• Tidak ada hasil yang ditemukan

Data panel tentang jalan keluar perorangan dari kemiskinan

TTTTTersedia data yang representatif tentang siapa yang masuk dan keluar dari jurang kemiskinan.ersedia data yang representatif tentang siapa yang masuk dan keluar dari jurang kemiskinan.ersedia data yang representatif tentang siapa yang masuk dan keluar dari jurang kemiskinan.ersedia data yang representatif tentang siapa yang masuk dan keluar dari jurang kemiskinan. Untunglah tersediaersedia data yang representatif tentang siapa yang masuk dan keluar dari jurang kemiskinan. data panel dalam bentuk Survei Kehidupan Keluarga Indonesia (Indonesia Family Life Survey, IFLS). Survei tersebut mewawancarai keluarga yang sama pada tahun 1993, 1997 dan 2000.73 Sampel tahun 1993 mewakili kira-kira 83 persen

penduduk Indonesia di 13 provinsi. McCulloch, Timmer dan Weisbrod (2006) memakai IFLS untuk melacak perpindahan ke dalam dan keluar dari garis kemiskinan pada sekumpulan banyak orang antara tahun 1993 dan 2000, seperti tampak pada Tabel 4.2. Meskipun data IFLS tadi tidak sepenuhnya mewakili populasi Indonesia, tetapi 5.308 pekerja yang terlacak pada Tabel 4.2 benar-benar mewakili pola dasar kemiskinan di Indonesia dengan cukup baik. Angka kemiskinan di daerah pedesaan mencapai 74,9 persen dari jumlah total kemiskinan pada tahun 1993 dalam data IFLS yang belum diberi bobot (unweighted data), dibandingkan dengan 74 persen dalam data Susenas tahun 1993. Analisis tentang bagaimana 5.308 pekerja ini mengalami perpindahan antara tahun 1993 dan 2000 seharusnya memberikan pemahaman yang sangat berguna mengenai dinamika kemiskinan di Indonesia.

Perpindahan keluar Perpindahan keluarPerpindahan keluar Perpindahan keluar

Perpindahan keluar-masuk dari jurang kemiskinan-masuk dari jurang kemiskinan-masuk dari jurang kemiskinan-masuk dari jurang kemiskinan-masuk dari jurang kemiskinan berlangsung dengan tingkat mobilitas yang tinggi. berlangsung dengan tingkat mobilitas yang tinggi.berlangsung dengan tingkat mobilitas yang tinggi. berlangsung dengan tingkat mobilitas yang tinggi. berlangsung dengan tingkat mobilitas yang tinggi. Sebagai contoh, dari 522 pekerja yang tergolong miskin dan bekerja di sektor pertanian di daerah pedesaan pada tahun 1993, hanya 221 di antaranya yang masih berada dalam kategori tersebut tujuh tahun kemudian. Duaratus duabelas orang berhasil keluar dari kemiskinan sambil tetap melakukan kegiatan pertanian di daerah pedesaan. Sementara itu, 71 orang beralih ke kegiatan nonpertanian di daerah pedesaan, yang separuh dari mereka dapat keluar dari jurang kemiskinan dan separuhnya tidak. Namun, mobilitas itu berlangsung naik dan turun. Ada 226 orang bukan miskin yang berkerja dalam sektor pertanian di daerah pedesaan pada tahun 1993, tetapi kemudian menjadi miskin di sektor yang sama pada tahun 2000. Delapanpuluh enam orang lainnya yang bekerja dalam usaha nonpertanian di daerah pedesaan dan tadinya bukan penduduk miskin berubah menjadi penduduk miskin yang bekerja di

sektor pertanian di daerah pedesaan. Secara keseluruhan ada ‘pergeseran’ keluar-masuk yang sangat tinggi dari kondisi kemiskinan (lihat Tabel 3.2 dalam Bab 3 tentang Memahami Kemiskinan).

Peningkatan produktivitas pertanian masih merupakan jalan keluar penting dari kemiskinan Peningkatan produktivitas pertanian masih merupakan jalan keluar penting dari kemiskinanPeningkatan produktivitas pertanian masih merupakan jalan keluar penting dari kemiskinan Peningkatan produktivitas pertanian masih merupakan jalan keluar penting dari kemiskinan

Peningkatan produktivitas pertanian masih merupakan jalan keluar penting dari kemiskinan. Kebanyakan penduduk miskin yang berkerja di sektor pertanian di wilayah pedesaan dalam sampel ini dapat keluar dari kemiskinan meskipun mereka tetap bekerja di sektor dan wilayah yang sama. Lebih dari 80 persen petani miskin pedesaan dalam sampel ini masih bekerja di sektor pertanian di daerah pedesaan pada tahun 2000. Akan tetapi, sekitar separuh dari rumah tangga para petani tersebut berhasil keluar dari kemiskinan.74 Kebanyakan sisanya berpindah ke aktivitas nonpertanian di daerah

73 Dan berharap untuk mewawancarai mereka lagi pada tahun 2007.

74 Ada hal yang bertentangan antara data Susenas pada Gambar 4.4 (yang menekankan peran sektor nonpertanian di daerah pedesaan) dan data pada Tabel 4.2 (yang menekankan pentingnya peningkatan

pendapatan pertanian). Rekonstruksi Gambar 4.4 dari data IFLS menunjukkan penurunan porsi lapangan kerja sektor nonpertanian di daerah pedesaan, dan bukan ekspansi besar-besaran seperti tampak pada Gambar 4.4. Sebaliknya, Tabel 4.2 menunjukkan ekspansi besar-besaran porsi lapangan kerja kalangan penduduk bukan miskin di daerah pedesaan. Ada sejumlah perbedaan antara kedua survei tersebut yang menjadi penyebab perbedaan hasil. Yang terutama adalah penghasilan nonpertanian yang rendah dalam survei IFLS. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengatasi perbedaan ini. Selama periode ini, pendekatan kami adalah menerima gambaran keseluruhan yang diperoleh dari data Susenas yang secara nasional representatif, tetapi menggunakan data panel IFLS untuk memahami dinamika kemiskinan.

pedesaan, dan dalam kebanyakan kasus mereka berhasil keluar dari kemiskinan. Namun, perpindahan ke daerah perkotaan jarang terjadi pada kelompok ini. Hanya 3,5 persen saja dari mereka yang bekerja sebagai petani miskin di daerah pedesaan pada tahun 1993 bekerja di daerah perkotaan pada tahun 2000. Lebih dari separuhnya belum dapat terlepas dari kemiskinan. Kegiatan pedesaan nonpertanian dapat menjadi batu pijakan penanggulangan kemiskinan di wilayah pedesaan. Kegiatan pedesaan nonpertanian dapat menjadi batu pijakan penanggulangan kemiskinan di wilayah pedesaan. Kegiatan pedesaan nonpertanian dapat menjadi batu pijakan penanggulangan kemiskinan di wilayah pedesaan. Kegiatan pedesaan nonpertanian dapat menjadi batu pijakan penanggulangan kemiskinan di wilayah pedesaan. Kegiatan pedesaan nonpertanian dapat menjadi batu pijakan penanggulangan kemiskinan di wilayah pedesaan. Anggota rumah tangga miskin di daerah pedesaan yang bekerja di luar sektor pertanian pada tahun 1993 lebih tinggi mobilitasnya dibandingkan mereka yang bekerja di sektor pertanian. Kurang dari seperlima tetap miskin dengan kegiatan non-pertanian di daerah pedesaan, namun seperlima lainnya kembali lagi ke sektor pertanian dengan keadaan tetap miskin. Hampir setengahnya dapat keluar dari kemiskinan, meskipun tetap tinggal di daerah pedesaan—angka yang serupa dengan mereka yang pada mulanya miskin di sektor pertanian. Migrasi ke daerah perkotaan memainkan peran yang lebih penting untuk kelompok ini, tetapi masih belum menonjol—kurang dari 10 persen dari kelompok ini berpindah ke daerah perkotaan dan hanya setengah dari mereka yang mampu keluar dari kemiskinan.75 Namun demikian, angka

migrasi ini—hampir 10 persen dari pekerja miskin yang berusaha di sektor nonpertanian di daerah pedesaan bermigrasi ke daerah perkotaan hanya dalam waktu tujuh tahun—tiga kali lipat dari angka migrasi dari daerah pedesaan ke daerah perkotaan pada para pekerja miskin yang bekerja di sektor pertanian. Pada periode yang sama, 13,6 persen petani miskin pedesaan berpindah ke aktivitas nonpertanian di daerah pedesaan dan lebih dari separuhnya dapat keluar dari kemiskinan. Jadi, data panel membenarkan kesimpulan analisis yang didasarkan atas data Susenas: bahwa pertumbuhan ekonomi nonpertanian di daerah pedesaan dapat menjadi batu pijakan penting untuk melangkah keluar dari kemiskinan.

Kegiatan nonpertanian di daerah perkotaan jauh lebih stabil. Kegiatan nonpertanian di daerah perkotaan jauh lebih stabil. Kegiatan nonpertanian di daerah perkotaan jauh lebih stabil. Kegiatan nonpertanian di daerah perkotaan jauh lebih stabil.

Kegiatan nonpertanian di daerah perkotaan jauh lebih stabil. Seperti yang terlihat pada Tabel 4.2, 76,4 persen penduduk bukan miskin dalam kategori ini (yakni, nonpertanian di daerah perkotaan) tetap merupakan penduduk bukan miskin, bekerja di sektor nonpertanian, dan tinggal di daerah perkotaan. Pada saat yang sama, 46 persen penduduk miskin yang bekerja di sektor nonpertanian di daerah perkotaan juga tetap berada di kategori yang sama. Kedua tingkat ‘stabilitas’ itu merupakan yang tertinggi dari empat kategori tersebut. Stabilitas ini mungkin saja terjadi karena pendapatan di daerah perkotaan jauh lebih tinggi, sehingga penduduk miskin lebih memilih untuk menetap di sana dan berharap mendapat pekerjaan yang lebih baik; atau mungkin sulit bagi pekerja miskin di perkotaan untuk pindah atau kembali ke daerah pedesaan. Namun demikian, pembedaan ini tidak perlu dibesar-besarkan karena sekitar 60 persen penduduk bukan miskin di daerah pedesaan tetap melakukan kegiatan di sektor semula. Memang, ketika kegiatan pertanian dan nonpertanian digabungkan—ini merupakan hal yang lumrah untuk rumah tangga di daerah pedesaan—75,1 persen rumah tangga yang berusaha di sektor pertanian di daerah pedesaan dan 76,9 persen rumah tangga yang bekerja di sektor nonpertanian di daerah pedesaan (tahun 1993) tetap berada di luar kemiskinan. Namun demikian, perlu dicatat bahwa hampir 90 persen pekerja miskin di sektor nonpertanian di daerah perkotaan pada tahun 1993 masih tetap berada di sektor dan lokasi yang sama, dan hampir separuh dari mereka dapat keluar dari jurang kemiskinan.

75 Perhatikan bahwa penggolongan ulang sangat jarang (3,26 persen) dalam panel IFLS, sehingga hampir semua perpindahan dari daerah pedesaan ke daerah perkotaan yang diamati merupakan perpindahan fisik

Karena itu, kebijakan pemerintah harus mendorong proses transformasi pedesaan dan urbanisasi. Karena itu, kebijakan pemerintah harus mendorong proses transformasi pedesaan dan urbanisasi.Karena itu, kebijakan pemerintah harus mendorong proses transformasi pedesaan dan urbanisasi.

Karena itu, kebijakan pemerintah harus mendorong proses transformasi pedesaan dan urbanisasi.Karena itu, kebijakan pemerintah harus mendorong proses transformasi pedesaan dan urbanisasi. Urbanisasi telah berlangsung dengan sangat cepat, tetapi hanya sebagian kecil saja yang disebabkan migrasi fisik para pekerja dan Tabel 4.2 Matriks transisi kemiskinan, 1993 hingga 2000, dari data panel IFLS (persentase individu, dengan bobot)

rumah tangga. Di daerah pedesaan, terjadi diversifikasi bertahap atas kegiatan-kegiatan ekonomi, yang ditandai dengan ketergantungan yang lebih besar pada sumber penghasilan nonpertanian. Proses diversifikasi pedesaan ini mencerminkan kesempatan yang lebih besar untuk pertumbuhan dalam kegiatan ekonomi nonpertanian yang dinamis dibandingkan dalam kegiatan pertanian itu sendiri, meskipun peningkatan produktivitas pertanian masih dipandang sebagai jalan keluar yang penting dari kemiskinan. Kebijakan pemerintah seharusnya lebih aktif mendukung, bukannya mencegah, terjadinya transformasi pedesaan ini. Selain itu, kebijakan pemerintah sangat berperan, baik di tingkat nasional maupun daerah, dalam usaha peningkatan iklim investasi untuk usaha pertanian dan nonpertanian, dan juga dalam usaha menghubungkan penduduk miskin dengan pekerjaan yang lebih baik. Bagaimana kebijakan dapat membangun kapasitas penduduk miskin dan menghubungkannya dengan pertumbuhan merupakan pembahasan kita pada bagian selanjutnya.

III

Mengaitkan Jalan Keluar dari Kemiskinan Dengan Kebijakan

Garis besar

Dokumen terkait