• Tidak ada hasil yang ditemukan

Data Hasil Pengamatan Jumlah Larva Hama Plutella xylostella yang Menjadi Pupa

HASIL DAN PEMBAHASAN

B. Pengaruh Pemberian Pestisida Nabati Perasan Daun Tembakau (Nicotiana tabacum) Terhadap Pemendekan Siklus Hidup Hama

1. Data Hasil Pengamatan Jumlah Larva Hama Plutella xylostella yang Menjadi Pupa

Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan selama penelitian terdapat perubahan larva hama Plutella xylostella menjadi pupa. Pupa tersebut dibungkus oleh kokon yang berbentuk jala. Pada awalnya pupa tersebut berwarna hijau, kemudian berubah menjadi warna kekuning-kuningan dan setelah itu menjadi warna coklat. Hal ini sesuai dengan peryataan Winasa (2003) yang menyatakan bahwa bahwa pupa pada awalnya berwarna hijau kemudian menjadi

kekuningan dan terahir menjadi berwarna coklat. Data hasil pengamatan pembentukan pupa adalah sebagai berikut.

Tabel 10. Pengaruh pemberian pestisida nabati perasan daun tembakau (Nicotiana tabacum) terhadap pemendekan siklus hidup hama Plutella xylostella pada Fase Larva.

Ulangan Pengamatan Ulangan Perlakuan Perlakuan P0 P1 P2 P3 P4 P5 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 1 2 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 3 0 0 0 0 0 0 1 2 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 4 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 2 0 0 0 0 0 0 0 5 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Rata-rata (%) 0 28 16 16 8 0

Keterangan:Keterangan: Pengamatan dilakukan pada tanggal 27, 29 dan 31 Oktober 2016. Jumlah total hama dalam satu tanaman sawi lima ekor.

P0: Kontrol air (0%)

P1: Pestisida nabati perasan daun tembakau dosis 2,5% P2: Pestisida nabati perasan daun tembakau dosis 5% P3: Pestisida nabati perasan daun tembakau dosis 7,5% P4: Pestisida nabati perasan daun tembakau dosis 10% P5: Pestisida sintetik Dursban

Dari Tabel 10 di atas dapat dilihat bahwa jumlah hama Plutella xylostella instar III yang menjadi pupa mengalami peningkatan dari kelompok kontrol 0% hingga kelompok perlakuan 2,5% kemudian menurun hingga dosis 10%. Jumlah larva hama Plutella xylostella instar III yang mengalami perubahan menjadi pupa terbanyak adalah pada kelompok perlakuan 2,5% dengan rata-rata persentase sebesar 28% sedangkan yang mengalami perubahan menjadi pupa paling sedikit adalah kelompok perlakuan 10% yaitu meliliki rata-rata

Plutella xylostella sudah mati sehingga tidak ada peningkatan jumlah larva yang berubah menjadi pupa. Pada perlakuan kontrol air (0%) tidak terbentuk pupa dikarenakan larva yang belum mencapai umur fase pupa. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Rukmana (1994) yang menyebutkan bahwa, siklus hidup larva hama Plutella xylostella instar III untuk menjadi pupa membutuhkan waktu 6 hari. Karena sebelum menjadi pupa, larva instar III harus melalui instar IV dahulu selama 3 hari. Oleh karena itu pada kelompok perlakuan kontrol belum ada larva yang mengalami perubahan menjadi pupa.

Pada penelitian ini dalam waktu kurang dari 6 hari larva hama Plutella xylostella instar III yang disemprot pestisida nabati perasan daun tembakau (Nicotiana tabacum) sudah ada yang menjadi pupa. Hal tersebut menunjukan adanya pemendekan siklus hidup hama Plutella xylostella karena mengalami tekanan yang diakibatkan karena penyemprotan pestisida nabati perasan daun tembakau (Nicotiana tabacum).

Namun jumlah pupa hama Plutella xylostella instar III mengalami penurunan dari kelompok perlakuan 2,5% hingga kelompok perlakuan dosis 10%. Hal tersebut dikarenakan larva yang disemprot pestisida nabati dengan konsentrsi rendah tidak mati, tetapi hanya dapat mengganggu aktivitas larva. Setelah larva menjadi pupa akan menjadi cacat atau tidak normal. Sedangkan untuk larva dengan perlakuan pestisida nabati dosis tinggi pada penelitian ini hanya sedikit

yang dapat berubah menjadi pupa karena kebanyakan langsung mati akibat aplikasi pestisida nabati perasan daun tembakau (Nicotiana tabacum). Hama Plutella xylostella mengalami perubahan menjadi pupa dikarenakan adanya pengaruh dari terpenoid. Terpenoid memiliki rasa yang pahit dan bersifat antifeedant yang dapat menghambat aktivitas makan serangga sehingga larva hama Plutella xylostella menjadi pupa, Anggraini, dkk. (2003) dan maryanti, dkk (2006)). Sesuai dengan Prijono (1999) yang menyatakan bahwa pemberian senyawa Precocene (senyawa turunan Terpenoid) akan menyebabkan turunnya titer hormon juvenile sehingga terjadinya metamorphosis dini, dewasa yang steril, diapause dan terganggunya produksi feromon. 2. Data Hasil Analisis Statistik Pemendekan Siklus Hidup Hama

Plutella xylostella pada Fase Larva

Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan analisis statistik untuk mengetahui apakah variasi dosis penyemprotan pestisida nabati perasan daun tembakau (Nicotiana tabacum) berbeda nyata terhadap rata-rata pemendekan siklus hidup larva hama Plutella xylostella. Data hasil analisis ditampilkan pada tabel berikut.

Tabel 11. Data Hasil Analisis Statistik Pemendekan Siklus Hidup Hama (Plutella xylostella) pada fase Larva Pengamatan Pertama

Dosis Perasan Daun Tembakau

Rata-rata jumlah larva hama Plutella xylostella yang

menjadi pupa ± SD 0% 0,00± 0,00a 2,5% 0,54± 0,24a 5% 0,44 ± 0,20a 7,5% 0,89 ± 0,40a 10% 0,00 ± 0,00a Total 0,52 ± 0,10

Keterangan: Huruf yang sama menunjukan rata-rata pembentukan pupa yang sama.

Berdasarkan hasil analisis yang tertera pada Tabel 11 menunjukan terjadinya peningkatan rata-rata tebentuknya pupa sampai pada kenaikan dosis pestisida nabati perasan daun tembakau (Nicotiana tabacum) dari perlakuan kontrol 0% hingga dosis 2,5% kemudian terjadi penurunan rata-rata terbentuknya pupa pada dosis 5% rata-rata persentase pupa kembali naik pada dosis 7,5% dan turun lagi pada dosis 10%. Hal ini terjadi karena zat aktif yang terkandung dalam pestisida nabati perasan daun tembakau (Nicotiana tabacum) belum bekerja secara optimal. Sesuai dengan pendapat dari Rahmawati (2012) yang menyatakan bahwa, daya racun pestisida nabati tidak sekuat pestisida kimia sehingga tidak langsung membunuh dan mempengaruhi siklus hidup hama serta cepat terurai apabila terkena sinar matahari sehingga harus diaplikasikan lebih sering. Hasil penelitian ini menunjukkan pestisida nabati perasan daun tembakau (Nicotiana tabacum) sebagai pengendali hama Plutella xylostella pada

tanaman sawi Brassica juncea L. dapat menyebabkan pemendekan siklus hidup hama Plutella xylostella dengan jumlah terjadinya pupa tertinggi pada kelompok perlakuan dosis 2,5%. Masing-masing perlakuan dari dosis 0% hingga 10% antar perlakuan tidak menunjukan perbedaan nyata terhadap pembentukan pupa pada hama Plutella xylostella instar III

Tabel 12. Data Hasil Analisis Statistik Pemendekan Siklus Hidup Hama Plutella xylostella pada Fase Larva Pengamatan ke dua

Dosis Perasan Daun Tembakau

Rata-rata jumlah larva hama Plutella xylostella yang

menjadi pupa ± SD 0% 1,40± 1,34a 2,5% 0,80± 1,30a 5% 0,80± 1,78a 7,5% 0,40± 0,54a 10% 0,00± 0,00a Total 0,68± 1,18

Keterangan: Huruf yang sama menunjukan pembentukan pupa yang sama.

Berdasarkan hasil analisis statistik pada Tabel 12 di atas menyatakan bahwa rata-rata jumlah pupa hama Plutella xylostella menurun mulai dari kelompok perlakuan kontrol 0% hingga perlakuan kelompok 10%. Jumlah pupa tertinggi terdapat pada kelompok perlakuan kontrol 0% dengan rata-rata jumlah larva yang menjadi pupa sebanyak 1,4 ekor dan terendah pada kelompok perlakuan 10% dengan rata-rata jumlah larva yang menjadi pupa 0 ekor. Pada penelitian ini peningkatan dosis pestisida nabati perasan daun tembakau berbanding terbalik dengan jumlah pupa yang terbentuk. Hal ini disebabkan pada

dosis pestisida nabati yang tinggi hama Plutella xylostella sebagian besar langsung mati sebelum dapat menjadi pupa.

3. Uji Anova Satu Arah Pengaruh Dosis Pestisida Nabati Perasan

Dokumen terkait