyesuaian emosional. Empat hal tersebut adalah:
1) Siswa akseleran mungkin akan merasa frustasi dengan adanya tekanan
dan tuntutan yang ada. Pada akhirnya, mereka akan merasa sangat
lelah sekali sehingga menurunkan tingkat apresiasinya dan bisa
menjadi siswa underachiever atau drop out.
2) Siswa akseleran yang memiliki kesempatan sedikit dalam masa
kanak-kanak dan masa remajanya akan merasa terisolasi atau bersifat agresif
terhadap orang lain. Mereka mungkin saja menjadi antisocial karena
tidak mampu memiliki hubungan sebagaimana layaknya orang dewasa
lainya untuk berkencan, menikah, dan membina kehidupan keluarga.
3) Mereka akan kurang mampu menyesuaikan diri dalam kariernya
untuk menyesuaikan diri terhadap tekanan yang ada sepanjang hidup,
atau tidak mampu bekerja secara efektif dengan orang lain.
4) Tekanan yang terbentuk sejak kecil, kurangnya kesempatan untuk
mengembangkan hal-hal yang cocok dalam bentuk kreativitas atau
hobi, dan adanya potensi dikucilkan dari orang lain, akan
mengakibatkan kesulitan dalam hidup perkawinanya kelak atau
bahkan bunuh diri.
C. Usaha dan Energi
1. Usaha
a. Pengertian Usaha
Menurut Marthen Kanginan (2004), di SMP anda telah mengetahui
bahwa ada perbedaan antara Usaha dalam kehidupan sehari-hari dan
dalam Fisika. Dalam kehidupan sehari-hari usaha diartikan sebagai segala
sesuatu yang dikerjakan dengan mengerahkan tenaga, pikiran atau badan
untuk mencapai tujuan tertentu. Sedangkan dalam fisik usaha berkaitan
dengan suatu perubahan.
Supiyanto (2006: 92), seperti kita ketahui, gaya dapat menghasilkan
perubahan. Apabila gaya bekerja pada benda yang diam, benda tersebut
bisa berpindah posisinya. Sedangkan bila gaya bekerja pada benda yang
bergerak, benda tersebut bisa berubah kecepatanya.
Kita akan mendefinisikan usaha yang berkaitan dengan gaya dan
perpindahan. Untuk memindahkan massa yang lebih besar diperlukan
usaha yang lebih besar. Demikian pula untuk memindahkan benda pada
jarak yang lebih jauh juga diperlukan usaha yang lebih besar.
Berdasarkan kenyataan ini, usaha didefinisikan sebagai :
Usaha yang dilakukan oleh suatu gaya adalah hasil kali antara
komponen gaya yang segaris dengan perpindahan dengan besarnya
perpindahan.
Secara matematis definisi ini ditulis dengan rumus :
Menurut Marthen Kanginan (2004: 226), untuk gaya (F) searah
dengan perpindahan (Δx), usaha (W) dinyatakan oleh:
Karena = F (lihat Gambar 1.a), maka :
Untuk gaya (F) membentuk sudut θ terhadap perpindahan Δx,
(lihat Gambar 1.b), maka:
Awal Akhir
)
(s
x
Δ
Fb. Satuan usaha
Menurut Marthen Kanginan (2004: 227), satuan usaha dalam SI dapat
kita turunkan dari persamaan W = F
xΔx. Satuan gaya adalah Newton
dan satuan perpindahan (Δx) adalah meter, sehingga
Satuan usaha = (newton) (meter)
Satuan usaha dalam SI diberi nama joule (disingkat J) untuk menghormati
james rescott Joule. Dengan demikian kita peroleh
1 joule = 1 newton meter
Selain satuan SI (joule), dalam kehidupan sehari-hari juga digunakan
satuan lain, misalnya energi dan kalori.
1 energi = 10
-7Joule
1 kalori = 4.2 Joule
θ
Fθ
cos
F
θ
sin
F
Awal Akhir)
(s
x
Δ
b. Gaya F membentuk sudut terhadap perpindahan
: Usaha
c. Usaha Oleh Beberapa Gaya
Menurut Marthen Kanginan (2004: 233), dalam kehidupan nyata hampir
tidak pernah kita temukan kasus dimana pada suatu benda hanya bekerja
sebuah gaya tunggal. Misalnya, ketika anda menarik balok sepanjang
lantai, selain gaya tarik anda, pada balok juga bekerja gaya-gaya lain
seperti : gaya gesekan antara balok dengan lantai, gaya hambatan angina,
dan gaya normal. Bagaimanakah kita menghitung usaha oleh berbagai
gaya ini?
Telah anda ketahui bahwa usaha termasuk besaran skalar. Besaran skalar
dijumlahan dengan cara aljabar biasa. Oleh karena itu:
Usaha total oleh berbagai gaya yang bekerja pada suatu benda
diperoleh dengan cara menjumlahkan secara aljabar.
Misalkan usaha yang dilakukan oleh gaya F
1adalah W
1, oleh gaya F
2adalah W
2, oleh gaya F
3adalah W
3, dan seterusnya, maka usaha total
adalah:
.
.
.
3 2 1+ + +
=W W W
W
totd. Menentukan Besar Usaha Dari Grafik F-S
Menurut Marthen Kanginan (2004 : 231), misalkan pada suatu benda
bekerja gaya konstan F sehingga menyebabkan benda berpindah searah
gaya F dari posisi awal x = x
1ke posisi akhir x = x
2.usaha yang dilakukan
gaya konstan ini dapat kita hitung dengan persamaan
)
(x
2x
1F
W
x
F
W
−
=
Δ
=
Jika kita gambarkan grafik gaya F terhadap posisi benda (x), kita peroleh
grafik seperti gambar berikut:
Mari kita hitung luas raster dibawah grafik F-x dengan batas x = x
1sampai dengan x = x
2(lihat gambar) kita peroleh :
Luas raster = luas persegi panjang
= p×l
= F ×Δx
= F (x
2− x
1)
Tampak bahwa usaha yang dihitung dari persamaan sama dengan usaha
yang dihitung dari luas raster dibawah grafik F-x. apakah pernyataan ini
juga berlaku terhadap posisi seperti ditunjukan pada gambar berikut
x
1x
2 F0
1 2x
x
x = −
Δ
Luas raster
Fx
Ternyata pernyataan ini juga berlaku sehingga dapat kita generalisasikan
sebagai berikut:
Untuk grafik F-x (gaya terhadap posisi) diketahui atau digambarkan,
usaha yang dilakukan oleh gaya F untuk berpindah dari posisi awal x
= x
1ke posisi akhir x = x
2, sama dengan luas raster dibawah grafik
F-x dengan batas F-x = F-x
1sampai dengan x = x
2.
2. Energi
Menurut Marthen Kanginan (2004: 236), energi memegang peranan yang
sangat penting dalam kehidupan di alam ini. Energi menyatakan kemampuan
untuk melakukan usaha. Suatu sistem (manusia, hewan atau benda) dikatakan
mempunyai energi jika mempunyai kemampuan untuk melakukan usaha.
Energi memiliki berbagai bentuk, misal energi listrik, energi kalor, energi
cahaya, energi potensial, energi nuklir dan energi kimia. Energi dapat berubah
dari satu bentuk ke bentuk energi lain. Misalnya, energi listrik dapat berubah
menjadi energi cahaya atau kalor.
X1 X2
Luas raster W
X F