• Tidak ada hasil yang ditemukan

Data Demografik dan Karakteristik Subyek

BAB 3. METODE PENELITIAN 3.1 Desain

4.1 Data Demografik dan Karakteristik Subyek

Penelitian hubungan citra tubuh terhadap perilaku makan pada remaja putri dilakukan di sekolah Metodist 1 Medan. Sekolah Metodist 1 terletak di jalan Hang Tuah, Kecamatan Polonia Kota Medan. Penelitian dilakukan terhadap siswi kelas X dan XI.

Penelitian dilakukan selama 4 hari, terhitung tanggal 25 Februari sampai dengan tanggal 28 Februari 2013. Jumlah remaja putri kelas X dan kelas XI adalah sebanyak 196 orang. Pada saat penelitian terdapat 185 remaja putri yang hadir dan kepada 185 remaja putri yang hadir diberikan kuisioner perilaku makan DEBQ. Kemudian dilakukan pengukuran berat badan dan tinggi badan terhadap 185 remaja putri tersebut. Setelah itu dilakukan wawancara untuk menilai citra tubuh remaja putri. Dari 185 remaja putri tersebut semuanya mengembalikan kuisioner. Namun hanya 184 remaja putri yang memenuhi kriteria inklusi. Satu orang remaja putri dieksklusikan karena telah melewati usia 19 tahun.

Tabel 2.1. Karakteristik sampel penelitian

Karakteristik n % Umur (tahun) 13-14 21 11,4 15-16 130 72,2 17-18 33 17,9 Status nutrisi Kurang 17 9,2 Baik 79 42,9 Overweight 36 19,6 Obesitas 52 28,3 Citra tubuh Positif 111 60,3 Nol 13 7,1 Negatif 60 32,6

Perilaku makan DEBQ Restrained Skor 10 -29 184 100 Emotional Skor 13-37 184 100 External Skor 10-29 184 100

Usia sampel terbanyak berada pada rentang 15 sampai 16 tahun yaitu sebanyak 130 orang (72.2%). Persentasi status nutrisi yang paling banyak adalah nutrisi baik yaitu sebanyak 79 sampel (42.9 %). Tidak satupun dari sampel yang mempunyai nutrisi buruk. Terdapat 111 sampel (60,3 %) yang mempunyai skor citra tubuh positif yang berarti mempunyai keinginan untuk lebih kurus, 13 sampel ( 7.1 %) mempunyai skor citra tubuh nol yang berarti puas terhadap bentuk tubuhnya, dan 60 sampel (32.6 %) mempunyai citra tubuh negatif yang berarti mempunyai keinginan untuk lebih gemuk.

Untuk penilaian perilaku makan melalui kuesioner skor restrained - DEBQ berkisar 10 sampai 29. Untuk perilaku makan emotional – DEBQ terdapat skor berkisar antara 13 sampai 39. Untuk penilaian perilaku makan external – DEBQ terdapat skor berkisar antara 10 sampai 29.

Tabel 2.2 Hubungan citra tubuh dengan perilaku makan berdasarkan korelasi Pearson dan Spearman

skor perilaku makan

Variabel restrained DEBQa emotional DEBQb

external

DEBQa

Skorcitra tubuh r = 0.376* r = -0.261* r = -0.274*

*p <0.001

a = korelasi Pearson b = korelasi Spearman

Dari hasil di atas, diperoleh nilai p < 0.001 yang menunjukkan bahwa korelasi antar skor citra tubuh dengan skor DEBQ adalah bermakna. Nilai korelasi Pearson antara skor citra tubuh dengan skor restrained DEBQ sebesar 0.376 yang berarti kekuatan hubungan lemah dengan arah korelasi positif yang artinya makin tinggi skor citra tubuh makin tinggi juga skor perilaku makan restrained DEBQ. Nilai korelasi Spearman antara skor citra tubuh dengan skor emotional DEBQ sebesar -0.261 yang berarti kekuatan hubungan lemah dengan arah korelasi negatif yang artinya makin tinggi skor citra tubuh maka makin rendah skor perilaku makan emotional DEBQ. Nilai korelasi Spearman antara skor citra tubuh dengan skor external DEBQ sebesar -0.274 yang berarti kekuatan hubungan lemah dengan arah korelasi negatif yang berarti makin tinggi skor citra tubuh maka makin rendah skor perilaku makan external DEBQ.

Tabel 2.3 Analisis bivariat faktor – faktor yang mempengaruhi perilaku makan remaja putri berdasarkan uji korelasi Pearson dan Spearman

Perilaku makan

Variabel restrained DEBQa

emotional DEBQb external

DEBQa Usia r = -0.019 r = 0.208 * r = 0.022 Status nutrisi r = 0.418 * r = -0.212 * r = -0.320* * = p < 0.25 a = korelasi Pearson b = korelasi Spearman

Dari hasil diperoleh bahwa variabel yang akan dimasukkan ke dalam analisis multivariate adalah bila pada analisis bivariat mempunyai nilai p < 0.25. Dalam hal ini analisis bivariat usia terhadap perilaku makan emotional DEBQ mempunyai p<0.25 sedangkan analisis bivariat status nutrisi mempunyai p < 0.25 untuk perilaku makan restrained DEBQ,emotional DEBQ dan external DEBQ

Tabel 2.4 Hasil analisis multivariat regresi linear faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku makan remaja putri

Perilaku makan

Variable restrained DEBQ emotional DEBQ external DEBQ

Citra tubuh r = 0.206 * r = -0.139 r = -0.138 Status nutrisi r = 0.303 * r = -0.124 r = -0.243 *

Umur - r = 0.238 * -

*p<0.05

Dari analisis multivariate regresi linear diperoleh bahwa status nutrisi mempunyai hubungan yang bermakna dengan perilaku makan restrained DEBQ dan external DEBQ. Citra tubuh mempunyai korelasi yang bermakna terhadap perilaku makan

restrained DEBQ, sedangkan umur mempunyai korelasi yang bermakna dengan perilaku makan emotional DEBQ.

Keterangan : BI = Skor citra tubuh

restrained = Skor perilaku makan restrained DEBQ

Gambar. 4. Grafik scatter plot antara citra tubuh dengan perilaku makan restrained DEBQ

BAB 5. PEMBAHASAN

Masa remaja merupakan masa yang penting untuk mencapai berat badan dan tinggi badan yang ideal. Pada masa ini remaja putri cenderung bertumbuh dalam penambahan lemak, sedangkan remaja putra bertumbuh dalam penambahan otot. Laju pertumbuhan yang sebelumnya relatif sama selama masa anak anak, kemudian terjadi perubahan selama masa remaja karena adanya percepatan dalam pertumbuhan.4

Perilaku makan dikonsepkan sebagai suatu fungsi individu dan pengaruh lingkungan.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku remaja putri antara lain adalah individual (sosial dan biologikal), lingkungan sosial (keluarga dan persahabatan), lingkungan komunitas (sekolah dan ketersediaan makanan cepat saji), lingkungan makrosistem (media, dunia periklanan, norma sosial budaya),

ketertarikan akan makanan yang sedang trendy, suasana mood, kebiasaan,

makanan yang menyenangkan, keuntungan makanan, hidup sebagai vegetarian, pengaruh orangtua (termasuk budaya dan agama).4,23

Ketika seorang anak perempuan beranjak remaja maka pemusatan perhatian

terhadap citra tubuh akan sangat berkembang.7 Citra tubuh merupakan suatu

konsep multidimensi yang tergantung pada suasana emosi dengan komponen utama adalah kepuasan terhadap ukuran tubuh. Kepuasan terhadap tubuh tersebut merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan rasa percaya diri. Pada masa remaja terjadi evaluasi terhadap diri sendiri terutama dalam hal citra tubuh

dan kecantikan.42 Kemudian citra tubuh akan sangat berperan untuk

mempengaruhi perilaku makan remaja putri.6-8,17,43 Citra tubuh merupakan suatu prediktor yang kuat yang akan menentukan bagaimana perilaku makan remaja putri

dan faktor penentu luaran yang berhubungan dengan berat badan di kemudian hari.44 Pengaruh citra tubuh ini sering dimediasi oleh status nutrisi dan rasa percaya diri remaja putri tersebut. Usia 13 sampai 15 tahun merupakan periode yang sangat kritis pada remaja putri untuk sangat memperhatikan citra tubuhnya sehingga sangat rentan mengalami suatu body of disatisfication.45

Gen spesifik alele S telah diidentifikasi sebagai gen yang berhubungan dengan gangguan citra tubuh. Kecenderungan untuk mengalami gangguan citra tubuh (body of diastisfication) serta adanya keinginan selalu untuk menjadi lebih kurus telah diidentifikasi berhubungan kuat dengan alele S pada gen transporter serotonin (5- HTTLPR). Temuan ini menarik karena alele S berhubungan dengan neurotransmisi serotonin dan serotonin berperan dalam regulasi perilaku makan dan

mood. Selain itu terdapat juga hubungan antara kromosom 1 dan 13 dengan peningkatan keingingan menjadi lebih kurus pada remaja putri.46

Teori genetika ini didukung oleh studi pada remaja kembar di Korea yang mendapatkan bahwa terdapat kecenderungan untuk memiliki citra tubuh serta perilaku yang sama remaja putri yang kembar.33 Kesamaan dalam hal citra tubuh dan perilaku makan pada kembar monozigot lebih tinggi dibandingkan dengan kembar dizigot.33,46

Studi di Bosnia menemukan adanya hubungan yang bermakna antara citra

tubuh dan perilaku makan pada remaja putri.6 Studi lain di Spanyol juga

mendapatkan adanya hubungan citra tubuh dan perilaku makan pada remaja putri.42

Studi ini menilai hubungan antara citra tubuh dengan perilaku makan pada remaja putri. Selain itu diteliti juga faktor faktor lain seperti berat badan dan usia pada remaja putri. Dari keseluruhan (tabel 2.1) terdapat 60.3 % sampel dengan

nilai citra tubuh positif yang berarti lebih dari setengah remaja putri dalam studi ini mempunyai keinginan untuk lebih kurus dari keadaan mereka saat ini. Terdapat proporsi sampel dengan nilai citra tubuh positif yang lebih besar (60.3 %) dibandingkan dengan proporsi sampel dengan status nutrisi berlebih (47.9%). Dari temuan ini dapat disimpulkan bahwa meskipun status nutrisi seorang remaja putri berada pada kelompok nutrisi baik bahkan kurang, tetap ada keinginan menurunkan berat badannya.

Dari hasil analisa uji korelasi ( Tabel 2.2) didapatkan hubungan yang bermakna antara citra tubuh dan perilaku makan restrained DEBQ, emotional DEBQ maupun external DEBQ dengan p< 0.001. Terlihat korelasi antara citra tubuh dan perilaku makan restrained DEBQ dengan nilai r = 0.376, yang berarti kekuatan hubungan antara dua variabel tersebut lemah dan arah korelasi positif. Nilai kolerasi dalam studi ini lebih kuat dibandingkan dengan studi terdahulu di Malaysia dengan nilai r = 0.21.8 Studi lain di Belanda yang pernah meneliti hubungan citra tubuh dan perilaku makan restrained DEBQ juga melaporkan adanya hubungan yang bermakna antara kedua variabel tersebut.31

Korelasi antara citra tubuh dengan emotional DEBQ dengan nilai r = - 0.261 yang berarti kekuatan hubungan antara dua variabel tersebut lemah dengan arah korelasi negatif. Korelasi antara citra tubuh dengan perilaku makan external DEBQ dengan nilai r = - 0.274 yang berarti kekuatan hubungan antar dua variabel tersebut adalah lemah dengan arah korelasi negatif. Studi di Belanda melakukan penelitian tentang hubungan citra tubuh dan perilaku makan emotional DEBQ maupun external DEBQ. Dari hasil didapatkan tidak ada hubungan yang bermakna antara kedua variabel tersebut.31

Setelah di analisis secara multivariat regresi linear maka terdapat hubungan yang bermakna antara citra tubuh dan perilaku makan restrained DEBQ, sedangkan citra tubuh dan perilaku makan emotional DEBQ maupun external DEBQ tidak mempunyai hubungan yang bermakna ( tabel 2.4). Hal ini sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa perilaku makan yang paling sering dijumpai di kalangan remaja putri dan berkaitan erat dengan citra tubuh adalah perilaku makan restrained DEBQ.32-34

Terdapat kecenderungan dalam peningkatan prevalensi kejadian overweight dan obesitas di kalangan remaja putri di seluruh dunia, hal ini mungkin disebabkan adanya transisi pola nutrisi yang saat ini banyak mengkonsumsi diet kaya lemak dan penurunan aktivitas fisik khususnya di daerah perkotaan. Peningkatan jumlah overweight dan obesitas di kalangan remaja putri telah menjadi sebuah perhatian klinis dan kesehatan masyarakat.8,42,47 Lebih dari sepertiga populasi remaja putri overweight dan obesitas tersebut mempunyai perilaku makan yang bertujuan untuk menurunkan berat badan.48,49 Studi cross-sectional di Malaysia menemukan adanya korelasi antara skor Body Mass Indeks (BMI ) dengan skor restrained DEBQ pada remaja putri ( r = 0.34), yang berarti makin gemuk seorang remaja putri maka kecenderungan untuk memiliki perilaku makan restrained makin tinggi juga.8

Studi lain yang meneliti hubungan antara status nutrisi dan perilaku makan restrained DEBQ adalah yang dilakukan di Belanda. Pada studi tersebut terdapat peningkatan untuk memiliki perilaku makan restrained pada kelompok overweight di bandingkan dengan kelompok normoweight dengan Odd ratio (OR) 1.92.50 Studi lain juga menemukan adanya hubungan yang bermakna antara status nutrisi dengan perilaku makan restrained DEBQ pada remaja putri.51 Studi korelasi di

Australia menemukan adanya hubungan antara status nutrisi dengan perilaku makan restrained dengan koefisien korelasi “r” sebesar 0.25.52

Temuan ini berkaitan dengan teori bahwa ada hubungan antara status nutrisi dan citra tubuh dimana makin gemuk seorang remaja putri maka skor ketidakpuasan (scor of body disatisfication) makin tinggi.8,26,43,53 Studi case control di Bosnia melaporkan adanya hubungan antara BMI dengan citra tubuh. Dari hasil tersebut didapatkan adanya perbedaan secara bermakna skor citra tubuh di kelompok overweight dibandingkan dengan kelompok kontrol(normoweight). Studi tersebut juga melaporkan adanya perbedaan yang bermakna dalam hal kecenderungan memiliki perilaku makan restrained DEBQ diantara kelompok overweight dibandingkan dengan kelompok kontrol (normoweight).26 Dua studi yang berbeda di Spanyol melaporkan adanya hubungan antara status nutrisi dengan citra tubuh dimana makin tinggi skor BMI maka makin tinggi pula skor body of disatisfication.45,54 Studi ini tidak melakukan analisis hubungan status nutrisi dengan citra tubuh remaja putri.

Studi ini menemukan proporsi terbanyak status nutrisi (tabel 2.1) remaja putri berada pada kelompok overweight dan obesitas (47.9 %) dibandingkan dengan kelompok nutrisi baik (42.9 %) dan nutrisi kurang ( 9.2 %). Dari hasil analisis bivariat ( tabel 2.3 ) didapatkan hubungan yang bermakna antara status nutrisi dan perilaku makan restrained DEBQ dan external DEBQ. Terlihat bahwa korelasi antara status nutrisi dan perilaku makan restrained DEBQ dengan nilai r = 0.418, yang berarti arah korelasi positif dengan kekuatan hubungan sedang. Korelasi antara status nutrisi dengan perilaku makan external DEBQ dengan nilai r = -0.320 yang berarti arah korelasi negatif dengan kekuatan hubungan lemah. Tidak didapati hubungan yang bermakna antara status nutrisi dan perilaku makan emotional DEBQ.

Setelah di analisis secara multivariat terdapat hubungan yang bermakna antara status nutrisi dan perilaku makan restained DEBQ maupun external DEBQ, dan tidak ada hubungan bermakna antara status nutrisi dan perilaku makan emotional DEBQ (tabel 2.4). Hal ini sesuai dengan teori yang mengatakan perilaku makan emotional DEBQ jarang dijumpai pada kalangan remaja putri dan lebih sering dijumpai pada remaja putra.50 Studi di Belanda menyatakan tidak ada hubungan yang bermakna antara status nutrisi dengan perilaku makan emotional DEBQ dan

external DEBQ.51

Secara umum anak usia balita senang bila badan menjadi gemuk karena akan dikatakan mempunyai pertumbuhan yang baik. Anak usia 6 sampai 12 tahun sudah mulai memperhatikan bentuk dan ukuran tubuh namun belum sampai membuat mereka tidak puas akan bentuk dan ukuran tubuhnya sehingga dikatakan usia ini akan stabil dalam hal citra tubuh atau body disatisfication. Umumnya usia seorang anak akan mulai memusatkan perhatian pada citra tubuh dan mempunyai perilaku sehubungan dengan penjagaan citra tubuh yang ideal adalah usia 12 tahun dan makin bertambah sesuai usia remajanya.55 Peningkatan pemusatan perhatian terhadap citra tubuh ini akan membuat rasa percaya diri yang rendah bila bentuk dan ukuran tubuhnya tidak seperti diharapkan dan ini yang akan mempengaruhi perilaku makan remaja putri tersebut.55,56

Dari hasil analisis bivariat (tabel 2.3) didapatkan ada hubungan yang bermakna antara usia dan perilaku makan emotional DEBQ. Terlihat bahwa korelasi antara usia dan perilaku makan emotional DEBQ dengan nilai r = 0.208 yang berarti arah korelasi positif dan kekuatan hubungan lemah. Setelah di analisis secara multivariat (tabel 2.4) usia dan perilaku makan emotional DEBQ tetap dengan nilai hubungan yang bermakna.

Hasil ini berbeda dengan hasil studi yang dilakukan di Amerika Serikat. Studi tersebut menemukan terdapat hubungan yang bermakna antara usia dan perilaku makan restrained DEBQ. Dalam studi tersebut terdapat tiga kelompok usia yaitu usia 8 sampai 10 tahun, usia 11 sampai 14 tahun, usia 15 sampai 17 tahun. Dari hasil didapatkan perilaku makan restrained lebih banyak terdapat pada kelompok usia 15 sampai 17 tahun dan perbedaan tersebut bermakna.57 Studi di Belanda menyatakan bahwa skor tertinggi untuk ketiga jenis perilaku makan DEBQ terdapat pada kelompok usia 15 sampai 16 tahun.50

Studi ini memiliki beberapa keterbatasan yaitu hanya bersifat cross sectional serta tidak adanya kelompok kontrol sebagai pembanding kasus. Beberapa kelemahan pada studi ini yaitu hasil tidak dapat menggambarkan semua kasus yang ada di populasi oleh karena studi ini dilakukan dalam waktu yang singkat. Bias seleksi dapat terjadi dimana sampel hanya dibatasi pada sampel remaja putri SMU Metodist 1 Medan sehingga tidak menggambarkan populasi secara umum.

Recall bias dapat terjadi karena instrumen yang digunakan untuk menilai perilaku makan adalah berupa kuisioner. Walaupun begitu, untuk data variabel usia remaja putri dapat diperoleh secara pasti dengan menggunakan data dari tanggal lahir masing-masing responden penelitian. Data citra tubuh diperoleh berdasarkan hasil wawancara peneliti terhadap masing masing responden.

BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN

Dokumen terkait